Chapter 3
Disclaimer : Naruto bukan punyaku…. Naruto punyanya om ganteng!
Ada Cinta yang Mengalir di Setiap Prasat
By Rei-kun 541
Pairing : SasuxSai
Warning : Ini fic YAOI SasuxSai, jadi yang anti YAOI wajib baca! *plak* di tambah lagi, chap ini benar-benar konyol! Yang tidak suka melihat Sai dan Sasuke yang OOC, silahkan menunggu chap selanjutnya saja! Habis…. Yang terlintas di kepalaku hanya ini sih… maaf… Disini juga ada OC, ada typos, gaje, ancur, bikin eneg, dll… Aduh….
.
.
.
Jam 8.30, itu yang di tunjukkan oleh jam dinding yang bertengger di dinding ruang perawat. Itu menandakan bahwa shift-ku untuk hari ini akan berakhir. Sudah 3 hari berlalu semenjak Sasuke datang dan di rawat di rumah sakit ini dan selama itu pula aku selalu merawatnya sepanjang pukul 2 siang hingga 9 malam. Ketika shift berakhir, maka rasa sakit akan menyelimuti hatiku.
3 hari berlalu dan tak ada perubahan menonjol dari keadaan Sasuke. Ia masih belum bisa menggerakkan kedua pasang tungkainya. Sepertinya asam laktat yang bersarang di ototnya memang terlampau banyak sehingga butuh waktu lama bagi tubuhnya untuk mengeluarkan asam kaktat itu. Itu berarti besok aku akan kembali dan merawatnya lagi. Tapi… apakah akan ada hari esok dan esoknya lagi? Kenapa shift-ku cepat sekali berakhir? Sungguh, aku belum pernah merasa sepi seperti ini setelah tugasku merakhir. Hah… aku mulai aneh…
DUUAAK…
"aduh…" Aku merasa sesuatu membentur kepalaku. Spontan aku menoleh pada seorang perempuan yang duduk di hadapanku dan kudapati ia tersenyum puas dengan tangan kanan yang memegang sebuah buku catatan tebal. Perempuan itu bernama Yuna. Perawat tetap di Rumah Sakit Otogakure itu.
"Kau memukulku, ya?" tanyaku dongkol.
"Hehe… iya… habis kau, aku panggil ratusan kali, tidak menjawab sih…" jawabnya santai lengkap dengan cengiran yang menambah kekesalanku.
"Sialan! Sakit tahu!"
"Kau yang sialan! Kau lupa kita sedang melakukan apa ya, hm?" dia ikut-ikutan marah.
Oh iya, aku baru ingat kalau aku sedang bermain halma dengannya sambil menunggu perawat shift malam menggantikan pekerjaan kami.
"Hehe… Maaf, sudah sampai mana permainan kita?" tanyaku dan mengalihkan pandanganku ke arah meja tempat kita meletakkan board halma tapi yang ada malah bidak-bidak halma yang sudah berserakan.
"Lho, kok…" tanyaku heran melihat bidak halma yang jatuh terkulai (jiah…) di atas meja.
"Apa sih yang kau pikirkan?" tanyanya tiba-tiba, "Apakah kau memikirkan klienmu?"
'Ya, tapi hanya Sasuke. 2 klienku yang lain tidak masuk hitungan,' batinku. Tapi tidak mungkin aku mengatakan itu padanya hingga kujawab saja,
"Tidak… lagipula, klien-klienku sudah tidur, kecuali Uchiha-san. Ngomong-ngomong, kenapa halmanya jadi berantakan seperti ini?"
"Aku menyenggolnya waktu aku memukulmu tadi…"
"Ya udah, kita ulang saja mainnya," kataku kemudian mulai merapikan kembali bidak halma dan meletakkan mereka di daerah strart mereka.
"Tidak mau!" jawabnya.
"Kenapa?"
"Main denganmu tidak asyik! Kau sering sekali melamun."
"Aku janji deh, sekarang tidak lagi." Kataku sedikit merayunya. Bagaimanapun juga, aku tidak boleh membuat temanku sedih. Itu karena dia sudah mau menjadi temanku, begitulah yang tertulis di buku.
"Oke… tapi sekarang mainnya pakai taruhan!"
"Kok pakai taruhan sih?" tanyaku sedikit tidak terima.
"Ya. Biar kau lebih konsenterasi. Jika tidak menggunakan taruhan, bisa jadi kau melamun lagi!"
