Genre : Romance
Pair : SasuHina
Warning : AU, TYPO(S),dll
.
.
Malam di jalanan kota Tokyo yang nampak sepi, terlihat kendaraan mulai jarang berlalu-lalang, salah satu kendaraan yang masih nampak melaju di jalan besar itu adalah sedan hitam yang dikemudikan perempuan berambut coklat panjang yang kini nampak tenggelam dalam atmosfer keheningan malam, mata lavendernya menatap jauh kedepan, seakan berkonsentrasi dalam kegiatan mengemudi, sedan hitam yang ia bawa melaju dengan kecepatan sedang, mengarungi sepinya malam.
Duduk tenang dengan pikiran melayang, sebuah gambaran yang pas tentang kondisi gadis pemilik mata lavender itu. Sekilas iris lavendernya melirik pemuda berseragam SMA di sampingnya.
Pemuda tampan bermata onyx yang kini terdiam dengan ekspresi datar.
"Kau masih marah?" Gadis cantik itu mulai menyibak atmosfer keheningan yang mendominasi, berusaha mencairkan suasana dengan ucapan. Namun, pemuda di sampingnya hanya diam, mata onyxnya justru sengaja dialihkan untuk menatap kosong kearah luar kaca mobil, menatap hampa jalanan kota yang nampak sepi, tak ada minat sedikitpun untuk menikmati panorama indah kota Tokyo dimalam hari.
"Sasuke," gadis itu memanggil dengan suara lirih, ia mulai tak fokus dengan kegiatan mengemudinya.
Pikirannya seakan di terpusat pada pemuda di sebelahnya.
Pemuda tampan itu tetap tak menyahut, hanya diam seribu bahasa.
"Sasuke..."
Hanya respon diam yang didapat gadis bermata lavender itu, ia mulai merasakan adanya anomali pada pemuda tampan itu.
"Kenapa kau begitu marah?" tanya Hinata dengan nada lelah.
Sasuke memutar pandangannya, menangkap sosok Hinata yang kini bermuka masam. "Kau tau, berapa lama aku menunggumu tadi? Berjam-jam. Kau selalu begitu." Pemuda berambut raven itu pada akhirnya membuka suara, meski nada dingin terselip dalam tiap katanya.
"Sasuke... Tadi ada rapat mendadak di kantor, aku tak bisa menggunakan ponsel untuk mengabarimu," ucap Hinata. Sasuke hanya mendengus kesal.
"Kau bisa memberiku kabar sebelum rapat dimulai kan?"
"Aku tidak sempat, rapatnya begitu mendadak."
"Che! Alasanmu saja."
"Ok, ok. Aku minta maaf," ucap Hinata tak tulus.
Hening, tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibir Sasuke.
"Aku minta maaf, Sasuke," ulangnya, masih dengan berat hati, Hinata merasa bahwa kesalahannya kecil, tak sepantasnya Sasuke bersikap dingin padanya.
Sasuke acuh, ia justru menyibukkan diri dengan asyik bermain game di ponselnya.
Hinata mendengus kesal, "aku sedang bicara denganmu, Sasuke."
"Hn."
"Kau ini..." Hinata meraih paksa ponsel di genggaman Sasuke menggunakan tangan kiri, ia benar-benar kesal dengan kelakuan Sasuke saat ini.
"Apa, hah? Kembalikan." Remaja tampan itu merebut kembali ponselnya dari tangan Hinata.
"Jangan seperti anak kecil, Sasuke!" ucap Hinata dengan nada lelah.
"Kau selalu menganggapku anak kecil, Hinata!" ucap Sasuke dengan nada meninggi. Remaja bermata onyx ini memang begitu muak jika selalu mendapat cap sebagai anak kecil. 16 tahun tak bisa dikatagorikan sebagai anak kecil, bukan? Yah, meskipun tak dapat disebut dewasa juga.
"Bukan, bukan begitu maksudku-"
"Ya, aku sadar kau jauh lebih tua dariku, tapi bisakah kau tak selalu menganggapku sebagai anak-anak?" Nada kesal terbias dari kata yang terlontar dari bibir Sasuke, sukses mengundang kepenatan di benak Hinata. Gadis itu menghentikan laju mobil sedannya, memarkirkannya sembarangan di tepian jalan.
