Maaf yah saya update lama, semuanya dikarenakan masalah terbatasnya koneksi saya untuk mengupdate fic ini.
Dilema berat sama fic ini semenjak kemunculan Rukia yang baru dideath n strawberry 459 beberapa minggu yang lalu.
Terakhir mau promosi second fic saya yang berjudul Ai no Ame Ga Furu (IchiRuki Pair), kemungkinan besar saya mau fokus di fic itu dulu selagi mikir-mikir alur fic yang ini mau diapain...
Dibaca yah fic Ai no Ame Ga Furu-nya, dijamin ga bakal nyesel deh... ^^
For the last, this is i presented...
My Feelings
Bleach © Tite Kubo
Chapter 3 : Something had to tell, part.1
... ... ...
''Seperti keluar dari lubang hitam bertahun-tahun ya? Hahaha~'' ucap Hisagi.
''Hm~'' Rukia hanya mengangguk membenarkan ucapan Hisagi.
''Ngomong-ngomong dimana kapten?'' tanya Rangiku yang mulai menyadari ketiadaan kaptennya.
... ... ...
''Apa itu nama aslimu?'' tanya Toushiro kepada lawan bicaranya saat ini.
''Eh? Maksudmu?'' yang ditanya memberikan raut wajah kebingungan.
''Ken-Sensei? Atau...''
'CRASH' 'BOOM' 'GROAR'
Jendela kaca gedung khusus kelas seni musik yang terletak dibelakang sekolah Fantasia High itu kini telah sempurna hancur berkeping-keping. Segerombolan hollow yang tiba-tiba saja datang langsung menyerang lokasi tersebut.
Toushiro yang berada disana terkejut setengah mati, mengumpat bagaimana bisa ia tidak merasakan kehadiran segerombolan hollow yang hendak menyerang tersebut.
''A-APA INI?'' Ken-Sensei terlihat sangat terkejut.
Toushiro mengarahkan pandangannya kepada Ken-Sensei, hingga kemudian ia lompat dari gedung tersebut yang tingginya bukan main.
''HEI, KAU! ITU BERBAHAYA!'' teriak Ken-Sensei ketika melihat Toushiro terjun bebas begitu saja.
Selama menjatuhkan diri Toushiro buru-buru merubah wujudnya menjadi Shinigami dengan menelan pil konpaku miliknya.
''Gantikan aku dan awasi laki-laki yang ada diatas! Jika dia tidak bergeming sama sekali bawa dia ketempat yang aman!'' selesai berpesan kepada konpakunya itu, Toushiro langsung mengambil seribu langkah menuju hollow yang kini juga bergerak melawan arah yang berbeda dengannya. Sedangkan si konpaku dengan sigap mengeratkan tangannya pada tepian pertengahan dinding gedung khusus kelas seni musik tersebut.
Ken-Sensei berlari menuju tempat dimana Toushiro menjatuhkan dirinya, ''HEI! RAIH TANGANKU!'' ia buru-buru mengulurkan tangannya kearah konpaku yang ia kira Toushiro dan tanpa berbasa-basi si konpaku menyambut uluran tangan dari Ken-Sensei.
Sementara itu, Toushiro tengah memusnahkan para hollow yang sudah berhadapan mengelilinginya sejak beberapa menit yang lalu.
Sesaat Toushiro sempat lengah hingga tidak memperhatikan salah satu hollow yang tengah mengayunkan tangannya dan sukses mencabik tubuh bagian belakang kapten batallion kesepuluh tersebut.
''ARGH!'' rintih Toushiro. Dan hal itu sukses membuat ia lengah untuk kedua kalinya ketika hollow yang lain hendak melakukan hal yang sama, menyerang Toushiro.
''Unare! Haineko!'' Rangiku berhasil menebas tangan dan memusnahkan hollow yang sempat ingin melukai kaptennya itu.
''Hei! Apa harus sampai menggunakan Bankai Matsumoto?'' ketus Renji yang tengah melawan hollow lain.
''Maaf! Aku kelepasan!'' teriak Rangiku yang tengah bersemangat menghabisi hollow didepan mata.
''Ka-Kalian!'' Toushiro tercekat dengan kedatangan teman-teman Shinigaminya. Padahal sebelum ini ia mengira mereka telah pulang duluan saat Toushiro tidak ikut mengambil langkah yang sama dan malah memilih menginterogasi sang Sensei yang tengah ia curigai.
''Kapten! Yang serius!'' Hisagi berteriak nyaring sambil menebas satu lagi hollow yang hendak menyerang Toushiro yang masih lengah.
''Ah!'' Toushiro melirik Hisagi sesaat hingga ia menyadari sesuatu, ''Dimana Kuchiki!'' ia memutarkan badannya 360 derajat, namun hal itu tetap membuatnya tidak menemukan orang yang dicari.
''Aku suruh konpaku yang lain menjaganya, bersama konpaku milikmu dan si Kenichi itu!'' terang Renji yang masih sibuk mengayunkan Zenpaku miliknya kearah para hollow.
''Apa-apaan ini kapten! Hollownya banyak sekali!'' Rangiku nampaknya mulai terlihat kelelahan.
Membutuhkan durasi lebih dari 45 menit untuk menghabiskan hollow-hollow yang kini mulai terlihat setengah dari kelompoknya dibandingkan dengan pertama kali mereka datang.
'Sial! Banyak sekali!' Toushiro melirik teman-temannya satu per satu, terlihat mereka juga kelelahan.
Namun tiba-tiba saja, ribuan panah menghabisi sisa-sisa hollow yang tengah menyerang keempat Shinigami tersebut.
Yang lainnya hanya terdiam ditempat, 'Panah? Quincy!' Toushiro memfokuskan matanya kesana-kemari mencari dimana letak si Quincy berada.
Bingo! si Quincy tengah berdiri seorang diri didepan gerbang sekolah Fantasia High. Dengan terburu-buru Toushiro pun langsung bershunpo kearahnya, diikuti teman-temannya yang lain dari belakang.
''Terimakasih,'' merupakan kata pertama yang terlontar ketika sang Kapten 13 Batallion pasukan tersebut mendaratkan kakinya berpijak dibumi.
''Sama-sama,'' jawab si Quincy singkat.
''Bagaimana kau bisa ada disini? Sendirian saja tanpa kawan-kawanmu?'' tanya Renji.
''Aku tadi kebetulan lewat daerah dekat sini sendirian sampai akhirnya tidak sengaja aku merasakan sedikit tekanan roh. Dan ketika aku merasakan tekanannya semakin terasa disini aku berhenti dan melihat kalian sedang bertarung melawan hollow itu.'' busur transparan yang sempat terbingkai ditangan sang Quincy pun menghilang ketika ia sedang menjelaskan keberadaanya.
''Tanpa Kuchiki?'' tanya si Quincy.
''Dimana Kuchiki?'' tanya Toushiro yang baru saja tersadar akan pertanyaan yang terlontar dari si Quincy tersebut.
''A-Aku suruh dia ke-'' kata-kata Renji terpotong.
''HEI! KALIAN TIDAK APA-APA?'' tanya sesosok gadis berpostur tubuh mungil tengah berlari menghambur kearah teman-temannya dengan tubuh konpaku yang mengikuti dari belakang.
''Itu dia! RUKIA-CHAN KAU BAIK-BAIK SAJA?'' Rangiku melambai kearah Rukia.
Rukia belum menjawab pertanyaan tersebut sampai akhirnya dia berhenti didepan teman-temannya sembari bernafas tidak teratur dengan membungkukkan tubuhnya, kedua tangannya memegang lututnya sebagai penopang.
''Hhh~ Hhh~ Ak-khu bha-ik, Hhh~ Kha-lian?'' terlihat susah payah ketika Rukia menyampaikan hal tersebut.
Rangiku menjawab ''Kami tidak apa-apa tapi kapten-''
''Dimana si Kenichi itu?'' tanya Toushiro.
Rukia mengambil tarikkan nafas terakhir yang cukup berat sebelumnya ''Hhh~ Dia disana,'' Rukia mengarahkan jari telunjuknya kearah gudang yang letaknya berjauhan dengan tempat dimana para hollow sempat menyerang.
''Ishida?'' tanya Rukia heran.
''Hai~'' jawab Ishida santai sambil tersenyum kearah Rukia.
Rukia memalingkan wajahnya yang bingung kearah Renji, ''Nanti kujelaskan,'' jawab Renji yang membaca maksud Rukia ketika melihat kearahnya.
Kemudian mereka berjalan kearah gudang yang menjadi tempat perlindungan para konpaku dan Ken-Sensei. Saat Hisagi membuka pintu gudang tersebut terlihat Ken-Sensei pingsan disana.
''Apa yang terjadi Kuchiki?'' tanya Toushiro membalikkan tubuhnya menghadap Rukia yang berada persis dibelakangnnya beberapa centi.
''Tadi itu sewaktu dia berlari sempat tersandung batu lalu tiba-tiba saja pingsan, aku juga tidak mengerti kapten dia itu ceroboh sekali sampai-sampai jatuh diwaktu yang tidak tepat...'' jawab Rukia yang menyilangkan kedua tangannya didepan dada sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Ketika mendengar hal itu para Shinigami yang lain hanya dapat mengedut-ngedutkan sebelah alis mereka dengan wajah aneh.
'Bisa-bisanya,' batin Renji seraya melihat Ken-Sensei yang pingsan didalam sana.
''Lalu mau kita apakan kapten?'' tanya Hisagi.
Toushiro memejamkan kedua matanya, 'Padahal tadi itu belum selesai,' batinnya.
''Baiklah.. Tinggalkan saja disini, jika dia sadar juga pasti dia akan pulang.'' Toushiro pun beranjak dari tempatnya.
Rangiku melebarkan kedua matanya ''Ta-Tapi kapten-''
''Kita tidak tahu dimana dia tinggal, apa kau mau menunggu disini sampai dia sadar lalu mengantarnya pulang? Ini sudah mulai gelap.'' terang Toushiro panjang lebar dan tetap berjalan.
Akhirnya yang lain mengikuti perintah kaptennya, namun Rukia masih terdiam ditempat sesaat melihat kearah Ken-Sensei dengan tatapan kasihan. Selain itu, disana terlihat seperti ada sebuah harapan yang ia inginkan...
''Kau tidak apa-apa Kuchiki?'' tanya Ishida yang masih menunggu Rukia.
Rukia terbangun dari lamunannya yang tengah menatap Ken-Sensei. Kemudian ia menatap Ishida, ''Tentu, pulang?'' tanya Rukia kepada Ishida.
''Hm,'' Ishida mengangguk dan membetulkan posisi kacamatanya yang sempat merosot.
Ishida dan Rukia berjalan beberapa centi dibelakang Toushiro dan yang lainnya.
''Aku seorang Quincy,'' kata Ishida disela-sela perjalanan.
Rukia yang mendengarkan hal itu langsung menengok kearah Ishida dengan menaikkan kedua alisnya seolah menggantikan pertanyaan 'Maksudmu?'.
Ishida bertemu pandang dengan Rukia, ''Tadi kau bingung kan kenapa aku bisa ada disana? Terlebih dengan bajuku yang seperti ini?'' tanya Ishida panjang lebar.
''Ah! Iya,'' Rukia menepuk tangan kanannya yang terkepal kearah tangan kirinya yang menjulur bebas.
Ishida tersenyum, ''Itu karena aku seorang Quincy. Sebelum ingatanmu hilang pun sebenarnya kau mengetahui hal ini.'' jelasnya.
''Oh, jadi begitu... Maaf yah karena ingatanku yang masih belum ada perkembangan jadi aku belum bisa mengingat apa-apa sampai saat ini,'' jelas Rukia yang kali ini memposisikan kedua tangannya dibelakang tubuhnya sambil berjalan santai.
''Tak apa, semoga yang aku katakan tadi bisa membantumu mengingat sedikit.'' terang laki-laki Quincy tersebut datar.
Rukia kembali tersenyum kearah Ishida, kemudian gadis itu memperhatikan Ishida dari bawah sampai atas.
''Ada sesuatu?'' tanya Ishida yang sadar tengah diperhatikan seperti itu.
Rukia masih tersenyum, ''Hm... Bajumu bagus, aku berharap punya satu yang seperti itu.'' entah apa yang ada dipikiran Rukia saat ini sampai ia berkata demikian.
Tiba-tiba saja Ishida berhenti ditempat. Rukia yang menyadari hal itu pun ikut menghentikan langkahnya, ''Ka-u se-serius?'' tanya Ishida membelalakkan matanya. Selama ini memang hanya cemooh-an aneh yang terlontar dari teman-teman dari dunia manusia, Soul Society, bahkan musuh yang melihat pakaian Quincy milik Ishida.
''Te-Tentu,'' jawab Rukia yang sedikit canggung melihat expresi Ishida yang berubah 180 derajat tersebut.
''Kalau begitu, jika kau mau akan aku buatkan satu untukmu!'' tawar Ishida tak tanggung-tanggung.
Kali ini Rukia yang menggunakan expresi wajah yang sebelumnya sempat ditunjukkan oleh Ishida kepadanya, ''Ti-Tidak perlu sampai begitu... Merepotkanmu,'' Rukia mengibas-ngibaskan sebelah tangannya didepan Ishida.
''Tidak merepotkan, kapan-kapan jika sempat kita bisa bertemu? Hari ini aku tidak bawa perlengkapanku, jadi aku tidak bisa mengukur ukuran tubuhmu untuk bajunya.'' nampaknya Ishida sangat antusias sekali kali ini.
''Ta-Tapi,'' Rukia yang melihat semangat Ishida seperti itu menjadi tidak tega mematahkan semangatnya, ''Aku mau, tapi besok aku harus pergi ke perpustakaan Karakura dan lusa aku harus berlatih seharian untuk pentas hari senin,'' jelas Rukia.
''Perpustakaan Karakura? Besok aku juga kesana untuk belajar kelompok,'' jawab Ishida.
''Wah! Kalau begitu kebetulan sekali yah! Jam berapa kau kesana?'' tanya Rukia.
''Dari jam 9 pagi sampai jam 3 siang, kau Kuchiki?'' tanya Ishida mensejajarkan langkahnya dengan Rukia. Dan ketika sudah sama sepadan mereka berdua meneruskan kembali perjalanan pulang mereka yang sempat terhenti.
''Aku jam 2..'' Rukia menatap teman-temannya yang kini berjalan didepan cukup jauh.
''Tak masalah kalau begitu, aku bisa menunggumu disela-sela kami belajar kelompok.'' terang Ishida.
''Hm, baiklah kalau begitu...'' Rukia kembali tersenyum kearah Ishida.
''Tapi...'' tiba-tiba saja Ishida kembali menghentikan langkahnya.
Melihat hal itu pun Rukia jadi bingung lagi, ''Ada apa Ishida?''
''Apa benar kau mau?'' tanya Ishida.
''Tentu saja, memang kenapa?'' Rukia tengah mencoba meyakinkan pertanyaan Ishida.
''Aku berpikir kalau kau sedang berbohong untuk menyenangkan hatiku...'' jelas Ishida langsung pada intinya.
kata-kata Ishida sebenarnya tak sepenuhnya salah dan tak sepenuhnya benar bagi Rukia, ''Ke-Kenapa kau berpikir begitu?''
''Habisnya.. Untuk apa juga bajunya nanti? Memangnya Shinigami boleh memakai baju tugas Quincy?'' tutur Ishida.
'Benar juga... Salahku juga terlalu berkata jujur soal bajunya yang kupikir bagus dan berkata tidak perlu soal berharap punya satu yang seperti itu,' batin Rukia.
''Kelihatannya aku benar yah?'' lagi tanya Ishida.
Rukia tersentak, ''Ah! Ti-Tidak kok! Bu-Bukan begitu!''
Ishida terlihat sedikit kecewa dengan tebakannya yang ia pikir benar secara keseluruhan, ''Bukan begitu? Bagaimana maksudmu?''
Rukia jadi semakin merasa tidak enak, ''Eh! Maksudku.. Mu-Mungkin memang tidak bisa dipakai sebagai baju tugas tapi mungkin bisa dipakai disaat lain..''
Ishida terlihat kebingungan, ''Disaat lain?''
''Iya! Mau percaya atau tidak tapi bajumu itu memang bagus menurutku,'' Rukia tersenyum kearah Ishida.
Ishida tak melihat adanya kebohongan dimata Rukia saat itu, maka kemudian ia memilih untuk mempercayai gadis Shinigami yang ia anggap sangat dekat dengan Ichigo Kurosaki tersebut.
''Baiklah kalau begitu. Ayo jalan lagi,'' kata Ishida. Kemudian mereka berdua pun melanjutkan perjalanan pulang malam itu...
... ... ...
Akhirnya mereka berhenti ketika sampai di pusat kota Karakura, tempat dimana Rukia pernah terjatuh bersama Ichigo.
''Kita berpisah disini, Ishida...'' kata Renji yang sebelumnya telah berhenti lebih dulu bersama dengan teman-teman Shinigaminya yang lain, menunggu Rukia dan Ishida yang tertinggal jauh dibelakang.
''Ya, senang berjumpa dengan kalian lagi.'' Ishida kembali membetulkan posisi kacamatanya yang merosot.
''Kami juga,'' jawab Rangiku penuh semangat.
''Terimakasih sekali lagi atas yang tadi,'' kata Toushiro.
''Sama-sama. Aku duluan yah sudah terlalu malam, Jaa~'' Ishida melambaikan tangannya kearah Toushiro dan yang lainnya, ketika akhirnya pandangan itu terhenti pada Rukia, ''Jangan lupa besok yah,''
''Hm~'' Rukia menggerakkan kepalanya keatas-bawah seraya tersenyum kepada Ishida.
''Besok? Ada apa?'' tanya Hisagi ketika dirasa Ishida sudah berjalan cukup jauh, yang lainnya hanya memusatkan pandangan kepada Rukia dan menunggu jawaban yang mereka juga ingin tahu.
''Oh, besok kami mau bertemu diperpustakaan Karakura. Dia mau membuatkan baju untukku,'' jawab Rukia jujur.
''Membuatkan baju diperpustakaan?'' tanya Hisagai sedikit bingung.
''Maksudku kebetulan kami berdua besok sama-sama ke perpustakaan Karakura jadi dia sekalian ingin mengukur ukuran tubuhku disana,'' sekali lagi Rukia nampak sangat jujur menuturkan setiap kata-kata yang keluar dari mulutnya.
''APA!'' Renji berteriak sangat kencang.
''Kau kenapa? Tidak usah teriak-teriak begitu!'' ketus Rukia.
''Itu berarti tubuhmu disentuh-sentuh Quincy itu!'' kata Renji.
Rukia mendaratkan kepalan tangannya kedahi temannya itu, ''Aw!'' Renji meringis ketika satu jitakkan keras mendarat dikepalanya.
Rukia kemudian menarik tangannya yang sebelumnya digunakan untuk menjitak Renji ''Jaga bicaramu! Bukannya menyentuh tubuhku tapi mengukur ukuran tubuhku!''
''Itu sama saja!'' Renji terlihat kesal.
''Tentu saja beda bodoh!'' Rukia tidak kalah kesalnya dengan Renji.
''Kalau begitu besok aku ikut!'' kata Renji yang semakin kesal.
''Tadi sewaktu dikelas musik aku ajak, kau tidak mau!'' Rukia membalas perkataan Renji.
''Setiap orang itu bisa berubah pikiran! Pokoknya aku ikut!'' Renji semakin menaikkan intonasi bicaranya.
Rukia terlihat sama kesalnya dengan Renji, namun dia masih belum bisa mencari kata-kata lain untuk menjawab perkataan Renji. Entah untuk apa ia mencari kata-kata itu.
''Besok kita semua ikut!'' kali ini Toushiro terlihat gerah dengan ulah Rukia dan Renji yang kekanak-kanakkan tersebut.
'Tak heran ditangan kanan Rukia kemarin didatangi luka, ternyata sifat kekanak-kanakkan saat itu seperti saat ini mungkin.' batin Toushiro.
''Kapten?'' Rukia bingung dengan perkataan kapten kelompoknya itu.
''Kakakmu bilang kan dimanapun salah satu anggotanya berada kelompoknya harus tetap menyertai, terutama kau Kuchiki.'' jelas Toushiro.
Rukia hanya terdiam saat itu, ia merasa kesal. Namun kesal bukan karena Renji yang sedari tadi beradu argumentasi dengannya, ataupun dengan keputusan Toushiro yang menginginkan mereka semua ikut bersama Rukia besok. Tapi kekesalannya lebih kepada dirinya sendiri, ia tidak suka jika harus diperlakukan berlebihan seperti ini hanya karena dia sedang hilang ingatan atau seorang adik dari Byakuya Kuchiki, atau semisalkan seorang cucu dari Yamamoto sekalipun. Ia lebih menghargai jika diperlakukan seperti RUKIA tanpa ada embel-embel KUCHIKI yang selalu menjadi keterbatasan dalam ruang gerak privasinya. Dan lebih tidak suka dengan perhatian berlebihan seperti itu, membutanya merasa dan terlihat LEMAH dihadapan yang lain.
''baik kapten...'' jawab Rukia agak lesu dan menundukkan kepalanya.
'Rukia...' Renji yang menyadari hal itu kini menyalahkan dirinya sendiri, ia merasa bersalah karena sempat berargumentasi dengan Rukia hingga akhirnya kalimat terakhir sang kapten Toushiro Hitsugaya cukup membuat Rukia sedih.
Memang diantara teman-teman Shinigami Rukia, hanya Renjilah yang paling mengerti keadaan dan keinginan Rukia. Mungkin itu semua didukung dengan background mereka yang sudah berteman lama sejak kecil, sehingga karakteristik serta sifat masing-masing seolah sudah tertanam didalam diri keduanya untuk saling mengerti pribadi satu sama lain.
