Balesan anynomus reader:
HirumaYouriAlwaysLoveJumoji: Nggak apa-apa..nggak apa-apa..*Ishimaru mode on* Situ gabung? O.O Saya tunggu fanfic anda! Kasih tau saya kalau udah mublish 8D soalnya saya udah mulai hiatus DX
Faika Araifa: Hehehe~ XD Sankyuu ya say~ *digampar* Kapan nih Season Cycle internet saya udah dibatasi soalnya TToTT UAN itu terror..
Akacchi males login: Ah, saya emang dudul dalam imbuhan dan teman-temannya..Okelah saya tambahin humor tapi nggak jamin humornya nambah *lho?* Sankyuu ripiunya :D
Just reader 'Monta: Huh? Lucu? Thanks! X3 Tapi saya takut chapter kali ini humornya berkurang…humor sense saya lagi dikit sih TTATT
Yomiko Hiruma: Faminee-chan? Boleh-boleh^^ emang umurmu berapa? Lanjut, Shin nggak tau kalau tadi Sena gendong Wakana^^ kalau tahu…emm..gimana yah? *plak* Nasib Mamori, Julie, and Megu nanti bakal saya certain satu-satu. Maaf nggak bisa update kilat, thanks reviewnya! XD
Manager's Stories©Kazeyana Fami
Chapter 3: At Ojo
Eyeshield 21©Yusuke Murata & Inagaki Riichiro
Warning: OOC, typo all the way, pair crack merajalela, saya nggak tahu secara detail sifat si Megu DX
Pair this chap: SakuMegu, RuiMegu super sangat dikit
_|\/\/|_
Matahari tergantung di barat, membuat Sakuraba makin ogah melangkah ke salah satu ruangan terbesar di sekolahnya. Tiga puluh enam jam yang lalu ia masih ingat dengan senyum manis mungil manajer semata wayangnya dengan gemulai menawarkan botol minum pada Sakuraba yang sepertiga mati dihantam latihan sore sambil berkata, 'Ini minumnya, Sakuraba.' Tapi sekarang…
"Kemana si artis sialan itu? Ujung jambulnya nggak kelihatan juga!"
…Hiruma versi cewek jadi manajer di Ojo dalam program pertukaran manajer yang sekarang sudah menginjak hari ketiga. Bayangan ingatan tentang Wakana kandas sudah.
"A... aku di sini, manajer...," sahut Sakuraba dari balik pintu, takut kalau muncul tiba-tiba Megu akan memutilasinya menjadi 16 bagian terus dikubur di septic tank.
"Cepet latihan sana, Jambul!" perintahnya sambil menodongkan pedang kayu. Padahal Sakuraba sudah tidak punya jambul sejak dicukur botak.
"Iya…," Sakuraba ogah-ogahan masuk ke ruang loker dan mengganti seragam sekolahnya dengan seragam Ojo White Knight. Kemudian menyusul teman-teman di lapangan.
"Sakuraba, kau telat!" bentak Shogun dari bench yang sukses memergoki Sakuraba terlambat, "Lari keliling lapangan 100 kali!"
"Ha... hai'…"
'Pelatih sama manajer yang sekarang soulmate banget teganya...,' batin Sakuraba, capek.
Ya, Tsuyumine Megu sekarang jadi manajer Ojo White Knight menggantikan Wakana atas permintaan Otawara karena—katanya—Wakana kurang tegas. Namun manajer pengganti ini ternyata terlalu tegas (baca: sadis) yang sukses membuat anggota-anggota tim dengan defense terkuat ini menangis minta tolong. Katanya Megu sih, Wakana terlalu memanjakan anggota-anggota Ojo White Knight ini—dan untungnya program pertukaran manajer ini hanya berlangsung dua minggu sesuai perkataan Hiruma si pencetus ide.
_selesai latihan sore_
Para anggota berbondong-bondong berganti pakaian di ruang loker—kecuali Sakuraba, dia masih keliling lapangan yang ke 93 kali.
"Shin kemana?" tanya Takami.
"Oh, dia jogging keliling kota lagi," jawab Nekoyama.
"Omong-omong Shin jadi sering jogging di latihan sore daripada latihan bersama kita, ya?" kata Kanzaki.
