My Feelings
Bleach © Tite Kubo
Chapter 2 : A Meeting..
... ... ...
''Ru-Rukia ?'' tanya seorang anak laki-laki yang tertindih oleh Rukia.
Awalnya Rukia mengira itu adalah suara Renji, tapi... terdengar berbeda. Perlahan Rukia membuka matanya, sedikit demi sedikit hingga akhirnya...
Rukia membulatkan matanya sempurna, ''!''
'anak ini !' Rukia membatin.
Ichigo's POV
Aku sedang tertawa dengan teman-teman yang lain saat Keigo bertengkar dengan Chizuru.
Perasaanku kali ini jauh lebih baik dibandingkan dengan yang tadi, memang masih ada kata yang lebih indah untuk sebuah pertemanan yakni, persahabatan.
Sahabat sejati adalah sahabat yang tidak pernah meninggalkan sahabatnya yang lain dikala senang atau susah, suka maupun duka, tertawa dan menangis.
Ishida, Chad, Keigo, Tatsuki, Orihime, Mizuiro, Chizuru, dan yang lainnya mereka selalu ku ingat dalam satu kata yaitu, '' sahabat '' .
Sedikit lagi melangkahkan kaki maka aku akan sampai direstoran kecil tempat kami akan memanjakan perut yang sudah meronta-ronta minta diberi makan.
Aku sudah tidak sabar, ditambah dengan kekonyolan apa lagi yang akan terjadi yang siap dihidangkan untuk mengocok perut dan menarik saraf urat tertawa kami oleh tingkah laku Keigo yang seperti itu.
Saat aku menguap dan hendak melipat kedua tanganku kebelakang kepala agar aku bisa menyandarkannya untuk relax sebentar tiba-tiba aku merasa seseorang telah menabrakku.
Kejadiannya begitu cepat hingga aku tidak sempat menyadari apa yang terjadi.
End of Ichigo's POV
Lama mereka terdiam dalam situasi itu hingga akhirnya Keigo mengangkat suara,
''Waaaa ! Ichigo kau curang ! Ditimpa oleh Rukia_chan dalam keadaan seperti itu aku juga mau !''
''Kali ini aku setuju dengan si bodoh ! Aku tidak akan memaafkan kau yang ditindih oleh Rukia_chan seperti itu ! Ayo cepat minggir Ichigooo !'' Chizuru berjalan kearah Ichigo berniat memisahkan Rukia darinya.
''Eh ! Siapa si bodoh ?'' Keigo memunculkan wajah bodohnya.
Ichigo dan Rukia yang mendengarkan argumentasi Keigo dan Chizuru itu tidak langsung meresapi maksud dari kata-katanya, ketika pandangan mereka teralih dari Keigo, mereka akhirnya mengalihkan pandangan kearah mata satu sama lain, bertukar pandang sebentar hingga akhirnya semburat merah muncul di pipi Rukia ketika ia menyadari bagaimana posisinya sekarang ini,
''Ah ! Eh.. Ma-Maaf, A-Aku tidak sengaja !'' Rukia mencoba bangun dari posisinya sekarang,
Ichigo yang kini baru menyadari posisi mereka ketika Rukia mengatakan 'maaf' juga menampakkan pipinya yang memerah dan salah tingkah, berniat menjawab dan membantu Rukia untuk bangun tetapi yang terjadi malah Ichigo menginjak tali sepatu Rukia ketika mereka berdua sama-sama mencoba berdiri, akhirnya Rukia yang mencoba mengangkat kakinya menjadi hilang kesimbangan dan kembali jatuh menimpa Ichigo, dan kali ini terlihat lebih parah..
''Kurosaki ! Kuchiki !'' Orihime kaget dengan pemandangan yang ia lihat saat ini.
''ICHIGOOO ! Tidak akan aku maafkan ! Tadi sudah tertimpa sekali sekarang yang kedua kali ! Dan.. Dan pipimu dicium Rukia_chan ! Aku juga mauuuuu !'' Keigo mulai menampilkan tingkahnya yang aneh, berlari kesana-sini seperti orang yang kehilangan jiwanya,
''Asano diamlah !'' seru Mizuiro.
Rukia yang menyadari hal itu buru-buru melepas bibirnya dari pipi Ichigo, ''A-ku ! Ah ! Renji !''
Ichigo yang mendengar Rukia meneriakkan nama Renji langsung menatap wajah Rukia. Semburat merah dikedua pipi Rukia saat itu dapat terlihat olehnya.
Renji yang sedari tadi terdiam melihat apa yang terjadi saat itu kontan langsung membantu membangunkan Rukia ketika Rukia meneriakkan namanya,
''Hei ! Kau kenapa menangis ? Ada yang terluka ? Mana yang sakit ?'' Renji menghujani Rukia dengan sejumlah pertanyaan yang mencemaskan Rukia. Sambil sibuk sendiri memeriksa anggota tubuh Rukia, takut-takut ada yang terluka.
Ichigo yang melihat hal itu langsung bangkit berdiri, mengambil langkah menuju Renji dan Rukia, ''Maaf tadi itu salahku, aku tidak sengaja menginjak tali sepatumu Rukia,''
''Aku tidak menangis Renji ! Kau lihat kan ! Tidak ada air matanya ! Dan kau..'' Rukia melirik kearah Ichigo, ''Aku.. Tidak tahu harus marah atau merasa bersalah kepadamu !'' Rukia membuang mukanya dari tatapan Ichigo, kedua tangannya mengepal erat, terlihat bahwa Rukia kesal, dan.. Malu..
Renji tahu perasaan Rukia saat itu maka ia mencoba menghibur Rukia, ''Benar ! Mana mungkin Rukia Kuchiki menangis ? Rukia Kuchiki itu seperti ini kan ?'' Renji membuat tampang muka yang konyol, menarik kedua matanya hingga menjadi sipit, dan hidungnya yang dikembangkan, serta lidah yang terjulur, menampakkan Renji seperti orang bodoh.
Rukia yang melihat hal itu hampir saja tertawa lepas namun masih sempat ditahan olehnya, ''Kau jangan seperti orang bodoh..'' jelas Rukia dengan suara pelan yang terdengar aneh.
''Bukannya katamu sewaktu berlari tadi aku bodoh ?'' tanya Renji sembari melipat tangan didepan dada seraya menaikkan sebelah alisnya guna menggoda Rukia.
Kali ini Rukia tersenyum, ''Nah setahuku Rukia Kuchiki begitu,'' sambung Renji membalas senyum Rukia.
Ichigo sedari tadi hanya melihat pemandangan itu dengan tatapan aneh, ''Kalian...'' Ichigo tak menggantungkan kata-katanya.
Renji yang tersadar sedari tadi telah mencueki Ichigo dan teman-temannya mulai angkat bicara, ''Ah ! Iya ! Halo semuanya ? Apa kabar ? Lama tak jumpa,'' Renji menyunggingkan senyumnya.
''Hai Abarai, kami semua baik-baik saja, ini kejutan kenapa kalian bisa ada disini ?'' jawaban yang disambungkan dengan pertanyaan oleh Orihime.
''Eh.. Errr ~'' Renji bingung apa yang harus ia jawab, karena sebagian dari teman-teman Ichigo tidak bisa mengetahui hal yang sesungguhnya, maka ia berusaha mencari alasan yang tepat sembari menggaruk-garuk kepalanya.
''Renji aku lapar !'' ucap Rukia.
Renji tahu ini adalah trik Rukia, ''Ah ya ! Kalian lapar juga tidak ? Ayo makan,'' Renji mengatakan hal itu hanya sekedar basa-basi karena mengira teman-teman Ichigo akan langsung pulang.
''Ah ! Kebetulan sekali kita juga mau makan, kalau begitu ayo sama-sama saja !'' ujar Orihime bersemangat.
'Gawat' Renji membatin, kemudian ia melirik kearah Rukia yang dibalas Rukia dengan mengangkat kedua bahunya.
''Kuchiki tidak apa-apa ?'' tanya Sado sebelum semua masuk ke restoran yang sudah berada didepan mereka.
Rukia mengangkat kedua alisnya. Sado yang mengerti akan bahasa tubuh itu menjelaskan singkat maksudnya, ''Tanganmu, apa tidak terasa sakit ?'' sembari Sado menunjukkan tangan kanan Rukia yang entah sejak kapan telah meneteskan darah.
''Aaa ! Rukia_chan kau berdarah biar kuobati yah !'' ucap Keigo sambil memegang tangan Rukia.
Chizuru yang melihat itu buru-buru memukul Keigo dan memulai pertengkaran adu mulut, ''Hei jangan coba-coba ambil kesempatan yah ! Biar aku saja yang obati Rukia_chan !'' sambung Chizuru ketika selesai memukuli Keigo, dan gantian ia yang memegang tangan Rukia.
''Jangan berbuat yang aneh-aneh !'' kali ini Tatsuki yang mengambil alih situasi dengan memukul Chizuru.
Rukia terkejut menyadari tangannya mengeluarkan darah, kemudian ia hendak memegang tangan kanannya dengan tangan kirinya dengan air muka kebingungan.
Ichigo yang melihat hal itu pun panik, ''Ru-Rukia ! Jangan disentuh bisa infeksi !'' Ichigo menghentikan tangan kiri Rukia dengan tangan kanannya.
