~*Rn*~

I'm not strong, I know it..

But I still have this strength,

which will lead us to a beautiful journey.

~*Rn*~

Laki-laki berambut ikal kecoklatan itu perlahan membuka matanya, dan langsung disambut oleh sapaan sinar mentari dari jendela yang telah terbuka tirainya. Lelaki itu menggeliat, bermaksud memutar badannya ke arah yang berlawanan untuk memeluk sosok kekasih yang sangat dicintainya. Rohnya belum sepenuhnya kembali ke jasadnya, namun saat dia tidak bisa menemukan sosok yang dia cari, matanya terbuka sempurna dan kesadarannya langsung kembali.

"Min?" dia berusaha duduk agar lebih leluasa mencari kekasihnya. Dia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan. Ruangan luas bercat putih itu kosong, hanya dia sendiri yang ada di dalamnya. Dia segera berdiri, dan bermaksud mencari Sungmin. Kyuhyun takut kalau terjadi apa-apa dengan Sungmin tanpa sepengetahuannya.

Kyuhyun membuka pintu kamar mandi yang ada di sudut ruangan, namun nihil. Sungmin tidak ada di sana. Dia langsung mencari Sungmin ke luar kamar, ke ruang tamu, ke ruang keluarga, ke teras luar, namun tidak juga menemukannya. Saat Kyuhyun akan mencarinya ke kamar mandi di dekat dapur, dia mencium bau makanan, dan kakinya langsung melangkah ke dapur.

Kyuhyun langsung tersenyum saat melihat sosok yang dicintainya itu sedang memakai apron berwarna pink dan konsentrasi pada sesuatu yang tengah digorengnya. Di mata Kyuhyun, Sungmin sangat manis, bahkan tidak terlihat sakit sedikitpun. Sungmin sepertinya sangat menikmati apa yang sedang dia kerjakan sampai dia tidak menyadari kehadiran Kyuhyun.

Dapur berdesain modern kitchen tempat Sungmin memasak itu cukup luas, dan terlihat tidak pernah dipakai. Bagaimana tidak, Kyuhyun tinggal sendiri di rumah yang luas itu karena ayahnya tinggal di Kanada, sedangkan ibunya sudah meninggal saat dia kuliah. Kakak perempuannya juga tidak tinggal di Korea, dia ikut suaminya ke Jepang. Tidak ada yang pernah menyentuh dapur, karena Kyuhyun pun lebih suka makan di luar.

Kyuhyun segera memeluk pinggang Sungmin dari belakang dan memposisikan dagunya di bahu Sungmin. Sungmin sedikit terlonjak, namun segera merasakan hangat yang diberikan Kyuhyun ke tubuhnya.

"Pagi, Min.." Kyuhyun mencium pipi kiri Sungmin dan yang dicium tertawa pelan sambil melanjutkan aktivitasnya. Momen seperti ini membuat Sungmin merasa seperti seorang kekasih yang sempurna. Bangun sebelum kekasihnya membuka mata, membuatkan sarapan, diberi morning kiss, dan nantinya sarapan bersama. Sempurna, seolah-olah Sungmin tidak menderita penyakit parah yang bisa memperpendek umurnya.

Kyuhyun pun sama. Dia sangat menyukai saat-saat seperti ini. Saat di mana Sungmin tertawa dan melakukan kegiatan seperti orang yang sehat. Kyuhyun bersyukur dalam hatinya, ternyata keputusannya malam tadi tidaklah salah. Mempertahankan bayi dalam perut Sungmin sama artinya dengan memberi Sungmin semangat baru untuk menjalani kehidupannya.

"Bagaimana perasaanmu, Min?" tanya Kyuhyun sambil menyesap aroma tubuh kekasihnya.

"Tidak pernah sebaik ini." jawab Sungmin mantap. Kyuhyun lega mendengarnya.

"Baguslah kalau begitu. Hm.. Aku.. minta morning kiss, boleh?" tanya Kyuhyun. Sungmin tetap tidak mengalihkan perhatiannya dari telur ketiga yang digorengnya itu.

"Kau sudah mendapatkannya tadi. Kau sendiri yang menciumku, kan?"

"Itu bukan ciuman. Ciuman itu begini.." Kyuhyun langsung menempelkan bibirnya di bibir Sungmin. Sungmin sedikit kaget, namun segera sadar dari keterkejutannya dan membalas ciuman Kyuhyun.

Sungmin yang masih sadar kalau dia masih memegang spatula langsung menjauhkan bibirnya dari bibir Kyuhyun.

