Annyeong yorobun.. Maaf banget buat apdetnya yang super duper lama.. Soalnya kemaren-kemaren ini author sibuk banget belajar, ujian, nyiapin farewell, dan barulah sekarang bisa apdet epep ngebosenin ini..
Maap ya yorobun,, epep inih udahlah jelek lama pula diapdet.. Aduh.. Mianhae..
Yesungdahlah, daripada saya ngebacot terus kayak bekicot (?) mending dibaca aja lah ya lanjutan epep ini..
=Flashback off=
=now=
Tot..tok..tok..
Kemudian seseorang memunculkan tubuhnya dari balik pintu. Matanya yang kecil sekarang tengah menatap Jaejoong dengan iba, wajah imutnya kelihatan bersedih. Hyung-nya selalu saja begitu, melipat kedua kakinya dan memeluknya dengan kedua tangan. Miris. Sakit. Hyung-nya yang dulu ceria dan penuh dengan semangat kehidupan sekarang bagaikan orang mati yang dipaksa untuk tetap hidup. Kosong. Hampa.
"Hyung.." panggilnya lembut. Namun orang yang dipanggilnya hanya diam, seolah-olah tidak mendengar apapun.
"Jae hyung.." dia sekarang duduk di samping hyung-nya, matanya sudah terasa panas. Dia tau sebentar lagi akan ada aliran di pipinya tapi dia tidak berusaha menahannya. Dia lalu memeluk namja yang berkulit putih pucat bagaikan manequin yang terbuat dari batu mulia yang mahal harganya itu. Indah. Cantik. Namun tanpa nyawa.
Orang yang dipeluk tersentak sedikit, pikirannya sudah kembali ke dunia lagi. Dia lalu membalas pelukan dongsaeng kesayangannya itu.
"Junsu-yah.. Kenapa?" namja itu malah bertanya keheranan melihat keadaan dongsaengnya. Bahu dongsaengnya itu bergetar, tangisnya pecah seolah-olah ada suatu hal yang telah menorehkan luka yang sebegitu dalamnya di dalam hatinya. Ya. Junsu memang terluka. Terluka karena luka yang diderita Jaejoong.
"Hyung jangan seperti ini terus.. Aku ingin hyung-ku yang dulu.. Aku ingin Jae hyung-ku yang dulu.." kata Junsu disela isak tangisnya. Mendengar permohonan yang berasal jauh dari hati Junsu itu, Jaejoong merasa pilu di hatinya kian bertambah. Dia sudah membuat dongsaengnya bersedih. Dia yang sudah membuat dunianya sendiri seolah-olah berhenti. Dia sendiri yang mengklaim bahwa Mataharinya itu telah hilang, meninggalkan kebekuan dan kehampaan dalam hatinya. Tapi apa pernah sekali saja dia mengingat Junsu? Dan orang lain yang menyayanginya, yang juga menderita karena penarikan dirinya dari dunia luar?
"Sudah cukup semua ini hyung.. Kalau hatimu sakit, katakanlah! Kalau kau ingin balas dendam, lakukanlah! Aku mohon hyung, kembalilah hidup.. kembalilah padaku.." Jaejoong terdiam. Apa kata Junsu tadi? Balas dendam? Kenapa Jaejoong belum pernah memikirkan hal itu sebelumnya? Balas dendam? Kedengarannya menarik juga.
"Junsu-yah..." Jaejoong melepaskan pelukan Junsu, menatap mata adiknya dalam lalu menghapus airmatanya dengan kedua ibu jarinya. "Uljima.. uljima.. My dolphin don't cry.." kedua mata besar Jaejoong menatap Junsu dengan tatapann yang sarat dengan kasih sayang.
"Hyung berjanjilah padaku.." Jaejoong mengangguk, lalu tersenyum lembut.
"Hyung berjanji, hyung tidak akan seperti ini lagi. Hyung berjanji akan jadi hyung-mu yang dulu lagi.. Jangan menangis ya.. Hyung benci melihatmu menangis, hati hyung sakit melihatnya.." Junsu memeluk Jaejoong. Erat. Sangat erat.
