Disclaimer : 'Bleach' milik Tite Kubo. Fanfic ini milik author.
WARNING : AU, OOC, gaje, jelek, pemula.
untuk angin yang selalu menemaniku
cerita ini kupersembahkan untukmu
BAGIAN #2
Entah nasib baik apa yang membayangi tubuh kurus Ichigo Kurosaki. Byakuya Kuchiki, sebagai Raja yang baru tidak memberlakukan hukuman mati untuk dirinya. Ia hanya dikembalikan ke dalam selnya yang lama. Walaupun Rukia menangis pada kakaknya, meminta alasan yang logis kenapa ia hanya menghukum sebatas itu saja. Tapi Byakuya hanya diam membisu. Tidak menggubris sama sekali rengekan adiknya.
Ichigo yang saat itu hanya bisa dengan pasrah menerima hukumannya, walaupun ia sangat gatal ingin melakukan harakiri. Hidup atau mati sama saja baginya saat ini. Itu yang aku lihat lewat tatapan matanya yang dingin.
Bahkan lewat desahan nafasnya, aku bisa merasakan bahwa ia enggan untuk hidup. Dia lebih memilih mati saat ini… aku yakin akan hal itu. Caranya menghirup udara di sekelilingnya, seolah-olah dia benci bisa melakukannya.
Aku paham, pasti anak itu merasa apa gunanya hidup jika seseorang yang bisa membuat dia merasa 'hidup', kini malah membencinya? Dan bahkan selalu menatapnya dengan bengis, dengan penuh rasa dendam dan benci. Iris violet yang selama ini penuh dengan kebahagiaan sudah lenyap, digantikan dengan iris ungu gelap yang seakan tengah menanggung beban kehidupan yang berat.
Tuhan… bisakah belaianku kini menahan amarah yang menggelora dalam tubuh Rukia? Atau sekedar menghibur dirinya yang tengah dilanda kesepian itu?
Sudah tujuh tahun berlalu sejak kekuasaan raja Byakuya Kuchiki. Kemudian laki-laki itu meninggal. Dia meninggal tepat saat kerajaan itu akhirnya kembali Berjaya seperti zaman ayahnya memimpin dulu. Kini kekuasaan berada di tangan adiknya yang manis, Rukia.
Sejak saat itu, gadis tersebut sudah tumbuh jauh lebih baik. Tapi sikapnya jadi benar-benar berubah, ia banyak berlatih ilmu pertahanan diri dan banyak belajar bagaimana memimpin sebuah kerajaan. Jadi setelah kakaknya tak ada, ia sudah sangat siap memimpin kerajaannya di usianya yang baru beranjak tujuh belas tahun ini.
Aku tidak tahu bagaimana kabar Ichigo beberapa tahun belakangan. Aku hanya mengikuti langkah kaki tuan putri, mengikuti kibar kimono yang ia kenakan. Dia jadi gadis yang sangat anggun. Padahal waktu kecil dulu, ia lebih suka mengenakan Yukata sederhana seperti yang digunakan pelayan-pelayan kecil yang ada di istananya. Aku suka kesederhanaannya itu. Tapi tidak mungkin dia berpakaian seperti itu lagi setelah menjadi Ratu, bukan?
Kalau saja Ichigo melihatnya saat ini, ia pasti akan semakin mencintai sang putri. Namun, rasa bersalah pasti membuatnya ingin membunuh rasa cinta itu. Sudah terlalu banyak kisah yang aku dengar dan aku lihat. Ichigo… Aku paham bagaimana perasaanmu saat ini. Perasaanmu di dalam sel yang dingin itu, dimana kau merasa hukuman tersebut masih kurang pantas untukmu.
Dihari pertama masa jabatannya, setelah penobatan tentunya. Hal pertama yang dilakukan sang putri membuatku terkejut. Apa secepat ini ia ingin mengakhiri rasa dendam di hatinya?
"Bawa Ichigo Kurosaki kemari," titahnya tegas.
Mati di tangan orang yang kau cintai… pasti akan sangat membuatmu bahagia… Jadi apa hanya akan sampai di sini kisahmu, Kurosaki? Aku pasti akan menghiburmu nanti di tiang gantungan, atau di tempat pemenggalan. Aku akan berada bersamamu di saat-saat terakhir.
