Halo siapapun yang secara sengaja atopun gak sengaja buka halaman ini, nikmati aja deh ya ceritanya.. Maaf kalo pendek banget, soalnya laptop author lagi sarap nih.. huruf J nya kacau, padahal itu penting buat ngetik JAEJOONG. Ya kan? Yasud, enjoy deh..

Previous Story:

"Siwon-ah.." panggil Jaejoong. Siwon otomatis berbalik. Dan alangkah kagetnya Siwon melihat Jaejoong sedang mengarahkan ujung pisau ke lehernya.

"Jae! Apa yang kau lakukan.." paniknya. Yunho sebenarnya juga ingin mengomentari aksi Jaejoong, tapi dia sudah terlalu lemas untuk itu.

"Lakukanlah Siwonnie.. Atau kau mau melihat darahku? Hm? Siwonnie.." Jaejoong menggunakan tekanan psikis untuk Siwon, dan sepertinya itu berhasil..

"Jae.." gumam Siwon. Dia melirik sekilas ke arah Yunho yang sedang sibuk dengan rasa sakitnya. "Hm.. Aku.."

"Siwonnie.."

"Tidak perlu jual mahal begitu, brengsek! Kau mau melakukannya kan?" maki Yunho. Siwon menghela napas.

"Baiklah.. Aku tidak punya pilihan lain.."

Chapter 8 My Heart Still Doesn't Change

Siwon mengepalkan tangannya dan melayangkan kepalan itu sekuat tenaga ke muka Yunho. Tak ayal, Yunho yang sudah berada di ambang batas kesadarannya terpental jauh ke belakang, sampai kepala belakangnya terbentur keras ke sudut meja sehingga mengeluarkan darah. Dengan buas Siwon kembali menghampiri Yunho yang sekarang tengah sibuk mengatur napasnya seolah tidak peduli dengan rasa sakit yang kini menguasai Yunho. Dia menarik kerah baju Yunho lalu memandang wajah penuh darah itu dengan prihatin.

"Maafkan aku, Jung.. Kau keras kepala, sama seperti.. istrimu.." bisik Siwon dekat telinga Yunho.

"Terimakasih Choi.. Aku.. hh.. suka hasil kerjamu.. Teruskan saja, sampai.. hh.. dia puas.. Choi.. Uhuk.." darah kembali keluar dari mulut Yunho. Siwon kaget, dia ingin menyudahi segalanya dan segera membawa Yunho ke rumah sakit. Namun yang memiliki hak atas keputusan itu sekarang adalah Jaejoong, bukan dirinya.

"Tidak, Jung! Kau gila! Aku akan menelepon ambulans.." namun Yunho menahan tangan Siwon. Dia memandang Siwon dengan tatapan meminta tolong. Ah.. Siwon tidak tau harus melakukan apa.

"Ku.. mo.. hon.." pinta Yunho. Melihat airmata keluar dari sudut mata Yunho, Siwon merasa dia tidak punya pilihan lain selain menuruti pinta Yunho. Dengan berat hati, dia lakukan apa yang Yunho suruh.

BUGH!

BUGH!

BUGH!

Jaejoong tertegun. Adegan itu sangat jelas terlihat olehnya, namun ego memaksanya untuk tetap diam. Yunho jelas-jelas sudah tidak bisa melawan lagi, bahkan bergerakpun sudah tidak. Setetes airmata mengalir begitu saja tanpa dikomandoi Jaejoong. Padahal memang itu kan yang diinginkannya? Pembalasan dendam yang setimpal, bahkan kalau bisa yang jauh lebih kejam daripada yang pernah ia alami.

Siwon terengah-engah setelah menghentikan pukulannya terhadap Yunho. Yunho sendiri tergeletak di lantai, entah masih sadar atau tidak. Darah masih tetap mengalir dari kedua urat nadi yang sengaja dipotongnya tadi. Sekarang ruangan yang mulanya berkeramik putih gading itu kini telah menunjukkan warna merah darah yang menyala. Dan itu semua darah Yunho. Jaejoong mulai bertanya-tanya dalam hatinya, apa ini sebenarnya yang dia mau? Pemandangan mengerikan seperti ini?

