Hallo reader.. Maaf ya baru sekarang bisa apdet.. Soalnya aku sibuk masalah lulus-lulusan kemaren, dan sekarang sibuk mikirin mau kuliah dimana. Hm.. Doakan aku ya reader, supaya bisa masuk PTN.. huhuhu.. Galau saya.. T.T

Oke, daripada aku semakin abal, langsung baca aja deh ya... Capcay ciin..


~~Jaejoong POV~~

"Jaejoong-sshi.." aku menengok ke belakangku, dan mendapati seorang pria tampan tengah tersenyum sambil membawa sebuket bunga di tangannya. Aku yang sedang duduk di sofa sambil menonton televisi tersenyum padanya. Dia segera saja duduk di sebelahku dan menyodorkan bunga itu padaku.

"Untukmu. Meskipun mereka tidak secantik kamu. Hihi.." dia terkikik sedikit, mungkin merasa geli dengan kata-kata gombal yang baru saja dia ucapkan. Aku tersenyum lagi, mungkin ini efek dari lesung pipinya? His smile is so contagious.

"Cheesy.. As usual.." kataku sambil merebut bunga dari tangannya dengan pelan.

"Ow.. And it's not working.. As usual.." dia lalu menatapku dengan intens. Merasa risih, aku lalu balik menatapnya.

"What is that glare for, huh?" tanyaku. Dia kemudian meletakkan tangannya di atas tangan kananku. Dia menggenggamnya dengan erat sambil mengelusnya dengan lembut.

"How long will you let me.. yearning for you like this, Joongie? Berapa lama lagi harus aku menunggu?"

Aku memejamkan mataku, kata-kata itu seolah-olah memberikan tekanan yang besar pada otakku. Orang ini, Choi Siwon, untuk ke sekian kalinya mengucapkan kata-kata ini untukku. Dia bilang dia mencintaiku. Dia bilang dia menungguku. Tapi hatiku.. hatiku seolah-olah menolaknya.. Aku tidak tau kenapa.

"Say something, Joongie.. Please.." tatapan matanya melembut. Aku menghela napas pelan.

"Siwon, please.. I.. I've told you I need time.. I.. Even my wounds still don't heal yet.. Please understand.." Siwon memejamkan matanya yang menyiratkan kekecewaan hatinya. Kekecewaan yang sama dengan yang selalu dia rasakan setiap kali aku memberikan penolakan seperti ini.

"Arasseo yo.. Kau masih mencintainya kan? Aku tau.." dia melepaskan tanganku lalu memalingkan mukanya ke arah lain. Entah kenapa, aku merasa bersalah.. Aku memeluknya dari belakang, melingkarkan tanganku ke pinggangnya dan menyandarkan kepalaku di punggungnya.

"Maafkan aku.. Jangan bersedih begitu.." ucapku pelan, nyaris seperti sebuah bisikan. Dia kemudian meletakkan tangannya di atas kedua tanganku. Dia sudah sangat baik, dia yang selalu menemaniku disaat semuanya bahkan telah terlihat hancur bagiku. Yang mencoba membuatku bangkit lagi, dan berusaha menghapus lukaku yang bahkan sampai kini masih mengeluarkan darah. Choi Siwon.. Heh.. Aku tidak menyangka temanku waktu SMP itu sampai sekarang masih menaruh hati padaku.

Aku harus apa? Senang? Aku rasa tidak. Sedih? Juga tidak. Karena secara tidak sengaja pintu hatiku sudah tertutup untuk orang lain. Ya, secara tidak sengaja.

Oke, baiklah. Aku tidak ingin berbohong lagi. Hatiku tidak tertutup, tapi hatiku sudah terlalu penuh dan dikuasai oleh seorang pria brengsek bernama Jung Yunho. Dia.. entah apa yang bisa membuatnya lenyap dari ingatanku. Tapi yang jelas, sekarang keinginanku hanya satu. Menghapus rasa cintaku padanya, dan memperlakukannya 'sebaik' dia memperlakukanku dulu. Sangat simpel kan?