''Mau pulang tuan putri?'' tanya Renji yang kini menyodorkan uluran tangan kanannya kepada Rukia, terlihat semburat merah disekitar pipi Renji.
Bukan karena ia malu kepada Rukia, untuk apa malu padanya karena hampir disetiap candaannya pasti terdapat kata itu untuk Rukia. Namun, lebih tepatnya dia malu terhadap teman-teman Shinigaminya yang saat ini sedang berada disana.
Benar saja, ketika Renji mengatakan hal itu yang lain langsung melihat kearahnya dengan tatapan aneh, bingung, sekaligus heran. Dalam hati mereka masing-masing mempertanyakan 'Sudah seberapa dekatkah hubungan mereka sejauh ini?'
Rukia yang mendengar hal itu kontan langsung menunjukkan wajahnya yang malu. Buru-buru ia mengendalikan dirinya sendiri takut-takut muncul semburat merah yang sama seperti temannya itu. Kemudian ia memukul sodoran tangan Renji, ''Jangan mulai bertingkah bodoh Renji! Jangan aneh-aneh!'' Rukia terlihat geregetan dengan tingkah Renji.
''Aduh! Sakit tahu!'' geram Renji sekali lagi ketika telapak tangannya dipukul oleh Rukia. Sekedar informasi sebenarnya itu tidak sakit, hanya Renji saja yang melebih-lebihkan.
''Mau sampai kapan bertengkar? Tidak mau pulang?'' kali ini Toushiro sedikit menginterupsi sebelum Rukia sempat membalas perkataan Renji, karena jika dia tidak melakukan hal itu maka pertengkaran mungkin bisa sampai besok pagi.
Akhirnya Rukia memilih diam, Renji pun melakukan hal yang sama. Rangiku dan Hisagi yang sedari tadi hanya menonton pertengkaran dua insan itu hanya terkekeh geli, padahal tadinya merekaーRukia dan Renjiーantusias sekali bertengkar sekarang wajahnya malah ditekuk seperti itu.
''Ayo pulang,'' ucap Toushiro, kemudian ia mengambil langkah lebih dulu sehingga berjalan paling depan.
''Astaga Kapten!'' Rukia nampak kaget dengan apa yang kini tengah dilihatnya. Toushiro pun berhenti dan membalikkan tubuhnya menghadap kearah Rukia.
''Pu-Punggungmu! Apa tadi terserang hollow?'' tanya Rukia panik.
Rangiku pun kembali tersadar, ''Oh iya! Tadi aku bermaksud memintamu menggunakan tenaga medis untuk kapten, Rukia-chan! Tapi aku jadi lupa karena Ken-Sensei itu.''
''Begitu...'' setelahnya Rukia berjalan menuju Toushiro.
''Berbaliklah dulu Kapten, aku sem-''
''Tidak usah! Hanya luka ringan,'' ujar Toushiro datar.
''Apanya yang luka ringan Kapten! Jelas-jelas lukanya sebesar itu!'' Rukia terlihat cemas.
Yang lainnya masih terdiam, ''Kuobati dulu Kapten, lagipula apa kata yang lainnya jika melihat keadaanmu saat pulang nanti...''
''Itu benar Kapten,'' sambung Rangiku yang juga mengkhawatirkan kaptennya itu.
''Sudah kubilang tidak usah! Mau pulang tidak? Mau kutinggal?'' ucap sang kapten seraya berjalan kembali mendahului yang lainnya dibelakang.
Rukia mengarahkan pandangannya kepada Rangiku, namun Rangiku hanya menggelengkan kepalanya. Dan tanpa berlama-lama, mereka langsung mensejajarkan langkah dengan kaptennya menuju perjalanan pulang.
... ... ...
Karena terlalu berlama-lama disekolah untuk menjalani latihan, ditambah dengan segerombolan hollow yang datang menyerang, ditambah lagi dengan kejadian-kejadian selama perjalanan pulang, membuat mereka sampai di flat larut malam.
Byakuya dan yang lainnya pun sepertinya sudah tidur, hal ini terlihat dari setiap sudut ruangan yang terlihat gelap. Tak nampak satupun aktivitas salah satu penghuni Shinigami disana.
''Baiklah semuanya, selamat tidur. Dan kapten istirahatlah...'' ucap Rangiku pelan.
Toushiro hanya menjawab dengan anggukkannya. Kemudian yang lain beranjak dari ruangan itu. Saatnya merebahkan diri pikir mereka masing-masing.
Ketika merasa yakin yang lain sudah masuk kedalam kamar masing-masing, Toushiro kemudian mendudukkan dirinya diruang tamu tengah dan menghangatkan dirinya dengan api unggun yang menyala.
Tak lama kemudian ia mencoba membaringkan tubuhnya disofa yang ia duduki dengan posisi terbalik. Ini dikarenakan luka Toushiro yang sebenarnya sungguh terasa sakit. Cukup lama bergelut dengan rasa sakit dan perih yang ia rasakan hingga akhirnya dia tertidur disana.
... ... ...
Selang beberapa lama kemudian Rukia keluar dari kamarnya menuju dapur, bermaksud ingin meminum susu segar didalam kulkas yang dapat melelapkan tidurnya. Jujur saja malam ini ia merasa tidak bisa tidur, entah karena apa.
Ketika ia hendak menuruni undakan tangga satu per satu tiba-tiba saja ia melihat rambut putih yang mencuat dibalik sofa, buru-buru saja ia mengambil langkah menuju sofa tersebut.
'Kapten?' batin Rukia, tak lama kemudian ia melihat punggung Toushiro yang secara terang-terangan menunjukkan lukanya karena Toushiro tidur dengan posisi terbalik.
Luka cakaran yang begitu besar. Membayangkan wajah hollow saja sudah menyeramkan, apalagi tangannya... Rukia tidak bisa membayangkan betapa sakitnya luka yang berada dibalik punggung Toushiro itu.
Sepintas terlihat oleh Rukia wajah Toushiro yang setengah meringis dalam tidurnya, 'Apa dia kesakitan?' Rukia mempertanyakan itu didalam hatinya sendiri.
Kemudian ia cepat-cepat memusatkan aliran tenaga penyembuhan ditelapak tangannya hingga terlihat seberkas cahaya medis disana. Lalu ia pusatkan telapak tangannya itu kearah luka dipunggung Toushiro, perlahan ia mengobati.
... ... ...
Hampir 15 menit sudah Rukia berusaha menyembuhkan luka Toushiro, hasilnya terlihat dari luka yang sebelumnya besar jadi mengecil setengahnya.
Tak lama Toushiro merasakan hangat yang berbeda dari hangat api unggun yang menguar sebelumnya. Dengan keadaan tidak sadar sepenuhnya ia membuka matanya sedikit, terlihat sesosok bayangan Rukia tengah menyembuhkan lukanya. Terlihat juga disana raut wajah Rukia yang cemas dengan luka yang menganga di punggung miliknya tersebut.
'Kuchiki...' batin Toushiro dan ia menutup kembali matanya. Rasa kantuk nampaknya telah merajai dirinya, ditambah dengan efek penyembuhan dari Rukia membuatnya jadi merasa sedikit lebih rileks dari yang sebelumnya.
... ... ...
''Kuchiki? Kau sedang apa?'' tanya Hisagi yang tiba-tiba saja turun dari undakan tangga.
''A-Aku kira siapa, sssttt...'' jawab Rukia pelan.
Hisagi yang mengerti maksud Rukia langsung menuju kearahnya ''Ada apa?'' ia memperkecil nada suaranya.
''Aku sedang menyembuhkan luka Kapten, Kapten sedang tertidur jadi jangan berisik nanti dia terbangun.'' jelas Rukia tanpa mengalihkan pandangannya kepada Hisagi.
Hisagi mengerti maksud Rukia yang menyuruhnya mengendap-endap secara tersamar tadi. Kemudian ia berjalan kesamping Rukia hingga ia bisa meminimalkan suaranya dari yang sebelumnya.
''Seingatku tadi lukanya besar,'' kata Hisagi.
''Sudah kuobati jadi tinggal setengah lukanya.'' terang Rukia yang masih serius mengobati Toushiro.
Hisagi sempat melirik kearah Rukia terlihat disana Rukia sedikit berpeluh, ''Sudah berapa lama kau disini?''
''Kurang lebih mungkin hampir satu jam,'' tutur Rukia masih tak bergeming.
'Pantas saja sampai begitu,' batinnya, ''Tidak capek? Ini sudah malam,'' tanya Hisagi lagi.
Rukia hanya menggelengkan kepalanya, akhirnya Hisagi memutuskan untuk diam.
''Memang tadinya kau mau apa?'' tanya Rukia tiba-tiba.
''Oh! Tadi aku mau ambil minuman segar. Aku jadi lupa, aku tinggal yah.'' setelah mendapatkan anggukan dari Rukia, Hisagi beranjak menuju dapur.
'Sedikit lagi,' kata Rukia masih dalam hati.
Setelah Hisagi selesai menikmati minumannya ia kembali menuju ruang tamu tengah. Selain berniat melihat Rukia yang sudah selesai atau belum mengobati Toushiro, pun juga sekalian menuju lantai 2 untuk kekamarnya.
''Sudah selesai?'' tanya Hisagi yang kini sudah berada disamping Rukia.
''Sedikit lagi,'' jawab Rukia singkat.
''Cepat sekali sudah sampai sekecil ini,'' sambung Hisagi tidak percaya. Ia juga melihat tangan Rukia yang masih terbalut kassa disana.
''Tanganmu tidak sakit?'' tanya Hisagi lagi.
Rukia sedikit tersenyum namun tidak mengalihkan pandangannya kepada Hisagi, ''Tidak terlalu,''
... ... ...
Tak lama kemudian aliran tenaga yang sempat terpusat ditelapak tangan Rukia terhenti dan cahayanya pun hilang. Itu berarti ia sudah selesai, ia pun cukup kehilangan setengah dari tenaganya untuk mengobati luka sang kapten.
Hisagi melirik kearah Rukia, terlihat gadis disebelahnya sangat kelelahan. Setelah seharian mengalami hal yang cukup menguras tenaga dan kini diwaktu yang seharusnya digunakan untuk istirahat malah ia gunakan untuk mengobati orang lain.
''Ini,'' Hisagi menyodorkan sekaleng susu segar yang sempat diambilnya ketika beranjak dari dapur, memang berniat memberikannya kepada Rukia.
Rukia mebelalakkan matanya, sebelum mengobati Kaptennya memang inilah tujuan utamanya saat beranjak dari kamar.
Rukia menyambut sekaleng susu tersebut dan mengucapkan 'Terimakasih' kepada Hisagi.
Namun, ''Hm...'' Rukia nampak kebingungan. Hisagi seharusnya mengambil susu yang berbentuk botol agar memudahkan Rukia meminumnya.
''Ada apa?'' tanya Hisagi yang menangkap respon Rukia dengan baik.
''Bagaiamana cara membuka ini?'' tanya Rukia sembari menyodorkan sekaleng susu yang sempat menarik nafsunya untuk minum susu tadi. Sepertinya hilang ingatan memang membuat Rukia lupa dengan beberapa hal yang sempat ia pelajari didunia manusia.
Hisagi yang sebelumnya sempat terkekeh geli langsung mengambil kaleng susu tersebut dan membukanya, kemudian ia berikan lagi kepada Rukia.
''Terimakasih,'' sekali lagi Rukia mengucapkan hal tersebut.
Setelah menegak beberapa teguk susu kaleng tersebut Rukia berucap, ''Bisakah kau membawa Kapten kekamarnya? Tidur disini dia bisa masuk angin,'' setelah mengatakan hal tersebut Rukia kembali menegak susunya.
Hisagi yang mendengarkan hal itu kembali melirik kearah Rukia, ''Perhatian sekali,'' kemudian tersenyum kearah Rukia.
''Kasihan tahu, itu saja dia sudah meringis kesakitan walaupun dia tidak menunjukkannya secara terang-terangan,'' Rukia mengalihkan pandangannya kearah Hisagi.
''Hm,'' Hisagi tersenyum lagi, ''Baiklah.'' kemudian Hisagi beranjak dari tempatnya menggendong Toushiro dipunggungnya yang dibantu oleh Rukia. setelah itu beranjak menuju kamar sang kapten dengan Rukia yang mengikuti dari belakang.
Ketika sampai didepan pintu kamar Toushiro, Rukia membukakan pintu tersebut kemudian mereka masuk kedalamnya. Hisagi menaruh Toushiro diatas tempat tidurnya dan mundur beberapa langkah. Digantikan Rukia yang kini tengah menarik selimut tebal milik Toushiro dan menyelimuti sang kapten.
Tak lama kemudian mereka sudah berada didepan kamar Toushiro. Ketika Hisagi hendak menutup pintu, Rukia menguap dan mengucek matanya yang berair, ''Tidurlah, Sudah malam...'' katanya.
''Hm, selamat malam Hisagi.'' kemudian Rukia beranjak dari sana menuju kamarnya, sepintas terbayang nikmatnya kasur yang akan menghilangkan rasa letih yang ia rasakan saat Rukia berjalan menuju kamarnya.
... ... ...
Hari ini adalah hari sabtu, hari yang menyenangkan untuk bermalas-malasan seharian dirumah ataupun berjalan santai bersama teman maupun keluarga selama 5 hari dalam seminggu menjalani aktivitas yang melelahkan.
Ichigo Kurosaki sudah terbangun sejak 20 menit yang lalu, tepatnya pada pukul 07.55 itu berarti saat ini waktu telah menunjukkan pukul 08.15.
Kini ia tengah berada diruang makan kediaman keluarga Kurosaki bersama dengan ayahnya dan kedua adik kembarnya.
''Pagi Ichigo-nii,'' Yuzu menyapa kakaknya yang baru saja duduk dimeja makan sambil memasak makanan terakhir untuk disantap bersama.
''Pagi Yuzu, dimana Karin?'' tanya Ichigo sambil meminum susu yang sudah ia ambil sebelumnya didalam kulkas.
''Ada apa mencariku?'' Karin baru saja keluar dari kamar mandi yang letaknya tidak berjauhan dengan dapur.
''Tidak,'' jawab Ichigo singkat.
''Pagi ini kau mau pergi?'' tanya Ishin yang tumben sekali tidak melakukan tingkah konyol untuk menyambut anak laki-lakinya pagi itu. Sedikit melegakan bagi Ichigo.
''Ya, belajar kelompok ayah.'' lagi Ichigo menjawab dengan singkat.
''Hm, bagus! Sebentar lagi kau ujian kan? Belajar yang benar,'' Ishin berkata sembari membalikkan halaman koran yang tengah ia baca, ternyata inilah alasannya tidak menyambut Ichigo dengan ulah hebohnya.
''Aku tahu ayah, Yuzu sudah belum? Aku lapar, sebentar lagi juga harus berangkat.'' kata Ichigo yang kini melihat kearah adiknya tersebut.
''Sudah,'' Yuzu beranjak dari tempatnya memasak menuju meja makan sambil membawa semangkuk besar sup miso.
''Wah, kelihatannya enak!'' Ishin menaruh korannya kemudian bergegas mengambil nasi.
Setelah semuanya sudah mengambil nasi masing-masing, mereka pun mengucapkan Itadakimasu bersama-sama saat hendak menyantap makanan. Terlihat Ichigo yang sangat lahap menyeruput sup miso buatan adiknya tersebut.
''Jam berapa kau pulang Ichigo?'' tanya ayahnya disela-sela makan pagi.
''Jam 3, mungkin bisa lebih...'' jawab Ichigo.
''Bisa begitu?'' tanya Ishin kembali.
''Ayah seperti tidak tahu teman-temannya Kak Ichigo saja, apalagi si Asano itu...'' Karin menginterupsi tiba-tiba. Ichigo yang mendengarkan hal itu hanya tersenyum, kemudian melanjutkan lagi acara makan paginya.
... ... ...
''Hhh~'' Ichigo menarik nafas berat sepanjang perjalanan.
Ya, ia hendak menuju perpustakaan Karakura untuk belajar kelompok bersama teman-temannya yang lain.
Karena ia terlalu malas berjalan maka ia memilih menaiki bus dan kali ini tujuannya adalah stasiun bus itu sendiri.
Sesampainya distasiun, ia memilih duduk disana menunggu bus yang sebentar lagi datang. Karena menunggu merupakan hal yang kurang disukainya maka ia mengambil iPod miliknya dan menyangkutkan kedua headsetーyang sebelumnya sudah terpasang pada iPod tersebutーkekedua telinganya.
Perlahan ia menghentakkan kaki mengikuti irama lagu yang tengah ia dengarkan. Tak cukup, ia gerakkan juga kedua jari telunjuknya. 10 menit menunggu tidak membuatnya bosan karena ditemani lagu-lagu yang dimainkan iPodnya tersebut.
Tak lama kemudian bus yang ditunggu pun datang, tanpa buru-buru Ichigo menaiki bus tersebut. Ketika sudah naik ia melirik kiri-kanan mencari bangku kosong. Tak perlu waktu lama, Ichigo menemukan tempat duduk kosong didekat jendela yang bederet dengan kursi sang supir bus.
Walaupun masih dimanjakan dengan alunan musik yang tengah menggema ditelinganya, lantas tak membuat Ichigo tidak sadar dengan Handphonenya yang bergetar menandakan pesan masuk.
Ichigo pun meraih ponsel yang berada disaku celananya tersebut. Setelah mendapatkannya, ia buka flip ponsel tersebut dan membaca pesannya.
From : Inoue
Semuanya sudah berkumpul tinggal Kurosaki, ^^
Setelah membaca itu, Ichigo memilih option reply pada pesan diponselnya tersebut.
To : Inoe
Aku masih dijalan, tinggal 2 blok lagi aku sampai. Tolong sampaikan pada yang lain.
Setelah menulis pesan tersebut ia menekan tombol warna hijau pada ponselnya itu. Tak lama sebuah pesan delivery muncul dilayar ponsel flip yang terlihat maskulin tersebut. Ichigo yang melihat itu pun menutup flip handphonenya dan memasukkannya kembali kedalam saku celananya.
Akhirnya Ichigo sampai ditempat tujuan hari ini, sebuah perpustakaan besar dipusat Karakura. Buru-buru ia mengambil langkah memasuki perpustakaan yang kini berada didepannya. Ia sadar ia sedikit terlambat.
... ... ...
''Ichigo! Disini!'' teriak Keigo. Seisi ruangan perpustakaan itu pun langsung memelototi Keigo. Ya, perpustakaan itu seharusnya selalu tenang bukan?
''Pelankan suaramu!'' Tatsuki sedikit berbisik marah pada tingkah temannya yang satu itu.
Ichigo yang sebelumnya sudah dipanggil itu pun kini sudah berada dimeja perpustakaan yang sudah ditempati oleh teman-temannya lebih dulu.
''Lama kau!'' kata Ishida sedikit kesal.
''Maaf,'' jawab Ichigo sedikit menyesal.
''Baiklah kita mulai saja belajarnya, sebelum kalian datang aku sudah memilih-milih buku lebih dulu yang sebelumnya dijadikan bahan ulangan dan predikisi bahan ulangan untuk lusa.'' Orihime menunjukkan setumpuk buku yang sudah berjejer diatas meja milik perpustakaan yang tengah mereka tempati.
''B-Banyak sekali,'' Keigo sedikit terkejut.
''Hhh~ Ya sudah lebih baik kita mulai sekarang saja...'' saut Ichigo yang sudah mengeluarkan buku tulis kosong dari dalam tasnya. Yang lainnya pun juga melakukan hal yang sama.
... ... ...
''Selamat pagi,'' Toushiro kini berada di ruang makan dimana semua teman-teman Shinigaminya sudah berada lebih dulu.
''Pagi, tidurmu nyenyak Kapten?'' tanya Rangiku.
''Hm,'' Toushiro hanya mengangguk.
''Mari makan,'' saut Yumichika yang sudah kelaparan sedari tadi, yang lainnya pun ikut makan.
''Punggungmu sudah merasa lebih baik Kapten?'' tanya Hisagi yang duduk disamping Toushiro.
''Punggung?'' tanya Momo yang sedari tadi fokus dengan makan paginya.
''Kemarin Fantasia High diserang hollow banyak sekali! Lalu Kapten terluka.'' jelas Rangiku singkat.
''Uhuk! Uhuk! A-Apa? Kau tidak apa-apa Toushiro?'' tanya Momo.
''Aku baik-baik saja! Dan jangan panggil aku begitu Hinamori!'' jawab Toushiro sambil mencubit daging ikan bakar didepan mata.
''Kuchiki... Te-Terimakasih,'' ucap Toushiro gelagapan sambil memasukan cubitan ikan tersebut kedalam mulutnya.
Rukia yang sedang asik bergelut dengan makan paginya itu pun kini menatap lurus Toushiro, ''Eh? Untuk apa Kapten?'' tanya Rukia, yang lain masih meneruskan makan pagi mereka namun telinga mereka masih terpasang guna mendengarkan pembicaraan yang sedang berlangsung tersebut.
''Semalam kau yang menyembuhkan lukaku kan?'' Toushiro tetap tidak bergeming atas tatapan Rukia yang mengarah kepadanya.
''Oh, sama-sama Kapten.'' jawab Rukia singkat kemudian mulai menyibukkan diri lagi dengan mengambil makananan yang berjejer di meja makan tersebut.
Momo melirik sebentar kearah Rukia kemudian dialihkan kepada Toushiro.
''Mengenai pesanmu kemarin Hitsugaya, apa yang sedang kau selidiki?'' tanya Byakuya yang tiba-tiba saja memecahkan keheningan.
''Oh, kau sudah bertemu dengan guru musik Fantasia High?'' tanya Toushiro kepada Byakuya, Rukia yang sedari tadi sibuk mengambil makanan yang ingin dia makan kini menghentikan aktivitasnya sebentar, kemudia ia alihkan pandangannya kepada Toushiro lagi.