"Bukannya dari dulu dia memang begitu?"
"Bukan! Ia jadi lebih sering jogging sejak Wakana pindah ke Deimon!"
"Bahaha! Ada ada saja… Ukh, jadi kangen Wakana-chan." Otawara tertawa garing lalu menangis sendu.
"Tugasnya kan sudah digantikan sama Megu…" Takami menenangkan Otawara seraya menepuk-nepuk punggung si kapten.
"Tapi Megu beda banget sama Wakana-chan! Dia galak, sadis, nggak ramah—iya sih, dia lebih tegas. Tau begini aku pilih manajer Deimon, siapa sih yang ngusulin dia!"
"Kamu sendiri."
"Oh, tidak ingat," jawabnya dengan tampang inosen.
"Otawara, bilang ke pelatih sana, biar Megu dipecat terus Wakana dikembalikan," usul Kanzaki, "Kita semua sudah nggak tahan sama siksaannya yang nggak ada hubungannya sama tugas manajer! Masa' lari keliling lapangan sambil diikat tali terus diseret dengan motor!"
"...Oke, aku bakal meminta pelatih untuk memecat manajer itu dan mengembalikan Wakana-chan! Tenang saja!" Otawara berlagak layaknya seorang kapten, tumben.
"Sebaiknya secepatnya," anggota lain mengangguk setuju.
Di lain tempat, lari 100 keliling lapangan baru saja Sakuraba selesaikan. Ia tidak henti-hentinya meneguk botol minum yang ia ambil sendiri. Maklum, Megu menolak mentah-mentah permintaannya untuk mengambilkan botol minum jatahnya. Tegukkan air mineralnya berhenti saat Sakuraba melihat sesosok perempuan berdiri mematung di depan ruang loker.
"Ma-manajer?"
Megu tidak menyahut.
"Manajer ngapain di depan pintu ruang loker? Mau ngintip ya?"
Pukulan maut Megu pada Sakuraba tertunda karena pintu ruang loker terbuka.
"Eh, ada kalian berdua!" sapa Takami hangat bersama anggota lainnya,"Kami pulang duluan ya, Sakuraba, ada urusan."
Sakuraba mengangguk sambil tersenyum kecil pada teman-temannya.
"Jangan telat buat latihan besok pagi!" tegur Megu. Ada yang hanya mengangguk pasrah, ada juga yang berdecak kesal. Sakuraba dibuat terperangah karenanya dan merasa ada yang aneh. Ia kembali menatap manajernya yang bermuka merah padam.
"Apa lihat-lihat? Ganti baju sana!" Megu meninju punggung Sakuraba dengan sadis bak kerbau yang dicolok hidungnya. Sengaja melakukan itu untuk menutupi emosi-yang-entah-apa-bergejolak.
'Duh, sakit...,' Sakuraba mengelus punggungnya yang kena tonjok. Ia kembali teringat Wakana yang biasanya menempelkan tape pada memarnya. Hiks.
.
.
Selesai berganti pakaian, Sakuraba berharap si gorila Megu sudah pulang biar ia tidak kena tonjok lagi. Huh, ia cuma bisa menghela nafas dan pasrah dengan segala kekejian yang ada.
Kreeeek
Pintu ruang loker dibuka. Sakuraba melihat si gorila menangis.
Tunggu... apa?
"MA-MANAJER?" tas klub yang ditentengnya terpental karena Sakuraba sendiri terjingkat saat melihat si manajer (yang entah sejak kapan dia panggil gorila di batinnya) duduk tersungkur dengan wajah yang ditutupi tangan tepat di samping pintu ruang loker.
Megu sendiri kelihatannya kaget dengan kehadiran Sakuraba.
"KAMU BELUM PULANG?" jerit perempuan itu sambil menghapus air matanya dengan cepat seraya menghantamkan enam pukulan pedang kayu pada Sakuraba.
Terjadi ke-jawsdrop-an sejenak.
"Manajer, kau… menangis?" tanya Sakuraba memberanikan diri sambil menenangkan Megu.
"Ti-tidak!" Megu mengelak.
"Kau menangis!" Sakuraba ngotot.
"Tidak!"
"Iya!"
"Tidak!"
"Iya!"
Begitu terus sampai kiamat.
