Disclaimer: Naruto sampe sekarang teteup punyanya Bang Masashi Kishimoto euy…..

A/N: Akhirnya apdet juga. Nih Chap 3 nya ^_^. And thank's a lot buat yang udah review Chap 1 dan 2 kemarin T.T..

INO POV

Maunya cowok ini apa sih? Tadi dikantin dia udah bikin seragamku basah kuyup begini, yah…. Dia juga basah kuyup sih. Tapi kan itu aku nggak sengaja. Dan yang kedua dia udah bikin aku jadi tontonan orang-orang sekantin, malu banget rasanya!

Oh iya aku belum cerita kan soal cowok menyebalkan ini?

Baiklah, dari yang kutahu, namanya Sabaku Gaara. Dari kelas XI-A. Sekarang dia menduduki peringkat 2 umum se-KHS. Yah, kalian nggak salah dengar. Memang peringkat 2 di KHS selalu diduduki oleh dua orang, sebabnya aku juga nggak tahu. Mungkin karena nilai mereka sama. Di sekolah dia juga popular bersama teman sekelas nya, cowok rambut pantat ayam incerannya Sakura, si Sasuke Uchiha. Mungkin dia juga termasuk kalangan siswa elit. Lihat saja mobil sport yang selalu dia bawa, padahal aku berharap mobil ini cuman mobil rental lho, hihihi….

Ok kembali kecerita. Kebanyakan junior pada takut sama dia, katanya dia itu selalu membawa aura-aura membunuh! Beh.. lebay banget. Emang sih dia dingin, jarang ngomong dan hampir nggak pernah senyum, tapi sampai membunuh? Nosense! Kesimpulannya aku nggak takut sama dia!

Dan karena aku nggak takut, aku putuskan untuk ikut masuk dalam mobilnya. Toh, dia bilang dia cuma mau bicara. Mungkin juga dia mau minta maaf atas insiden di kantin tadi.

0o0o0o0o0o0o0o

NORMAL POV

Ino pun memasuki mobil sport hitam didepannya dan cowok berambut merah itu segera menutup pintu mobilnya dan mulai menstarter mesinnya.

"Kita mau kemana hah?"

Ino membuka percakapan duluan.

"Tak usah banyak tanya. Aku mau mencari tempat yang nyaman untuk berbicara."

Dan perjalanan itupun diisi dengan keheningan dari kedua belah pihak.

'Huh… dasar sok cool!' gerutu Ino dalam hati.

0o0o0o0o0o0o0o

Setelah perjalanan selama 15 menit, mereka sampai ke sebuah kafe kecil di pusat kota.

Blue Bird's Café.

Ino langsung menyukai café itu dari pertama memasukinya. Café itu didesain simpel tapi rapi dan didominasi oleh bahan kayu berplitur yang membuat café ini terkesan santai dan hangat. Pengunjungnya juga tidak terlalu ramai, memberikan kesan tenang.

Ino dan Gaara pun mengambil tempat duduk disudut café, didekat jendela.

"Selamat siang, tuan dan nona. Anda mau pesan apa?"

Seorang pelayan wanita berwajah ramah datang menanyakan pesanan mereka. Di papan namanya tertulis 'AYAME'.

"Jus Strawberry dan beef burger porsi sedang saja."

Gaara dengan cepat menjawab pertanyaan itu tanpa member Ino kesempatan.

"Baiklah pesanan anda akan datang dalam 10 menit!"

Pelayan itu pun pergi. Ino mendengus kesal, dia tidak begitu menyukai jus strawberry.

"Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?"

Ino kembali membuka percakapan. Dia hanya punya waktu setengah jam lagi, kalau tidak ayahnya bisa memarahinya habis-habisan karena pulang terlambat.

"Tunggu sampai pesanannya datang."

'Dasar cowok menyebalkan!' inner Ino kembali berteriak frustasi. Tapi untung saja pesanan akhirnya datang. Kali ini Ino kembali menarik nafas dan mengajukan pertanyaan yang sama.

