"You're my best friend"

Hermione berjalan di sepanjang koridor bercat putih tanpa benar-benar memikirkan kemana kakinya membawanya. Ditangan ia menggenggam sebuah kertas dengan huruf-huruf yang tampaknya enggan masuk ke kepalanya, walaupun sudah coba ia baca berkali-kali.

Dan tanpa sengaja Hermione menubruk seseorang.

Kertas yang dibawanya jatuh perlahan ke lantai marmer.

"Hati-hati disana, Hermione," ujar suara seorang wanita.

Hermione membungkuk sesaat untuk mengambil kertasnya dan kemudian menatap si pemilik suara,"Oh, Heather, aku benar-benar minta maaf," ujarnya.

"Tidak apa-apa. Tapi, kau terlihat mengerikan,"

Hermione tidak bisa membawa dirinya untuk menjawab bahwa dia baik-baik saja. Kenyataannya ia jauh dari baik-baik saja.

"Kau terlihat seperti kau tidak tidur berhari-hari," ujar Heather terdengar khawatir,"apa ini tentang Ron?"

Ya.

Hermione ingin menjawab. Ini semua tentang Ron. Berhari-hari ia tidak bisa tidur. Setiap kali ia menutup matanya, mimpi tentang kematian Ron selalu menghampiri.

Hermione tidak menjawab pertanyaan Heather. Tapi, tampaknya Heather sudah berhasil mengetahuinya sendiri. Wanita itu melihat jam tangannya sejenak,"Sudah jam delapan. Kau tidak ada tugas jaga malam, kan?"

"Well, yeah, sebenarnya aku ingin meminta satu tugas jaga malam hari ini,"

"Tidak masuk akal. Ini malam sabtu. Ayo kita pergi ke suatu tempat,"

"Heather, aku tidak-"

"Ambil barang-barangmu dan aku tunggu di lobi depan," Heather tidak memberi kesempatan Hermione untuk berbicara. Wanita itu berjalan melewati Hermione.

Hermione melihat Heather menghilang dibelokan dan mendesah.

Kalaupun aku pergi dengannya, aku pasti tidak akan bisa menghilangkan Ron dari pikiranku.

Hermione berjalan menuju ruangannya. Ruangan itu kecil, berukuran 3x4 meter dengan langit-langit tinggi menjulang dan tembok serta lantai marmer putih. Tapi, ini lah tempat kerjanya jika ia tidak sedang menangani pasien-pasiennya. Tempat inilah rumah keduanya setelah ia lulus dari Hogwarts. Dan ditempat inilah ia mengubur dirinya dengan pekerjaan-pekerjaannya untuk membuat dirinya terlalu sibuk untuk memikirkan Ron.

Kau ini pekerja maniak, Hermione.

Rekan-rekan kerjanya selalu bilang begitu setiap kali Hermione meminta tambahan tugas jaga.

Aku tidak mengerti dirimu.

Dan memang tak ada orang yang benar-benar mengerti Hermione, atau begitulah ia kira. Walaupun dengan hasil yang memuaskan. Pelan tapi pasti, karier Hermione sebagai Penyembuh maju pesat.

Hermione segera mengemasi barang-barangnya. Memasukkan data yang tengah dibacanya kedalam salah satu map di raknya.

Di lobi, Heather sudah menunggunya. Selain Heather ada dua penyembuh lain yang menunggu. Susan Bones dan Mandy Brocklehurst yang seangkatan dengannya di Hogwarts.

"Hai, Hermione," Susan menyapa,"senang akhirnya kau memutuskan untuk ikut kami,"

"Yeah," dengan riang Mandy menggandeng tangan Hermione,"ayo kita ke pub dan cari beberapa pria muda seksi,"

"Mandy!"

"Aku hanya bercanda!"

Keempatnya keluar dari St. Mungo dan ber-apparate ke satu-satunya bar sihir di London. Pria besar berotot dengan baju hitam ketat dan kaca mata yang segelap malam sudah menunggu diluar pub.

"Ayolah, biarkan kita masuk," bujuk Mandy,"kau tak perlu mengetes kami. Kami ini penyihir! Penyembuh!"

Tapi, si pria berotot tetap mengulurkan tangannya,"Tongkat?" geramnya.

"Oh, ayolah Mandy!" ujar Heather kesal,"berikan saja tongkatnya,"

Akhirnya Mandy menyerah dan memberikan tongkatnya. Si penjaga mengayun tongkat itu sedikit dan muncul asap putih dari ujung.

"Lihat, sudah kubilang kami penyihir!"

