Last chapter!

Disclaimer :

Bleach by Tite Kubo-sensei

.

.

ICHINDERELLA by Lenalee Shihoin

Character[s] : Ichigo Kurosaki dan kawan-kawan

Genre : Humor

::: Chapter 4 :::


Zaman dahulu kala, disebuah desa yang damai, tinggalah seorang gadis cantik jelita bernama Cinderella …. Karena ayahnya telah lama meninggal kini ia tinggal berempat bersama ibu dan 2 orang kakak tirinya yang jahat… dengan bermodalkan ketabahan, Cinderella mampu menjalani hidupnya..

Kini di panggung nampak sosok Ichigo sedang membelah kayu [?] dengan baju compang-campingnya.

"WAKAKAKAK! COBA LIHAT! ITU ICHIGO! APA-APAAN PENAMPILANNYA ITU!" teriak Ikkaku dari bangku penonton.

"Ayah, itu kakak!" kata Yuzu menunjuk-nunjuk ke panggung.

Isshin dan Karin langsung menutup mulutnya takut suara tawanya keluar.

Sedangkan Ichigo yang berada di atas panggung hanya bisa menahan kemurkaannya.

"Cinderella! Cinderella! Apa gaun yang aku suruh itu sudah selesai kau buat?" Renji si ibu tiri muncul perdana di atas panggung diikuti oleh Rukia dan Orihime.

"WAKAKAKAKAAKKK! SEKARANG SI KEPALA NANAS MERAH YANG KELUAR!" kini giliran Yumichika yang tetawa terbahak-bahak..

'Sabar… sabar… akan kuingat wajah kalian yang mentertawakanku, pulang lewat mana lo, hah? Biar gue bankai ntar!' batin Renji sambil mengelus-ngelus dadanya.

"Rukia…" ucap Byakuya melihat ada adiknya di atas panggung.

"Waaah… Orihime-chan cantik sekali.." ujar Shinji sambil merekam dengan handycamnya.

"Hee…? Tadi waktu aku kerjakan, kau suruh aku membelah kayu, yang mana yang benar?"

"Tinggalkan pekerjaan itu, selesaikan gaun kami, pestanya nanti malam!"

"Betul. Betul. Betul," Rukia mengiyakan ala upin ipin *nah lo*.

"Cepatlah!"

Rukia enak banget cuma kebagian dialog segitu, apalagi Orihime yang bahkan ngga bicara satu patah katapun.

Beberapa saat kemudian.

"Cinderella! Cinderella! Dimana kau? Apa gaun yang aku suruh itu sudah selesai kau buat?"

"Aku di sini!" jawab Cinderella santai.

"KAU SEDANG APAAAA!" teriak kakak tiri pertama, Rukia, saat melihat si Cinderella sedang asyik makan.

"Nyuci baju! Caelaah, tau aja gue lagi makan masih nanya!" ujar Cinderella perkasa ini.

Cinderellanya kok berani banget sama sodara tirinya ya.

"Santai sekali kau! Gaun kami sudah selesai hingga kau berani makan, hah?" dialog pertama Orihime.

"Tuuuh…" tunjuk Cinderella ke arah pojok ruangan.

Mata ketiga pemeran antagonis itu langsung tertuju arah jari Cinderella. Terpajanglah tiga hasil karya Cinderella.

"ITU UAAPAA!" teriak ibu tiri.

"Bahkan ngga bisa dibilang baju, lebih disebut pantas kain pel!" ujar kakak tiri pertama.

"Memangnya yang seperti ini bisa dipakai, Cinderella ?" tanya kakak tiri kedua dengan polosnya.

"Cerewet amat sih, banyak protes. Siapa suruh gue yang bikin?" ujar Cinderella melanjutkan makan.

'Cinderella yanga ini kok kurang ajar banget' batin penonton.

"MANA MUNGKIN KAMI BISA KE PESTA MEMAKAI KAIN PEL MACAM ITU!"

"Hoo, kalian memang niat banget pengen pakai gaun bikinan gue ya? Gue sih ikhlas-ikhlas aja kalo kalian pengen pake tuh hasil karya gue, itupun kalo kalian SIAP MENTAL jadi bila nanti dikira badut kesasar."

"KURANG ASEM! Pokoknya kau harus menyelesaikannya sebelum kami berangkat !"

Merekapun pergi.

"Cih, jadi pengen banget liat tampang pangeran yang bikin tuh pesta deh, bikin gue repot aja!" ujar Cinderella melanjutkan pekerjaannya membuat gaun.

Karna melihat Cinderella kesusahan, seorang peri yang kebetulan lewat desa itu menghampiri Cinderella.

Ulquiorra's time! *author tutup telinga karna para fans cewe'nya teriak-teriak histeris*

Kemunculan peri Ulquiorra diiringi oleh asap hitam mengepul, sosok yang dikira akan membawa ketenangan tapi justru malah membuat orang gemetaran.