"...?" Ino memberikan penekanan di setiap kata-katanya, pertanda ia sudah sangat kesal.

"Ini soal Temari dan pemuda berambut nanas itu." Gaara menjawab seperti biasanya. Dingin dan datar.

"Shikamaru maksudmu?"

"Hn. Siapa lagi."

"Ada apa memangnya? Kau juga naksir sama Temari-senpai?"

"Dia itu kakak ku bodoh."

"APA!"

Ino pun memperhatikan ulang pemuda didepannya itu. Dia tidak mirip sama sekali dengan Temari-senpai-nya.

"Berhenti memandangku seperti itu."

"So..sorry. Ok, to the point saja. Apa maksudmu?"

"Aku ingin kau ikut membantu menjalankan rencana ku."

"Rencana? Rencana apa?"

"Rencana untuk memisahkan mereka berdua."

"Hah!"

Ino kembali memandang pemuda di depannya.

"Kenapa?"

"Aku tak sudi kakak ku menjalin hubungan dengan pemuda urakan seperti dia."

"Urakan? Siapa yang kau sebut urakan?"

"Lupakan saja. Kau terima atau tidak?"

"Hei! Apa maksudmu? Aku tak mau menghancurkan hubungan sahabatku sendiri!"

"Jangan munafik. Aku tahu kau juga menyukai cowok nanas itu."

Dan Ino bisa merasakan hatinya mencelos. Dia memang munafik. Dia memang menyukai Shikamaru. Tapi….

"Ba..bag..bagaimana kau…"

Ino mengacungkan jari telunjuknya ke wajah Gaara. Dan ia dengan cepat memotong kalimatnya.

"Kau pikir aku tidak melihatnya? Di kantin tadi, yang menyebabkan kau tersandung, karena memperhatikan kemesraan mereka berdua kan? Itu sudah memperjelas semuanya."

Kali ini Ino terdiam. Dia bisa merasakan wajahnya memanas karena malu. Yah, kemesraan mereka berdua. Ino memang sakit hati saat melihatnya. Tapi….

"Jadi kau mau ikut atau tidak?"

Terjadi pergulatan batin dalam diri Ino. Sebagian hatinya ingin menolak. Sebagai sahabat, dia harusnya bahagia jika sahabatnya bahagia kan? Tapi sebagian hatinya ingin menerima. Cinta itu harus diperjuangkan kan?

Kata-kata itu saling mempengaruhi Ino. Andai saja ini bukan tempat umum, mungkin dia sudah berteriak frustasi.

Tapi akhirnya ada juga sisi hatinya yang mendominasi. Walau itu adalah sisi yang tidak baik.

"Hmmm…. Ya. Aku menerimanya."

Ino menarik nafas sambil memejamkan matanya. Berusaha untuk tenang. Dan saat ia kambali membuka mata, dia bisa melihat sang Sabaku tersenyum tipis.

"Jadi, apa rencana pertamamu?"

Gaara berdehem untuk membersihkan tenggorokannya.

"Pertama-tama, aku ingin kita berdua pura-pura berpacaran."

"Apa? Kenapa harus begitu?"

"Karena dengan begitu, akan mengurangi kecurigaan mereka. Dan aku lebih mudah membelamu jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan."

Ino kembali terdiam.

"Baiklah aku terima itu. Sekarang apa rencana selanjutnya?"

"Sekarang berikan nomer handphone Shikamaru."

Ino mengeluarkan ponselnya dan mendiktekan nomer yang dimaksud. Setelah itu merekapun saling bertukaran nomer handphone.

"Untuk sementara ini, kita bekerja sendiri-sendiri. Sebisa mungkin pantau kehadiran kakak ku di rumah Shikamaru. Jika ia datang, laporkan kepadaku."

"Baiklah."

"Sekarang ayo, aku antar kau pulang ."

Dan mereka berdua pun meninggalkan café itu.