Yunho memaksakan tubuhnya yang telah bersimbah darah itu untuk duduk. Susah payah dia mencoba duduk sampai akhirnya terbatuk-batuk, dan betapa terkejutnya Jaejoong melihat darah yang dia muntahkan dari mulutnya.

Jaejoong hanya diam. Terpaku. Tidak tau lagi apa yang dia inginkan setelah melihat hasil dari perbuatannya.

Yunho sekuat itu. Bahkan setelah kehilangan darah sebanyak itu dia masih bisa mencoba duduk, bahkan sekarang, dia memaksakan tubuhnya untuk berdiri.

Yunho memaksakan dirinya untuk berjalan ke arah Jaejoong walaupun terseok-seok. Sebelah tangannya memegangi dada, dan sebelah lagi dia biarkan terkulai begitu saja. Namun entah bagaimana dan entah dia dapatkan darimana, yang dipegangnya di tangan kirinya itu adalah sebilah pisau yang tadi dia gunakan untuk menyayat urat nadinya.

Ketika jarak mereka tinggal beberapa senti, Yunho meraih tangan Jaejoong dan memberikan pisau itu padanya. Yunho membuat Jaejoong menggenggam pisau itu, dalam posisi mengacung ke depan. Jaejoong kaget, entah apa maksud dari perbuatan Yunho. Begitupun Siwon yang hanya bisa melihat adegan itu tanpa tau harus berbuat apa.

"Belum.. hh.. cukup kan.. Jae?" ucap Yunho di sela-sela napasnya. "Sudahi saja.. Jae.. hh.. Kalau itu membuatmu senang.. hh.."

Yunho menggerakkan tangan kecil Jaejoong yang memegang pisau dalam satu gerakan cepat, yang bahkan Jaejoong saja tidak menyadari gerakan itu.

JLEB!

"Eenngghhh..." lenguh Yunho tertahan. Mata Jaejoong membulat. Dia shock atas apa yang telah dilakukan Yunho. Yunho sengaja menggerakkan tangan Jaejoong menusukkan pisau tajam itu tepat di perutnya.

GREP!

Yunho menarik Jaejoong dalam sebuah pelukan yang erat, membuat pisau itu tertanam lebih dalam di perutnya. Yunho menggigit bibir bawahnya, tubuhnya bergetar menahan rasa sakit yang terasa membunuhnya.

Perlahan, Yunho menyesap wangi tubuh orang yang dicintainya itu sambil menenggelamkan wajahnya di lekukan leher Jaejoong. Dia menghirup aroma itu dalam-dalam, hanya sebagai antisipasi apabila itu adalah kesempatan terakhirnya untuk melakukan hal itu. Namun kemudian lututnya melemah, tubuhnya hampir saja jatuh bila tidak ditahan oleh Jaejoong.

Yunho menutup matanya perlahan-lahan. Napasnya tercekat dan pendek-pendek.

"Sa.. rang.. hae.. Jae.. hh.."

Tubuh Yunho ambruk ke lantai, diikuti dengan Jaejoong yang berlutut di dekat tubuh tak sadarkan diri Yunho. Pelukan tadi seolah-olah menamparnya keras, seolah-olah menyadarkan Jaejoong dari dunianya yang lain. Jaejoong menatap Yunho tidak percaya, seakan-akan bukan dia orang yang sejak tadi menyaksikan penyiksaan itu. Lebih tepatnya, mengatur penyiksaan itu.

"Yun..." panggil Jaejoong. Tapi tentu saja yang dipanggil tidak memberikan respon apapun. "Yun..." airmata Jaejoong mulai menganak sungai. "YUNHOOO!" teriaknya frustasi.

Jaejoong mengangkat kepala Yunho perlahan dan meletakkan di atas pahanya. Betapa terkejutnya Jaejoong saat dia merasakan darah mengaliri tangan dan pahanya, membuat seluruh pakaian yang dia pakai berlumuran darah.

"Yun, mianhae.. Yun.. YUNHO! JUNG YUNHO!" Jaejoong mendekap erat kepala Yunho dan ada di pangkuannya. Menumpahkan segala rasa kekhawatirannya lewat tangisan yang tidak sedikitpun dia coba bendung.

"Siwon-ah, kenapa diam saja.. PANGGIL AMBULANS! SELAMATKAN YUNHO-KU.. hiks.." Jaejoong terisak, dan itu baru menyadarkan Siwon dari keterpakuannya akan adegan dramatis itu.