''Hei, kalian masuklah kedalam duluan aku pergi dulu sebentar, Rukia kau tunggu disini,'' ketika Renji hendak berlari Rukia menarik pergelangan tangan Renji dengan tangannya yang terluka.
Renji berbalik arah melihat kearah Rukia, ia melihat disana, dimata Rukia ia cemas ditinggal sendirian, ''Aku akan segera kembali..'' ucap Renji sambil memasangkan senyumnya dan mengusap kepala Rukia.
Sebelum Rukia sempat melepaskan tangannya dari tangan Renji, terdengar bunyi jepretan kamera handphone, dan ternyata itu Mizuiro yang tengah mengabadikan moment dimana Ichigo memegang tangan Rukia, Rukia menggenggam pergelangan tangan Renji, dan Renji mengusap kepala Rukia, hal itu dilihat oleh Ishida namun tidak disadari oleh yang lainnya.
''Kau iseng sekali, seperti kurang kerjaan saja,'' tukas Ishida datar.
''Eh ? Tapi lihatlah momentnya bagus bukan,'' seraya menunjukkan hasil jepretannya kepada Ishida. Sedangkan Ishida hanya tersenyum tipis melihatnya.
''Ichigo, bawa dia masuk, aku pergi sebentar nanti aku akan kembali lagi,'' kata Renji.
Ichigo menganggukkan kepalanya, kemudian Renji mulai berlari entah kemana, ''Ayo Rukia,'' Ichigo membimbing Rukia berjalan masuk menuju restoran didepannya.
''Tidak mau, aku disini saja, menunggu sampai Renji datang,'' jawab Rukia.
Ichigo terdiam, ''Baiklah, kalian masuk saja duluan, aku menemani Rukia dulu disini,'' ujar Ichigo,
''Tapi Kurosaki-'' kata-kata Orihime yang ingin mengatakan sesuatu dipotong oleh Tatsuki.
''Baiklah, kami duluan, nanti kalian kupesankan saja, oke ! Ayo semua !'' sahut Tatsuki.
Orihime terkejut ''Tap-'', ''Sudah ! Ayo Orihime,'' Tatsuki menarik lengan Orihime, membimbingnya masuk kedalam restoran.
''Kalau begitu aku juga disini saja bersama Ichigo dan Rukia_chan,'' sambung Keigo.
''Jangan merusak suasana orang,'' ucap Mizuiro sambil menyeret Keigo yang dibantu oleh Tatsuki.
Ketika semuanya sudah masuk, kini hanya tinggal tersisa Rukia dan Ichigo, Rukia terlihat agak sedikit canggung, sedangkan Ichigo yang terlihat biasa memutuskan untuk mengangkat pembicaraan,
''Kau.. Masih marah padaku ?''
Rukia menghadap kearah Ichigo, ''Ti-Tidak.. Lagipula itu hanya kecelakaan..''
''Baguslah..'' ucap Ichigo.
''Apa kau terluka ?'' tanya Rukia kali ini.
Ichigo membulatkan matanya sempurna, tidak percaya dengan pertanyaan yang dilontarkan Rukia, ''Tidak, aku baik-baik saja, tanganmu..'' Ichigo melihat kearah tangan kanan Rukia yang masih meneteskan darah,
''Ah ! Bagus yah ? Warna merah ? Hm ? Hahaha ~ '' nampak tak sedikitpun Rukia menunjukkan expresi kesakitan, mengatakan lelucon aneh seperti itu juga bermaksud agar Ichigo tidak mengkhawatirkannya.
''Bodoh ! Memang tidak sakit ?'' tanya Ichigo.
''Tentu saja sakit, karena sakit maka tidak aku rasakan, kalau dirasakan sakitnya semakin terasa,'' Rukia tersenyum meringis, kali ini terlihat ia menahan perih luka ditangannya.
''Berikan tanganmu,'' kata Ichigo,
''Untuk apa ?'' tanya Rukia,
''Berikan saja,'' Rukia pun menurutinya,
Saat itu Ichigo hendak mengelap darah Rukia dengan sapu tangan miliknya, ''Jangan ! Nanti kotor !'' Rukia buru-buru menarik tangannya kembali.
''Tidak apa ! Kemarikan tanganmu,'' kali ini Ichigo menarik tangan Rukia yang terluka, kemudian buru-buru mengusap darah segar yang menetes disana, setelah itu ia ikatkan sapu tangannya ditangan Rukia.
''Supaya darahmu tidak keluar terus,'' seraya Ichio menyimpulkan sapu tangannya itu ditangan Rukia.
''Err.. Arigatou ~'' ucap Rukia.
Tiba-tiba suara perut Ichigo berbunyi,
... (diam) ...
''Ahahahahahaha ~ Kau lapar ? Masuk duluan saja sana, lagipula aku kan tidak memintamu menemaniku,'' kata Rukia yang masih tertawa.
Semburat merah muncul dipipi Ichigo ''Hahaha, tidak apa aku tunggu,''
Rukia yang mendengarkan hal itu menjadi tidak enak dengan Ichigo, ''Aku juga lapar, ayo masuk kedalam,'' Rukia berbalik melangkahkan kakinya menuju restoran.
''Renji bagaimana ?'' tanya Ichigo.
''Dia bilang padamu tadi kan sebelum pergi, bawa aku masuk untuk makan duluan, nanti dia kembali kan ? Ayo cepat !'' Rukia meninggalkan Ichigo dibelakangnya.
Setelah sempat terdiam beberapa detik, Ichigo pun masuk kedalam restoran menyusul Rukia.
- didalam restoran -
''Kuchiki ! Disini !'' panggil Orihime sambil mengangkat tangan kanannya, memberitahu posisi meja mereka berada, mengajak Rukia untuk bergabung.
Ketika Rukia mendengar dirinya dipanggil oleh salah satu teman Ichigo untuk ikut bergabung dimejanya, ia bergegas menuju meja tesebut diiringi Ichigo yang mengikuti dari belakang.
Sesampainya didepan meja, Rukia disambut hangat oleh seluruh teman-teman Ichigo, ''Hai Rukia ! Apa kabar ? Lama tidak jumpa,'' tanya Tatsuki tersenyum.
'Mereka mungkin teman-temanku dulu,' bisik Rukia dalam hati hingga kemudian ia menjawab ''Tentu saja aku baik, bagaimana dengan kalian semua ?'' sambil membalas senyum Tatsuki, kemudian mengalihkan pandangan pada seluruh teman-teman Ichigo.
'Pintar sekali dia berakting, seperti.. saat itu saja..' batin Ichigo.
''Kami semua juga baik-baik saja !'' jawab Orihime begitu semangat.
''Renji belum datang ?'' tanya Ishida ketika ia menyadari Rukia dan Ichigo hanya masuk berdua saja.
Rukia menggelengkan kepalanya, ''Hm, belum.. Dan karena kami berdua sudah lapar jadi kami putuskan untuk makan duluan,'' kata Rukia sambil melihat Ichigo dibelakangnya.
''Yah, begitulah,'' saut Ichigo datar.
''Jangan berdiri disana ! Cepat ambil kursi lalu duduk bergabung disini !'' sambung Keigo.
Ichigo kemudian menyeret dua buah bangku yang berada didekatnya kemudian ia letakkan dimeja teman-temannya tersebut.
''Duduklah Rukia,'' kata Ichigo.
''Arigatou,'' Rukia tersenyum kearah Ichigo. Sementara yang disenyumi hanya terdiam melihat seseorang yang pernah menjadi orang yang berpengaruh dalam hidupnya itu tersenyum manis tak seperti biasa kearahnya.
Ishida yang melihat dan menyadari hal itu menggoda Ichigo, ''Melihat malaikat cantik ?''
Ichigo yang mendengar hal itu langsung tersadar dan menarik kursinya untuk duduk. Dan memilih untuk tidak menggubris kata-kata Ishida.
''Dimana Ishida malaikat cantiknya !'' tanya Keigo bersemangat sambil melirik setiap sudut ruangan dengan antusias.
''Jangan norak !'' Chizuru yang geram dengan tingkah Keigo pun memukul kepala Keigo.
''Aduhh ! Dasar wanita aneh ! Tidak tahu sakit yah !'' marah Keigo terhadap Chizuru yang seenaknya saja memukul kepalanya.
''Hei ! Kalau kalian tidak mau berhenti melakukan hal konyol lagi akan kuberi pelajaran yang berarti, kalian mau !'' sambung Tatsuki yang mulai gerah dengan pertengkaran Chizuru dan Keigo sedari tadi.
Sedangkan yang kena omel hanya terdiam melipat tangan dibawah meja sambil mengumpat dalam hati dengan wajah yang ditekuk.
Rukia yang melihat hal itu kemudian tertawa kecil, ''Sudah, kalian berdua jangan memasang muka seperti itu, jelek tahu ! Mana wajah kalian yang tadi ? Aku rasa itu lebih baik,'' Rukia mencoba memberi semangat kepada Chizuru dan Keigo sambil tersenyum.
''Ihihihi ~'' Chizuru yang mendengar hal itu langsung nyengir dengan menampakkan deretan gigi-giginya.
''Rukia_chan baik sekali,'' sambung Keigo yang hendak beranjak dari kursinya untuk meraih tangan Rukia. Namun sebelum hal itu terjadi untuk kesekian kalinya sebuah jitakan mampir dikepalanya.