''Belum, kelompok kami belum mendapatkan kelas musik. Memang ada apa?'' kembali Byakuya bertanya kepada Toushiro, sebenarnya ia tidak ingin berbasa-basi.
''Dia itu... Mirip sekali dengan mantan wakil kapten batallion ke 13, Kaien Shiba.'' tutur Toushiro datar.
Ikkaku, Yumichika, Momo, Kira dan Byakuya menatap kearah Toushiro. Sedangkan yang lainnya tak kaget lagi dengan apa yang dikatakan Toushiro.
''Mungkinkah dia itu...'' Byakuya menghentikan kata-katanya, membiarkan Toushiro menebak apa yang ada dipikirannya.
''Kelihatannya begitu, tapi masih belum pasti. Jika memang benar maka dugaan Yamamoto meminta kita bertugas disini sangat tepat,'' Toushiro kembali melakukan aktivitasnya.
''Apa maksud Kakak dan Kapten?'' tanya Rukia terdengar kebingungan.
Byakuya dan Toushiro melirik Rukia, mereka mengerti bagaimana perasaan Rukia saat ini, ''Beberapa hari yang lalu kami mendapatkan informasi bahwa Aizen melakukan sebuah rencana tersembunyi, ditengarai ia mengirimkan salah satu anak buahnya kedunia manusia untuk melakukan penyamaran.'' terang Byakuya.
''Untuk apa Kapten?'' tanya Renji.
''Mereka tahu Ichigo telah kehilangan setengah kekuatan Shinigaminya setelah perang di Hueco Mundo berakhir. Mereka kedunia manusia bermaksud membalas dendam perbuatan Ichigo, setelah itu menjalani kembali misi untuk mengambil Hogyouku.'' Byakuya kali ini menatap Rukia, ia cemas namun tidak ia tunjukkan secara terang-terangan.
''Sejak awal tujuan utama mereka adalah menguasai dunia, sedangkan Hogyouku merupakan tujuan kesekian. Mereka datang kebumi juga berniat untuk menghancurkannya, setelah itu Soul Society menjadi sasaran berikutnya.'' Toushiro melengkapkan penjelasan Byakuya.
''Selain dia tidak ada lagi yang lain yang mencurigakan Hitsugaya?'' Byakuya bertanya kembali kepada Toushiro.
''Tidak, baru dia saja. Yang aku bingung jika memang dia salah satu bawahan Aizen, bagaimana bisa? Bukankah waktu itu Aaruniero sudah dikalahkan Kuchiki?'' Toushiro semakin bingung dengan permasalahan yang mulai terlihat kompleks seperti ini.
''Bagaimana cara memulihkan ingatanku?'' Rukia menundukkan kepalanya, penekanan kata-katanya sangat kontras terdengar kesal.
Semua yang mendengarkan hal itu melihat kearah Rukia, ''bagaimana caranya...?'' sekarang Rukia terlihat mengepalkan tangannya yang tengah memegang sumpit.
Renji yang duduk disebelahnya melihat hal itu dengan jelas ''Bicara apa kau Ruki-''
''aku ingin tahu semuanya, aku ingin mengingat apa yang telah terjadi sebelum ini! aku... aku butuh mengetahuinya, karena setiap ada kejadian yang membuatku bingung harus membuatku bertanya pada Renji... sedangkan mendengarkan dengan mengetahui kejadiannya secara langsung itu berbeda.'' kata-kata Rukia kali ini terdengar sangat berat, yang lain menyadari bahwa Rukia tengah menahan tangisnya agar tidak pecah.
''Ichigo, Ishida, Orihime, teman-temannya yang lain mereka siapa? aku tidak tahu... padahal mereka merupakan orang-orang yang ikut mengambil peran dalam situasi seperti ini... pertama kali aku bertemu dengan Ichigo aku bingung kenapa dia bisa melihatku yang tanpa menggunakan konpaku, lalu tiba-tiba saja sepintas bayangan tentang dia bersamaku muncul tapi itu tetap tak membuatku mengingat semuanya secara jelas, yang ada aku malah pingsan seperti waktu itu...'' Rukia menundukkan kepalanya.
Yang lain masih setia mendengarkan keluhan Rukia, selama Rukia hilang ingatan memang Rukia terlihat lebih terbuka dalam menunjukkan dirinya sedikit.
''Ishida juga demikian, mengatakan bahwa dia Quincy yang aku tidak tahu itu apa, dan sekarang Ken-Sensei yang serupa dengan Kaien Shiba, lalu Kapten mengatakan aku yang pernah berhasil memusnahkan Aaruniero, siapa lagi dia? ada hubungan apa antara aku dengan mereka semua?''
... (diam) ...
''setiap menjalani misi pun begitu, aku selalu dijadikan orang yang sepertinya hanya menyusahkan. selalu disuruh bersembunyi jika hollownya banyak atau terlihat kuat. kesana-sini harus dikawali. aku... didalam misi ini untuk menjalani tugas, bukan untuk dilindungi atau menjadi seseorang yang menyusahkan... melihat teman-temanku berjuang keras mati-matian melawan hollow aku hanya bisa melihat dari kejauhan. aku kecewa terhadap diriku sendiri. aku... aku tidak tahu...'' air mata yang sedari tadi ia tahan mulai mengalir.
'Rukia...' batin Renji, seolah Renji dapat merasakan apa yang Rukia rasakan, hatinya pun sama sakit mendengarkan keluh kesah Rukia yang seperti itu.
''Aku hanya mengingat kalian namun tidak mengingat kejadian-kejadian penting yang seharusnya aku ingat. Maka dari itu tolong bantu aku...'' kini tumpahlah sudah semua yang ingin disampaikan Rukia.
''Rukia-chan, sudah yah...'' Rangiku yang duduk bersebelahan dengan Rukia mencoba menenangkannya, tetapi Rukia malah menangis lebih kencang dari yang sebelumnya. Dan saat itu Rangiku memberikan pelukannya kepada Rukia.
Byakuya sama sekali tidak menyangka dengan segala ucapan yang terdengar oleh kedua telinganya. Melihat adiknya menangis? Baru kali ini ia alami. Selama ini yang ia tahu Rukia merupakan sosok gadis yang berkepribadian sangat kuat, jarang sekali mau menunjukkan expresinya secara terang-terangan seperti pagi ini.
''Siapa yang bilang kau tidak berguna Rukia?'' kata Renji, namun Rukia masih tak bergeming.
''Kau tahu, dulu sebelum ingatanmu hilang kau itu sangat membantu sekali... Kami bukannya memandangmu lemah karena ingatanmu hilang sehingga tidak mengijinkanmu bertarung melawan hollow, masalahnya perhatian kami yang terlalu berlebihan itulah yang sangat mencemaskan keadaanmu!'' saat ini yang lain menjadi terfokus dengan apa yang Renji katakan, seolah-olah Renji telah mewakili maksud mereka tidak mengijinkan Rukia bertarung untuk sementara.
''Anggap saja ini balasan jasa untukmu sewaktu kau belum hilang ingatan itu, kalau aku jadi kau aku malah senang tidak perlu capek-capek melawan hollow, bershunpo dan mengayunkan pedang kesana kemari, ataupun mengeluarkan kekutan melibihi musuh untuk dikalahkan,'' suara Renji terlihat sedikit bercanda.
Rukia yang sedari tadi menangis, kini tertawa sedikit walaupun jadinya terlihat aneh, ''Lihat kak, Renji selalu mengatakan hal seperti itu.'' Rukia memberikan senyum tipisnya seraya menghapus air mata yang sedari tadi jatuh menetes, namun tetap saja air mata yang terusap digantikan dengan air mata lain yang masih keluar dari matanya.
''Hm, akan aku beri hukuman nanti...'' jawab Byakuya datar.
''T-Tapi kapten aku hanya bercanda...'' Renji terlihat panik, yang lainnya tiba-tiba saja tertawa dengan suasana yang sebelumnya sempat tegang.
''Maaf, aku seperti ini.'' ujar Rukia.
''Rukia-chan, maaf seperti ini? Seperti ini apa? Kau adalah kau, jangan meminta maaf atas dirimu yang kau bilang seperti ini tadi. Ucapan maafmu itu jadi terdengar tabu kau tahu?'' saut Rangiku yang masih menenangkan Rukia penuh kasih.
''Matsumoto benar Rukia, bersyukurlah atas dirimu. Rukia yang dulu dan yang sekarang menurutku sama baiknya, hanya berbeda dibeberapa karakter saja, dan menurutku atau menurut kami itu bukan masalah selama kau pun bisa menerima keadaanmu yang seperti ini untuk sementara waktu.'' Momo juga mencoba menyemangati Rukia dengan kata-katanya.
''Rukia Kuchiki yang dulu hanya sedang tertidur, bila saatnya nanti juga akan terbangun, tidak mungkin tidak. Kunci atas segalanya pun hanya percaya dan optimis,'' terang Yumichika.
Rukia yang terdiam cukup lama kembali menyunggingkan senyumnya, ''Arigatou semua...'' Rukia melihat kearah semua teman-teman Shinigaminya terutama pada Kakaknya.
... ... ...
Acara makan pagi sudah berlalu sejak 10 menit yang lalu. Kini mereka sedang berada diruang tamu tengah berkumpul lengkap.
''Hari ini kelompok kami akan pergi ke perpustakaan Karakura.'' kata Toushiro.
''Untuk apa?'' tanya Momo.
''Kemarin si Kenichi itu menyuruh kami membeli beberapa buku musik untuk dipelajari lusa dan bertemu dengan teman-temannya Ichigo sebentar.'' jelas Toushiro.
''Begitu yah, kapan perginya?'' kata Momo.
''Sebentar lagi, kelompok kalian dirumah saja?'' tanya Toushiro kali ini.
''Tidak. Justru kami mau pergi sekarang, masih ada yang harus diselidiki.'' Byakuya menjawab.
''Menyelidiki apa Kapten?'' tanya Renji.
''Kenichi yang kalian sebut-sebut mirip Kaien Shiba, kami akan mencari informasi data-datanya disekolah untuk memastikan. Selain itu juga memastikan penyebab tekanan roh yang akhir-akhir ini kemunculunnya sulit diprediksi.'' terang Byakuya.
... ... ...
''Yang ini?'' suara Tatsuki menggema pelan.
''Oh iya, waktu ulangan kemarin aku juga merasa sangat sulit dibagian soal yang seperti ini.'' sambung Orihime.
''Ishida kau kan pintar cepat ajari yang ini,'' kata Keigo.
''Aku juga tidak mengerti yang itu, kemarin aku jawab asal saja.'' terang Ishida.
''A-Apa? Kupikir kau tahu, habis kau kan yang mengumpulkan lebih dulu diantara kita semua...'' Ichigo terlihat sedikit tidak percaya dengan ucapan Ishida.
''Kemarin kan kau yang paling optimis memberikan lembar jawabanmu pada Ochi-Sensei, berarti kau yang bisa kan?'' Ishida membenarkan letak posisi kacamatanya.
''Itu... Aku juga tidak yakin,'' jawab Ichigo.
''Hhh~ Ya sudah kita istirahat dulu sebentar, nanti baru kita teruskan dan nanti giliran kau yang mengajari bagian yang ini Ichigo.'' Tatsuki menenggelamkan kepalanya kedalam lipatan tangannya yang berada diatas meja.
''Tidak terasa yah sudah hampir 5 jam disini, ternyata belajar seperti ini memang lebih evisien.'' Mizuhiro berkata sambil membalik-balikkan halaman buku yang tengah berada didepannya.
''Ya,'' Ishida menjawab singkat sembari melihat jam tangan yang tersemat ditangan kirinya.
Ichigo yang menyadari hal itu mengeluarkan suara, ''Kau ini kenapa sih? Dari tadi aku perhatikan melihat jam terus, mau cepat-cepat pulang?'' Ichigo mendengus, merasa gerah dengan apa yang dilakukan Ishida.
Ishida tak menanggapi pertanyaan Ichigo, setelah ia melihat jam tangannya ia pun melihat kearah pintu masuk perpustakaan tersebut.
''Hei! Jawab aku!'' Ichigo mulai kesal ketika Ishida menyueki pertanyaannya.
''Berisik sekali!'' Ishida marah-marah namun tetap tidak melihat kearah Ichigo.
Tak lama kemudian sosok seseorang yang ia tunggu-tunggu pun muncul disana, Ishida buru-buru melambaikan tangan ditempat tanpa mengeluarkan suara, karena ia tahu ini perpustakaan.
Ichigo dan teman-temannya yang melihat Ishida seperti itu merasa heran, kepada siapa dia melambai-lambaikan tangannya? atau mungkin dia sudah gila? Mungkin itu yang ada dibenak mereka masing-masing.
Rukia yang melihat Ishida melambaikan tangan kearahnya langsung menghambur diri kearah meja tersebut.
''Maaf yah sedikit terlambat~'' kata Rukia pelan, ia kini berdiri membelakangi Ichigo, Sado dan Orihime. Tatsuki masih menenggelamkan kepala ditangannya, nampaknya tertidur. Mizuhiro masih sibuk membolak-balikkan bukunya, sedangan Keigo...
''Ah! Rukia-chan!'' teriak Keigo seperti biasa...
Ketika mendengar suara seorang gadis tengah berbicara seperti itu, ditambah dengan Keigo memanggil nama tersebut yang lainnya menjadi kaget, buru-buru mereka melihat kesatu arah yaitu, Rukia.
Ichigo yang nampak terlihat paling kaget itu pun buru-buru memutarkan kepalanya kebelakang melihat sosok yang sudah beberapa hari membuatnya gelisah.
''Tidak, sudah kubilang disela-sela menununggu kan aku sedang belajar.'' jawab Ishida.
Ichigo kemudian menatap Ishida yang duduk berseberangan dengannya, ''Ada apa ini? Kalian janjian?'' tanya Ichigo penasaran.
''Ya,'' jawab Ishida singkat.
Orihime yang mendengarkan hal itu pun menyimpulkan sesuatu, ''Kencan?''
Yang lainnya terkejut dengan apa yang Orihime katakan, 'Memang ini hari sabtu, tapi apa mungkin?' tanya Ichigo dalam hati.
''Ah! Ti-Tidak! Tidak seperti itu!'' Rukia melayangkan kedua tangannya sembari digerak-gerakkan kekiri dan kekanan.
Wajah Ishida pun tiba-tiba saja memerah, ''Ja-Jangan berpikir yang aneh-aneh! Hanya ada urusan saja!'' terang Ishida.
''Urusan apa?'' tanya Keigo kali ini.
''Urusan penting, kau sendirian saja?'' Ishida melihat kebelang Rukia nampak tak seorang pun yang menemaninya pergi ke perpustakaan tersebut.
''Tidak. Aku bersama dengan yang lain, tapi mereka sedang- Ah!'' Rukia membelalakkan matanya ketika dirasa seseorang dari belakang menepuk pundaknya.
''Yang lain sedang melihat-lihat sebentar,'' Renji mengedipkan sebelah matanya kepada Rukia, pertanda bahwa ia sedang berbohong.
''Mau langsung ku ukur sekarang Kuchiki?'' tanya Ishida kepada Rukia tanpa memperdulikan Renji yang baru datang.
''Eh? Iya, boleh.'' jawab Rukia, yang lainnya masih melihat sedang apakah Ishida dan Rukia sampai mengadakan sebuah janji ditempat seperti ini.
Ishida membuka peralatan jahitnya dan mengeluarkan sebuah meteran baju, kemudian mulai mengukur ukuran tubuh Rukia yang dimulai dari lingkar lengan tangan. Setelah selesai mencatat ukurannya, ia mulai kembali dengan lingkar pinggang.
Ichigo semakin terperangah melebarkan kedua matanya ketika Ishida yang dari belakang mengukur lingkar pinggang Rukia seperti tengah memeluknya.
''Hei! Apa mengukurnya harus sampai seperti itu?'' tanya Renji terlihat kesal.
''Renji pelankan suaramu!'' kata Rukia pelan namun terlihat kesal sedikit.
''Mengukur baju memang seperti ini, memang ada yang salah?'' tanya Ishida yang bingung dengan sikap Renji, ditambah lagi dia sama sekali tidak menangkap maksud dari perkataan Renji dan merasa hal yang tengah dilakukannya ini wajar dan biasa saja.
''Sebenarnya kalian ini sedang apa?'' tanya Ichigo yang kini kebingungannya semakin terlihat jelas.
''Aku mau membuatkan baju untuknya,'' jawab Ishida.
''A-Apa! Baju untuk apa?'' Ichigo masih terlihat bingung.
''Sudahlah daripada bingung lebih baik tidak usah bertanya,'' Ishida yang kali ini nampak terlihat geram, terlalu banyak pertanyaan yang malas untuk ia jawab.
''Sudah, nanti kalau bajunya sudah selesai akan aku beri tahu.'' Ishida membereskan peralatan jahitnya.
'Ini kedua kalinya Ishida membuatkan baju untuk Kuchiki. Pertama kali itu sewaktu menyelesaikan misi saat itu, jadi apa benar Ishida menyukai Kuchiki yah?' Orihime terlihat tengah berpikir keras.
''Kalian sedang belajar apa?'' tanya Rukia tiba-tiba.
''Oh! ini Kuchiki,'' Orihime menunjuk buku tulis belajarnya kearah Rukia, dan Rukia menengokinya.
''Oh, tidak dikerjakan?'' tanya Rukia.
''Hm, kami tidak tahu caranya~'' Orihime menggelengkan kepalanya.
''Tenang saja kan katanya Ichigo tahu,'' sambar Keigo.
''Aku tidak bilang aku tahu! aku bilang tidak yakin,'' sambung Ichigo malas.
''Kalau diizinkan, mau kuajari?'' tanya Rukia tiba-tiba.
''Kau bisa?'' tanya Tatsuki yang entah kapan sudah terbangun dari tidurnya, dan Rukia hanya menganggukkan kepalanya.
''Waaa~ kalau begitu bersyukur sekali hari ini bertemu dengan Rukia-chan,'' Keigo yang sebelumnya nampak lemas karena pelajaran yang tak kunjung selesai itu kini terlihat segar kembali.
''Tentu Kuchiki,'' Orihime tersenyum kearah Rukia.
''Baiklah aku jelaskan ditengah yah agar semuanya kedapatan,'' Rukia mencodongkan tubuhnya ketengah meja kemudian melihat sebentar soal itu, yang lain bangkit dari kursinya mengelilingi soal yang sekarang berada ditengah meja bundar tersebut kemudian mencoba fokus.
''Samakan dulu penyebutnya lalu cari angka yang berapa dikali berapa hasilnya segini, nah jadinya seperti ini,'' Rukia mulai mencoret-coret buku tulis yang tengah ia kerjakan soalnya.
''Kalau sudah begini, karena yang ini sama maka jika dikalikan akarnya hilang. Lalu yang ini dicoret kemudian kalikan silang, setelah itu diperkecil maka hasilnya begini...'' tiba-tiba saja sepintas memori didalam benak Rukia muncul ーdimana ia sedang berada dikamar seorang anak laki-laki berambut orange yang sedang berada disampingnya, anak laki-laki itu terlihat serius diawal, namun setelah Rukia menjelaskan, anak itu malah memasang wajah kurang mengerti, akhirnya mereka sempat bertengkar sebentar dan Rukia pun mangulangi penjelasannya kepada anak tersebutー.
Ketika terbesit bayangan akan hal itu, Rukia buru-buru memalingkan wajahnya kearah Ichigo. Terlihat disana wajah Rukia nampak seperti orang terkejut.
Ichigo yang menyadari respon Rukia yang tiba-tiba seperti itu pun sontak menggerakkan kepalanya kearah Rukia yang berada disampingnya, ia merasa aneh dan kebingungan dengan tatapan Rukia yang seperti itu.
''A-Ada apa Rukia?'' Ichigo bertanya.
Namun Rukia tidak menjawab pertanyaan Ichigo. Ia terus menatap mata amethyst milik laki-laki tersebut, melirik yang kiri kemudian yang kanan begitu seterusnya dan itu berangsur cukup lama.
Perlahan Rukia mulai menggerakkan mulutnya yang sedari tadi terbungkam ''Kau...'' Rukia menggantungkan kalimatnya sebentar, ''Apa kau pernah aku ajari ini?'' teman-teman Ichigo memalingkan pandangannyaーyang sedari tadi melihat soal yang tengah dikerjakan Rukiaーkearah mereka berdua.
Tak lama kemudian Ichigo menyadari kemungkinan ingatan Rukia terpancing sewaktu mengerjakan soal tersebut, ''Ya, kau ingat? Rukia?'' tanya Ichigo meyakinkan Rukia.
Rukia tak menjawab pertanyaan Ichigo, ia malah memalingkan perhatiannya kepada soal yang telah sukses ia kerjakan tersebut.
''Kau pernah diajari Rukia-chan soal ini? Pantas saja tadi kau bilang bisa,'' Keigo menunjuk-nunjuk Ichigo.
''Sudah kukatakan aku tidak bilang begitu kan? aku bilang aku tidak begitu yakin!'' Ichigo menyingkirkan telunjuk Keigo yang terarah padanya.
''Tapi setidaknya kau menyanggupi tadi,'' Keigo menyipitkan kedua bola matanya sambil menatap Ichigo.
''Er... Rukia aku masih tidak mengerti bisa ulangi sekali lagi? Hehehe~'' Tatsuki dengan malu-malu meminta kepada Rukia.
''Ah, iya tentu...'' akhirnya Rukia menjelaskan untuk yang kesekian kalinya.
... ... ...
''Bagaimana? Semuanya sudah mengerti?'' tanya Rukia ketika selesai menerangkan penjelasannya mengenai soal tersebut. Yang lainnya mengangguk.
''Ngomong-ngomong Renji dimana?'' tanya Rukia yang baru menyadari sedari tadi ia mengacuhkan teman masa kecilnya tersebut.
