Yorobun.. Saya datang kembali membawa epep yang ntah kapan kelarnya ini.. Semoga kalian gak bosen baca epep gagal ini ya.. Sejujurnya saya mikirin lanjutan epep ini agak lama biar gak ada pihak yang kecewa.. Dan baru saja terpkir oleh saya saat TO SNMPTN soal IPS tadi pagi, sebenernya mau publish langsung siang tadi, tapi tadi saya ada tugas suci dulu buat masa depan.. haha.. *curcol terus, digampar*
Oiya, saya sekarang lagi tergila-gila sama BB baru yang namanya B1A4, saya gak tau kenapa (mungkin karena terlalu cinta ama Suju) saya liat Jinyoung mirip Yesung dan liat Baro inget Kibum.. Sebenernya Sandeul rada mirip Onew sih,, dan Gongchan itu MAGNAE PALING KEREN yang pernah ada (selain Changmin tentunya.. hehe..)
Udah deh, sekian dulu promosi B1A4-nya, kapan2 mungkin aku mau bikin epep tentang mereka.. Tapi tunggu perkembangan dulu, dan aku kira Gongchan itu Uke banget. Hehe..
Yunho menjambak rambutnya sendiri, menandakan kalutnya suasana hatinya saat ini. Jaejoong benar-benar bukan Jaejoong lagi. Ataukah malah dia yang membuat Jaejoong menjadi begitu?
'Aku ingin melihat darah keluar dari tubuhmu sebanyak darah yang pernah keluar dari tubuhku'
Sungguh kata-kata itu membuat Yunho teringat dengan peristiwa itu. Saat pertama kalinya dia melihat begitu banyak darah keluar dari tubuh seseorang, lebih miris lagi karena yang menyebabkan keluarnya darah itu adalah dirinya.
=Flashback=
"Aku akan menceraikanmu." Kata-kata dingin yang mampu menusuk sangat dalam itu keluar dari bibir Yunho begitu saja. Jaejoong membeku, kata-kata itu adalah kata-kata yang paling dia takuti bila keluar dari bibir Yunho. Cerai.
Mata Jaejoong memanas saat kedua bola mata Yunho memandang tepat ke manik mata Jaejoong dengan tatapan yang penuh kebencian. Jaejoong takut, dia kecewa, dia sedih, mengingat kebahagiaan yang baru saja direguknya dari sosok Yunho akan menghilang begitu saja.
"Ke.. kenapa Yun?" tanya Jaejoong sambil berusaha keras menahan bulir air yang sudah memenuhi matanya. Dadanya sesak, mengetahui kenyataan bahwa semua kebahagiaan yang dia rasakan baru-baru ini hanyalah semu belaka. Ternyata dia memang tidak ditakdirkan untuk bahagia. Ternyata Yunho memang begitu membencinya.
"Tch.." Yunho menyeringai. "Kenapa? Kau tanya kenapa? Karena AKU TIDAK PERNAH MENCINTAIMU!" kata Yunho dengan penekanan di kata-kata terakhirnya, dan hal itu bagaikan godam yang menghantam jantung Jaejoong, membuatnya ingin menghentikan detakan menyakitkan itu untuk selamanya.
Airmata itu mengalir satu-satu saat Jaejoong memutuskan untuk tidak memandang mata Yunho lagi. Isakan kecil namun pilu terdengar dari bibir merah Jaejoong. Dia terluka, hatinya berdarah untuk yang kesekian juta kalinya. Namun yang kali ini terasa begitu sakit, sampai dia ingin mengakhiri hidupnya saja.
Kenyataan bahwa jantung Yunho mendadak tidak karuan berdetak dan setiap denyutnya menimbulkan sakit luar biasa ketika melihat tubuh ringkih Jaejoong bergetar menahan tangis membuat ego Yunho menyeruak keluar, seolah tidak mau kalah dengan sisi melankolisnya.
"Jangan perlihatkan lagi airmata menjijikkan itu di depanku." Ucapnya dingin. Yunho segera membalikkan badannya dan menaiki anak tangga satu persatu. Airmatanya sudah hampir menetes saat dia mendengar suara lembut dan pelan khas orang yang sedang menahan tangis memanggil namanya. Entah mengapa, dada Yunho bagaikan dihantam beban berat, menyakitkan. Mengingat dialah penyebab terbesar tangis itu.
"Yunho-ssi..." dia membeku, menunggu kalimat apa yang akan terucap dari mulut Jaejoong. "Bunuh aku Yun.."
