Annyeong yorobun...

Saya bawa si kembar lagi nih..

Saya gak bakal banyak bacot, soalnya saya capek.. hehe..

Eh tapi saya mau bilang dulu kalo Gongchan itu emang imut kan? Hoho..


.

.

.

~Kyuhyun POV~

"Minggir!"

Eh? Rese banget sih pagi-pagi udah ngusir. Aku mendongakkan kepalaku, melihat siapa yang sedang menempel-nempelkan ujung sepatunya ke ujung pantatku (?). Namja ini lagi.. Eh? Bukannya kemaren dia sakit ya? Sampai pingsan segala. Tapi kalo ngeliat kelakuannya yang tanpa etika ini aku nyesel deh udah punya niat buat nolongin dia kemaren.

"Tuli ya?" tembaknya lagi. Aku segera berdiri memasukkan komik yang sedang ku baca ke dalam saku celanaku, lalu menatapnya lurus-lurus dengan tatapan yang semoga saja membuatnya takut.

"Kau benar-benar ada masalah serius ya denganku, Lee Sungmin-ssi? Kau tidak lihat ada banyak sekali space untukmu berjalan di tempat lain, dan kau malah memilih untuk mengusikku di sini? Aku tidak habis pikir." Kataku, dia lalu menyeringai sambil membuang muka.

"Memangnya siapa yang kau pikir TIDAK ada masalah denganmu, hah?" katanya sambil menatap mataku dengan mata besarnya. Hwad? Sebobrok itukah image-ku di sekolah ini?

"Hm... aku tau sekarang..." aku mengacungkan telunjukku ke mukanya, membuatnya bergidik seolah-olah jijik bila telunjukku sempat menyentuh kulitnya. "Jangan-jangan kau suka padaku, ya? Hah? Jujurlah... Aku mengerti perasaanmu kok..." kataku, lalu dia memutar bola matanya.

"Sudahlah namja aneh, lebih baik aku pergi dari sini sebelum orang-orang mengira kau adalah temanku. Lain kali jangan duduk-duduk di koridor seperti anak putus sekolah begitu. Lama-lama rusak juga mataku melihatnya." Dia berbalik ke arahnya semula. See? Dia hanya ingin menggodaku. Dia hanya ingin cari perhatian di depanku, tapi sayang sekali cara itu mudah ditebak.

Aku kembali duduk di koridor itu dan mengembangkan komik lagi. Sungmin itu bahkan lebih berlebihan daripada Yeoja. Padahal dia bisa saja kan melangkahi kakiku? Kenapa harus sewot segala!

Setelah agak lama, setelah pantatku keram duduk di lantai terus, aku memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman belakang sekolah. Aku tidak tahan di sini. Sekolah ini terlalu ramai, bising seperti jalan macet. Yeoja-yeoja berkeliaran dan sering memandang napsu ke arahku, seme-seme mondar-mandir sering menatapku dengan tatapan mupeng, uke-uke sok malu-malu kucing ngikutin ekorku kesana-kemari, Yah.. Memang begitu takdir orang tampan lagi berduit, and in addition, berotak pula.

Saat aku melewati lapangan voli yang terletak di sebelah lapangan basket, aku melihat sosok namja imut berjalan di tepi lapangan sambil membawa buku-buku tebal di tangannya. Poninya yang basah oleh keringat menempel di dahinya, dan yang kering beterbangan ditiup angin. Namja itu terlalu fokus pada perjalanannya, mungkin dia baru saja dari perpustakaan.

Tiba-tiba aku melihat sebuah bola bergerak cepat ke arah namja mungil itu, cepat, hasil smash-an dari Kangin, orang paling kuat sesekolahan. Dan tanpa menungguku sadar dari keterkejutan, bola voli sialan itu sudah hampir menghantam muka si namja imut. Dia lalu memejamkan matanya rapat-rapat seolah-olah sudah siap dengan apa yang akan terjadi.

HEP! (?)

