Disclaimer: Terakhir kali author ngecek, NARUTO tetap ajah masih punyanya Masashi Kishimoto. Tapi Pakde Masashi bilang, kalau dia wafat hak milik NARUTO mau diserahkan ke Author lho….*disepak*

A/n: Nih chap 2 di update! Author lagi puasa nggak ada kerjaan, jadi lanjutin fanfic gaje ini… Yasudah, cekidot yah!

A Love For Ino

Chapter 2 ^_^

Ino POV

Huwaa…. Hari ini memang hari sial Ino Yamanaka! Bayangin ajah, tadi pagi aku jadi marah-marah nggak jelas karena melihat Si Nanas jalan sama cewek Nanas Empat –julukan baru Ino buat cewek berkuncir empat-, terus aku juga hampir terlambat gara-gara ngintip adegan roman picisan mereka, aku juga harus desak-desakan di bus sekolah karena Si Gen- ups! Maksudku Si Chouji juga ninggalin aku. Dan puncaknya, aku harus kelupaan bawa blazer yang nyaris saja mengantarku pada detensi kejam Ibiki-sensei.

Huft… Thanks berat deh buat Sai yang udah minjamin blazernya. Emang cowok satu itu baik and perhatian banget. Tapi kenapa Sakura nggak mau sama dia yah? Padahal setahuku Sai itu naksir Sakura kan? Tapi anehnya pas aku nanya Sakura tentang Sai yang katanya naksir sama dia, dia malahan ketawa-ketawa nggak jelas dan bilang, 'Ino..Ino, kamu tuh katanya peringkat 4 se-KHS, tapi kok bodoh gitu sih? Ha….ha…ha!'. Nyebelin banget tuh Si Jidat. Kalau aku nggak ingat dia itu Best Friend Forever a.k.a BFF aku, mungkin udah kujambak tuh rambut pinkish nya. Gimana nggak, pas aku Tanya apa maksud perkataan-nya itu, dia langsung ngeloyor pergi, sambil ketawa cekakakan nggak jelas.

Baiklah kembali ke rute perjalanan ku menuju kelas XI-B tercinta. Akhirnya setelah berjalan lumayan jauh karena kelasku itu ada di lantai 2, aku sampai juga.

Keadaan kelas XI-B emang masih nggak berubah. Setidaknya aku beruntung guru-galak-bercodet itu ternyata belum datang. Sekarang mari ku perkenalkan beberapa teman-teman kelasku.

Di bangku paling ujung dekat pintu, ada Naruto Uzumaki dan teman duduknya Kiba Inuzuka. Wali kelas kita, Anko-sensei pasti salah memasangkan mereka berdua, soalnya dua-duanya hiperaktif gitu kalau disatuin yah jadinya hancur. Dikelas mereka dikenal sebagai 'Duo Ribut'. Tapi begitu-begitu mereka itu calon atlet lho! Si Naruto itu atlet renang sekolah yang sering dapat medali emas di kejuaraan antar sekolah. Sedangkan Si Kiba itu atlet tenis sekolah yang sudah meraih prestasi nggak kalah banyak dengan Naruto. Nggak salah walaupun mereka rada o'on, mereka punya fangirls juga lho.

Selanjutnya Rock Lee dan Tenten. Ini juga jagonya olahraga, kalau Lee itu atlet tinju maka Tenten adalah 'Volley Queen' sekolah. Terus ada Shino Aburame yang udah banyak bikin penemuan di bidang biologi apalagi yang tentang serangga. Lalu ada Hinata Hyuuga yang jago banget main biola tapi terlalu pemalu dan wajahnya selalu merona merah kalau dekat Naruto. Udah dari kelas 1 tuh dia naksir sama Naruto. Terus ada Shion yang jadi ratu di bidang fashion show. Selanjutnya Sakura Haruno, my BFF yang ternyata jago banget Matematika lho. Dan yang terakhir ada Si Nan- uh, Shikamaru Nara dan Neji Hyuuga. Mereka itu jenius dari kelas XI-B. Neji sekarang ada di peringkat 3 umum se-KHS sedangkan Shikamaru berganti-ganti antara peringkat 1 dan 2 dengan Sasuke Uchiha dari kelas XI-A. Sedangkan aku sampai sekarang masih stak di peringkat 4 saja. Nggak pernah turun dan nggak pernah naik. Terus di peringkat 5 ada Shino, peringkat 6 ada Sakura, peringkat 7 Hinata, peringkat 8 Sai, peringkat 9 Lee dan peringkat 10 percaya nggak percaya adalah Karin. Anak kelas XI-C yang centilnya minta ampun.

