~*Rn*~
Why does everyone wants to take my baby away?
~*Rn*~
"Min.." Kyuhyun masuk ke dalam rumah besar dan mewahnya diikuti oleh Siwon di belakangnya. Siwon hanya mengikuti langkah Kyuhyun, tanpa berkata sepatah pun.
Kyuhyun langsung membawa Siwon ke dalam kamarnya, namun saat Kyuhyun melewati ruang keluarga, dia mendapati Sungmin sedang duduk di sofa menonton TV sambil memegang satu cup es krim stroberi. Kyuhyun tersenyum melihat kekasihnya itu duduk dengan kedua kaki dilipat dan sekali-sekali menyendokkan es krim ke mulutnya.
"Min.." panggil Kyuhyun. Yang dipanggil segera melihat ke arah suara dan tersenyum manis. Di sekitar mulut bibir Sungmin terdapat es krim yang belepotan. Kyuhyun segera mendekatinya, merengkuh kepalanya dengan gerakan lembut, lalu membersihkan sisa-sisa es krim di mulut Sungmin dengan bibirnya.
Siwon agak terkejut juga melihat aksi Kyuhyun yang sepertinya tidak peduli sama sekali kalau ada orang lain yang menyaksikan adegan intimnya dengan kekasihnya itu.
"Manis sekali.." kata Kyuhyun setelah melepaskan tautan bibir mereka. Sungmin tersenyum sambil menatap Kyuhyun, dan itu membuat Kyuhyun gemas sehingga satu kecupan lagi mendarat di bibir manis milik Sungmin.
"Woi!" Siwon memukul punggung Kyuhyun. Tidak keras memang, tapi cukup untuk membawa Kyuhyun dari alam mesumnya ke dunia nyata.
Kyuhyun mendelik kesal ke arah Siwon, dan Siwon membalasnya dengan melebarkan mata, berusaha terlihat lebih seram daripada Kyuhyun.
"Halo Sungmin-ssi.." Siwon segera mengalihkan pandangannya pada Sungmin. Sungmin tersenyum padanya, dan Siwon menjulurkan tangannya untuk sebuah jabat tangan. Dengan senang hati, Sungmin menyambut uluran tangan itu. Di luar dugaan, itu bukanlah sebuah jabat tangan sesama lelaki, tapi jabat tangan disertai dengan kecupannya di punggung tangan Sungmin.
"Choi Siwon imnida. Kau.. manis sekali.." puji Siwon. Sungmin tersenyum dengan polosnya.
Berbeda dengan Sungmin, Kyuhyun yang ada di belakang Siwon kepalanya sudah berasap menahan marah. Dengan segera dia memutuskan jabatan tangan mesra antara Sungmin dan Siwon.
"Siwon Hyung! KAU GAY YA?" Kyuhyun berteriak di depan muka Siwon, dan Siwon terkikik geli. Kyuhyun memang paling mudah dibuat marah. Dia itu posesif. Benda kesayangannya tidak boleh dipegang oleh orang lain. Baik itu PSP, nintendo, PS3, dan sekarang.. Sungmin.
Wah, aku tidak menyangka kalau Sungmin-mu itu semanis dia. Kalau untuknya.. hm.. sepertinya jadi gay juga tidak masalah. Hahaha.." Siwon tertawa keras, apalagi setelah melihat wajah Kyuhyun yang kian memerah. Kyuhyun mengepalkan kedua tangannya.
"Choi Siwon, kau benar-benar telah berdosa! Kau menyukai laki-laki dan KAU MENYUKAI SUNGMIN-KU! Itu berdosa! AISHH!" kata Kyuhyun meledak-ledak.
Mendengar itu malah suara tawa Siwon semakin keras. Sungmin yang tidak mengerti hanya menonton kejadian itu sambil sesekali menyuap es krimnya. Yah, lumayan lah. Lebih seru daripada sinetron di televisi.
"Hahaha.. Kau itu tidak berubah juga. Ayo cepat kenalkan aku pada Sungmin!" perintah Siwon. Kyuhyun yang masih kesal terpaksa meredam amarahnya.
