Annyeong Yorobun... Istri simpanan Sungmin oppa kembali nyampah di fandom ini.. Gapapa toh? Gak bayar toh? Kalo bayar minta aja sama Siwon oppa ya.. Dia oppa aku kok.. hehe (saya becanda readers, mohon berhenti nimpukin saya,, pala saya udah benjol inih..)

Bagi yang gak suka kalo Jaejoong tersiksa, silakan mundur dengan teratur.. Jangan marah sama saya ya.. Kalo ntar jadi pengen bunuh saya sih bunuh aja si KyuHyun.. Apa? KyuHyun yang mana? Iya.. Si Evil maknae Super Junior itu.. Biar saya bisa dengan leluasa grepe-grepe Sungmin tanpa harus ngebekep tu orang dulu pake kolornya Kunyuk.. (bener-bener mintak mati nih author..)

Okeh, daripada saya malah ngegadein nyawa saya di sini mending kita mulai aja epep ini.. Oke.. Ayo kita ke Te-Ka-Pe.. (tek tek tek tek... *suara ketokannya Shindong a.k.a Dalang)


Yunho memandangi wajah 'istri'nya yang pucat pasi itu. Dia mengakui kalau sosok yang ada di depannya adalah sosok yang bisa dengan mudah membuatnya kehilangan kontrol atas dirinya sendiri. Sosok yang cantik, lembut, bagaikan malaikat. Ya, malaikat yang dengan teganya dia sakiti setiap harinya. Dan malaikat itu sekarang sedang.. hamil? Hah.. Itu bahkan adalah hal yang tidak pernah terpikir oleh Yunho sebelumnya.

Mereka berdua bahkan tidak tidur dalam satu kamar. Kalaupun mereka tidur sekamar, Yunho tidak pernah melakukan apapun padanya. Bagaimana bisa?

"Lebih baik cepat sadar, Jae. Kau masih harus menjelaskan tentang anak itu padaku. " katanya pada sosok yang sedang terlelap itu. Dia sedang sangat ingin marah sekarang. Apalagi kepada Jaejoong. Kalau memang Yunho tidak pernah menyentuhnya, pastilah itu anak orang lain. Jaejoong pasti berselingkuh dengan seseorang diluar pengetahuannya. Membayangkan itu saja rasanya Yunho sudah ingin menampar muka Jaejoong yang masih sangat pucat itu.

"Mmmhh.." bersamaan dengan erangannya, Jaejoong membuka matanya dan yang dia dapati adalah sosok Yunho yang sedang memandanginya dengan tatapan penuh dengan amarah. Tiba-tiba air mata Jaejoong jatuh begitu saja. Dia takut, sangat takut. Padahal dalam kondisinya yang seperti itu dia menginginkan sentuhan lembut yang bisa mengurangi rasa sakitnya, dia ingin kata-kata manis penuh kasih sayang yang bisa menenangkannya. Tapi sepertinya dia lupa kalau suaminya adalah Jung Yunho. Dan mendapatkan hal itu darinya adalah sebuah mimpi belaka.

"Yunho-ssi.." kata Jaejoong lemah, nyaris seperti sebuah bisikan. Jaejoong memaksakan tubuhnya untuk duduk, walaupun perutnya masih sangat sakit seperti ditusuk ribuan jarum. Dan sepertinya usahanya untuk duduk itu memakan seluruh energi yang dia punya, dia hanya bersandar di kepala tempat tidurnya sambil memegangi perutnya.

"Katakan dia anak siapa, Jae!" tembak Yunho langsung. Jaejoong yang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan Yunho hanya menatap Yunho dengan penuh tanda tanya. "Jangan pura-pura tidak mengerti, aku benci itu." Sambung Yunho, namun Jaejoong masih belum mengerti.

"Apa maksudnya Yunho-ssi? Anak apa? Anak yang mana?" tanyanya lemah. Yunho membentuk sebuah seringai di wajah tampannya.

"Atau kau sudah tidak tau lagi siapa ayah bayimu karena segitu banyaknya pria yang pernah memakaimu, hah? I thought so.." kembali smirk itu tampil di bibir Yunho, membuat kata-katanya terkesan jadi lebih tajam dan menyiksa. "That's who exactly you are, Jae. A f*ckin dirty whore! WHORE!"