=YunJae=

Jaejoong duduk di ruang tunggu sambil masih tetap menangis terisak-isak. Siwon ada di sampingnya sambil mengelus punggungnya, berusaha untuk membantu menenangkan, namun tidak mempan. Kali ini Jaejoong benar-benar merasa bagaikan seorang pembunuh, seorang yang kotor, orang jahat yang tidak memiliki prikemanusiaan. Ditambah lagi dengan kenyataan bahwa Yunho adalah orang yang paling dicintainya, dan dengan keadaan yang separah itu, entah Yunho masih bisa selamat atau tidak.

"Maafkan aku Boo. Selama ini aku sudah membuatmu menderita. Aku.. aku hanya.. shock karena tiba-tiba harus menikah.. Aku butuh waktu untuk menyesuaikan diriku.. Tapi maafkan aku, karena sepertinya waktu yang kuambil untuk menyesuaikan diri terlalu lama, sampai membuatmu menderita.. Maafkan aku Boo.."

Kata-kata Yunho saat dia meminta maaf pada Jaejoong terngiang kembali di telinga Jaejoong. Kata-kata itu terdengar sangat tulus, tanpa ada sedikitpun kebohongan. Seharusnya Jaejoong tau, seharusnya Jaejoong sadar kalau kata-kata itu memang diucapkannya dengan penuh kesungguhan hati.

"Terimakasih sudah sabar menghadapiku.. Mulai detik ini, yang akan ada dalam kehidupanmu hanyalah kebahagiaan, Boo-Jae.. Tidak akan ada lagi air mata selagi aku masih ada di sisimu. Aku tidak akan membiarkan mata cantikmu itu mengeluarkan cairan bening itu lagi, Jae.. Pegang janjiku.."

Airmata Jaejoong jatuh lagi. Dia tidak takut dibilang lemah, karena memang itulah dirinya. Lemah, tidak bisa melindungi diri sendiri. Bodoh, mudah dihasut, sehingga inilah yang terjadi. Tindakan yang dia lakukan tanpa berpikir dua kali akhirnya membawanya ke kesedihan yang bahkan lebih dari yang lama. Menorehkan luka yang lebih parah di samping luka lama yang masih menganga.

"Istirahatlah Boo.. Aku akan memelukmu sampai kau tidur.."

"Sampai nanti, Yun.. Sampai selamanya..." Jaejoong mengulangi dialog yang pernah terjadi antaranya dan Yunho. Jaejoong hanya bisa menatap tubuh lemah Yunho terbaring dengan selang-selang dan perban-perban di sekujur tubuhnya dari luar melalui kaca yang terpasang di pintu yang terbuat dari kayu itu. Suara monoton dari mesin itu terdengar sampai keluar, mengerikan. Tidak memberikan harapan sedikitpun, malah memudarkannya secara perlahan.

Jaejoong menempelkan telunjuknya di kaca itu, seolah-olah sedang membelai sosok yang ada di dalamnya. Sosok itu tidak sadarkan diri, entah kapan akan membuka matanya.

Bukankah memang ini yang dia minta? Membalik keadaannya dan Yunho? Bukankah seharusnya dia senang karena Yunho justru mengalami hal yang lebih parah dibandingkan dirinya dulu.

"Keadaan Tuan Jung sangat kritis. Dia kehilangan banyak sekali darah, biasanya orang yang kehilangan darah sebanyak itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Tapi untunglah dia kuat. Kepalanya juga terbentur sangat keras, menyebabkan gegar otak yang cukup parah. Ditambah lagi luka tusukan yang sangat dalam sampai melukai ginjal kirinya. Dan dengan terpaksa, ginjal kirinya itu harus diangkat dan dia terpaksa hidup dengan satu ginjal.." Jaejoong dapat mendengar pembicaraan Siwon dengan dokter yang menangani Yunho. Separah itukah?

"Saya bahkan kagum dengan Tuan Jung. Kalau orang lain mungkin saja sudah tidak bisa selamat, namun dia bisa bertahan. Sepertinya ada sesuatu yang dia pegang, yang tidak ingin dia lepaskan. Dan itu memberikannya kekuatan untuk bertahan."