Teman-teman Ichigo saat itu mencoba mencari Renji dengan melirik setiap sudut perpustakaan kesana dan kesini hingga akhirnya,
''Rukia sudah beres belum? Kalau sudah ayo pulang,'' Renji datang dari arah belakang sambil menepuk punggung milik gadis bermata violet tersebut.
''Ah, kau Renji! Jangan mengagetkan seperti itu!'' Rukia terlihat kesal dengan ulah Renji.
''Hahaha~ Maaf,'' ucap Renji sedikit tertawa.
''Kalian kesini hanya cuma untuk hal tadi saja? Cepat sekali, bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar?'' ajak Orihime.
''Maaf Orihime tidak bisa. Sebenarnya yang tadi itu tujuan kesekian, tujuan utamaku kesini mau membeli beberapa buku musik.'' terang Rukia.
Orihime sedikit menunjukkan wajah kecewanya kepada Rukia, ''Kalau begitu bagaimana pada akhirnya kau dan Ishida bisa janjian disini?'' tanya Mizuhiro kali ini.
''Errr~ Itu...'' Rukia bingung harus mengatakan apa, karena ia tahu sebagian teman-teman Ichigo tidak boleh mengetahui bahwa kronologis awalnya bertemu dengan Ishida karena ia telah membantu melawan hollow kemudian pulang bersama dan bla bla bla.
''Kemarin aku tidak sengaja bertemu dengan Rukia didekat sekolahnya lalu kami pulang bersama dan mengobrol lalu...'' Ishida membenarkan posisi kacamatanya sambil mencari alasan lain untuk melanjutkan kebohongannya ''Errr~'' teman-teman Ichigo masih menunggu kalimat selanjutnya dari mulut Ishida.
''Kami lewat didepan toko baju dan aku sempat menyukai baju yang dipamerkan didepan toko tersebut, lalu Ishida malah menawarkan membuatkan satu untukku,'' Rukia membantu Ishida berbohong.
''Ya, begitulah. Hahaha~'' Ishida nampak lega setelahnya walaupun Ichigo dapat menangkap cara tertawa Ishida yang terdengar aneh.
Renji beranjak dari tempatnya, ''Ya sudah kami harus latihan untuk lusa. Kami pulang duluan-''
Rukia menarik lengan baju Renji, ''Nanti dulu, bukunya kan belu-'' tiba-tiba Renji menyodorkan tasnya kearah Rukia, Rukia hanya memasang wajah bingung.
''Tadi waktu kau mengajari mereka, aku sudah mencarinya duluan biar cepat.'' Renji menurunkan tasnya kembali.
Kemudian Rukia melepaskan tangannya yang sempat menggantung pada lengan baju Renji dan tersenyum, ''Ternyata masih bisa diandalkan,'' kata Rukia dan Renji hanya mendengus.
''Baiklah, kami duluan yah.'' Rukia hendak berpamitan kepada Ichigo dan teman-temannya.
''Sayang sekali, padahal mau mengobrol banyak.'' Orihime masih sedikit kecewa dengan pertemuan singkat tersebut.
''Maaf yah tapi memang harus lain kali, selalu masih ada hari esok kan? Hahaha~'' Rukia tersenyum lebar namun tidak sedikit menghilangkan rasa tidak enaknya kepada Orihime dan beberapa teman-teman Ichigo yang nampak kecewa dengan keputusan Rukia dan Renji yang harus pulang secepat itu.
''Rukia benar Inoue masih ada hari esok, kita tidak bisa memaksa dan... tidak apa Rukia jadi nada bicaramu jangan seperti itu, justru jadi kami yang tidak enak,'' kata Ichigo pelan.
kemudian Rukia mengarahkan senyumannya kepada Ichigo, ''Hm, Arigatou~''
''Ini sudah terlalu lama, sudah yah kami pulang duluan, Jaa~'' Renji memecahkan suasana, jujur saja ia mulai merasa bosan dengan keadaan perpustakaan yang suasananya sama seperti dikuburan hanya bedanya kurang mencekam dan menyeramkan saja.
''Sampai jumpa yah~'' Rukia melayangkan sebelah tangannya kepada Ichigo dkk.
... ... ...
Kini Renji dan Rukia sudah beranjak dari perpustakaan tersebut, mereka berjalan sebentar beberapa blok kemudian berhenti disebuah pusat pertokoan.
''Mereka dimana Renji?'' Rukia mengutak-atik Handphone miliknya mengecek apakah ada pesan yang ditinggalkan oleh teman-teman kelompok mereka.
''Tidak tahu, tinggalkan pesan saja kita pulang duluan.'' kata Renji yang melakukan hal yang sama dengan Rukia, dan Rukia hanya mengiyakan kata-kata Renji.
''Bagaiman sih si Toushiro itu! Kemarin dia sendiri yang bilang semuanya ikut, sekarang malah ditinggal tidak tahu kemana.'' Rukia mengumpat didepan Renji.
''Hahaha~ Kalau kau menyebut namanya seperti itu didepannya bisa-bisa kau diomeli Rukia,'' Renji sedikit terhibur dari rasa kekesalannya yang sama dengan Rukia.
''Kalau ku sebut Shiro-chan baru dia akan mengomeliku Renji,'' Rukia masih sibuk mengutak-atik Handphone miliknya.
''Jadi kalian berdua mau kuomeli?'' tanya Toushiro yang entah sejak kapan sudah berdiri dibelakang Renji dan Rukia.
Rukia dan Renji pun terperanjat dari tempatnya, ''KAPTEN!'' teriak mereka bersamaan.
''Kaget?'' tanya Toushiro datar.
''Renji yang memulai kapten,'' Rukia menunjuk-nunjuk kearah Renji.
''A-Aku,'' Renji terlihat cemas namun tiba-tiba, ''Apa!'' Renji yang tersadar tengah disalahkan Rukia langsung memelototinya, sedangkan Rukia hanya mengeluarkan cengirannya.
''Jangan percaya Rukia kapten! Dia yang memulai bukan aku,'' Renji mencoba menjelaskan.
''Aku tahu...'' kata Toushiro masih datar.
Renji melirik kearah Rukia, dia merasa telah menang atas tuduhan yang sempat dilayangkan oleh Rukia tersebut. Dan Rukia mulai berkeringat dingin setelahnya.
''Maaf Toushi- Eh! Kapten... Hehehe~'' Rukia mencoba bersikap biasa namun yang ada dia malah salah tingkah.
''Kuchiki-'' Toushiro tidak sempat menyelesaikan kalimat selanjutnya.
''Hollow,'' tiba-tiba Rukia mengatakan hal itu pelan namun terlihat serius. Yang lain sempat terkejut namun kemudian mencoba fokus merasakan dimana letak tekanan hollow yang dirasakan Rukia.
''Tidak terlalu berbahaya! Biar aku saja,'' kata Rukia yang sudah mengambil ancang-ancang untuk berlari.
... ... ...
''Mana lagi soal yang belum?'' tanya Ishida.
''Aku lihat dulu sebentar,'' Orihime membolak-balikkan halaman buku milik perpustakaan tersebut.
''Ah! Soal yang tadi itu sudah yang terakhir! Yang selanjutnya ini materi yang akan diajarkan minggu depan,'' Orihime kemudian menutup buku yang sedari tadi ia bolak-balik.
''Jadi sekarang kita pulang?'' tanya Keigo.
''Hm~'' Orihime menganggukkan kepalanya dan tersenyum kearah Keigo.
''Tahu begitu tadi kita pulang saja bersama Rukia dan Renji,'' sambung Mizuhiro.
''Ah iya benar juga! Mungkin kalau kita pulang sekarang masih bisa bertemu dijalan, ayo!'' Orihime buru-buru membereskan buku-buku yang sudah berserakan diatas meja milik perpustakaan itu, yang lain ikut membantu.
Orihime mencoba berjinjit ketika hendak menaruh buku yang tempatnya tidak bisa dijangkau oleh tangannya, hingga pada akhirnya sebuah tangan kekar milik salah satu temannya itu membantu.
Orihime terkejut dan buru-buru membalikkan badannya. Ia dapat mencium parfum anak laki-laki tersebut karena memang jarak mereka lumayan dekat, ''Kau ini, mengambilnya bisa, menaruhnya tidak bisa.'' ucap si anak laki-laki yang kini tengah menatap Orihime.
''Ah! Hehehe~ Arigatou Kurosaki...'' Orihime terlihat sedikit salah tingkah, ditambah wajahnya sedikit merona merah.
''Kalian sudah belum? Ayo cepat!'' Tatsuki dan yang lain kini sudah berada didepan rak buku dimana Ichigo dan Orihime berada.
''Ya! Ayo~'' Ichigo kemudian berjalan duluan membelakangi Orihime.
... ... ...
Kini Ichigo dan teman-temannya yang lain sudah berada diluar perpustakaan, masing-masing dari mereka mencoba menghirup udara segar milik alam yang sudah mereka nanti-nanti.
''Rukia jangan! Tunggu dulu!'' suara Toushiro menggema cukup nyaring.
''Tenang saja kapten aku bisa!'' kata Rukia yang masih berlari.
Toushiro tidak yakin dengan perkataan Rukia, karena jujur saja dia tidak merasakan tekanan roh yang Rukia rasakan, yang lainnya pun sama.
''Rukia-chan aku tidak merasakan tekanan roh apapun!'' terang Rangiku sambil berlari mengejar Rukia.
Rukia masih tidak bergeming, ''RUKIA BERHENTI!'' teriak Toushiro dan Renji bersamaan.
Ichigo dan yang lainnya mendengar teriakkan itu dari kejauhan dan mulai mendekat kearahnya berada. Ia melihat Rukia tengah berlari dengan raut wajahnya yang penuh dengan keseriusan ditambah dengan orang-orang dibelakangnya mencoba menghentikan Rukia.
Ketika Rukia berlari ia sempat melirik Ichigo namun setelahnya tak ia perdulikan, ia memilih untuk melewatinya tanpa sapaan atau yang lainnya.
Belum sempat melakukan keinginan untuk melewati Ichigo, ia merasakan sebuah genggaman tangan yang sangat kuat tengah berada dipergelangan tangannya. Karena hal itu, lari Rukia menjadi tak seimbang dan ia terhuyung. Namun ia masih bisa menstabilkan keseimbangannya hingga kini badan dan pandangannya berhadapan dengan dada kokoh dan bidang milik seseorang yang tengah menarik pergelangan tangannya tersebut.
''Lepaskan!'' Rukia meronta, mencoba melepaskan genggaman yang berada dipergelangan tangannya tersebut.
''Jangan dilepas Ichigo!'' kata Renji yang kini larinya sudah terhenti karena Rukia telah tertangkap.
''Aku serius! Aku merasakannya!'' Rukia terlihat sangat marah.
''Kau merasakannya dan kami tidak, itu berarti berbahaya Kuchiki!'' ujar Toushiro tak kalah galak dengan Rukia.
''Apanya yang berbahaya!'' Rukia semakin terlihat marah.
''Hei, sebenarnya ada apa?'' Ichigo nampak kebingungan.
Rukia melirik kearah Ichigo, ''Lebih baik cepat kau lepaskan tanganku!'' Rukia terlihat brutal kali ini, ia tetap mencoba melepaskan tangannya dari Ichigo.
Kedua mata Ichigo melihat Rukia begitu sedih. Tindakan Rukia yang aneh terlihat begitu emosional. Ditambah tidak ada lagi sebutan kecil 'Ichigo' yang selalu dikeluarkan oleh suara Rukia. Terlihat seperti seorang Rukia yang benar-benar telah melupakan dirinya, Ichigo Kurosaki.
Toushiro yang melihat hal itu kemudian menarik punggung Rukia dan memaksanya berhadapan dengan tatapan Toushiro seraya mengatakan, ''Maaf...''
Rukia pun terdiam 'Apa maksudnya?' sedetik kemudian Rukia menutup matanya perlahan. Ia tidak sadarkan diri...
Yang terjadi adalah Toushiro menepuk pelan tengkuk Rukia, menotok sarafnya sehingga Rukia pingsan dan jatuh dipelukan Ichigo.
''Hei! Kasar sekali! Apa yang kau lakukan dengan Rukia-chan?'' Keigo yang sedari tadi diam melihat hal itu kini terlihat marah juga.
Seolah tidak mementingkan kata-kata Keigo Toushiro memberikan isyarat kepada Rangiku dan Hisagi untuk pergi kearah yang sempat dituju Rukia sewaktu merasakan keberadaan hollow.
''Bisa berikan Rukia, Ichigo?'' Renji meminta kepada Ichigo.
Namun cukup bagi Ichigo, ia tidak mau menyerahkan Rukia begitu saja dengan keadaan yang seperti ini. Sudah terlalu banyak hal yang disembunyikan oleh para teman-teman Shinigaminya itu sejauh ini.
Ichigo mengambil langkah dengan menggendong Rukia dibalik punggungnya, ''Tidak! Aku ikut.''
''Cih! Keras kepala!'' Renji terlihat kesal.
''Cepat berikan Kuchiki, Kurosaki!'' Toushiro mencoba menegaskan untuk yang kesekian kalinya, sama halnya dengan Renji ia juga kesal dengan sifat keras kepala Ichigo.
''Sudah ku bilang kan tadi!'' Ichigo semakin geram.
Toushiro melangkahkan kakinya menuju Ichigo, mencoba mendekatkan jarak diantara mereka berdua. Saat sudah dalam jarak yang cukup minim Toushiro berbicara dengan nada berbisik, ''Maaf Kurosaki tapi kau pun pasti menyadari bahwa kau telah kehilangan setengah kekuatan Shinigamimu itu bukan?'' Toushiro bertanya sambil mencoba mengontrol emosinya.
''Apa hubungannya?'' Ichigo memberikan tatapan sinis kepada Toushiro.
Mendengar penekanan kata-kata Ichigo sepertinya tujuan Toushiro untuk memancing emosinya berhasil, kemudian ia menyeringai kecil, ''Itu berarti kau tidak cukup kuat melawan hollow yang kekuatannya 2x lipat dari kekuatanmu sekarang. Jika kau bersih keras untuk ikut, kau... Hanya akan menyusahkan kami nantinya...''
Ketika Toushiro berkata seperti itu Ichigo seakan tak berdaya, kakinya seolah tak kuat lagi menopang berat tubuhnya sendiri. Mendengar seseorang mengatakan bahwa dirinya tak cukup kuat merupakan pukulan terbesar bagi dirinya. Ia benci dikatakan lemah, walaupun terkadang ia membenarkan bahwa dirinya lemah. Ditambah dengan masa lalu Ichigo yang pernah gagal melindungi seseorang yang berharga dalam hidupnya dan itu semua terjadi karena ia menyalahkan dirinya yang lemah, tidak cukup kuat...
''Jadi jika kau sudah mengerti, berikan Kuchiki sekarang Kurosaki,'' Toushiro kembali mengulang kata-katanya yang meminta Ichigo mengembalikan Rukia.
'Tidak perlu menjadi kuat saat menepati janjimu, yang penting kau selamat...'
'Kau kuat, hanya saja kau selalu mengatakan kau lemah dan tidak pernah menyadari kekuatanmu yang sesungguhnya...'
'Ayo bangun Ichigo! Kau lemah! Laki-laki yang seperti itu bukanlah laki-laki yang aku kenal didalam hatiku!'
'Bagaimana cara membuka jus ini?'
'Dasar bodoh!'
'Kepala jeruk!'
'Ichigo!'
'Hahaha~'
Ichigo teringat akan kenangan masa lalunya ketika Rukia sering menyemangatinya diantara orang-orang yang meragukan segala yang ada pada seorang Ichigo Kurosaki.
Mengingat semua itu Ichigo menyunggingkan senyumnya kepada Toushiro, ''Yang tahu diriku itu aku...'' Ichigo berkata pelan.
Toushiro terdiam ditempat, ''Badan, kaki, tangan, kepala, semua yang ada pada diriku itu milikku, maka aku yang berhak mengatakan aku kuat atau lemah karena hanya aku yang tahu... Aku yang lebih memahami diriku sendiri bukan kau... Tou-shi-ro...'' sedikit penekanan saat Ichigo mengucapkan nama Toushiro, dan Toushiro masih terdiam.
''Se-Sebenarnya kalian ini kenapa? Kalian sedang membicarakan apa?'' Orihime menginterupsi pertengkaran kecil diantara Ichigo dan Toushiro.
''Inoue, dan yang lainnya pulanglah duluan. Aku ada urusan,'' ucap Ichigo.
Orihime terlihat memaksa, ''Tidak aku ikut! Kalian pulang duluan sa-''
''Maaf, tapi ini hanya antara kami.'' kemudian Ichigo mengeratkan pegangannya pada kaki Rukia yang tengah ia gendong dibalik punggungnya. Kemudian ia bergegas berlari mengikuti arah yang sebelumnya dilalui Rangiku dan Hisagi.
''Hei! Ichigo!'' Renji pun mengejar Ichigo tanpa meninggalkan sepatah-duapatah kata untuk teman-teman Ichigo disana.
Orihime yang tadinya juga ingin mengejar Ichigo kini mengurungkan niatnya ketika melihat Toushiro menatapnya tajam. Setelah itu ia ikut berlari mengejar Ichigo yang membawa kabur Rukia tanpa persetujuannya.
Ketika mereka sudah berlari jauh Keigo terlihat marah-marah sendirian, ''Lagi-lagi mereka seperti itu! Kenapa sih setiap ada apa-apa kita selalu tidak boleh ikut? Tau-tau besok bertemu pasti ada saja yang aneh-aneh! Curang sekali!''
Orihime yang sangat mencemaskan keadaan seperti ini mencoba hendak menyusul dari belakang, namun langkahnya terhenti kembali ketika merasakan tangan Ishida mendarat dilengannya. Dan ketika Orihime membalikkan wajahnya kearah Ishida, terlihat Ishida menggelengkan kepalanya pelan.
'Sebenarnya ada apa lagi?' Tatsuki membatin, kejadian yang sebelumnya pernah ia permasalahkan tiba-tiba hari ini muncul kembali setelah sekian lamanya.
... ... ...
''Ichigo!'' Renji berteriak memanggil nama Ichigo ditengah ia mengejar anak laki-laki tersebut.
''Apa? Berisik sekali!'' Ichigo terlihat sedikit emosi setelah mendengar Renji yang telah kesekian kali menyeruakan namanya itu.
''Kembalikan Rukia! Dasar bo-''
''GROAR''
4 buah menos kini tengah mengelilingi tempat dimana mereka tengah berada, sebuah hutan kecil yang lagi-lagi letaknya tak jauh dari sekolah Fantasia High. Terlihat Hisagi dan Rangiku tengah bersusah payah melawan menos yang kekuatannya berbeda dari menos sebelumnya sewaktu diHueco Mundo.
Toushiro dan Renji yang sudah merubah dirinya menjadi Shinigami kini melawan menos tersebut agar terlihat imbang.
''Jaga Kuchiki!'' pesan Renji ketika hendak bershunpo dan menghunuskan pedang kearah menos.
Setelah diberikan pesan seperti itu Ichigo buru-buru mencari tempat yang terlihat aman baginya. Ia melihat sebuah pepohonan besar yang dikelilingi semak-semak. Tanpa berpikir panjang ia berlari menuju pohon besar tersebut dan menyembunyikan Rukia disana. Setelah menyenderkan Rukia dipohon tersebut, Ichigo mengambil badge Shinigaminya dan mengubah wujudnya.
Toushiro mengayunkan pedangnya dengan lincah kesana kemari, mencoba memusnahkan sang menos dengan tebasan pedangnya. Namun usahanya selalu gagal karena sang menos dengan cepat mengeluarkan cerro dan memfokuskan serangan akurat kearah sang kapten. Untungnya Toushiro masih dapat menghindar.
Ketika Toushiro melihat ada celah untuk menghabisi menos tersebut, Toushiri tidak membuang kesempatannya. Ia langsung bershunpo hingga akhirnya kini berada dibelakang menos tersebut, dengan cepat ia mengayunkan pedangnya dan mengerahkan seluruh tenaganya, hingga tiba-tiba...
Toushiro meringis kesakitan, 'Sial! Lukanya sudah tertutup tapi rasa sakitnya masih terasa!'
Terulang kembali saat dimana Toushiro lengah. Cerro milik menos hampir saja mengenainya jika saja Ichigo tidak sigap menyelamatkan Toushiro sesaat sebelum hal itu terjadi.
''Kau kenapa?'' tanya Ichigo yang terlihat seperti tengah meledek kelengahan Toushiro.
''Dimana Kuchiki!'' Toishiro menyadari Ichigo kini telah berubah menjadi Shinigami dan Rukia tidak ada digendongannya.
''Tenang saja!'' Ichigo buru-buru menghindar lagi ketika sang menos lagi-lagi mengeluarkan cerro-nya.
''Mengalahkan yang seperti ini saja lama sekali!'' Ichigo menyindir Toushiro.
''Mereka berbeda dengan menos yang sebelum-sebelumnya,'' Toushiro dengan tenang mencoba berpikir mencari titik lemah dari menos yang ada dihadapannya ini.
''Apanya?'' tanya Ichigo yang kali ini mencoba menyerang sang menos, namun serangannya gagal karena sang menos terus saja memuntahkan cerro setiap kali salah satu dari mereka mencoba mengayunkan pedang masing-masing.
Cukup lama mereka terjebak dalam keadaan tersebut. Seolah seperti sambil menyelam minum air sang kapten batallion 10 yakni, Toushiro Hitsugaya terus saja berpikir bagaimana menumbangkan menos tersebut ditengah-tengah pertempuran.
Saat ini ia tidak dapat menggunakan bankainya secara sempurna karena menahan rasa sakit dibalik punggungnya. Sulit baginya untuk mengkontrol antara kekuatan bankai dengan menahan rasa sakit yang luar biasa dibalik bekas luka pada punggungnya itu.