"Hei.. Mandi sana!" perintah Sungmin. Kyuhyun yang sedikit kesal gara-gara ciumannya dihentikan secara sepihak, mengerucutkan bibirnya untuk menampilkan aegyo. Sungmin yang melihat itu terkikik geli.

"Oke.. Oke.. Aku mandi." Kyuhyun melepaskan pelukannya pada Sungmin, lalu beranjak ke kamarnya. "AKU MENCINTAIMU!" teriak Kyuhyun dari jauh. Sungmin hanya bisa tersenyum lagi dan lagi.

.

.

Kyuhyun dan Sungmin menghabiskan waktu seharian penuh bersama di rumah. Banyak hal yang mereka lakukan, seperti bermain games, makan es krim, menonton DVD, bercerita, sampai tidak terasa matahari sebentar lagi akan terbenam.

Sekarang mereka masih menonton DVD di ruangan yang agak gelap karena cahaya satu-satunya hanya berasal dari layar televisi. Kyuhyun duduk di lantai yang dilapisi karpet sambil bersandar ke sofa tunggal di ruangan itu. Sungmin berada di pangkuannya dan menyandarkan kepalanya di bahu Kyuhyun. Mereka memperhatikan televisi tanpa berniat untuk mengetahui film apa yang sedang berlangsung. Keduanya hanya menikmati momen di mana kulit mereka bersentuhan satu sama lain, berbagi kehangatan.

Kyuhyun memeluk Sungmin dengan kedua tangannya. Erat. Sangat erat. Seolah-olah jika pelukan itu terlepas, dia tidak bisa lagi melakukan hal yang sama. Sungmin meletakkan kedua tangannya di atas tangan Kyuhyun, merasakan aliran kasih sayang Kyuhyun yang mungkin bisa berpindah dari hangat tubuh kekasihnya itu.

Sungmin memejamkan matanya. Dia menghela napas panjang, mempersiapkan napasnya untuk bicara banyak pada Kyuhyun.

"Kyu..." panggil Sungmin. Kyuhyun yang sedang menyesap aroma yang menguar dari rambut kekasihnya hanya menggumam sedikit, sebagai pertanda bahwa dia mendengar panggilan Sungmin.

"Kau mau anak kita perempuan atau laki-laki?" tanya Sungmin. Kyuhyun tertegun. Sungmin ternyata sudah memikirkan bayinya sampai sejauh ini.

"Min.. dia saja sekarang masih berupa segumpal darah. Aku belum memikirkan sampai ke sana." kata Kyuhyun dengan nada lembut. Dia takut kata-katanya menyakiti Sungmin, makanya dia berhati-hati.

"Tapi aku sudah membayangkannya..," Sungmin menghela napasnya lagi, "dia perempuan, Kyu.. Bayi yang sangat kecil dan cantik. Dia akan mirip denganku. Matanya, bibirnya, hidungnya, sama seperti milikku. Kulitnya putih, suaranya bagus, dia pintar, namun manja sepertimu, Kyu.. Pasti dia lucu sekali, kan?"

Kyuhyun terdiam. Imajinasi Sungmin tentang anak mereka, seolah-olah Sungmin memang pernah melihatnya. Terdengar jelas harapan yang besar dari cara Sungmin membicarakan tentang bayi yang tengah dikandungnya. Kyuhyun bisa apa? Dia hanya tidak ingin menghancurkan bayangan-banyangan indah Sungmin atas anak mereka, jika Sungmin tau kalau dia memiliki resiko yang tinggi untuk kehilangan bayinya.

"Kyu..." panggilnya lagi, kali ini dengan nada sedikit merajuk. Kyuhyun tersentak dari lamunannya.

"Ya?" jawab Kyuhyun kemudian.

"Kenapa diam? Aku juga ingin mendengar anak kita dalam versimu.."

"Versiku?" tanya Kyuhyun. Sungmin mengangguk kecil. "Min.. Aku belum punya bayangan.. Bayi itu belum tentu akan lahir, Min. Aku belum berani membayangkannya." Dan setelah kata-kata itu meluncur dari mulutnya, Kyuhyun langsung menyesali kebodohannya.

Dalam diam, airmata Sungmin mengalir. Hanya mengalir saja, tidak ada isakan. Menunjukkan bahwa hati Sungmin terluka di dalam, saat dia sadar bahwa meskipun Kyuhyun mengizinkannya menjaga anak itu, Kyuhyun tetap tidak menginginkannya.