Tuhan… izinkan aku untuk membuatnya tersenyum untuk terakhir kalinya nanti.
Ichigo datang ke hadapan sang Ratu tanpa berani mengangkat wajahnya. Aku melihat gelang ditangannya sudah tidak ada lagi.
"Apa kau ingin bebas?" Tanya Rukia. Dalam dan tegas.
"Apakah hamba pantas mendapatkan pembebasan?" balas Ichigo dengan rendah diri. Aku nyaris merasakan dia menempatkan dirinya sebagai mahluk paling hina di muka bumi.
"Apa yang paling kau takutkan di dunia ini?"
"Terus berada di dalam sel," jawab Ichigo.
Tentu saja. Sel yang dingin dan gelap itu pasti membuatmu hampir gila. Dulu waktu kecil, kau memiliki Rukia yang menyadarkanmu, bahwa sebenarnya kau masih hidup. Tapi saat tak ada Rukia, tidak ada yang menyadarkanmu bahwa kau masih hidup. Ruangan itu pastinya mengunci kesadaranmu, membuatmu tak bisa membedakan entah dirimu masih hidup atau mati. Kalaupun hidup, kau pasti merasa tidak pantas. Jika mati, kau pasti nelangsa menunggu siksaan kuburmu yang tak kunjung datang padahal kau sudah banyak berbuat dosa.
Rukia terdiam sejenak. "Aku akan membebaskanmu. Pergilah dari istana ini, berlari sejauh mungkin. Aku akan mengirimkan beberapa prajurit untuk mengejarmu, kalau kau tertangkap. Kau akan aku kembalikan ke dalam sel. Tapi kalau kau berhasil lolos sampai aku menyerah mengejarmu, kau bisa hidup bebas di luar sana. Tapi ingat, kau tidak boleh membunuh prajurit yang mengejarmu, kau hanya perlu melukai mereka. Kau harus melukai mereka."
Ichigo terperangah. "Maafkan aku Yang Mulia. Sebenarnya aku mengharapkan hukuman mati."
"Aku tidak akan mengampunimu kalau aku tahu setelah berada di luar sana nanti, kau memutuskan untuk sengaja mengakhiri hidupmu."
"Tapi yang mulia…" Ichigo mendongak, meminta belas kasihan sang Ratu.
Rukia menatap mata Ichigo dengan tajam. "Aku tidak menerima negosiasi."
Sungguh. Aku benar-benar terkejut. Entah bagian apa dalam hidup tuan putri ini yang telah aku lewatkan. Tapi sepertinya bagian yang benar-benar penting, hingga ia pun kini mengambil keputusan seperti ini.
Seharusnya saat ini, si rambut oranye dihukum mati. Menilik dari rasa dendam yang Rukia pendam dalam hati selama ini, seharusnya itulah yang terjadi. Apa mungkin rasa cinta itu mengalahkan rasa dendam di hatinya?
Tuhan… bisakah aku sedikit berharap akan akhir yang bahagia?
Lalu begitulah yang terjadi. Saat tak ada satupun awan yang menggantung di langit malam itu. Ichigo dibiarkan berlari meninggalkan Istana yang selama ini mengurungnya. Ia berlari dengan kencang di bawah bulan purnama dan para bintang yang bersinar dengan cerah. Aku mengikutinya, mengintipnya di balik dedaunan. Sekedar menimbulkan suara gemerisik di tengah suara nyanyian jangkrik.
Sudah lama juga aku tidak bermain ke hutan dan bernyanyi bersama para hewan. Rupanya aku cukup merindukan dunia luar. Tapi apa remaja berambut oranye ini juga sama rindunya sepertiku?
Sekitar setengah jam kemudian, dia mendapatkan serangan pertama. Seorang prajurit tiba-tiba saja muncul dan hampir menebas kepalanya. Sang Ratu benar-benar tega, dia tidak memperbolehkan Ichigo membunuh prajuritnya dan bahkan melarangnya membawa senjata. Namun ia memperbolehkan para prajurit yang mengejar memenggal kepala Kurosaki.
Tapi insting Ichigo rupanya sangat bagus, dengan sigap ia berhasil menghindar dan mengalahkan penyerang pertama. Terus saja begitu, sampai tidak terasa sudah ada tiga puluh orang yang ia kalahkan. Nafasnya sudah mulai kelelahan, dari suara terengah yang ia timbulkan, bisa aku pastikan bahwa ia tengah kehausan.