Si penjaga melepas kaca mata hitamnya, menampakkan sepasang mata hitam yang menyeramkan dan memandang Mandy dengan kesal,"Baiklah, kalian ber-empat boleh masuk,"

Musik yang luar biasa keras menyambut mereka. Hingga rasanya gendang telinga Hermione pecah,"Kenapa kita harus kesini, sih?" teriaknya.

"Oh, ayolah, Hermione!" seru Mandy,"aku kita berdansa," wanita muda itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke udara dan berlari ke lantai dansa. Rambut pirangnya hilang ditelan puluhan manusia.

"Bagaimana Mandy bisa masuk ke Ravenclaw, sih?" tanya Heather,"wanita itu lebih cocok masuk Slytherine,"

Susan tertawa,"Ayo kita cari minum," ia menarik tangan kedua temannya ke salah satu meja yang masih kosong.

Beberapa menit kemudian seorang bartender pria yang tampan yang kelihatannya orang spanyol muncul,"Ingin minum apa, Nona-nona?"

"Firewhiskey," jawab Heather dan Susan bersamaan.

"Dua firewhiskey," si bartender mengulangi dan kemudian matanya beralih ke arah Hermione,"Dan minuman apa yang diinginkan gadis cantik yang satu ini?" tanyanya sambil tersenyum.

Apa dia sedang menggodaku?

"Mmm...butterbir," teriak Hermione, suara musik menenggelamkan kata-katanya.

"Maksudnya firewhiskey," potong Heather.

Hermione membelalakkan matanya ke arah Heather.

"Oke, tiga firewhiskey untuk tiga gadis cantik," ujar si bartender,"tunggu sebentar," bartender itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Hermione sebelum pergi.

"Dia pasti sungguh menyukaimu," ujar Susan.

"Aku tidak peduli dia menyukaiku atau tidak," jawab Hermione.

"Tapi, dia sepuluh kali lebih tampan, manis dan seksi daripada Ronald Weasley," ujar Heather.

"Heather..."

"Oke..oke..."

"Ini minumannya, Nona-nona," si bartender spanyol kembali muncul dan meletakkan tiga gelas penuh firewhiskey. Dia kemudian menatap Hermione,"Bisakah aku tahu namamu, Miss?" tanyanya,"aku Alejandro,"

"Mmm...Hermione,"

"Hermione? Sungguh nama yang tidak biasa. Tapi, cantik tidak kurang. Secantik orangnya,"

Hermione memaksakan seulas senyum kepada Alejandro, tapi tidak mengatakan apa-apa.

Aku ingin lari dari tempat ini...

"Alejandro?" Heather membuka mulutnya,"itu nama Spanyol, kan?"

"Benar sekali. Miss..."

"Heather,"

"Miss Heather. Aku tumbuh di Spanyol," Alejandro kembali menatap Hermione,"mau berdansa?"

"Welll, aku tidak sedang mood untuk berdansa. Tapi, Heather disini pasti tak akan menolak," jawab Hermione sambil tersenyum kepada Heather yang membelelalakkan matanya.

Alejandro mengangkat bahu,"oke, kalau begitu, Miss Heather. Mau berdansa denganku?"

"Bukannya kau bekerja?" tanya Heather.

"Tidak malam ini," Alejandro mengulurkan tangannya. Heather tersenyum dan menerima uluran tangannya. Keduanya menghilang di lantai dansa.

"Bagus sekali, Hermione," ujar Susan,"aku tidak tahu kau punya bakat jadi Mak Comblang,"

Hermione hanya mengangkat bahunya sambil mengambil gelas firewhiskey,"bakat yang terpendam," dan ia meminum cairan itu. dan ia merasakan sengatan ditenggorokannya.

Uurgh... aku benci alkohol

"Hermione?"

Hermione menoleh ketika ia mendengar suara yang sangat dikenalnya itu,"Harry?" serunya terkejut,"apa yang kaulakukan disini?"

Harry tersenyum dan duduk dikursi kosong disebelah Hermione,"Aku hanya sedang ke luar dengan beberapa teman aurorku. Eh, Hello, Susan,"

"Hello, Harry," balas Susan,"senang bisa bertemu denganmu disini,"

Saat itulah Hermione memperhatikan Seamus Finnigan muncul dibelakang Harry,"Hallo, Hermione, lama tak jumpa. Bagaimana kabarmu?"

"Aku baik-baik saja. Bagaimana kabarmu? aku tidak tahu kau menjadi auror,"

"Yeah. Dean dan aku memutuskan untuk menjadi Auror," Seamus menoleh ke arah Susan,"Lama juga tidak bertemu denganmu, Susan. Ingin berdansa?"

"Dengan senang hati, Seamus" Susan berdiri dan Seamus menariknya ke lantai dansa.