Namja imut itu batal terkena bola voli berkecepatan cahaya. Seseorang menahan bola itu dengan tangannya yang boleh dikategorikan kecil. Fiuh... Sepintas aku sempat khawatir kalau bola sekencang itu benar-benar mengenai kepalanya, dia bisa pingsan kalau begitu caranya. Untung ada namja itu. Dan dia adalah... Yesung hyung? Lagi? Kenapa belakangan ini status sosial dia sudah berubah jadi superhero ya?

"Wookie-yah.. Gwaencanha?" tanya Yesung pada Wookie yang masih memejamkan matanya. Yesung hyung menangkup wajah Wookie dengan kedua tangannya yang kecil itu. Mendengar suara dan mendapat sentuhan seperti itu, perlahan Wookie membuka matanya dan sempat kelihatan menghela napas lega sebentar karena selamat dari ancaman bola berkecepatan tinggi itu.

""Wookie-yah.." Yesung kembali memanggil Wookie, namun Wookie dengan segera memalingkan mukanya, dan entah sengaja atau tidak, dia memalingkan mukanya ke arah mukaku.

"Kyuhyun-ah!" ha? Tidak salah? Dia memanggilku?

"Hei Kyu!" Wookie segera berlari ke arahku yang berada hanya beberapa meter saja darinya, lalu merangkul lenganku. Aduh, aku kan jadi grogi kalau seperti ini. Yesung yang tidak diacuhkan Wookie tadi hanya menatap ke arahku dengan pandangan.. hm.. bisa kukatakan... sedih?

"Ryeowook-sshi.." panggilku saat dia memepetkan badannya ke badanku. Eh? Kenapa kedua saudara kembar ini bertolak belakang seperti kutub utara dan selatan ya? Tapi aku agak khawatir juga dengan cara pandang Yesung hyung ke arah Ryeowook tadi. Dia kelihatan terluka. Ya, setidaknya itu pendapatku.

"Waeyo?" tanyaku. Ryeowook segera mendekatkan bibirnya ke telingaku senatural mungkin sampai bulu kudukku merinding merasakan napasnya di tengkukku.

"Mianhae, tolong aku sekali ini saja.. Jebal yo.." bisiknya. Aku memandang matanya yang terlihat sedih meskipun di bibirnya terukir senyum. Aku merasakan hal yang aneh antara Ryeowook dan Yesung Hyung. Ada apa sih sebenarnya? Kenapa aku pakai dibawa-bawa segala?

"Kyuhyun-ah.. Ayo kita ke kelas." Ryeowook menggenggam tanganku erat lalu menarikku begitu saja. Aku menyempatkan diri melihat ke belakang, ke arah Yesung hyung, dan yang aku lihat adalah dia yang sedang menunduk dalam penuh dengan aura kesedihan.

Ditambah lagi dengan perlakuan aneh Ryeowook kepadaku di depan Yesung hyung. Apa ada sesuatu yang telah terjadi diantara mereka berdua? Kenapa aku merasa seperti dalam tatapan mata Yesung hyung terdapat kesedihan yang sama dengan yang ada di mata Ryeowook?

Ciiit..

Hatiku berdecit, entah kenapa rasa ini seperti sebuah jarum kecil beracun menusukku tepat di daerah jantung. Ryeowook menjadikanku... alat? Alat untuk menyakiti Yesung hyung? Pelarian? Pelariannya dari Yesung hyung.. Padahal aku... aku memiliki sebuah rasa yang tidak terdefinisi untuknya.. Sebuah rasa yang baru pertama kali aku rasakan, dimana aku ingin selalu melindunginya. Mungkin saja ini yang disebut cinta, mungkin saja benar kalau Ryeowook inilah cintaku yang pertama. Tapi kenyataan ini.. bahwa Ryeowook memiliki 'sesuatu'—yang aku tidak tau apa—dengan Yesung hyung membuat hatiku merasa.. perih? Ya. Perih.