Kata-kata Yunho terdengar seperti sebuah pisau tajam berkarat yang dihujamkan berkali-kali tepat di jantung Jaejoong. Perih. Sakit. Entah apa lagi kata yang tepat agar rasa itu bisa tergambarkan.

"Apa yang terjadi padaku?" tanya Jaejoong kemudian. Yunho lalu tertawa. Bukan tertawa karena ada hal yang lucu, tapi tawa mengerikan yang menyiratkan sebuah kebencian yang sangat.

"Masih bertanya? Oke, aku jawab. KAU HAMIL. Dan entah itu anak laki-laki brengsek yang mana." Jaejoong meremas dada bagian kirinya, tepat di atas jantungnya. Dia malah berharap bisa langsung meremas jantungnya sendiri agar segala rasa sakit yang dia rasakan sekarang akan menghilang. Tapi tentu saja tidak akan semudah itu. Tidak akan.

Jaejoong menarik napas dalam. Menenangkan dirinya sebentar lalu berkata "Kalau begitu kau harus tau kalau anak ini adalah anak laki-laki brengsek bernama Jung Yunho." dengan nada pelan namun menusuk. Nada yang Yunho benci.

Yunho menggeram. Ditariknya kerah baju rumah sakit Jaejoong, sedangkan Jaejoong hanya terkulai di tangannya. Dia sama sekali tidak punya kekuatan bahkan untuk menangispun tenaganya sudah habis.

"Jangan bohong padaku! Aku tidak pernah melakukannya denganmu. Heh.. Itu pasti anak pria lain! Pasti! Coba kau ingat-ingat lagi ada berapa orang lelaki yang kau kencani dan kau biarkan menikmati tubuhmu selama aku tidak ada di rumah!"

PLAK!

Satu tamparan sukses mendarat di pipi Yunho. Untuk pertama kalinya Jaejoong melakukan hal itu pada seseorang. Cengkeraman Yunho di kerah baju Jaejoong terlepas begitu saja.

"Apa aku serendah itu di matamu Yun? Apa aku memang terlihat seperti seorang pelacur bagimu? Aku memang diam saja kau perlakukan seperti apapun. Tapi ini sungguh menyakiti hatiku. Aku bukan pelacur. Dan asal kau tau, aku bahkan masih virgin sampai tiga minggu yang lalu, sampai kau MEMPERKOSAKU. Kau Jung Yunho-ssi yang terhormat, kau MEMPERKOSA ku. Dan ini adalah anak mu!"

Yunho terdiam. Dia masih berusaha mencerna apa yang barusaja dia dengar. Tiba-tiba dia teringat saat dia mabuk berat tepat ketika ibunya barusaja selesai meneleponnya, memarahinya habis-habisan karena dituduh tidak memperlakukan Jaejoong dengan baik. Apa malam itu? Karena paginya Yunho menemukan dirinya tertidur tanpa sepotong kainpun.

Jaejoong menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia menangis, bahunya bergetar hebat. Tiba-tiba hati Yunho sakit melihatnya. Tanpa dia sadari, Yunho perlahan mendekat kepada Jaejoong. Tangannya sudah akan menyentuh bahu Jaejoong untuk menenangkannya, namun tiba-tiba Jaejoong menurunkan tangan dari wajahnya.

Yunho kaget setengah mati saat dengan satu gerakan cepat Jaejoong menyentakkan jarum infus yang tertanam di tangan kirinya. Jaejoong kemudian turun dari tempat tidurnya dan berjalan terseok-seok ke arah pintu. Karena kondisinya yang masih sangat lemah dan rasa sakit yang masih sangat menguasainya dia harus berpegangan pada dinding. Yunho yang melihat hal itu segera menghampiri Jaejoong dan menahan tubuh Jaejoong dengan tangannya.

"Kau mau apa?" tanyanya. Jaejoong menatap Yunho tepat di matanya. Mata itu.. Mata Jaejoong merah, dan basah. Bukan hanya itu saja, tapi ada begitu banyak kesedihan dan beban terdapat di sana. Yunho seolah-olah bisa melihatnya. Sosok itu sekarang sedang kesulitan, matanya sekarang sedang meminta pertolongan. Tapi Jaejoong tidak pernah melisankan semuanya.

"Maafkan aku, Yunho-ssi.. Aku tau sekarang kau pasti benci sekali padaku dan bayi ini kan? Aku tidak mau kau tambah membenciku, Yunho-ssi.. Maafkan aku.. Aku berjanji akan menggugurkan anak ini.. Tapi aku mohon jangan benci padaku.. Aku~.." tubuh Jaejoong kehilangan tenaga sepenuhnya. Tubuhnya hampir saja jatuh ke lantai kalau Yunho tidak menahannya.