"Memangnya, mau taruhan apa sih?"
"Jika kau menang, kau boleh meminta satu permintaan padaku, tapi yang bisa aku penuhi tentu saja, dan begitu pula denganku, jika aku yang menang aku berhak meminta satu permintaan darimu."
"Tapi yang bisa aku penuhi ya?" tanyaku. Aku takut dia meminta yang tidak-tidak, seperti memasukkannya ke surga, itu kan tidak mungkin!
"Oke… tenang saja! Bagaimana?"
"Baiklah…" jawabku menyetujui.
Dia segera mengambil bidak halmanya yang berwarna merah dan meletakkan itu satu persatu di daerah start yang berbentuk segitiga berwarna merah setelah mendengar persetujuan terlontar dari mulutku, sementara aku menggunakan bidak berwarna biru. Kemudian kami pun mulai bermain kembali.
Tapi memang aku lagi celaka saat itu, setelah melakukan perpindahan bidak dan sedikit lompatan-lompatan, dia mengalahkanku. Aku salah masang taruhan dengan dia. Dia memang lebih lihai di banding aku dalam bermain halma. Ini salah Sasuke nih.. (?)
"Yes! Yes! Yes! Aku menang! Aku minta taruhanku!" ucapnya dengan nada gembira. Perasaanku tidak enak.
"Kau mau apa?" tanyaku enggan. Mampus aku!
"Em… tunggu sebentar!" ucapnya kemudian pergi. Setelah menunggu beberapa saat, ia kembali dengan membawa seragam perawat untuk wanita. Perasaanku makin tidak enak.
"Sai… aku mau kau memakai ini!" katanya sambil menunjukkan seragam itu kepadaku.
"Apa? Eh… yang benar saja! Tidak, aku tidak mau!" ucapku menolak. Ya, terang saja aku menolak. Aku tidak mau diriku yang gagah ini memakai baju yang tidak pantas seperti itu.
"Tidak bisa, ini sudah merupakan perjanjian! Tidak boleh menolak! Cepat pakai!" perintahnya kemudian melemparkan baju itu kepadaku.
"Tapi, Yuna… masa dirimu tega, memaksaku memakai baju seperti ini?" tanyaku.
"Salahmu! Siapa suruh kalah?" benar-benar bukan jawaban yang aku harapkan. Sepertinya orang itu ingin di banting!
Tapi karena sudah merupakan perjanjian dan aku tidak mungkin lari atau menarik janji itu, akhirnya aku masuk juga ke dalam kamar mandi untuk mengganti bajuku dengan baju yang diberikannya. Ya, itu kulakukan karena aku seorang ninja yang tidak mungkin ingkar janji. Tapi…
"Wah… Kau cantik sekali!" kagumnya ketika aku keluar dari kamar mandi dengan menggunakan seragam perawat wanita itu. Dia menghampiriku dan mulai berputar-putar mengelilingiku, melihatku menggunakan seragam berupa dress terusan lengan pendek yang jatuh hingga menutupi sepertiga pahaku. Kau juga memakai sepatu perempuan dengan tinggi sekitar 5 cm.
"Kau tidak terlihat seperti seorang laki-laki. Kau lebih terlihat seperti seorang wanita cantik dengan rambut pendek yang indah dan kulit putihmu itu menambah kecantikanmu. Tubuhmu ramping, kakimu juga tidak terlihat seperti kaki laki-laki, terlebih lagi pahamu yang mulus itu! Wow… menakjubkan!" dia semakin menjadi-jadi dalam memujiku.
Ngeri juga melihat matanya yang berbinar-binar dan terus melihatku, dari ujung rambut hingga ujung kaki seperti itu berulang-ulang. Orang ini sepertinya sedang kehabisan obat atau apa nih?
"Yuna, kau kena deviasi seksual ya?" tanyaku sekenanya.
"Heh… apa katamu? Bagian mana yang deviasi seksual?"
"Ya di bagian ini, mendapatkan rangasangan seksual ketika melihat lawan jenisnya memakai baju yang berlawanan dengan baju yang seharusnya dipakai. Kau juga sama kan, mendapatkan rangsangan seksual ketika melihatku memakai baju lawan jenisku seperti ini?"
"Yey… mana ada yang seperti itu di buku!" jawabnya kemudian mencari sesuatu di dalam tasnya yang diletakkan di atas meja.