0o0o0o0o0o0o0o0

INO POV

Hari ini benar-benar hari yang melelahkan. Aku langsung membanting badanku ke ranjang Queen Size ku begitu tiba di rumah. Dan soal rencanaku dengan Gaara, aku masih belum bisa memastikan apakah aku telah mangambil keputusan yang benar. Memang benar aku mencintai Shikamaru, tapi rencana untuk memisahkan Shikamaru dan Temari-senpai itu kedengaran sangat kejam. Sampai sekarang aku juga tidak tahu apa yang membuat Gaara tidak setuju dengan hubungan kakaknya itu. Memang sih, dari luar Shikamaru itu kelihatan urakan. Tapi sebagai orang yang telah bersahabat bertehun-tahun dengannya, aku tahu Shikamaru itu baik hati, peduli, dan bertanggung jawab.

Tapi aku telah memutuskan untuk ikut dalam rencana ini.

Dan Ino Yamanaka konsisten dengan kata-katanya.

Ah.. aku lupa harus menjaga toko bunga!

Ayah lama sekali sih pulangnya. Masa' aku harus sendirian lagi dirumah? Huft..

0o0o0o0o0o0o0o

'KRINGG….KRINGG….'

Ah pelanggan pertama nih!

"Selamat siang tuan ada yang bisa saya bantu? Shi…Shika? Apa yang kau lakukan disini?"

Yah, orang yang paling tidak ingin kutemui saat ini hadir dihadapanku. Betapa beruntungnya diriku.

"Hai Ino. Aku mau beli bunga untuk seorang gadis, merepotkan."

"Gadis yah? Apa dia Temari-senpai?"

Aku menggigit bibir bawahku. Lagi-lagi ada rasa sesak di dadaku melihat Shikamaru The King of Troublesome ini mau repot membelikan bunga untuk seorang gadis. Dan gadis itu tentu bukan aku. Aku kembali memperhatikan wajah Shikamaru, bisa kulihat ada rona merah samar-samar dipipinya. Temari-senpai memang hebat, dia gadis pertama yang bisa membuat seorang Shikamaru Nara merona. Bukan aku.

"I..Iya"

Aku tersenyum padanya. Walau hatiku kembali terasa sakit mendengar pengakuannya. Dan lagi-lagi sisi jahat dari hatiku kembali memdominasi. Inilah saat untuk menjalankan aksi pertama dari rencanaku.

"Baiklah yang lagi jatuh cinta, akan kucarikan bunga yang cocok untuk kekasihmu!"

Lagi-lagi aku senyum terpaksa. Kuedarkan pandanganku ke sekeliling toko bunga, mencari bunga yang 'pantas'. Dan aku menemukannya. Orange Lily.

"Ini dia Shika! Kau mau berapa tangkai?"

"Sepertinya bagus. Aku ambil 10."

"Baiklah ini silahkan. Tak usah bayar. Anggap saja hadiah buat sahabatku yang baru saja dapat pacar… he..he.."

"Ya sudah. Terima kasih Ino, aku pergi dulu."

"Iya. Bye!"

Dan Shikamaru pun meninggalkan toko ku. Aksi pertama sudah terlaksana. Tinggal menunggu responnya. Sebaiknya kutelepon Gaara, dia pasti senang mendengar kabar ini.

Tapi… kenapa aku merasa sesuatu yang lain dihatiku? Kenapa ini terasa….

Begitu salah?

Begitu jahat?

Arghhhh! Kenapa aku jadi bimbang begini?

Sepertinya rencana ini akan menjadi sangat kompleks….

~TO BE CONTINUE~

HUWAA! Kok jadi gaje gini? Ino and Gaara kok jadi antagonis abis….

Wah tapi tenang ajah deh mereka nggak beneran jahat kok!

Ino masih bimbang tuh, sedangkan Gaara…..

Nanti pasti tahu sebabnya *digaplok readers*

Ya sudah

REVIEW PLEASE…..