"Benarkah itu, Yun?" Jaejoong bertanya seolah-olah Yunho akan menjawabnya. "Apa yang memberi kekuatan sebesar itu padamu, Yun? Aku mencintaimu, Yun.. Aku memaafkanmu.. Bangunlah Yun.. Kau tak ingin aku menangis lagi kan?"

Jaejoong membuka pintu ruang rawat Yunho yang sebenarnya belum boleh dijenguk siapapun. Tapi apa pedulinya? Bukankah dia punya hak atas suaminya sendiri?

Jaejoong meraih tangan Yunho, menggenggamnya erat, menciuminya, mendekapnya.. Dia membelai wajah pucat Yunho. Masih halus seperti dulu. Masih belum berubah. Dia membelai rambut hitam legam Yunho. Masih lembut seperti dulu. Masih belum berubah. Perlahan Jaejoong membuka masker oksigen Yunho, lalu dengan lembut menempelkan bibirnya di bibir Yunho, melumatnya pelan dengan segenap cinta yang dia miliki. Dia lalu memasangkan lagi masker itu, sadar kalau saat ini Yunho sangat mmbutuhkannya. Bibir Yunho juga masih sama. Masih belum berubah.

"Yun..." bisik Jaejoong di telinga Yunho. "My heart still doesn't change.."

"Kau pernah mendengarku bernyanyi Yun? Pasti belum.. Kau tau? Suaraku sangat bagus.. Kau ingin mendengarnya? Benarkah?" Jaejoong bicara seakan-akan Yunho memang benar-benar menawabnya. "Kunyanyikan lagu kesukaanku ya.. Setelah kunyanyikan, kau janji harus membuka matamu.. Arra?"

Jonyeok nouri jigo.. hana dul kyeojineun..

Bulbichul tarasseo.. Noege gago isseo..

(After the after glow sets, I'm going towards you..

Following the lights which turn on one by one..)

"Aku datang padamu, Yun.. Sekarang, untuk selamanya.. Selamanya aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, apapun yang terjadi.. Aku mencintaimu Yun.. Perasaanku masih belum berubah.."

Chagaun barame umchuri ne okaega..

Naeryeo antgi jone naega gamsajulkke..

(I'll embrace you, before the cold wind makes your shoulder flinch..)

"Aku ingin memelukmu, Yun.. Merasakan kau memelukku lagi.. Dari mulai aku menutup mata, sampai aku membukanya lagi keesokan harinya.."

Nal bwa love you.. Babogateun geudae

Gu modeun goshi naegen da sojunghangeol..

(I love you, the foolish you..

You are so precious to me..)

"Bangunlah Yun.. Kau sangat berharga untukku.. Hanya kau saJa, Yun.. Bangunlah.. hiks.."

Geudae wiro ttorun taeyang mankeum..

Nuni bushin gaseumeuro..

Gidaryeoun shigan mankeum neol naega jikyeojulkke..

(As much as the sun that rises above you..

I'll make you safe as much as you've waited for me, with this glaring heart..)

"Aku tidak tau harus berkata apa lagi, Yun.. Aku harus berbuat apa lagi? Kau marah padaku?"

Gidohal modeun kkumi ganjolhan nae hyanggiro nama

Uri hyanghae isseo.. More than the air I breathe..

(All the dreams I've prayed for,

They are going towards you with my sincere scent,

More than the air I breathe..)

Jaejoong merebahkan kepalanya di samping tangan Yunho, sambil tetap menggenggam tangannya. Sambil terus berdoa akan keselamatan suaminya. Sambil meminta kesempatan sekali lagi.

=YunJae=

Untuk pertama kalinya sejak Jaejoong memutuskan untuk keluar dari hidup Yunho, dia menginjakkan kakinya lagi di rumah itu. Rumah yang menyimpan banyak sekali kenangan buruk, tapi di sisi yang lain memberi kenangan termanis dalam hidup Jaejoong.

Jaejoong masuk perlahan ke dalam rumah itu. Dia menghentikan langkahnya untuk melihat ke sekeliling. Sama, masih tetap sama. Dia melangkah ke ruang tamu. Di sana adalah tempat dimana Jaejoong menunggu Yunho pulang bekerja. Jaejoong bahkan masih ingat malam saat Yunho mabuk dan melakukan sesuatu yang meninggalkan luka dalam untuk Jaejoong. Dia lalu menuju ke dapur. Dia masih ingat saat dia membuatkan sarapan untuk Yunho, meskipun seringkali tidak disentuh.