Sayup-sayup aku bisa mendengar suara aliran sungai, Ichigo juga pasti mendengarnya. Pemuda itu kini berjalan menuju suara air tersebut. Namun di tengah jalan, seseorang menghalanginya.
Berbeda dengan prajurit yang lain. Kali ini penyerangnya lebih mirip ninja, seluruh wajahnya tertutup. Dan badannya sangat kecil. Apa sang Ratu tega mengirimkan anak kecil untuk melawan Kurosaki?
Benar saja, beberapa kunai dilontarkan oleh ninja tersebut. Ichigo berhasil menghindar. Tiba-tiba saja bulan tertutup oleh awan. Tapi Ichigo tetap bergerak. Mungkin karena sudah lama berada di kegelapan ia jadi terbiasa melihat dalam gelap.
Namun rupanya ninja itu juga tak kalah hebatnya, ia tiba-tiba saja menendang punggung Kurosaki hingga laki-laki itu terjatuh.
"Aku merasa kau adalah lawan terakhirku," ujar Kurosaki sambil tersenyum. "Kalau begitu, aku akan cepat mengakhirinya."
Tapi rupanya semuanya tidak berjalan sesuai keinginan Ichigo. Pertarungan berlangsung alot, kebanyakan ninja kecil itu yang berhasil melukai tubuh Ichigo. Anehnya, Ichigo sama sekali tidak berhasil melukainya. Si rambut oranye yang sudah mulai sadar situasi, akhirnya berlari menjauh. Dia memutuskan untuk mencari tubuh lawan sebelumnya yang tengah pingasn dan mengambil pedang yang mereka gunakan. Dan Ichigo berhasil mendapatkannya.
"Tenang… aku tidak akan membunuhmu, punggung pedang ini pasti tidak akan sakit."
Si ninja kecil tidak berkata apa-apa, tapi ia mengeluarkan pedang yang semula berada di punggungnya, pedang pendek yang hanya seukuran lengannya. Sejak saat itulah pertarungan sengit terjadi, dentingan pedang semakin menambah riuhnya melodi alam.
Aku tahu, pasti Ichigo yang akan menang. Saat akhirnya anak itu berhasil melemparkan pedang pendek milik si ninja dan memojokkannya di batang pohon dengan ujung pedang mengarah ke matanya.
"Aku menang," ujar Kurosaki puas. "Pergilah dari sini."
Tapi si ninja menggeleng. Ichigo pun tersenyum. "Aku ingat. Aku harus melukaimu."
Ichigo bersiap menebas perut anak itu dengan punggung pedangnya, tapi ia segera terlontar ke belakang saat itu juga. Seperti ada kekuatan yang menghalangi dia untuk melukai orang yang ada di hadapannya.
Si ninja kecil tersenyum. Lalu melepas kain yang menutup wajahnya.
Rukia Kuchiki berdiri di bawah sinar bulan.
"Sekarang… pergilah dari sini, dan mulailah hidup normalmu," ujar sang Ratu sinis.
Tuhan… sihir apa yang baru saja aku saksikan ini?
Aku pergi bersama Ichigo, dan sesekali mengunjungi Istana untuk melihat keadaan gadis bermata violet. Ichigo memulai kehidupan 'manusia'-nya dan tinggal di pinggir pegunungan. Ada seorang kakek-kakek yang bersedia menampung hidupnya, asalkan ia mau bekerja untuk kakek tersebut.
Sedangkan Rukia di Istananya mulai mendapatkan beberapa cobaan di umurnya yang ke Sembilan belas. Dia dianggap tidak bisa lagi memimpin kerajaan, kemungkinan besar kudeta akan terjadi lagi. Seandainya aku bisa berbisik kepada gadis itu siapa yang mengkhianatinya, aku pasti akan memberitahunya dengan jelas. Bahkan segala detail rencana busuk pengkhianat yang siap membunuhnya.