"Min, ini Choi Siwon. Dia temanku waktu SMA. Dia ini dokter kandungan." Jelas Kyuhyun. Sungmin memandang Siwon dari bawah ke atas dan Siwon melambai-lambaikan tangannya pada Sungmin. Sungmin tertawa saja karena itu.
"Kau mau membantu merawat anakku, kan?" tanya Sungmin.
"Hm.. Bisa dibilang begitu. Tapi aku harus periksa dulu, bagaimana?" tanya Siwon.
"Oke. Sekarang saja!" Sungmin langsung meletakkan cup es krimnya di atas meja dan segera berdiri. Dia kelihatan sangat excited.
"Hm.. Oke, di kamar saja bagaimana?" tanya Siwon pada Sungmin sambil melirik-lirik jahil ke arah Kyuhyun.
"Ayo!" Sungmin lalu menarik tangan Siwon ke kamarnya. Kyuhyun terbelalak melihat pemandangan itu, dan segera menyusul mereka.
"CHOI SIWON! JANGAN MACAM-MACAM PADA ISTRIKUUUU.." Kyuhyun segera masuk ke dalam kamarnya.
Dia mendapati Sungmin yang berbaring di atas tempat tidur dengan baju ditarik ke atas sehingga terbuka di bagian perutnya. Kyuhyun tertegun. Dia belum pernah secara langung melihat perut Sungmin setelah dia dinyatakan hamil.
Ternyata anak itu memang ada di sana, dan dia bertambah besar dari waktu ke waktu.
Siwon menggunakan stetoskop untuk mengecek janin di dalam perut Sungmin, sedangkan Sungmin hanya memandangi Siwon yang sedang serius melakukan pekerjaannya. Kyuhyun perlahan mendekat, dan duduk di sisi kanan tempat tidur, berseberangan dengan Siwon. Sungmin lalu beralih menatap Kyuhyun.
Sungmin memegang tangan Kyuhyun, lalu menggenggamnya. Kyuhyun menatap Sungmin dengan tatapan yang menyiratkan 'everything will be okay', dan tatapan itu bisa menenangkan Sungmin.
Alis Siwon sedikit bertaut, dia memasang wajah yang menyiratkan kalau ada sesuatu yang salah sedang terjadi.
"Kenapa?" tanya Kyuhyun. Siwon melepaskan stetoskop dari telinganya. Kyuhyun dapat melihat Siwon menghela napasnya berat.
"Aku ambil sampel darah, boleh?" tanya Siwon, entah pada Sungmin atau Kyuhyun. Sungmin segera mengangguk pasti.
Hanya sampel darah saja, kan? Sudah biasa untuk Sungmin.
Siwon mengambil sebuah alat injeksi dari tas kerjanya, membuka plastiknya, lalu menancapkannya ke lengan Sungmin. Sungmin sedikit meringis, namun Kyuhyun kemudian menempelkan bibirnya ke bibir Sungmin, mengalihkan perhatian Sungmin dari rasa sakitnya.
Setelah merasa darah yang dia ambil cukup, Siwon mencabut jarum suntiknya dari kulit Sungmin, namun Kyuhyun sepertinya tidak berniat melepaskan bibirnya dari bibir Sungmin. Siwon berdecak, lalu memukul pundak Kyuhyun.
"Woi! Sudah selesai! Selesaikan juga ciumannya! Aishh.."
Kyuhyun terkejut, dan akhirnya membebaskan bibir Sungmin dari kungkungan bibirnya. Dia menghapus bibir Sungmin yang basah, lalu menghapus bibirnya juga. Dia tertawa dengan tampang bodoh pada Siwon, dibalas tawa sinis dari Siwon.
Kyuhyun segera merapikan baju Sungmin, lalu menarik kekasihnya itu ke pelukannya. Sungmin sih biasa-biasa saja, tapi Siwon hampir tertawa keras dengan tindakan protektif Kyuhyun itu. Kyuhyun seperti anak kecil yang memeluk erat mainannya, takut diambil oleh orang lain.
Kyuhyun menatap Siwon yang sedang membereskan peralatan kerjanya ke dalam tas dengan tatapan seolah-olah Siwon sudah bersiap akan mengambil Sungmin darinya. Siwon sebenarnya tau Kyuhyun sedang menatapnya, tapi dia mengabaikannya saja.