Belum selesai dengan beberapa menos yang ada didepan mata, tiba-tiba muncul lagi beberapa menos lain yang siap menyerang para Shinigami.
''Kapten! Apa-apaan ini? Kenapa jadi banyak sekali!'' Rangiku yang sedari tadi terlihat sedikit kualahan mencoba mundur beberapa langkah dari sang menos guna mengambil pasokan nafas yang ia butuhkan.
''Kau menanyakan hal yang aku sendiri pun tidak tahu jawabannya Matsumoto!'' Toushiro masih terlihat serius mengayunkan pedangnya kesana-kemari.
''Bagaimana ini? Yang ini saja belum selesai, sudah muncul yang lain!'' Renji kali ini mengeluh.
''Chire... Senbonzakura,'' beribu kelopak sakura yang tiba-tiba saja muncul itu kini telah melenyapkan setengah dari menos yang sebelumnya sempat berontak.
''Byakuya!'' Ichigo terlihat kaget sambil menyeruakkan nama tersebut. Ini pertama kalinya ia berjumpa dengan sang kakak dari Rukia Kuchiki tersebut setelah sekian lama.
Byakuya yang seperti biasa tidak terlalu menghiraukan Ichigo memilih lebih fokus dengan menos yang tengah membuat masalah disana.
Beberapa Shinigami yang sebelumnya sempat kesulitan menghadapi para menos tersebut pun kini dibantu dengan rekan sesama Shinigami lain.
Yumichika mencoba mengalihkan pandangan sang menos dari Rangiku, sementara Rangiku yang tertolong dengan tak-tik Yumichika buru-buru saja menebas sang menos dari belakang hingga terbelah menjadi 2 bagian hingga akhirnya lenyap begitu saja.
Hisagi yang dibantu oleh Ikkaku mencoba menyerang sang menos secara bertubi-tubi tanpa memberi sang menos kesempatan untuk mengeluarkan cerro miliknya. Mereka berdua mempercepat langkah dan serangannya sambil bershunpo, dengan terus memerintahkan pedang masing-masing bergerak kesana-kemari guna menebas sang lawan. Saat Hisagi melihat adanya celah untuk memusnahkan menos tersebut, dengan cepat ia bershunpo dan menyabet pedangnya kearah menos. Namun ternyata hal itu tidak cukup memusnahkan sang menos. Mencoba memepercepat waktu pertarungan Ikkaku menyerang menos untuk kesekian kali ditempat yang sama dimana Hisagi telah membuatkan luka disana lebih dulu. Dan akhirnya sang menos tumbang dan lenyap.
''Butuh bantuan?'' Kira kini berada beberapa centi disamping Renji.
''Kelihatannya begitu,'' Renji berucap sembari melirik rekan Shinigaminya tersebut.
''Kami bersedia membantu,'' ucap Momo yang berada disisi lain Renji.
Renji tertawa kecil, ''Hahaha~ Jadi seperti reuni sewaktu diakademi saja,'' Kira dan Momo yang mendengarkan hal tersebut hanya membalas dengan senyuman.
''Baiklah! Ambil posisi masing-masing!'' Kira kini telah memasang kuda-kudanya. Mereka bertiga membuat sebuah formasi segitiga yang mengelilingi menos.
Renji mencoba mengambil perhatian menos tersebut, dilanjutkan dengan Kira dan Momo yang telah mengambil ancang-ancang untuk mengeluarkan jurus kido masing-masing. Kido yang dikeluarkan Kira dan Momo pun berhasil membuat menos tersebut meronta tanpa melakukan perlawanan, kesempatan ini tak disia-siakan oleh Renji. Dengan sekali tebasan pedang Zenpakunya ia berhasil melenyapkan menos.
''Kurosaki awas!'' dengan kuat Toushiro mendorong Ichigoーyang sebelumnya terdiam ditempat menyaksikan pertarungan tersebutーdari serangan menos yang mengarah kepada dirinya.
Hal itu pun sukses membuat Ichigo terpelanting jatuh ketanah, ''Hei! Ini sakit sekali tahu!'' Ichigo meringis kesakitan, dalam hatinya ia mengutuki perbuatan Toishiro barusan.
''Daripada aku membiarkan kau mati!'' Toushiro tak kalah geramnya dengan Ichigo.
Byakuya cukup kesal melihat tingkah Toushiro dan Ichigo yang seperti anak kecil disaat situasi genting seperti ini, dengan cepat ia mengakhiri pertarungan dengan menos terakhir yang seharunya dikalahkan oleh Toushiro maupun Ichigo tersebut. Dan tidak cukup sulit bagi Byakuya mengalahkan menos tersebut, hanya dengan shunpo khas miliknya ia mampu membuat menos tak berkutik tidak menyadari kedatangan Byakuya yang kini sudah berada dihadapannya dan menebas menos hingga lenyap.
Para Shinigami yang sebelumnya sempat melayang diudara kini mendarat dengan mulus berpijak pada tanah. Menuju lokasi dimana Ichigo sempat terpelanting jatuh.
''Hei Ichigo! Dimana Rukia?'' Renji menarik kerah baju Shinigami milik Ichigo.
Ichigo menampik tangan milik Renji yang sempat bergantung disana kemudian ia mencoba berdiri. Tanpa menjawab pertanyaan yang dilayangkan oleh Renji, Ichigo mengambil langkah menuju pohon yang sebelumnya ia gunakan untuk menyembunyikan Rukia.
Ketika Ichigo keluar dari semak-semak diantara pohon besar tersebut, Byakuya dan yang lainya melihat Rukia yang tengah digendong oleh Ichigo.
Renji kemudian berlari kearahnya, ''Biar aku saja, Ichigo!'' Renji mencoba mengambil alih Rukia dari gendongan Ichigo.
Namun sekali lagi Ichigo tidak menggubris apa yang diinginkan Renji, ia malah berjalan kearah Byakuya. Ketika ia sudah cukup dekat dihadapan Byakuya ia mulai mengeluarkan suaranya, ''Kau berhutang menjelaskan ini semua,''
Byakuya melihat Ichigo datar, ''Apa urusannya denganmu?''
''Tentu saja ini urusanku! Rukia hilang ingatan sampai seperti ini, kalian, hollow dan menos berdatangan ke dunia manusia tentu saja ini semua merupakan bagian dari urusanku juga Byakuya!'' terlihat sekali Ichigo marah kali ini, kerutan didahinya pun semakin terlihat jelas.
''Hm, ternyata masih tidak sopan seperti biasanya.'' hanya sebuah pendapat datar yang dikeluarkan Byakuya.
''Kau...'' Ichigo tidak tahu apa yang harus ia katakan kali ini.
Byakuya beralih melihat tatapan milik Ichigo lekat-lekat, terlihat disana Ichigo kecewa dan mencemaskan sesuatu...
''Kau tahu dimana kami tinggal?'' Byakuya bertanya kepada Ichigo.
Ichigo terheran dengan maksud dari pertanyaan Byakuya tersebut, ''Renji sempat memberi tahu arahnya tapi aku-''
''Kalau begitu ikuti kami,'' setelah mengatakan hal tersebut Byakuya membalik arah tubuhnya dan berjalan pulang.
Toushiro hanya melirik kearah Byakuya ketika mengatakan hal tersebut. Rangiku yang tersenyum, sedangkan yang lainnya hanya bengong pada posisi masing-masing.
... ... ...
''Jadi ini tempat kalian tinggal?'' Ichigo bertanya masih dengan menggendong Rukia.
''Biar kutunjukkan padamu kamar Rukia,'' tanpa berbasa-basi Byakuya mengambil langkah masuk kedalam rumah.
Ichigo pun mengikuti Byakuya dari belakang. Ketika masuk kedalam, Ichigo sibuk melirik sana-sini setiap sudut ruangan yang tengah ia jelajahi tersebut. Ia sedikit berdecak kagum dengan tempat yang tengah disinggahinya ini.
Diberbagai sudut ruangan memang tak terlalu banyak berbagai pernak-pernik pemanis ruangan, namun dari warna cat tembok putih pucat yang terlukis disana ditambah dengan penerangan lampu yang tidak begitu gelap maupun terang itu cukup memberikan kesan damai baginya.
Ketika hendak menaiki undakan tangga barulah disana terlihat bingkai foto sederhana yang terpampang jelas rekan sesama Shinigaminya tengah menunjukkan expresi terbaik yang mereka miliki.
Ichigo memperhatikan dengan seksama setiap bingkai foto yang tergantung disetiap dinding undakan tangga tersebut. Salah satu faktornya adalah, karena Rukia selalu ada disetiap foto yang tertangkap sejauh matanya menjelajah.
Terlihat tawa Rukia yang begitu lepas maupun expresinya yang tak canggung sama sekali. Kelihatannya sebagian foto-foto tersebut diambil ketika Rukia sudah hilang ingatan. Karena terlihat bagaimana Rukia menunjukkan dirinya didepan Byakuya tanpa rasa canggung, takut maupun malu.
Ketika melihat foto yang berada dideret dinding terakhir Ichigo menghentikan langkahnya, sebuah foto yang sebelumnya pernah dilihat Renji sewaktu berada dikediaman Kuchiki kini tengah dilihat olehnya, ''Yang disebelah Rukia ini sedikit mirip denganku...'' Ichigo berkata pelan.
''Kau mau menaruh Rukia dikamarnya atau mau melihat foto-foto itu?'' Byakuya yang sebenarnya sudah menyadari tingkah Ichigo yang sedari tadi itu mulai menegurnya.
Ichigo agak terkejut hingga akhirnya ia menempatkan lagi dimana posisinya tengah berada saat ini, ''Maaf~'' sambil memberikan cengiran polosnya seolah tidak ada yang terjadi.
Byakuya yang memilih tidak menghiraukan cengiran Ichigo itu pun kembali berjalan menuntun Ichigo kekamar Rukia.
''Hei Byakuya, sebenarnya dimana kamarnya? Daritadi tidak sampai-sampai,'' Ichigo yang mulai kelelahan berjalan mengitari setiap sudut ruangan itu akhirnya mulai mengeluh.
''Panggil aku kapten Byakuya,'' hanya itu yang dilontarkan Byakuya menanggapi pertanyaan Ichigo.
''Hhh~ seperti biasa,'' Ichigo hanya memutarkan kedua bola matanya dengan malas. Terus terang Ichigo mulai bosan dengan situasi seperti ini, hanya berjalan menuju suatu ruangan yang sampai saat ini masih belum jelas berada dimana dan terperangkap bersama orang paling dingin yang pernah ia temui.
Ketika berada didepan pintu dari tempat yang dituju, Byakuya menghentikan langkahnya. Sontak Ichigo melakukan hal yang sama, dan kini ia menunggu Byakuya membuka pintu tersebut.
Bunyi engsel pintu yang tengah diputar oleh Byakuya itu cukup terdengar nyaring ditelinga Ichigo. Hingga akhirnya pintu terbuka sepenuhnya, Ichigo lebih mendahulukan Byakuya yang masuk terlebih dahulu barulah ia mengikuti dibelakang.
Hari ini nampaknya mata seorang Ichigo Kurosaki tengah dimanjakan oleh hal-hal yang mampu mebuatnya takjub.
Baru beberapa puluh menit yang lalu ia terpesona dengan interior serta taman halaman depan rumah ini. Tak lama beberapa belas menit yang lalu matanya disejukan dengan suasana khas yang terdapat disetiap ruangan rumah dimana ia tengah berada. Tak hanya itu beberapa menit yang lalu matanya dihibur dengan berbagai bingkai foto yang sempat tertangkap olehnya ketika hendak menaiki setiap undakan tangga. Dan menit ini ia kembali ditakjubkan dengan kamar pribadi milik seorang Rukia Kuchiki.
Sebuah kamar yang luasnya menandingi kamar milik Ichigo maupun kamar Rukia dirumah Ichigo. Memang dindingnya hanya dipenuhi cat berwarna putih namun warna putih salju yang memberikan sedikit mode air biru laut bening cukup memberikan kesan indah dan mencerminkan karakter Rukia yang polos dan sifatnya yang tenang dan kalem.
Sama seperti ruangan yang sudah dilaluinya tadi, ruangan ini pun juga tidak begitu banyak aksesoris ruangan sebagai pemanis. Hanya terlihat beberapa lukisan berseni yang ditempatkan disisi dinding atas ranjang milik Rukiaーbergambar sebuah coretan abstrak dan banyak warna pelangi yang bermain didalam lukisan tersebutー.
Sisa lukisan yang lain terdapat disisi kiri-kanan jendela kamar Rukia, lukisan tersebut merupakan lukisan kembar berupa yin-yang yang mengartikan adanya sebuah balance dalam setiap kehidupan siapapun. Dibawah jendela tersebut pun terdapat sebuah meja belajar yang cukup besar dan terlihat lagi disana terdapat beberapa foto-foto milik teman Shinigaminya tersebut. Sisanya hanya berupa barang-barang berupa lemari, dsb yang ditempatkan cukup apik dikamar Rukia.
Cukup puas Ichigo melihat kamar milik Rukia, ia pun mengambil langkah menuju ranjang milik teman Shinigaminya tersebut. Ia baringkan Rukia disana dengan hati-hati, menyelimutinya agar tidak kedinginan, kemudian ia pandangi wajah gadis tersebut lekat-lekat.
Bisa dikatakan Ichigo merindukan wajah ini, terlihat dari bagiaman caranya mengamati sang gadis Kuchiki tersebut dengan tatapan penuh kasih.
''Besok kau bisa datang kesini?'' tanya Byakuya yang dengan sukses menyadarkan Ichigo dari lamunannya.
''Ah! Untuk?'' tanya Ichigo yang terlihat kebingungan.
''Bukankah tadi kau sendiri yang bilang membutuhkan penjelasan atas ini semua?'' Byakuya menatap mata Ichigo begitu dalam, seolah mencoba mengintimidasi seorang Ichigo Kurosaki.
''Lagi pula memang sudah saatnya kau mengetahui semuanya,'' Byakuya kembali meneruskan kata-katanya.
''Apa tidak bisa hari ini saja?'' Ichigo mencoba memaksa.
''Ini sudah malam,'' Byakuya menjawab singkat.
''...'' Ichigo mengalihkan pandangannya menuju Rukia kembali, ''Aku akan datang pagi-pagi. Bagaimana?'' tanya Ichigo yang belum mengalihkan pandangannya.
''Itu bagus,'' setelah mengatakan hal tersebut Byakuya langsung beranjak dari tempatnya berdiri.
''Aku belum mau pulang,'' kata Ichigo ketika melihat Byakuya hendak beranjak pergi.
''Memang siapa yang menyuruhmu pulang?'' Byakuya membalikan badannya 180 derajat kearah Ichigo.
Ichigo hanya tertegun, ''Lalu kenapa kau beranjak dari sini?'' Ichigo mencoba bertanya untuk mendapatkan jawaban yang pasti.
''Untuk apa aku menemanimu melepas kerinduan dengan Rukia disini?'' Byakuya terlihat tengah melucu walaupun sebenarnya tidak bermaksud begitu.
Pipi Ichigo kini terlihat agak memerah, ''Se-sejak kapan kau jadi bisa melucu?'' terdengar sedikit gugup nampaknya.
''Tidak ada yang tertawa maka tidak ada yang lucu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya apa itu salah?'' Ichigo sungguh tak percaya, mungkin ini adalah salah satu moment dimana Byakuya dapat berbicara panjang lebar seperti barusan, tentunya selain diluar topik yang menurutnya tidak penting.
''Aku ada dibawah. Jika mau pulang berpamitanlah terlebih dahulu, mengerti?'' ucap Byakuya.
''Aku tahu itu! Mana mungkin aku langsung pulang begitu saja!'' dari nada bicaranya Ichigo terlihat ia tersinggung dengan kata-kata Byakuya.
''Hn, aku pikir kau ini tidak tahu sopan santun.'' kemudian Byakuya kembali melangkah menuju pintu kamar Rukia.
''Kau!-'' Ichigo tidak sempat membalas perkataan Byakuya karena Byakuya sudah keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintu kamar nyaring.
Melihat itu, Ichigo langsung memalingkan wajahnya pada sosok gadis yang kini entah tertidur atau masih merupakan efek pingsan karena tengkuknya sempat dipukul pelan oleh Toushiro.
Ichigo menggeser sebuah bangku yang berada didekat meja belajar Rukia dan menggeser bangku tersebut mendekati ranjang milik Rukia. Ia masih memperhatikan wajah tersebut, tak berniat sedetikpun ia mengedipkan matanya. Kemudian Ichigo melihat jemari tangan Rukia yang sedikit bergerak, ingin sekali ia menggenggam tangan mungil tersebut dengan kedua tangannya.
Tak lama setelah pergerakkan dari jemari tangan itu, kini Rukia membuka matanya perlahan. Setelah membuka sempurna ia mengerjap sebentar untuk memfokuskan pengelihatannya. Ia merasa ekor matanya menangkap sesosok asing, merasa penasaran ia edarkan pandangan kesebelah kanannya.
''Yo, Rukia...'' sapaan khas serta senyuman polos milik Ichigo yang biasa ia tunjukkan kepada Rukia kini terlukis disana.
''Kau... Aku... Hhh~'' Rukia mencoba menggantikan posisi semulanya menjadi duduk. Ichigo pun membantu Rukia.
''Terimakasih,'' ucap Rukia atas bantuan Ichigo barusan.
Ichigo hanya memberikan sebuah senyuman untuk membalas ucapan Rukia tersebut, ''Bagaimana aku bisa ada disini?'' Rukia mencoba bertanya kepada Ichigo.
''Sewaktu kau mencoba mengejar tekanan roh kau dibuat pingsan oleh Toushiro, setelah itu banyak hal yang terjadi hingga akhirnya sekarang kau ada disini. Ingat?'' Ichigo mencoba menjelaskan dengan ringkas.
''Oh, aku ingat...'' Rukia menundukan kepalanya namun tak begitu dalam, ''Apa hollownya benar ada?''
Ichigo menyilangkan kedua tangannya, ''Ya, tapi bukan hollow melainkan menos.'' terang Ichigo singkat.
''Oh... Lalu... Kau kenapa ada disini?'' Rukia kali ini melihat kearah Ichigo namun tak berani melihat matanya langsung.
''Ak-u...'' Ichigo terlihat binggung menjawab pertanyaan Rukia yang satu itu terlihat dari bagaimana ia mengusap puncak kepalanya asal hingga rambut orange miliknya menjadi tambah berantakan dari sebelumnya.
''Aku mengerti...'' Rukia mencoba merasakan apa yang Ichigo rasakan.
Ichigo menghentikan aktivitasnya yang mengelus puncak kepalanya itu, ''Kau... Mengerti...?'' Ichigo nampak ragu dengan perkataan Rukia.
''Banyak yang bilang kalau dulu aku dan kau itu dekat, meskipun aku belum begitu ingat tapi memang setiap didekatmu jujur saja aku merasa ada yang aneh,'' jelas Rukia yang masih belum berani menatap mata Ichigo.
''Merasa ada yang aneh?'' Ichigo sedikit kebingungan.
''Eh, Hehe~ Maksudku, seperti ada sesuatu didalam diriku yang memaksa keluar dan... Aduh, bagaimana harus mengatakannya yah...'' Rukia terlihat salah tingkah, ia sedikit menggaruk-garuk sebelah pipinya.
Ichigo kembali menyilangkan kedua tangannya yang sempat berada diatas kedua kakinya, ''Katakan saja...'' dan sebuah senyuman masih terpampang jelas disana.
Rukia mencoba meregangkan badannya kemudian menarik nafas berat cukup dalam, ''Tapi... Kau jangan tertawa yah?'' Rukia memandang Ichigo dengan tatapan polosnya, mencondongkan sedikit badannya kearah Ichigo, sedangkan kedua tangannya menumpu diatas ranjang miliknya.
Awalnya Ichigo sempat heran melihat tingkah Rukia yang seperti itu, ''Eh? Hahahahaha~'' namun ketika ia melihat wajah Rukia secara seksama Ichigo malah tertawa.
''H-Heii! Aku kan belum bilang apa-apa! Kenapa kau sudah tertawa duluan? Ya sudah aku tidak jadi mengatakannya!'' Rukia terlihat marah dengan respon yang ia terima dari anak laki-laki berambut orange itu.
Ichigo terlihat memegangi perutnya dengan kedua tangannya karena tak kuat menahan tawa, ''Hahaha~ Iya maaf... Baiklah, aku tidak akan tertawa. Sekarang katakan apa tadi yang mau kau katakan?'' mencoba menghentikan tawanya.
''Tidak jadi!'' Rukia malah menarik selimutnya sampai kekepala namun masih tetap dalam posisi duduk.
''Hei, aku kan sudah minta maaf, ayolah Rukia...'' Ichigo menarik selimut yang Rukia tarik untuk menutupi dirinya tersebut.
''Jangan ditarik! Aku kan sudah bilang tidak jadi tadi!'' Rukia terlihat kembali menarik selimutnya yang sempat ditarik Ichigo.
Ichigo yang belum melepaskan tangannya guna menarik selimut Rukia tersebut malah menarik kembali selimut Rukia, akhirnya terjadilah aksi saling tarik menarik selimut disana.
''Ugh! Lep-paaas!'' Rukia mencoba mengerahkan seluruh tenaganya untuk menarik selimutnya yang tengah ditarik berlawanan arah oleh Ichigo.
''Tidak! Sebelum kau bilaaaaaanggg...!'' Ichigo tidak mau kalah.
''Ugh! Ke-rasss kep-palaaaaaaaa!'' Rukia membantu kekuatan ditumpuan tangannya dengan menarik badannya kebelakang.
Ichigo yang sama sekali belum siap dengan ancang-ancang yang diambil oleh Rukia tersebut sebagai perlawanan malah ikut tertarik kedepan.