Ok, itu perkenalan singkat tentang sebagian teman-teman kelasku.

"Selamat Pagi semua!"

Itu tentu saja salamku kepada semua penghuni kelas XI-B tercinta. Tapi yang kudapat cuman tatapan-tatapan boring dari semua makhluk dalam ruangan itu. Sial.

Aku pun meneruskan langkahku menuju tempat dudukku. Rupanyateman sebangkuku, my BFF a.k.a Sakura Haruno a.k.a Forehead Girl, sudah datang lebih dulu. Tumben banget.

"Morning Forehead!"

"Eh, kau ini apa-apaan! Ino-pig!"

"He…he.. jangan suka marah-marah loh Forehead, nanti cepat tua kaya' Chiyo baa-san!"

"Enak saja kau Ino-pig!"

Sudah merupakan hal yang wajar kalau kami saling mengejek seperti itu. Tapi tentu saja tak pernah dimasukkan ke dalam hati kok.

Akupun menaruh tasku dan mengeluarkan novel 'Harry Potter and The Half-Blood Prince' yang belum selesai ku baca dari minggu kemarin.

"Ih.. Ino-pig kenapa kau bawa novel kesekolah? Kenapa sih kau betah sekali baca novel setebal Ensiklopedi itu? Aku ajah yang lihat pusing."

"He..he nggak apa-apalah baca dikit. Toh Ibiki-sensei juga belum datang. Dan alasan kenapa aku betah baca novel ini, karena ceritanya tuh seru!"

"Oh. Bukannya biasanya kau suka baca Teenlit-teenlit?"

"Iya sih. Tapi akhir-akhir ini aku lagi sensitif sama hal-hal yang berbau roman."

"Wuih… Ino-pig depresi yah karena nggak laku-laku?"

"Enak aja!"

"Ngomong-ngomong, kau ganti parfum lagi yah Ino?"

Akhirnya Sakura berhenti berbicara soal statusku. Well selama ini aku memang belum pernah pacaran sih, tapi itu bukan berarti aku nggak laku lho! Aku cuman mau dapat yang terbaik saja. Lagi pula aku ini bisa dibilang cuek dan agak gengsi sama yang namanya cowok. Jadi aku nggak bakal menjatuhkan harga diriku bahkan didepan cowok yang aku suka sekalipun! Itu salah satu sebab mengapa Shikamaru- ugh… aku jadi mikirin dia lagi!

"Hei Ino! Hei! Bumi kepada Ino!"

"Ah! I-iya! Ada apa sih Sakura?"

"Hei! Dari tadi itu kamu ngelamun tahu!"

" Ah iya, sorry. Tadi kau Tanya soal apa?"

"Aku Tanya, kau ini apa ganti parfum lagi?"

"Eh, parfum?"

"Iya bau blazermu lain tahu dengan bau parfummu yang biasa."

"Oh itu. Alasan nya gampang, karena blazer ini bukan punya aku."

"Eh, kok bisa?"

"Itu karena aku lupa bawa blazer. Dan aku minjam blazer ini dari Sai, karena hari ini dia diutus buat pameran lukisan lagi dan katanya dia nggak perlu blazer ini. Puas?"

"Jadi dari Sai yah? Perhatian sekali."

Aku lihat Sakura menggerakkan alisnya dengan suara berusaha menggodaku.

"Memangnya kenapa sih? Setahuku Sai itu naksir sama kamu iya kan?"

"Mana mungkin. Sakura-hime ini hanya untuk Sasuke Uchiha seorang…."

"Ikh.. narsis. Kau itu hime dari mana hah? Lagipula kau yakin apa kalau Sasuke itu suka padamu?"

"He..he tunggu saja tanggal mainnya. Lagipula sebenarnya Sai itu-"

"Ehem! Ehem! Selamat pagi murid-murid!"

Pendengaranku terbagi antara perkataan Sakura dan suara deheman berat yang membahana di kelas. Tentu saja perhatianku tertuju pada asal deheman berat tadi, yang tak lain tak bukan adalah, Ibiki-sensei sendiri. Masa bodoh lah dengan perkataan Sakura, aku nggak mau kena detensi hanya karena tidak memperhatikan guru sangar itu.