"Kyu, erat sekali.. Kau bisa menyakiti bayiku!" Sungmin segera mendorong
tubuh Kyuhyun dengan kasar karena Kyuhyun memakai sebagian besar tenaganya untuk memeluk Sungmin, sampai Sungmin merasa perutnya tertekan.
"Eh, mianhae.." Kyuhyun hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Sungmin sibuk mengelus-elus perutnya, seolah-olah Kyuhyun benar-benar menyakiti bayi yang ada dalam kandungannya. Siwon terkikik geli, dan Kyuhyun memandangnya sinis.
"Eh, aku mau bicara padamu." Kata Siwon pada Kyuhyun. "Di luar saja."
Siwon segera keluar dari kamar itu.
Kyuhyun menatap Sungmin yang juga sedang menatapnya. "Istirahat saja dulu, okey? Aku mau bicara pada Siwon dulu." Kyuhyun mengecup kening Sungmin, lalu mengikuti Siwon ke ruang tengah.
Kyuhyun duduk di sofa berseberangan dengan Siwon. Raut muka Siwon sepertinya tidak menyiratkan hal yang baik, dan itu menciptakan prasangka buruk pada diri Kyuhyun.
"Kenapa, Hyung? Ada apa?" tanya Kyuhyun sarat kekhawatiran. Siwon menghela napasnya, dan sepertinya dia sedang menyusun kalimat yang akan dia sampaikan kepada Kyuhyun, agar terdengar sebijaksana mungkin.
"Ternyata leukemia yang diderita Sungmin.. lebih parah daripada dugaanku." Kata Siwon sambil menatap Kyuhyun dengan tatapan prihatin.
Kyuhyun menunduk, merasakan keputusasaan mulai merayap pada dirinya. "Jadi bagaimana?" tanyanya pelan. Dia sedang mempersiapkan dirinya dengan keputusan terburuk dari Siwon.
"Kau tahu kan kalau kasus Sungmin ini langka sekali. Dia laki-laki, dan hormonnya tentu tidak sama dengan perempuan. Perlu kekuatan fisik yang lebih, Kyu.."
"Apa... ini berita buruk?" tanya Kyuhyun, bahkan lebih pelan dari sebelumnya.
"Saat ini.. bisa dibilang begitu."
Kyuhyun tertohok. Jantungnya sakit, sangat sakit. Apa lagi yang akan terjadi pada Sungminnya? Dia tidak berani menebak-nebak, bahkan berpikir saja dia tidak mau.
Siwon memandang Kyuhyun yang saat ini tengah menatap lantai dengan diliputi aura kesedihan. Dia mengerti apa yang dirasakan Kyuhyun. Yah, meskipun dia tidak pernah merasakannya, tapi kesedihan itu sangat tergambar dari raut wajah Kyuhyun. Sakit yang sangat, yang tidak bisa dijelaskan, dan sakit itu menular pada orang yang menatapnya.
Bahu Kyuhyun bergetar. Dia menangis. Di depan orang yang sudah dia anggap sebagai kakaknya sendiri, dia tidak perlu berpura-pura kuat, kan?
Siwon segera menghampiri Kyuhyun, dia duduk di samping orang yang dia anggap adik itu. Siwon merangkul bahu Kyuhyun, mencoba menenangkan.
"Pertama kali dalam hidupku, Hyung.. Ini cinta yang pertama dalam hidupku. Pertama kalinya hatiku merasa tenang saat melihat senyum seseorang. Pertama kalinya jantungku sakit saat melihat pasienku kesakitan. Aku sangat mencintainya Hyung.. Aku sangat mencintai Sungmin.. Demi Tuhan, aku mencintai Sungmin.." Kyuhyun terus bercerita sambil menangis.
Siwon terdiam. Bukan karena tidak tau harus mengatakan apa, tapi justru karena terlalu banyak hal buruk yang akan dikatakannya.
"Sungmin menginginkan bayi itu, Hyung.. Dia bahkan berjanji untuk sembuh padaku agar aku mau mengizinkannya merawat bayi itu.."
Siwon menggeleng pelan. "Itu bukan keputusan yang benar, kau tau?" suara Siwon lunak, tidak bermaksud untuk menghakimi. Namun di telinga Kyuhyun seolah-olah perkataan itu adalah sebuah tuduhan telak yang tidak bisa ditolak.
