Annyeong Yorobun... Mohon maaf ya, epep saya udahlah jelek lama pula apdetnya.. Saya melakukan ini secara tidak sengaja, karena tugas yang menumpuk, belum lagi saya sempet sakit., susulan ujian praktek, persiapan untuk UN, les, ngurusin laki (Sungmin) *plak!*(kebanyakan curcol, ditendang).. Pokoknya gitu lah.. banyak sekali aral melintang untuk epep Yunjae ini.. Tapi saya tetep merasa berhutang,, jadi saya bawalanjutannya sekarang.. Mianhae kalo gak sepanjang yang readers mau, inspirasi susah dapet kalau bayang-bayang UN terus menghantui... Akhir kata,, seperti biasa, kalau mau nyiksa orang setelah baca epep ini, siksa saja... YA! benarrr! Cho Kyuhyun!biar saya bebas grepe-grepe Umin.. Daripada saya ditimpukin readers, cekidot aja epep gaje saya ini..


"Bagaimana keadaannya?" tanya Yunho pada dokter yang sedang memeriksa Jaejoong. Dokter itu lalu menurunkan stetoskop dari telinga ke lehernya.

"Kondisi kehamilan istri anda sangat lemah. Sedikit saja kecerobohan, anda bisa kehilangan anak anda, bahkan lebih buruknya lagi, istri anda juga. Saya menyarankan agar anda benar-benar merawat istri anda dengan baik, jangan sampai dia stress, dan penuhi gizinya."

Yunho hanya tertunduk. Dia tidak tau apa yang seharusnya dia lakukan. Dia masih tidak ingin mengakui kalau anak yang tengah dikandung Jaejoong itu adalah anaknya. Tapi saat mendengar bahwa dia bisa saja kehilangan bayi itu, dia merasa aneh. Ada rasa tidak ingin dalam hatinya. Apalagi saat dokter mengatakan kalau dia bisa saja kehilangan Jaejoong juga. Tanpa sadar Yunho bergidik. Dia menatap Jaejoong sebentar, lalu dia tau apa yang dirasakan oleh hatinya. Dia tidak ingin kehilangan Jaejoong.

"Baiklah, terimakasih dok." Kata Yunho lalu dokter itu pergi setelah selesai melakukan semua pekerjaannya. Tinggallah Yunho dan Jaejoong di kamar itu berdua.

Jaejoong masih belum sadarkan diri. Yunho mengambil posisi duduk di sebelah tubuh Jaejoong yang terbaring. Dia memandangi wajah cantik sempurna di hadapannya. Bibir yang biasanya merah merekah itu kini putih pucat. Jelas sekali terlihat kalau Jaejoong bertambah kurus. Tiba-tiba kejadian selama pernikahan mereka bergulir bagaikan sebuah film layar lebar. Membayangkan itu semua membuat Yunho bertanya-tanya, apakah selama ini yang bersikap sejahat itu adalah dirinya? Kenapa dia bisa memperlakukan sebuah mahakarya Tuhan paling indah itu sebegitu kejamnya?

"Eenngghhhh..." erang Jaejoong mengagetkan Yunho. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Keringat bercucuran membasahi dahi dan lehernya. Napasnya memburu, dia kelihatannya mengalami mimpi buruk.

"Aaaahhh.." Jaejoong berteriak, dia lalu terbangun dan kelihatannya sangat ketakutan.

"Waeyo?" tanya Yunho dengan lembut.

Jaejoong segera duduk dan memeluk Yunho dengan sangat erat. Yunho bisa merasakan badan Jaejoong gemetar, dia juga bisa merasakan detakan jantung Jaejoong yang sangat cepat dan napasnya yang memburu.

"Aku takut.. hh.. aku takut sekali.. hh.." kata Jaejoong disela-sela napasnya. Yunho yang sempat tertegun karena pelukan dari Jaejoong hanya membalas pelukan itu secara perlahan. Boleh dikatakan ini adalah pelukan pertama mereka sejak mereka menikah. Biasanya Jaejoong tidak akan berani bahkan hanya sekedar untuk menyapa Yunho tanpa menggunakan embel-embel ssi dibelakang namanya.

"Tidak apa-apa Jae. Jangan takut.." kata Yunho, masih dengan nada lembut, dan kini dia mengelus rambut Jaejoong.