Tanpa terasa ternyata kami sudah tiba di kelas. Ryeowook segera melepaskan tanganku, menutup pintu, lalu bersandar di sana. Perlahan dia melorotkan badannya sambil menutup muka dengan kedua tangannya. Dapat kulihat bahunya bergetar, isakan kecil keluar dari bibirnya. Otomatis, aku gelagapan. Aku belum pernah berhadapan langsung dengan orang yang menangis, lebih tepatnya tidak pernah peduli sekalipun aku ada di depan orang yang sedang menangis. Tapi kalau yang menangis itu Ryeowook, mana bisa aku tidak peduli? Apalagi tangisan yang sepilu ini. Aku tidak tega melihatnya.

Untunglah kelas saat ini sepi. Aku segera berlutut lalu merengkuh kepalanya ke dadaku. Kupeluk dia erat di sana, agar dia lebih leluasa menumpahkan semua kesedihannya. Entah ini gerakan reflek atau apa, aku membelai punggungnya, mencoba menciptakan suasana senyaman mungkin baginya. Dari jarak sedekat ini aku bisa aroma tubuhnya, manis, ini aroma yang sangat manis. Aku menyukainya.

Isakannya masih juga terdengar diantara keheningan yang tidak sengaja tercipta di antara kami. Aku tidak ingin bertanya, tidak karena aku tau itu akan menyakitinya.

"Kyu.." panggilnya saat isakannya sudah hampir berhenti, namun dia masih menyandarkan kepalanya di dadaku. Kami tetap dalam posisi yang sama tanpa sedikitpun khawatir terlihat oleh orang lain.

"Hm?"

"Terimakasih atas pertolonganmu tadi ya.. Kau sangat membantu.. Aku.. aku berhutang padamu.." katanya tanpa ada niat sedikitpun untuk memindahkan kepalanya dari dadaku.

"Aku tidak merasa membantumu. Memangnya apa yang telah aku lakukan?" tanyaku, karena aku memang benar-benar tidak merasa melakukan apapun.

"Kau telah membantuku membunuh harapan kosong yang barusaja akan tumbuh Kyu.. Dan aku sangat berterimakasih untuk itu.." jawabnya. Salahkan aku yang kelewat babo atau memang kata-kata ini ambigu, tapi aku memang tidak menangkap apa maksud Ryeowook.

"Aku.. aku tidak mengerti.."

"Aku mencintai Yesung hyung, Kyuhyun-sshi.."

DEG!

Cinta? Namja yang sedang ada di dalam pelukanku ini mencintai Kim Yesung? Sebentuk jarum tak kasat mata kembali menggerogotiku sampai terasa ngilu. Untuk pertama kalinya aku merasa iri pada orang lain. Ya, pada Yesung hyung.

"Sudah lama Kyu.. Sudah sejak aku masih kecil.. Cinta ini sudah kupendam sangat lama, makanya rasanya sangat sakit.."

Mendengar itu, hatiku yang tadinya serasa ditusuk jarum mendapatkan serangan rasa sakit yang lebih besar. Suara itu.. tidak ada sedikitpun kepalsuan di dalamnya. Suara itu.. benar-benar menyiratkan orang yang sedang terluka. Apa Ryeowook terluka separah itu?

"Aku bahkan tidak memiliki setitikpun harapan, Kyu.. karena.. karena.." suaranya menghilang ditelan tangisan yang berusaha untuk dia tahan, "karena dia mencintai kakakku.."

DEG!

Dari suaranya saja aku bisa menebak luka Ryeowook itu sedalam apa. Aku tau dia ingin menangis, namun dia menahannya. Tapi bagiku justru tangis yang ditahan itulah tangis yang lebih menyakitkan.

"...dan kakakku pun mencintainya..."

Ryeowook memang sangat meyayangi kakaknya, namun di sisi lain dia mencintai Yesung, yang notabene adalah orang yang dicintai kakaknya. Yesung dan Sungmin saling mencintai, tapi di sisi yang lain, ada sebongkah hati yang terus-terusan mengeluarkan darah karena lukanya yang sangat dalam.