"Aku tau.. Aku bodoh.. Aku hanya tidak bisa melihatnya memohon sambil menangis. Dia benar-benar ingin anak itu, aku bisa merasakannya.. Lalu sekarang bagaimana Hyung? Semuanya sudah terlanjur.."
Siwon memijit pelipisnya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanan masih mengelus punggung Kyuhyun.
"Situasi ini sangat sulit, Kyu..," ingin rasanya Kyuhyun menutup telinganya dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan disampaikan Siwon padanya. Tapi bagaimana? Dia harus kuat, setidaknya untuk membuat Sungmin kuat.
"Hyung, tolong Sungminku... Jebal.."
siapapun yang mendengar permohonan Kyuhyun itu pasti tidak akan bisa menolaknya. Permohonan itu terdengar sangat tulus, dengan nada yang begitu membuat terluka. Tapi Siwon harus membantu Kyuhyun berpikir realistis, dia tidak boleh memberi harapan kosong pada Kyuhyun.
"Dengar, Kyu.. Ini sulit. Walaupun Sungmin menginginkannya, kau tau dia akan sangat tersiksa. Leukemia sudah cukup membuatnya kesakitan, apalagi kalau ditambah dengan janin yang ada dalam kandungannya. Coba bayangkan, Kyu.. Aku saja takut memikirkannya.."
Kyuhyun menangis semakin keras. Dia tidak peduli lagi apakah Sungmin akan mendengarnya atau tidak. Hatinya sakit, dia merasa bersalah, merasa takut, merasa khawatir. Entah bagaimana lagi seharusnya dia mengutarakan emosinya. Dia sudah tidak tau lagi apa yang bisa dia lakukan selain menangis.
Siwon merasakan sakit juga melihat bahu Kyuhyun yang terus bergetar karena tangis yang berusaha keras dia redam.
"Hyung.. Ya Tuhan, hyung.. Sakit sekali rasanya, kau harus tau.." Kyuhyun terus terisak, dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Aku mengerti.." ucap Siwon pelan. Kyuhyun mendongakkan kepalanya, menatap Siwon dengan matanya yang merah dan basah.
"Kalau kau mengerti tolong selamatkan Sungminku! Buat dia bersamaku selamanya!" emosi Kyuhyun meninggi. Rasa takutnya kini sudah bertransformasi jadi kemarahan.
"Ada syaratnya."
"Apa? Apa syaratnya?" mata Kyuhyun bersinar, seolah-olah di sana secara perlahan tumbuh harapan.
Siwon menghela napas. Sebenarnya syarat ini akan sulit untuk diwujudkan Kyuhyun maupun Sungmin. Tapi untuk keinginan Kyuhyun, satu-satunya cara yang bisa dia ajukan adalah ini. Hanya ini saja.
"Gugurkan kandungan Sungmin."
DEG!
Kyuhyun tertegun. Inilah satu-satunya hal yang berusaha dia hapus dari pikirannya. Ya, menggugurkan kandungan Sungmin adalah hal yang hampir mustahil dia lakukan. Dia tidak akan pernah membuat Sungmin sedih, dan menggugurkan kandungannya bahkan akan mengambil separoh nyawa Sungmin.
"Tidak.." Kyuhyun menggeleng sambil bergumam lemah. "Tidak.. aku tidak bisa.."
"Ini satu-satunya cara untuk membuat Sungmin hidup lebih lama, Kyu. Dengan leukemia yang dideritanya, dia tidak mungkin bisa mempertahankan bayi itu sampai lahir nanti. Dan kalaupun dia bisa.. kemungkinan besar bayinya juga akan mengidap leukemia.." jelas Siwon.
Kyuhyun tau. Dia tau hal itu, tapi selama ini dia menyangkalnya dalam hati. Kyuhyun hanya ingin melihat Sungmin bahagia, makanya dia tidak pernah mengatakan kemungkinan buruk itu pada Sungmin. Siapa yang tau apa yang akan terjadi pada Sungmin nantinya jika dia tau apa yang akan menimpa bayinya nanti?
