~*Rn*~
Even if I cry, will it takes my pain away?
If it won't, so why would I do that?
I will not, cry..
At least.. not in front of you.
~*Rn*~
"Min.." Kyuhyun masuk ke dalam rumah tidak lupa menutup pintu. Dia baru saja pulang dari Rumah Sakit sambil membawa sebuah bungkusan di tangannya. Yah, bagaimanapun dia juga harus mengobati orang lain, tidak bisa menjaga Sungmin saja. Lagipula, Sungmin yang terus-terusan meaksanya untuk menjalani pekerjaannya seperti biasa karena Sungmin bilang dia sudah agak sehat dan bisa ditinggal sendiri. Mendengar itu, Kyuhyun tidak punya pilihan lain selain percaya saja.
"Min.." panggil Kyuhyun lagi, Sungmin tidak menyahut. Mungkin sedang tidur, pikir Kyuhyun. Dia hendak naik ke lantai dua saat tanpa sengaja dia melihat Sungmin sedang ada di dapur. Ya, tangga rumah Kyuhyun memang berdekatan dengan dapur, jadi saat akan menaiki tangga harus melewati dapur terlebih dahulu.
Sungmin berdiri sambil menekan pinggang dengan tangan kiri, membelakangi Kyuhyun. Sepertinya dia sedang membuat susu. Kyuhyun segera menghampirinya, memeluknya dari belakang dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mengacungkan bungkusan yang dia bawa ke hadapan Sungmin.
"Strawberry cake, kesukaan tuan putri.."
"Ah, Kyu.. Sudah pulang? Kenapa tidak memanggilku?" tanya Sungmin. Suaranya terdengar sangat pelan, seperti menahan sakit. Kyuhyun yang menyadarinya langsung menatap wajah Sungmin dengan tatapan menyelidik. Sungmin yang merasa risih diperhatikan seperti itu mengernyitkan dahinya.
"Kenapa memandangku begitu?" tanya Sungmin. Kyuhyun meletakkan bungkusan yang dia bawa di sebelah susu yang dibuat Sungmin. Jelas-jelas ada yang salah dari Sungmin. Dia sama sekali tidak mendengar panggilan Kyuhyun, dan dia juga tidak bereaksi saat Kyuhyun memberikannya cake stroberi. Itu tandanya konsentrasi Sungmin sedang terfokus pada hal lain. Dalam kondisi ini sepertinya dia sedang fokus untuk menahan rasa sakit. Kyuhyun tau benar itu.
"Mana yang sakit?" todong Kyuhyun. Sungmin memiringkan kepalanya pertanda heran kenapa Kyuhyun bertanya seperti itu. Padahal jelas-jelas dari tadi tangan kirinya tidak beralih dari pinggangnya, dia masih saja berusaha menyembunyikannya dari Kyuhyun.
"Min, kau sudah janji kan? Sekarang katakan padaku mana yang sakit." Perintah Kyuhyun. Menyadari kalau Kyuhyun tidak bisa dibohongi, Sungmin hanya menundukkan wajahnya.
Sungmin lalu merebahkan tubuhnya ke depan. Kyuhyun kaget, dan dia langsung menangkap tubuh rapuh kekasihnya itu sebelum terhempas keras ke lantai. Sudah dari tadi Sungmin berusaha menguat-nguatkan tubuhnya yang lemas, tapi dengan adanya Kyuhyun dia tidak perlu berpura-pura kuat lagi.
Kyuhyun langsung membopong tubuh Sungmin. Sungmin sekarang tengah berusaha menjaga matanya agar tetap terbuka. Sayu. Matanya sayu, seolah-olah ada beban berat yang memaksa matanya untuk tertutup.
"Min? Kenapa?" tanya Kyuhyun sambil memandang Sungmin yang ada dalam gendongannya.
"Lemas sekali, Kyu.. Pinggangku juga sakit.." jawab Sungmin lemah.