''Sudah kubilang kan ! Jangan bertingkah konyol !'' ungkap Tatsuki.
Rukia yang melihat hal itu semakin geli, apalagi muka Keigo yang aneh ketika menerima jitakan dari Tatsuki, ''Hahaha ~ Hei, jangan bertengkar lagi, aku lapar, hahaha ~'' sambung Rukia yang tengah memegang perutnya karena merasa kelaparan dan sakit perut sehabis tertawa.
''Kalian sudah pesan makanan ?'' tanya Ichigo.
''Sudah, semuanya ku pesankan steak, disini steaknya terkenal enak, harganya pun terjangkau,'' jawab Sado.
''Ngomong-ngomong.. Kau jadi siswa Fantasia high Kuchiki ?'' kini Mizuiro angkat bicara, setelah sebelumnya ia memperhatikan Rukia secara keseluruhan yang terlihat berbeda, dan hal yang paling mencolok dari Rukia yang menarik perhatiannya sedari tadi adalah seragamnya.
''Eh ? Y-Ya, haha.. Bagaimana kau bisa tahu ?'' Rukia kali ini mengalihkan pandangan kearah Mizuiro yang duduk paling pojok sebelah kanan dekat jendela.
''Jadi benar yah, itu dari seragammu,'' Mizuiro mengacungkan jari telunjuknya kearah seragam yang dikenakan Rukia.
Semua yang mendengar pembicaraan tersebut melihat kearah Rukia, tepatnya seragam Rukia lah yang mendapatkan perhatian lebih dari pandangan tersebut.
Seragam yang Rukia kenakan memang terlihat stylish, pertama sebuah kemeja ketat berwarna putih -dengan simbol Fantasia High dibagian kiri-kanan kerah kemejanya tersebut- yang menutupi tubuhnya, namun lekukannya masih dapat terlihat jelas. Sedangkan kerah kemejanya berwarna hitam pekat.
Sebuah rompi berwarna hitam yang sengaja tidak dikancing memberikan kesan sedikit berandal.
Dilengkapi dasi yang ikatannya telah berantakkan, berwarna merah dan bergaris putih dibagian bawahnya.
Belum selesai, masih terdapat balutan jass khusus milik Fantasia High yang dikenakan Rukia, jass berwarna putih terang senada dengan kemejanya. Pada bagian belakang jass berbentuk /\ dibawahnya, menjuntai panjang hingga melewati rok milik Rukia layaknya jubah seorang alchemist jika nampak dari belakang. Sedangkan di bagian depan jass terlihat datar dan mengatung 1,5cm dibawah lingkar perut Rukia layaknya jass seorang konduktor jika nampak dari depan. Diukir dengan garis tipis berwarna hitam disekitar daerah kerah jass, dibawah kedua lengan jass, dan dibagian paling bawah jass tersebut.
Tak lupa juga dengan rok berwarna hitam 5cm diatas lutut dikenakan Rukia, dihiasi ikat pinggang kecil berwarna putih.
Dan yang terakhir lambang khas milik Fantasia High berukuran sedang dibelakang jass tersebut.
''Ohh, kau sampai seteliti itu, yang lain saja tidak menyadarinya, hebat juga,'' puji Rukia kepada Mizuiro.
Mizuiro tersenyum, ''Terimakasih atas pujianmu, lagipula seragam itu merupakan seragam dambaan banyak anak sekolah, maka dari itu aku tahu, tak kusangka jika dilihat secara langsung sangat begitu indah dari yang kubayangkan, bahkan ketika dipakai olehmu Kuchiki,'' sambung Mizuhiro yang kali ini terlihat mencoba menggoda Rukia.
''Ah, jangan berlebihan, hahaha ~'' tawa Rukia renyah.
''Kenapa kau tidak sekolah di Karakura High saja Rukia ?'' tanya Ichigo yang tersadar dengan seragam dan tempat Rukia bersekolah sekarang. Terlihat sedikit emosi.
''Ah, itu..'' Rukia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan Ichigo yang baru saja dilontarkan.
''Orang tua kami sedang ada tugas dipusat Karakura, maka untuk mempermudah memantau anak-anak mereka saat bekerja kami dipindahkan kesekolah itu termasuk rumah,'' sambung Renji yang tidak tahu sejak kapan sudah datang.
Ichigo yang mendengarkan hal itu langsung memusatkan pandangan kepada Renji dibelakangnya, ia mencoba menelaah maksud Renji. Dan kini ia mengerti sedikit dari kebohongan yang Renji buat,
''Renji ! Kau darimana saja !'' tanya Rukia.
Renji menunjukkan bungkusan dikepalan tangannya didepan muka Rukia, ''Aku beli ini ! Mana tanganmu,'' Renji menarik kursi disalah satu meja dan meletakannya disamping bangku milik Rukia. Kini Rukia duduk diapit oleh Ichigo disebelah kanan, dan Renji disebelah kiri.
''Kau sampai berbuat begitu Renji..'' ucap Rukia sambil mengulurkan tangannya.
''Hei, tadi kau bilang orang tua kalian pindah tugas dipusat Karakura ? Kenapa bisa ?'' tanya Keigo tiba-tiba.
''Orang tua kami itu bersahabat, mereka mendirikan perusahaan bersama kebetulan mereka sedang ada proyek besar disini, begitu,'' pungkas Renji yang tengah membuka obat untuk mengobati luka Rukia, setelah itu ia usapkan pada luka Rukia.
''Awww ! Sakit bodoh ! Pelan-pelan !'' rintih Rukia kesakitan.
''Hahhh ! Cerewet sekali ! Masih untung kuobati,'' kali ini Renji mengurangi sedikit penekanan terhadap luka Rukia yang tengah diberikan obat.
Walaupun Renji melakukannya dengan sangat hati-hati namun ia masih melihat expresi wajah Rukia yang kesakitan.
''Sakit sekali ?'' tanya Renji.
Rukia hanya menganggukkan kepalanya.
''Tahan yah, sebentar lagi selesai,'' Ujar Renji sembari mengelus kepala Rukia untuk yang kedua kalinya.
Pemandangan ini sangatlah terlihat canggung dimata teman-teman Ichigo terutama bagi Ichigo sendiri. Ichigo merasa adanya perubahan pada tingkah laku mereka berdua yang terlihat tidak seperti biasanya. Bahkan Rukia yang terlihat sedikit manja, dan menerima usapan dikepalanya oleh Renji. Rukia yang ia kenal akan menghajar Renji jika ia melakukan hal tersebut.
''Kalian pacaran ?'' tanya Chizuru tiba-tiba.
''Eh !'' Renji dan Rukia kontan bersamaan melihat kearah Chizuru dengan muka semerah tomat. ''Tidak !'' bantah Rukia dan Renji bersamaan.
''Kompak sekali,'' ujar Tatsuki.
Rukia langsung menarik tangannya yang sedang diobati oleh Renji, kemudian ia membuang muka kearah kanannya, matanya bertemu mata dengan Ichigo.
'mata ini..' bisik Rukia dalam hati, namun ia segera tersadar dan menundukkan kepalanya.
Ichigo yang sempat melihat tatapan aneh dari Rukia mulai merasa ada kejanggalan.
''Belum selesai kuobati Rukia,'' sahut Renji tiba-tiba.
''Ah ! Sudah begini saja,'' ucap Rukia singkat.
''Sini Renji berikan padaku obatnya,'' sambung Ichigo yang langsung mengambil obat yang dipegang Renji.
''Berikan tanganmu Rukia,'' kata Ichigo.
''Sudah, tidak us-'' kata-kata Rukia terpotong karena Ichigo tiba-tiba saja meraih tangan Rukia dan langsung mengobatinya.
Rukia terpaku menatap Ichigo yang tengah serius mengobati lukanya.
Tak lama kemudian pelayan restoran datang membawa makanan yang telah dipesan, ''Maaf menunggu lama, silahkan dinikmati,'' setelah menaruh hidangan-hidangan tersebut, pelayan itu kembali menuju dapur.
''Akhirnya makan juga !'' ucap Keigo.
''Makan saja diotakmu itu,'' sambung Tatsuki.
''Kalau tidak makan, aku mati,'' jawab Keigo. Terlihat Tatsuki memutarkan kedua bola matanya dengan malas menanggapi ucapan Keigo.
''Nah sudah beres, kau bisa makan sekarang,'' kata Ichigo sembari menatap mata Rukia sebelum akhirnya membereskan obat yang digunakan untuk mengobati tangan Rukia.
''Arigatou ~'' kata Rukia kepada Ichigo.
''Kuchiki, kau bisa makan ?'' tanya Orihime yang sedari tadi terdiam,
''Eh ? Te-Tentu, hehe..'' Rukia bergegas mengambil pisau dengan tangan kanannya yang terluka dan..
'Ah ! Sakit sekali ! Padahal waktu belum menyadari ini terluka tidak terasa sakit,' Rukia membatin, terlihat wajahnya yang meringis kesakitan, sementara tangannya masih mengudara dan terdiam. Yang lain pun melihat kejadian itu.
Renji yang mengerti hal tersebut langsung mengambil steak milik Rukia dan memotong-motongnya menjadi beberapa bagian, setelah selesai ia mengambil sebuah garpu dan mengeratkannya ditangan kiri Rukia.
''Makanlah..'' ucap Renji sembari tersenyum.