"Sejak kapan kau minum firewhiskey?" tanya Harry, menunjuk ke arah gelas didepan Hermione.

"Uurgh, aku tidak pernah meminum firewhiskey," jawab Hermione sambil menyingkirkan gelas itu,"Heather memaksaku,"

"Jadi, kau datang ke sini bersama teman-temanmu di St. Mungo,"

"Yeah. Susan, Mandy dan Heather,"

"Dimana Mandy dan Heather?"

Hermione mencari kedua temannya itu dilantai dansa,"Mandy tengah melakukan dansa gilanya dan Heather tengah sibuk berciuman dengan seorang bartender spanyol yang ganteng dan seksi,"

"Apa reaksi Ron mendengar komentarmu itu?" seru Harry sambil tertawa.

Mendengar nama Ron kembali disebut, membangkitkan kecemasan Hermione,"Ada berita tentang Ron?" tanya Hermione pelan.

Tawa Harry langsung berhenti digantikan dengan desahan,"Tidak yang kutahu. Misinya rahasia,"

"Hanya saja Ron tidak pernah mengirimiku surat," Hermione melihat Harry membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu tapi Hermione menginterupsi,"aku tahu misinya rahasia dan terlalu berbahaya untuk mengirim surat. Tapi, itu membuatku sangat gelisah," Hermione menguburkan wajahnya dengan kedua tangan,"setiap malam aku selalu bermimpi tentang Ron. Dan dalam mimpi itu Ron-" Hermione tercekat, tak bisa mengatakan kelanjutannya.

Dalam mimpi itu Ron tewas.

Ron tewas.

"Hei, Hermione," ujar Harry lembut, tangannya berada di tangan Hermione yang menutupi wajahnya.

Perlahan Hermione menjauhkan tangannya dan menatap kedalam mata hijau Harry. Mata itu begitu dalam, menyimpan ribuan cerita. Mata itu adalah hal yang paling ia sukai dari Harry.

"Ayo, kita berdansa," Harry menarik tangan Hermione.

"Harry-"

"Aku tidak akan menerima kata tidak," Harry bersikeras,"Ayo!"

Harry menariknya ke lantai dansa. Dan mereka berdansa. Harry memutar Hermione. Sungguh sangat tidak pas dengan ritme lagunya. Tapi, mereka menikmatinya.

"Harry! kau menginjak kakiku!" seru Hermione sambil tertawa.

"Oops, sorry. Kau tahu betapa buruknya hubungaku dengan dansa,"

"Apa kalian sudah putus?"

"Hampir. Aku bahkan harus tidur di sofa!" seru Harry.

Hermione tertawa. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Harry, tersenyum,"Terima kasih, Harry," ujarnya,"kau memang sahabat baikku,"

Harry tersenyum,"Kau juga sahabat baikku,"

Disekeliling mereka, orang-orang berlonjak-lonjak, menari mengikuti ritme beat. Tapi Hermione hanya menyandarkan kepalanya dibahu Harry. mereka berputar perlahan, bersama-sama.

"Hermione?"

Hermione menutup matanya dan merasakan kehangatan tubuh Harry membuat tubuhnya sendiri terasa hangat,"Hmmm?"

"Semuanya akan baik-baik saja,"

"Aku tahu,"


"Weasley! Awas!"

Ron menatap partnernya, John, dihantam kilatan cahaya hijau yang familiar. John Williams mati didepannya. Tubuhnya ambruk tak bernyawa.

"Stupefy!" teriak Ron kepada dua orang berjubah gelap didepannya.

"Crucio!"

"Protego!"

"Avada Kedavra!"

Ron berhasil menghindari kutukan kematian itu dan ia berlari keluar hutan. Cahaya-cahaya terus meluncur di kanan kirinya. Tanah becek terkena air hujan yang terus mengguyur bumi dengan derasnya.

Jalan buntu, Sial!

Ron melihat tebing didepan matanya. Tebing itu setinggi puluhan meter. Ombak air laut mengganas dan karang-karang yang siap menghancurkan siapa saja menunggu dibawahnya.

"Kau tidak bisa pergi kemana-mana, Penyusup" ujar salah satu dari dua penyihir berjubah gelap,"berikan kami informasi yang kami inginkan dan kau tidak akan kami bunuh,"

Ron mengangkat tongkatnya didepan dada,"Lebih baik aku mati!" teriaknya.

"Kalau itu yang memang kau inginkan!" ujar si penyihir,"Avada Kedavra!"

"Bombarda!" Ron berteriak.

Dua cahaya bertabrakan.

Dua cahaya menekuk, menghancurkan tanah.

Dan tebing itu longsor.