Yunho segera mengangkat tubuh Jaejoong bridal style ke tempat tidurnya. Jaejoong masih menangis, masih bergumam lemah, hampir tidak terdengar.

"Aku..mohon Yunho-ssi.. Ja..ngan..ben..ci..aku..la..gi.." kata Jaejoong di sela-sela isak tangisnya. Hati Yunho miris melihat Jaejoong seperti itu. "A..ku..mo..hon.." air mata masih terus mengalir dari sudut mata Jaejoong. Hati Yunho bagaikan tersentuh, airmatanya juga meluncur satu-satu. Ini bukan yang pertama kalinya di menangisi Jaejoong. Ada apa sebenarnya dengan dia? Dengan seorang Jung Yunho yang sama tidak memiliki perasaan apa-apa pada Jaejoong selain rasa benci?

"Aku.. hh.. ber..janji.. akan meng..gugurkan.. anak.. hh.. ini.. A..ku..ber..jan..ji.." kata Jaejoong lagi dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki. Setelah itu Jaejoong tertidur kelelahan. Yunho mulai memikirkan apa yang sedang terjadi. Apa benar itu bayinya? Kenapa dia menangis karena melihat Jaejoong menderita begitu? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

=Yunjae=

Tiga hari kemudian Jaejoong diperbolehkan pulang. Yunho menjemputnya, walaupun tidak berkata apapun. Entah mengapa Yunho tetap mempertahankan keegoisannya dan memilih tidak mempedulikan Jaejoong yang 'katanya' sedang mengandung anaknya.

Setibanya di depan rumah mereka, Yunho segera masuk ke dalam tanpa menoleh sedikitpun pada Jaejoong. Akhirnya Jaejoong yang masih belum pulih itu berjalan sendiri ke kamarnya. Berkali-kali dia berhenti untu mengumpulkan tenaganya. Perjalanan ke kamar itu saja seolah-olah bagaikan perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan baginya.

Jaejoong segera membaringkan tubuhnya di kasur, lalu menutupinya dengan selimut sampai sebatas leher. Saat ini yang Jaejoong inginkan hanyalah istirahat, dia sudah capek memikirkan cara untuk menggugurkan anak yang ada dalam kandungannya. Padahal dia sudah terlanjur mencintai anak itu. Haruskah anak tidak berdosa itu dia korbankan untuk Yunho?

Jaejoong sudah hampir tertidur saat dia merasakan perutnya bergolak hebat, seolah-olah ada yang mengocok isi perutnya sedemikian rupa sampai dia merasakan mual yang sangat. Segera Jaejoong berlari ke kamar mandi yang berada di sudut ruangan.

UUURRRRGGGGHHH.. HHHUUUUEKKK..

Jaejoong memuntahkan semua isi perutnya yang padahal belum diisi sejak pagi. Dia terus saja muntah walaupun rasanya sudah tidak ada lagi yang bisa dia muntahkan. Kedua tangannya menopang badannya di sisi kiri dan kanan wastafel. Keringat dingin mulai mengucur dari dahinya, dan wajahnya sekarang pucat dan kelelahan.

HHHUUUEEKKK..

Jaejoong sudah benar-benar lelah sekarang, kakinya gemetar tidak sanggup lagi berdiri. Dia menjatuhkan dirinya tepat di sebelah wastafel itu. Dia masih mengatur napasnya sambil mencoba mengendalikan rasa mual yang terus menerus memaksanya untuk muntah. Lantai kamar mandi teryata lebih dingin dari yang dia kira.

Jaejoong berusaha untuk berdiri dan kembali ke tempat tidurnya dengan langkah yang diseret-seret. Segera dia merebahkan tubuhnya lagi, kali ini dia memeluk kakinya sendiri. Setidaknya dengan begitu rasa mualnya bisa sedikit berkurang.

Tiba-tiba Jaejoong teringat cerita umma-nya yang dulu pernah dia dengar. Cerita yang dulu dia harapkan juga terjadi pada dirinya. Cerita saat umma-nya mengandung dirinya dan Junsu, adiknya. Umma-nya menceritakan itu dengan mimik yang sangat bahagia dan bangga.