"Sekarang ketua kelas, silahkan disiapkan dulu."

Ketua kelas kami, Neji segera menyiapkan kelas dan pelajaran paling membosankan pun segera dimulai….

o0o0o0o0o0o0o0

Skip Time…..

NORMAL POV

'TING TONG TING TONG…..'

Bel istirahat telah berbunyi.

Sebagian besar populasi KHS pun berbondong-bondong keluar dari kelas masing-masing.

Sebagian kecil lainnya melakukan hal lain.

Seperti dua murid perempuan di kelas XI-B yang tetap duduk di kursinya masing-masing.

Dua orang siswi itu masing masing berambut soft blonde sedangkan yang satunya berambut light pink.

"Sakura boleh tidak aku tanya sesuatu?"

Gadis yang berambut soft blonde bertanya pada gadis berambut light pink disampingnya

"Apaan sih Ino? Tanya ajah langsung. Kayanya serius amat."

"Er… kau tahu tidak siapa siswi KHS yang rambutnya pirang terus dikuncir empat?"

"Oh.. cewek yang sekarang dekat dengan Shikamaru itu yah?"

Wajah sang gadis yang bernama Ino pun sekilas terlihat kaget.

"Ka..kau tahu?"

"Ya iyalah! Setiap hari aku lihat gadis itu pulang bareng Shikamaru kok."

Sekarang wajah Ino menampakkan gurat kekecewaan yang jelas.

"Ja..jadi mereka pacaran yah?"

"Entahlah. Tapi kaya' nya sih begitu. Memangnya kenapa?"

"Tidak apa-apa kok. Jadi, siapa gadis itu?"

"Dia Temari-senpai."

"Se..senpai?"

"Iya. Dia setahun diatas kita. Kelasnya kalau tidak salah kelas XII-A."

"Oh. Kalau begitu kita ke kantin ajah yuk?"

"Eh?"

"Ayo!"

Sakura belum sempat berkata apapun saat Ino sudah menariknya (baca: menyeretnya) keluar kelas. Gadis berambut pink itu benar-benar heran dengan tingkah teman blonde nya yang aneh sekali hari ini.

O0o0o0o0o0o0o0

INO POV

Jadi Shikamaru tidak pernah lagi pulang bersamaku karena gadis itu?

Apa pula yang membuat cewek itu tertarik pada Shikamaru yang notabene adik kelasnya?

Dan yang paling penting…

Apa yang membuat Shikamaru tertarik padanya?

Apa Shikamaru tidak pernah mengetahui sinyal-sinyal yang kuberikan kepadanya?

Ugh…. Shikamaru, Shikamaru, dan Shikamaru. Kenapa dia tak bisa hilang dari pikiranku? Dia kelihatan bahagia dengan gadis itu. Tapi kenapa aku tak bisa merelakannya? Bukannya kita akan bahagia bila sahabat kita bahagia?

AARGHHHH!

Dan Kami-sama, mengapa antrian ini lama sekali jalannya?

"Ah, Chiyo baa-san. Tambah lagi dong ramennya!"

"Tidak bisa Naruto! Porsinya memang sebegitu."

"Ah… Chiyo baa-san pelit!"

"Sudahlah Naruto ambil nampanmu dan biarkan yang lain lewat!"

"IYA! CEPATLAH NARUTO!"

"Iya, iya kau jangan berteriak di telingaku seperti itu Kiba! Hinata-chan bela aku dong!"

"I..I-Iya, Kiba-kun ja..jangan berteriak pa..pada Na-Naruto-kun."

Ya ampun Kami-sama, perutku sudah keroncongan seperti ini, dan bocah ramen itu masih sibuk berdebat tentang porsi ramennya. Aduh andai aku bisa menggunakan mantera sihir seperti di novel itu, Mantera Pembungkam mungkin akan berguna untuk Naruto saat ini.

Ah… akhirnya antriannya jalan!

Sekarang giliranku.

"Selamat siang Chiyo baa-san!"

Chiyo baa-san adalah ibu kantin kami di KHS. Tapi biasanya dia juga dibantu Ayame-san, asistennya.

"Selamat siang gadis manis. Kau mau apa untuk makan siang kali ini?"

"He..he.. yang biasa saja Chiyo baa-san. Tapi kali ini tambahkan sup asparagus dan susunya ganti jus jeruk."