Siwon perlahan melepaskan pelukanku, dan memutar posisi duduknya hingga kami berhadapan. Dia menatap mataku, membuatku tidak memiliki pilihan selain balas menatapnya.

"Tidak peduli berapa lama, Jaejoong-ah.. Sampai kapanpun aku akan menunggumu. Sampai kapanpun.." perlahan dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku memundurkan dudukku, mengantisipasi apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi aku kalah siasat, Siwon menahan belakang kepalaku agar wajahku tetap menghadap wajahnya.

Wajahnya semakin dekat, sampai aku bisa merasakan napasnya di kulitku. Bulu kudukku berdiri, aku seolah-olah dihadapkan lagi dengan hal yang dilakukan Yunho dulu. Aku takut Siwon akan semakin liar dan nantinya kehilangan kendali dan menyakitiku seperti Yunho.

Aku gemetar, sampai bibirku ikut bergerak. Napasku memburu dikarenakan aktivitas jantungku yang tidak karuan. Hanya beberapa senti lagi bibirnya akan bersentuhan dengan bibirku. Aku memejamkan mataku kuat-kuat, berusaha mengelak dari apa yang pasti akan terjadi setelah ini.

"Jaejoong..." suara itu.. Suara itu adalah suara yang sangat aku kenal. Yang dengan mendengarnya sedikit saja membuat jantungku mencelos dan rasa sakit itu tiba-tiba datang lagi. Tapi kali ini.. suara itu malah terdengar seperti orang yang terluka, bukan orang yang terbiasa melukai. Dan itu jelas-jelas bukan sifat dasar Yunho.

Siwon merasa terganggu dan melepaskan tangannya dari kepalaku. Aku tau dia sedang mengepalkan tangannya karena emosi. Dia lalu melemparkan tatapan penuh kebenciannya pada Yunho, yang telah berdiri tidak jauh dari posisi kami duduk sekarang.

~~END OF POV~~

Siwon menyeringai licik, sedangkan Yunho terlihat sedikit terkejut.

"Hai brengsek.." kata Siwon dengan nada sarkastis. Yunho menaikkan sebelah bibirnya.

"Hai bajingan.." balas Yunho tak kalah sarkastis. "Kau tidak pernah tau ya kalau seorang laki-laki tidak boleh mengganggu ISTRI orang lain?" tanya Yunho dengan tekanan pada kata 'istri'. Giliran Siwon yang mengeluarkan smirk-nya sekarang.

"Istri? Hah.. Kau itu tidak tau diri ya? Selama ini kau kemana saja heh? Di saat-saat seperti ini baru kau bilang dia istrimu! Menjijikkan!"

"Hahaha.." Yunho tertawa palsu. "Menurutmu mana yang lebih menjijikkan, aku tidak pernah menyebutnya 'istri', atau tangan kotormu itu yang dengan tidak tau dirinya menjalari tubuh istri orang lain? Bukannya dulu kau yang paling ribut tentang masalah aku yang Gay?"

Siwon mengepalkan tangannya emosi. Dia mungkin sudah memukul Yunho kalau saja tangannya tidak ditahan oleh Jaejoong.

"Yunho-ssi.." panggil Jaejoong dingin, dan Yunho tidak menyukai itu. Yunho mengarahkan manik matanya tepat di manik mata milik Jaejoong, dan yang dia lihat adalah.. kebencian.

"Apa menurutmu kau tidak seharusnya MALU bicara seperti itu di depan MANTAN istrimu?" tanya Jaejoong dengan penekanan dimana-mana. "Bahkan kau masih menyebutku ISTRIMU setelah sekian lama kau menolak bahkan hanya untuk melihatku? Kau menyesal? Merasa bersalah? Takut dengan perbuatan menyimpangmu sendiri? Heh?" kalau seandainya yang ada di depannya itu bukanlah sosok cantik dengan kulit putih pucat serta bibir semerah cherry, Yunho pasti mengira yang berbicara itu bukanlah Jaejoong. Bukan JaejoongNYA.