"Jangan cemas, Cinderella … Aku akan menolongmu" ujarnya.

"Bagiku terdengar sebaliknya" gumam Cinderella.

"Kau bilang apa ?"

"Bukan, bukan apa-apa."

"Aku akan mengabulkan apapun permohonanmu hari ini, sebutkanlah!"

"Perasaan gue ga ngegosok lampu atau semacamnya gitu deh!"

"Lo pikir gue ini jin aladin, apaa!" jurus death glare Ulquiorra diluncurkan.

Baru kali ini ada peri yang serem kaya dia.

"Ma-maaf, maaf! Tadi kau bilang bisa mengabulkan permohonan'kan?"

"Tentu."

"Kalo begitu tolong bikinin gaun deh, jelek juga ngga apa-apa."

"Aku bukan penjahit, tolong ingat itu."

"Lah? Tadi bilangnya bisa mengabulkan permohonan!"

"Oh iya, lupa. Tunggu!"

TRIINGG!

Muncullah 3 gaun indah berjejer rapi.

Lalu datanglah ibu tiri beserta kedua anaknya.

"Cinderella! Gaunnya sudah kau…" belum sempat ibu tiri menyelesaikan kalimatnya, Cinderella sudah menyahut.

"Sudah jadi!" ujarnya yakin.

"Bener nih ini bikinan sendiri?"

"Bagus banget…!"

"Pokoknya kami akan memakai gaun ini di pesta nanti," kata ibu tiri dan kakak-kakak tirinya kemudian pergi dari hadapan Cinderella.

"Good Job, peri. I like it," ujar Cinderella bicara ala Rianti Cartwright.

"Baguslah kalau begitu, kau tidak mau pergi ke pesta? Biar kubuatkan gaun cantik berenda untukmu," ucap peri menawarkan.

"Err, jujur dari hati yang terdalam aku ingin bilang tidak! Tapi karna tuntutan peran, terpaksa aku bilang iya!"

Lagi-lagi penonton dibuat tertawa karna ucapan Cinderella ini.

Malam harinya, saat ibu dan kakak-kakak tirinya hendak pergi ke pesta.

"Jangan harap kau bisa pergi ke pesta, Cinderella!"

"Ya, benar!"

"Kau harus menyelesaikan pekerjaanmu dulu! Kalau kau bisa menyelesaikan pekerjaanmu, kau boleh saja pergi, itupun kalau kau punya gaun indah seperti kamiii~~~~"

"Ya, ya, ya… terserah saja, aku tidak peduli!"

"Jaga rumah, Cinderella!"

"Kau tidak boleh tidur bila pekerjaanmu belum selesai!"

"Sebelum kami pulang nanti, semuanya sudah harus beres! Ayo anak-anak, kita pergi …!"

"Mau kubantu mengerjakan tugasmu, Cinderella?" tanya peri Ulquiorra yang dengan sangat tiba-tiba muncul di belakang Cinderella.

"WAAAA! MUNCULLAH DENGAN CARA YANG WAJAR!" teriak Cinderella.

"Hoo, memangnya aku harus ucap salam dulu?"

"Sudahlah, jangan dibahas! Durasi nih!"

"Okey, okey.. Apa permintaanmu kali ini?"

"Bantu aku menyelesaikan tugasku. Supaya aku bisa pergi ke pesta menjengkalkan itu."

"Baiklah.."

TRIIING! Sihir peri bekerja.

"Selesai …"

"Baguslah, ayo cepat akhiri kisah ini !" kata Cinderella super santai.

"Pergi ke pesta?"

"Iya, cepat siapkan semuanya! Tapi tunggu dulu!"

"Apa?"

"Kebelet nih, ke belakang bentar ya…!"

"Errr…."

Beberapa saat kemudian.

"Gaun… ada ! Sepatu kaca.. ada! Tapi.." Cinderella ngabsen properti satu per satu.

"Tapi apa?"

"Harusnya'kan kereta labu! Kenapa malah yang ada BECAK sih ?" Ichigo yang berperan sebagai Cinderella kaget gara-gara waktu latihan ngga ada yang bilang kalau kereta labunya itu diganti jadi becak. Bagian properti hanya bilang kalau kereta labu akan ditampilkan saat pentas saja.

"Pernah dengar lagu d'massiv? Syukuri apa yang adaaaa….!" Ulquiorra malah nyanyi buat improvisasi soalnya bagian ini ngga ada di naskah.

"Udahan nyanyinya! Terus? Peri, kau bisa ngemudiin becak?"

"Hah? Apa maksudmu? Tentu saja tidak!"

"Lalu siapa yang ngemudiin?"

"Siapa lagi selain kau sendiri? Masa aku?"

"Kenapa ngga pake sihir buat mucullin tukang becak?"