"Gomawo hyung.. Jeongmal gomawo yo.." Jaejoong mengelus punggung Junsu.
"Ya, cheonmaneyo.." Diam-diam Jaejoong merancang sesuatu di otaknya. Kalau dia bisa dilukai, kenapa dia harus takut melukai? Jung Yunho mungkin terlihat kuat, tapi saat ini? Tidak. Tidak dengan kondisi dia yang setiap detik bersusah payah meminta Jaejoong kembali ke pelukannya.
=*Rn*=
Jung Yunho menjambak rambutnya kuat-kuat setelah berkali-kali mendial nomor handphone Jaejoong dan tidak mendapat jawaban. Email yang sudah dikirim berkali-kalipun tidak pernah dibalas Jaejoong, bahkan dia tidak yakin apakah Jaejoong membacanya atau tidak.
Yunho tau betapa brengseknya dia dulu. Yunho tau dia telah melakukan kesalahan besar yang akan susah sekali dimaafkan. Yunho tau kalau dia terlalu kotor untuk mendapatkan satu maaf saja. Yunho mengerti seberapa besar penderitaan jaejoong yang disebabkan olehnya. Yunho tau semuanya, bahkan dia terlalu tau sampai-sampai dia ingin membutakan mata dan menulikan telinganya.
=Flashback=
Malam itu Yunho benar-benar marah karena dia kalah dalam salah satu tender yang bernilai ratusan juta won, ditambah lagi kekalahannya itu melibatkan musuh bebuyutannya yang bernama Choi Siwon. Choi Siwon inilah yang selalu mempermasalahkan pernikahannya dengan Jaejoong, ditambah lagi dengan kekalahan tendernya itu, Siwon malah semakin menjadi-jadi.
"Jadi sekarang 'istri'mu hamil? Heh, kukira kau tidak napsu dengannya, tapi sekarang? Terbukti kan kalau kau memang gay? Aku sudah menduganya sejak SMA Yunho! Dan sekarang kau kenapa? Terpikir istrimu itu ya, sampai tidak konsen dalam presentasi?" Siwon mengeluarkan evil smirknya. "Oke lah.. Ucapkan selamat tinggal pada tender seratus juta won-mu.."
Ingin rasanya Yunho meninju mulut kuda liar itu. Mereka memang satu SMA dulunya, namun sejak lahir mereka sudah ditakdirkan untuk menjadi rival. Keluarga Jung adalah saingan dari keluarga Choi. Jung Yunho adalah saingan terberat dari Choi Siwon. Sampai sekarang pun mereka masih seperti dulu, dan mungkin tidak akan berubah.
Setiba di rumahnya, Yunho masih dalam keadaan kepala panas. Amarahnya belum akan hilang bila belum dilampiaskan. Dia masuk ke dalam rumah sambil membanting apapun yang dia temui. Dia melemparkan tas kantor dan kunci mobilnya ke arah mana saja yang dia mau.
"Yunho-yah.." Jaejoong yang sedang menonton televisi terkejut dan segera menyusul suaminya. "Yunho-yah.. ada apa?" tanya Jaejoong pada Yunho yang sudah naik dua anak tangga sedangkan Jaejoong masih di lantai bawah.
Yunho memandangi wajah Jaejoong lekat-lekat. Wajah penasarannya sangat cantik, bahkan bila dibandingkan dengan wanita sekalipun. Tidak bisa dipungkiri kalau Yunho mencintainya. Ya. Dia mencinntai Jaejoong. Tapi rasa kesalnya kepada Choi Siwon seolah-olah kembali terkuak saat dia melihat paras sempurna Jaejoong.
Yunho turun dari anak tangga kedua ke anak tangga pertama, dia menarik Jaejoong dengan satu sentakan dan menempelkan bibirnya ke bibir Jaejoong, lalu melumatnya kasar. Jaejoong yang terkejut dengan aksi Yunho hanya dengan senang hati membalas ciuman itu. Yunho meletakkan tangannya di leher Jaejoong dan menekankan kepala Jaejoong ke arahnya untuk memperdalam ciuman mereka.