Rukia membalas senyum Renji lebih manis, ''Terimakasih Renjiii ! Kau memang selalu baikkk ! Itadakimasu ~ Ammm..'' sambung Rukia diakhiri dengan suara suapan pertamanya.
''He-Hei ! Pelan-pelan ! Nanti bisa tersedak !'' ujar Renji ketika melihat lahapan pertama Rukia yang seperti orang tidak makan berminggu-minggu.
''Mono Mungkin,'' jawab Rukia dengan mulut terisi penuh makanan,
''Nafsu makan Kuchiki ternyata besar sekali yah, baiklah kalau begitu aku juga, Itadakimasu ~'' sambung Orihime.
''Kau tidak makan Ichigo ?'' tanya Sado.
Ichigo yang sedari tadi melihat Rukia tengah makan kini tersadar, ''Ah ! I-Iya, Itadakimasu,'' kemudian Ichigo mendapatkan lahapan pertamanya.
Rukia yang sempat melirik kearah Ichigo, kemudian membuka suara, ''Ichygo, opo dolo kito temon boik ?'' Rukia bertanya dengan mulut masih terisi makanan.
Ichigo yang melihat wajah Rukia -dengan pipi menggembung, mulut yang membuka-menutup, mata lemon yang lebar- itu jadi tertawa geli, ''Hahahaha ~ Kau bicara apa ? Ti- hahaha Tidak jelas, hahahaha ~''
''Ditelan dulu baru bicara, apa kata Nii_sama-mu jika dia melihat kau seperti itu,'' ujar Renji yang tengah asik meracik merica kedalam steaknya.
Ketika disuruh seperti itu barulah Rukia menelan habis makanannya, ''Aku bilang, apa dulu kita teman baik Ichigo ?'' Rukia masih mengarahkan pandangannya kearah Ichigo.
Ichigo dan teman-temannya yang mendengar pertanyaan Rukia itu pun merasa terkejut,mereka sama-sama mepertanyakan dalam hati untuk apa Rukia menanyakan hal seperti itu.
''Kenapa kau bertanya begitu ?'' tanya Ichigo.
''Renji bilang padaku dulu kau pernah kuberi kekua- Hmph'' kata-kata Rukia terpotong karena tiba-tiba Renji membekap mulutnya dari belakang.
''Hahaha, maksud Rukia it-'' kini giliran kata-kata Renji yang terputus oleh Ichigo.
''Kau akan tahu jawabannya sendiri cepat atau lembat Rukia,'' ujar Ichigo sambil memotong steak miliknya kemudian memasukkannya kedalam mulut.
''Kalian ini sebenarnya bicara apa ? Dan kenapa Kuchiki bertanya begitu ?'' tanya Orihime kebingungan.
''Rukia itu hanya bercanda, dia memang suka begitu kan ? hahahaha ~'' ujar Renji.
''Aneh,'' sambung Keigo dan Chizuru bersamaan.
''Oh ya, ngomong-ngomong Kuchiki, Fantasia High itu sekolah seni kan ?'' tanya Mizuiro.
''Hm, Iya,'' jawab Rukia sambil tersenyum kearah Mizuiro ketika hendak memasukkan steaknya yang kesekian kali kedalam mulutnya yang sudah sempat terbuka.
''Keren sekali ! Apa saja yang kau pelajari disana ?'' kini pertanyaan Mizuiro sedikit terdengar lebih antusias.
''Pastinya Kami belajar semua tentang seni, dan karena kami masih tingkat 1 maka pemfokusan pelajarannya begitu ketat, itu dilakukan untuk menyadarkan minat siswa-siswi dalam mengambil penjurusan pada tingkat 2 nanti,'' jelas Rukia hendak meneguk minuman untuk membasuh tenggorokannya.
''Memang jurusan apa saja yang tersedia disana Kuchiki ?'' tanya Ishida.
''Disana ada 5 jurusan dan itu terdiri dari seni musik, seni lukis, seni drama, seni tari, dan seni tata bahasa,'' Rukia mengalihkan pandangan kearah Ishida.
''Lalu jurusan apa yang akan Kuchiki ambil ?'' tanya Orihime kali ini,
''Apa pun yang diambil, jelas kau jangan memilih seni tari, badanmu terlalu kaku untuk menari, bisa-bisa seperti ini nanti,'' Renji memperagakan tarian yang dimaksudnya seperti ini - (~¯¯ _¯¯)~ ~(¯¯ _¯¯)~ ~(¯¯ _¯¯~)
Yang lainnya pun tertawa dengan tingkah Renji, ''Tentu saja aku tidak seperti itu ! Dasar bodoh,'' saut Rukia kesal. ''Hm, belum tahu, liat nanti saja, Hahaha ~'' ujar Rukia.
''Aku bercanda Rukia, lagipula kau mau masuk kejurusan mana pun semuanya cocok untukmu, karena kau punya skill dia setiap bidang, ingat pujian dan pengakuan yang diberi beberapa guru tadi padamu ? Padahal baru hari pertama masuk, tapi pujian sudah banyak datang menghampiri,'' terang Renji,
''Hari pertama masuk ?'' Sado kali ini terlihat agak aktif bicara,
''Ya, hari ini hari pertama kami masuk sekolah, hahaha ~'' kemudian Renji kembali menyantap hidangan yang masih tersisa setengah diatas piringnya.
... ... ...
''Wahh kenyang sekali ! Baiklah ! Kelihatannya kita akan berpisah, sesekali jika sempat kita main bersama yah Rukia_chan,'' ujar Keigo nampak senang telah bertemu Rukia disaat seperti ini.
''Hm ! Benar Kuchiki !'' Orihime pun nampak antusias dengan usul Keigo.
''Ah, hahahaha ~ tentu Keigo dan Orihime,'' jawab Rukia yang mulai hafal dengan nama-nama teman Ichigo, karena selama mereka makan-makan tadi tak jarang mereka mengobrol sembari memanggil nama satu sama lain.
''Kalian tinggal dimana ?'' tanya Ichigo.
''Kau lihat jalan disana ? Kami hanya tinggal lurus, lalu disana ada pertigaan belok kanan, pertigaan lagi belok kiri lalu langsung lurus saja sampai ada rumah yang satu-satunya dibangun,'' terang Renji kepada Ichigo.
''Berarti kita berpisah disini yah, ku kira kita masih sempat jalan bersama dulu,'' sambung Ishida.
''Baiklah, kami duluan yah, Jaa ~'' Renji melambaikan sebelah tangannya yang menganggur. Rukia pun melakukan hal yang sama sambil meninggalkan senyum kepada Ichigo dkk.
Perlahan mereka mulai menjejakkan kaki disepanjang jalan pulang hingga tiba-tiba Renji mengambil tas milik Rukia yang dijinjing dibahu sebelah kirinya. ''Hei, kembalikan !'' Rukia melayangkan tangan kirinya untuk mengambil tas yang telah diambil Renji.
''Aku bawakan,'' kata Renji yang dengan santai membawa tas miliknya dan milik Rukia.
''Tidak usah, aku bisa sendi-'' tiba-tiba saja Renji merangkul bahu Rukia dengan erat. Mempersempit jarak diantara mereka berdua.
''Tidak usah bawel, aku kasihan padamu tahu, sudah pendek, tangan terluka, bawa barang berat-berat, bisa makin pendek kau, hahaha,'' Renji tertawa lepas. Sedangkan Rukia mendengus kecil namun setelahnya digantikan senyuman. Kali ini ia tidak membalas ledekkan Renji karena ia tahu itu hanya sebuah alasan agar Renji bisa membawakan tasnya. Ya, begitulah cara tersamar Renji dalam menunjukkan perhatiannya.
Sementara itu, Ichigo dkk yang melihat kejadian itu hanya mematung ditempat.
''Mereka itu benar jadian yah ?'' Keigo angkat suara tiba-tiba.
''Memang terlihat seperti sepasang kekasih,'' sambung Orihime yang menggantungkan telapak tangannya didepan dagu.
Ishida yang mendengar itu langsung melirik sebentar kearah Ichigo yang sedari tadi serius melihat pemandangan didepannya. 'Dasar' batin Ishida.
... ... ...
''Akhirnya selesai ! Ini semuah berkat bantuan kalian ! Arigatou !'' nada bicara Keigo terdengar sedikit letih, ditambah kedua tangannya yang dilayangkan diatas kepala sebagai peregangan atas otot-ototnya yang kaku hampir seharian menyelesaikan tugas hukuman dari Ochi sensei.
''Tidak menyesal aku ikut, aku jadi mengerti beberapa hal yang sempat tidak aku mengerti, hahaha ~'' sambung Tatsuki.
''Benar kan lebih menyenangkan seperti ini,'' Orihime tersenyum manis kepada teman-temannya.
''Yah, untuk menyelesaikan tugas ini yang harus dicopy 4 kali lipatnya saja harus memakan waktu 3 jam dan itupun masih dibantu dengan kami, bagaimana jika tadi kau mengerjakannya sendiri Asano ? Aku tidak bisa membayangkannya,'' ujar Ishida kalem seperti biasanya.
''Hm, mungkin kalau aku mengerjakannya sendirian sudah kupastikan hidupku hanya sampai besok,'' kali ini Keigo menopangkan dagunya dengan malas pada kedua tangannya diatas meja.
''Hahahaha ~'' semua yang ada disana tertawa lepas.