"Itu satu-satunya cara, Kyu. Meskipun menggugurkan kandungannya itu—"
"Apa?"
Kyuhyun kaget mendengar suara yang sangat familiar baginya iitu. Dia langsung menengok ke belakang, ke arah suara itu. Betapa kalutnya di saat melihat sosok Sungmin tengah berdiri di sana dengan mata yang sudah memerah dan basah.
"Min..." Kyuhyun dan Siwon segera berdiri dari posisi duduk mereka, sedangkan Sungmin masih berdiri di tempatnya semula dengan tangan kiri bertopang pada dinding dan tangan kanan memegangi perutnya.
"Ke.. kenapa?"
satu-satu airmata mulai jatuh dari kedua mata indah milik Sungmin. Kyuhyun segera menghampiri Sungmin dan bermaksud untuk memeluk tubuh rapuh itu, tapi Sungmin menolak.
Sungmin mencengkeram kaos bagian perutnya. Dia mendengar jelas semua yang dibicarakan Siwon dan Kyuhyun, dan kata-kata itu jelas menyakitinya. Hati Sungmin sakit, dan kata-kata itu tetap saja berputar-putar di otaknya bagaikan sebuah rekaman, membuat rasa sakitnya semakin lama semakin menyiksa.
Kenyataan pahit yang terpaksa dia dengar dan dia telan bulat-bulat. Kenapa Kyuhyun tidak mengatakan hal itu padanya? Kenapa penyakit leukemia itu bisa menular pada janinnya? Kenapa yang menderita leukemia itu harus dia? Kenapa.. Semua pertanyaan itu terus bergulir dalam otak Sungmin.
"Min.. Dengarkan aku.." Kyuhyun masih terus berusaha merengkuh Sungmin ke dalam pelukannya, namun sesering apa Kyuhyun mengulurkan tangannya, sesering itu pula Sungmin menepis uluran itu.
Sungmin menangis terisak-isak. Sakit yang dia rasakan kini berbeda dengan sakit yang biasa dia derita. Sakit ini ada di dalam hatinya, menjalar ke jantung seolah-olah bisa melumpuhkan denyutnya. Sungmin menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha meredam tangisannya.
Kaki Sungmin melemah, tidak bisa lagi menopang berat badannya. Dia menjatuhkan badannya pelan, lalu menangis sambil menundukkan wajahnya. Kyuhyun ikut berlutut di samping Sungmin. Tidak terisak, namun kesedihan jelas terukir dari airmata yang senantiasa mengalir dari kedua matanya.
Siwon hanya terdiam, merasa bersalah atas kata-katanya yang tanpa disangka akan didengar Sungmin, dan menyakiti pria rapuh itu sebegitu dalamnya. Pemandangan yang ada di depannya sangat miris, Sungmin terduduk di lantai sedangkan Kyuhyun berlutut di sebelahnya. Mereka berdua menangis, terluka karena takdir.
"Kenapa.. Kenapa kalian ingin sekali mengambil bayiku? Kenapa kalian tidak bisa membiarkan aku bahagia sedikit saja? Kenapa begini.." Sungmin bicara dalam tangisnya. Nada itu lirih, dan sangat pedih.
"Aku hanya ingin bersamamu lebih lama, Min.. Hanya itu.." Kyuhyun kembali mengulurkan tangannya, kali ini untuk menghapus airmata di pipi Sungmin.
"Jangan menyentuhku.. Jangan lagi.."
Lagi. Kyuhyun mendapatkan penolakan lagi dari Sungmin, seperti dulu. Penolakan Sungmin selalu menjadi hal yang akan menyakiti Kyuhyun, apalagi dengan pemandangan yang memilukan seperti yang ada di hadapannya sekarang.
Kyuhyun tidak bisa lagi. Dia tidak bisa menahan kedua tangannya untuk tidak melingkar pada tubuh rapuh Sungmin. Dia merengkuh Sungmin walaupun Sungmin terus memberontak. Dia mengunci gerakan Sungmin di dalam pelukannya, seolah-olah menyuruh Sungmin untuk setidaknya percaya padanya.