Jaejoong menaiki tangga yang lumayan tinggi itu. Masih ingat jelas dalam ingatannya bagaimana rasa pukulan-pukulan yang dilayangkan Yunho pada tubuhnya, saat dia jatuh dari tangga yang paling atas ke bawah, dan saat dia kehilangan bayinya.

Perlahan dia masuk ke dalam kamar. Kamar mereka. Dia seolah-olah melihat kembali adegan-adegan yang terjadi di kamar itu. Adegan saat dia sakit dan Yunho yang menungguinya. Adegan saat Yunho berubah menjadi sosok yang hangat waktu dia memeluk Jaejoong dari mulai dia menutup mata sampai terbangun kembali di pagi harinya.

Begitu jelas bagi Jaejoong bahwa kenangannya dengan Yunho sangatlah banyak. Meskipun kenangan buruk yang dia alami segitu banyaknya, namun kejadian-kejadian manis yang diberikan Yunho pada Jaejoong dengan sepenuh hati seolah-olah bisa mengalahkan semuanya.

Ditambah lagi ingatan tentang Yunho yang berada di rumah sakit, yang entah akan bertahan hidup atau tidak. Jaejoong merasakan cintanya pada Yunho yang sudah berusaha dia hapus, tiba-tiba menguat. Yunho rela disiksa sebegitu beratnya hanya untuk mendapatkan maaf dari Jaejoong. Apa lagi kalau bukan dikarenakan dia memang benar-benar menyesal?

Jaejoong beralih ke ruangan kerja Yunho. Berantakan. Kertas-kertas berceceran di mana-mana. Map-map yang biasanya tersusun rapi kini berceceran. Pandangan Yunho terhenti di sebuah benda yang tertelungkup di atas meja, tepat di samping sebuah buku hitam kecil yang tebal. Jaejoong mengambil benda itu. Figura foto. Dan betapa kagetnya dia saat melihat fotonya ada di dalam figura itu.

Dalam foto itu Jaejoong sedang tertidur dengan damai. Kebahagiaan jelas terukir di wajah cantik itu. Jaejoong tau, foto itu pasti diambil Yunho saat dia tidur dalam pelukan Yunho. Karena selama ini, yang bisa membuatnya bisa sedamai itu adalah pelukan suaminya.

Jaejoong beralih pada buku hitam itu. Buku itu terlihat seperti sebuah jurnal. Perlahan Jaejoong membukanya. Di halaman pertama jurnal itu ada tulisan 'U-KNOW' dengan tinta hitam, dan di bawah tulisan itu ada tulisan 'JJ' dengan tinta merah. Jaejoong menduga kalau 'JJ' itu adalah inisial dirinya, dan tulisan dengan tinta merah itu menurutnya ditambahkan jauh lama setelah tulisan di atasnya ditulis.

Jaejoong membuka halaman berikutnya.

"Hidup dalam aturan orang lain. Mereka lupa kalau aku memiliki dunia sendiri.

Tapi kalau ini demi kebahagiaan ibuku, lantas aku bisa apa?"

Jaejoong tau kalau ini pasti ditulis Yunho saat ibu Yunho menjodohkan mereka. Yunho memang memiliki kekasih saat itu, dan demi keinginan ibunya itu dia harus meninggalkan kekasihnya itu.

Halaman berikutnya..

"Jung Yunho sudah berubah. Bukan lagi Yunho yang penuh etika seperti dulu.

Ini bukan kemauanku. Aku benci diriku yang sekarang."

Ternyata Yunho juga tidak suka dengan sifatnya yang kasar itu. Memang setau Jaejoong dari Ibu Yunho, dia adalah anak yang patuh dan penurut. Tapi karena paksaan dan kekangan ibunya, sedikit demi sedikit dia berubah. Jadi, semuanya tidak sepenuhnya salah Yunho kan?

Beberapa halaman berikutnya..

"Kenapa aku sejahat itu? Dan kenapa dia sesabar itu?

Berhentilah membuatku merasa semakin bersalah.."

Dan Jaejoong membalik buku itu lagi..

"Anakku? Anak kita? Bagaimana bisa?"

Halaman berikutnya..

"Jangan seperti ini.. Jangan sakit begini.. Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan.."

