"No, it can't be," she said in a faint voice," You're lying,"
"Huff," Harry menjatuhkan dirinya di kursi, kelelahan. Lelaki muda itu memejamkan matanya. Menutupi iris hijau memikatnya.
"Ini Harry,"
Harry tersentak, membuka matanya. Dan melihat seorang wanita muda cantik berambut pirang."Oh, hallo Sarah," sapa Harry.
Sarah mengangguk dan terus tersenyum,"Ini minumlah," ia memberikan segelas air meneral,"aku tahu kau baru pulang dari misi dan kelelahan. Jangan sampai dehidrasi,"
Harry tersenyum,"Terima kasih," dan ia mengambil gelas itu, menghabiskannya dalam satu tegukan.
"Kudengar misimu sukses besar," ujar Sarah,"menangkap sekumpulan pelahap maut,"
Harry hanya mengangkat bahu,"Yah, jika yang kau maksud sekumpulan pelahap maut idiot kelas teri,"
"Kau terlalu rendah diri," ujar Sarah sambil tertawa.
"Harry! Harry!" seseorang memanggil namanya.
Ketika Harry menoleh ia melihat Seamus Finnigan berlari ke arahnya, wajahnya terlihat cemas dan sedih."Seamus, ada apa?" tanya Harry sambil beranjak dari kursinya.
"Apa kau sudah dengar?" tanya Seamus.
"Dengar apa, Seamus? Aku baru pulang dari misi,"
"John Williams, Harry. John Williams," Seamus menggoyangkan bahu Harry.
"Dengar Seamus. Aku tidak tahu siapa John Williams itu. jadi langsung saja ke intinya oke?" ujar Harry tidak sabar.
"John Williams ditemukan tewas di Boston, tubuhnya dicabik-cabik,"
Harry menatap Seamus bingung.
"John Williams adalah auror yang pergi bersama Ron ke Albania,"
Saat itulah Harry baru mengerti.
Saat itulah ia panik. Ketakutan mencabik-cabik hatinya.
Bagaimana jika-
Harry berjalan melewati Seamus, meninggalkan Sarah. nafasnya berderu cepat sekali ketika ia melihat papan Kepala Auror disebuah pintu. Tanpa mengetuk, Harry langsung mendobrak masuk.
Tiga orang yang berada di dalam kantor Kepala Auror terlihat terkejut. Tiga-tiganya menoleh, menatap Harry.
"Potter!" teriak Garwain Robards, Kepala Departemen Auror beram,"Apa yang kau lakukan disini?"
"Maafkan saya, Pak," ujar Harry,"tapi saya ingin tahu apa yang terjadi pada Misi Rahasia ke Albania,"
"Potter, kau sudah mendobrak masuk ke ruanganku tanpa izin dan sekarang kau menyuruhku untuk memberitahukan apa yang terjadi di Albania," seru Robards,"kau bisa ku-skors,"
"Saya tak peduli, Pak. Saya perlu tahu apa yang terjadi dengan Ronald Weasley," Harry bersikeras, suaranya naik beberapa oktaf.
Ketika mendengar nama Ronald Weasley disebut, Kepala Departemen Auror itu langsung terdiam."Passegood. Rowans. Kalian boleh pergi," ujar Robards kepada dua orang laki-laki di ruangannya.
Dua laki-laki itu berdiri dan langsung pergi melewati Harry. harry melihat punggung keduanya lenyap ditelan auror-auror yang tengah berlalu lalang.
"Potter. Duduklah," perintah Robards.
Harry berpaling menatap Robards dan berjalan ke arahnya. Mengambil tempat duduk yang tadi diambil oleh Rowans.
"Muffliato," gumam Robards,"Kami mengirim tiga Auror ke Albania. Robert Jenkins, John Williams dan Ron Weasley. Tadi pagi, tubuh John Williams ditemukan di Boston. Digantung di pohon dihalaman sebuah keluarga muggle. Tubuhnya dicabik-cabik. Kami harus melakukan mantra penghapus ingatan segera. Dan mencoba menutupi berita ini dari pers. Jadi, kau harus bersumpah kau tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapapun," Robards berhenti, menatap ke arah Harry.