"Sepertinya aku yang harus menambahkan satu lagi deviasi seksual, terutama di fundamental keperawatan tentang ini. Akan kutulis deviasi ini sengan nama Yuna Transvestik Fetishisme."
"Apa? Kenapa ada namaku sih?"
"Karena kau pencetus pertama."
"Kurang ajar kau! Jika itu benar-benar ada, maka pastikan aku membakar semua buku yang berhubungan dengan itu. Oh.. atau mungkin kau saja yang aku bakar!"
"Hahaha…" aku tertawa, sengaja, agar dia menganggap aku hanya main-main saja. Terkadang Yuna bisa jadi sangat liar. Ini saja sudah buat aku menderita. Salah Sasuke nih… (?)
"Sudah ya, Yuna. Bajunya aku lepas ya! Kan kau sudah melihatnya!"
"Jangan! Kan belum semua kau pakai."
"Apa lagi?" tanyaku. Yuna memang buat aku depresi berat.
"Ini…" katanya sambil mengeluarkan sebuah capping dari dalam tasnya.
"Masa pakai itu juga?"
"Iya. Sini…" katanya kemudian menarik tanganku dan mendudukkan aku di kursi. Dia mulai memasang capping itu di kepalaku. Aku pasrah saja digitukan. Menyerah pada takdir. Membiarkan Yuna melakukan apa saja yang diinginkannya.
"Selesai…" katanya. Setelah itu mengeluarkan kaca dari dalam tasnya dan memperlihatkannya padaku. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala melihat capping yang bertengger erat di kepalaku.
'Brengsek si Yuna!' umpatku dalam hati.
"Bagaimana? Cantikkan? Aku iri padamu. Kenapa kau bisa semanis ini sih?"
"Ya sudah lepaskan saja semua atribut ini. Biar kau tahu aku tidak pantas buatmu iri. Aku seorang laki-laki!"
"Tidak. Kau harus tetap memakainya sampai aku menyuruhmu berhenti!"
"Apa? Yuna, kau benar-benar…" belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, tiba-tiba pintu ruang perawat terbuka dan terlihat seorang perawat lelaki masuk sambil mendorong trolly.
"Hai, Yuna… Hai…" laki-laki itu menghentikan kata-katanya sambil menatapku heran. Ia sebenarnya hendak menyapaku, tapi sepertinya dia tidak mengenaliku.
"Temanmu ya, Yuna?" tanyanya pada Yuna.
"Ini kan…" Yuna hendak mengatakan siapa aku tapi segera aku cegah dengan menginjak kakinya dengan menggunakan sepatu dengan high setinggi 5 cm itu. Itu sepatu yang diberikan Yuna juga untuk dipakaikan padaku.
"Aw…" teriak Yuna ketika kakinya ku injak.
"I… Iya, aku temannya Yuna. Salam kenal!" ucapku padanya dan menunduk memberi hormat.
"Iya… Salam kenal juga. Tak kusangka Yuna punya teman semanis kamu!" ucapnya dan berlalu sambil membawa trolly itu hendak masuk kedalam ruang peralatan untuk dibersihkan. Sementara Yuna menahan diri untuk tertawa.
"Hahaha… dia tidak mengenalimu… dasar bodoh! Hahaha.." Yuna tertawa terbahak-bahak setelah lelaki itu berlalu dan masuk kedalam ruang peralatan.
"Berhanti tertawa, atau aku injak kakimu lagi!" perintahku dengan wajah panas. Tapi itu membuat Yuna semakin antusias untuk tertawa.
"Wajahmu yang memerah itu, membuatmu terlihat manis. Hahaha…."
Aku kembali duduk di kursi dengan rasa dongkol di hati. Yuna sukses mempermalukan diriku. Ngomong-ngomong tadi aku sempat melihat laki-laki itu membawa alat-alat untuk oral hygiene, sepertinya aku juga berniat untuk memberikan oral hygiene…
"Astaga!" aku tersentak kaget dan segera beranjak dari tempat dudukku.
"Ada apa?" Tanya Yuna ikut-ikutan kaget.
"Aku lupa, aku belum memberikan oral hygiene pada klienku!" ucapku kemudian melangkahkan kakiku segera menuju ruang peralatan.
"Lho katanya tadi sudah tidur…"
"Iya, 2 klienku sudah tidur, tapi Uchiha-san belum. Haduh… harus cepat-cepat nih, jangan sampai malam ini dia tidur dengan mulut yang tidak bersih! Gawat, ini salahku, kenapa bisa sampai lupa sih?" kataku dan mulai masuk ruang peralatan. Yuna mengikutiku dari belakang. Sementara perawat lelaki yang semula masuk ruang peralatan keluar setelah aku dan Yuna masuk.
