Disclaimer: Naruto hari ini, besok, dan seterusnya *lebay* akan tetap milik Masashi Kishimoto…..

Summary: Berhasilkah rencana Gaara dan Ino dalam memisahkan Shikamaru dan Temari? (author gak pinter bikin summary)

A/N: Wah .. udah lama nggak apdet cerita yg ini! Kasihan readers pada nunggu (readers: narsis abis loe!) yasud, tanpa banyak bacot lagi ini dia Chapter 4! Selamat membaca!

Pagi ini berlangsung seperti biasanya bagi Ino. Bangun tidur, mandi, siap-siap ke sekolah, habis itu sarapan terus berangkat deh. Tapi sepertinya Ino agak cemas hari ini.

Berhasilkah rencananya kemarin?

Apa hubungan 'mereka' akhirnya sedikit merenggang?

Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala Ino. Sejujurnya dia berharap Temari-senpai akan kecewa saja dengan Shikamaru. Dengan begitu rencana memisahkan mereka jadi semakin mudah.

'Apa aku ini terlalu jahat?'

Batin Ino juga terus-menerus bertanya seperti itu. Dia jadi bingung sendiri akan pendiriannya.

"Aku harus tetap menjalankan rencana ini. Aku tak mungkin menarik kata-kata ku kepada Gaara. Ino Yamanaka selalu konsisten dengan kata-katanya."

Gadis Yamanaka itu terus bergumam sendiri sambil sedikit berkonsentrasi pada ikatan tali sepatunya.

"Hah… gara-gara Ayah benar-benar nggak pulang aku harus sendiri lagi deh! Dasar dinas luar kota sialan!"

Ino sekarang sedang mengumpat-ngumpat tidak jelas sambil bersungut-sungut mengambil tas sekolahnya. Dia pun berjalan menuju halaman rumahnya, sambil berjinjit dibalik tembok pembatas antara rumah Keluarga Nara dengan rumah Keluarga Yamanaka. Tepat di halaman rumah Keluarga Nara, Ino melihat seorang pemuda dengan rambut yang dikuncir menyerupai nanas sedang sibuk memanaskan motornya.

"Kok tumben cewek kuncir empat itu nggak ada?"

Ino masih tetap terlihat mengintip-ngintip dibalik tembok besar itu. Berharap menemukan sesosok perempuan blonde dengan gaya rambut yang unik itu. Tapi hasilnya nihil.

Sebenarnya Ino masih akan melanjutkan kegiatan 'observasi' nya kalau saja orang yang diintip nggak buru-buru sadar kalo sedang diintip.

"Ngapain berdiri disitu? Biasanya ada ular yang lewat situ lho…"

Ino yang mendengar kata-kata 'ular' pun segera melupakan misi 'observasinya'. …..

"APA! ULAR! HIYYYY….."

Ino pun keluar dari balik tembok itu dan melirik pada sang Nara muda yang masih asik mengurusi motornya, walau lengkungan di sudut bibirnya tidak dapat disembunyikan.

"Kau? Sejak kapan kau tahu?"

"Sejak kau berjingkat-jingkat mengintipku."

"Tapi bagaimana bisa?"

"Rambutm pirangmu itu terlalu mencolok nona."

"Hah! Kaya' cuman aku saja yang punya rambut pirang.."

Ino kini sudah berada di teras Keluarga Nara dan memperhatikan Nara muda yang menatapnya sambil menaikkan alisnya.

"Maksudmu siapa?"

"Hn. Siapa lagi."

Sebenarnya Ino masih ingin mengeluarkan kata-kata sarkastik nya yang paling pedas, tapi dia teringat sesuatu yang lebih penting untuk ditanyakan. Tentang rencananya kemarin.

"Hmm.. Shika?"

"Hn?"

"Umm… bagaimana kencanmu kemarin dengan Temari-senpai?"

"Kenapa tanya begitu?"

"Aku kan sahabatmu, jadi kau harus cerita padaku!"

"Baiklah-baiklah, semuanya baik-baik saja. Puas?"

"Eh.. tidak ada kejadian yang erm… diluar dugaan gitu?"

"Memangnya kenapa sih?"

"Ano… sebenarnya kemarin aku salah memilihkanmu bunga. Aku langsung saja menyambar Orange Lily karena kukira itu Orange Blossoms. Orange Lily artinya 'Kebencian' , jadi apa Temari-senpai tersinggung?"

'Ayolah bilang iya! Temari-senpai pasti tersinggung! Iya kan? Ayolah.. kumohon' batin Ino terus berharap menunggu jawaban pria berambut nanas dihadapannya.

"Tidak kok."

Jawaban itu meruntuhkan semua harapan seorang Yamanaka Ino.