Aku mengeratkan pelukanku sampai badan kecilnya terselimuti oleh tubuhku. Aku bisa merasakan getaran tubuhnya saat menahan tangisan.

"Kalau itu akan membuatmu lebih baik, maka menangislah.."

Dia menggeleng lemah, sambil tetap menahan tangisannya. Aku tau itu. Dia lalu melepaskan pelukanku, dan menghapus airmatanya. Dia lalu tersenyum. Senyum yang terpaksa. Bahkan senyuman semanis itu tidak bisa menyembunyikan luka hati pemiliknya.

"Kenapa aku harus menangis? Seharusnya aku ikut bahagia bersama hyung-ku, Kyu.. Sudah saatnya aku yang menderita, bukan dia lagi.. Sudah cukup semua rasa sakit untuknya.." aku memandang ke dalam mata Ryeowook yang merah. Apa maksud anak ini?

"Tapi.. tapi kan.."

"Sebagai adik yang baik, aku harus membiarkan kakakku bahagia kan, Kyu? Sebagai orang yang mencintainya, aku juga harus memberikan kebahagiaan pada Yesung hyung kan? Aku sudah memutuskannya sekarang. Aku akan melupakan rasa dalam hatiku ini.. Atau setidaknya.. menyimpannya untuk diriku sendiri."

Aku bahkan heran hati orang ini terbuat dari apa. Kenapa dia bisa begitu baik?

"Tapi itu akan menyakitimu, Ryeowook-ah.." kataku. Ryeowook memandang lantai dengan tatapan sendu. Dia mengangguk kecil.

"Aku tau.. Tapi bukankah bila satu orang yang terluka lebih baik daripada dua?"

Benar juga. Aku tidak pernah berpikir sampai ke sana.

"Ryeowook-ah..." panggilku, khawatir dengan kondisi hatinya. Dia lalu memandangku dengan matanya yang mulai sembab. "Apa rasanya sesakit itu?" tanyaku. Dia lalu mengangguk kecil setelah berpikir sejenak.

"Apa sakit itu bisa disembuhkan? Atau paling tidak... dikurangi?" tanyaku lagi. Dia kelihatan berpikir sebentar lalu menaikkan bahunya.

"Molla yo.."

"Setidaknya.. untuk melupakan rasa sakitnya saja?" dia mulai memandangku dengan pandangan penasaran.

"Maukah kau mencobanya denganku, Ryeowook-ah?"

DEG! Kenapa aku berkata begitu? Apa aku telah gila?

"Kyuhyun-ssi.. Aku.. aku tidak~~"

"Izinkan aku menolongmu melupakan semua rasa sakitmu ini, Ryeowook-ah.. Setidaknya izinkan aku mencoba untuk melakukannya.. Aku hanya meminta satu kesempatan.. Satu saja.." dia kembali memalingkan wajahnya, mungkin sedang berpikir.

"Tapi.. tapi aku mencintai Yesung hyung, Kyuhyun-ah.. Nanti kau akan terluka bila kau melakukan ini.."

"Tidak apa-apa.. Aku lebih tidak ingin melihatmu terluka.. Aku mohon.." aku melihat harapan untukku di dalam matanya. Aku punya harapan. Punya.

Setitik airmata lagi terjatuh dari mata indah itu. Aku segera menghapusnya dengan ibu jariku, lalu membelai pipinya dengan lembut.

"Aku.. tidak akan membiarkan mata ini basah lagi.. Aku berjanji.." dia lalu memejamkan matanya dalam sentuhanku. Aku ingin sekali mengecup kedua kelopak mata itu. Perlahan aku mendekatkan wajahku.

Chu~~

Namun entah kenapa, aku mencium keningnya. Dia langsung memelukku dengan erat, sangat erat sampai aku kesulitan bergerak.