Bagaimana tidak, appa-nya adalah appa yang paling baik di dunia, laki-laki penyayang yang selalu mencintai istri dan anak-anaknya. Ummanya pernah bilang saat kehamilannya yang pertama dia sangat tersiksa, sampai dia ingin menggugurkan kandungannya saja. Namun appanya selalu ada di samping ummanya, memberikan kekuatan dan kasih sayang yang tidak pernah putus. Sampai akhirnya dia terlahir ke dunia dengan selamat.

Mengingat itu Jaejoong menitikkan airmatanya. Mengingat betapa dia mengalami hal yang sama dengan ummanya tapi mendapat perlakuan yang bertolak belakang. Tidak perlu mirip, tidak perlu seperti appa-nya. Cukup menganggapnya ada saja. Cukup dengan menunjukkan kalau dia juga menginginkan anak itu sama besar seperti Jaejoong menginginkannya.

"Jaejoong." Suara Yunho memanggilnya. Jaejoong segera menghapus airmatanya dan duduk di kasurnya menghadap ke Yunho. Gerakannya yang tiba-tiba kontan membuat perutnya sakit. Dia meringis sedikit.

"Kau kenapa?" tanya Yunho. Jaejoong melebarkan matanya, sedikit tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Yunho menanyakan keadaannya. Jaejoong menggeleng. "Kau lapar?" tanyanya lagi. Jaejoong menggeleng lagi. "Kau sakit?" Jaejoong tetap menggeleng.

"Aku~" Jaejoong kembali merasa perutnya dikocok dengan cepat, juga keras. Selain mual, dia juga merasakan sakit. Dia memaksakan dirinya berlari ke kamar mandi dan muntah di wastafel.

HUUEKK..

Yunho hanya melihat pemandangan itu dari pintu kamar mandi. Di satu sisi dia merasa geram, mengingat dia masih belum juga tau apakah anak yang dikandung Jaejoong itu anaknya atau bukan. Tapi di sisi yang lain dia merasa.. iba. Bukan, dia merasa.. bersalah. Juga bukan. Dia merasa.. ah, yang benar itu dia tidak tau apa yang dirasakannya.

Tubuh Jaejoong limbung, lalu terjatuh. Yunho reflek menahan tubuh kurus Jaejoong dengan kedua tangan kekarnya.

"Hei Jae! Hei!" Yunho berusaha membangunkan Jaejoong dari pingsannya, namun tentu saja tidak akan berhasil. Akhirnya dia membopong Jaejoong dan menidurkannya di kasur, menyelimutinya sampai sebatas leher.

Yunho memandangi sosok yang ada di depannya. Disekanya keringat yang mengalir di wajah pucat Jaejoong. Setitik rasa bersalah menghampirinya. Bukankah seharusnya seorang suami itu mendampingi istrinya? Apalagi dalam kondisi hamil muda, pasti sangat berat bagi sang istri. Tapi yang dilakukan Yunho adalah mengacuhkan Jaejoong, menyangkal keberadaannya dan keberadaan bayi mereka.

"Maaf.." katanya sambil tetap mengelus pipi Jaejoong pelan dan lembut. "Aku bukan suami yang baik.." Yunho merasakan perasaan janggal menguat di hatinya. Perasaan yang sebenarnya sudah ada dan terendap di sana sejak lama. Namun dia menyangkalnya dengan keegoisan. Tapi kini perasaan itu menyeruak dengan kekuatan tak terbendung. Yunho sudah hampir kalah dengan perasaan itu.

"Apa yang kau lakukan padaku, Jae?" bisik Yunho pelan.

TBC


Gimana? Pada mau bunuh KyuHyun kah? Silakan cari di dormnya.. Hahaha.. *ketawa epil*

Buat yang udah review di chapter sebelumnya... JEONGMAL GOMAWO.. *deeeeepppp bow*

Kalian gak tau seberapa berartinya repiew kalian buat aku dan epepku..

Walaupun aku gak bales satu-satu *aku lagi di warnet nih*,, aku tetap mencintai kalian... *muach* *digampar*

Jadi,, apakah sudi untuk merepiu lagi?

Flame allowed!~! Bash aja aku sesuka kalian, tapi jangan bash malaikat2 yang ada di epepku.. hhehehehe.. Tapi setelah kalian menge-bash saya, nantikan kedatangan saya di kota anda dengan celurit tajam berkilat-kilat.. hehe..