Yunho terkejut saat merasakan pundak Jaejoong bergetar bersamaan dengan rasa basah yang dia rasakan di bahunya. Jaejoong menangis lagi, badannya masih gemetar. Apa yang membuat dia ketakutan sampai seperti itu?

"Kenapa Jae? Jangan menangis lagi.. Ada aku, Jae.. Aku akan.. ehm.. aku akan menjagamu, Jae.." Yunho terkejut dengan kata-katanya sendiri. Apa rasa bersalahnya yang sudah membuat lidahnya tidak bisa dia kontrol lagi?

"Jangan bunuh anakku, Yunho-ssi.. hiks.. aku mohon.." apa? Yunho kaget mendengarnya. Membunuh anaknya? Jaejoong mengira Yunho akan membunuh anaknya?

"Apa maksudmu Jae?" tanya Yunho sambil melepaskan pelukan Jaejoong dari tubuhnya. Namun dengan segera Jaejoong mengeratkan pelukannya sehingga Yunho tidak bisa lepas dari tubuh Jaejoong.

"Aku tau Yunho-ssi benci anak ini.. Tapi aku mohon jangan bunuh dia.. Dia tidak bersalah.. hiks.. Kalau Yunho-ssi tidak menginginkannya, biar aku yang merawatnya sendiri.. Jangan.. hiks.. Jangan bunuh dia.." tangisan Jaejoong semakin dalam, semakin pilu. Jantung Yunho terasa bagai diremas-remas. Ternyata bagi Jaejoong dia sejahat itu. Bagi Jaejoong dia adalah monster yang akan membunuh anaknya.

"Kenapa kau berpikir begitu?" tanya Yunho pada Jaejoong.

"Aku melihatnya di mimpiku. Aku takut.. hiks.." Yunho lalu membelai punggung Jaejoong.

"Tidak Jae.. Boo Jae.. Anak itu akan tumbuh besar. Dia akan lahir, kita akan merawatnya.. bersama.." Jaejoong tersentak. Dia melepaskan pelukannya dari Yunho.

"Yunho-ssi?" pandangan Jaejoong menyiratkan sejuta tanda tanya dan rasa tidak percaya. Yunho mengangguk dan tersenyum lembut. Dia lalu memegang kedua tangan Jaejoong.

"Maafkan aku Boo. Selama ini aku sudah membuatmu menderita. Aku.. aku hanya.. shock karena tiba-tiba harus menikah.. Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diriku.. Tapi maafkan aku, karena sepertinya waktu yang kuambil untuk menyesuaikan diri terlalu lama, sampai membuatmu menderita.. Maafkan aku Boo.." setetes airmata jatuh dari mata bulat sempurna Jaejoong. Tapi kali ini berbeda. Ini bukan airmata pilu seperti sebelumnya. Ini adalah airmata kebahagiaan. Airmata wujud syukur atas apa yang barusaja dia dengar dari Yunho.

"Yunho-ssi, terimakasih.." Jaejoong menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Yunho lalu menariknya kedalam pelukannya. Dada Yunho secara ajaib terasa lapang, dan Yunho mensyukuri itu. Dia mensyukuri kejujurannya terhadap dirinya sendiri dan Jaejoong. Memang, sejak lama inilah yang dia ingin lakukan. Merengkuh pria rapuh di hadapannya dan mendekapnya erat di dada bidangnya. Melindunginya dari dunia, melindunginya dari apa saja yang mugkin bisa melukainya barang sedikit. Mengecup puncak kepala Jaejoong-nya, dan dengan bebas bisa mencintainya. Yunho tidak ingin mempertahankan keegoisannya lagi. Keangkuhannya dia buang jauh-jauh. Yang dia ingin lakukan sekarang adalah memperbaiki kesalahan yang pernah dia lakukan dan memulai hidup yang baru bersama Jaejoong dan calon anak mereka.

"Boo-Jae.." panggil Yunho pada Jaejoong yang sekarang menyurukkan kepalanya di dada bidang Yunho, mengisi paru-parunya dengan aroma maskulin khas suaminya.

"Hmm?"

"Panggil aku Yunho saja." Kata Yunho. Jaejoong lalu menganggukkan kepalanya dalam dekapan Yunho. "Hm.. tunggu sebentar." Yunho lalu memperbaiki posisinya, dia menyusun bantal di kepala tempat tidur lalu merebahkan kepalanya di sana. Setelah menemukan posisi yang nyaman, dia merentangkan tangannya seolah-olah ingin menyambut Jaejoong dalam pelukannya.