"Kau salah, Jae.. Kita masih belum bercerai.." kata Yunho sepelan mungkin, lebih cocok dikatakan kalau dia terluka.

"Belum bercerai katamu?" Jaejoong sekarang berdiri dari posisi duduknya, berjalan perlahan mendekati Yunho sambil menatap mata Yunho dengan pandangan yang mengintimidasi. "Setelah aku menderita segitu parahnya karenamu, kau masih bisa bilang kita belum bercerai? Cih.. Tidak tau malu kau Jung Yunho."

Yunho terdiam. Dengan kata-kata Jaejoong itu dia sukses terbungkam. Dia tidak punya bukti lagi untuk meringankan kesalahnnya, karena memang yang dia lakukan itu sudah terlalu kejam untuk ukuran seorang yang disebut 'suami'. Yunho menunduk, merasakan matanya mulai terasa perih.

"Maafkan aku.. Bagaimana agar kau bisa memaafkanku, Jae.. Tolonglah.."

Baik Jaejoong maupun Siwon sama-sama terkejut dan tdak percaya akan adegan yang tengah berlangsung di depan mata mereka. Jung Yunho, pria yang memiliki harga diri paling tinggi di dunia memohon pada orang yang pernah dilukainya. Sungguh keajaiban sedang terjadi di sini.

Perlahan tapi pasti, setetes cairan asin itu bergulir dengan bandelnya ke pipi Yunho. Yunho tidak berusaha menahannya, dia tidak peduli apa tanggapan Jaejoong terhadapnya sekarang, apalagi tanggapan si bajingan Siwon tentang musuh bebuyutannya. Yang dia tau pasti adalah, Siwon pasti merasa menang dan sedang menertawakan kekalahannya.

"Aku memaafkanmu.."

Yunho tersentak, Siwon juga. Kata-kata dingin itu meluncur begitu saja dari bibir kecil Jaejoong. Yunho merasakan setitik harapan mulai menangkupinya, namun Siwon mulai diliputi rasa khawatir akan kelanjutan hubungan kedua orang yang ada di hadapannya itu.

"Tapi kau sudah tau syaratku kan?"

DEG.

Syarat itu lagi. Ya, syarat yang diajukan Jaejoong bila Yunho ingin kembali kepadanya adalah untuk melihat Yunho mengeluarkan darah sebanyak yang pernah dia derita dulu. Dalam artian, Jaejoong ingin melihat Yunho lebih menderita daripada dirinya. Dan dalam kata lain, Jaejoong menginginkan Yunho MATI.

Tapi apa pedulinya? Yunho tak lagi menginginkan hidup menderitanya tanpa kehadiran Jaejoong. Yunho lebih baik mati dalam usahanya mendapatkan maaf dari Jaejoong daripada seumur hidup mati karena rasa bersalahnya sendiri. Yunho, secara kasarnya, sudah tidak menginginkan hidupnya lagi apabila itu harus dia lewati tanpa Jaejoong. Keputusannya sudah bulat. Yunho bersedia menerima perlakuan apapun. Yunho sudah siap untuk MATI di tangan orang yang dicintainya.

"Tentu saja. Apa harus kita mulai sekarang?" tanya Yunho. Siwon hanya menatap mereka karena tidak tau apa yang sedang mereka bicarakan.

"Oh, tentu.. Lebih cepat lebih baik bukan?" kata Jaejoong, dengan nada ceria seolah-olah ini adalah momen yang paling dia tunggu seumur hidupnya.

Yunho merentangkan tangannya sedikit, lalu memejamkan matanya seolah-olah sudah siap dengan segala yang akan terjadi pada dirinya.

"Aku sudah siap. Mulailah, Jae.. Aku mencintaimu.."

