A/N: Gomen sangat, saya dengan bodohnya lupa bilang kalau fic ini rikues HirumaYouriLoveJumonji (nggak tau sekarang udah ganti panname apa, anynomus reader soalnya) Balesan anynomus reader~
JasmineSheetaMaharani: Hehe, thanks :D Ng, kun? Saya kan cewek, nggak apa-apa sih, toh kelakuan saya kayak cowok *boom*
Faika Araifa ga login: Sankyuu~ XD Season cycle..kapan di update? *gedor-gedor rumah Faika-chan*
just reader 'Monta: Ah, anda sudah tau chapter keempatnya..! *duar* Thanks RnRnya :3
_|\/\/|_
Eyeshield 21©Yusuke Murata & Inagaki Riichiro
Manager's Stories©Kazeyana Fami
Chapter 2: At Deimon
Pair this chapter: a little ShinWaka dan ShinSena, ketidakjelasan HiruWaka, SenaWaka(hoe?)
_|\/\/|_
Matahari belum muncul dari timur, tapi seorang gadis berkuncir kuda sudah berpakaian rapi, siap untuk berangkat sekolah. Setelah menaiki kereta yang masih lenggang, dan baru setengah jalan ke SMU-nya, tiba-tiba langkahnya terhenti, lalu ia menepuk dahinya sendiri.
'Bodohnya aku! Hari ini kan' pertukaran manajer mulai dilaksanakan!'
Wakana melihat arloji mungil di pergelangan tangannya, 'Masih ada waktu.'
BRUK
"Ma-maaf!" Wakana menabrak seseorang waktu berbalik.
"Wakana? Bukannya hari ini kamu harusnya di Deimon?" ternyata itu seniornya, Takami. Dibelakangnya Shin, Sakuraba, dan Otawara menyusul.
"Maka dari itu…aku lupa..harus buru-buru ke Deimon," desahnya.
"Wakana, kalau ada apa-apa, telpon saja ya!" Otawara menghibur Wakana, mengingat tempatnya bertukar adalah sarang dedemit.
"Talepon? Kemana?"
"Ke 14045 terus pesen BeefProsperity kalau lapar!" Aha, telepon delivery disaat-saat genting, inilah mengapa Otawara tidak bisa jadi pengatur strategi.
"Telepon salah satu dari kami maksudnya.." kata Takami.
"Tenang saja, Takami-san. Nah, aku berangkat ya!" Wakana pun berlalu.
"Yang menggantikan posisi Wakana siapa, Otawara?" tanya Sakuraba.
"Oh, itu manajer Zokugaku, namanya Tsuyumine Megu."
"Yang suka bawa-bawa samurai kan? Mengerikan!" jerit Sakuraba, tapi terhenti setelah melihat sosok didepannya.
"Keberatan?" Megu menodongkan samurainya ke Sakuraba.
"HIIIIIIII!."
_di Deimon_
"Deimon…ini kan?" Wakana melangkah ke sebuah SMU swasta dengan secarik kertas alamat SMU Deimon yang diberikan Hiruma setelah wawancara-yang-gagal kemarin. Jam sudah menunjukan pukul 05.50, Wakanamerapikan kembali jas yang dipakainya, berusaha menutupi seragam Ojo-nya. Malu memang seragamnya lain sendiri. Lalu ia mengintip sedikit dari balik pagar, memperhatikan dimulainya latihan pagi Deimon Devil Bats.
"Gendut sialan! Bawa semua perlengkapan kesini! Botak sialan! Lari keliling lapangan 100 kali! Kemana si cebol sama si monyet sialan itu? Terus kemana pengganti manajer sialan itu?" teriak Hiruma di tengah lapangan. Sesaat, Wakana sempat mempertanyakan keselamatan hidupnya.
"Eh, kamu kan manajer Ojo, penggantinya kak Mamori kan?" tanya Sena yang datang bersama Monta.
"Muki? Penggantinya kak Mamori?"
"Ah, Hiruma-san dan kapten lainnya tukar-tukaran manajer, kak Mamori di Bando, kita dapat manajer Ojo.." Sena menjelaskan.
"SAD MAX!"
"Kenapa nggak masuk saja?" tanya Sena ramah.
"Eh, itu.." Wakana malu-malu untuk menjawab, terlalu berbahaya kalau menjawab jujur: "Ada setan sih."