"Coba bayangkan sebentar.." pinta Sungmin dengan nada lemah. Dia berusaha agar Kyuhyun yang ada di belakangnya tidak menyadari airmata yang terus mengalir ke pipi pucatnya.

"Aku... tidak bisa, Min.. Tidak ada bayangan yang keluar di otakku. Aku tidak suka anak kecil." jawab Kyuhyun, sebenarnya bernada lembut, namun di telinga Sungmin itu bagaikan kata-kata yang bisa menyayat hati sampai menorehkan luka yang amat pedih.

"Please..." pinta Sungmin lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih rendah.

Kyuhyun memejamkan matanya. Menjawab pertanyaan Sungmin berarti memberikannya harapan kosong atas anak itu. Namun jika tidak menjawabnya, sama saja dengan menyakiti hati Sungmin. Dan Kyuhyun... terpaksa harus memilih opsi kedua.

Kyuhyun berusaha memunculkan sesosok anak kecil di otaknya. Dia membayangkan anak-anak yang sering berlarian di Rumah Sakit.

"Oke.. Dengar ya, Min..," Kyuhyun mempersiapkan kata-kata yang akan diucapkannya, "anak ini laki-laki. Matanya akan tajam sepertiku, tapi hidung dan bibirnya akan seperti milikmu. Dia memiliki rambut lurus yang hitam legam, seperti rambutmu. Kalau nanti dia tersenyum, akan sangat manis. Dia lincah, suka berolahraga. Dia bisa memainkan berbagai alat musik, pandai dalam segala bidang. Dan yang paling penting, dia akan digilai wanita, seperti aku."

Sungmin tersenyum mendengar kalimat terakhir Kyuhyun. Meskipun harus sedikit dipaksa, tetap saja Sungmin sangat bahagia mendengar kalimat-kalimat Kyuhyun yang mendeskripsikan anaknya.

"Yang penting dia tidak posesif sepertimu.. hihi.." kata Sungmin dengan nada bercanda, berusaha menghilangkan ketidaknyamanan di hatinya.

"Hei, aku tidak posesif." Protes Kyuhyun, namun Sungmin menggeleng.

"Kau posesif. Kau suka memaksa. Kau kekanak-kanakan. Kau sering membuatku sedih. Kau suka membuatku sakit." Sungmin membeberkan keburukan Kyuhyun.

"Seburuk itukah?" tanya Kyuhyun agak tersinggung. Dia merasa sedikit tidak terima.

"Haha.. Tentu saja iya.. Tapi yang paling penting daripada itu semua adalah..," Sungmin memundurkan wajahnya sehingga pipi kanannya bersentuhan dengan pipi kiri Kyuhyun, "kau menerimaku..," Sungmin mencium pipi kiri Kyuhyun itu, "dan kau mencintaiku.. Itu saja sudah cukup bagiku."

Kyuhyun mencium pipi kanan Sungmin sedang lembut. "Kita pindah ke kamar, ya.." tawar Kyuhyun. Sungmin mengangguk lemah. Dia merasa lelah dan mengantuk. Kyuhyun lalu mengangkat tubuh Sungmin ke kamar. Setibanya di dalam kamar, dia membaringkan tubuh Sungmin di tempat tidur lalu menyelimutinya.

Kyuhyun berbaring di sampingnya, dan melingkarkan tangannya ke pinggang Sungmin. Dia membenamkan wajahnya ke ceruk leher kekasihnya itu.

"Aku suka wangi tubuhmu.." Kyuhyun semakin meyesap aroma tubuh Sungmin, sambil terus mengeratkan pelukannya. Tak lama kemudian, dia merasakan dada Sungmin turun naik dengan teratur.

"Cepat sekali tidurnya.." gumam Kyuhyun sambil menatap wajah manis kekasihnya yang tengah terlelap itu. Dia lalu menyingkirkan poni yang hampir menutupi mata Sungmin. Kyuhyun lalu mengecup kelopak mata kanan Sungmin, beralih ke kelopak mata kirinya. Dia percaya dengan begitu Sungmin akan tertidur dengan nyenyak dan mimpi yang indah. Dengan begitu juga, dia bisa tertidur tenang pula.

~*Rn*~

Will we make through this, My Dear?

It is hurting you, but I can't feel even a small amount of your pain.

Share the pain, My Dear..

We will make it together.