Sungmin memberontak, dia memukul dada Kyuhyun dengan kepalan tangannya yang lemah itu. Semakin lama, dia sadar kalau pukulannya bahkan tidak terasa bagi Kyuhyun, sedangkan tenaganya untuk melawan sudah terkuras habis. Sungmin menyerah dalam rengkuhan kekasihnya. Sungmin menangis di dada Kyuhyun, sambil mencengkeram kaos bagian dada Kyuhyun.
Kyuhyun menenggelamkan wajahnya di helaian rambut hitam legam milik Sungmin, menghirup aroma yang bisa menenangkan kegalauan hatinya itu. Dia mengeratkan pelukannya pada tubuh Sungmin, memberitahu Sungmin bahwa dia tidak sendirian. Ada Kyuhyun, ada orang yang bisa dia jadikan sandaran hatinya.
"Kau.. harus ingat, Kyu.. Kalau kau membunuh anakku, aku.. aku akan ikut mati bersamanya.."
Kyuhyun tertegun. Ya, ini hal yang sudah dia prediksi. Sungmin akan mengorbankan nyawanya untuk mempertahankan bayi itu. Dan merenggut bayi itu, sama artinya dengan merenggut kehidupan Sungmin. Kehidupan Sungmin, artinya kehidupan Kyuhyun juga.
"Jangan lakukan itu padaku, Kyu.. Jangan.. Aku mohon.." jantung Kyuhyun terasa tercabik-cabik mendengar permohonan Sungmin. Sakit itu bertubi-tubi, dan tidak kunjung berhenti.
Melihat takdir yang sedemikian kejamnya bagi mereka, apa Siwon tidak bisa melakukan apa-apa? Apa Siwon harus diam saja sedangkan orang yang dia anggap sebagai adiknya itu—Kyuhyun—tengah galau karena tangisan orang yang dia cintai?
Tidak. Siwon tidak bisa hanya diam saja. Bagaimanapun, memberikan harapan baru atas kesembuhan dan kebahagiaan pada orang lain adalah tugas seorang dokter. Dan Siwon, sebagai seseorang yang sangat menjunjung tinggi profesinya harus melakukan itu sekarang. Memberikan harapan baru untuk Sungmin, dan juga Kyuhyun.
Kyuhyun melepaskan pelukannya, dan menangkup wajah Sungmin dengan kedua tangannya. Sungmin memejamkan matanya, tidak ingin menatap wajah Kyuhyun.
Kyuhyun mengecup kelopak mata kanan Sungmin, dilanjutkan dengan kelopak mata kirinya. Kyuhyun kemudian mengangkat tubuh Sungmin bridal style. Sungmin tidak bergeming, dia bahkan tidak bergerak. Dia biarkan saja Kyuhyun melakukan apapun padanya.
Kyuhyun menatap Siwon, seolah-olah sedang memberikan isyarat bahwa dia akan membawa Sungmin masuk ke dalam kamar. Siwon mengangguk, dia juga masih ragu dengan keputusan yang baru saja dibuatnya.
Kyuhyun masuk ke dalam kamar, lalu membaringkan Sungmin di tempat tidur. Kyuhyun lalu berbaring di samping Sungmin dan memeluk pinggang Sungmin dalam sebuah gerakan melindungi. Kyuhyun merengkuh lagi tubuh Sungmin sehingga posisi tubuh mereka berhadapan. Kyuhyun membenamkan wajah Sungmin di dadanya, dan satu tangannya membelai rambut hitam Sungmin.
Ijen ne anhe geu sowon damasseo
Geudae himdeuro jimyeon jageun son jabajulkke yo..
(Sekarang, ada sebuah harapan dalam diriku,
Bila ini terlalu sulit untukmu, biarkan aku menggenggam tangan kecilmu..)
Kyuhyun mulai meyanyikan sebuah lagu untuk Sungmin. Judulnya Wish, harapan. Harapan-harapan Kyuhyun atas diri Sungmin. Lagu yang bisa mencerminkan suasana hati Kyuhyun, dan lagu itu Kyuhyun yakini bisa menenangkan Sungmin.
Geudaeui maeume naega eoptjyo..
Heomhan saesangi wonhadeushi ddo honjara mijyo..
(Aku tidak berada dalam hatimu, kan?
Kau percaya kalau di dunia ini kau hanya sendiri,
Seperti yang diinginkan oleh dunia yang kejam ini..)