"Iya, sepertinya kau harus cepat. Semoga saja dia belum tidur! Ayo, aku bantu menyiapkan alatnya." Kata Yuna kemudian segera mengambil trolly yang ada di ruang peralatan itu dan membentangkan sebuah kain di atas trolly itu.
Dengan cekatan aku mengambil sebuah handuk, sebuah perlak, dan sebuah gelas yang kuisi dengan air beserta sedotan di dalamnya kemudian kuletakkan dengan rapi di lantai atas trolly. Sementara Yuna mengambil 2 buah bengkok dan diletakkan di lantai bawah trolly. Setelah itu, aku mangambil obat kumur berupa PVP Iodine, sikat gigi, dan pasta gigi, serta sebuah cucing kemudian ku letakkan dengan rapi di atas trolly. Sementara itu, Yuna mengambil, lidi kapas, Tongue spatel, light pen, dan sarung tangan di dalam sebuah kom tertutup kemudian meletakkannya dengan rapi juga di atas trolly.
"Sudah, Sai." Ucapnya setelah dirasa semuanya sudah siap.
"Belum, Yuna, ada yang kurang."
"Oh iya, larutan NaCl." Ucapnya kemudian membuka lemari dan mengambil larutan itu dari dalam lemari.
"Iya, tissue juga!" kataku kemudian pergi mengambil satu pack tissue.
"Sudah, Sai."
"Hm… Arigato, Yuna!" kataku kemudian mendorong trolly itu segera keluar menuju kamarnya.
…..
Aku masuk ke kamarnya dengan harapan bahwa dia belum tidur saat itu. Jika sudah tidur, tidak mungkin aku akan membangunkannya hanya untuk sekedar unuk menyikat gigi. Aku tak segera memberikannya oral hygiene setelah makan karena ia tidak menginginkannya. Aku jadi lupa. Semoga dia belum tidur.
Kubuka perlahan pintu kamarnya itu dan kudapati ia menoleh ke arahku untuk melihat siapa yang membuka pintu. Hah… syukurlah… ternyata ia belum tidur. Dengan perasaan lega, aku masuk ke dalam kamarnya.
"selamat malam, Sasuke-san!" sapaku.
"Hn" jawabnya. Seperti biasa. Tapi ada semburat raut heran juga melihatku. Gawat!
"Syukurlah… anda belum tidur. Saya datang kemari untuk memfasilitasi anda dalam melakukan perawatan terhadap gigi dan mulut anda." Kataku kemudian mendorong trolly mendekati tempat tidurnya.
"Siapa kau?" tanyanya.
Aduh… dia pakai nanya lagi siapa aku. Aku harus jawab apa? Masa aku harus berbohong padanya? Itu terlalu tidak mungkin. Setelah setiap perlakuan keperawatan akan dokumentasian, jika yang diketahui klien dan yang ada di buku dokumentasi berbeda, bisa terjadi kesalahan dan ini bisa bersifat fatal. Tapi jika memberitahukan namaku… dengan keadaanku yang seperti ini…
"Saya… perawat…" ada rasa enggan mengatakan namaku.
"Saya, perawat Sa… Sai, yang…" belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dia sudah memotong pembicaraanku.
"Apa? Sa…Sai?" tanyanya sambil menahan tawa. Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku.
"Huwahahaha…." Dia tertawa terbahak-bahak. "Hahaha… Kau konyol Sai… hahaha…"
Sungguh, aku bisa membayangkan wajahku saat itu sudah seperti kepiting rebus. Ditertawakan oleh orang yang sangat kukagumi, yang benar saja! Sedikit kuangkat kepalaku untuk menatapnya, dan kulihat wajah indah yang sedang tertawa itu sekilas dan segera kutundukkan wajahku lagi. Manis, itu yang terlihat. Belum pernah aku melihat Sasuke yang tertawa bahagia saperti itu sebelumnya.
"Hahaha… aduduhh..haha… aduh.." aku segera mengangkat wajahku untuk menatapnya. Di sela tertawa itu ia meringis. Terang saja, tertawa membuat otot-otot tungkainya berkontraksi dan itu akan memberikan respon nyeri.
"Tolong, hentikan tertawa anda, Sasuke-san!" ujarku. Aku mulai tidak tega melihat dia kesakitan seperti itu.