~*Rn*~

Kyuhyun terbangun mendengar suara-suara aneh yang mengganggunya. Dia mengerjap-ngerjap sebentar, kemudian menyadari bahwa di sebelahnya tidak ada Sungmin. Dia menajamkan pendengarannya, dan ternyata suara itu adalah suara dari kamar mandi yang ada di sudut ruangan. Kyuhyun segera berlari ke sana, takut terjadi sesuatu dengan Sungmin.

Dia menemukan Sungmin sedang membungkuk di wastafel sambil menumpukan kedua lengannya di sisi-sisi wastafel itu. Dia kelihatan sangat lemah, dan Kyuhyun segera menopang tubuh Sungmin dengan melingkarkan satu tangan di pinggangnya.

"Kyu~ perutku sakit.." adu Sungmin. Dia meringis, wajahnya pucat pasi.

"Sakit bagaimana? Seperti apa sakitnya?" tanya Kyuhyun. Sungmin menggeleng lemah.

"Tidak tau.." Sungmin semakin membungkukkan badannya, dan Kyuhyun menahan dada Sungmin dengan salah satu telapak tangannya agar tidak membentur sudut wastafel.

"Hoekk.. hoekk.." Sungmin tidak memuntahkan apa-apa. Dan itu semakin menyiksanya. Dia merasakan mual yang tidak tertahankan, namun saat dia muntah, malah tidak ada yang keluar. Semakin lama rasa mual itu semakin menjadi-jadi, membuat perutnya terasa dililit sambil diaduk-aduk.

"Kyuuu~" rintih Sungmin. Airmatanya mulai keluar akibat rasa tidak nyaman yang dia rasakan. Kyuhyun hanya menahan tubuh Sungmin sambil mengurut-urut tengkuknya lembut.

"Iya, aku di sini.." kata Kyuhyun, berharap dengan kehadirannya dapat mengusir sedikit saja rasa sakit Sungmin. Namun tentu saja itu tidak akan terjadi.

"Hoeekk.." kali ini yang dia muntahkan hanyalah cairan berwarna kuning, asam lambung. Sungmin lalu menghidupkan keran dan menyeka mulutnya. Napasnya tersengal-sengal, keringat dinginnya bercucuran.

"Sudah baikan, Min?" tanya Kyuhyun. Sungmin menggeleng, dia tidak mengalihkan pandangannya dari wastafel. Sepertinya dia masih mau muntah lagi.

"Mau kupeluk lagi?" tanya Kyuhyun, karena biasanya dengan memeluk Sungmin dan mengelus punggungnya, itu bisa meredakan ketidaknyamanan Sungmin. Lagi-lagi Sungmin menggeleng lemah.

"Hooekk.." Sungmin mencengkeram perutnya dengan tangan kiri. "Sakit sekali, Kyu..Arghh~"

Kyuhyun mengelus punggung Sungmin yang ada di depannya, mungkin dengan seperti itu sedikit energi bisa didapatkan Sungmin dari kehangatan yang diberikan oleh tangan Kyuhyun.

"Aku tidak kuat.. Hoekk~" Sungmin sudah lelah, namun dia terus-terusan muntah. Morning sick sih iya, tapi kalau separah ini membuat Kyuhyun khawatir. "Kyu, pusing sekali.." Sungmin merasakan pandangannya berputar-putar, dia merasa tubuhnya memberat.

"Kyuuh~" bersamaan dengan itu, tubuh Sungmin melemas, dia tidak sadarkan diri.

"Ya ampun.. Kalau tiap hari begini, lebih baik.. Aiiisshh.." Kyuhyun tidak melanjutkan kata-katanya, dia segera membopong tubuh Sungmin yang kian hari kian ringan saja, lalu membaringkannya di tempat tidur.

Kyuhyun menyelimuti Sungmin sampai sebatas dada, dia juga menyeka wajah Sungmin yang pucat pasi. Sungmin terlihat sangat lelah, karena dengan tubuhnya yang lemah itu dia masih harus menahan rongrongan yang datang dari bayi dalam kandungannya. Entah kenapa, yang dirasakan Kyuhyun sekarang adalah emosi. Dia marah. Susah payah dia menjaga agar Sungmin tidak merasakan sakit lagi, tapi bayi itu seenaknya menghancurkan usaha Kyuhyun.

Kyuhyun segera turun ke lantai satu, dan masuk ke dapur. Dia berniat membuatkan bubur untuk Sungmin. Sambil memasak bubur dia tetap saja mengutuk-ngutuk dalam hatinya. Entah mengutuk siapa. Karena kalau dia mengutuk bayi dalam kandungan Sungmin itu, sama saja dia mengutuk dirinya sendiri, karena yang membuat bayi itu kan dia sendiri. Serba salah.