Kyuhyun terus menyanyikan lagu itu, lagu kesukaan Sungmin.
Perlahan, hati Sungmin yang tadinya galau menjadi sedikit tenang. Suara Kyuhyun, adalah suara yang paling dia sukai di dunia.
So easily mamnoha shirin gaseum boimyeon..
Wiroga dwae julkkeyo gwaencanhayo
Dureopji anhke..
(Sangat mudah membawa hatimu ke dalam kesusahan.
Namun jika hatimu yang dingin terlihat, biarkan aku menenangkanmu ya?
Jangan takut..)
Sungmin belum tertidur, namun napasnya sudah teratur. Dia sudah tidak menangis lagi, namun isakannya sekali-sekali masih terdengar.
Oh love is strong nollajin mayo mideoyo..
Eoneunsae.. Maldo mothal sesangi daga oneunde..
(Cinta itu kuat.. Berhentilah bermain, dan percayalah padaku..
Dunia dimana kau bahkan tidak bisa berbicara akan segera datang..)
Sungmin menarik sedikit kaos yang dipakai Kyuhyun, menenggelamkan wajanya lebih dalam ke dada kekasihnya agar dia lebih leluasa mendengar detakan jantung yang menenangkannya itu.
Neoreul boryeodun geu eodu-un gil soge
Hemaeda igyeo naendamyeon jogeumshik..
Geudae salmeun dallajigetjyo..
(Kau berjalan mengelilingi jalan gelap yang membuangmu,
Jika kau memulihkannya, sedikit demi sedikit hidupmu akan berubah..)
Kyuhyun mengecup puncak kepala kekasihnya sebelum melanjutkan nyanyian itu.
Ddaeron jichyeo sseureojyogado eonjena meomul su itge
Apeseo itneun naega boinayo..
You do not cry anymore..
(Walaupun sesekali aku terjatuh, aku bisa bertahan..
Bisakah kau melihatku yang ada di depanmu sekarang?
Jangan menangis lagi..)
Sungmin sudah tertidur, napasnya berhembus secara teratur. Kyuhyun menarik selimut sampai sebatas dada Sungmin, lalu dia meninggalkan Sungmin di kamar untuk menemui Siwon yang masih ada di ruang tamu.
Siwon sedang duduk sambil memainkan telepon selulernya saat Kyuhyun duduk di sebelahnya. Kyuhyun menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dan menghela napas panjang dan lelah. Ya. Dia lelah karena takdir ini tidak kunjung memberinya kesempatan untuk tersenyum.
"Baru pertama kalinya, aku melihatmu menangis sesedih itu.." kata Siwon sambil memandang Kyuhyun yang sedang melihat ke langit-langit rumahnya. "Bahkan saat ibumu meninggal dulu, kau tidak menangis sepilu itu.." lanjut Siwon.
Kyuhyun tersenyum getir. Kesedihan terbesar yang pernah ada dalam hidupnya adalah kehilangan ibunya. Ya, Kyuhyun sangat sedih dan perlu waktu lama untuknya agar bisa melupakan kesedihannya itu. Namun saat itu boleh dikatakan dia tidak menangis. Karena apa? Karena orang yang sudah meninggal tidak akan bisa hidup lagi, kan? Kalaupun dia menangis, percuma saja.
Dalam kasus Sungmin, tentu saja berbeda. Cinta Kyuhyun pada Sungmin dan cinta Kyuhyun pada ibunya bisa disetarakan.
Kenapa Kyuhyun menangisi Sungmin sepilu itu? Karena dia tidak ingin merasakan kesedihan yang sama untuk kedua kalinya.
Dan karena menurutnya, takdirnya dan Sungmin masih bisa diubah. Dengan usaha keras, dia yakin Sungmin bisa sembuh. Dan vonis mengerikan seperti apa yang Siwon katakan tadi, bisa merenggut kepercayaannya kalau Sungmin akan sembuh.
Kyuhyun menangis karena dia takut. Dia khawatir. Ya, ketakutan terbesar Kyuhyun sekarang adalah kehilangan Sungmin.
"Entah bagaimana lagi.. agar dia bisa bersamaku.." kata Kyuhyun pelan. Siwon bisa mendengar keputusasaan dalam nada itu.