''Kalian tahu betapa beruntungnya aku karena Kami-Sama menghadirkan kalian semua kedalam hidupku sebagai seseorang yang dikelompokkan dalam satu kata yaitu 'sahabat' ?'' lontaran kata demi kata yang keluar dari mulut Keigo sukses menyentuh hati teman-teman mereka saat itu.
Ichigo tersenyum, ''Dan kau tahu sebetapa beruntungnya kami karena Kami-Sama telah menghadirkan kau diantara kami semua untuk melengkapi apa itu artinya 'persahabatan' ?''
Dan saat itu juga yang lainnya semakin tersentuh dengan perkataan Ichigo.
''Sadar tidak, kalau kita sudah melewati semester pertama kita ? Bahkan kita sudah menghabiskan setengah semester terakhir, itu berarti sebentar lagi kita akan menuju tingkat 2, aku fikir baru kemarin kita saling cek-cok satu sama lain karena kesan pertama sebagai murid baru siswa-siswi Karakura High,'' ujar Ishida panjang lebar.
''Itu berarti kita akan menjadi senpai sebentar lagi,'' ucap Sado.
''Kalian semua benar,'' saut Orihime.
''Dan itu berarti kita harus berjuang lebih keras lagi,'' ujar Sado.
''Ya ! Tentu saja ! Kita semua harus semangat teman-teman ! SEMANGAT !'' kali ini tiba-tiba saja Tatsuki meramaikan suasana dengan kata-kata penyemangatnya.
''SEMANGAT !'' sorak yang lainnya bersamaan.
... ... ...
''Sekali lagi terima kasih yah teman-teman, hati-hati,'' Keigo melambaikan tangannya dengan semangat kearah teman-temannya.
Ditengah-tengah perjalanan pulang, Tatsuki, Mizuiro dan Chizuru berpisah dengan yang lainnya karena berbeda arah jalan rumah. Hingga kini menyisakan Ichigo, Ishida, Sado dan Orihime.
Orihime yang tiba-tiba teringat dengan kemunculan Rukia didunia manusia pun mulai mengajukan pertanyaan, ''Bukankah, Hogyouku sudah kembali ke Soul Society dan semua misi telah selesai ? Lalu apa yang membuat Kuchiki dan Abarai datang kesini yah ?'' kembali Orihime menangkupkan tangannya sejajar didepan dagunya, sepertinya 'trademark' Orihime.
''Aku sempat menanyakan hal itu kepada mereka berdua, dan mereka juga masih belum memberikan alasan yang pasti,'' Jawab Ichigo.
''Ya, selain itu diperburuk dengan keadaan Kuchiki yang hilang ingatan, aku semakin tidak mengerti,'' kali ini Ishida berujar sembari memasukan tangan kanannya kedalam saku celana.
''Kuchiki hilang ingatan !'' Orihime tersentak kaget. Sedangkan Sado menunjukkan expresi keterkejutannya dengan membelalakkan kedua matanya.
''Ta-Tapi, dia tadi baik-baik saja, malah dia mengingat kita semua kan ?'' tanya Orihime berusah meyakinkan.
''Dia sedang berakting, tidak mungkin kan dia langsung menceritakan kejadian yang sesungguhnya didepan yang lain ?'' terang Ichigo kembali.
Hingga akhirnya Sado teringat saat Rukia menanyakan, ''Jadi itu sebabnya dia bertanya padamu 'apakah dulu kau teman baiknya' Ichigo ?''
Orihime yang sempat melupakan kejadian itu kembali tersentak dengan melirik kearah Ichigo, ''Mungkin,'' jawab Ichigo dengan singkat.
''Apa maksudnya dengan 'mungkin' Kurosaki ?'' tanya Orihime kembali.
''Aku tahu Rukia menanyakan hal itu karena memang dia hilang ingatan, tapi untuk apa ?'' Ichigo seolah-olah bertanay pada dirinya sendiri.
''Sepertinya banyak yang perlu mereka jelaskan jika bertemu lagi, di mulai dari sekolah yang mereka pilih, tempat tinggal yang kini mereka tempati, keadaan dunia manusia dengan Soul Society, terutama tentang Rukia itu sendiri,'' komen Ishida.
''Ya begitulah, dan nampaknya kita berpisah disini, aku duluan yah, Jaa,'' kata Ichigo. Yang lainnya pun berpamitan satu sama lain karena memiliki arah yang berbeda juga.
... ... ...
''Bagaimana ? Apa mereka semua masih bisa digunakan ?'' seorang laki-laki berdiri dibawah sinar rembulan yang dengan terang memancarkan sinarnya.
''Belum dapat dipastikan tuan Aizen apakah mereka semua bisa utuh kembali, sebagian dari mereka memang sudah hancur, sebagian terluka parah, dan yang sebagian luka biasa, kesempatan untuk menghidupkan maupun menyembuhkan mereka semua itu hanya soal waktu dan keajaiban, terutama yang sudah terluka parah dan hancur,'' ujar seorang laki-laki berperawakan tinggi, berambut putih tersebut. Tak lupa sebuah senyuman kucing terbingkai disana.
''Bukankah dua orang itu.. ?'' Aizen menggantungkan pertaanyaanya.
''Ya, mereka memang pengecualian tuan, dan kami masih meneliti mengapa perkembangan pemulihan mereka sedikit lebih mudah dibandingkan dengan yang lain,'' jelasnya kepada Aizen.
Tiba-tiba suasana terdiam..
''Kondisi semakin diperparah dengan Hogyouku yang telah direbut tuan, dan batas dunia manusia dengan Soul Society yang menjaga jarak dengan Hueco Mundo,''
''Kurang ajar !'' laki-laki bernama Aizen itu mengepalkan kedua tangannya, terlihat ia sangat marah.
''Tenanglah dulu tuan, bukankah kita masih memiliki kesempatan ?'' pertanyaan yang dilontarkan laki-laki tersebut tidak ditanggapi oleh Aizen.
Hingga akhirnya laki-laki itu kembali mengambil suara, ''Sebuah kesempatan yang ada sangat disayangkan apabila tidak kita ambil tuan, kesempatan sekecil apapun dapat berepengaruh besar, dan itu tergantung dengan keputusan, keinginan, dan tujuan kita, seharusnya kita dapat mempergunakan kesempatan itu sebaik mungkin,'' terang laki-laki misterius itu panjang lebar.
''Hm, kau benar, tentu aku tidak akan menyerah begitu saja, hahahaha ~ Gin, cepat kau kirim hollow yang lebih banyak dari sebelumnya ke dunia manusia, aku ingin memberikan para Shinigami sedikit pemanasan, HAHAHAHA ~'' tawa Aizen terdengar menyeramkan kali ini.
''Baik tuan, ada lagi yang lain ?'' laki-laki misterius bernama Gin itu meyakinkan pertanyaannya kepada Aizen.
''Sudah kau jalankan rencana itu ?'' tanya Aizen, yang ditanya hanya menganggukkan pelan kepalanya, ''Sudah sebelum saat itu tuan..'' dan kemudian Gin meninggalkan tempat tersebut.
... ... ...
''Darimana saja kalian ?'' tanya Rangiku kepada dua orang teman mereka yang baru saja membuka pintu rumah.
''Ah, tadi ditengah perjalanan pulang Rukia ingin makan, dan tidak sengaja bertemu dengan Ichigo bersama teman-temannya, jadi kami mengobrol dulu,'' Renji menjelaskan.
''Ichigo ? Apa dia tahu tujuan kita datang kesini ?'' kali ini Toushiro membuka pertanyaan.
''Belum,'' jawab Renji singkat.
''Astaga ! Rukia_chan ! Tanganmu kenapa !'' Rangiku yang tiba-tiba menyadari luka ditangan Rukia langsung menghambur diri kearahnya.
Toushiro yang mendengar hal itu pun hanya melirikkan mata kearah tangan Rukia kemudian dialihkan kearah Renji.
''I-Ini.. Er..'' Rukia terlihat terbata-bata.
Renji yang sedari tadi memusatkan pengelihatannya kepada Rukia tiba-tiba saja menyadari tatapan dari Toushiro, kemudian ia membuka suaranya, ''Dia terjatuh,''
''Katakan berapa umurmu sampai bisa terjatuh seperti itu Kuchiki ?'' kali ini Toushiro terlihat geram dengan kecerobohan Rukia.
''Ah ! Ma-Maaf kapten ta-tadi itu aku dan Renji kejar-kejaran lalu aku tersandung dan terjatuh..'' Rukia menundukkan kepalanya.
''Kejar-kejaran ? Berapa umurmu untuk melakukan hal yang seperti itu ?'' kali ini Toushiro nampak terlihat menyindir Rukia, tak ayal sedikit nada kesal terdapat disetiap penekanan kata yang ia lontarkan.
''Ma-Maaf kap-'' belum selesai Rukia melengkapkan jawabannya.
''Aku tidak menanyakan pertanyaan dengan jawaban tersebut Kuchiki,'' Toushiro memotong jawaban Rukia.
Kali ini suasana menjadi sunyi ...