"Sihirku udah limit!"

GUBRAK!

"Terus gimana? Mau jalan kaki?"

Dengan sangat terpaksa, Cinderella menjalankan becak itu dengan menggunakan gaun dan sepatu kaca.

"Kurang ajar banget sih! Kalo gini kapan nyampenya?" gumam Cinderella sambil ngayuh becaknya dengan susah payah.

"Udah deh, jangan ngeluh terus, hidup ini penuh cobaan!" ujar peri Ulquiorra sambil ngemil di bangku penumpang.

"Susah tau! Gue make sepatu ini! Pake gaun pula!" Cinderella ngomel-ngomel.

"Kenapa? Mau ganti sepatu?" ujar peri.

"Emang bisa? Sihirmu'kan udah limit!" Cinderella agak berharap.

"Emang udah limit. Ngga usah makai sihir juga bisa," kata peri.

"Gimana caranya?"

"Noh! Di depan ada mesjid, sendalnya ada banyak!" kata peri menunjuk ke arah sebuah mesjid di depan mereka.

'sejak kapan ada mesjid di sanaaa?' batin Ichigo.

"Maksudnya ?" Cinderella masih bingung.

"Ambil aja salah satunya!"

"ITU NAMANYA NYOLONG!"

"Siapa bilang? Pinjam bentar, nanti dikembaliin!"

"Ngga!"

"Kalo gitu tukar aja sama sepatu kacamu! Jadi itu namanya barter'kan?"

"ENGGAA!"

"Terserah deh, hanya menyampaikan ide. Oh iya, ayo cepat! Nanti waktunya habis!"

"Apanya yang habis?"

"Sihirku buatmu bakal hilang saat jam menunjukkan pukul 12 malam, sekarang sudah jam 11.15," kata peri Ulquiorra menunjukkan jam tangannya.

"UAAAPPPPAAA! KENAPA NGGA BILANG DARI TADI!"

Cinderellapun ngebut dengan becaknya.

Sementara itu di istana.

"Pangeran, berdansalah dengan hamba," ajak seorang gadis yang tidak lain dan tidak bukan adalah kakak tiri pertama.

"Ngga!"

"Pangeran, berdansalah dengan.." ajak kakak tiri kedua.

"Ngga!" jawab pangeran cepat.

"Ma-maaf, hamba permisi.."

"Pangeran, jangan galak pada gadis-gadis," tegur raja saat melihat putranya itu marah-marah.

"Ayahanda! Pesta ini sungguh membosankan, hentikan saja! Suruh mereka semua pulang!"

"Ajaklah salah seorang gadis untuk berdansa denganmu, coba lihat, banyak gadis cantik disini!"

Pangeran hanya diam, dia sama sekali tidak berminat.

Tidak lama kemudian Cinderellapun datang dengan napas terputus-putus karna kelelahan.

"Nah, coba lihat gadis itu! Ajaklah dia berdansa!"

Bosan dengan nasihat ayahnya, dengan terpaksa pangeran menghampiri Cinderella.

"Oii, oiii! Berdansalah denganku!" ajak sang pangeran dingin.

"AARGH! NGGA LIAT APA ORANG LAGI NGOS-NGOSAN GINI? LO MALAH NGAJAK GUE DANSA, BERI MINUM KEK!" Cinderella meluapkan emosinya pada pangeran.

Pangeranpun refleks segera memenuhi keinginan Cinderella.

Teng… Teng… Teng… lonceng tanda pukul 12 malam berdentang, menandakan waktu Cinderella sudah habis.

"WHAAAT! BARU AJA GUE NYAMPE!" teriak Cinderella pada narrator.

Cinderella segera meninggalkan istana sebelum sihir yang diberikan peri habis seluruhnya.

'Kenapa diberi penekanan di kalimat itu sih? Narator ngusir?' batin Ichigo.

"Iya deh, iya. Gue pergi dulu.. Nih sepatu kacanya! Ntar lu datang aja ke rumah gue, alamatnya jalan desa suka-suka aja RT.5 RW.3 No.10, Oh iya, nama gue Cinderella," ujar Cinderella santai lalu pergi begitu saja.

"Gara-gara dia bilang gitu kok jadinya malah ngga pengen datang ya!" ujar pangeran setelah Cinderella pergi.

Keesokan harinya, pangeran beserta pengawal-pengawalnya datang ke rumah Cinderella untuk mengembalikan sepatu yang dia tinggalkan, kakak-kakak tirinya mencoba sepatu itu namun tak ada yang pas. Tiba-tiba pangeran teringat apa yang dikatakan gadis yang dicarinya.

"Apa di rumah ini ada seorang gadis bernama Cinderella?" tanya pangeran.

"Hah? Darimana tuanku tau kalau disini ada Cinderella?" ibu tiri agak kaget.