Saatnya bagi Siwon untuk membawa kembali kepercayaan itu pada Kyuhyun, kan? Ya, seperti janjinya tadi.
"Tapi, Kyu.. Dengan usaha keras.. mungkin...," Kyuhyun menatap Siwon intens, "mungkin kita bisa menyelamatkan Sungmin sekaligus bayinya.."
Kyuhyun langsung terduduk tegap. Berita itu bahkan lebih membahagiakan daripada saat dia lulus dari Universitas Seoul dengan prediket mahasiswa terbaik dulu. Detakan-detakan harapan mulai terasa seirama dengan jantungnya.
"Maksudnya?" tanyanya hati-hati. Hanya untuk antisipasi kalau harapannya akan pupus lagi.
"Kupikir.. dengan kerjasama antara aku—dokter kandungan—dan kau—dokter penyakit dalam—Sungmin bisa mempertahankan bayi dalam kandungannya.."
Mata Kyuhyun berbinar, hatinya berteriak-teriak senang sekarang. Dia tidak peduli apakah itu harapan kosong atau bukan. Yang jelas adalah harapan itu masih ada. Sekecil apapun itu, dia masih tetap akan percaya.
"Maksud Hyung?" tanya Kyuhyun lagi. Hanya sekedar memastikan.
"Ya, kita bisa bekerjasama.. untuk Sungmin.."
Kyuhyun terdiam sebentar, membiarkan otaknya mencerna dulu apa yang dikatakan Siwon. Setelah impuls itu selesai diterjemahkan otaknya, dia langsung memeluk Siwon dengan erat. Erat sekali sampai Siwon kewalahan.
"Terimakasih Hyung.. Terimakasih untuk harapannya.. Sungmin pasti akan senag sekali.. Dia pasti akan bahagia... Terimakasih Hyung..." Kyuhyun mengeluarkan airmata saking bahagianya. Ya, harapan itu memang hal terindah yang diberikan Tuhan saat jiwa kita hampir mengering.
"Berdoa saja, Kyu.. Semoga kita berhasil.." kata Siwon. Ya, tentu saja. Berdoa kan? Kalau perlu akan Kyuhyun lakukan sejuta kali dalam sehari kalau Sungmin memang bisa sembuh karena itu. Ya, tentu saja semuanya akan dikorbankan Kyuhyun untuk Sungminnya.
"Kau akan sembuh, Min.. Aku sudah pernah menjanjikanmu ini, kan?"
~*Rn*~
There is one spark of hope left in the grasp, My Dear..
And I will give up anything to make this come true..
~*Rn*~
TBC
Hah.. Chapter 5 selesai juga.. Maaf ya telat apdet.. Author sibuk liburan dan panik karena pengumuman SNMPTN tulis..
Dan karena doa dari reader sekalian di review-review FF yang lain, aku seneng banget sekarang.. Yeiiiy.. dengan perjalanan panjang dari Sabang sampai Merauke, akhirnya aku lulus juga SNMPTN pilihan pertama di UNPAD. Hehe.. Ada yang bakal ketemu sama aku gak nantinya? Hohoho..
Dan karena aku bakalan agak sibuk di tanggal-tanggal tua, sebisa mungkin aku selesein ini FF sebelum aku terbang ke Bandung dan langsung Ospek. Gila... Nerpes juga sih.. hehe.. Doain aja deh semoga idenya kagak mandeg, bisa dilanjutin secepetnya..
Nah, makasih buat reviewnya yang udah ratusan.. Hihi.. Aku seneng buangeeet loh liatnya.. Maap ya kalo Umin gak terlalu tersiksa di sini.. Perjalanan masih panjang, Min.. Siapkan fisik dan mental dulu.. Hihi..
Yasudah, daripada bacot kebanyakan, mending review langsung dah yah.. Cepetnya apdet FF ini tergantung review yang masuk, yah.. suntikan energi gitu deh.. hehe..
KEmaren udah aku publish, tapi hancur sangatt.. Makanya aku hapus, dan aku perbaiki. NAh, bagi yang belum ripiu di chapter ancur kemaren, jangan lupa ripiu di sini ya..
Sign,
Rn.