"Tidak? Lalu apa yang dikatakan Temari-senpai?"

"Tidak ada. Dia Cuma…."

Ino terus menatap Shikamaru yang tiba-tiba memutuskan kata-katanya. Ino dibuat terkejut melihat warna pipi Shikamaru yang telah berubah. Tiba-tiba ada satu titik dihatinya yang mulai terasa nyeri.

"Dia Cuma, apa?"

"Tidak ada! Ayo kuantar kesekolah, hari ini kita berangkat bersama saja."

Sang Nara muda memalingkan wajahnya yang mulai terasa panas karena mengingat kejadian saat dia kencan kemarin. Dengan cepat dia meraih tasnya dan mulai menstater motornya. Dia tidak memperhatikan Yamanaka muda yang masih membeku ditempatnya.

"Ino! Ayo! Nih, pakai helm mu."

Ino yang akhirnya tersadar segera menggelengkan kepalanya pelan. Nyeri di dadanya semakin bertambah saja.

'Wajah Shikamaru bisa sampai semerah itu. Apa yang telah diberikan Temari-senpai kepadanya? Temari-senpai….. kau memang hebat….'

"Ino? Ayo cepat pakai helm mu!"

"Err… aku nggak bisa Shika. Hari ini aku mau pergi bareng Sakura, dia janji mau menjemputku. Memangnya Temari-senpai kemana?"

"Katanya Temari ada urusan diluar sekolah jadi hari ini dia tidak masuk. Jadi, apa kau yakin tidak mau kuantar?"

"Tidak. Aku tidak enak karena sudah janji sama Sakura."

"Hn. Baiklah, kalau begitu aku berangkat duluan. Jaa…."

"Iya. Jaa!"

Dan motor besar kepunyaan Shikamaru pun dengan cepat hilang dari pandangan Ino.

INO POV

Aku masih tidak percaya dengan ini. Rencana pertamaku gagal total!

Argghhh…. Memisahkan mereka memang tak semudah yang kubayangkan.

Dan satu lagi….

Kenapa aku bodoh sekali! Harusnya tawaran Shikamaru tadi kuterima saja…. Sekarang aku jadi bingung harus naik apa kesekolah? Harusnya aku tidak emosional begitu. Soal Sakura yang mau menjemputku, itu cuman bohong belaka. Katanya hari ini Si Jidat itu bakalan dijemput sama pacar barunya, Uchiha Sasuke. Hebat juga dia itu, bisa menggaet salah satu pangeran sekolah. Pasti sebentar bakal pamer lagi.

Tidak seperti aku. Yang mesti berjuang demi cinta.

Huft….. masa aku harus naik bus lagi?

0o0o0o0o

NORMAL POV

Gadis Yamanaka itu akhirnya memutuskan untuk sekali lagi menaiki bus. Memang pengalaman terakhirnya agak tidak menyenangkan, tapi apa boleh buat tidak ada pilihan lain kan?

Sebenarnya Ino sudah ingin melangkahkan kakinya keluar pagar menuju halte bus, kalau saja sebuah mobil sport berwarna hitam tidak tiba-tiba parkir di depan rumahnya.

'Kaya'nya nggak asing deh sama mobil ini. Pernah lihat dimana yah?' Ino kembali membatin karena mobil aneh ini tiba-tiba berhenti didepan rumahnya.

Ino mencoba melihat siapa pengemudinya, sialnya dia tak bisa karena kacanya terlalu gelap. Dan detik berikutnya Ino lagi-lagi harus terkejut saat sang pengemudi menurunkan kaca jendelanya.

Rambut merah bata. Mata emerald. Tattoo kanji 'ai' didahinya.

Sabaku. Gaara.

"Ayo cepat naik. Aku tidak mau terlambat gara-gara kau."

Ino menelan ludahnya mendengar nada tajam dan dingin dari pemuda Sabaku itu. Dengan bergegas Ino segera membuka pintu disamping pengemudi. Dan semenit kemudian mobil sport berwarna hitam itu pun telah meluncur menuju Konoha High School.

Perjalanan itu diisi dengan diam. Nyaman-nyaman saja bagi Gaara yang memang malas membuang kata-katanya dengan percuma, namun tentu tidak bagi Ino yang sangat tidak nyaman dengan kondisi ini. Gadis bermata baby blue itu akhirnya membuka percakapan duluan.

"Mmm… Gaara?"

"Hn?"

Ino bersukur setidaknya 'Robot' disampingnya ini masih merespon.

"Semalam erm… aku sudah bilang kan kalau semalam kakakmu dan Shikamaru pergi berdua?"

"Hn. Lalu?"