"Lalu? Kau mau bagaimana?"
Sasuke menatap dengan raut malas.
"Perlakukan aku seperti kau memperlakukan dia?" Mata onyx menatap kosong iris lavender di hadapannya, tak ada gejolak seperti biasanya.
"Ha? Dia siapa yang kau maksud?" tanya Hinata heran, kedua alisnya terlihat menaut tanda tak mengerti.
"Tunanganmu!"
DEG!
Hinata terdiam.
Raut ketarkejutan mendominasi paras cantiknya. Esensi hidup memang terkadang sangat bertolak belakang dengan harapan, disaat gadis itu mulai memiliki perasaan lebih pada pada seseorang, namun pada kenyataannya kini ia telah berstatus menjadi tunangan orang lain.
Bukankah itu sangat ironis?
Sejenak gadis itu menghela nafas panjang, memenuhi ruang paru-parunya yang terasa sesak. Perlahan jemarinya mampir pada hamparan pipi Sasuke, membelainya penuh afeksi. "Bahkan aku lebih menyayangimu, Sasuke." Mata lavender menatap hangat sosok remaja 16 tahun yang itu, mata yang menyiratkan tatapan penuh kasih, seolah meyakinkan pemuda itu atas perasaan sang pemilik.
"Hanya sekedar sayang? Kau tidak mencintaiku-"
"Sssttt." Hinata menempelkan telunjuk kanannya di bibir Sasuke. "Jangan pernah katakan itu, karena aku sangat mencintaimu."
"Che!" Sasuke tersenyum penuh arti, raut wajahnya nampak solid, sebuah kondisi yang bertentangan dengan hatinya yang galau.
"Apa yang lucu?" Hinata menatap heran wajah Sasuke yang tiba-tiba terhias senyum seringaian yang mencurigakan.
"Tak ada," jawabnya singkat.
"Sasuke?"
"Hn."
"Apa maksud seringaianmu itu?"
"Pasti tak ada orang yang menyangka bahwa sang nona Hyuuga yang anggun dan terhormat ternyata seorang yang brengsek," sindiran pedas teruntai begitu saja.
Hinata memicingkan mata, terbesit rasa kesal dibenaknya, bisa-bisanya bocah raven itu memakinya brengsek? "Apa maksudmu dengan brengsek?"
"Kau mendua." "Jangan pernah menganggapku brengsek! Kau tau jelas bahwa aku tak pernah mencintainya." Percikan raut kesal mengambil tempat di wajahnya.
"Tetap saja kau menghianatinya." timpal Sasuke dingin.
"Tapi, itu maumu kan?" sindir Hinata dengan senyum tipis.
Sasuke membuang muka.
"Che! Kau mencari kambing hitam."
"Ayolah Sasuke, selama ini kau menikmatinya kan?"
"Sebenarnya-" Sasuke menjeda kalimatnya, mata onyxnya menatap kosong iris lavender milik Hinata, menyiratkan sebuah kepedihan batin.
"-Tak seorangpun yang senang jika menjadi orang ketiga."
DEG!
Hinata tercekat.
Ada rasa miris saat mendengar lontaran kata dari Sasuke, kata yang di dengar jelas oleh Hinata itu terselip luka, ucapan terkesan dingin menusuk hingga ulu hatinya, Hinata sadar bahwa semua ini kesalahannya, sumua tak akan jadi serumit ini jika ia tak terjerat pesona Sasuke, semua akan dalam kondisi baik jika ia tetap setia pada sang tunangan.
Namun, bukankah cinta tak dapat disalahkan?
"Lupakan! Itu sudah menjadi pilihanku." Jemari Sasuke membelai lembut pipi porselen Hinata, membuatnya merasa nyaman.
Gadis itu memejamkan mata sejenak, menikmati sentuhan lembut jemari Sasuke yang menyentuh hamparan pipinya.