"Kenapa tidak berbaring di tempat tidur saja? Kalau butuh sesuatu kenapa tidak meneleponku, hm?" tanya Kyuhyun bertubu-tubi. Sungmin menutup kelopak matanya, pertanda tidak ingin menjawab pertanyaan Kyuhyun.
Kyuhyun segera membawa Sungmin ke kamar dan membaringkannya di tempat tidur. Sungmin masih menutup matanya, menghindari pertanyaan lain dari Kyuhyun.
"Kenapa memaksakan diri untuk ke dapur? Turun tangga itu bahaya kalau kau sedang lemas begini.." Kyuhyun bertanya sambil merapikan pakaian dan tempat tidur Sungmin. Sungmin lalu membuka matanya.
"Aku pikir dengan minum susu, lemasnya akan berkurang.. Makanya aku membuat susu.." jawab Sungmin lemah. Kyuhyun menghela napasnya.
"Jadi, tadi kau ingin minum susu? Aku buatkan lagi ya?" tawar Kyuhyun. Sungmin lalu mengangguk. "Hm.. Mau makan cake juga?" Sungmin tertawa kecil, lalu mengangguk lagi.
Dengan segera Kyuhyun membuat susu dan memindahkan cake yang dibelinya tadi ke sebuah piring. Dia membawanya ke kamar, dan menemukan Sungmin dalam posisi setengah duduk. Kyuhyun memberikan susu itu pada Sungmin, dan memperhatikan Sungmin meminum susunya.
Kyuhyun tertegun melihat lebam di lengan kanan Sungmin. Dia segera meraba lebam berwarna hijau kebiruan itu. Pada penderita leukemia memang sering terjadi lebam, baik itu diakibatkan benturan ataupun muncul dengan sendirinya karena pendarahan di dalam. Hatinya miris, pikirannya langsung buruk. Apa keadaan Sungmin sudah semakin parah? Kyuhyun hanya mencoba untuk berpikiran positif saja.
"Uhuk.. uhuk.." tiba-tiba Sungmin tersedak, susu yang ada di tangannya tumpah mengotori bajunya. Kyuhyun segera mengambil gelas yang jatuh dari tangan Sungmin dan meletakkannya di atas meja dekat lampu.
"Hati-hati minumnya.." kata Kyuhyun sambil mengelus-elus punggung Sungmin. Sungmin terus saja batuk, seolah-olah tidak akan berhenti. Dia mencengkeram dadanya kuat-kuat.
"Uhuk.. uhuk.. uhuk.." Kyuhyun mulai khawatir. Dia tidak tersedak biasa. Bisa dilihatnya Sungmin susah payah menghela napasnya.
"Min! Min! Kenapa?" Kyuhyun panik, dia merengkuh tubuh Sungmin yang melemas kehabisan oksigen itu.
"Hahh.. Kyu.. Aku.. hh.. tidak.. bisa.. ber..na..pas.." Kyuhyun segera bangkit dari tempat tidur itu, melepaskan rengkuhannya pada tubuh Sungmin. Kyuhyun segera mengambil tabung oksigen yang ada di sudut kamar dekat lemari, mengesetnya, lalu memakaikan masker yang sudah dialiri oksigen itu ke mulut Sungmin.
Kyuhyun membaringkan tubuh Sungmin agar dia lebih mudah bernapas. Sungmin memejamkan matanya, menikmati oksigen yang mengaliri tubuhnya. Sungmin masih tersengal-senagl sambil terus memegangi dadanya.
Kyuhyun melepaskan selimut yang dipakai Sungmin, karena selimut itu terkena tumpahan susu. Begitu juga dengan baju yang Sungmin kenakan. Kyuhyun lalu mengambil sebuah selimut dan piyama Sungmin dari dalam lemari.
Perlahan, Kyuhyun melepaskan baju yang dipakai Sungmin dengan sedikit mengangkat tubuhnya. Kyuhyun lalu sedikit mendudukkan Sungmin agar dia bisa memakaikan piyama yang kering ke tubuh Sungmin. Sungmin hanya patuh, dia tidak memiliki tenaga sekedar untuk membantu Kyuhyun memudahkan usahanya memakaikan baju itu.