"Haaah, kalian orang-orang Ojo benar-benar menyebalkan!" Megu menyerah, menjatuhkan dirinya sendiri ke lantai tempat ia menangis tadi.
"Kenapa kau menangis?" tanya Sakuraba polos binti penasaran.
"Tanyakan sendiri pada teman-temanmu yang ingin memecatku—dan aku tidak menangis!" bentak Megu lagi.
"Teman-temanku ingin memecatmu? Ke-kenapa?" sekarang ia tahu perasaan aneh apa yang ia lihat dari sikap teman-temannya.
"Katanya aku sadis, nggak ramah, dan sebagainya..."
'Emang bener kok,' batin Sakuraba.
"Maaf, aku nggak bisa jadi manajer yang bisa dibanggakan di tim ini," lanjutnya sambil tersenyum kecut-simpul*?*.
'Nih gorila kepalanya terbentur apa sih? Bicaranya jadi beda banget!' Sakuraba bingung setengah mati antara iba dan 'rasain lo'. Antara baik dan jahat. Antara malaikat dan setan. Antara surga dan neraka. Antara Hiruma dan Mamori (lho?).
"Jadi kau menangis gara-gara baru mendengar teman-teman akan memecatmu?" Sakuraba bengong, "Pfft, ternyata orang sepertimu sensitive juga, ya!"
Megu meng-kamekameha Sakuraba.
TIN! TIN!
Pak supir a.k.a Habashira Rui sudah menjemput Megu diluar sana. Yah, sejak Megu jadi manajer tim Ojo, Rui menjemputnya tiap waktu pulang sama seperti Shin dan Wakana, bedanya pakai motor.
"Aku sudah dijemput. Besok pagi jangan telat ya, Jambul!" Megu bangun dan melangkah ke arah bang supir. Namun sebelumnya, Sakuraba menangkap tangan Megu.
"Besok… kau harus datang lagi! Jangan gara-gara begini saja kau lari, ternyata kau lebih lemah dibanding Wakana!" kata Sakuraba, "Percuma saja kami disiksa olehmu tanpa hasil yang jelas, iya kan'?"
Hening.
'Aku belajar agar aku tidak menasihati preman lagi,' batin Sakuraba. Pingin kabur.
"Baik Jambul, aku akan datang." jawab Megu yang mana membuat Sakuraba membuang nafas lega, "Untuk membunuhmu yang sudah berani-beraninya mengatakan kalau aku lemah!" lanjut Megu yang mana membuat jantung Sakuraba mencret.
Megu pun membawa serta pedang kayunya. Sakuraba berdiri mematung. Dia menemukan sesuatu tergeletak di bumi.
"Apa ini? Kayak dompet... Oi, Manajer! Ini punyamu bukan?" sahut Sakuraba memanggil Megu sambil melambaikan tangannya yang memegang sebuah dompet PINK bertanda tangan Lee Min Ho.
"LEMPARKAN ITU SEKARANG JUGA, JAMBUL!" teriak Megu dari kejauhan dengan nada pembunuh dahsyat. Sakuraba pun melemparnya dengan senang hati. Megu menangkapnya dan segera pergi.
'Aku nggak ngerti perempuan...' Sakuraba menggelengkan kepala, lalu pulang.
.
.
"…Jadi untuk apa kau kesini?" tanya Shogun pada Otawara.
"Entah, aku lupa. "
Moral Note: Harap tabah dengan cewek yang lagi 'dapet'
_|\/\/|_
A/N: Hoho~ I'm back^^ Buat para author cowok (kalau ada) cewek memang sensitive banget kalau lagi dapet XD Daku nggak tau sifat Megu secara detail..jadinya saya bikin OOC begini DX Alasan lainnya, untuk mengingatkan kita kembali kalau Megu benar-benar cewek *digorok Megu*
Oh iya, thanks to Dilia-senpai a.k.a Kirisha Zwingli yang sudah membeta chapter 3 ini~ :D -berharap anda mau ngebeta juga chapter keempatnya- *duak*
Oh iya *digampar banyak bacot* saya lagi mau fokus ke pelajaran dulu meski libur puanjang*sok rajin*Jadi, rada hiatus yak..Next up, at..Zokugaku!