Jaejoong merebahkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya di dada Yunho yang hangat. Yunho mendekapnya erat, lalu menyelimuti tubuh mereka.

"Yun.." panggil Jaejoong.

"Hmm?"

"Terimakasih.. terimakasih telah menerimaku.." kata jaejoong, Yunho lalu tersenyum.

"Terimakasih sudah sabar menghadapiku.. Mulai detik ini, yang akan ada dalam kehidupanmu hanyalah kebahagiaan, Boo-Jae.. Tidak akan ada lagi air mata selagi aku masih ada di sisimu. Aku tidak akan membiarkan mata cantikmu itu mengeluarkan cairan bening itu lagi, Jae.. Pegang janjiku.." Yunho mengelus rambut Jaejoong, menghirup aroma yang sudah dikenalnya dengan baik itu dalam-dalam, Jaejoong pun melakukan hal yang sama terhadap tubuh Yunho.

"Boo.." Jaejoong mendongakkan kepalanya menatap mata Yunho. Jaejoong semakin yakin dengan sosok yang ada di depannya sekarang, karena di mata itu tidak ada setitikpun kebohongan yang bisa Jaejoong lihat. Yang ada hanyalah refleksi bayangannya, dan ekspresi yang menunjukkan bahwa Yunho dengan sepenuh hati mencintai orang yang ada di refleksi bayangan matanya itu.

"Saranghae.." Yunho menekankan bibirnya ke bibir Jaejoong dengan lembut, penuh perhitungan agar orang yang dicintainya itu tidak merasakan sakit sedikitpun. Jaejoong membalas ciuman Yunho, dia menggerakkan bibirnya dengan lembut, seirama dengan gerakan bibir Yunho. Jaejoong hanya patuh pada aksi Yunho saat meminta izin untuk jalur akses ke dalam mulutnya. Mereka pun menautkannya, lama dan dalam. Berbagi semua cinta yang belum sempat mereka bagi sebelumnya. Ciuman itu terus bergulir, tanpa henti. Tetap dalam gerakan yang lembut dengan penuh cinta. Tanpa nafsu untuk menguasai dan mendominasi. Tapi hanya cinta yang mereka punya untuk dibagi dan dirasakan bersama.

Menyadari kontrol dirinya yang bisa jebol begitu saja, Yunho menghentikan aksi cintanya di bibir Jaejoong. Dia tidak ingin melakukan hal yang lebih, dia tidak ingin membuat Jaejoong sakit lagi. Dia juga ingat bahwa Jaejoong baru saja keluar dari rumah sakit, dan baru saja sadar dari pingsan. Dia harus banyak istirahat.

"Istirahatlah Boo.. Aku akan memelukmu sampai kau tidur.." kata Yunho. Jaejoong kembali merebahkan kepalanya di dada Yunho.

"Sampai aku bangun, Yun.. Sampai selamanya.." kata Jaejoong, lalu dia menutup matanya. Tertidur dalam dekapan pria yang dicintainya, yang secara ajaib juga mencintainya dengan besar yang sama. Jaejoong bahagia. Ya, dia bahagia. Tak henti-hentinya hatinya bersyukur pada Tuhan atas Yunho yang kini telah berada di pelukannya.


Gimana Yorobun? Maaf ya pendek.. Sebagai gantinya, chapter depan aku panjangin deh.. Ada typos ya? Maaf ya.. Gak ada manusia yang sempurna, yang sempurna itu Tuhan kata Siwon.. Hehe..

Buat para reviewer... Terimaksih banyak... TERIMAKASIH BANYAK... Telah sudi merepiu epep abal seperti ini.. Maaf aku gak bales satu-satu, tapi aku baca kok ripiunya.. Aku lagi di warnet (lagi), jadi waktunya terbatas.. mohon maklum ya..

Jadi? Ada yang pada mau bunuh Kyu?

Ada yan sudah cinta sama Yunho?

Ada yang mengira penderitaan Jae masih kurang?

Untuk yang terakhir, tenang saja. Penderitaan Jaejoong bahkan baru saja dimulai.. hehehe.. *senyum epil*.. Yang gak setuju boleh timpuk KyuHyun..

Akhir kalam... wabillahi taufik wal hidayah.. riepiewnya ditunggu yah... hehehe *bow*