"Gomawo, Kyu.. Jeongmal gomawo.." aku mengecup puncak kepalanya. Sungguh, aku ingin melindungi orang ini sekuat yang kubisa..

~~Normal POV~~

Langkah kedua namja itu terhenti saat melewati kelas yang sepi itu. Mereka bisa melihat dengan jelas adegn apa yang terjadi di dalmnya, meskipun tidak tau apa yang mereka bicarakan.

Sungmin melebarkan matanya, tidak percaya bahwa adik kembarnya malah berpelukan dengan musuh besarnya sendiri. Namun di sisi lain, ada sebentuk rasa tidak suka menggerayanginya. Tapi dia segera menampik perasaan itu. Dia berpikir, pastilah itu karena adiknya bersama namja aneh musuh bebuyutannya bernama Cho Kyuhyun.

Tes..

Setitik airmata perlahan turun dari mata sipit namja itu., namun dia segera menghapusnya. Untunglah Sungmin berada di depannya, sehingga dia tidak melihat apa yang sedang dilakukan Yesung saat ini. Menangis. Ya,, dia menangisi kebodohannya sendiri.

'Wookie-yah.. Apa yang telah kau lakukan padaku hingga hatiku jadi sesakit ini?'batin Yesung. Dia lalu memutuskan untuk tidak melihat adegan itu lagi, dan menarik Sungmin pergi dari tempat itu.

TBC


Gimana yorobun? Sudah agak panjang kah?

Mianhae kalau chapter ini membosankan ya.. Aku sudah pernah bilang belum kalo aku juga suka Kyuwook? Hihihi.. Tapi para Kyumin shipper sejati jangan timpuk aku pake panci dulu, kalian pasti bisa nangkep keganjilan yang ada dalam chapter ini kan? Hihi..

Yah segitu aja deh.. Ending bisa berubah suatu waktu oleh sebab yang tidak ditentukan. Hoho..


Okeh, jadi balesan ripiunya...

Kim Chaeri: Alah.. Chingu.. Gayanya aja tuh si Kuyun setia ato sehidup semati ma Umin, tapi di epep manapun Umin diselingkuhin juga.. *emosi terpendam*.. Annyeong.. Run imnida.. Kalo kamu masi 16 taun ke bawah, panggil aku unni, tapi kalo lebih tua, panggil nama ajah. Hihi.. Bangapseumnida, Chaeri-sshi..

Unkyuminmin: Uhuhuhu.. Mereka emang orang paling kyeopta sedunia. Iya, aku juga udah suruh dia berjuang pantang mundur biar bisa sembuh, biar gak bengek lagi. Hihi..

: Annyeong juga.. Sekali-kali Papa Ddangko ama emaknya labu (?) *gampar diri sendiri* kan gapapa chingu.. hihi.. Iya, aku pernah liat piku mereka yang miriiiip banget, sampe susah bedainnya.

Nikwon: Gimana ya? Aku gak terlalu inget Chingu, soalnya aku sempet koma dua minngu gara-gara nty kaos kaki.. hihi *dibekep kaos kaki Unyuk lagi, kali ini yang belon dicuci setaun*.. Kalo Donge.. Mas ikan jadi satpam sekolah boleh gak? Hihi *nonjok diri sendiri*

Sulli Otter: Kyumin ya eonn? Hm... kita akan tau seiring waktu berjalan.. Tapi eonn udah dapet hint-nya donk di chapter ini? Hihi.. Semoga gak mengecewakan ya eonn..

Inha ELF SparKyuHyukBum: Aduh, panjang amat namanya.. hihi.. ^^Y.. Mian ya Chingu soalnya aku baru bisa post emang tengah malem mulu.. Sekarang juga nih.. Iya nih, Ddangko bersodara aja udah demo di depan rumah author mintak emak ama bapaknya dipersatukan kembali.. hihi..

Choi Taenma: Iya, karena Yeppa itu kan guanteng dan imut dan baby face dan suaranya bagus dan dan daaaaannn banyak lagi.. Bangapseumnida chingu, Run imnida.. Gapapa kok, yang penting udah diripiu. Hehe..