Kyuhyun dan Sungmin kini dalam posisi berpelukan, dengan Sungmin bersandar di bahu kanan Kyuhyun. Kyuhyun memakaikan piyama yang bermodel kemeja itu ke tubuh Sungmin. Namun alangkah terkejutnya Kyuhyun melihat lebam yang sama dengan yang ada di lengan Sungmin di punggung putih milik Sungmin.
"Astaga, Min.. Kenapa begini.." Kyuhyun memegang lebam yang ada hampir di sepanjang tulang punggung Sungmin. Hatinya sakit, sangat sakit. Bagaikan ada tangan tidak kasat mata meremas-remasnya sampai hancur sedemikian rupa. Memang, saat dipegang lebam itu tidak sakit. Tapi saat lebam itu terbentuk, pastilah sakitnya sangat menyiksa bagi Sungmin. Tapi dia tidak menunjukkannya pada Kyuhyun.
Airmata Kyuhyun menetes. Katakan dia cengeng, banci, atau apalah. Entah sudah berapa kali Kyuhyun menangis karena Sungmin. Namun dia tidak peduli. Hantinya sakit sekarang, dan menangis adalah satu-satunya hal yang saat ini bisa dia lakukan.
"Pasti sakit sekali, Min.. Kenapa tidak bilang padaku.." Kyuhyun mengelus rambut Sungmin yang masih ada di dalam pelukannya. Bagaimana mungkin Sungmin tidak akan lemas seperti itu kalau sakit yang menderanya tak terperi. Dan lagi, dia tidak menunjukkannya, dia menahannya saja. Rasa sakit yang disembunyikan akan jadi dua kali lebih menyiksa.
Kyuhyun mencium puncak kepala Sungmin yang kini sudah tertidur, sejenak melupakan kalau dia harus memakaikan piyama Sungmin. Kyuhyun memeluk tubuh lemah kekasihnya yang masih susah payah menghela napas itu. Tidak begitu erat, menjaga agar tindakannya tidak menyakiti Sungmin. Dia menangis dalam diam, tidak membiarkan Sungmin tau kekhawatirannya.
"Aku harus bagaimana, Min.. Aku takut sekali.. Kau pasti kesakitan kan? Maaafkan aku.." Kyuhyun berbisik, entah pada siapa. Hatinya galau, dia tidak tega melihat Sungmin seperti itu. Kesakitan, susah bernapas, lemas, belum lagi dia sering muntah-muntah, tidak mau makan, bahkan setelah meminum obat rutinnya dia juga muntah. Bagaimana mungkin kondisinya tidak memburuk?
Ingin rasanya Kyuhyun menggugurkan anak dalam kandungan Sungmin tanpa sepengetahuan kekasihnya itu. Namun yang dia takutkan adalah reaksi Sungmin saat tidak merasakan lagi kehidupan dalam perutnya. Dia pasti terluka, dia akan sedih dan tertekan sehingga memperburuk kesehatannya.
Kyuhyun larut dalam pikirannya sendiri. Airmatanya masih mengalir, dan dia tidak berniat menghapusnya. Dia berpikir, bagaimanapun dia bukanlah dokter kandungan. Dia adalah seorang spesialis penyakit dalam. Dan yang mengerti lebih banyak tentang apa yang terjadi pada Sungmin, tentunya dokter kandungan. Ya, Kyuhyun akan mencoba menghubungi salah seorang temannya yang merupakan dokter kandungan untuk menjaga Sungmin dan bayinya.
"Hahhh.. Kyu.." Kyuhyun tersentak dari pikirannya, mendengar Sungmin yang dengan susah payah memanggil namanya. Sungmin masih dalam posisi menyandarkan dagunya di bahu kanan Kyuhyun.
"Ya? Kenapa, Min?" tanya Kyuhyun, segera menyeka airmata dengan tangan kirinya.
"Dingin.." adu Sungmin. Kyuhyun baru sadar kalau dia belum memakaikan piyama Sungmin.