"KEKEKE, INI DIA PENGGANTI MANAJER SIALAN ITU~" Hiruma tiba-tiba menggenggam kedua pundak Wakana dari belakang tanpa aura kehidupan.
GLEK
"JANGAN PIKIR DENGAN TERPILIHNYA KAU DISINI BAKAL AKU LAKUKAN SECARA ISTIMEWA..KEKEKEKEKE," kata Hiruma lagi, 'Aku juga nggak mau diperlakukan istimewa sama kamu, kok,' batin Wakana, semaput.
"KEKEKE, cepat masuk dan gantikan tugas si manajer sialan itu!" perintah Hiruma sambil menerbangkan timah-timah panas dari machine gun-nya.
"Ba-Baik!"
Dimulailah tugas Wakana sebagai manajer di Deimon selama latihan pagi ini. Mulai dari yang standar seperti menghitung kecepatan 40 yard pemain, mengedit video, membersihkan ruang klub, dan lain-lain sampai yang bombastis seperti mandiin Cerberus, mengepel lapangan, dan mijitin Kurita.
"Hiyaaa, tidak ada waktu untuk kembali ke Ojo!" jerit Wakana, mencoba sebisanya untuk berlari ke sekolahnya setelah latihan pagi selesai dan para pemain sudah berganti pakaian. Hiruma hanya memperhatikan gadis itu merangang sambil berlari.
"Cebol, sini," Hiruma memanggil Sena.
"Ada apa, Hiruma-san?"
"Pssst, pssst.." Hiruma membisikan sesuatu ke telinga Sena.
"Mana aku ngerti kalau Hiruma-san ngomongnya cuma 'psst-psst'!"
"ANTERIN SI PENGGANTI MANAJER SIALAN ITU KE OJO BUAT SEKOLAH PAKE KECEPATAN CAHAYAMU, CEBOL!" Hiruma teriak di kuping Sena yang sukses bikin saraf telinganya rusak.
"Ha-haiiik.." jawab Sena sempoyongan lalu menyusul Wakana.
"Wa-Wakana-san! Biar kuantarkan kau sampai ke Ojo..!" teriak Sena dari kejauhan, langkah Wakanapun terhenti.
"Ti-tidak usah, aku bisa sendiri kok."
"Hiruma-san yang menyuruhku buat mengantarkanmu ke Ojo tepat waktu.." kata Sena melas, pendengarannya belum pulih.
"…baiklah…" Wakana mengingat nasihat ayahnya: "Rejeki jangan ditolak!"
"..Nah!" Sena jongkok dengan posisi kedua tangan di belakang punggungnya. '…Mau cebok ya?' batin Wakana sweatdrop.
"Kugendong sampai Ojo lalu kuantar!"
"Eh, tapi…" Wakana ragu-ragu dengan wajah yang merah padam.
"Nanti telat!" kata Sena lagi, maksa.
Pada akhirnya Wakana menurut. Kedua tangannya memeluk leher Sena, kedua kakinya dijinjing Sena.
"Be-berat ya?" tanya Wakana.
"Nggak kok, bench pressku kan' 42 kg!" jawab Sena bangga sambil pamer, padahal hanya 42 kg saja.
DUESH!
"Te-terima kasih, Sena-san!" Wakana membungkuk tanda terima kasih pada Sena yang sudah mengantarkannya jauh-jauh dari Deimon sampai Ojo dengan kecepatan cahayanya.
"Ya, sama-sama…Latihan sore kau datang kan?" tanya Sena.
"…iya, aku kan..sekarang jadi manajer Deimon!" jawabnya sambil ternyum manis yang mana membuat pipi Sena memerah.
"Hm, iya, ya.." Senapun kambali ke Deimon, tapi dia telat.
_waktu pulang Ojo_
Wakana merapikan buku-buku dan tasnya ditengah hilir-mudik teman-teman sekelasnya yang ingin kembali ke alam masing-masing. Sore ini Wakana akan kembali ke Deimon untuk latihan sorenya.
"Ah, Wakana, bagaimana harimu di Deimon?" sapa Nekoyama(* pada Wakana yang berjalan di koridor.
"Lumayan..terus, bagaimana manajer Zokugaku menggantikan tugasku?" tanya Wakana balik. Nekoyama terdiam.