"Aku membuat aksi kecil dengan memberikan bunga yang bermakna jelek kepada Shikamaru buat kakakmu, dengan harapan kakakmu akan tersinggung dan mulai menjauhi Shikamaru. Tapi tadi saat kutanya Shikamaru, dia bilang kakakmu tidak marah atau tersinggung."

"Intinya?"

"Hei! Dengar kan dulu jangan langsung memotong seenaknya!"

"Intinya, rencanamu gagal kan?"

"H-hei! Jangan seenaknya yah mengatai orang! Lagipula tadi kubilang itu hanya aksi kecil kan!"

"Hn. Terserah. Wajarkan kalau kau yang buat selalu gagal."

"eh..eh.. kau sendiri belum menjalankan rencana apapun kan?"

"Lihat saja nanti."

Setelah itu Ino berhenti berbicara. Bukan hanya karena dia kehabisan kata-kata tapi gerbang besar KHS jugatelah terlihat. Mereka telah sampai.

"Masih ingat yang kubilang kemarin soal status kita?"

"Tentu saja lah. Kita akan berpura-pura berpacaran. Tapi asal kau jangan sampai jatuh cinta sungguhan kepadaku yah…"

Ino tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya. Setelah itu dia segera turun dari mobil tanpa memerdulikan ekspresi sang Sabaku.

'Dia pasti akan mengejekku lagi' pikir Ino sambil menghirup dalam-dalam udara segar diluar mobil. Tanpa mengetahui bahwa beberapa detik tadi ada lengkungan kecil sangat jarang terbentuk di sudut bibir Sabaku Gaara. Karena dirinya.

Setelah memarkirkan mobilnya Gaara kembali menghampiri Ino. Untuk kesekian kalinya Ino kembali dibuat terkejut saat tangan kekar Sabaku muda itu tiba-tiba melingkari pinggang rampingnya dan mengajaknya berjalan meninggalkan tempat parkir itu. Rona merah kini terlihat jelas di pipi putih sang gadis Yamanaka.

"Apa yang kau lakukan?"

Ino berbisik pelan melihat dengan ngeri pandangan orang-orang di sepanjang koridor yang ia dan Gaara lewati.

"Meyakinkan orang akan status kita." Jawab Gaara masih dengan nada monotonnya.

"Harusnya kau bisa berakting sedikit lebih natural Yamanaka."

TING!

Bel di kepala Ino berbunyi. Berani-beraninya pemuda Sabaku ini mengatakan aktingnya payah!

"Baiklah kalau itu maumu…."

Semangat masa muda ala Lee kini berkobar dalam diri Ino. Dengan sigap Ino juga melingkarkan tangannya dipinggang Gaara. Dan berjalan dengan semangat sambil melemparkan senyum terbaiknya kepada orang-orang yang masih memandangi mereka dengan beragam jenis tatapan.

Tapi Ino tidak peduli. Kata-kata meremehkan dari Gaara tadi rupanya berpengaruh besar.

Sekarang Ino pun akhirnya sampai didepan kelasnya, kelas XI-B.

"Heh! Kau lihat? Aktingku tidak payah kan? Mereka semua terpesona!"

"Jangan terlalu GR Yamanaka."

Ino yang mulai menyadari pandangan teman-teman sekelasnya, segera melepaskan tangannya yang masih melingkari pinggang Gaara. Tapi Ino melihat masih ada tangan yang belum juga membebaskan pinggangnya….

"Ehem.. Gaara?"

"Hn. Maaf. Temui aku di kantin saat istirahat."

"Baiklah…"

'CUP'

Yamanaka Ino membeku. Hal itu berlangsung sangat cepat. Yang Ino ingat hanyalah ada sesuatu yang lembut yang menyapu pelan bibir Ino. Saat dia tersadar, pemuda Sabaku itu telah lenyap dari pandangannya. Pipi Ino kini terasa sangat panas. Ino yakin pasti warnanya telah menyaingi tomat-tomat di green house sekolah.

'Bag-bagaimana bisa? D-dia?'

Ino yang masih shock atas kejadian tadi segera masuk kedalam kelasnya dan disambut dengan tatapan-tatapan horror dari teman-temannya. Bahkan dia bisa melihat Sakura yang menaruh tangan didepan mulutnya. Ciri khasnya yang menandakan kalau ia sedang sangat kaget.

'Oh… Kami-sama…'

Ino menggerutu pelan dalam hati.

Sepertinya ini akan menjadi satu lagi hari yang panjang bagi Ino Yamanaka…

0o0o0o0o

*STIIL TO BE CONTINUE*

Hai.. gimana pendapatnya? Tambah gajekah? Tambah abalkah? Saya tunggu tanggapannya di REVIEW! YEAH RnR PLEASE…