Dhikae: Sebenernya sih si kembar ini sama-sama kasian.. Kalo Umin menderita fisik, kalo Wookie mwnderita batin.. hihi..

Pipit-SungminniELFishy: Yak, Kuyun emang pahlawan kemaleman.. hihi.. Wah. Kita sama-sama dendam sama Kyu ya? Boleh tuh kita bikin forum. Hihi *bibantai Sparkyu malem ini juga*

LittleLiappe: Nah loh? Jadinya milih Kyumin apa Kyuwook nih Ching? Persediaan terbatas nih, stok udah mau abis.. hihihi..

Minnie Chagiy4: Berakit-rakit kehulu berenang-renang ke tepian Ching.. Nyebur dulu kelelep kemudian.. hihi.. maksudnya.. Ya biar deh dia menderita dulu, semua indah pada waktunya kok Ching.. hihi..

rHeitawoo: Kata Wookie dia maunya ama Papa Ddangko seorang.. Yesung bilang kalo ada yang berani nyentuh Istrinya, dia bakal ngambek dan nggak ngasi makan Ddangkoma selama setaun. Nah loh? Bahaya kan Ching.. hihi..

StellaSJ: Aduh mian ya Chingu.. Aku nungguin kilat tapi gak nongol-nongol juga.. Akirmya aku apdet sekarang deh.. hihi.. *ditampoll*

Sapphire Pearls: Soalnya Jongwoon kayaknya lebih cayang ama Ddangko tub Ching. Hihi.. Akhirnya Wookie ilpil sendiri dan lari ke pyukan Kuyun.. huhu

Ika UzumakiTeukHyukkie: Sungmin kan juga miris Ching.. Penyakitan gitu ampe mo mati-mo mati dianyah.. Masa gak kasian juga sii? hihi..

Aiko Okinawa: Ddangkoma demo lagi! Aduh Ching, dia marah tuh.. masa bapaknya dibilang gak elit.. hehe..

Kuchiki Hirata: Wah.. kamu satu-satunya orang yang manggil aku pake nama panggilanku yang sebenarnya.. hehe *peyuk-peyuk*.. Wookie udah lari ke pelukan Kuyun tuh,, sayang sekali ching.. hihi..

Kim Ryeoka: Okeh, ini udah lanjut ching.. Mian ya agak lama.. Semoga gak ngecewain ya..

KYUyunJAE04: Aku udah bilang aku gak suka KUYUN! Nih sebage gantinya, isi chapter ini dia semuah.. hihi Kyuhyuk? Mana cocok mereka.. *ngeles*

Ichigo: Gimana ya.. hmm... hehe.. Eh, ah, uh,, geli nih kakinyah diciumin (?).. Kita disini Escape the ordinary Ching.. Gak jaman lagi pasangan biasa.. Jamannya yang kek begini inih.. *menampol diri sendiri* hihi.. Aku 17 ching.. (udah tua ya?) hiks..

CuraQnDC10: Iya mereka memang miris banget idupnya.. Untung aja ini epep ya ching.. kalo kagak udah kukiloin bawa pulang deh.. hihi..

Richan: Hai aku Run.. hihi.. Ini udah di update.. Sekarang bersihin deh tuh jamurnya.. Atau mau dimasak aja jamurnya? Gimana? Hihi

Pity mbumpakyumin elf4ever: Umin itu punyaku lho.. Ini buktinya.. *sodor-sodorin surat nikah ke muka orang-orang* hihi.. Kabur ah.. Ntar digeplak Kuyun.. huhu..


Ffiiiuuhhhh...

*elap-elap keringet pake bajunya Shindong yang luebarr* *diimpit Shindong*

Cape juga ya ngetiknyah.. hihi..

Akhir kata, eR-I= RI, Pe-I=PI, datang U jadi RIPIU.. Ditunggu yah.. huhu..

CHANGKYU...