"Ah, iya.. Aku pakaikan bajumu dulu, ya.." Kyuhyun segera memakaikan piyama itu, dan langsung membaringkan Sungmin di tempat tidur. Dia juga tidak lupa menyelimuti Sungmin dengan selimut yang tebal.
"Kyu, peluk aku ya.." pinta Sungmin lemah, meskipun tertutupi masker oksigen Kyuhyun tetap bisa mendengar permintaannya. Kyuhyun segera berbaring di samping kiri Sungmin, lalu melingkarkan tangan kirinya di pinggang kekasihnya yang manis itu.
"Yang erat dong, Kyu.. Aku dingin.." pinta Sungmin lagi. Kyuhyun patuh, dia mengeratkan pelukannya, menghapus jarak yang ada di antara mereka berdua. Tubuh Kyuhyun miring ke kanan, ke arah kekasihnya.
"Anak kita sudah mulai berat Kyu.." kata Sungmin lemah, dia masih memejamkan matanya. Kyuhyun memandangi wajah pucat kekasihnya itu dengan pandangan sayu. Kyuhyun tidak berniat mengomentari perkataan Sungmin, dia hanya mendengar dalam diam.
"Usianya sudah hampir empat bulan, kau tau kan?" Kyuhyun tertegun. Empat bulan? Secepat itu? Bahkan Sungmin saja masih mengalami morning sick, masa sudah empat bulan saja? Kyuhyun memejamkan matanya sebentar. Empat bulan.. Itu berarti yang akan dihadapi Sungmin ke depannya akan jauh lebih berat lagi. Dan yang pasti, akan jauh lebih menyakitkan.
"Kyu.. jawab aku.. uhuk.." Sungmin terbatuk lagi, dan Kyuhyun segera mengelus dada orang yang dicintainya itu.
"Jangan bicara banyak-banyak.. Bernapas saja baik-baik.." suruh Kyuhyun, sebenarnya menyuruh Sungmin untuk tidak bertanya tentang bayi itu lagi.
Sungmin meletakkan tangannya di atas tangan Kyuhyun. Dia menghela napas berat, matanya tetap tidak terbuka.
"Kadang-kadang.. pinggangku.. sakit.. sekali.." kata Sungmin yang sudah hampir tertidur. Seperti tadi, Kyuhyun diam saja. Dia tidak tau apa yang harus dia katakan.
"Lemas juga.." lanjut Sungmin. Sungmin meletakkan tangan Kyuhyun di perutnya yang sudah membesar. Kyuhyun tersentak, baru pertama kalinya dia merasakan sendiri perut Sungmin yang di dalamnya tumbuh anaknya. Ya, anak Cho Kyuhyun.
"Tapi.. tidak apa-apa.. Aku.. bisa.. tahan..," Sungmin menggerakkan tangannya dengan gerakan memutar, otomatis tangan Kyuhyun juga ikut melakukan gerakan yang sama, "tandanya.. anak kita.. sudah.. tumbuh.. besar.. Ya kan Kyu?" Kyuhyun mengatupkan bibirnya, menjaga agar dia tidak menjawab pertanyaan itu. Hatinya sakit, dia tidak bisa terima. Baginya, yang menyakiti Sungmin itu musuhnya. Dan dengan ini berarti bayi itu juga.
"Kau.. tidur ya?" tanya Sungmin.
"Tidak.." jawab Kyuhyun.
"Kau.. selalu begitu.. Tidak suka.. menjawab.. pertanyaanku.." ingin rasanya Kyuhyun menyuruh Sungmin diam, mendengar kata-kata Sungmin yang terputus-putus menunjukkan seberapa besar usaha Sungmin untuk bicara. Kenapa mesti dipaksakan kalau memang dia sedang tidak sanggup bercerita? Kalau sakit, kenapa tidak diam dan tidur saja? Ah.. Apa memang Kyuhyun harus menjawab pertanyaan bodoh itu?
"Tidurlah.. Kumpulkan tenaga untuk muntah besok pagi." Kata Kyuhyun dengan nada agak sebal. Bukan sebal pada Sungmin, tapi sebal pada makhluk yang menyebabkan Sungmin seperti itu.