Tanpa terasa, buburnya sudah jadi. Nah, lain kali kalau dia harus melakukan hal lain, dia akan mengutuk lebih banyak, agar pekerjaannya selesai lebih cepat. Ya, Kyuhyun memang penuh dengan inovasi.

Dia lalu membawa nampan berisi sarapan Sungmin berupa semangkuk bubur dan segelas susu. Saat dia tiba di dalam kamar, Sungmin masih belum sadar. Kyuhyun meletakkan nampan di meja dekat lampu tidur, lalu duduk tepat di sebelah Sungmin. Kyuhyun merendahkan wajahnya lalu mengecup kening Sungmin.

"Bangun, Min.." panggil Kyuhyun, namun Sungmin tidak bergeming. Yah, Kyuhyun terpaksa melakukan cara konvensional untuk menyadarkan Sungmin. Dia mengambil botol kecil minyak kayu putih dan menciumkannya pada Sungmin.

Berhasil, Sungmin membuka matanya dengan erangan kecil. Kyuhyun tersenyum padanya, sedangkan Sungmin masih terlalu bingung untuk membalas senyuman itu. Kyuhyun mencium bibir Sungmin sekilas, bagaimanapun, Kyuhyun berhak atas morning kiss-nya bukan?

Kyuhyun sedikit mengangkat tubuh Sungmin, lalu menyusun bantal di kepala tempat tidur agar posisi Sungmin jadi setengah duduk. Dia lalu mengambil mangkok bubur yang ada di dekat lampu tidur tadi. Sungmin hanya memandanginya, mungkin dia belum bisa mencerna apa yang dilakukan Kyuhyun dengan sempurna.

"Makan dulu, oke?" kalimat tanya itu sebenarnya dalah perintah. Sungmin hanya mengerjap-ngerjapkan matanya, dan itu terlihat sangat imut di mata Kyuhyun. Kyuhyun mengaduk kecil bubur itu sebentar, lalu menyodorkan sesendok penuh ke depan mulut Sungmin. Sungmin hanya patuh, dia membuka mulutnya.

Sungmin mengernyit, dia kelihatan tidak nyaman.

"Rasa apa ini?" katanya, dalam nada yang menyiratkan pikiran kau-memberiku-sampah-ya.

Kyuhyun terheran sedikit, perasaannya mengatakan kalau bubur itu akan enak karena itu satu-satunya hal yang bisa dia kerjakan di dapur. Ya, membuat bubur adalah spesialisasi Kyuhyun dalam urusan masak-memasak. Selain bubur, Kyuhyun memang tidak tertolong. Kyuhyun menyendok bubur itu, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya sendiri.

Dia merasakan bubur itu, dan dia tidak menemukan keganjilan rasa di masakannya. Enak—yah, untuk ukuran masakan Kyuhyun—setidaknya, tidak seburuk itu untuk dipertanyakan rasa apa. Ini rasa bubur, dan Kyuhyun tau jelas hal itu.

"Ini rasa bubur, Min. Normal kok." bela Kyuhyun terhadap masakannya. Kyuhyun menyendokkan sesendok lagi ke mulut Sungmin, namun Sungmin mengatupkan mulutnya.

"Aku tidak mau makanan seperti itu, Kyu. Rasa sampah." Kyuhyun tertohok. Rasa... sampah? Kenapa Sungmin setega itu pada buburnya?

"Sa... sampah? Tapi, aku membuatnya susah payah, Min.. Ayolah dimakan.. Kau harus mengisi tenaga dulu. Setidaknya mengisi cadangan untuk dimuntahkan besok pagi." Kata Kyuhyun. Sungmin mengerucutkan bibirnya mendengar kata-kata Kyuhyun. Dia menggeleng.

"Min.. Sayang.. Ayolah.." Kyuhyun mendekatkan sendok itu sampai menyentuh bibir Sungmin. Sedikit bubur menempel di bibirnya. Sungmin segera menghapus noda bubur itu dengan punggung tangannya, menunjukkan kalau dia anti sekali dengan hasil kerja keras Kyuhyun itu.

"Satu sendok saja, mau ya?" bujuk Kyuhyun lagi. Kyuhyun mendekatkan lagi sendoknya, sampai aroma dari bubur itu menusuk hidung Sungmin. Sungmin langsung menutup mulutnya, menghindari hal buruk yang akan masuk dalam perutnya.