"Hmmphh.. Yun.. Kau kenapa.. Hmpph..." tanya Jaejoong di sela-sela ciuman itu. Bukannya menjawab pertanyaan Jaejoong, Yunho malah menggigit bibir bawah Jaejoong dengan keras sampai terasa perih. "AH!" Yunho tidak menyia-nyiakan jalur akses yang secara tidak sengaja dibuka Jaejoong. Dia sekarang sibuk menikmati sesuatu yang manis di dalam mulut istrinya.
"Yun.. hmph.. hosh.." Jaejoong membuka mulutnya untuk mencari oksigen, namun yang dia dapat malah serangan yang lebih intens lagi dari Yunho. Ciuman yang tadinya dia rasa sangat romantis berubah menjadi sangat bernapsu dan kasar. Beberapa kali Yunho menggigit bibirnya bahkan lidahnya, sampai dia yakin besok bibirnya akan membengkak.
Yunho masih terus saja melakukan hal itu, dan sekarang dia mulai memberi kissmark di leher Jaejoong. Jaejoong mulai tidak menyukai permainan Yunho, dia tidak suka Yunho yang seperti itu, mengingatkannya dengan peristiwa dimana Yunho 'memperkosa'nya. Selama ini Yunho selalu menjaga agar Jaejoong tidak merasakan trauma itu lagi, bahkan Yunho tidak mau melakukan 'that' ke Jaejoong karena takut dia akan tersakiti. Tapi sekarang? Kalau tidak dihentikan Jaejoong akan mengalami hal yang sama untuk yang kedua kalinya.
Jaejoong mendorong tubuh Yunho dengan segenap tenaga yang dimilikinya, dan usahanya membuahkan hasil. Ciuman itu terlepas, meninggalkan raut wajah kesal sekaligus marah di wajah Yunho. Jaejoong sebenarnya takut melihat Yunho yang seperti itu, tapi dia benar-benar sudah tidak mau lagi merasakan pengalaman pahit yang dulu pernah diberikan Yunho padanya.
Yunho lalu menahan kepala Jaejoong dengan kedua tangan besarnya, sehingga wajah Jaejoong tepat ada di depan wajahnya. Yunho menatap mata indah itu dalam, sedangkan orang yang ditatap masih sibuk mengatur napasnya.
"Aku akan menceraikanmu." Jaejoong membeku saat itu juga.
=Flashback Off=
Mengingat kejadian itu hati Yunho bertambah sakit. Kenapa? Karena mengingat hal yang pernah dia lakukan pada Jaejoong seolah-olah memperkecil harapannya agar bisa dimaafkan oleh namja cantik itu. Apalagi kesalahan besar yang itu.. Yang telah membuatnya dibenci Jaejoong selamanya. Dia benar-benar sudah tidak tau lagi apa yang harus dia lakukan agar Jaejoong memaafkannya, atau paling tidak mendengar permintaan maafnya.
Tiba-tiba handphone Yunho berdering. Betapa terkejutnya Yunho ketika yang menelepon itu adalah Jung—eh bukan—maksudnya Kim Jaejoong. Dengan senang hati Yunho mengangkat telepon itu.
"Yoboseyo.." bahagia. Ya. Yang dirasakannya adalah bahagia saat bisa mendengar suara indah itu lagi.
"Annyeong Yunho-ssi.." entah kenapa Yunho merasa kini suara Jaejoong sudah terdengar lebih berani dari biasanya.
"Annyeong.." kata Yunho. Dia masih harus mengumpulkan tenaganya agar bisa bicara dengan baik pada Jaejoong.
"Yunho-ssi.. Mianhae karena tidak pernah mengangkat teleponmu dan juga tidak membalas semua emailmu. Aku terlalu sakit hati untuk melakukan hal itu, kau tau kan?" Kata Jaejoong. Yunho tersentak. Bukan Jaejoong-ya. Jelas-jelas itu bukan Jaejoongnya. Yang bicara seperti itu bukanlah Boo-Jaenya.