Sungmin malah tergelak kecil. Dia memukul pelan tangan Kyuhyun yang ada di bawah tangannya.
"Kau ini.. Itu kan biasa untuk orang hamil.." bela Sungmin. Kyuhyun memutar bola matanya.
"Yah, kalau tidak sampai empat bulan nonstop, dan tidak sampai menyebabkanmu pingsan hampir tiap pagi." Jawab Kyuhyun kesal. Ya, bayi itu selalu menyiksa Sungmin tiap pagi, sampai dia kehabisan tenaga dan hampir tiap pagi itu pula dia pingsan. Untung ada Kyuhyun, dan untung pula di usia ke empat bulan ini tidak terlalu sering membuat Sungmin pingsan.
Yah, memang sih, lama morning sick itu berbeda-beda pada tiap orang, tapi tetap saja Kyuhyun merasa empat bulan itu terlalu lama. Seharusnya kebiasaan morning sick Sungmin sudah berakhir. Nah ini, makan jarang, malah muntah terus. Bagaimana Kyuhyun tidak pusing?
"Demi bayi kita..," Sungmin menghela napasnya, merasa mengantuk, "mati pun aku rela.." Sungmin menutup kelopak matanya, tertidur melepas lelah yang dirasakannya.
"Aku tidak suka kau bicara begitu, Min! Kau tidak akan mati! Kau sendiri yang bilang begitu!" Kyuhyun mulai kesal. Dia menegakkan kepalanya, berusaha menatap wajah Sungmin. Namun yang dia lihat, adalah sosok Sungmin yang tengah menutup matanya, larut dalam alam bawah sadarnya.
"Ah.. Tidur.. Baru saja aku mau marah.." Kyuhyun merebahkan kembali kepalanya di sebelah kepala Sungmin.
"Kau itu kenapa kelas kepala sekali, Min? Aku bilang jangan sembunyikan apapun, kau malah diam saja kalau sakit. Huh.. kau itu.." Kyuhyun mencium kening Sungmin dengan gemas. Dia mengeratkan pelukannya pada Sungmin lagi, lalu menutup matanya.
"Jaljayo, Min.. Semoga setan kecil itu tidak mengganggumu lagi besok pagi.." kata Kyuhyun. Lalu tiba-tiba dia menyadari, kalau anak setan tentulah akan memiliki darah yang sama dengan ayahnya, bukan?
"Ya, dia memang anakku." gumamnya kemudian.
~*Rn*~
I will protect you, I promise.
If I can't do it alone, I will look for help.
I will do anything to keep you with me.
~*Rn*~
Kyuhyun masuk ke dalam sebuah ruangan yang mewah dalam sebuah rumah yang sangat besar. Bahkan lebih besar daripada rumahnya. Dia duduk di sofa yang empuk berwarna putih gading, dan di depannya terdapat meja yang terbuat dari kaca. Ruangan itu sangat luas, lantainya diselimuti permadani yang mewah dan pastinya mahal. Ruangan itu bergaya Eropa klasik, dindingnya berwarna coklat pastel. Kyuhyun masih memandang ke sekelilingnya saat sosok yang ia tunggu datang.
"Hei bro?" sapa orang itu sambil mengulurkan tangan berototnya pada Kyuhyun. Kyuhyun berdiri dari posisi duduknya lalu menyambut uluran tangan itu. Mereka melakukan semacam toss anak muda yang sudah mereka hapal di luar kepala.
"Bro, you are skinnier, don't you think so? Your eyes are like Panda's. What's up? I bet you are in a big problem. Or.. Don't say those panda eyes just because playing games overtime? Huh?" orang itu duduk di sofa sambil memberondong Kyuhyun dengan pertanyaan dalam bahasa Inggris.
"Oh, c'mon man.. Aku tau kau kuliah di luar negeri, Hyung, tapi jangan uji kemampuan bahasa Inggrisku." Kata Kyuhyun membuat pria tampan itu tersenyum memperlihatkan lesung pipinya yang oversize itu.