Harry hanya mengangguk.
"Kami percaya Jenkins adalah seorang penyusup. Dia adalah salah seorang pemberontak-"
"Bagaimana kau bisa membiarkan seorang pengkhianat masuk ke Departemen Auror?" seru Harry tidak percaya.
"Jika kau tidak menutup mulutmu, Potter. Aku tidak peduli kau Anak-Lelaki-Yang-Bertahan Hidup atau Penyelamat Dunia Sihir. Aku akan mengutukmu sekarang juga,"
"Maaf," Harry bergumam.
Robards mendesah,"Aku memang seharusnya curiga ketika ia memasukkan Williams dan Weasley kedalam misi ini. Weasley belum berpengalaman dan Williams bahkan tak bisa mengatasi nenek tua gila. Tapi, aku menaruh kepercayaan yang tinggi pada Jenkins. Aku menganggapnya terlalu tinggi. Kami yakin Ron Weasley sudah tewas,"
"Apa anda memiliki bukti, Pak?" tanya Harry.
Robards mengambil sesuatu dari laci mejanya, mendorongnya ke arah Harry. sebuah kertas. Bukan, sebuah foto hitam putih. Didalamnya ada sebuah lengan. Lengan itu disayat hingga membentuk tulisan Dia sudah mati. Dan kau selanjutnya.
"Apa-"
"Kami percaya. Bahwa mereka merujuk pada Ron Weasley. Kami memang tidak berhasil mendapatkan tubuhnya. Tidak ada bukti yang akurat. Tapi, kami tak bisa melacaknya. Tubuhnya berada di Albania,"
"Jadi, anda menyerah begitu saja?"
"Aku tak bisa membahayakan puluhan auror hanya untuk mencari satu auror yang entah masih hidup atau sudah mati, Potter! Hadapi itu."
Robards benar. Jika penyelidikan dilanjutkan, banyak nyawa lain yang terancam, banyak keluarga lain yang akan kehilangan orang yang mereka sayangi. Lebih banyak lagi air mata.
"Apa yang akan anda katakan pada pers tentang kematiannya? Pada keluarganya?" tanya Harry tak lebih dari sekedar bisikan.
"Weasley tewas dalam sebuah misi penangkapan pelahap maut hari ini,"
"Tapi misi itu-"
"Ya, itu akan menjadi misimu, Potter. Tubuhnya terbakar, tak bisa dikenali lagi,"
Harry menyadari, ia tak ingin tahu lebih banyak lagi. sudah cukup baginya. Harry berdiri,"Maaf sudah menggangu, Pak," ujarnya sebelum berjalan menuju pintu.
"Potter, tunggu,"
Harry membatu, setelah beberapa detik ia baru berbalik. Ketika ia melihat Robards, ia bisa melihat keprihatinan dalam matanya yang segelap malam, kelembutan dalam kerutan wajahnya yang keras dan kasar.
"Weasley punya seorang kekasih, kan? Temanmu, Penyembuh itu-"
"Hermione," Harry melanjutkan.
"Ya, Hermione Granger. Aku pernah menemuinya di St. Mungo. Wanita muda yang sangat menarik. Mungkin lebih baik jika kau yang mengabarkan berita ini padanya, Potter. Dan...kau boleh pulang lebih cepat hari ini. Kau boleh keluar sekarang,"
"Terima kasih, Pak," Harry bergumam dan keluar dari ruangan Kepala Departemen Auror.
"Harry, apa yang terjadi?" seru Dean Thomas bersama Seamus dan Sarah yang menunggunya didepan ruang Kepala Departemen Auror.
Harry enggan menjawab. Ia sudah bersumpah tak akan membicarakan ini pada siapapun."Kalian bisa membacanya besok di Daily Prophet," ujar Harry tanpa emosi,"aku harus pulang lebih cepat, teman-teman,"
"Harry..." Sarah membuka mulutnya, tapi apapun yang hendak dikatakannya lenyap ketika Seamus memegang bahunya dan menggeleng.