Mata Yunho terbelalak, tidak percaya dengan nada putus asa yang dia dengar barusan.
"Jangan bercanda. Itu tidak akan mengubah keputusanku." Yunho terus menaiki anak tangga itu, namun sebelum dia sampai di lantai atas, sebuah tangan kecil yang lembut menggenggam pergelangan tangannya.
"Kumohon, tinggalkanlah aku setelah kau membunuhku.." tetesan airmata Jaejoong jatuh ke tangan Yunho yang digenggam Jaejoong. Lewat itu Yunho dapat merasakan sakit menjalari darahnya, dan lebih sakit lagi saat menyadari bahwa Jaejoong bahkan merasakan sakit yang jauh lebih parah daripada yang dia rasakan.
Yunho berbalik, lalu menyentakkan tangan Jaejoong dengan kuat. Jaejoong terkejut, namun dia hanya menunduk.
"KAU KIRA AKU MAU MASUK PENJARA HANYA GARA-GARA MEMBUNUH PELACUR SEPERTIMU, HAH? PELACUR YANG BERBOHONG BAHWA ANAK YANG DIKANDUNGNYA ADALAH ANAKKU AGAR ANAK ITU MEMILIKI AYAH YANG TERPANDANG, YANG AKAN MENGANGKAT DERAJATMU DAN ANAKMU. IYA KAN JAE? AKU BISA MEMBACA PIKIRANMU!" Yunho sendiri bahkan kaget dengan teriakannya yang tidak berperasaan itu.
PLAK!
Tamparan Jaejoong bahkan hanya terasa bagaikan hembusan angin, saking matinya perasaan dan hati Yunho. Mati karena menyakiti orang yang ternyata dicintainya. Mati karena dia telah kalah oleh ego-nya, oleh harga diri semu-nya.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan dariku Yun? Penderitaanku? Luka di tubuhku? Kehancuran hatiku? Katakan padaku apa yang belum kau dapatkan, Yun.. Biar aku memberikannya padamu sekarang.. Agar kau berhenti menganggapku serendah itu.."
"Satu-satunya yang belum kau berikan padaku saat ini adalah... KEMATIAN ANAK ITU!"
Jaejoong tersentak. Ternyata kebencian Yunho yang sangat itu bukan hanya ditujukan untuknya, tapi juga untuk makhluk tidak berdosa yang kini hidup di rahimnya.
"Bagaimana? Kau tidak bisa memberikannya kan? Tch.. Kalian sama saja, sama-sama menjijikkan!" Yunho sudah ada di lantai dua, sedangkan Jaejoong masih di anak tangga yang terakhir. Jaejoong kembali menarik tangan Yunho agar pria itu memberi sedikit atensi pada apa yang akan dikatakannya.
"Aku tau kenapa kau ingin membunuh anak ini, Yun..." Jaejoong kini menatapnya dingin, airmatanya sudah tidak mengalir lagi, tepatnya tidak bisa mengalir lagi. "Kau takut saat anak ini lahir kau akan mencintainya kan? Kau takut saat anak ini lahir kau akan melihat bayangan dirimu pada wajahnya kan? Kau takut akan kenyataan bahwa dia adalah anak kandungmu dari orang yang paling kau benci di dunia! Kau takut dengan lahirnya anak ini akan menghadapkan kenyataan bahwa kau memperkosa istrimu sendiri ke depan matamu! Kau takut dengan perilaku menyimpangmu sendiri kan, Jung Yunho? Tch.. Bukankah itu menyedihkan?" kata-kata Jaejoong menjatuhkan Yunho sejatuh-jatuhnya.
Yunho menggeram, emosinya memuncak melihat manik mata Jaejoong memandangnya dengan tatapan mengejek seperti itu. Jung Yunho bukan orang seperti itu. Orang terhormat seperti Jung Yunho tidak mungkin melakukan perbuatan menyimpang seperti itu. Tidak mungkin!
""Kau benar-benar ingin membuatku marah kan Jae?"
PLAK!
Tamparan itu sekuat tenaga dilayangkan Yunho ke pipi kanan Jaejoong, membuat Jaejoong berlutut di anak tangga itu. Sudut bibirnya yang mengeluarkan darah menjadi tanda seberapa kuatnya tamparan yang dilayangkan Yunho padanya.