Jaejoong maju beberapa langkah sampai posisinya sangat dekat dengan Yunho.

PLAK!

Satu tamparan di pipi kiri Yunho. Siwon yang berdiri tidak jauh dari mereka terkejut melihat Jaejoong yang seperti itu. Setaunya Jaejoong tidak akan mampu menyakiti apapun, bahkan binatang sekalipun. Tapi sekarang dia dengan tega menampar 'suami'nya dengan segenap kekuatan yang dia miliki.

"Itu untuk pernyataan cintamu barusan. Kau pikir aku percaya, heh? Menjijikkan." Hati Yunho berdecit sakit mendengar kata-kata itu dari mulut manis Jaejoong. Dia tidak peduli dengan rasa panas di pipinya, hatinya jauh lebih sakit. Dan ini masih belum seberapa. Masih panjang penyiksaan yang akan dia alami malam ini. Yunho pasrah, tidak ada niat melawan. Bahkan bila harus mati di depan musuh bebuyutannya, dia terima.

PLAK!

Kali ini di pipi kanan. Yunho tidak membuka matanya, hanya menikmati rasa panas di kedua pipinya saja.

"Itu untuk sakit di hatiku. Asal kau tau, sampai sekarang dia masih belum sembuh!" suara Jaejoong sudah mulai bergetar menahan tangis. Dia tidak kuasa melakukan hal itu, namun egonya menolak. Egonya mengeset pikirannya agar menjadi kejam, lebih kejam dari apa yang pernah dia terima dulu.

PLAK! PLAK! PLAK!

"Itu untuk setiap tetes airmataku. Setiap airmata penyesalanku karena menikah dengan pecundang sepertimu!"

Airmata perlahan mengalir dari mata Yunho ynag terpejam. Bukan karena sakit. Tapi karena dia menyadari betapa kata-kata Jaejoong itu memang benar adanya.

Siwon membatu di tempat. Dia hanya melihat apa yang terjadi tanpa berminat untuk menghentikannya. Perlahan-lahan menikmatinya juga.

PLAK! PLAK! PLAK!

"Itu untuk airmata Junsu yang jatuh karenaku! Kau tidak tau seberapa berharganya dia bagiku kan? Dan melihat airmatanya itu membuat hatiku sepuluh kali lebih sakit. Gara-gara KAU!"

PLAK! PLAK!

"Ini untuk setiap jengkal tubuhku yang pernah kau sentuh dengan tangan kotormu. Aku bahkan jijik dengan diriku sendiri bila mengingat kejadian itu, kau tau!"

Airmata kini sudah menganak sungai di pipi Yunho dan Jaejoong. Yunho tetap tidak membuka matanya. Pipinya sekarang sudah memerah, bahkan sudah mati rasa akibat pukulan-pukulan Jaejoong. Selemah apapun Jaejoong, dia tetaplah seorang laki-laki. Pukulannya tetaplah sakit. Sedangkan Siwon? Mulai senang dengan adegan di depan matanya.

PLAK! PLAK! PLAK!

Yunho merasakan sesuatu yang panas dan kental mengalir dari hidungnya. Darah. Baguslah. Akhirnya darah pertamanya keluar juga. Harus berapa banyak darah lagi? Hanya Jaejoong yang tau jawabannya.

"Itu untuk setiap hari yang kulewati di rumah sakit, setiap detik ketika aku koma, dan setiap memar yang aku derita!"

PLAK!

"Itu untuk semua pukulanmu dan lebam di tubuhku!"

PLAK!

"Itu untuk kata-kata cinta palsu yang kau tujukan padaku!"

Jaejoong berhenti sebentar untuk menghela napas. Tenaganya sudah hampir habis. Tapi sakit hatinya menyuruhnya untuk melakukan itu lagi dan lagi.

Jaejoong kembali mengumpulkan semua kekuatannya yang tersisa dan mengumpulkannya di tangan kanannya.