"Mianhae Boo.. Aku minta maaf.. Aku mohon maafkanlah aku. Aku berjanji kalau kau mau memaafkan dan kembali padaku kita akan memulai hidup yang baru. Yang sangat baru sampai kau akan lupa hidup kita yang dulu. Kau mau kan Jae?" kata Yunho, penuh pengharapan dan kerendahan hati.
"Hah..." terdengar jelas bagi Yunho kalau Jaejoong sedang menghela napasnya. "Maaf? Hidup yang baru? Hah.. Jangan buat lelucon, Yunho-ssi.. Aku tau jelas siapa kau.." kata-kata Jaejoong bagaikan menohok hati Yunho. Jadi benar Jaejoong sekarang sudah membencinya?
"Benar Boo, aku tidak akan mengulangnya lagi.. Maafkanlah aku, Boo.."
"Namaku KIM Jaejoong, Yunho-ssi.. Tolong jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi, terasa aneh di telingaku.." Jaejoong? Boo-Jaenya kenapa bisa jadi sekasar itu? "Dan satu lagi, tidak semudah itu kau bisa mendapatkan maaf dariku, Yunho-ssi.. Tidak setelah menyakitiku separah itu."
"Kau ingin aku melakukan apa? Apa yang kau inginkan agar aku bisa menebus kesalahanku? Aku berjanji akan melakukannya." Di seberang sana, Jaejoong tersenyum penuh kemenangan.
"Kau ingat seberapa banyak darah yang pernah keluar dari tubuhku karenamu?" Yunho menahan napasnya. Tentu saja itu banyak sekali. Hampir satu tahun Jaejoong selalu dapat siksaan darinya, tidak mungkin darah itu dihitung lagi.
"Ah.. Kau pasti masih ingat kan? Kan kau sendiri begitu menikmati setiap tetes cairan kental itu keluar dari tubuhku. Ya kan?" Yunho menahan napasnya. Apa yang dia inginkan sebenarnya?
"Bingung? Oke, aku akan perjelas.. Aku ingin melihat darah keluar dari tubuhmu, sebanyak darah yang pernah kukeluarkan dari tubuhku dulu.. Bagaimana? Sanggup?" Yunho terkejut, jelas-jelas Jaejoong kini sudah berubah. Tapi bukannya itu juga gara-gara dia? Ah.. sudahlah.. Mungkin ini jalan untuk menebus semua kesalahannya pada Jaejoong.
"Tidak bisa ya? Ya sudah.." kata Jaejoong dengan nada meremehkan. Mereka terdiam sebentar. Lama, Yunho berpikir tentang perubahan drastis Jaejoong.
"Baiklah. Kapan kau ingin melihatnya?" senyuman iblis itu kembali terukir di bibir Jaejoong.
TBC
Haaaahhhh... Yorobun.. gimana? Kurang panjang ya? Alurnya cepet? Aduh, lagi-lagi maaf.. Ini bentuk kegalauan saya pindah jurusan mendadak dari IPA ke IPS.. *curcol terusss...*
Aku berubah pikiran untuk membalik keadaan.. Kasian Jae terus yang disiksa Yunho.. Kalo gantian, seru juga kali ya?
Hehe.. Yaudah deh.. Kalau ada yang gak suka sama fict ini, langsung aja santet Kyuhyun ya.. Biar dia gak grepe2 Umin lagi. Biar saya leluasa ngurus surat nikah saya sama Umin di KUA, jadi gak perlu ada figuran yang teriak2 lebai karena kagak rela Umin nikah ama wanita yang dicintainya.. Yieehhh... *ditampol kyu pake PSP* *maunyaaaa*
Yesungdahlah.. Ada gak yang sudi meripiu epep gagal ini? Hiks.. T.T *srooottt*
*dibuang ke rimba sumatera*