"Selamat berjuang ya!" Nekoyama pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Wakana. 'Kenapa dia?'
Wakanapun kembali berjalan agak lari kearah gerbang besar Ojo. Sambil berjalan melewati lapangan, dia memperhatikan latihan sore Ojo tanpa kehadiran dirinya. Herannya dia tidak melihat Megu. Waktu mepet, langkahnya diteruskan kembali. Tapi sosok yang familiar telah menunggunya, sambil bersandar di gerbang besar Ojo.
"Sena-san? Kenapa kesini?"
"Eh…menjemputmu? Hiruma-san menyuruhku menjemputmu biar nggak lama," jawabnya sok keren.
"Ma-makasih.." Wakana gagap, mengingat tadi pagi dia sudah diantar—digendong sampai Ojo, lalu sekarang dijemput..
"…Aku akan ikut," Shin tiba-tiba menyelak pembicaraan, sudah siap dengan baju training tak lupa sarung tangan kesayangan,"Pelatih menyuruhku lari keliling, kupikir dengan lari dari Ojo ke Deimon bolak-balik sama dengan lari keliling kota."
Dengan ikutnya Shin, Sena dan Wakana hanya berpandangan, tentu tidak keberatan sama sekali—tertolong malah, ada pihak ketiga yang membuat suasana tidak seperti semacam pacar lagi jalan-jalan.
_di jalan menuju Deimon_
Sena berkali-kali meminta agar Shin dan Wakana berlari meski cuma kecil-kecilan, mengingat ia diutus Hiruma untuk menjemput Wakana biar tidak lama. Tapi sekarang, lebih mirip jalan-jalan sore keluarga.
"S-Shin-san, Wakana-san..bisa kita jalan lebih cepat..?" tanya Sena sambil menanngis, bisa membayangkan apa yang terjadi kalau dia tiba di Deimon nanti, yang kena pasti Sena, bukan Wakana.
"Ah, baik.." Wakana pun berlari, Shin dan Sena menyamakan kecepatan Wakana. Sena bisa saja menggendong Wakana seperti sebelumnya, tapi..ada Shin, jadi tidak enak.
"Hah..hah.." Wakana terengah-engah, "Aku sudah tidak sanggup..Sena-san dan Shin duluan saja, ya.."
"Lho, Hiruma-san memintaku menjemputmu, kalau aku datang tanpamu bagaimana ujungnya nanti?" Sena melas. Wakana krisis ide.
"Kami tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja," Shin dengan santai dan mimik datar, merangkul pinggang Wakana dan membawanya di pundaknya seakan Wakana itu barang yang ringan—persis seperti waktu ia dan Wakana melawan perempuan bermulut sobek di 'Ghost House' (promosi fic sendiri, kekeke).
"Wu-WAH!" Wakana kaget bukan kepalang, wajahnya kini memerah sangat.
"Nah, Kobayakawa Sena, ayo lari ke Deimon," ajak Shin.
Sena yang masih bengong dengan kekuatan Shin dan merasa seperti pihak ketiga segera menjawab, "Iya!"
Maka larilah kedua orang yang memiliki kecepatan cahaya itu dibawah langit senja, kini giliran Wakana yang merasa seperti pihak ketiga.
_setelah sampai di Deimon_
"Maaf Shin, jadi kamu yang harus menggendongku.." kata Wakana ragu-ragu.
"Tak apa, lumayan buat latihan," jawabnya cool, "Kalau sudah selesai akan kujemput."
"Tidak usah repot-repot! Lagipula pasti nanti juga sudah malam!" Wakana panik.
"Nanti aku akan jemput," Shin bicara itu berkali-kali yang membuat Wakana tidak bisa berkutik sampai Shin pergi melanjutkan latihan keliling kotanya.
"NAH, KOK KALIAN LAMA SEKALI..?" Hiruma yang (lagi-lagi) datang tanpa hawa kehidupan berdiri dibelakang Sena dan Wakana.
"HIIIIII"
To Be Continued
_|\/\/|_
(*: Itu lho..running backnya Ojo :D
A/N: Rada aneh ya? =,= Ternyata aku tidak bisa jauh dari yang namanya 'word bengkak' =,="" Gomenne..*sembah sujud* Seseorang yang mau berbaik hati membeta fic saya..tolong..*cari sendiri dong* Next up, at Ojo! XD