PLAK! PLAK! PLAK! PLAK! PLAK!

Tamparan bolak balik itu membuat Yunho mundur beberapa langkah ke belakang. Sakitnya bahkan sudah tidak terasa. Pipinya merah dan bengkak, dengan darah yang mengalir dari sudut bibir dan hidungnya.

Jaejoong berlutut sambil menutup mukanya. Tangisnya pecah, pilu.

"Dan itu.. Itu untuk ANAKKU!"

Nyuuut..

Sakit, sakit lagi. Hanya itu yang bisa dideskripsikan dari kondisi hati Yunho sekarang. Airmatanya masih mengalir, entah kenapa dia tidak malu sedikitpun. Melihat Jaejoong yang berlutut sambil menangis, jelas sudah kalau kehilangan anaknya itu membawa kesedihan yang sangat besar bagi Jaejoong. Yunho hanya menatapnya dalam. Tanpa tau harus berbuat apa.

Siwon segera memeluk tubuh rapuh Jaejoong dan membelai punggungnya. Berusaha menenangkan dan meredakan tangisnya. Ingin rasanya Yunho menerkam Siwon saat itu juga, tapi dibatalkannya, mengingat dialah pesakitan di kasus ini, bukan Siwon.

Jaejoong tiba-tiba berdiri. Dia menghapus airmatanya sambil mencoba mengontrol emosinya.

"Apa yang kau lihat? Aku tidak menangisimu, jadi berhenti memandangku seperti itu!" kata Jaejoong. Yunho diam, Siwonpun juga.

"Kenapa diam saja, Yunho-ssi? Kau pasti masih ingat dengan jelas kan seberapa banyak darah yang harus kau tunjukkan padaku? Mulailah.."

Yunho tidak bergeming. Dia tidak tau apa yang harus dia lakukan.

"Ayo cepat.. Aku tidak mau mengotori tanganku hanya untuk menghajar bajingan sepertimu. Lakukan sendiri! Akan lebih sakit bukan? Lakukan tanpa kelembutan sedikitpun!" Jaejoong mulai menaikkan nada bicaranya jadi berteriak. Siwon sempat tertegun dibuatnya.

Yunho mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan dan matanya tertuju pada pisau buah yang ada di atas meja dekat Jaejoong berdiri.

Tanpa ragu sedikitpun, Yunho menggoreskan pisau itu ke pergelangan tangan kirinya, lalu tangan kanannya. Dia meringis sedikit, merasakan sakit mulai membungkam mulutnya. Sakit, ternyata benar saat kita melihat darah mulai menetes sakit akan semakin terasa.

Yunho tersenyum ke arah Jaejoong, senyum sambil menahan sakit. Jaejoong terlihat sedikit kaget dengan aksi Yunho, tapi dia sembunyikan.

"Lalu.. sekarang apa?.." tanya Yunho sambil meringis.

"Biar aku yang menanganinya, Jae.. Sepertinya aku sudah tau apa maksud semua ini.." tawar Siwon, sedikit menyeringai. Jaejoong hanya memandanginya heran, tapi tidak menolak. Dan sialnya Siwon menganggap itu sebagai persetujuan.

"Heh bajingan, jangan ikut campur.." Yunho terduduk karena tidak tahan dengan rasa sakitnya. Darah sudah menggenang di lantai, tapi Yunho malah tersenyum senang karena itu.

Jaejoong tidak mengalihkan pandangannya dari luka sayatan di tangan Yunho. Dia bisa melihat Yunho memucat, tubuhnya bergetar menahan sakit, tapi anehnya senyum terkembang di wajahnya. Jaejoong bisa mendengar helaan napas berat Yunho, matanya mulai meredup.

Dengan satu sentakan di kerah bajunya, Siwon membuat Yunho berdiri dan menghadap ke arahnya.

"Kau tau, Jung? Aku selalu ingin melakukan ini padamu.." kata Siwon disambut seringaian dari Yunho.