"Sampai jumpa besok," ujar Harry sebelum pergi ke luar Departemen Auror dan ber-apparate di luar flat Hermione.
Flat Hermione berada puncak gedung berlantai tiga ditengah kota London. Hermione selalu bilang ia ingin merasa dekat dengan dunia dimana ia dibesarkan, berinteraksi dengan para muggle.
Harry bersandar di dinding gedung tersebut. Hermione selalu ber-apparate disebuah gang kosong didepan stasiun. Dari sana ia akan mengambil salah satu kereta bawah tanah yang menuju ke mari agar tidak dicurigai oleh tetangga-tetangganya. Ia tahu, Hermione akan lewat di sini.
Ia melirik jam tangannya, pukul enam.
Jam berapakah Hermione pulang? Setahunya setelah Ron pergi, Hermione selalu pulang malam
Memikirkan nama Ron, membuat Harry merasakan kepedihan itu lagi. Bagaimana Hermione akan menerima semua ini? Bagaimana Ron bisa begitu cepat dan mudah pergi? Meninggalkan mereka begitu saja. Kehilangan Ron seperti kehilangan saudara lelaki yang tidak sempat ia miliki. Sahabatnya, saudaranya.
Saat itu langit bergemuruh. Ketika Harry mendongak, langit berwarna kelabu. Sepertinya langit juga ikut berduka kehilangan Ron. Harry berpikir bagaimana keluarga Weasley menerima ini. Mrs. Weasley sudah kehilangan Fred. Mr. Weasley sudah kehilang puteranya. Mereka tidak butuh kehilangan satu putra lagi.
Saat itulah langit menumpahkan air matanya. Harry terlindung dari hujan karena atap diatasnya. Orang-orang berlarian mencari perlindungan dengan menggunakan mantel atau jaket mereka diatas kepala.
"Harry?" seru suara yang dikenalnya.
Harry menoleh. Hermione berdiri disebelahnya, berpayungan buku. Namun, rambutnya yang sudah basah membentuk lingkaran-lingkaran tipis. Mata Hermione bersinar ketika melihatnya, ia tersenyum.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Harry bertanya-tanya apa yang akan terjadi pada sinar mata itu ketika ia sudah menyampaikan hal ini. Apa yang akan terjadi dengan senyumnya?
"Harry?" Hermione kembali memanggil namanya.
"Hermione, aku hanya...ingin menemuimu," jawab Harry buru-buru sambil berdiri,"kau pulang cepat,"
"Yah, hari ini aku ingin tidur sebentar. Kemarin aku tidak bisa tidur setelah meminum firewhiskey itu. aku jadi capek sekali. Ayo masuk, kau bisa sakit jika berdiri disini terus!" Hermione menarik tangan Harry yang sedingin es dan menariknya menaiki tangga menuju flatnya dilantai tiga.
Flat Hermione tidak besar. Sederhana tapi nyaman. Udara jauh lebih hangat disini.
"Tunggu disini," ujar Hermione, ia melirik ke arah sofa di ruang tamu,"aku akan membuatkan teh," Hermione meletakkan buku dan tasnya di meja ruang tamu dan meninggalkan Harry menuju dapur.
Harry berjalan ke arah sofa dan duduk disana.
Bagaimana aku akan mengatakannya pada Hermione?
Mungkin seharusnya aku tidak mengatakannya. Tidak hari ini. Tidak ketika ia terlihat jauh lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Tapi, pada akhirnya ia akan membaca beritanya di Daily Prohphet besok.
Tapi, itu akan membunuhnya.
Setidaknya ada kau disini. Setidaknya ada orang orang yang akan menghiburnya saat ini.
Pikiran Harry diinterupsi ketika Hermione datang membawa dua buah cangkir teh.
"Kau cepat," ujar Harry sambil memberikan senyum lemah.