"Hahaha… tidak.. haha.. aku tidak bisa berbenti.. aduduh.. haha.." dia terus tertawa, dan aku semakin tidak sanggup saja melihat dia kesakitan seperti itu. Aku benar-benar kehabisan akal.
Dengan sedikit terpaksa, aku berjalan kesamping tempat tidurnya dan segera membekap mulut Sasuke dengan tangan kananku sementara tangan kiriku, ku letakkan di samping kepalanya untuk menopang tubuh bagian atasku.
"Berhenti tertawa, Sasuke, atau kucium kau!" Aku bicara apa tadi?
Tapi kata-kataku yang diluar kendali itu membuat Sasuke sukses menghentikan tertawanya. Haduh… kenapa harus kata-kata itu yang keluar dari mulutku… aku tahu dia memang sangat manis jika tertawa tapi seharusnya aku bisa jaga emosi… hah… gawat! Sasuke brengsek! Kenapa selalu dia yang membuatku merasakan perasaan-perasaan yang seharusnya tidak kurasakan lagi? Sasuke….
Aku segera melepaskan bekapan mulutnya. Mengambil tissue dari trolly dan mengusap setetes air mata di sudut matanya kemudian melangkah mundur beberapa langkah kemudian menarik nafas panjang sebelum akhirnya melanjutkan kata-kataku,
"Saya perawat Sai, yang akan merawat anda pada shift sore. Sekarang Saya akan membersihkan gigi dan mulut anda. Perlakuan ini bertujuan untuk mempertahankan kesehatan mulut dan gigi anda, mencegah terjadinya infeksi, dan memberikan rasa nyaman, apakah anda bersedia saya bersihkan mulut anda?"
"Haha… sepertinya, tidak usah, aku bisa tersedak busa odol…"
"Jika seperti itu, izinkan saya untuk mengganti baju saya, atau saya akan memanggil perawat lain, karena sepertinya perawat shift malam sudah datang. Oral hygiene bisa dilakukan oleh perawat shift malam."
"Ah… tidak usah, kau saja. Aku bersedia. Hm…" katanya sambil menahan tertawa.
"Tapi tolong, jangan tertawa terus, kalau tersedak odol, bisa gawat!"
"Iya… akan aku usahakan!"
Aku mulai melakukan tindakan oral Hygiene kepadanya. Setelah mencuci tanganku, aku berdiri di samping kanannya dan mulai mengambil perlak dan memasangnya dibawah kepala Sasuke. Kemudian dilanjutkan dengan handuk yang kubentangkan di bawah dagu Sasuke. Setelah itu aku memakai sarung tangan.
"Maaf, Sasuke-san, silahkan miringkan kepala anda ke samping kanan." Ujarku dan dia menurutinya. Setelah itu, ku letakkan bengkok di bawah dagunya.
"Coba buka mulutnya, Sasuke-san!" Sasuke membuka mulutnya dan aku mulai memeriksa mulutnya dengan menggunakan tongue spatel dan light pen. Setelah memeriksa mulutnya dan melihat dimana yang sekiranya sangat kotor, aku memberikan air untuk berkumur menggunakan sedotan. Sasuke berkumur dan membuangnya ke dalam bengkok yang sudah diletakkan di bawah dagunya.
Aku membubuhkan odol pada sikat giginya dan mulai menggosok giginya dari seri dengan gerakan ke atas-bawah dan gerakan ke arah luar-dalam untuk gigi gerahamnya. Kami tidak banyak bicara dalam proses ini karena Sasuke yang memang sulit bicara karena mulutnya sedang di bersihkan. Setelah mulutnya selesai dibersihkan kuberikan lagi air untuk berkumur sementara sikat giginya kuletakkan pada bengkok yang masih kosong di bawah trolly.
Setelah itu, kumasukkan sedikit larutan PVP Iodine kedalam cucing dan kularutkan dengan larutan NaCl hingga menjadi larutan PVP Iodine 0.1% dan dengan menggunakan larutan itu kugunakan untuk membersihkan sisa kotoran yang masih menempel pada gusi dengan menggunakan lidi kapas. Setelah menunggu selama 1 menit, kembali kuberikan air untuk berkumur.
"Ini, ayo berkumur lagi, Sasuke-san," kataku sambil memberikan air itu padanya. Kemudian setelah berkumur, dengan menggunakan tissue, kukeringkan bibirnya.