Dan kini, terjadilah sebuah adegan de javu dimana mereka berdua pernah saling tindih-menindih satu sama lain. Hanya bedanya jika waktu itu Rukia menimpa Ichigo, kali ini malah Ichigo menimpa Rukia.
Kedua tangan Rukia terlihat mempertahankan posisi tubuh Ichigo pada dada bidangnya agar jarak mereka tidak menyentuh satu sama lain. Dan terlihat kedua tangan Ichigo menumpu disisi kiri dan kanan ranjang milik Rukia dengan tujuan yang sama dengan Rukia.
Sempat lama mereka bertahan dalam posisi tersebut dan kali ini Rukia terlihat lebih berani menatap mata Ichigo dari yang sebelumnya. Sedangkan Ichigo mencoba mencari kehangatan yang lebih dalam dari tatapan mata violet Rukia yang tengah ia rindukan sejak lama.
Baiklah... Saat ini dipikiran Rukia, ia sangat ingin sekali memerintahkan otaknya untuk menggerakan tangannya menyentuh kedua pipi Ichigo. Mata musim gugur itu sungguh seperti memaksa mengeluarkan sesuatu yang ada didalam dirinya, namun Rukia sendiri tidak tahu apa itu.
Perlahan sebelah tangan Rukia bergerak dari tempatnya semula, melayang diudara centi demi centi hingga akhirnya melayang didepan wajah Ichigo. Jari telunjuknya terlihat lebih agak condong kedepan dibandingkan dengan jari-jari yang lain. Dan tiba-tiba, ''Dimatamu... Ada kotoran matanya...'' Rukia tersadar dari pikiran yang sempat menguasai dirinya.
''Eh!'' Ichigo yang mendengar hal itu tidak langsung beranjak dari posisinya melainkan menarik kedua tangannya untuk mengusap kedua matanya.
Sudah dapat ditebak, karena Ichigo menarik kedua tangannya maka hal ini membuat tubuh Ichigo jatuh kebawah Rukia, namun dada bidangnya masih ditahan oleh kedua tangan Rukia yang sempat menyadari bahwa Ichigo akan terhuyung jatuh kearahnya lebih dalam, sehingga jarak mereka kini lebih dekat dari yang sebelumnya.
Ketika Ichigo selesai mengusap kedua matanya, ia kembali menangkap dua buah mata violet milik Rukia. Perasaan Ichigo kali ini lebih terhanyut dari yang sebelumnya. Tertangkap juga oleh Rukia kedua mata amethyst itu sedikit meredup.
Tidak ada rasa salah tingkah diantara Rukia dan Ichigo, mereka mencoba meresapi apa yang tengah dirasakan satu sama lain melalui mata masing-masing.
''Kau... Ada sesuatu yang ingin kau katakan?'' Rukia bertanya pelan dan hati-hati, takut-takut jika pertanyaannya merusak suasana hati Ichigo.
Ichigo ingin sekali mengatakan 'Aku merindukanmu' yang sedari tadi hanya terucap didalam hatinya, namun sepertinya harga dirinya jauh lebih penting daripada memperdulikan apa yang tengah ia rasakan saat itu.
''Kau... Benar-benar tak ingat padaku, Rukia?'' Ichigo terlihat serius mempertanyakan hal tersebut.
Rukia tidak langsung menjawab pertanyaan Ichigo, ia masih mencoba mencari lebih dalam apa arti tatapan Ichigo saat ini.
''Maaf...'' jawab Rukia agak lirih.
''Aku pun berusaha mencoba mengingat semuanya tapi hasilnya nihil, asal kau tahu aku pun sudah cukup bosan dengan keadaanku yang seperti ini sekarang...'' Rukia mengalihkan pandangannya kearah lain, terlihat ia sedih.
Kali ini perasaan Ichigo dan Rukia sama. Mereka berdua sama-sama merasakan kesedihan, kepiluan, dan sesuatu didalam diri mereka yang saling mencoba keluar atas belenggu yang membuat hati terasa nyeri.
''Kenapa?'' Ichigo mencoba mencari penjelasan atas perkataan Rukia yang baru saja terucap.
''Hanya karena aku seperti ini, yang lain memperlakukanku lebih berbeda dari yang sebelumnya dan aku tidak suka diperlakukan berbeda seperti itu.'' Rukia menjelaskan masih dengan bertahan pada posisinya.
''Dulu kau juga seperti ini...'' Ichigo sedikit tersenyum kepada Rukia.
Mendengarkan hal itu Rukia memalingkan pandangannya kepada Ichigo dan menaikan kedua alisnya serta memperlebar tatapan matanya.
Ichigo yang melihat hal itu tersenyum lebar, ''Dulu kau juga selalu bertingkah tidak mau diperlakukan berbeda. Renji juga dulu pernah mengatakan hal itu padaku, hanya saja dulu itu kau tidak pernah mengeluh dan sejujur ini menyampaikan perasaanmu.'' Ichigo masih menatap mata besar nan indah milik Rukia.
''Benarkah?'' tanya Rukia.
''Ya.'' Ichigo menganggukkan kepalanya pelan.
''Sepertinya memang dulu kita berteman baik yah? Kau sampai tahu aku seperti Renji,'' Rukia mencoba tersenyum kearah Ichigo.
Beberapa menit setelah Rukia mengatakan hal tersebut, ''I-Ichigo... Be-Berat...'' terlihat wajah Rukia sedikit memerah, Ichigo yang menyadari hal itu pun menunjukkan expresi yang sama.
Kemudian Ichigo mencoba bangkit berdiri dan mengambil posisi duduk diatas ranjang besar milik Rukia tersebut.
''Ma-Maaf...'' Ichigo mengelus tengkuk kepalanya kaku, Rukia melihat Ichigo sedikit canggung dan hal itu menular kepada dirinya sekarang, ''Ehehe~'' Rukia melakukan hal yang sama dengan Ichigo.
''Hei, maukah kau membantuku mengingat semuanya, Ichigo?'' kali ini Rukia sudah dapat mengontrol dirinya sendiri.
''Aku?'' Ichigo menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya, sementara tangan yang lain masih menempel ditengkuk miliknya.
Rukia tersenyum sekaligus menaik-turunkan kepalanya keatas dan kebawah, ''Hm~ mau kan?'' tanya Rukia lagi.
''Tapi kenapa aku?'' Ichigo sedikit kebingungan.
''Kau ingat pertama kali kita bertemu? Waktu kau bertanya kenapa aku lupa padamu itu tiba-tiba saja aku bisa mengingat sedikit memoriku,'' Rukia menjelaskan.
''Lalu, tadi sewaktu mengajari teman-temanmu muncul sesuatu didalam memoriku dimana aku sedang mengajarimu,'' Rukia mencoba melengkapi penjelasannya.
''Apa hanya aku? Memang sewaktu dengan yang lain tidak pernah?'' Ichigo bertanya.
Rukia menggelengkan kepalanya, ''Tidak, Rangiku-san juga pernah bilang sewaktu pertama kali menjalani misi ini jika aku berada didunia manusia dan bertemu denganmu maka kesempatan ingatanku akan pulih itu sangat besar.''
''Apa? Kenapa bisa begitu?'' Ichigo memiringkan sedikit kepalanya, jujur saja ia masih agak bingung dengan apa yang dikatakan Rukia.
''Sejauh kesimpulanku, selama ini aku hanya mengingat sebagian teman-temanku diSoul Society dan tak satu pun didunia manusia... Ketika bertemu denganmu aku sedikit bisa mengingat masa laluku, ditambah ketika Rangiku-san mengatakan hal itu... Aku jadi berpikir mungkin kau bisa banyak membantuku...'' Rukia mencoba meringkas segala penjelasannya agar Ichigo mudah mengerti.
''Oh, begitu yah... Tapi aku tidak yakin Rukia...'' kata-kata Ichigo terdengar agak pesimis.
Mendengar hal itu Rukia langsung merubah posisi duduknya menjadi berlutut diatas ranjangnya, kedua tangannya disatukan dan diangkat hingga mencapai puncak kepalanya, sedangkan kepalanya ia tundukkan, ''Aku mohon!'' kata Rukia.
Ichigo tertawa melihat hal tersebut, ''Hahaha~ baiklah, baik,'' jauh didalam hati Ichigo ia senang dengan kemauan Rukia untuk mencoba mengingat masa lalunya yang terlupakan dan yang semakin membuatnya senang adalah ketika Rukia mempercayai dirinya untuk membantu Rukia mengingat segala memorinya.
Rukia menengadahkan kepalanya ketika mendengarkan hal tersebut, ''Benarkah? Arigatou!'' Rukia yang kegirangan malah menghamburkan dirinya kearah Ichigo dan memeluknya. Rukia lepas kendali...
Ichigo yang tiba-tiba saja mendapatkan pelukan tersebut malah membatu ditempat, matanya membulat sempurna, kedua tangannya terbuka lebar, terlihat dirinya sangat kaku saat ini.
Ichigo ingin sekali membalas pelukan Rukia tersebut tapi ia malu pada dirinya sendiri. Ia ingin sekali meresapi setiap detik pelukan yang tengah ia rasakan ini tapi ia takut jika nantinya Rukia memberikan penolakan. Ia ingin sekali mendekap Rukia lebih dalam kedalam pelukannya, sangat ingin sekali ! Tapi ia hanya bisa menyesali dirinya yang entah mengapa seperti ini...
'Bagaimana ini?' bisik Ichigo dalam hati. Ia sangat merindukan Rukia, hampir setiap detik didalam pikirannya adalah ketika bersama Rukia. Hampir setiap hari yang ia lewati selalu menemukan kejadian-kejadian yang membuat dirinya teringat kepada Rukia. Ketika ia putus asa bahwa gadis ini tak akan kembali lagi, kenyataannya gadis itu kini telah berada dihadapannya, bersamanya dan bahkan tengah memeluknya begitu erat...
Tak mampu lagi menahan gejolak didalam dirinya, ia hamburkan tangannya melingkari pinggang Rukia, memejamkan kedua matanya mencoba meresapi hangatnya pelukan tersebut.
Ketika mendapati Ichigo melakukan hal tersebut, tiba-tiba saja sekelibatan ingatan Rukia muncul kembali. Dimana Ichigo yang berlumuran darah tengah memeluknya ketika pingsan atas efek dark Rukia, Ichigo yang menggendongnya disebuah tiang eksekusi, dan Ichigo yang tiba-tiba saja datang dihadapan Rukia untuk melindunginya ketika sedang diintimidasi oleh Gin sewaktu menuju tiang eksekusi setelah sebelumnya sempat diasingkan didalam ruang tahanan seorang diri.
''Ichi-goh... Hhh~'' Rukia terengah-engah.
Ichigo yang menyadari hal itu buru-buru melihat keadan Rukia, ''Rukia!'' ia panik.
''Hhh~ Hhh~'' Rukia semakin mencoba mengambil nafas berat.
''Rukia! Kau kenapa?'' Ichigo benar-benar terlihat panik kali ini.
Rukia mencoba menstabilkan kondisinya, ''Su- Hhh~ Sudah tidak apa-apa, Hhh~ Hahaha~''
''Bodoh! Malah tertawa!'' Ichigo terlihat sedikit kesal ketika melihat salah satu tingkah Rukia yang belum berubah itu, tingkah dimana Rukia yang selalu menganggap remeh kondisinya dalam keadaan apapun.
''Maaf, kau khawatir yah? Haha~'' Rukia bicara asal.
''Te-Tentu saja bodoh! Sudah lebih baik istirahatlah,'' Ichigo yang salah tingkah malah memaksa Rukia untuk berbaring.
''Hei! Tunggu dulu! Masih banyak yang ingin aku tanyakan dan aku bicarakan,'' Rukia bangkit dari posisinya.
''Besok saja!'' Ichigo kembali memaksa Rukia berbaring.
''Besok?'' Rukia nampak kebingungan.
''Ya, besok aku kesini lagi,'' kali ini Ichigo menarik selimut yang sempat terhambur karena aksi tarik-tarikan selimut antara dirinya dengan Rukia tadi.
''Byakuya memintaku datang besok untuk memberikan penjelasan mengenai ini semua,'' terang Ichigo.
''Kau memanggil kakakku dengan namanya kecilnya saja? Apa dulu kau berteman baik dengannya? Kakakku bisa menghabisimu kalau dia tahu...'' kata Rukia panjang lebar.
''Coba saja kalau dia berani, lagi pula kami memang berteman baik.'' Ichigo tersenyum kearah Rukia.
''Ya sudah, sampai jumpa besok. Istirahatlah yang baik! Aku pulang yah, Rukia...'' Ichigo melambaikan tangannya kearah Rukia, kemudian berjalan menuju pintu kamar Rukia.
Ketika Ichigo memutar kenop pintu tersebut, ''Hati-hati, Ichigo...'' setelah mengatakan hal itu Rukia membalikan tubuhnya kesisi lain ranjang menghadap dinding.
Ichigo yang mendengar hal itu memalingkan pandangannya kearah Rukia yang wajahnya disembunyikan dibalik bantal, Ichigo hanya tertawa melihat hal itu, ''Ya...''
Hingga akhirnya Rukia mendengar suara pintu kamarnya sudah tertutup ia buru-buru mengangkat kepalanya dan memburu pasokan oksigen yang tersedia, ''Hhh~ Ada apa denganku? Kenapa begini?'' Rukia berbicara sendiri dengan sebelah tangannya yang diletakkan didepan dada, berusaha merasakan debaran jantung yang sedari tadi berdegup kencang tak beraturan.
... ... ...
Ichigo masih mematung diambang pintu kamar milik Rukia, matanya terus menatap lurus kedepan menangkap sepasang mata lain yang kini berada dihadapannya.
''Sedang apa kau disini?'' tanya Ichigo yang memecahkan suasana yang sempat diselimuti kediaman diantara mereka berdua.
Lawan bicara Ichigo agak sedikit tersentak ketika Ichigo membuka suaranya, ''Ah, Aku baru saja mau masuk kekamar Rukia lalu tiba-tiba kau keluar saat aku hendak membuka pintu kamarnya,'' terlihat ia sedang berusaha menutup-nutupi sesuatu.
''Oh, begitu...'' Ichigo masih berwajah datar, ''Ngomong-ngomong dimana Byakuya?'' tanya Ichigo.
''Dikamarnya, sepertinya sudah tidur. Besok saja kemari lagi.'' jawabnya.
''Hm, begitu yah. Padahal aku mau pamit pulang tapi... Ya sudahlah, tolong katakan padanya aku pulang yah, Renji...'' Ichigo menyunggingkan senyuman kecilnya kearah Renji.
''Ya, akan kusampaikan nanti,'' Renji membalas senyuman Ichigo dengan expresi yang sama.
Ketika Ichigo beranjak pergi, ''Bisakah kita berbicara sebentar?'' Renji mengehentikan langkah Ichigo dengan pertanyaannya.
Ichigo membalikkan tubuhnya, ''Tentu...''
... ... ...
Renji dan Ichigo, seorang Shinigami dan manusia setengah Shinigami ini kini tengah berada disebuah taman kecil dihalaman depan rumah kediaman sementara bagi Renji dkk.
Terlihat mereka berdua duduk disebuah meja kayu yang disandingkan dengan pohon mapple yang rindang sebagai peneduh dikala siang.
''Tadi... Kau bicara apa saja dengan Rukia?'' Renji mulai membuka pertanyaan.
Ichigo terbelalak, ''Bagaimana kau tahu aku dan Rukia sedang mengobrol tadi?''
''Ah! Tadi sewaktu mau masuk kekamar Rukia aku mendengar suara kalian didepan pintu, jadi kupikir Rukia sudah sadar, Hehe~'' Renji berusaha mencari-cari alasan.
Sedangkan Ichigo si anak laki-laki berambut orange ini mempercayai dengan mudah kata-kata Renji, ''Oh~ Tadi dia memintaku untuk membantunya mengingat masa lalunya,''
''Hanya itu?'' Renji mencoba meyakinkan jawaban Ichigo.
''Hmmm~ Ya~'' jawab Ichigo singkat setelah sebelumnya mengingat kembali perbincangan apa saja yang terjadi ketika ia berada dikamar Rukia.
Renji berusaha menatap mata Ichigo dan menangkap segala gerak-gerik tubuh Ichigo Kurosaki, ia mencari-cari disana apakah Ichigo berbohong atau tidak. Ketika diyakini-nya Ichigo tidak berbohong ia mulai kembali bertanya, ''Lalu dengan cara apa kau akan membantu Rukia?''
''Aku juga tidak tahu, kita lihat nanti saja,'' jawab Ichigo singkat.
''Mana bisa begitu! Kau tahu itu sama saja kau memberikan harapan kosong untuk Rukia!'' Renji terlihat sedikit geram dengan jawaban Ichigo.
Ichigo yang menangkap nada marah milik anak laki-laki berambut merah ini mencoba menangkap maksud amarahnya, ''Kau khawatir?''
''Bodoh! Tentu saja aku khawatir!'' Renji terlihat sangat marah dari yang sebelumnya.
''Khawatir pada Rukia? Atau khawatir aku tidak akan bisa membantu Rukia?'' Ichigo kembali memberikan pertanyaan yang kali ini sulit untuk dijwab oleh Renji.
Renji sempat terdiam dan menyadari tindakannya barusan, sungguh itu membuatnya malu, ''A-Aku...'' Renji tidak tahu apa yang harus dikatakannya kali ini.
''Aku mengatakan hal tadi bukan berarti aku tidak serius membantu Rukia ataupun memberikan harapan kosong untuk Rukia, justru karena aku sedang berusaha memikirkan cara yang terbaik itu sebabnya aku mengatakan hal tersebut, Renji.''
Hening sejenak...
Ichigo kembali bersuara, ''Manusia boleh berencana tapi tetaplah Kami-sama yang menentukan,''
''Ichigo...'' Renji terlihat bertampang lesu ketika mendengar kata-kata Ichigo yang kesekian.
''Aku mungkin akan berencana mengembalikan ingatan Rukia dengan caraku. Entah dengan menyuguhkannya boneka chappy atau kon kepadanya atau membawanya bersama teman-temanku seharian, tapi... Kami-sama mungkin akan menentukan yang lain. Entah dengan memberikanku ide untuk membawa Rukia tinggal dirumahku sementara atau dengan membuat Rukia terus bersamaku hingga ia mengingat segalanya.''
Renji terdiam ketika mendengar kata-kata terakhir dari Ichigo, ''Intinya cara apapun yang aku lakukan, aku akan membuat Rukia ingat kembali dengan ingatannya! Aku tidak akan mengecewakannya dan aku 'berjanji'!'' Ichigo kembali bersuara dan memberikan penekanan khusus pada kalimat 'berjanji' yang telah ia lontarkan.
Renji yang tadinya sedikit cemas kini terlihat tersenyum, ''Baiklah. Tapi ingat janjimu merupakan harapan besar bagi Rukia,''
''Aku tahu,'' Ichigo membalas senyuman Renji, ''Ada yang lain yang ingin kau bicarakan?'' lanjut Ichigo.
Sebenarnya masih banyak sekali pembicaraan eh bukan, lebih tepatnya pertanyaan yang ingin ia lemparkan kepada Ichigo. Namun sepertinya ia harus menahan semua itu karena sesuatu.
Renji menggelengkan kepalanya setelah sebelumnya ia berpikir sejenak untuk mempertanyakan pertanyaan yang sedari tadi melayang dibenaknya.
''Baiklah, kalau begitu aku pulang yah. Sampaikan pada yang lainnya juga, sampai jumpa Renji.'' Ichigo kemudian bangkit dari tempatnya dan berjalan pulang kerumah.
... ... ...
'Tok... Tok...' terdengar suara pintu diketuk pelan oleh seseorang diluar kamar seorang kapten batallion 6, Byakuya Kuchiki.
''Masuk...'' Byakuya mempersilahkan seseorang diluar sana.
Pintu pun terbuka dan nampaklah sesosok Shinigami bertubuh kecil dengan rambut peraknya yang sedikit redup tak terpancar sinar lampu yang berada dikamar Byakuya. Mungkin karena ini malam hari maka Byakuya hanya menyalakan lampu tidurnya, terlihat juga ia tengah berada didekat jendela besar yang ada disana, sepertinya tengah menerawang sesuatu jauh kelangit.
''Apa aku mengganggumu?'' tanya rekan Shinagimi Byakuya tersebut.
''Tidak, ada apa Hitsugaya?'' tanya Byakuya langsung.
Tanpa berbasa-basi Toushiro masuk kedalam kamar Byakuya setelah sebelumnya menutup pintu yang sempat terbuka lebar, ''Apa kau sudah mendapatkan informasi tentang Kenichi itu?''
Byakuya mengambil langkah menuju sofa diruangan khusus miliknya tersebut, ''Duduklah,'' setelah samapai disofa dan duduk Byakuay melanjutkan pembicaraannya, ''Aku dan yang lain tidak menemukan kejanggalan apapun dari dokumen maupun berkas mengenai dirinya didaftar guru milik sekolah,''
Toushiro kini sudah duduk dihadapan Byakuya, ''Nampaknya pandai menyembunyikan identitas,''
''Ya, dari daftar riwayat hidupnya pada masa ia sekolah diSekolah Dasar hingga masuk Universitas ia memiliki prestasi, dan prestasi itu pun tidak bisa diakui apabila dia tidak memiliki bukti, dan bukti prestasi seperti itu prosedurnya tidak mudah dan tidak mungkin saja dilakukan oleh Shinigami seperti mereka...'' terang Byakuya panjang lebar.
''Ya, karena dunia manusia dan Soul Society itu berbeda,'' Toushiro menanggapi dengan singkat dan Byakuya hanya mengangguk kecil.
''Tapi jika memang dia bukanlah orang suruhan Aizen lalu kenapa wajahnya mirip sekali dengan Kaien Shiba?'' Toushiro menaikan kepalan tangannya setara didepan dagu, dengan tangan kirinya yang menyangga tangan yang lain.