"Kyu, aku pusing.." rengek Sungmin sambil satu tangannya masih membekap mulutnya sendiri. Kyuhyun menggeleng, dia bersikukuh untuk tetap menyendokkan bubur itu ke mulut Sungmin.

"Tidak, Kyu.. Tidak mau.." Sungmin menggeleng-gelengkan kepalanya. Kyuhyun melebarkan matanya, berusaha terlihat seram agar Sungmin menuruti perintahnya.

"Hoekk.." Sungmin memberi sinyal kalau dia akan muntah. "Hoekk.." Nah, Sungmin sepertinya benar-benar akan muntah lagi. Sungmin menutup mulutnya dengan tangan kanan, lalu mengibas-ngibaskan tangan kirinya, seolah-olah memberi isyarat pada Kyuhyun untuk melakukan sesuatu. Kyuhyun mengerti isyarat itu, dia segera meletakkan bubur itu di tempat semula, lalu membopong Sungmin ke kamar mandi.

Kyuhyun menurunkan Sungmin di depan wastafel dan author merasa dejavu. Sungmin segera membungkukkan badannya, dan seperti biasa, Kyuhyun menahan tubuh Sungmin dengan satu tangan dan tangan yang lain memijit tengkuk Sungmin.

"Hooeekk.. hoekk.." Sungmin muntah lagi, tetap yang dimuntahkannya hanya berupa cairan karena dia tidak mau makan apapun. Setelah rasa mualnya agak reda, Sungmin membasuh wajahnya lalu dia memutar tubuhnya sampai berhadapan dengan Kyuhyun. Sungmin melingkarkan kedua lengannya ke leher Kyuhyun dan menarik Kyuhyun dalam sebuah pelukan. Kyuhyun membelai punggung Sungmin, sedangkan Sungmin menyuruk manja ke dada Kyuhyun.

"Aku lelah sekali.." bisik Sungmin lemah. Kyuhyun mengeratkan pelukannya, entah untuk apa, namun rasanya dengan begitu dia bisa sedikit merasakan betapa lelahnya Sungmin saat ini.

"Kalau tidak mau makan, minum susu saja, ya.." kata Kyuhyun, mengingat Sungmin masih memiliki satu hidangan lagi, yaitu segelas besar susu. Yah, boleh dikatakan dia sudah meyerah atas si bubur, mungkin rasa sampah itu akibat kutukan dan umpatannya saat membuat bubur itu tadi. Jadilah rasanya tidak karuan. Sungmin menggeleng lagi.

"Ayolah.. Katanya sayang pada bayi itu.. Kalau kau tidak mau makan, terus bayi itu dapat nutrisi darimana?" kata Kyuhyun. Mendengar bayinya dibawa-bawa, Sungmin segera mendongakkan kepalanya dan menatap mata Kyuhyun dengan raut penuh kesangsian.

"Jadi, mau atau tidak?" tawar Kyuhyun lagi, lebih terdengar seperti ancaman bagi Sungmin. Setelah berpikir sebentar, Sungmin mengangguk lemah. Nah, Kyuhyun dapat satu poin penting di sini. Bayi itu bisa digunakan untuk mengancam Sungmin. Terlihat jelas kalau Sungmin sangat menginginkan bayi itu. Dia rela merasakan ketidaknyamanan perutnya sampai muntah berkali-kali. Ya, Sungmin memang pria yang memiliki tekad yang kuat, dan tidak bisa digoyahkan oleh siapapun.

Kyuhyun tersenyum penuh kemenangan. Dia membopong Sungmin ke tempat tidurnya lagi. Kyuhyun mengambilkan gelas berisi susu, dan menyodorkannya pada Sungmin. Sungmin menerima gelas itu dengan was-was, seolah-olah itu adalah racun yang dapat menghentikan denyut nadinya.

"Ayo diminum.." Kyuhyun duduk di atas tempat tidur sambil memandang Sungmin dengan tatapan memaksa.

Setelah bergelut dengan pikirannya sendiri agak lama, Sungmin mendekatkan bibir gelas ke bibirnya. Dia mulai meminum susu itu, dan Kyuhyun kembali tersenyum dengan kadar kemenangan yang terus bertambah. Sungmin mengernyitkan dahinya, menunjukkan kalau dia tidak suka dengan susu itu. Padahal bubur dan susu adalah makanannya tiap pagi. Yah, bawaan bayi. Kyuhyun hanya menyimpulkan begitu.

Satu teguk.

Dua teguk.

Tiga teguk.