"Oh, mianhamnida. Jadi, ada apa tiba-tiba mencariku? Kangen? Atau... kau sudah punya istri ya? Dan istrimu sedang hamil kan? Makanya kau mencariku?" lagi-lagi orang itu mengajukan bertubi-tubi pertanyaan pada Kyuhyun, membuatnya kewalahan untuk menjawabnya.
"Hah.. Kau belum berubah, Hyung.. Masih saja talkative seperti dulu." Kata Kyuhyun. Dan mungkin orang itu menganggapnya sebagai pujian, makanya dia tertawa bangga seperti itu.
"Haha.. Sudah kubilang kan, di manapun aku kuliah, aku akan tetap mejadi Choi Siwon yang dulu.. Haha.." Kyuhyun hanya mengangguk-angguk.
"Yah, seperti yang Hyung bilang tadi, aku.."
"Kau jahat sekali menikah tidak mengundangku! Kau memang sudah beristri, kan? Sudah berapa bulan istrimu hamil?" Ah, Siwon ini memang susah diajak bicara.
"Bisakan Hyung mendengar pembicaraanku dan tidak memotongnya dengan berondongan pertanyaan seperti itu?" Kyuhyun mulai kesal. Siwon tersenyum dipaksakan sambil membuat lampang V dengan telunjuk dan jari tengahnya.
Kyuhyun menghela napasnya, mempersiapkan untuk bicara panjang. "Pertama, aku memang dalam masalah berat. Kedua, aku sudah tidak bermain game lagi. Tiga, aku belum menikah. Empat, aku punya kekasih. Dan lima, kekasihku memang sedang hamil." Kyuhyun menyudahi pembicaraannya. "Oh, satu lagi. Pakailah banmal untuk bicara denganku."
Siwon terlihat kaget. "Kau menghamili kekasihmu di luar nikah?" tanyanya dengan mata membesar.
"Yup!" jawab Kyuhyun santai.
"Dan kau bisa sesantai ini?" lanjut Siwon. Kyuhyun mengangguk, lagi-lagi dengan gaya santai. Siwon menganga tidak percaya.
"Oh, c'mon Hyung, katanya kau kuliah di luar negeri, bukannya ini hal yang biasa?" kata Kyuhyun sedikit sebal dengan reaksi berlebihan Siwon.
"Biasa bagaimana? Itu dosa, kau mengerti? Kau menghamili anak gadis orang tanpa menikahinya terlebih dahulu, dan kau berdosa! Ah.. Kau benar-benar harus membuat pengakuan dosa, Cho Kyuhyun!" celoteh Siwon, si anak Gereja. Seolah-olah Kyuhyun itu adalah ahli neraka yang dosanya sudah menggunung.
"Ah, Hyung.. Bisakah kau tidak memandangku sebagai pendosa begitu?" lama-lama Kyuhyun risih juga dipandangi seolah-olah dia adalah narapidana.
"Oh, oke.. Oke.. Itu tergantung prinsip masing-masing.. Jadi, siapa nama kekasihmu itu?" tanya Siwon, "apa aku mengenalnya?"
"Hm.. Sepertinya tidak. Namanya Lee Sungmin." Jawab Kyuhyun. Siwon sedikit mengernyitkan dahinya.
"Lee Sungmin?" tanya Siwon. "Sudah berapa bulan usia kandungannya?" lanjutnya.
"Empat bulan."
"Lalu, apa masalahmu? Kau mau aku mengatakan pada orang tuamu kalau kau tidak menghamilinya? Atau kau sedang diteror keluarganya sekarang karena tidak bertanggung jawab?" tuduh Siwon.
"HYUNG! Berhentilah menanyakan hal-hal yang membuatku merasa sebagai ahli neraka! Aku tidak seburuk itu!" Kyuhyun kesal, dia sudah berusaha menahan-nahan emosinya.
"Oh, oke.. Mianhamnida.. Jadi, apa keluhannya?" tanya Siwon. Kyuhyun menghela napasnya.