"Berdiri kau, Jae!" Yunho menarik kerah baju Jaejoong sehingga dia berdiri di anak tangga yang lebih rendah daripada tempat Yunho kini berpijak. "Kalau kau tidak ingin membunuh anak keparat itu, BIAR AKU YANG MELAKUKANNYA!"
Pukulan demi pukulan dilayangkan Yunho sekuat tenaganya ke tubuh Jaejoong yang masih dia tahan dengan cara menggenggam erat kerah bajunya. Yunho masih bisa melihat darah yang keluar dari bibir Jaejoong yang pecah terkena tinjunya, sudut mata Jaejoong yang lebam dan pelipisnya yang juga mengeluarkan darah. Namun satu hal, Yunho tidak pernah benar-benar memukul Jaejoong di bagian yang dapat menyebabkan dia kehilangan anak itu.
Ya. Yunho hanya ingin melampiaskan emosinya sesaat.
Namun caranya sepertinya salah.
Dan kesalahan itu sangatlah fatal.
Satu pukulan dilayangkan kembali oleh Yunho ke muka Jaejoong. Yunho yang sudah mulai lelah kehabisan tenaga hingga pukulannya tidak sedahsyat tadi. Namun tanpa dia sadari, cengkeramannya di kerah baju Jaejoong—yang menjaga agar tubuh Jaejoong tidak terjatuh dari tangga—terlepas begitu saja.
Dalam sekejap tubuh Jaejoong yang sudah kehilangan setengah kesadarannya terjatuh dari anak tangga yang paling atas sampai ke lantai dasar. Yunho bisa melihat jelas tubuh Jaejoong terhempas ke anak tangga yang tinggi dan berlekuk itu. Darah Yunho berdesir, rasa khawatirnya mulai memuncak sampai ubun-ubun. Bagaimana tidak, bila berkali-kali kepala, perut, dada dan organ tubuh Jaejoong yang lainnya secara beruntun terhempas ke tangga yang keras itu menghasilkan bunyi yang memilukan.
"Arrgghhh..." erang Jaejoong kehabisan tenaga dan kesakitan. Saat tubuhnya menyentuh lantai dasar dengan keras, dia sudah tidak merasakan apa-apa lagi.
Yunho segera turun dari tangga, berlari ke arah Jaejoong yang kini terkapar penuh darah dan tidak berdaya. Darah mengalir dari kepala belakangnya, dari hidungnya, dari pelipisnya, di sudut bibirnya, bahkan dia memuntahkan darah juga.
"JAE!" Yunho segera mengangkat kepala Jaejoong dan begitu terkejut saat tangannya terasa basah oleh cairan anyir yang kental bernama darah. Jaejoong yang sudah menutup matanya tadi membuka matanya kembali.
"Su..dah.. pu..as..kah.. Yun..ho-ssi?" tanya Jaejoong terbata-bata. Yunho hanya tertegun, diam seribu bahasa. Sosok mengenaskan yang ada di hadapannya sekarang adalah istrinya, dan kondisi istrinya yang menyedihkan itu adalah akibat dari sikap tempramentalnya sendiri.
"Arrrgghh... Ngghhh..." Jaejoong merasakan perutnya bagaikan ditekan, dililit, lalu dihantam dengan begitu kuat hingga dia tidak bisa bernapas lagi. Bersamaan dengan itu dia merasakan suatu cairan aneh mengalir membasahi kakinya.
"Ennngghhh.. Arrghhh..." Yunho kaget. Setaunya darah yang keluar itu adalah pertanda buruk baginya.
Kesadaran Jaejoong perlahan memudar seiring sakit yang sangat terkulai lemah membuat Yunho berteriak kencang memanggil namanya.
JAEJOONG!"
~*Rn*~
Piip.. piip.. piip.. piip..
"Jaejoong-ah.."
'Apa yang telah terjadi padanya, Yunho-ssi? Mengapa separah ini?'
"Mianhae.."
'Dia kehilangan banyak sekali darah..'
"Jae.."
'Hanya Tuhan yang tau apakah dia sanggup bertahan atau tidak..'
"Bangunlah.."
'Maaf Yunho-ssi, tapi dia koma..'
"Aku... aku... mencintaimu, Jae.."
'Entah kapan dia akan bisa membuka matanya..'
"Sa..rang..hae.."
'Kepalanya terbentur dengan sangat keras..'
"Sebegitu terlambatnya kah Jae?"
'Kaki kiri dan tangan kanannya patah..'