Airmata Jaejoong tumpah. Yunho selalu memperhatikannya. Yunho memikirkannya. Ternyata Yunho melakukan itu semua...

"Sudah terlambatkah kalau aku memulainya sekarang, Jae?"

Belum, Yun.. Tentu saja Belum.. Kapanpun kau memulainya tidak akan pernah terlambat..

"Maafkan aku, Jae.."

Dan seluruh halaman berikutnya diisi kata-kata yang sama.

"My Heart Still Doesn't Change..

Please come back to me, Jae..

Jaejoong.. Jaejoong.. Jaejoong.."

Jaejoong membiarkan tangisannya keluar dengan bebas. Yunho tulus, dia tau itu..

Dan di halaman terakhir..

"Haruskah aku melakukan ini, Jae?

Kau benar-benar menginginkan kematianku?"

Dan di belakang buku tertilis dengan tulisan yang besar..

"JAEJOONG-AH.. I WISH I COULD TELL YOU THIS MYSELF, SARANGHAE.."

"Nado, Yun.. Nado saranghae.." Jaejoong segera melangkahkan kakinya ke luar dari rumah itu dan menuju kepada Yunho-nya..

=Yunjae=

Jaejoong berlari ke ruangan Yunho, dan menemukannya masih terlelap di balik masker oksigennya. Perlahan Jaejoong membuka masker itu dan menekankan bibirnya ke bibir Yunho lalu melumanya sedikit. Dia berusaha mengejawantahkan segala perasaanya pada Yunho, sedalam-dalamnya. Setulus-tulusnya.

Dia melepaskan ciuman iu setelah agak lama. Bibir Yunho yang tadinya pucatpun sudah sedikit memerah.

"My heart still doesn't change.. My heart still doesn't change.. My heart still doesn't change.." Jaejoong membisikkannya berulang-ulang, berharap Yunho mendengarnya. Dia lalu memeluk Yunho, menenggelamkan wajahnya di leher Yunho, menyesap dalam-dalam wangi Yunho yang sangat familiar baginya.

Lama, lama mereka dalam posisi seperti itu. Jaejoong sekarang berbaring di dekat Yunho, memeluknya protektif.

"Bangun, Yun.. Sudah lama kau tertidur begini.. Bangunlah untukku.." Jaejoong bisa merasakan napas Yunho lewat dada Yunho yang naik turun dengan teratur.

Dia menangis di dada Yunho, karena lengan kekar Yunho tidak melingkari pinggang ramping Jaejoong seperti dulu. Bukan karena dia tidak mau, tapi karena dia tidak mampu.

Namun tidak lama kemudian, saat Jaejoong sudah hampir terlelap dalam pelukan orang yang dicintainya itu, dia merasa ada sentuhan lembut di rambutnya. Kontan, dia kaget. Sentuhan itu.. seperti sentuhan Yunho yang menyebabkan perasaan galau Jaejoong mendamai sekeika.

Jaejoong mendongakkan kepalanya, ingin memastikan kalau yang membelai kepalanya itu memang tangan Yunho.

"Hai Jae.." Yunho tengah membelai rambutnya, lalu menatapnya dengan intens. Yunho tersenyum, senyum yang sepertinya sangat tulus. Jaejoong yang masih belum sembuh dari keterkejutannya hanya bisa menatap sosok tampan sempurna itu.

"Aku merindukanmu, Jae.." Yunho mendekap Jaejoong, meskipun tidak seerat biasanya. Jaejoong yang kemudian tsssersadar, segera membalas pelukan itu lalu melanjutkan tangisannya yang sempat tertunda tadi. Tapi saat ini adalah tangis bahagia.

"Hei.. jangan menangis.. Kalau begini terus lebih baik aku koma lagi saja.." ancam Yunho. Jaejoong mengerakan pelukannya.

"Jangan! Jangan.. Kalau kau berani, aku kan mati. Aku benar-benar akan mati, Yun.." dia mengeratkan pelukannya lagi.

"Arghh!" erang Yunho. Otomatis Jaejoong melepas pelukannya. "Lukanya masih sakit, Jae.. Jangan dipeluk sekasar itu.." kata Yunho sambil terkikik.

"Kau ini.." Jaejoong kembali memeluk Yunho, namun kali ini tidak seerat tadi. "Saranghae.."

