Ayano kembali hadir…

Bernuansa beda nih. Ayano sengaja membuat yang horror.

Entah jadi horror atau nggak.

Let's read and review please…

.

.

.

BLEACH © TITE KUBO

.

.

.

Sebuah rumah kosong dipertanyakan oleh sekolompok detektif yang aneh, gaje, seenaknya, dan berisik. Bahkan mereka tidak bisa diam. Apa mereka bisa membuka kedok rumah kosong yang konon katanya menyeramkan?

.

.

.

RUMAH KOSONG…

CHAPTER 1 : PERMINTAAN

"Kita dapat permintaan." Ucap Rukia pada teman-temannya.

"Permintaan apa?" Tanya Ichigo yang masih menatap notebooknya.

"Rumah kosong." Jawab Rukia dengan menghela nafas.

"Rumah kosong?" Tanya Orihime meyakinkan.

"Benar. Katanya rumah itu berhantu. Sebelumnya ada yang meninggal karena rumah itu. Orang yang meninggal itu adalah penghuni baru rumah itu." Jelas Rukia yang mendapat perhatian takut oleh teman-temannya.

"Ke-kenapa kalian?" Tanya Rukia kaget melihat wajah-wajah temannya.

"Kita memang detektif. Tapi… bukan karena kasus pembunuhan…" ucap Orihime agak ketakutan.

"Orihime… siapa yang bilang kasus pembunuhan? Ini hanya misteri rumah kosong. Bayarannya juga lumayan besar." Ucap Rukia menenangkan.

"Mungkin… patut kita coba." Ucap Uryuu sambil menaikkan kacamatanya.

"Benar." Semua akhirnya setuju.

Mereka, detektif remaja yang bisa dibilang aneh, de el el, yang artinya sama. Tapi hampir semua kasus bisa dipecahkan oleh mereka. Terdiri dari 5 orang. Yaitu, Rukia, Ichigo, Orihime, Uryuu, dan Toushiro.

Setelah mendapat telepon dari Rangiku (yang meminta menyelidiki rumah kosong), mereka berlima menentukan hari dan waktu agar tepat.

Mereka memutuskan untuk beraksi pada hari kamis siang, jam 1 sehabis pulang sekolah.

Skip time…

"Kalian sudah siap?" Tanya Ichigo.

"Sudah." Ucap yang lain dengan kompak.

"Shiro!" terdengar sebuah suara memanggil.

"Ah, Momo. Ada apa?" Tanya Toushiro saat melihat yang datang adalah Momo, pacarnya.

"Bolehkah aku ikut?" Tanya Momo berharap.

"Tentu. Kau mungkin bisa membantu kami." Ucap Rukia setuju.

"Baiklah. Ayo." Ucap Toushiro makin bersamangat.

"Tu-tunggu dulu… kalau Momo boleh ikut, Ulquiorra boleh ikut tidak?" Tanya Orihime.

"Boleh saja. Dimana dia?" ucap Rukia.

"Tunggu sebentar. Kemarin dia bilang mau ikut." Ucap Orihime seraya mengambil ponselnya.

Beberapa menit kemudian…

"Ah! Itu Ulquiorra!" ucap Ichigo dan melambaikan tangannya pada Ulquiorra.

"Baiklah. Sudah siap semuakan?" Tanya Rukia kembali.

"Aku iri!" ucap Uryuu tiba-tiba.

"Iri? Kenapa?" Tanya Orihime.

"Kalian berpasangan. Sedangkan aku tidak. Aku mau ajak Nemu dulu." Ucap Uryuu dengan cemberut dan langsung menepon Nemu.

Setelah Nemu datang…

"Baiklah. Apa sudah siap? Kita sudah mengulur waktu 15 menit." Ucap Rukia dengan melihat waktu diponselnya.

"Ayo jalan." Ucap Ichigo yang berjalan terlebih dahulu diikuti yang lain.

Setelah mereka sampai didepan rumah kosong itu, Ulquiorra menemukan sebuah kunci yang terlihat sudah karatan. Dia tidak sengaja menginjaknya saat berjalan kearah halaman rumah tak terawatt itu.

"Kunci apa itu?" Tanya Orihime saat melihat pacarnya memegang kuci.

"Entahlah. Aku tak sengaja menginjaknya." Jawab Ulquiorra yang masih mengamati kunci itu.

"Kuncinya kok aneh?" Tanya Uryuu ikut memperhatikan.

"Mungkin kunci pintu rumah itu." Ucap Ichigo yang masih santai dan melanjutkan langkah kakinya.

Merekapun melanjutkan langkah mereka hingga mereka berdiri dipintu besar nan megah. Rumah itu rumah yang sangat besar. Mempunyai halaman yang amat luas. Gerbangnyapun sangat besar dan tertutup. Mereka dapat masuk karena punya ijin dari Rangiku.

"Pinjam kuncinya." Ucap Toushiro pada Ulquiorra. Ulquiorrapun mengeluarkan kuncinya.

Saat Toushiro memasukkan kucinya pada lubang rumah itu, dia merasa janggal. Kuncinya masuk, tapi tak bisa diputar.

"Tidak bisa. Sepertinya ini bukan kuncinya." Ucap Toushiro dengan menggelengkan kepalanya.

"Benarkah? Sini coba pinjam." Ucap Ichigo dan mencobanya. Namun sama seperti yang dikatakan Toushiro.

"Minggir." Ucap Nemu yang tiba-tiba maju.

Dia memegang ganggang pintu itu dan mendorongnya. Ternyata terbuka. Dan pintu itu tak terkunci.

"Aneh." Ucap Momo keheranan.

"Mungkinkah sengaja tak dikunci?" Tanya Rukia dengan merenung.

"Memang siapa yang meminta menyelidiki tempat ini?" Tanya Nemu.

"Rangiku Matsumoto. Seorang istri dari pengusaha besar yang bernama Gin Ichimaru. Dia ingin tahu kebenaran tentang saudaranya, Aizen Sousuke yang meninggal dirumah ini setelah menetap dirumah ini. Padahal baru 1 hari dia disini." Jelas Rukia.

"Kejadiannya kapan?" Tanya Ulquiorra.

"2 bulan yang lalu. Benarkan, Rukia?" jawab Orihime.

"Iya. kata Ibu Rangiku, polisi sudah mengeceknya, namun nihil. Dan dia meminta kami untuk menyelidikinya." Ucap Rukia.

"Sudahlah… ayo masuk." Ucap Ichigo yang mulai bosan.

Merekapun masuk kedalam rumah itu. Tak disangka, rumah yang super luas. Mereka berpikir pasti rumah ini pemiliknya orang kaya raya. Rumah berlantai 3 ini memiliki sangatlah megah. Pastilah orang yang bernama Aizen ini orang kaya. Itu pemikiran mereka.

"Barang-barangnya ditutupi kain putih. Dan banyak sarangnya." Ucap Momo agak takut.

"Benar." Ucap Nemu mengiyakan.

"Hei! Lihat itu yang ditengah. Bukankah itu piano?" ucap Toushiro yang menunjuk sebuah benda tepat ditengah-tengah sebuah ruang yang luas.

"Sepertinya iya. coba kulihat." Ucap Uryuu dan berjalan mendekati benda itu.

Saat berjalan kesana, tiba-tiba lantai yang diinjak Uryuu hancur!

"Aaarrgghh!" teriak Uryuu yang membuat semuanya histeris dan berlari kearahnya.

To the next story!

What? Jatuh? Lantai hancur? Apa yang sebenarnya terjadi?

Tunggu story selanjutnya.

Mohon RnR please…

Arigatou!