''Sudahlah kapten, daripada marah-marah seperti itu lebih baik sekarang biar kuobati dulu lukamu Rukia_chan, ayo,'' ketika Rangiku hendak membimbing Rukia, Rukia mematung sebentar kemudian mengatakan, ''Tadi lukanya sudah diobati Renji dan Ichigo, dan.. Umurku sama seperti anak kecil lainnya yang ketika bermain kejar-kejaran lalu terjatuh kapten, aku minta maaf,'' sebelum Rukia menghambur diri kekamarnya, ia sempat melirik kearah Rangiku,
''Terimakasih atas niat baikmu Rangiku_san,'' Rukia tersenyum kearahnya, yang disenyumi membalas senyuman tersebut. Kemudian Rukia menuju kamarnya.
''Anak itu, benar-benar berbeda sekali sebelum ingatannya hilang,'' Toushiro menggelengkan kepalanya dengan kedua tangan dilipat didepan dada.
''40% kapten,'' jawab Renji.
... ... ...
''Kuchiki boleh aku masuk ?'' Toushiro mengetuk pintu kamar Rukia.
'Mau apa ?' batin Rukia, ''Ya kapten,''
Rukia membukakan pintu kamarnya yang sebelumnya terkunci, ''Ada apa kapten ?'' tanya Rukia.
''Aku tidak mau berbasa-basi Kuchiki, tapi kami semua berharap ingatanmu dapat pulih kembali, dan.. Maaf soal yang tadi,'' Toushiro menjelaskan dengan sangat singkat tanpa mengurangi maksud dari perkataannya.
Ketika Toushiro selesai mengatakan hal tersebut ia pun hendak beranjak dari depan pintu kamar Rukia. Rukia hanya mematung ditempat dengan memikirkan maksud dari perkataan Toushiro. 'Apa maksudnya.. Aneh..'
... ... ...
Pagi yang cerah untuk hari ini menjalani aktivitas, tak terkecuali bagi Ichigo. Dengan santai ia berjalan memasuki gerbang sekolahnya menuju kelas 1-3. Tak jarang ia membalas beberapa sapaan yang di layangkan teman-teman yang dikenalinya.
Sebelum sampai dikelas, Ichigo berhenti didepan loker sepatunya untuk kemudian digantikan dengan uwabaki miliknya. Ketika Ichigo mau melangkahkan kaki, terdengar lagi sapaan hangat dari salah satu teman dekatnya, ''Pagi Kurosaki,'' Orihime tersenyum kearah Ichigo.
''Ah, pagi Inoue,'' seraya Ichigo membalas senyuman Orihime.
Mereka berjalan bersama menuju kelas sambil berbincang-bincang. Semakin tak sabar menuju kelas ketika tiba-tiba saja sama-sama terpintas oleh mereka berdua akan ulah Keigo yang pasti akan menyambut mereka dengan tingkah konyolnya. Dan berbagai suasana hangat dari teman-teman mereka yang lain yang akan menyambut mereka pagi ini.
Ichigo membuka pintu kelasnya, sedangkan Orihime berdiri dibelakang Ichigo menunggunya membuka pintu dan kemudian masuk kelas bersama. ''Pagi Ichigo, Orihime !'' sapa Keigo semangat hari ini namun terlihat ada yang aneh disana.
''Pagi, tumben kau tidak menyambut dengan tingkah konyolmu Keigo,'' Ichigo terlihat memberikan cengiran khas miliknya kepada Keigo.
''Pagi, Asano,'' Orihime pun terlihat memberikan senyumnya kearah Keigo.
''Hihihi ~ Kau ini, kalau aku menyambutmu dengan caraku kau marah, lalu aku akan dipukuli Tatsuki, sekarang aku sambut begini kau protes,'' Keigo membuat nada-nada aneh disetiap kata yang ia lontarkan kepada Ichigo.
''Daripada itu, lebih baik kau memberikan tugas yang diberikan Ochi sensei kepadamu kemarin kan Keigo ? Sebelum Ochi sensei datang lebih dulu dan akhirnya memberikan hukuman lagi yang lebih berat ?'' panjang lebar Ichigo berbicara sembari berjalan menuju mejanya.
''Tentu saja aku sudah menaruhnya diatas meja kerja Ochi sensei, memangnya aku bodoh mau dihukum lagi oleh Ochi sensei ?'' kali ini Keigo terlihat memberikan cengirannya.
''Tidak cukup bodoh bila dibandingkan dengan menyerahkan diri untuk tidak mengerjakan PR hanya demi menemani orang lain dihukum dan akhirnya hanya kau yang dihukum sendirian, hahahaha ~'' entah kapan Tatsuki telah berkumpul untuk mengikuti topik pembicaraan itu.
''Hahahaha ~ aku setuju Tatsuki,'' saut Mizuiro dibelakangnya.
Keigo terlihat kesal ''Tatsu-'', ''Ochi Sensei datang !'' teriak salah satu siswa. Ya, memang bel masuk telah berbunyi sedari tadi ketika Ichigo dengan teman-temannya tengah bercanda.
''Selamat Pagi anak-anak !'' sapa Ochi sensei yang kini telah berdiri didepan kelas, dibalik meja guru.
''Selamat pagi Sensei !'' balas murid-murid diruang kelas.
''Baiklah, sebelumnya Keigo, bagus kau telah mengerjakan PR mu dengan baik, lain kali jangan diulangi mengerti !'' tegas Ochi Sensei.
''Y-Ya Sensei,'' jawab Keigo gugup.
''Bagus ! Nah anak-anak, karena sebentar lagi kalian akan menghadapi ujian akhir semester, saya sangat mengusulkan kalian untuk lebih rajin lagi dalam belajarnya ! Jika perlu buatlah kelompok belajar kalian, agar lebih mempermudah kalian dalam mencerna setiap pelajaran, kalian mengerti !'' kali ini Ochi Sensei nampak lebih serius dari yang sebelumnya.
''Mengerti Sensei !'' jawab murid-murid satu kelas.
''Bagus ! Nah, untuk lebih membantu kalian lagi, maka saya akan memberikan kalian tes setiap masuk pelajaran pertama, dan pada jam pelajaran terakhir, itu berlaku dipelajaran saya,'' kali ini nada Ochi Sensei terlihat bersemangat.
Sebagian murid-murid lain yang mendengarkan hal itu langsung memprotes secara bertubi-tubi atas apa yang dikatan Ochi Sensei barusan. Kelas terdengar berisik kali ini,
''Apa-apaan ! Tidak adil, aku kan belum belajar sama sekali, bagaimana ini Kami-Sama,'' teriak Keigo kesal sambil menengadahkan kedua tangannya keatas, seolah membutuhkan jawaban dari Kami-Samanya.
''Memang semalam habis mengerjakan tugas dan belajar bersama kau tidak belajar lagi Asano ?'' tanya Mizuiro.
Keigo yang ditanya hanya cengar-cengir sendiri, sedangkan Mizuiro hanya menepuk dahinya pelan seolah menyerah dengan tingkah Keigo yang selalu seperti itu.
''Diam !'' kelas mendadak sepi,
''Jangan mengeluh, apa kalian tidak tahu tes ini sangat penting dalam mebantu ujian akhir semester kalian nanti ? Maka dari itu jangan banyak protes !'' terang Ochi Sensei yang terlihat geram dengan tingkah laku murid-muridnya tersebut.
''Jika takut akan mendapat nilai jelek, maka dari itu belajar !'' Ochi Sensei memantapkan kalimat terakhir sebagai pelengkap.
Murid-murid yang lain akhirnya kalah telak dengan kegalakkan Ochi Sensei, mereka hanya bisa mengumpat dalam hati masing-masing.
''Sekarang siapkan kertas ! Jangan ada yang menyontek ! Jika sampai ketahuan ada yang menyontek.. Tau sendiri hukumannya,'' terang Ochi Sensei, seraya mengambil buku file berisi latihan-latihan soal yang telah dipersiapkannya. Kemudian ia mulai menuliskan soal demi soal dipapan tulis.
''Ketua kelas, absenkan teman-temanmu, setelah itu taruh buku absennya kedepan,'' Ochi Sensei berbicara masih dengan keadaan menulis soal dipapan tulis. Sedangkan sang ketua kelas mengindahkan kata-kata Senseinya tersebut dengan sigap.
... ... ...
Sudah 20 menit berlalu semenjak tes dimulai, terlihat wajah siswa-siswi yang nampak frustasi dengan soal-soal 'sial' yang menurut mereka hanya sekedar perebut kesenangan orang.
Belum lagi Ochi Sensei yang sedari tadi lihai menangkap satu per satu siswa yang tertangkap menyontek. Sungguh naas nasib mereka yang tertangkap, harus menunggu hukuman-hukuman menyeramkan dari sang Sensei diruang guru.
''25 menit lagi kumpulkan ! Yang sudah selesai sebaiknya jangan menunggu yang belum selesai !'' tegas Ochi Sensei.
Tak lama kemudian beberapa murid pintar didalam kelas mulai membawa lembar pekerjaanya kepada Sensei yang terkenal garang tersebut. Salah satunya terlihat Ishida.
'Cepat sekali dia,' batin Ichigo. Memang menurut Ichigo soal itu tidak terlalu sulit, hanya saja yang memakan waktunya adalah mengoreksi ulang pekerjaannya setiap satu nomor selesai. Ya, itulah kebiasaannya.
'Yang satu ini.. Sial ! Aku lupa caranya !' kembali Ichigo membatin, kini ia tengah berada di nomor terakhir dari 20 soal yang diberikan Ochi Sensei.