"Baiklah ini dia. Silahkan angkat nampanmu Ino-chan."

"Baik. Terima kasih Chiyo baa-san."

Huft.. selesai juga antrinya. Sekarang tinggal cari tempat duduk. Ngomong-ngomong Forehead dimana sih? Habis ngantri langsung main tinggal.

"Ino! Disini!"

Ah, itu dia. Ada Tenten dan Shion juga rupanya.

Aku sudah akan bergegas menuju meja Sakura, kalau saja sudut mataku tidak menangkap adegan roman picisan di meja sebelah timur. Coba tebak, seorang gadis pirang berkuncir empat sedang mencoba menyuapkan takoyakinya ke –seseorang yang sepertinya- kekasihnya. Seorang cowok berambut nanas dengan tampang malas hidup.

Well, untuk sepersekian detik, mataku fokus pada adegan roman picisan itu bukan pada jalanku. Jadi salahkan takdir kalau ternyata salah satu tali sepatuku lepas dan aku tersandung olehnya. Sangat tidak elit kan?

Tapi itulah takdir. Aku merasakan badanku limbung. Hampir saja aku jatuh mencium lantai dengan tidak elitnya. Tapi keseimbangan masih bisa kupertahankan. Aku melirik pada nampan ku dan mendapati mangkuk nasi, lauk pauk dan sup asparagus ku masih utuh walau posisinya sudah tak karuan. Tapi ada satu hal yang terlewat, ternyata gelas jus jerukku sudah tergeletak diatas nampan dan isinya telah tandas semua. Pemandangan berikutnya yang kulihat adalah, seorang cowok berambut merah bata dengan mata jade berkulit putih dengan tattoo kanji didahinya.

Sabaku Gaara.

Basah kuyup.

Yah, kau tak salah dengar. Aku bisa melihat tetesan air di pelipis dan rambut merah batanya. Air yang mengalir di blazernya sudah menembus sampai kemejanya. Dan air itu tentu saja, Jus Jeruk ku tersayang. Inilah akhir hayat Ino Yamanaka. Mati ditangan pemuda tampan psikopat.

Aku bisa melihat Sang Sabaku bangkit dia mendekat kearahku. Aku mundur, dia maju. Sampai punggungku menyentuh dinding. Cowok bermata emerald itu terus mendekat hingga jarak tubuh kami bisa diukur per inchi. Aku merasakan dia merundukkan wajahnya dan berbisik di telingaku. Suaranya dalam, dingin, datar, dan err.. menggoda.

"Jadi… sekalian saja kita basah-basahan…."

Dan tebak lagi, aku melihat dia mengeluarkan segelas cairan berwarna merah dalam gelas kaca yang dia sembunyikan di balik punggungnya. Dan selanjutnya dia menumpahkan cairan asing itu di atas KEPALAKU. Aku bisa merasakan cairan itu mengalir disudut bibirku. Jus Strawberry.

Bisa kurasakan pandangan mata orang-orang di kantin itu. Ada yang membelalak kaget atau menyeringai senang.

Mungkin aku sudah akan memaki habis-habisan cowok didepanku ini, kalau saja sudut mataku tidak menangkap gerakan sosok berambut nanas yang berjalan kearahku. Ugh…. Daripada masalahnya tambah panjang mending aku pergi.

Dan Ino Yamanaka selalu konsisten dengan kata-katanya.

Aku pergi dari kantin itu.

O0o0o0o0o0o0o0

NORMAL POV

Ino Yamanaka sedang menunggu bus di depan halte sekolahnya. Pulang sekolah adalah waktu terbaiknya sejauh ini. Cewek blonde ini masih bertanya-tanya dosa apa gerangan yang dia perbuat hingga hari ini bisa sial begini.

Dan gadis Yamanaka itu masih terus merutuki diri, sampai sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti tepat didepan matanya. Dan tepat saat si pengemudi membuka jendelanya, Ino langsung mengenalinya. Rambut merah bata, mata jade, tattoo kanji di dahi, salah satu orang yang ingin sekali Ino hajar saat ini juga.

"Simpan tenagamu, ada sesuatu yang ingin kubicarakan."

Dan pemuda Sabaku itu membuka pintu mobilnya.

TO BE CONTINUE…..

WAW… Akhirnya aku putuskan fic ini jadi GaaraxIno!

Walaupun nggak murni sama Gaara ajah kayaknya *digampar*

I LIKE CRACK PAIRING