''Belum dapat dipastikan,'' kata Byakuya dengan expresi datarnya.
''Ada rencana lain?'' tanya Toushiro. Byakuya yang belum berfikir sejauh itu hanya menggelengkan kepalanya kemudian.
''Sial! Ini semua semakin membingungkan!'' Toushiro menggertakan deratan giginya, nampak sekali ia kesal.
''Kita sama-sama pikirkan pelan-pelan, terkadang sesuatu yang difikirkan secara paksa hanya menimbulkan amarah dan tidak akan menghasilkan apa-apa,'' tutur Byakuya.
Toushiro yang sebelumnya menundukan kepala kemudian menatap Byakuya, ''Kita sebagai kapten seharusnya bisa bijak dalam berfikir maupun mengambil keputusan,'' sekali lagi Byakuya mengatakan suatu hal yang bijak didepan Toushiro.
''Hhh~ Baiklah, kalau begitu aku permisi dulu.'' Toushiro kemudian beranjak pergi dari kamar Byakuya, ''Selamat malam,'' kata Toushiro terakhir kali.
''Malam,'' balas Byakuya.
... ... ...
''Kenapa sampai sekarang Ichigo-nii belum pulang yah?'' tanya Yuzu yang kini tengah berada didapur memasak makan malam.
''Jangan khawatir nanti juga pulang sendiri kalau sudah lapar,'' Karin yang sedang membaca komik menemani Yuzu didapur itu menjawab pertanyaan tersebut dengan nada malas.
''Hm~ Karin bantu aku menyiapkan meja yah, tolong...'' anak perempuan yang mengemban tugas sebagai ibu rumah tangga yang menggantikan mendiang ibunya tersebut terlihat sekali sangat sibuk.
''Baik...'' jawab Karin masih dengan nada yang tidak bersemangat, ''Ngomong-ngomong ayah juga belum pulang Yuzu?'' tanya Karin.
''Tadi ayah menelepon, pulangnya akan sedikit terlambat soalnya diklinik sedang ramai hari ini.'' jawab Yuzu yang masih berkonsentrasi meracik bumbu-bumbu masakannya.
Tak beberapa lama kemudian makanan yang dimasak oleh Yuzu telah matang dan sudah dihidangkan pula diatas meja makan, ''Wah! Kelihatannya enak Yuzu! Ayo kita makan!'' Karin buru-buru mengangkat mangkuk dan sumpit miliknya.
''Tunggu Karin!'' Yuzu menghentikan kedua tangan Karin yang sebelumnya sudah bersiap mencomot setiap makanan yang telah terhidang didepan mata.
''Apa?'' tanya Karin kebingungan.
''Apa tidak sebaiknya menunggu ayah dan kak Ichigo saja dulu?'' tanya Karin terlihat memelas.
''Ta-Tapi kalau menunggu mereka lama Yuzu, aku sudah lapar.'' jawab Karin sedikit kesal.
''Tapi... Aku mohon! Sebentar saja! 5 menit saja yah?'' Yuzu mencoba mempengaruhi saudara kembarnya itu.
Karin yang tidak bisa melihat wajah melas milik Yuzu tersebut mau tidak mau mengikuti keinginannya dengan berat hati.
''Hanya 5 menit! Jika tidak pulang juga tidak ada penambahan waktu.'' kata Karin yang disambut dengan senyum manis milik Yuzu.
Tak lebih dari 5 menit pasangan ayah dan anak laki-laki Kurosaki yang telah ditunggu-tunggu sejak lama itu pun pulang.
''Tadaima!'' seru mereka bersamaan, namun suara Ishin lah yang lebih terdengar bersemangat.
''Itu mereka,'' ujar Karin yang menahan rasa laparanya sedaritadi.
''Selamat datang!'' sambut Yuzu, ''Ayah dan kakak apa berpapasan dijalan?'' tanya Yuzu yang sudah kegirangan dengan kedatangan sang Ayah dan Kakak yang telah melengkapi anggota Kurosaki yang sempat membuat mereka cemas.
''Ya! Ini memang takdir dan jodoh yang telah ditentukan Kami-sama! Ternyata kita ini adalah Ayah dan anak yang kompak yah Ichigo my son!'' Ishin melompat dan mencoba menendang Ichigo seperti biasa.
Ichigo yang sudah dapat membaca gerak-gerik dari Ayahnya itu buru-buru saja mengambil langkah untuk menghindar dengan cepat, tanpa sepatah kata meninggalkan sang Ayah yang tergeletak begitu saja dilantai karena tidak sampai menendang Ichigo.
''Anakku memang hebat! That's my son! Hahaha~'' Ishin, penampilan terlihat tua, semangatnya berjiwa muda, dan tingkahnya seperti anak bocah.
''Ayah? Ayah tidak apa-apa?'' tanya Yuzu yang melihat Ayahnya tengah terkapar dilantai.
Ishin pun buru-buru bangun dari posisinya, ''Tentu saja Yuzu! Ayah kan kuat! Lihat ini!'' Ishin bergaya layaknya binaraga profesional didepan Yuzu.
''Hei! Sudahlah Ayah! Mau makan tidak? Aku sudah lapar!'' teriak Karin didapur, dalam hatinya ia mengutuk keras tingkah Ayahnya yang tidak pernah berubah sama sekali dari dulu.
''Ohh~ Baiklah Karin~ Ayahmu datang~'' Ishin dan Yuzu sama-sama menuju dapur dan menempati bangku meja makan yang sudah dihuni oleh Karin yang lebih dulu dan Ichigo yang baru bergabung.
''Wah! Kelihatannya enak-enak! Yuzu kau memang anakku yang pandai memasak! Jiwa Ibumu memang diwariskan kepadamu nak!'' terdengar Ishin begitu bangga disetiap nada perkataanya tersebut.
''Aku makan!'' kata Ichigo dan Karin bersamaan.
Karin yang sedang mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya bertanya kepada Ichigo, ''Kenapa bisa pulang malam? Katamu tadi jam 3 kan? Kalaupun bisa lebih dari itu, aku tidak menyangka sampai semalam ini.'' Karin bertanya namun matanya tak tertuju pada Ichigo, melainkan kepada makanan yang tengah menjadi pusat perhatiannya.
Ichigo melirik Karin, ''Tadi bertemu dengan teman lama, lalu niat berbicara sebentar malah keterusan, Hahaha ~'' Ichigo tertawa disela-sela ia sedang makan. ''Maaf yah, membuat kalian berdua menunggu lama.'' sambung Ichigo.
''Tidak apa-apa Kak, yang penting kakak pulang dan kita sekarang bisa makan bersama.'' kata Yuzu, Ichigo hanya tersenyum dengan kata-kata Yuzu. Memang menurutnya Yuzu adalah anggota keluarga termanis setelah mendiang Ibunya. Dan memang yang paling mirip dengan mendiang ibu yang sangat dicintainya.
''Ngomong-ngomong, siapa teman lamamu itu Ichigo?'' tanya Ishin.
''Rukia, Ayah...'' jawab Ichigo singkat.
Sontak Karin dan Yuzu langsung menghentikan aktivitas makan mereka, ''Rukiak-nee! Ichigo-nii bertemu dengan Rukia-nee?'' Yuzu mencoba memastikan.
''Ya~'' jawab Ichigo singkat karna ia tengah menikmati santap malamnya saat ini.
''Bagaimana kabarnya?'' tanya Karin yang diam-diam juga antusias dengan kabar yang datang dari Ichigo kakaknya.
''Dia baik-baik saja,'' jawab Ichigo, ''Dan bertambah pendek, Hahaha~'' sambungnya sambil mengunyah makanan didalam mulutnya.
''Kau ini bicara apa Ichigo? Mana ada orang bertambah pendek semasa hidupnya. Sampai Rukia-chan mendengar hal ini kau bisa dihabisi olehnya! Dan kau tahu? Aku akan lebih mendukungnya menghajarmu dibandingkan harus mendukungmu. Jangan salah yah, biarpun kita ini ada hubungan darah bukan berarti aku selalu ada dipihakmu~'' terang Ishin bercanda namun sebenarnya ia serius.
''Siapa juga yang butuh dukunganmu? Dasar Ayah bodoh!'' jawab Ichigo kesal.
''Hei! Awas kau bisa kena karma nanti mengatakan Ayah bodoh, Hhh~'' Ishin mencoba bercanda kembali tapi tidak ada satupun yang tertawa.
Melihat hal itu, Ishin pun langsung mengalihkan pembicaraan, ''Ngomong-ngomong, kenapa kau tidak membawa Rukia kemari? Ah! Atau jangan-jangan dia ada dalam lemarimu yah?''
Ichigo tersentak, ''Uhuk! Uhuk!''
''Nii-chan! Minum dulu ini!'' Yuzu menyodorkan air minum untuk Ichigo.
Sedangkan Karin hanya tersenyum kecil melihat kejadian itu, ''Ada yang kau sembunyikan yah?'' Karin terlihat menggoda kakaknya itu.
''Apa! Tidak ada!'' Ichigo membantah dengan cepat.
''Lalu kenapa tadi terbatuk-batuk Ichigo?'' kali ini Ishin yang menggoda Ichigo.
''Bicara apa! Sudah aku sudah selesai! Itekimasu~'' Ichigo kemudian bangkit dari kursinya dan berjalan menuju kamarnya.
''Mau kemana?'' tanya Karin masih berusaha menggoda Ichigo kesekian kalinya.
''Karin!'' hanya godaan seperti itu saja mampu membuat Ichigo salah tingkah dan membuatnya mengutuk dirinya sendiri yang tiba-tiba seperti ini.
''Apa?'' Karin malah menjadikan teriakan Ichigo atas namanya tersebut sebagai lelucon.
''Kau! Hhh~ Terserah~'' kemudian Ichigo kembali menuju kamarnya.
''Salam untuk Rukia-chan yah Ichigo my son!'' teriak Ishin yang sanggup membahana ruang makan tersebut.
Terdengar tawa lepas milik Karin dan Ishin serta tawa pelan dari Yuzu yang tak tega melihat kakaknya dibully dengan godaan seperti itu oleh anggota keluarga Kurosaki.
''Ayah! Sudah kubilang Rukia tidak ada dilemariku!'' jawab Ichigo yang kali ini tengah menaiki tangga menuju kamarnya.
''Loh! Ayah cuma bilang salam untuknya, sama sekali Ayah tidak menambahakan kata-kata 'Rukia yang ada dalam lemari kamarmu' setelahnya kan?''
Bingo! Ternyata kemenangan berpihak ditangan Ishin Kurosaki.
Ichigo yang menyadari bahwa dirinya telah salah berbicara kontan saja semakin salah tingkah dan jantungnya berdegup lebih kencang, wajahnya sudah semerah kepiting rebus sekarang. Langsung saja ia mempercepat langkah menuju kamarnya tanpa membalas perkataan sang Ayah. Ia tahu ia sudah kalah telak. Mau bicara seperti apapun untuk membela diri sudah tidak ada gunanya.
... ... ...
Tak lama semenjak Toushiro meninggalkan kamar Byakuya, kembali pintu kamar dari Byakuya Kuchiki diketuk. Setelah Byakuya mempersilahkan masuk muncullah wakil kapten batallion 6, Renji Abarai.
''Aku kira kapten sudah tidur, apa aku mengganggu kapten?'' tanya Renji ketika memasuki ruangan pribadi milik Byakuya.
''Tidak, duduklah.'' jawab Byakuya.
Renji kemudian berjalan menuju sofa dikamar Byakuya tersebut, ''Ichigo sudah pulang kapten,''
''Hm, sudah kubilang berpamitan dulu sebelum pulang. Tidak tahu sopan santun.'' Byakuya berkomentar sedikit kesal namun tidak sampai memicu amarah maupun emosinya.
''Bukan begitu kapten. Justru tadi dia mau pamit pulang padamu, tapi karena kukira kapten sudah tidur jadi aku bilang padanya aku yang akan menyampaikannya, begitu kapten.'' Renji sedikit nervous, memang begitulah Renji jika sedang berhadapan dengan kaptennya bukan? Walaupun tidak setiap hari seperti itu.
''Begitu, lalu?'' Byakuya masih bersikap dingin seperti biasa.
Renji yang sudah bekerja cukup lama sebagai orang kepercayaan Byakuya sepertinya masih belum terbiasa dengan sifat dingin milik kaptennya itu, ''Errr~ Dia besok kesini kapten.''
''Aku tahu.'' singkat, padat, namun tidak cukup jelas bagi Renji.
'Masa hanya begitu saja?' Renji merutuk dalam hati, ''Dan... Rukia sepertinya meminta bantuan kepada Ichigo untuk membantu mengingat ingatannya kapten.''
Byakuya yang sebelumnya sempat melihat kearah jendela kini melirik Renji, ''Jika memang itu keinginannya aku berharap ingatan Rukia bisa kembali, walaupun aku tidak begitu mempercayai kemampuan anak berambut orange itu, tapi... Terkadang ada saja hal diluar dugaan darinya yang membuatku akhirnya percaya...'' Byakuya menatap lurus kearah mata Renji.
'Kapten...' Renji membatin.
''Kita percayakan saja padanya,'' Byakuya kembali berucap ketika Renji sama sekali tak bersuara, ''Apa pun, asal ingatan Rukia kembali dan... Aku mencoba memberikan yang terbaik untuknya...''
Renji melebarkan matanya sempurna, tak lama setelah itu dia tersenyum. Salah satu yang membuat Renji bangga dan menghormati kaptennya itu, adalah meskipun dia berkarakter dingin diluar namun sebenarnya penuh kehangatan dan kelembutan didalamnya.
Banyak teman-teman seangkatannya yang memiliki pendapat bahwa Byakuya merupakan sosok seperti boneka kayu berjalan. Terkadang Renji geram dengan pendapat teman-temannya hingga memberikan pelajaran pada teman-temannya yang menghina kapten kesayangannya tersebut.
Menurut Renji, itu semua hanya omong kosong yang tak masuk diakal! Bagaimana mereka bisa men'judge' seseorang hanya dari penampilan luarnya saja tanpa mencoba mendekatkan diri ataupun mencari tahu sifat karakteristik lain dari Byakuya Kuchiki. Jika begitu untuk apa ada pepatah yang mengatakan 'Tak kenal maka tak sayang'?
''Apa ada yang lain?'' tanya Byakuya yang melihat Renji hanya tersenyum kearahnya.
Renji yang terbangun dari lamunannya pun buru-buru menjawab, ''Ah! Tidak kapten. Kalau begitu aku permisi dulu.''
Setelah mendapatkan anggukan dari Byakuya, Renji beranjak dari sofa dan berjalan kelaur dari kamar Byakuya. Ketika pintu sudah terbuka ia menghentikan langkahnya, ''Kapten...'' panggilnya.
Byakuya hanya menengok kearah suara yang memanggilnya, ''Tidurlah, pasti lelah seharian ini menjalani misi dan sempat melawan menos.'' kata Renji sambil tersenyum kearahnya.
Byakuya sempat terdiam sejenak, ''Hm, kau juga istirahatlah.'' setelah itu Byakuya kembali mengarahkan pandangannya keluar jendela. Sedangkan Renji sudah berada diluar kamar Byakuya sekarang.
... ... ...
''Segarnya!'' Ichigo Kurosaki, kini tengah berada dikamarnya sembari mengeringkan rambut jeruknya dengan handuk.
Ia berjalan menuju meja belajarnya kemudian menarik kursi disana. Ia mencoba mengingat kejadian hari ini, dimana Rukia memintanya untuk membantu mengingat masa lalunya.
Terang saja ia senang, eh bukan! Tapi sangat senang!
'Rukia memilihku untuk membantunya, bukan memilih orang lain. Bukan Renji dan bukan Ishida.' batinnya sambil tersenyum.
Tak lama kemudian, 'Eh tunggu dulu! Renji? Ishida? Memangnya kenapa kalau Rukia memilih mereka juga?'
Ichigo kemudian mengingat kejadian tadi siang sewaktu Ishida mengukur setiap centi tubuh Rukia, dimana Ishida sempat melingkarkan kedua tangannya dipinggang Rukia untuk mengukur juga pastinya.
Kemudian ia ingat juga ketika Renji mengelus kepala Rukia, merangkul Rukia saat hendak berjalan pulang dan Rukia yang lebih menyembunyikan diri dibalik Renji sewaktu pertama kali bertemu.
Tiba-tiba saja jantung Ichigo berdegup kencang, ia merasakan suhu tubuhnya mulai memanas, kedua tangannya mengepal erat.
'Perasaan apa ini?' Ichigo menyandarkan sebelah telapak tangannya didepan dada, mencoba memberhentikan detakan jantung yang begitu membara saat ini. Sebenarnya itu rasa amarahnya, tapi sekali lagi Ichigo tidak pandai membaca perasaannya sendiri.
''Argh!'' Ichigo bangkit dari kursi meja belajarnya dan membaringkan tubuhnya asal ditempat tidur yang letaknya tak berjauhan dengan meja belajarnya.
''Hhh~ Hhh~ Hhh~'' Ichigo terus menarik dan menghembuskan nafas begitu nafsu, ''Aku ini... Kenapa sih?'' Ichigo berguman sendirian didalam kamarnya. Ia tidak sadar yang tengah ia rasakan adalah rasa seperti... cemburu...
Ichigo mencoba menutup matanya secara paksa, mencoba untuk rileks dan tidur tapi ia malah berguling kesana-sini dan merasa serba salah disetiap posisi yang ia ambil.
Karena tidak bisa tidur, ia buka sedikit ghordyn jendela kamarnya. Bulan yang tadinya sempat tidak muncul, kini menampakkan dirinya. Namun pantulan sinarnya tidak begitu terang, mungkin karena awan tipis yang menyelimuti.
Melihat bulan, sama saja mengingatkannya pada Rukia. Dan kali ini berbeda, ia malah mengingat kejadian tadi saat mereka beradu tarik-menarik selimut hingga akhirnya Ichigo jatuh diatas Rukia. Kejadian sama yang pernah dialami ketika berada direstoran steak Karakura, ketika mereka berdua saling menimpa namun Rukia yang berada diatasnya.
Lalu seakan tak mau terlewatkan, Ichigo juga mengingat ketika ia menginjak tali sepatu Rukia dan mereka berdua terjatuh lagi hingga akhirnya Rukia mencium pipi Ichigo.
Ichigo menempelkan telapak tangannya menyentuh pipi yang sempat diberikan ciuman secara tak sengaja tersebut oleh Rukia. Pipinya memerah...
''Ugh!'' Ichigo yang menyadari hal aneh dalam dirinya tersebut langsung mengacak-ngacak rambutnya dengan kedua tangan miliknya.
Baru saja hendak mencoba menjernihkan pikirannya, tapi yang ada malah dia mengingat lagi kejadian ketika Rukia memeluknya tadi. Seolah masih terasa ketika tangannya balas memeluk Rukia, dan tubuh mungil Rukia berada dalam dekapannya.
Mengingat hal-hal manis seperti itu, Ichigo semakin jadi salah tingkah dan kontan mukanya jadi semakin memerah.
''Hhh~ Kenapa dia terus sih yang ada disini!'' Ichigo mengetuk-ngetuk dahinya.
'Kami-sama, Ibu... Sebenarnya ini perasaan apa? Aku tidak mengerti...' Ichigo semakin pasrah dikalahkan oleh perasaannya saat ini yang lebih menguasai dirinya. Ia sangat membutuhkan seseorang untuk menjelaskan perasaan apa yang tengah ia rasakan saat ini.
Tak lama kemudian, setelah begitu cukup lamanya menatap bulan diluar jendela akhirnya Ichigo tertidur. Namun, terlihat tidurnya nampak tak tenang. Mungkin karena efek perasaanya ini.
... ... ...
Seusai keluar dari kamar Byakuya, Renji tak langsung mengikuti perintah kaptennya yang menyuruhnya istirahat. Ia malah berjalan menyusuri setiap lorong ruangan menuju kamar Rukia.
'Tok... Tok...' terdengar nyaring suara pintu kamar Rukia diketok. Namun tidak ada suara sama sekali.
Walaupun Renji sudah menduga Rukia mungkin sudah tertidur tapi ia tetap mengikuti niatnya yang ingin melihat keadaan Rukia sebentar saja.
Ketika pintu sudah terbuka dan tertutup oleh Renji, ia berjalan menuju tempat tidur milik Rukia.
Kini ia berdiri disamping ranjang Rukia. Terlihat disana wajah damai Rukia yang tengah tetidur. Selimut yang sempat tersingkap dari Rukia ditarik oleh Renji hingga mencapai pundak Rukia.
Renji menyunggingkan senyuman lebarnya yang tak bisa dilihat Rukia saat ini, 'Rukia...' ketika membatinkan nama tersebut senyuman Renji pudar.
Tiba-tiba saja Renji mengingat kejadian tadi...
flashback
Renji mengikuti Ichigoーyang tengah didampingi Byakuya menuju kamar Rukiaーdari belakang.
''Hei Renji! Taruh dulu berkasmu ini! Sembarangan saja meletakannya!'' ujar Yumichika sambil marah-marah dan menunjukan setumpuk kertas kerja milik Renji diatas meja ruang tamu utama.
''Ish! Iya! Nanti kubereskan!'' Renji terlihat kesal karena Yumichika seperti tengah mengganggunya.
''Sekarang! Kau tidak lihat kertasmu ini mengganggu aku dan yang lain menonton tv!'' Yumichika mengepalkan tangannya seolah marah-marah seperti layaknya seorang perempuan yang sedang pms.
Renji kemudian mengitari pandangannya kesekeliling ruangan, terlihat disana beberapa teman-temannya yang juga tengah menonton tv menatap kearahnya dan menyetujui omelan Yumichika terhadap Renji.