Sungmin langsung menyodorkan gelas itu pada Kyuhyun. Bahkan susu itu belum habis setengahnya. Kyuhyun menggeleng, tidak menerima gelas yang disodorkan Sungmin.

"Habiskan." Perintah Kyuhyun. Sungmin menggeleng. Kyuhyun hanya menghela napas berat, capek akan penolakan-penolakan Sungmin.

"Susunya rasa sapi." Kata Sungmin. Kyuhyun melebarkan mata sipitnya. Oh, tolonglah.. Apalagi ini..

"Ini rasa vanila, Min.. Seperti biasanya." Kata Kyuhyun membela susu buatannya. Lagipula, apa Sungmin pernah memakan sapi sebelumnya? Kenapa dia bisa tau rasa sapi seperti apa?

"Tidak, ini rasa sapi. Rasa sapi." Sungmin menekankan kalimat-kalimatnya. Kyuhyun menghela napas lagi, dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ini tidak mau, itu juga tidak mau. Capek aku, Min. Kalau kau tidak makan, kondisimu akan memburuk. Kau harus minum obat, kalau tidak makan bagaimana caranya.. Ah.." Kyuhyun bicara dengan nada rendah, tidak menatap wajah Sungmin. Dia hanya menatap tangannya sambil memainkan jari tangan kanan dengan jari tangan kiri, memelintir-melintirnya. Sungmin merasa bersalah atas sikap kekanak-kanakannya. Dia lalu mengambil tangan kiri Kyuhyun, lalu menggenggamnya.

"Kyu, jangan begitu.." kata Sungmin dengan nada bicara seolah-olah akan menangis kapan saja. Kyuhyun tetap tidak mengalihkan pandangannya. Kali ini dia menggambar mentuk-bentuk lingkaran di atas kasur dengan tangan kanannya. Sungmin juga meraih tangan kanan Kyuhyun, dan menggenggamnya juga.

"Kyu, aku sedih kalau begini.." kata Sungmin, sudah diujung pertahanannya untuk tidak menangis.

"Aku juga." Kata Kyuhyun, masih tidak menatap wajah Sungmin.

"Lihat aku.." rengek Sungmin. Kyuhyun menggeleng, persis anak kecil yang sedang kesal. "Kyuhyun..." panggil Sungmin lagi. Kyuhyun merasa kasihan, dan akhirnya menatap wajah Sungmin dengan tatapan sedih yang over.

Sungmin segera mendekatkan wajahnya pada wajah Kyuhyun, lalu mengecup bibirnya sekilas. Kyuhyun sedikit kaget, tapi tidak ditunjukkannya.

"Dengar aku..," kata Sungmin sambil menggenggam kedua tangan Kyuhyun, "aku tidak apa-apa. Kalau nanti aku lapar, aku janji aku akan makan.. Sekarang perutku sedang tidak enak, rasanya tidak ada yang bisa masuk ke dalamnya. Kyu jangan marah.. Aku tidak akan apa-apa, aku berjanji.." nada suara Sungmin sangat lembut dan sarat permohonan. Kyuhyun yang pada dasarnya tidak tahan dengan nada seperti itu dari Sungmin, dengan segera luluh juga.

"Iya, aku tidak marah.." kata Kyuhyun akhirnya. Sungmin tersenyum senang.

"Gomawo, Kyu..," Sungmin lalu memeluk Kyuhyun, "kan aku sudah berjanji untuk menjaga anak ini. Aku sudah bilang kalau aku akan sembuh untukmu dan untuk anak kita.. Aku akan berusaha menepati janjiku, Kyu.. Kita akan merawat anak ini bersama sampai dia besar, ingat kan?" kata Sungmin dalam pelukan Kyuhyun. Kyuhyun mengangguk, menyadari kesungguhan dalam nada bicara Sungmin.

Sungmin lalu melepaskan pelukannya. Dia tersenyum pada Kyuhyun, dan entah tertular atau bagaimana, Kyuhyun balas tersenyum.

"Nah, kalau begitu, kau makan duluan saja.. Lagipula, kau sudah lama tidak ke Rumah Sakit, kan? Orang-orang di sana pasti membutuhkanmu.." kata Sungmin. Kyuhyun lalu menggeleng. Sungmin memiringkan kepalanya, pertanda dia bertanya 'kenapa'.

"Aku tidak akan makan... kalau kau tidak makan." Sungmin barusaja akan protes saat Kyuhyun mengecup bibirnya sekilas, persis seperti apa yang dilakukan Sungmin padanya tadi.