"Aku akan terus mencari alasan untuk membatalkan pertunanganku dengannya."
Seberkas senyum tipis mengembang di bibir Sasuke, entah ada sihir ada di ucapan hinata hingga Sasuke kini merasakan hembusan angin ketenangan di batinnya.
.
oOo
.
"Dari mana saja kau?" Itachi berdiri tepat di bibir pintu, kedua tangannya dilipat di depan dada dengan paras yang terlihat kusut, sebuah cerminan perasaan sang Uchiha sulung kini dilanda kemarahan.
"Hanya jalan-jalan," jawab Sasuke singkat.
"Dengan Hinata lagi?" tanya Itachi dengan nada meninggi. Sasuke dapat menangkap raut amarah yang tergambar samar di wajah Itachi.
"Hn."
Itachi menghela napas lelah, "Sudah berapa kali kubilang, jangan berhubungan lagi dengan Hinata."
"Mengapa kau melarangku?" tanya Sasuke datar dengan tetap mempertahankan raut solid pada wajahnya.
"kau tak sadar berapa usiamu, hah?"
"Cinta tak mengenal usia."
"Tapi Hinata sudah bertunangan."
"Lalu?" Sasuke menaikkan sebelah alisnya.
"Kenapa kau seolah tak peduli dengan statusmu, Sasuke? Kau menjadi selingkuhan, betapa bodohnya kau ini, kau masih muda, masa depanmu masih panjang," Itachi berujar frustasi, apa yang sebenarnya terjadi pada adiknya hingga ia seolah tak peduli semua hal kecuali sang gadis Hyuuga itu?
Itachi sadar, usia Sasuke adalah masa pencarian jati diri, namun jika bocah itu nekat menjalin hubungan dengan gadis yang usianya delapan tahun diatasnya, ia merasa itu bukanlah hal wajar, ditambah lagi, gadis itu sudah resmi menjadi tunangan orang lain.
Bukankah itu sangat ironis?
"Sudahlah, aku lelah." Sasuke menerobos pintu yang terhalang tubuh Itachi, melewati tanpa ada rasa peduli pada Itachi yang berdiri angkuh, merasa malas pada alur pembicaraan yang membuatnya merasakan sesuatu yang tak nyaman dalam dadanya. Sasuke lebih memilih beranjak, berusaha bersikap seapatis mungkin untuk menghadapi Itachi.
"Mau kemana kau?" tanya itachi dengan nada dingin.
"Tidur."
"Cih! Aku belum selesai bicara, Sasuke."
Sasuke menoleh sejenak, mata onyxnya bergulir tanpa minat menatap sepasang onyx kakaknya yang kini berbinar kesal.
"Apa lagi?" tanya Sasuke dengan nada malas.
"Jangan dekati Hinata lagi!"
"Apa hakmu, hah?" Nada suara Sasuke meninggi, raut emosi kental terpampang di paras tampannya.
"Aku berhak karena aku kakakmu!" bentak Itachi lantang, sorot mata penuh emosinya seakan berusaha menjatuhkan nyali sang adik yang keras kepala.
Sasuke kembali menghampiri sang kakak, mata pekatnya seakan menyiratkan berjuta aura murka di dalamnya.
"Tapi kau tak berhak menentukan hidupku!" bantah Sasuke tak kalah lantang.
"Aku dengar berita tentang rencana keluarga Hyuuga yang ingin mempercepat pernikahan Hinata."
DEG!
Sasuke tercekat.
Kontan berbalik menatap Itachi dengan tak percaya.
"Kau bercanda, Itachi." Sasuke tersenyum kecut.
"Kakak! Hentikan!" Sai menuruni tangga rumah dengan langkah setengah berlari, menghampiri kedua saudaranya yang kini sedang dilanda pertikaian.
"Apa maksudmu, Sai?" Itachi mengernyitkan dahi, rasa heran menaungi benaknya, mengapa adiknya itu tiba-tiba menyela percakapannya dengan Sasuke!
"Emh,,," Sai menggigit bibir bawahnya, sejurus kemudian ia menjatuhkan pandangannya pada pualam,"kumohon, jangan cerita yang bukan-bukan pada Sasuke."