''Hhh! Baiklah!'' Renji kemudian mengambil kertas kerjanya dan membawanya kedalam kamarnya, berniat akan ia lanjutkan nanti untuk dikerjakan.
'Menyusahkan!' batin Renji yang masih berjalan menuju kamarnya.
Setelah sampai dikamarnya dan menaruh lembar kertas kerjanya tersebut, ia langsung keluar menuju kamar Rukia. Hanya sekedar ingin melihat keadannya saja.
Kini Renji sudah berada didepan pintu kamar Rukia, ''Rukia, aku ma-'' Renji membulatkan matanya sempurna, ia tak tahu apa yang harus ia katakan saat ini. Perasaanya sungguh berkecamuk didalam dada.
Pintu yang tak ia buka lebar itu menampakkan Ichigo didalamnya yang tiba-tiba saja jatuh kearah Rukia saat saling menarik selimut dan akhirnya saling menindih satu sama lain.
Cukup lama Renji terdiam dalam keadaan tersebut, ia seperti ingin mengeluarkan amarahnya namun tertahan entah kenapa.
Terlihat disana mereka berdua sedang membicarakan sesuatu, walaupun Renji sudah memasang telinganya lebar-lebar namun masih saja tak terdengar apa pun.
Tak lama kemudian terlihat mereka berdua bangun dari posisi masing-masing, dan tak lama kemudian itu juga tiba-tiba Rukia memeluk Ichigo.
Renji semakin membantu ditempat. Perasaanya semakin berkecamuk. Sama seperti Ichigo, Renji tidak begitu memahami perasaanya kepada Rukia yang seperti ini sekarang. Karena yang telah diyakini Renji, ia hanya menganggapnya seperti sesuatu yang berharga, namun sesuatu yang berharga seperti apa dia masih belum dapat memastikannya. Entah itu sebagai teman, sahabat, adik, orang yang disayangi, orang yang disukai atau seseorang yang dicintai...
Kaget ketika melihat Ichigo membalas pelukan Rukia, tangannya yang sempat bertumpu pada kenop pintu itu kini berayun menyentuh dadanya yang merasakan perasaan aneh tengah bergejolak.
'Aku ini... Kenapa?' renji bertanya pada dirinya sendiri.
Sempat lama dalam diam seperti itu sampai ia tak menyadari Ichigo kini tengah mengambil langkah menuju arah pintu dibaliknya. Buru-buru saja ia menutup pelan pintu itu, dan karena masih bingung apa yang harus dia lakukan akhirnya dia malah memilih diam ditempat sampai Ichigo kini telah membuka pintu dan berada dihadapannya.
end of flashback
Renji memejamkan matanya, mencoba menghapus apa yang telah ia ingat barusan sambil menarik nafas dalam-dalam. Saat ia sudah merasa lebih baik ia buka kembali kedua matanya dan pandangannya masih terarah pada Rukia, ''Selamat malam, Rukia.'' tangan Renji menyampirkan poni Rukia yang sempat menutupi wajah cantiknya.
Tak lama setelah itu, ia beranjak dari kamar Rukia menuju kamarnya. Hari ini ia berniat lembur karena teringat setumpuk kertas kerja yang menanti disana belum sempat terselesaikan setengah. Jika tidak buru-buru dikerjakan mungkin kaptennya bisa murka. Dia juga tidak mau mengecewakan kaptennya dengan kinerja Renji yang buruk selama menjadi wakil kapten.
... ... ...
Disebuah rumah kecil yang hanya dihuni oleh seorang anak perempuan manis ini nampak terlihat gelap.
Terlihat disudut kamarnya, terdapat sedikit cahaya menyala yang dikeluarkan dari ponsel miliknya.
Kamar yang begitu sunyi itu menggemakan suara tombol ponsel miliknya yang tengah ia tekan-tekan.
''Aku kirim atau tidak yah?'' si anak perempuan itu bertanya pada dirinya sendiri. Nampaknya ia ragu untuk mengirimkan pesan yang sudah ia tuliskan untuk seseorang.
''Hhh~'' akhirnya dia malah menenggelamkan kepalanya, ''Kurosaki...'' ia berbisik kecil.
... ... ...
Pagi ini tak secerah biasanya, awan yang terlihat mendung semakin tidak mendukung cuaca. Seharusnya minggu pagi ini dapat dilalui dengan semangat karena adanya sinar hangat matahari yang menemani diatas sana.
''Loh? Tumben Ichigo-nii sudah bangun?'' tanya Yuzu ketika melihat kakaknya turun dari tangga.
''Ya, hari ini aku mau pergi lagi Yuzu.'' jawab Ichigo yang terlihat tengah mengalungkan handuk dilehernya.
''Pergi lagi? Kemana?'' tanya Yuzu.
''Hm... Kerumah teman, kakak mandi dulu ya.'' kemudian Ichigo menuju kamar mandi.
Tak lama kemudian Ichigo yang sudah mandi pun menuju dapur, mencoba mencari sesuatu yang segar untuk diminum.
''Yuzu hari ini tidak masak?'' tanya Ichigo yang baru menyadari Yuzu sedang asik menonton tv. Biasanya jam segini ia sudah kerepotan sendiri menyiapkan makan pagi untuk keluarganya.
''Tidak, makanan yang semalam masih ada sisa banyak dan barusan sudah aku hangatkan.'' jawab Yuzu tanpa memalingkan matanya dari acara tv yang sedang ia tonton.
''Oh, begitu~'' kemudian Ichigo berjalan menuju ruang tamu tempat dimana Yuzu berada, ''Nonton apa? Seru sekali?'' tanyanya.
''Ini kak Little Chappy, lucu sekali! Hehehe~'' Yuzu terlihat sangat senang menyaksikan acara tersebut.
Ichigo pun duduk disamping Yuzu sambil meneguk jusnya yang baru ia ambil tadi, ''Acara apa? Aku belum pernah lihat...''
''Baru tayang perdana hari ini~'' Yuzu masih terlihat serius menonton acara tv tersebut, padahal biasanya satu pertanyaan bisa dijawab panjang lebar olehnya.
Ichigo melirik Yuzu, terlihat disana betapa senangnya Yuzu ketika melihat banyaknya kelinci-kelinci yang bermunculan diacara tv tersebut. ketika melihat hal itu Ichigo menyunggingkan senyumnya, 'Dasar'.
Mencoba mengetahui apakah yang tengah disuguhkan dalam acara tersebut, yang terjadi malah ia ingat dengan Rukia yang sama-sama menyukai Chappy juga.
Teringat hari ini akan datang pagi-pagi kerumah Rukia eh... Lebih tepatnya rumah teman-teman Shinigaminya, ia menggerakkan kepalanya melihat jam berapa sekarang. Dan ternyata itu pukul 7 pagi.
''Ayah belum bangun atau sudah ke klinik, Yuzu?'' tanya Ichigo.
''Ayah masih tidur, hari ini ayah ke klinik agak siang.'' jelas Yuzu.
''Kalau begitu aku pergi sekarang yah. Katakan pada yang lain jika sudah bangun nanti yah Yuzu.'' Ichigo bangun dari duduknya, namun baru saja mau melangkahkan kaki Yuzu sudah mengajukan pertanyaan lagi.
''Sepagi ini Ichigo-nii? Dan berpakaian seperti itu?'' Yuzu melihat Ichigo dari bawah hingga atas dimana Ichigo hanya mengenakan kaus dalam bertangan buntung dan celana pendek.
''Tentu saja tidak, justru kakak mau berganti pakaian dulu baru pergi. Dan kalau tidak pergi sekarang bisa macet, ini kan hari minggu.'' jelas Ichigo sambil berjalan menuju kamarnya untuk mengganti pakaian.
... ... ...
Sebuah keuntungan bagi Ichigo Kurosakiーyang kini telah berada ditempat tujuannyaーdatang pagi-pagi, karena disaat-saat terakhir ia sempat terjebak macet dan itu hanya berlangsung selama 10 menit saja.
Kini Ichigo berada didepan gerbang sebuah rumah tujuannya. Tak mau berlama-lama ia segera mencari bel pintu dan kemudian menekannya. Halaman yang luas nampaknya tak membuat suara bel pintu tersebut tak terdengar dikedua telinga Ichigo.
Setelah memencetnya beberapa kali, muncullah Rangiku yang langsung berlari menuju gerbang ketika mengetahui itu adalah Ichigo.
''Pagi sekali Ichigo. Masuklah!'' Rangiku menuntun Ichigo masuk kedalam rumah tersebut.
''Ya, kalau siang pasti macet.'' Jawab Ichigo yang menyamai langkah kakinya dengan Rangiku sekarang.
''Begitu ya, apa kau sudah makan? Datang sepagi ini aku rasa kau belum makan.'' pertanyaan kedua dari Rangiku.
''Hahaha~ Kau benar sekali Rangiku,'' Ichigo tertawa garing ketika mendengar tebakan dari Rangiku.
''Kalau begitu pas sekali! Kau ikut makan bersama kami saja, hari ini makanannya dimasak oleh Rukia loh! Dan aku juga membantu~'' ujar Rangiku penuh semangat dan bangga.
''Rukia memasak?'' Ichigo sedikit tidak percaya dengan perkataan Rangiku yang baru saja ia dengar.
Rangiku melihat kearah Ichigo, ''Iya! Memang kenapa?'' tanya Rangiku.
''Memangnya dia bisa masak?'' Ichigo kebingungan.
''Hm~ Kau akan semakin tidak percaya setelah mencicipinya nanti,'' Rangiku tersenyum.
Setelah berjalan menyusuri setiap ruangan yang ada, akhirnya sampailah mereka diruang makan dan semuanya telah berkumpul disana.
''Semua! Ichigo datang!'' kata Rangiku sambil berjalan menuju meja makan.
''Pagi semua,'' sapa Ichigo.
''Pagi~'' semua menjawab sapaan Ichigo dengan semangat pagi.
''Ayo bergabung! Jangan malu-malu.'' ucap Momo yang melihat Ichigo hanya diam saja, mungkin merasa sedikit malu dan tidak enak.
''Dia itu mana punya malu~'' Renji mencoba membuat lelucon dipagi hari dan sukses membuat beberapa orang disana tertawa kecil.
Ichigo kemudian berjalan menuju kursi kosong yang tersedia lalu menempatinya. Ia duduk diapit oleh Toushiro disebelah kiri dan Ikkaku disebalah kanannya.
Setelah duduk ia mengedarkan pandangannya kesegala kursi meja mencari sosok yang sangat ingin ia temui hari ini.
Sudah melirik sana-sini namun tak ia temukan. Hanya ada kejanggalan dimana ada satu kursi kosong yang belum ditempati dan itu tepat dihadapannya.
Rangiku yang menyadari gerak-gerik Ichigo sedari tadi langsung saja menggodanya, ''Mencari siapa Ichigo? Hm?'' Rangiku tersenyum jahil kearahnya.
Yang lain langsung melihat kearah Ichigo. Ichigo yang menjadi pusat perhatian itu jadi malu dan merutuki perbuatannya sendiri.
''Maaf lama, Rangiku-san seharusnya kan kau membantuku membawa ini.'' Rukia kini telah datang membawa dua buah panci berukuran besar yang ditumpuk, didalamnya terdapat kuah kaldu.
''Oh iya aku lupa! Maaf Rukia-chan, sini aku bantu!'' Rangiku cepat-cepat beranjak membantu Rukia membawakan bawaannya yang terlihat berat.
''Terimakasih, ada yang bisa membantuku mengambil kompor kecil didapur untuk panci-panci ini?'' tanya Rukia sambil berjalan menuju meja makan.
''Biar aku,'' setelah menyodorkan diri, Renji bergegas memenuhi perimintaan Rukia.
''Eh? Hai Ichigo,'' Rukia baru sadar bahwa Ichigo sudah datang dan berada tepat didepannya saat ini.
''Yo, Rukia.'' sapaan khas yang selalu Ichigo keluarkan didepan Rukia.
''Ehm~'' Rangiku kembali menggoda Ichigo, sukses saja hal itu membuat Ichigo sedikit kesal dengan perlakuan teman Shinigaminya yang hari ini terlihat aneh.
''Wah! Hotpot yah? Kelihatannya enak!'' ujar Kira yang sudah tidak sabar menyantap makan paginya.
''Kompornya sudah datang!'' teriak Renji.
''Wah! Hari ini sepertinya makan besar sekali yah?'' ucap Hisagi bersemangat.
Rukia yang dibantu Rangiku kini tengah sibuk memasukan berbagai macam sayuran dan daging kedalam panci hotpot yang lumayan besar. Acara makan pagi hari itu berlangsung begitu meriah. Terlihat seperti tengah mengadakan pesta ulang tahun kecil-kecilan, walaupun sebenarnya tidak ada yang berulang tahun saat itu.
Terlihat diatas meja makan masih terdapat bahan-bahan makanan yang belum dimasukan kedalam panci, karena pancinya tidak muat menampung makanan yang telah dihidangkan. Memang anggota Shinigami disana cukup banyak ditambah dengan satu anak laki-laki dari dunia manusia, jumlah mereka masih kalah banyak dengan makanan yang tengah dihidangkan didepan mata.
Suasananya tidak begitu canggung meskipun disana terdapat 2 kapten yang pendiam dan tetap stay cool dalam situasi dan kondisi apapun. Bahkan Ichigo merasakan sedikit dari suasana saat ini sangat mirip sekali ketika ia sedang bersama teman-teman sekolahnya.
... ... ...
''Aku selesai. Terimakasih atas makanannya.'' Byakuya meletakan sumpitnya, kemudian ia beranjak.
''Kurosaki, kalau sudah selesai temui aku diruanganku.'' kata Byakuya sembari terus berjalan.
''Aku saja tidak tahu dimana ruanganmu Byakuya,'' Ichigo menjawab.
''Renji nanti kau antar dia keruanganku.'' masih sambil berjalan ketika Byakuya mengatakan hal tersebut.
''Baik, Kapten!'' Renji menjawab dengan tegas.
''Hhh~ Dia itu sama sekali tidak ada yang berubah,'' Ichigo bergumam sendiri ketika Byakuya sudah tak terlihat lagi diruangan tersebut. Namun gumamannya cukup sampai ditelinga para Shinigami yang tengah berada disana dan kini tengah melihat kearahnya.
Sadar tengah ditatap seperti itu, Ichigo jadi bigung sendiri, ''Ada apa?'' tanya Ichigo.
''Tidak,'' kata Ikkaku yang lanjut meneruskan acara makan paginya, diikuti dengan yang lain.
''Kau sudah merasa baik Rukia?'' tanya Ichigo tak lama kemudian.
Rukia yang duduk berhadapan dengan Ichigo langsung saja menjawab, ''Ya,'' sambil tersenyum tipis kearah Ichigo.
Renji yang duduk disamping Rukia pun mulai mengedarkan pandangan kearah Ichigo kemudian beralih ke Rukia, dan begitu seterusnya. Terlihat sekali Renji sepertinya tidak ingin melewatkan sedikitpun expresi wajah keduanya.
Setelah Rukia menjawab pertanyaan Ichigo dengan begitu singkat, ia langsung melanjutkan aktivitas makannya.
'Hanya begitu saja?' batin Ichigo yang masih menatap Rukia didepannya.
Renji masih melihat Ichigo diam-diam, ''Hei, kalau tidak cepat makannya nanti Kapten akan lama menunggumu Ichigo.'' ujar Renji.
''Ah! Iya,'' Ichigo pun langsung menghabiskan makanannya.
Tak lama kemudian, ''Aku selesai, Renji antarkan aku sekarang.''
''Baiklah~'' Renji yang juga telah selesai dengan makanannya pun langsung menuntun Ichigo menuju ruangan pribadi bagi para Shinigami saat hendak mengadakan rapat.
... ... ...
Terdengar suara sebuah pintu bergaya jepang telah digeser oleh Renji, ''Kapten, Ichigo ada disini.''
''Masuklah.'' jawab Byakuya.
Kemudian Renji membawa Ichigo masuk kedalam ruangan tersebut, ''Ada yang ingin aku bicarakan berdua denganmu, Ichigo.'' Renji yang mengerti maksud perkataan Byakuya itu pun meninggalkan Ichigo dan Kaptennya kemudian berjalan keluar ruangan.
Setelah melihat Renji keluar Byakuya tak mau berbasi-basi, ''Saat ini Rukia tengah terjebak dalam posisinya, Kurosaki...''
TBC
Gomen sebelumnya karena harusnya dari awal saya menjelaskan ini, Hihihi~
Bagi yang sempat murka karena pas baca koq RenRuki mulu maaf yah maksudnya author selama Rukia hilang ingatan mau dibuat slight dulu *hanya sementara* dan slight-nya itu pun ada tujuannya, jadi bukan secara disengaja.
Ini tetap fic IchiRuki koq tenang dulu yah jangan kecewa, karena alasan author buat RenRuki itu untuk menyadarkan perasaanya Ichigo, bukan untuk apa-apa~ ^_^
Dan maka dari itu untuk berjaga-jaga author mau menyampaikan nanti ga cuma sekedar slight RenRuki, selama Rukia hilang ingatan akan ada slight dengan yang lain lagi dan semua itu karena ada 2 tujuan, yang pertama untuk mengembalikan ingatan Rukia dan yang satu lagi tebak sendiri *kan tadi udah ada kata kuncinya*, Hahaha~ ^_^v
Anyway, author bukan bermaksud tega membiarkan Ichigo dibakar api cemburu tapi memang lebih kearah tidak ingin merubah karakter Ichigo yang secara real dianime Bleach itu sendiri, maksudnya begini :
~ sejauh yang saya tangkap tiap nonton Bleach, Ichigo itu sebenarnya perhatian sama Rukia tapi terkadang dia itu ga sadar sebegitu perhatiannya dia ke Rukia itu ''untuk apa'' dan ''apa artinya'',
~ sejauh yang saya tangkap lagi *Hehehe* Ichigo itu tipikal cowok yang kurang pandai mengartikan dan menyadari perasaan apa yang dia rasain sendiri,
~ Maka, munculnya RenRuki ini sebenarnya lebih mau memancing perasaannya Ichigo supaya dia lebih peka dan lebih sadar sama perasaannya sendiri... Begitulah kira-kira~
~ memang sementara Rukia hilang ingatan agak slight RenRuki dulu yah, soalnya kan memang yang Rukia ingat dan paling deket sama Rukia itu kan Renji. dalam tanda kutip ''teman semasa kecil'' ,
Semisalkan kita ada diposisi Rukia yang hilang ingatan kan pastinya kita agak risih dengan orang-orang yang asing menurut kita, meskipun pada kenyataannya orang-orang tersebut merupakan salah satu orang yang deket sama kita dulunya.
~ karena faktor Rukia hilang ingatan pula lah karakter Rukia disini jadi ooc dan menimbulkan kesan RenRuki-nya terlalu menonjol.
Jujur saja sebenernya author juga sedih koq karena Ichigo-nya agak pasif karena Rukia hilang ingatan, dan saya sendiri jadi membuat adegan RenRuki~ T_T
tapi memang itu sebagian dari konsep cerita, ^_^
Sekali lagi karena fic ini kan diadaptasi dari terusannya kisah real Bleach yang ceritanya author ubah sudah selesai, maka saya mencoba supaya tidak mengubah karakter mereka terkecuali Rukia yang sekali lagi sedang hilang ingatan, ^_^
Sebagai contoh konkrit dari keseluruhan penjelasan saya diatas mengenai Ichigo yang kurang peka terhadap perasaannya adalah :
1.) sewaktu Rukia pergi dari rumahnya berniat kabur dari incaran sang kakak Byakuya dan sang sahabat Renji, Rukia sempat menuliskan pesan buat Ichigo bahwa dia akan pergi dan jangan mencarinya, kon yang sewaktu itu panik dan menyuruh Ichigo mencarinya malah cuek begitu saja, dan pada akhirnya karena yang memang dirasain dalam dirinya sendiri itu khawatir sama Rukia akhirnya dia mencari Rukia kan? Sampai belai-belain mempertaruhkan diri melawan Byakuya, mencoba membawa pulang Rukia kerumah supaya tidak dibawa oleh Renji dan Byakuya, berlatih keras biar menjadi lebih kuat buat mengalahkan Byakuya dan hingga akhirnya menyelamatkan Rukia dari eksekusi.
Begitu juga waktu dimovie-nya yang ke-3..
semoga dari atas sampai dibawah sini dibaca semua yah, soalnya benar-benar penting! ^_^
Pada akhirnya Ichigo dan Rukia...
Kalian sendiri yang menebak, karena author mau seperti Tite Kubo yang misterius soal hubungan IchiRuki~ *lohh* v^_^v Hahaha~
Arigatou atas segala masukannya yah semua yang review! Diterima dengan senang hati~ ^_^
nb : waktu itu sempet janji dichapter ini akan lebih dipanjangkan ceritanya karena permintaan adegan Ichiruki-nya, tapi pada kenyataannya malah saya bikin part.1 dan 2 soalnya kalau dilakukan bener-bener panjang sekali. ,
Terus adegan Ichiruki-nya juga gomen yah kalo masih kurang memuaskan! ,
mau terimakasih nih sebelumnya buat 12Wi3nter atas segala sarannya, akhirnya semua saran anda mengenai gaya tulisan dific ini saya ubah juga. Dan buat shia naru atas pengertiannya dific saya, terimakasih.
Terimakasih juga buat para Readers berikut yang sudah me-Review yang sudah menyempatkan waktu untuk membaca fic abal saya ini.
Arigatou sekali lagi yah buat kalian... ^^
Buat yang lain tetep Review dan kasih kritik, saran serta masukan yah. Review, kritik, saran serta masukan yang dianggap menarik dan membantu author bakal saya masukkan kedalam daftar 'Terimakasih' diakhir cerita! *ditimpuk* wahahaha~ ^_~
Review