"Oh ya? Selanjutnya kuserahkan padamu.." kata Yunho, sukses membuat Siwon sedikit melongo.

"Tunggu apa lagi? Kesempatan bagus begini jangan disia-siakan, Choi.. Ayo lanjutkan.." Yunho lalu terbatuk, dan entah bagaimana, darah keluar dari mulutnya.

"Kau gila, Jung!" kata Siwon, tanpa maksud untuk memaki. Yunho kembali dan kembali menyeringai.

"Kukira kau sudah tau sejak dulu, Choi.. haha.."

"Siwon-ah.." panggil Jaejoong. Dengan segera Siwon dan Yunho memandang Jaejoong penasaran dengan apa yang akan dikatakan namja cantik itu.

"Tunggu apa lagi? Katamu kau tau apa yang harus kau lakukan padanya? Aku ingin melihat darah lebih banyak lagi, Siwon-ah.. Kau mau membuatkannya untukku kan?" kata Jaejoong dengan nada seduktif, yang membuat baik Yunho maupun Siwon tidak akan bisa menolak.

Siwon sekilas memandang ragu ke arah Yunho yang sudah lemas. Sepertiga darahnya mungkin sudah hilang dari tubuhnya yang sudah mendingin dan memucat.

"Kau dengar kan? Tidakkah kau ingin melihat orang yang kau cintai bahagia? Kalau bisa keluarkan saja darah dari tubuhku ini sampai tidak tersisa setetespun.. haha.." tawa yang sedih, yang pilu. Bagaimanapun, tingkat kebencian Siwon pada Yunho tidak setinggi itu sampai dia tega melihat Yunho meregang nyawa seperti itu. Siwon lalu melepaskan cengkeramannya di kerah baju Yunho, dan Yunho langsung terduduk lemas.

"Jaejoong-ah... Maafkan aku, tapi kalau untuk masalah seperti ini aku tidak bisa melakukannya.."

"Bajingan pecundang.. Cih!" Maki Yunho, hampir tidak terdengar. Siwon tidak menggubrisnya.

Siwon berancang-ancang untuk pergi dari tempat penyiksaan itu, bermaksud untuk tidak terlibat lebih jauh.

"Siwon-ah.." panggil Jaejoong. Siwon otomatis berbalik. Dan alangkah kagetnya Siwon melihat Jaejoong sedang mengarahkan ujung pisau ke lehernya.

"Jae! Apa yang kau lakukan.." paniknya. Yunho sebenarnya juga ingin mengomentari aksi Jaejoong, tapi dia sudah terlalu lemas untuk itu.

"Lakukanlah Siwonnie.. Atau kau mau melihat darahku? Hm? Siwonnie.." Jaejoong menggunakan tekanan psikis untuk Siwon, dan sepertinya itu berhasil..

"Jae.." gumam Siwon. Dia melirik sekilas ke arah Yunho yang sedang sibuk dengan rasa sakitnya. "Hm.. Aku.."

"Siwonnie.."

"Tidak perlu jual mahal begitu, brengsek! Kau mau melakukannya kan?" maki Yunho. Siwon menghela napas.

"Baiklah.. Aku tidak punya pilihan lain.."

TBC


Oke, apakah kepanjangan? Gak juga kali yah..

Maaf ya reader sekalian apdet FF jelek ini lama banget.. Aku lagi galau karena SNMPTN.. Doain aku ya reader.. Sapa tau kita bisa ketemu suatu saat nanti... bla.. bla.. *abaikan*

Makasih buat ripiunya ya.. Aku sangat terharu.. Maaf aku gak bisa bales satu-satu.. Aku Cuma bisa doain agar bias kalian semakin ganteng dan semakin seksi.. Khusus buat Minnie dan Wookie, biar mereka tambah imut. Lama-lama aku makan juga mereka. hehehe..

Jadi, apakah ada yang mau ripiu? Gomawo.. 3