Itachi tersenyum penuh arti seraya memberi tepukan ringan pada bahu Sai, "aku tau kau tak ingin melihat Sasuke menderita, tapi menceritakan ini diawal akan lebih baik."
"Tapi-"
"Hey, apa-apaan ini? Ada apa sebenarnya? Itachi, ucapanmu tadi tidak serius kan?" tanya Sasuke dengan berjuta tanya di benaknya.
"Aku serius!" jawab Itachi mantap, terbesit rasa iba di benak Itachi, sungguh tak pernah terlintas dalam pikirannya bahwa kisah cinta pertama sang adik akan setragis ini.
Ironis memang, tapi apakah cinta dapat disalahkan?
Ekspresi keterkejutan tak dapat disembunyikan dari paras Sasuke, remaja tampan itu jelas merasa tak tenang.
"Dari mana kau dengar berita murahan itu?"
"Paman Hiasi sendiri yang mengatakannya, saat aku bertemu dengannya di kantor."
Sasuke terdiam sesaat, hingga akhirnya ia beranjak meninggalkan Itachi dan Sai tanpa sepatah katapun yang ia ucapkan.
Tak dihiraukan Sai yang terus memangil namanya dengan nada cemas.
oOo .
Jemarinya lincah bermain di atas keypad ponsel, menuliskan beberapa pesan singkat yang ia tujukan pada Hinata. Sebisa mungkin ia tak mencemaskan berita pernikahan Hinata, namun semakin ia mencoba tak percaya, justru perasaan cemaslah yang ia dapatkan.
Beberapa pesan telah terkirim namun tak ada satupun balasan.
Sasuke berdecak kesal, jemarinya kembali mengutak-atik ponselnya, berusaha menghubungi Hinata.
'Telepon yang anda tuju sedang tidak aktif.'
"Ck! Sial!" Sasuke melempar ponselnya sembarangan.
"Ada apa sebenarnya dengan gadis itu?" gumamnya pelan, nyaris tak terdengar.
"Sasuke." Sai membuka pintu kamar Sasuke dengan perlahan, matanya menatap ragu pada kakaknya yang kini terlihat berantakan, sekilas mata onyxnya menatap ponsel yang terbelah hancur tergeletak di lantai.
"Sasuke," panggilnya lagi.
"Hn," jawab Sasuke singkat, nada suaranya menjelaskan bahwa ia sangat malas memberikan jawaban.
"Kau baik-baik saja, Sasuke?"
"Sai, berapa kali kubilang, panggil aku kakak." Sasuke berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Kau terlihat buruk, berantakan, dan-"
"Heh, bocah! Jangan urusi masalah orang dewasa."
"Bukankah kau sendiri belum dewasa?" tanya Sai lugu.
Sasuke berdecak kesal, bocah berusia 14 tahun itu memang selalu sukses menyudutkannya dengan kata-kata lugunya.
"Kembali ke kamarmu."
"Tapi-"
"Kembali!"
Sai menjatuhkan pandangannya kebawah, menatap hampa pualam dingin yang samar-samar menampilkan refleksinya, bibir mungil yang mengerucut melambangkan rasa kesal di benaknya, kepedulian tulusnya pada sang kakak ternyata hanya sebuah tindakan sia-sia.
Sai beranjak dari tempatnya, kembali menutup daun pintu, dan mencoba bersikap apatis atas semua yang menimpa Sasuke.
Sasuke memijit pelan pelipisnya, ia kembali menerawang tiap kalimat Itachi, 'apa Hinata benar-benar akan menikah?'
Beribu keraguan menjalar pikirnya.
~TBC~
Huft...
Entah mengapa sekarang jadi agak males masuk FFN.
Banyak silent readers sih, padahal beberapa patah kata buat nge-review aja ud bikin para author semangat update atau publish fic baru.
*Malah curhat*
Yosh. . . minna-san yang baik hati, ane minta review. . .
misalnya reviewnya dikit ya gak saya lanjut chap berikutnya.
Buat apa update kalo peminatnya dikit?