"Dia.. dia.. pasien leukemia, Hyung.."
"MWO?" tanpa sadar Siwon berteriak. Kyuhyun menutup telinganya. "Kau tega menghamili gadis yang menderita leukemia? Hah.. Justru kalau aku menganggapmu BUKAN pendosa, malah aku yang keliru!" Siwon menekankan di kata 'bukan'.
"Jangan berteriak, pabo-ya Siwonnie.. Aku juga tidak menyangka dia akan hamil.." Kyuhyun berusaha membela dirinya.
"Bagaimana mungkin tidak menyangka! Kau itu laki-laki, dan dia perempuan. Bagaimanapun, seaman apapun pengaman yang kalian berdua pergunakan, pasti ada kemungkinan untuk hamil. Kau itu lulus tidak sih? Itu saja kau tidak tau. Jangan-jangan kau lulus pakai sogokan ya?" tuduh Siwon, lagi dan lagi. Kyuhyun hanya menghela napasnya, menyadari kalau bicara Hyung-nya itu tidak bisa dihentikan.
"Jangan sembarangan bicara! Begini-begini aku lulusan terbaik, Hyung!" pamer Kyuhyun.
"Oh ya? Kalau begini hasilnya aku tidak terkesan!" kata Siwon. Dia sepertinya terlanjur memandang buruk pada Kyuhyun.
"Ya, bagaimana aku akan menyangka dia hamil...," Kyuhyun mengatur kalimat yang akan dia utarakan. Juga menyiapkan mental untuk menerima kata-kata Siwon yang lumayan menyakitkan itu, "dia... dia..." Siwon memandang Kyuhyun dengan tatapan menunggu, "dia laki-laki."
"MMWWWOOOO?" Yah, sesuai dugaan Kyuhyun, Siwon akan jauh lebih histeris.
"Ah, Hyung.. Berhentilah berteriak.." kata Kyuhyun. Siwon masih melebarkan matanya, masih shock dengan apa yang baru didengarnya.
"Kau... gay?" tanya Siwon sedikit melunakkan suaranya. Ternyata dia masih bisa mengontrol dirinya.
"Mungkin.." jawab Kyuhyun diiringi dengan bahu yang terangkat. Siwon menyandarkan badannya ke sandaran sofa, berusaha memulihkan dirinya dari shock.
"Kau benar-benar pendosa, Cho Kyuhyun.. Kau menghamili orang di luar nikah, dia menderita leukemia, dan dia... laki-laki.. Jinjja.. Ah..." Siwon menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Jadi, Hyung mau membantuku tidak?" tanya Kyuhyun pada Siwon yang kini sudah lebih dari over akting. Siwon yang sudah berusaha bangun dari shock, segera mengangguk.
"Setidaknya, biarkan aku melihat kondisinya dulu.." kata Siwon. Kyuhyun tersenyum pada Hyung yang merupakan Sunbae-nya semasa SMA itu, dibalas dengan tatapan risih dari Siwon seolah-olah menuding Kyuhyun sebagai pendosa. Kyuhyun terima-terima saja. Yah, demi Sungmin..
~*Rn*~
Lee Sungmin, I promise you we will win over this destiny.
~*Rn*~
Oke, kayaknya batal deh FF ini jadi 5 chapter.. Kayaknya bakal lebih panjang. Aku masih belum bisa balas review, nanti aja ya di chapter terakhir.. Yang harus reader tau, aku dapet banyak banget semangat dari review reader semuanya.. Gamsahamnida.. *hug, kissu, semuanya dah*
Awalnya aku pengen ceritanya KYUMIN saja, tapi apa daya si Siwon kita butuhin di sini. Gak papa kan? Emang udah takdir si Kuda jadi orang ketiga terus.. *plaaakkk!*
Nah, reader voting dong FF ini mau ending yang kayak gimana? Sad end atau hepi end? Votingnya sangat dibutuhkan lho...
Oke, gak akan banyak bacot.. Langsung review aja deh ya.. hehe..
-Rn-