"Nado.." Yunho membalas pelukannya, lalu mereka berdua tertidur dalam posisi seperti itu.

=Yunjae=

Jaejoong baru saja datang dari apartemennya sambil membawa sebuket bunga di tangannya. Dia begitu kaget saat mengetahui Yunho sedang menangis.

Jaejoong segera menuju tempat tidur Yunho, lalu menggenggam tangannya. Yunho terisak-isak, seolah-olah ada sesuatu yang sangat melukai hatinya tengah berlangsung. Bahkan Jaejoong belum pernah melihat Yunho sesedih itu.

"Yunho, gwaencanha yo? Kenapa menangis?"

Jaejoong memeluk Yunho yang masih dalam posisi berbaring. Jaejoong bisa merasakan getaran tubuh Yunho saat dia memaksakan tangisannya untuk berhenti. Namun isakan-isakan kecil masih juga keluar. Yunho seperti seorang anak yang baru saja mengalami mimpi buruk, lalu berlindung di pelukan ibunya.

"Tenanglah Yun.. Ceritakan padaku apa yang sedang terjadi.."

Lama, butuh waktu lama agar Yunho bisa mengendalikan emosinya. Sampai punggung Jaejoong terasa sakit karena terlalu lama membungkuk. Jaejoong kembali membelai punggung Yunho, mentransfer energi positif agar Yunho merasa sedikit tenang.

"Jae.. Jae.." panggil Yunho tanpa melepaskan pelukan Jaejoong.

"Hmm?"

"Jae.. Aku.. Aku.."

"Katakanlah Yun.. Aku menunggu.."

"Eratkan pelukanmu, Jae.. Aku sakit.. I'm in pain, Jae.. Hold me.."

"Iya, Yun.. I'm holding you.. "

"Kakiku tidak bisa digerakkan, Jae.. Kakiku berat.."

DEG!

Jaejoong kaget, khawatir. Namun dia masih berusaha berpikir positif.

"Itu karena kau baru sadar dari koma, Yun.. Cepat atau lambat kakimu akan bisa digerakkan seperti semula lagi. Percayalah padaku.."

"Bohong.. Kau bohong, Jae.. Aku.. Aku lumpuh kan, Jae? Aku lumpuh.. Aku tidak bisa berjalan lagi kan? Jawab aku Jae!"

Jaejoong pun hanya bisa diam, dia menangis dalam diam. Dia sama sekali tidak tau apa yang terjadi. Tidak mungkin Yunho lumpuh, kan? Tidak ada yang terjadi pada kakinya. Ini pasti karena dia baru sadar, Jaejoong terus berpikir seperti itu. Setidaknya untuk menenangkan dirinya sendiri.

"Tidak, Yun.. Tidak.. Jangan pikirkan itu dulu.. Aku panggilkan dokter dulu.." saat Jaejoong akan melepaskan pelukannya, Yunho malah mengeratkannya.

"Peluk aku.. Jangan pergi lagi, Jae.. Peluk aku.."

Jaejoong pun memeluk Yunho semakin erat. Dia naik ke atas tempat tidur itu, lalu mendekap kepala Yunho di dadanya, seperti seorang ibu yang memproteksi anaknya. Yunho masih terisak sesekali di dada Jaejoong, dia lalu melingkarkan tangannya di pinggang Jaejoong. Yunho menghirup wangi tubuh Jaejoong dalam-dalam, berharap itu bisa menenangkan hatinya.

"Aku mencintaimu, Jae.."

"Aku juga.. Aku juga mencintaimu, Yun..."

Cerita ini lama-lama jadi kayak sinetron nih.. Panjang dan bertele-tele. (btw, ini chapter terpajang lho..) Maafkan aku ya reader.. Sebenernya siap ujian PTN mau langsung aku post, api modem bermasalah.. Kali ini yang rusak itu huruf 't'. Gimana coba aku mau bikin 'cinta' ? hihihi.. Maaf ya kalau ada yang muntah setelah baca ini, cheesy banget.. Banyak banget cheesy lines-nya.. Maapkan akuh.. *nyusup di bawah selimut Yunjae*

Aku baru aja nonton video YunJae, waaah... they are so cute together... YunJae shipper poreper lah pokokna mah.. hihihi.. Siapa yang setuju wajip ripiu.. hihi..