"Soalnya dia yang memberi tau namanya tadi malam, dia juga memberi alamat rumah ini padaku, padahal aku ngga nanya," kata pangeran menjelaskan.

"Eh, akhirnya kau datang juga, sini kembaliin sepatunya, yang punya (peri Ulquiorra) nyariin tuh, katanya batas waktu sewanya udah habis," ujar Cinderella tiba-tiba muncul dari balik pintu sambil memakai celemek dan megang centong nasi.

"O-oh, ini! Ayo kita pergi, udah ngga nahan nih mau ketawa ngeliat dia kaya gini," kata pangeran.

Pangeran harusnya menyatakan perasaannya disini!

Narator memperingatkan.

Walau geli melihat Ichigo memakai celemek, Tatsuki harus tetap memainkan perannya.

"Hadeeeh… Aku suka padamu!" katanya datar.

"Suka itu yang buat bikin acar itu ya?" ibu tiri alias Renji nimpuk.

"ITU CUKA!"

"Suka itu yang keluar darah'kaaan!" Orihime ikutan ngelawak.

"ITU LUKA!"

"Kalian ini apaan sih! Suka itu yang ini nih!" Rukia nunjuk-nunjuk wajahnya.

"ITU MAH MUKA! DURASI WOOI!" kata pangeran dan Cinderella bersamaan.

"Aku menyukaimu," ulang pangeran.

"Oh…" jawab Cinderella.

"Aku kagum dengan kekuatan fisikmu, maukah kau jadi lawan tandingku saat berlatih? Ikutlah denganku ke istana! Kau akan kuangkat jadi ketua pengawalku."

"Okey !"

Akhirnya Cinderella pergi meninggalkan keluarga tirinya itu dan hidup damai sentosa di istana..

tamaaat ~~~

Prok ! Prok ! Prok !

"DRAMA TERKONYOL YANG PERNAH AKU TONTON!" ujar Ikkaku sambil memegangi perutnya yang sakit karna kebanyakan tertawa.

"Apaan tuh tamatannya, ngga ada romantis-romantisnya!" sahut Rangiku.

"Ayasegawa-san, kau tidak apa-apa?" tanya Hinamori melihat Ayasegawa terlihat tak sadarkan diri.

"Biarkan saja, Hinamori, salah dia juga kebanyakan tertawa, ayo kita keliling sekolah ini, sepertinya menarik," ajak Hitsugaya. Langkahnya diikuti Hinamori.

"Taichou! Jangan sampai tersesat yaa!" ujar Rangiku memperlakukan Hitsugaya seperti anak kecil.

"Berisik," gumam Hitsugaya.

"Akan kuperlihatkan rekaman ini pada yang lain, ayo kita pulang sebelum kedapatan Ichigo kita datang kemari, Hiyori!" ajak Shinji sambil menyeret Hiyori yang masih tertawa terbahak-bahak.

"Ayah, berhentilah tertawa! Nanti kak Ichigo marah!" Yuzu memperingatkan.

"Karin juga! Ayo pulang!" ajak Yuzu lagi sambil berusaha menyeret ayah dan kembarannya keluar.

Di belakang panggung.

"Tadi yang ngetawain gue, si botak sama si kemayu, liat aja ntar!" kata Renji dengan aura membunuhnya.

"Aaaa... Akhirnya kelar juga! Mesti masang muka tembok nih kalau ketemu yang lain," kata Ichigo melepas gaunnya didepan teman-temannya.

"Kyaaa! Kurosaki! Apa yang kau lakukan? Jangan buka baju di sini!" teriak para siswi.

Sementara itu, di Las Noches.

"Ngga jadi deh nonton drama lawak Ulquiorra, padahal pengen banget," ujar Grimmjow.

"Harusnya kau nekat saja datang ke sana, paling-paling minimal nanti kau dibuatnya ngga bisa ngomong seumur hidup, maksimalnya sih dibuatnya ngga bisa napas lagi," kata Szayel.

"Kau suka sekali melihatku menderita ya, rambut pink!"

"Haa.. kau saja yang terlalu takut hanya karna SMS ancaman dari Ulquiorra."

"CEREWEET! SIAPA YANG TAKUT!"

"Okey, No.8 vs No.6 dimulai!" ujar Harribel tiba-tiba jadi wasit.

Btw, kelas Ichigo berhasil mendapat hadiah pertama karna berhasil mengumpulkan pengunjung terbanyak dan membuat semua terhibur. Dan sesuai janji, Ichigo akan naik kelas.. Akhir yang bahagia, bukan...?

Sejak saat itulah, Ichigo mendapat gelar baru yang diberi teman-temannya. Ichinderella.

-THE END-


Saiaa khawatir fic'nya bakal ngga sempet di publish kalo ntar-ntar, soalnya setelah ini makin banyak tugas sekolah menanti.

Review please ^^