"Itulah gunanya menjadi penyihir," Hermione meletakkan dua cangkir tehnya di meja kemudian duduk disamping Harry,"sekarang, katakan padaku apa yang tengah menganggumu,"
"Apa maksudmu Hermione?" tanya Harry, memalsukan kebingungan,"aku baik-baik saja-"
"Oh, hush, Harry" seru Hermione,"aku bisa membacamu seperti buku. Aku tahu ada yang tengah menganggumu. Jika ini tentang Ginny-"
"Ginny?" ujar Harry buru-buru,"Tidak. Bukan."
"Lalu tentang apa?" tanya Hermione menatap Harry.
Harry menatap Hermione. Ia harus mengatakannya sekarang. ya, jawabannya ada disana. Didalam mata coklat susu hangat itu. ia harus mengatakannya sekarang. sekarang atau tidak selamanya.
"Hermione, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," ujar Harry lembut dan pelan-pelan.
"Katakan, Harry. aku mendengarkan,"
Harry menghirup nafas dalam-dalam,"Hari ini ada seorang auror yang ditemukan terbunuh di Boston. Namanya John Williams," ia berhenti, menatap Hermione sekali lagi.
Hermione menatapnya dengan pandangan penuh tanya. Memintanya terus melanjutkan.
"John Williams adalah partner Ron dalam misinya di Albania,"
Saat itulah Hermione berekasi. Matanya membesar dan ia menutupi mulutnya dengan tangan. Seperti ingin mencegah dirinya sendiri berteriak. Mungkin itu memang tujuannya.
Hermione menggelengkan kepalanya, matanya menunjukkan ketidak percayaan.
"Ron-" Harry tercekat, mengatakannya dalam kata-kata ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan,"Ron sudah tewas, Hermione,"
Tepat ketika Harry mengatakan kata tewas, air mata turun dari mata Hermione.
"Tidak itu tak mungkin," ujar Hermione, suaranya hampir tak terdengar,"kau berbohong,"
"Maafkan aku,"
Tiba-tiba temperatur ruangan itu seperti jatuh puluhan derajat. Ruangan itu jauh lebih dingin dari pada udara membeku diluar. Hujan menjatuhi bumi. Seperti air mata yang dijatuhkan setiap detiknya diseluruh dunia.
Saat itulah Hermione tak bisa menahan isakannya. Harry merengkuh Hermione dalam lengannya. Memeluknya dalam pelukannya. Erat. Membiarkan Hermione bersandar dibahunya. Membiarkan Hermione menumpahkan sedikit sakitnya. Padahal Harry sendiri juga butuh seseorang untuk bersandar.
Mereka bersandar pada satu sama lainnya. Dua cangkir teh dimeja itu terlupakan. Mendingin dan terlupakan.
Entah berapa jam mereka duduk disana, hanya berpelukan, berpegangan pada satu sama lain. langit sudah gelap diluar, tapi hujan tak juga berhenti.
"Hermione?" panggil Harry pelan.
"Jangan pergi, Harry," Hermione memohon, suaranya serak dan lemah,"Jangan,"
"Ayo kita ke kamar tidurmu," bisik Harry,"kau butuh tidur,"
Dengan enggan Harry menjauhkan tubuhnya, untuk pertama kalinya setelah beberapa jam, ia melihat mata Hermione. Kedua matanya merah, dan rambutnya berserakan berantakan membingkai wajahnya.
Harry menarik tangan Hermione, membimbingnya berdiri,"Ayo, Hermione,"
Hermione mengikuti Harry. harry melingkarkan tangannya dibahu Hermione ketika mereka berjalan perlahan ke tempat tidur Hermione.
Setelah Harry melepaskan sepatu Hermione. Hermione menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.
"Harry, temani aku disini," pinta Hermione, memegang tangan Harry,"kumohon, temani aku disini,"
"Aku tak akan kemana-mana," ujar Harry sambil memaksakan sebuah senyuman, ia melepas sepatunya sendiri dan berbaring disisi Hermione. Menarik Hermione, sekali lagi, kedalam pelukannya.
Harry bisa mendengar Hermione kembali terisak di dadanya. Harry mencium puncak kepalanya,"Sssh...semua akan baik-baik saja, Hermione," bisiknya terus-menerus hingga gadis itu terlelap.