'Bagaimana yah ! Sepertinya aku pernah diajari..' Ichigo mulai mengingat-ingat siapa yang mengajarinya dan bagaimana cara mengerjakannya.
Tak lama kemudian terbesit sebuah memori dimana sebuah jemari lentik milik seorang gadis bertubuh kecil, yang menuliskan cara pengerjaan soal tersebut diatas sebuah kertas coretan.
'Ah ! Ya ! Dia ! Caranya..' tak lama kemudian ia tersenyum lebar, rasa frustasi yang sempat menghampirinya semenit yang lalu seolah-olah hilang.
Buru-buru ia mengambil pena yang sempat diletakannya begitu saja diatas meja, mencorat-coret jawaban kedalam lembar jawabannya tersebut.
'Samakan dulu penyebutnya, lalu cari angka yang berapa dikali berapa hasilnya segini, nah jadinya seperti ini,' terngiang kata-kata seseorang yang pernah mengajarinya mengerjakan soal tersebut dikamar Ichigo.
Kata-kata yang terbesit dalam pikiran Ichigo tersebut seolah menemani dan menuntunnya dalam mengerjakan soal yang sebelumnya dianggap sulit itu 'Kalau sudah begini, karena yang ini sama, maka jika dikalikan akarnya hilang, lalu yang ini doceret, lalu kalikan silang, setelah itu diperkecil, maka..',
''Hasilnya begini,'' Ichigo berbicara pelan kepada dirinya sendiri, terlihat ada rasa kepuasan terlukis diwajahnya. Entah karena soal-soalnya telah selesai ia kerjakan, atau karena teringat seseorang yang telah mengajarkan soal tersebut kepadanya, hingga akhirnya sekarang ia dapat mengerjakannya sendiri.
Kemudian Ichigo bangun dari tempatnya dan beranjak menuju meja Ochi Sensei, masih terlihat seberkas wajah bahagianya ketika menyerahkan lembar jawaban kepada Senseinya tersebut.
Ochi Sensei yang melihat raut wajah Ichigo pun menyeletuk, ''Senang dengan soal-soalku Kurosaki ?''
Ichigo melebarkan sedikit matanya, namun tak menghilangkan expresi wajahnya yang sedari tadi, ''Er.. Lumayan Sensei,'' kemudian Ichigo kembali ketempatnya.
Ochi Sensei dan murid-murid dikelas yang mendengar jawaban tersebut hanya bisa sweatdrop ditempat.
'Sombong sekali, tidak membantuku lagi,' Keigo membatin.
''Baiklah anak-anak ! Waktunya habis cepat kumpulkan pekerjaan kalian !'' tegas Ochi Sensei.
Sebagian murid-murid yang mendengarkan perintah Senseinya tersebut ada yang senang walaupun soal-soal yang mereka kerjakan belum selesai, mereka berfikir setidaknya penderitaan mereka telah berakhir.
Sebagian ada yang panik karena masih ada beberapa soal yang belum mereka jawab sama sekali karna tidak mengetahui jawabannya.
Sedangkan yang sebagiannya lagi hanya pasrah dengan hasil pekerjaan mereka yang telah mereka kerjakan semaksimal mungkin. Mempercayakan hasil mereka kepada Kami-Sama, berharap akan datang keajaiban dimana Ochi Sensei akan salah mengoreksi jawaban mereka yang salah menjadi benar. Sangat mustahil dengan kesempatan yang sangat kecil.
... ... ...
''Baiklah, sekarang kalian kerjakan rangkuman dari halaman 104 sampai 106, yang penting-penting saja yah, dan saya mau itu semua selesai di jam kedua pelajaran ini,'' tutur si Sensei yang sepertinya senang memberikan tugas yang bertubi-tubi kepada murid-murid kelasnya tersebut.
''APA ! SENSEI BERIKAN KAMI WAKTU SETIDAKNYA UNTUK BERNAFAS SEBENTAR,'' teriak Keigo diantara keriuhan siswa-siswi yang lain, mereka juga sama-sama saling protes dengan ulah Sensei mereka.
''Waktu semakin berjalan..'' Ochi Sensei sepertinya hanya menanggapi dengan santai.
Mereka yang mendengarkan hal itu akhirnya mengalah dan mengerjakan tugas yang diberikan, daripada harus mengerjakan tugas tersebut 4x lipat seperti yang dilakukan Keigo sebagai hukuman ?
Ochi Sensei kemudian tersenyum dengan murid-muridnya yang patuh terhadapnya setiap kali diberikan ancaman hukuman menyeramkan yang akan datang jika mereka tidak mematuhi perintahnya.
Sebenarnya Sensei itu bukan bermaksud menyiksa mereka dengan setumpuk tugas, latihan, maupun pekerjaan rumah yang diberikan. Semua itu bertujuan agar anak-anak muridnya mau belajar, dan setidaknya dari tugas-tugas yang diberikan mereka mendapatkan gambaran dalam menjawab lembar-lembar ujian nantinya, dapat naik kelas dan melanjutkan pendidikan yang lebih sulit lagi dibandingkan dengan yang sekarang.
Semua itu demi mereka, bukan untuk si Sensei sendiri. Memang sebuah pengabdian seorang guru terhadap anak-anak didiknya yang sangat patut untuk dicontoh guru lain.
''Sebaiknya kalian cepat, karena sehabis ini saya akan memberikan kalian catatan sebagai bahan untuk ujian nanti,'' masih terlihat santai Ochi Sensei mengatakan hal tesebut.
''YAAAAHHH SENSEIII !'' teriak seluruh siswa satu kelas.
''Waktu berjalan terus..''
... ... ...
Di taman halaman belakang sekolah..
''3 jam pelajaran tanganku dicekoki habis-habisan menulis ini-itu, Ochi Sensei sungguh tega,'' Keigo meregangkan tangan kanannya yang terlalu pegal mengerjakan-mencatat tugas-tugas dan bahan-bahan ujian yang diberikan Ochi Sensei.
''Kali ini aku setuju denganmu,'' sambung Mizuiro,
''Begitu pula denganku ! Sial ! Tanganku rasanya mati rasa ! Memegang sumpit saja sampai susah setengah mati seperti ini !'' Tatsuki mengumpat terang-terangan.
''Kalian berisik sekali ! Ini istirahat, gunakanlah dengan baik untuk mengistirahatkan tangan kita ini, hahaha ~'' Ichigo terkekeh.
''Bisa-bisanya bicara seperti itu kau Ichigo !'' ketus Tatsuki.
''Apakah nanti guru-guru yang lain juga akan memberikan kita tugas-tugas berat seperti yang dilakukan Ochi Sensei ?'' kali ini Sado turut ikut berbicara sambil ia membuka bekal kotak makan siangnya.
''Ahhh, aku harap tidak ! Bisa mati aku,'' Keigo mendengus, kemudian membuka mulutnya lebar-lebar tengah memasukan sushi buatan kakanya.
''Setuju lagi,'' sambung Mizuiro.
''Lusa pelajaran Ochi Sensei lagi, itu berarti akan ada tes lagi, bagaimana ini ! Aku tidak bisa belajar sendirian kalau tidak ada yang mengajari,'' kali ini Tatsuki terlihat lesu mengatakan hal tersebut.
''Benar, hhhh ~'' sambung Keigo.
''Bagaimana jika besok kita belajar kelompok lagi ?'' usul Sado.
''Ah ! Iya lebih baik begitu, tapi buku cetak dan tugasnya kan dikumpul tadi, bagaimana bisa belajar,'' Keigo yang sebelumnya semangat kini terlihat kebingungan,
''Kita bisa belajar diperpustakaan kan ?'' kata Orihime tiba-tiba,
''Benar ! Perpustakaan Karakura kan bukunya lengkap-lengkap ! Baiklah dengan ini sudah diputuskan besok kita berkumpul disana jam 8 bagaimana ?'' sontak Tatsuki terlihat bersemangat kembali.
''Jangan jam 8, aku ingin tidur agak siangan besok,'' Ichigo yang sedari tadi diam kini ikut berbicara.
''Jam 9 bagaimana ?'' tanya Tatsuki sekali lagi,
''Oke !'' yang lain menjawab serentak.
''Ngomong-ngomong, bagaimana dengan ujian tadi ? Apa kalian bisa ? Aku merasa sulit dibeberap soal, apa lagi soal yang terakhir, aku jawab asal saja,'' tukas Orihime yang membuka topik baru.
''Kau masih beruntung, setidaknya beberapa soal kau bisa.. Nah aku ! Satu pun aku tidak tahu jawabannya, hahahaha ~'' jujur sekali si Keigo ini.
''Ka-Kau ! Nekat sekali ! Lalu kau jawab apa kalu begitu !'' tanya Tatsuki terbata-bata,
''Ah ! Biasa saja Tatsuki, salah satu dari kalian juga pasti begitu kan, hahaha ~ jawabannya aku asal-asalan saja,'' Keigo menerangkan dengan sangat santai seperti tanpa beban.
''Bodoh ! Mana mungkin ! Aku masih mengerjakan beberapa soal tersebut dengan baik, karena aku tahu sebagiannya. Kalian juga kan !'' Tatsuki melirik kearah teman-temannya satu per satu. Mereka yang dilirik hanya menganggukan kepalanya kemudian memusatkan pandangan mereka kearah Keigo.