"Jangan protes. Aku ingin merasakan deritanya juga, Min. Kalau kau kelaparan, aku juga akan ikut kelaparan. Kita berbagi ya.. Aku juga tidak ingin ke Rumah Sakit. Aku akan menjagamu di sini 24 jam sehari. Aku tidak terima interupsi." Kata-kata Kyuhyun membuat Sungmin diam karena tidak tau harus bicara apa lagi.

"Yah, meskipun aku tidak tau rasa sakitnya seperti apa, bahkan kelaparan saja belum sampai seperseribu dari rasa sakitmu, aku tetap ingin kau berbagi sakitnya denganku, Min.. Aku menyayangimu, akan sangat tidak adil kalau aku membiarkanmu menderita sendiri." Tambah Kyuhyun. Sungmin memeluk Kyuhyun lagi, dia merasa terharu atas apa yang dikatakan Kyuhyun. Lewat kata-kata itu, dia bisa merasakan rasa cinta Kyuhyun untuknya.

"Jangan pernah sembunyikan rasa sakitmu dariku ya, Min.. Aku ini doktermu, dan yang lebih penting lagi, kau itu orang yang paling kucintai. Jangan ragu mengatakan padaku apa yang kau rasakan. Janji ya, Min.."

Sungmin mengangguk. Bukan bermaksud cengeng atau apa, tapi airmatanya mengalir. Sungmin menutup matanya, merasakan kehangatan menyelimuti hatinya. Dia menyayangi Kyuhyun, dan betapa senangnya saat Kyuhyun juga merasakan hal yang sama. Ditambah lagi dengan kehadiran bayi ang ada dalam kandunganya. Yah, walaupun cerita mereka sedikit berbeda, bukankah itu sempurna?

"Aku akan sembuh. Aku janji." Bisik Sungmin, tapi Kyuhyun mendengarnya. Kyuhyun tersenyum, merasakan harapan-harapan bermekaran di sekelilingnya.

"Aku mencintaimu." Kata Kyuhyun disambut anggukan Sungmin.

"Aku juga." Jawab Sungmin. Dia lalu tertidur dalam pelukan Kyuhyun, melepaskan rasa penat atas rongrongan rutin tiap pagi dari janin yang dikandungnya.

~*Rn*~

Listen, My Dear..

I will pass this test, I promise you.

Would you plese support me?

Just don't stop believing.

~*Rn*~

-TBC-

Oke, chapter ini selesai..

Lagi-lagi telat apdet, dan lagi-lagi gak sempat balas review. Maafkan aku.. Padahal semangatku datang dari review kalian, tapi dengan songongnya aku tidak bisa membalasnya.. Maafkan aku, ya? *mellow* Aku akan membalasnya nanti..

Satu hal yang mau aku betulkan di sini. LEUKIMIA yang aku tulis di dua chapter sebelumnya itu kata yang tidak baku. Aslinya adalah LEUKEMIA. Padahal di mbah google keluar-keluar aja info tentang LEUKIMIA, eh, kagak dibetulinnya. Makasih buat EKA KUCHIKI eonni yang sudah membenarkannya.. *bows, hugs, n kissu* #ditampol

Tapi setau aku, Leukemia itu bukan penyakit turunan. Penyakit darah turunan itu setau aku kayak Hemofilia gitu.. Aku udah minta tolong mbah gugel lagi, aku udah buka buku biologi, aku udah buka Buku Pintar, aku udah tanya ke anak olimpiade biologi, dan hasilnya adalah Leukimia memang bukan penyakit turunan.

Dan kalau ada yang heran kenapa Sungmin masi aja idup sedangkan dia menderita Leukemia?

Leukemia itu ada dua. Leukimia Akut, dan Leukimia Kronis. Leukemia Kronis itu ringan pada awalnya, dan akan memburuk secara bertahap. Biasanya penderita bisa bertahan selama dua sampai lima tahun, bahkan ada yang sampai tujuh tahun. Kalau Leukemia Akut, ini baru yang paling ganas. Ini bisa membunuh dalam hitungan minggu, bahkan ada yang dalam hitungan hari. Nah si Sungmin dapet yang pertama, Leukemia Kronis.

Kalau ini masih pendek, maaf ya.. Trus kalo ngebosenin, maaf juga. Kalau kesel, yah secara terpaksa reader yang baik harus mencari Kyuhyun ke dormnya, dan lampiaskanlah kekesalan kalian. Hihi..

Oke, itu aja deh cuap-cuapnya. Jadi, langsung review aja ya.. hihi..

Changkyu..

-Rn-