"Kumohon Jae, jangan siksa aku dengan cara ini.."
'Selain terluka fisik, sepertinya dia mengalami penderitaan psikis yang lebih parah..'
"Siksa aku Jae, maki aku, pukul aku, bahkan bunuh aku.. Tapi bangun Jae.. Kumohon.."
'Kami sudah berusaha semampu kami..'
"Aku menyesal, Jae.."
'Dia sepertinya sudah tidak punya semangat lagi untuk hidup..'
"Bertahanlah Jae.. Setidaknya untuk membalaskan dendammu padaku.."
'Detak jantungnya sempat berhenti..'
"Apa kau tidak mendengarku, Jae? Kau dengar aku kan Jae?"
'Maaf, tapi... Dia kehilangan anak dalam kandungannya..'
DEG!
Yunho menjambak rambutnya sendiri saat kata-kata dokter selalu terngiang di telinganya. Saat ini dia sedang ada di ruangan bercat putih penuh aura kematian, dan di tempat itu juga terbaring seseorang yang dulu sangat dibencinya. Ya. Dulu.
Airmata penyesalan tak henti-hentinya mengalir dari mata Yunho. Kemungkinan Jaejoong untuk survive kurang dari 20%. Dan penyebab semua itu adalah DIRINYA. JUNG YUNHO. SI BRENGSEK JUNG YUNHO.
Piip.. piip.. piip.. piip..
Dalam waktu satu hari saja, detak jantung Jaejoong sempat terhenti dua kali. Yunho terus dan terus menggenggam tangan Jaejoong sambil menangis. Menangisi ke-iblisannya. Menangisi kebejatannya. Menangis karena menyesali perbuatannya.
Tapi apa gunanya? Jaejoong koma sekarang dan hanya Tuhan yang tau kapan dia akan sadar. Benar, keinginan Yunho untuk membunuh anak dalam kandungan Jaejoong terkabul. Namun tidak dengan membawa serta Jaejoong. Bagaimanapun mereka sempat saling mencintai selama beberapa saat. Sampai egoisme mengalahkan segala yang ada dalam diri Jung Yunho.
Yang tersisa sekarang hanya penyesalan, dan rasa malu untuk bertemu kedua orangtua dan adik Jaejoong, juga malu pada Orangtuanya sendiri karena telah mencoreng nama baik keluarga Jung.
Namun peduli setan dengan semua itu. Yang Yunho pikirkan hanyalah bagaimana cara menebus kesalahannya. Bagaimana agar Jaejoong tetap hidup. Agar Jaejoongnya kembali membuka matanya. Agar dia memiliki kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Agar dia memiliki kesempatan untuk... mencintainya sekali lagi..
TBC
Maaf ya yorobun, ternyata penyiksaan terhadap Yunho kita pending dulu. Aku mau ngasih alasan dulu kenapa Jae segitu bencinya pada Yunho, dan seberapa banyak darah yang Jae minta dari tubuh Yunho.
Semoga chapter ini nggak mengecewakan ya.. Udah agak panjangan kan?
Maaf ya bagi semua reader yang repieunya belum aku bales.. Tapi kalian harus tau betapa senengnya aku baca ripiew dari kalian seolah-olah punya semangat baru buat nulis lagi.. Tetep kasih ripiu ya reader sekalian, agar saya punya charge-an energi buat ngelanjutin epep ini..
Buat tee-tah, Angel Xiah, Blue-Mist78, dFaFallenAngel, Arisa Adachi, Ika UzumakiTeukHyukkie, Lanlopumin, MaxAberu, Priss Uchun, Min Hyorin, Nikwon, gimo michiko, ciixtabi, KYUyunJAE04, Dhikae, RizmaHuka-huka, , JulyCassieElfShawol, Amu Zholdick, RARA, Pipit-SungminniELFishy, zero BiE, Rim Na Captcha, kiimee08, Vmaknae10, jongwoonieswife-sj, shin hyun mi, mellchaa syvenneshte, Devil53, Sulli Otter, ELFishyShfly, Ana-Ryhan, Lee Hyun Mi, Maki Kisaragi, Thazt, QB, dan yang lainnya yang udah bersedia baca apalagi ripiu.. I lop yu pul ampe tumpah-tumpah deh..
So,, Mind to review?
Kalo ripiunya banyak aku lanjutin cepet deh.. *maksa*
Gak kok.. Terserah aja.. Yang penting udah mau baca..
ChangKyu... 3