Keigo yang melihat hal itu tiba-tiba saja membatu, kotak bekal makanan yang sempat menggugah selera makannya kini seolah tak mau dia sentuh lagi, 'Mati aku..'
... ... ...
Bel istirahat masuk di Fantasia High telah berbunyi, segerombolan anak-anak yang menghabiskan aktivitas istirahatnya kini tengah berlari menuju kelas masing-masing.
''Pelajaran hari ini musik yah ! Aku tidak bisa main musik.. Menyanyi saja suaraku seperti kaset kusut,'' kata Rangiku yang berjalan sangat lesu dengan teman-teman Shinigaminya.
''Ayolah semangat Rangiku_san ! Bukankah biasanya kau selalu menyemangatiku ? Masa kali ini kau begitu lesu ?'' kata Rukia.
''Hhhh ~ Aku tidak bisa Rukia_chan, lebih baik aku bolos saja,'' Rangiku yang kini telah sampai didepan pintu kelas musik tersebut tiba-tiba saja mengambil langkah berbalik arah.
''Matsumoto berhenti ! Cepat masuk,'' perintah sang kapten, Toushiro.
''Hhhh ~ kapten aku moh-''
''Cepat..'' Toushiro memotong peembelaan Rangiku.
Rangiku kalah telak dengan sang kapten. Akhirnya Rangiku membuka pintu kelas musik dan berjalan masuk, ia sengaja mengambil posisi duduk dibangku paling belakang karena malas mengikuti pelajaran tersebut. Yang lainnya mengikuti setelah Rangiku.
''Baiklah sepertinya sudah lengkap semua, dan.. Kemarin saya dengar ada beberapa murid baru pindahan yah ? Yang mana ? Bisa memperkenalkan diri lebih dulu kepada saya ?'' tanya Sensei kelas musik tersebut.
Toushiro dkk yang tadinya tidak memfokuskan pandangan kedepan kini terkejut dengan apa yang mereka lihat didepan kelas,
Rukia membelalakan matanya paling lebar diantara yang lain, Renji yang telah menebak expresi Rukia sedikit melirik kearah gadis tersebut.
'Apa mungkin..' Toushiro membatin,
''Namaku Toushiro Hitsugaya, salam kenal Sensei,'' Toushiro memperkenalkan diri lebih dulu,
'Akan kutanyakan Byakuya nanti,' lagi Toushiro membatin.
Yang lain ketika mendengarkan Toushiro yang tiba-tiba saja sudah memperkenalkan diri kontan langsung memperkenalkan diri mereka masing-masing juga.
''Matsumoto Rangiku, salam kenal,''
''Hisagi Shuhei, salam kenal,''
''Renji Abarai, salam kenal,''
... (diam) ...
''Dan kau nona ?'' tanya sang Sensei kepada Rukia yang mematung ditempat,
''Rukia,'' Renji membisik dan menyikut lengan Rukia,
''AH ! A-AKU, Ak-u, siapa namaku ?'' Rukia yang dikagetkan seperti itu tiba-tiba saja lupa dengan namanya. Hal ini sukses membuat teman-teman sekelasnya tertawa kearahnya.
''Dia itu, lucu sekali sih,'' kata salah seorang teman laki-laki dikelas Rukia.
''Iya, Hahaha ~ Tapi kau lihat tidak ? Dia manis bukan ? Hahaha ~'' kata teman Rukia yang lain.
''Anak itu, aneh-aneh saja tingkahnya,'' masih salah satu opini dari teman sekelas Rukia.
Wajah Rukia kini memerah, ''Semuanya tolong diam.. Nah, siapa namamu ? Jika lupa tidak usah dipaksakan, bair nanti saya lihat didaftar absen sa-''
''RUKIA KUCHIKI ! S-Salam kenal,'' Rukia berkata dengan tegas kemudian menyunggingkan cengirannya yang lebar kearah teman-teman dan Senseinya tersebut.
Si Sensei hanya tersenyum, ''Nama yang bagus,''
Rukia kembali terdiam, dan Renji kembali melirik kearah Rukia, Rangiku, Toushiro dan Hisagi pun melakukan hal yang sama,
''Giliran Sensei,'' Toushiro memecahkan suasana,
Sensei itu melirik sebentar kearah Toushiro, ''Ah, saya sampai lupa, Kenichi Sakuragi, panggil Ken Sensei saja biar terdengar akrab, salam kenal yah,'' ia lekukan senyumannya kearah Toushiro dan teman-teman Toushiro yang lain.
Hati Rukia langsung mencelos mendengarnya, 'Apa !' batin Rukia. Sedangkan Toushiro dan yang lainnya hanya bisa terkejut namun tidak mengeluarkan expresi yang begitu berarti.
''Nah, kita mulai sekarang saja pelajarannya yah.. Seperti yang kita ketahui lusa kita akan pentas diaula sekolah bersama dengan kelas lain dalam rangka penutupan hari terakhir pelajaran praktek seni, karena setelahnya kita akan menjalani bulan penuh tugas yang lebih fokus kearah teori guna menghadapi ujian akhir sekolah,'' terang Ken Sensei panjang lebar.
''Ujian akhir sekolah ? Bukannya kita baru masuk ?'' tanya Hisagi.
''Kita baru masuk di pertengahan semester akhir,'' Renji menjelaskan dengan malas,
''Oh, begitu,'' singkat Hisagi.
''Karena itu ini adalah latihan terakhir kita, tapi yang membuat saya bingung, kalian murid baru bagaimana ? Mau ikut tampil atau tidak,'' tanya Ken Sensei terus terang.
... (diam) ...
''Jika kalian mau tampil maka khusus untuk kalian berlima latihan akan diadakan sampai sore, jika tidak mau maka kalian bebas hari ini hanya melihat saja,'' terang Ken sensei kembali.
'Asik' Rangiku membatin, ''Kami semua ikut,'' tiba-tiba Toushiro membuka suara,
''Ka- umh, Shiro_chan apa maksudmu ?'' Rangiku jelas sangat kesal dengan keputusan kaptennya yang secara sepihak seperti itu.
Toushiro memelototi Rangiku karena seenaknya saja memanggil 'Shiro_chan' seperti itu.
''Baguslah kalau begitu, yang serius yah,'' tukas Ken Sensei.
Latihan pun dijalani, ketika tepat pukul 4 sore bel pulang di Fantasia High berbunyi, siswa-siswi yang lainnya buru-buru pulang dan bernafas lega karena hari terakhir sekolah diminggu ini telah dilewati. Sedangkan Toushiro dan teman-temannya dengan terpaksa menjalani latihan tambahan. Entah apa maksud Toushiro menerima tawaran Ken Sensei tersebut.
... ... ...
Telepon genggam milik Byakuya berdering, ketika dilihatnya sebuah pesan dari Toushiro masuk,
From : Toushiro
Kami terlambat pulang, ada pelajaran tambahan, dan aku sedang menyelidiki sesuatu,
Byakuya tidak membalas pesan tersebut ketika selesai membacanya.
... ... ...
Ketika mereka semua selesai dengan latihan yang selesai pada pukul 6 sore itu, mereka langsung menghambur keluar gedung sekolah untuk menghirup udara kebebasan, terkecuali Toushiro yang masih berada diruang kelas musik.
''Seperti keluar dari lubang hitam bertahun-tahun yah ? Hahaha ~'' ucap Hisagi.
''Hm,'' Rukia hanya mengangguk membenarkan ucapan Hisagi.
''Ngomong-ngomong dimana kapten ?'' tanya Rangiku yang mulai menyadari ketiadaan kaptennya.
... ... ...
''Apa itu nama aslimu ?'' tanya Toushiro kepada lawan bicaranya saat ini.
''Eh ? Maksudmu ?'' yang ditanya hanya mengeluarkan raut muka kebingungan.
''Ken Sensei ? Atau ...''
- TBC -
Sebelumnya mau minta maaf soal beberapa penulisan kata, tanda baca, maupun tanda jeda pada chapter yang pertama, sehingga mungkin membuat beberapa dari para readers sempat agak kebingungan dengan alur ceritanya. Padahal sebelumnya Riou udah koreksi berkali-kali tapi pada kenyataannya masih ajah ada penulisan yang kurang huruf, ditambah lagi lupa nyantumin ''disclaimer'' hope Kubo_san accept my apologize,
Belum lagi tanda jeda yang udah cape-cape copy-paste dan begitu dipublish tanda jedanya ga muncul alias ga kebaca *mungkin karena formatnya ga mendukung*, untuk itu di chapter 2 tanda jedanya diganti pake ... ... ... , lebih bertujuan untuk cari aman.. Hahaha ~
Untuk itu di chapter kedua ini mencoba lebih hati-hati lagi, tapi kalo pada kenyataannya masih terdapat kesalahan mohon dimaklumi saja yah , ^^
Arigatou Gozaimasu, untuk para readers yang sudah mereview chapter pertama, Riou seneng dengan respon kalian yang menanti update dan chapter ini, padahal awalnya Riou udah pesimis banget ga ada yang mau baca, Sankyu soo ~
Udah deh kebanyakan curhat keq'na , Hahaha ~
nb :: buat yang bingung siapa sih ''Kenichi Sakuragi'' itu, update terus dengan fic ini yah , (Chapter 3 sudah setengah proses, Chapter 4 menunggu)
(: ~ Review ~ :)