"Ingin menggunakan pelembab bibir, Sasuke-san?" tanyaku padanya.
"Tidak perlu, sebentar lagi aku tidur." Jawabnya.
Aku mulai merapikan alat-alat yang telah selesai kugunakan, dan disitulah ia mulai angkat bicara.
"Kenapa kau tiba-tiba datang dengan pakaian seperti itu?" tanyanya dengan senyum aneh.
"Ini… karena aku kalah taruhan!" jawabku sambil meletakkan bengkok yang ada di bawah dagunya kembali ke trolly.
"Taruhan apa?"
"Main halma"
"Apa? Haha… kau kalah taruhan hanya karena main halma? Kau konyol Sai.. haha…"
Dasar Sasuke tidak tahu diri. Dia pikir karena siapa aku kalah main halma? Itu semua karena dia, dia selalu ada dan menari-nari di otak dan pikiranku, membuat aku selalu tidak konsentrasi karena terus memikirkannya. Ugh…
"Berhenti tertawa, Sasuke!" perintahku.
"Kenapa, kau akan menciumku? Coba saja kalau berani!" tantang Sasuke.
'Brengsek, kau Sasuke, brengsek!' umpatku dalam hati. Dia mulai mempermainkan perasaanku lagi dan membuat tekanan darahku tinggi. Sialan!
Tapi aku diam saja, sebenarnya sih aku ingin sekali melumat bibirnya itu, tapi… aku seorang perawat saat ini dan tidak mungkin melakukan hal itu kepada klien.
"Permisi, Sasuke-san, Perlaknya akan saya ambil!" kataku kemudian mengangkat sedikit kepalanya dan mengambil perlak itu dari bawah kepalanya. Kulipat perlak itu kembali dan meletakkannya ke trolly.
"Kukira… aku tidak bisa lagi tertawa seperti ini… tawa bahagia seperti ini… kukira dendam memakan semua perasaan yang membuat aku bahagia. Kau tahu, setelah aku membunuh kakakku, aku kira aku akan tertawa bahagia, tapi apa yang aku dapat. Kesedihan… dan saat itulah aku mengganggap rasa bahagia yang kumiliki sudah tidak ada lagi di dalam hatiku. Tapi, ternyata kau datang dan membuat semua anggapanku salah."
"Sa… Sasuke…" aku tidak bisa bicara apa-apa mendengar penuturannya. Itu penuturan yang tulus, aku tahu itu.
"Tapi… tidak perlu sampai seperti ini Sai, ini terlalu konyol. Lain kali, buatlah aku tertawa dengan hal-hal yang sedikit elegan, haha…!" wajahku langsung panas mendengar kata-kata itu. Kurapikan bednya tanpa berani melihat wajahnya. Ugh… Tetap saja pada akhirnya kau menyebalkan, Sasuke!
"Te.. terima kasih sudah mau bekerja sama dengan kami. Oyasuminasai, Sasuke-san! Semoga mimpimu indah…" kataku sambil menyelimuti Sasuke kemudian segera mendorong trolly itu keluar kamar.
Sasuke… Mengapa orang itu selalu memberikan sesuatu yang membuatku terkesan setiap harinya? Mulai dari kekaguman, kebahagiaan, sedih sampai kekhawatiran… ya, mungkin aku tak pantas untuk bimbang, tapi, aku mencintainya karena itu aku ingin ia selalu berada di sisiku, aku mencintainya, karena itu aku memiliki hasrat untuk memilikinya, tapi aku juga mencintainya, karena itu aku ingin dia bahagia…
Satu yang aku sadari setelah keluar dari kamarnya dan membiarkan ia tidur malam ini, bukan, bukan Yuna yang mengalami deviasi seksual, tapi aku, aku yang telah mengalami deviasi seksual. Sepertinya aku harus mendapati terapi keperawatan jiwa…
.
.
.
…TBC…
Aduh…. Bener kan ga mungkin ada yang baca sampai sini! Lihat warningnya aja dah bikin eneg…
Ini terinspirasi dari review-nya Chiheisen-senpai yang ingin lihat Sai pakai baju perawat cewek dan ficnya yang hostess club. Tapi jadi aneh… maafkan aku ya Chiheisen-senpai aku tidak bermaksud…
Ya udah deh, tunggu chap 4 terbit aja… Chap 3 emang chap gagal… *pergi tanpa ingin lihat chap 3 yang sudah kayak bom atom*
Ga berani aku minta review… takut kecewa…