Selain dibantu oleh Ichigo, kakek Yamamoto –nama kakek yang menampung Ichigo, dia juga mempunyai seorang cucu yang membantunya sehari-hari. Namanya Orihime Inoue. Aku cepat sekali mengetahui bahwa gadis ini dari awal sudah tertarik dengan Ichigo. Terkadang aku benci melihat tingkah genitnya yang sengaja mengumbar pesona buah dadanya di hadapan Ichigo. Aku berani bersumpah ia sengaja membusungkan dadanya setiap berada di dekat Ichigo.
Apa dia tidak tahu bahwa gadis yang dicintai oleh Ichigo hanya Rukia Kuchiki?
Kudeta kembali terjadi. Rukia tidak cukup memiliki kewibawaan seperti kakak dan ayahnya, sehingga hanya sedikit orang yang mau membantunya. Ichigo yang tinggal di pedalaman tidak tahu menahu tentang kejadian yang tengah terjadi di dalam istana.
Aku, dengan campuran rasa penasaran dan kasihanpun malam ini memutuskan untuk membuntuti si gadis pembuat kue. Tapi rupanya ia diam di dalam ruang kerjanya sambil menulis puisi dengan tenang, tidak tampak rasa takut dalam wajahnya. Bahkan ketika sayap kanan istananya sudah terbakar api. Korban yang berjatuhan tidak terlalu banyak, karena tidak banyak yang mau mengorbankan nyawanya untuk sang Ratu. Dasar prajurit tidak tahu diri.
Aku ingin sekali mengajak sang Ratu pergi dari tempat itu, dan membawanya terbang menuju kediaman Ichigo. Tapi aku yang hanya segumpal angin ini pastinya tidak akan kuasa mengangkat badan mungilnya. Aku hanya bisa berdesah sedih bersama dedaunan di samping kediaman kerjanya.
"Wahai angin… jangan bersedih," ujarnya tenang, lebih kepada diri sendiri. "Mereka yang telah mengorbankan nyawanya untukku, akan dikirim Tuhan ke Surga. Jangan sedih karena kau harus menguar aroma anyir ini ke seluruh istana."
Apa aku bisa memegang kata-katamu, Ratu?
Dan saat itu aku melihat Rukia terbatuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Mungkin sudah waktunya," gumamnya.
Beberapa orang yang siap dengan pedang di tangan mereka membuka pintu ruangan dimana Rukia berada. "Apa kau siap mati, Ratuku?"
"Tentu saja. Dan pastinya kalian akan kukutuk bersamaan dengan kematianku," jawab sang Ratu dengan nada sinis.
Mereka yang mendengar ucapan Rukia tertawa. "Setidaknya, kaulah yang akan kukutuk duluan untuk masuk ke neraka." Pria itu berlari ke arah Ratu dan bersiap menebas kepalanya. Tapi Rukia tampak tidak gentar sedikitpun, aku bahkan bisa melihat senyum puas terbingkai di wajahnya.
Entah darimana, Ichigo Kurosaki muncul dan membanting tubuh pria yang berusaha menyerang Rukia. Dengan sigap ia merebut pedangnya, lalu menyerang beberapa orang yang kini menerjang ke arahnya dan sang Ratu.
"Kenapa kau lama sekali?" bisik sang Ratu. Tapi Ichigo tidak mendengarnya.
Malam itu penuh darah. Lengan Ichigo terluka saat ia berusaha melindungi Rukia, luka tebasan pedang yang cukup dalam. Rukia hampir muntah saat menyaksikan beberapa prajurit yang terbunuh di halaman istana.
"Tutup saja matamu, percayalah padaku," bisik Ichigo di telinganya.
Gadis itu menjawab lewat anggukan, lalu menutup kedua matanya. Lagi-lagi ia bergumam lirih, dimana hanya aku yang bisa mendengarnya. "Bagaimana bisa aku tidak percaya padamu?"
Mereka berdua akhirnya bisa keluar dari istana dan menerobos masuk ke dalam hutan. Rukia tidak tergores sedikitpun, sebaliknya Ichigo penuh luka-luka. Tampak beberapa goresan di wajahnya, lalu ada luka tebasan yang berhasil melukai tangan dan kakinya. Dadanya hampir tertebas, tapi rupanya hasil tebasan itu hanya berhasil mengoyak pakaiannya. Sehingga nampaklah gelang pemberian gadis pembuat kue yang tergantung dengan manis di lehernya, gelang yang diikat dengan tali hitam oleh Ichigo.
Mereka berdua kini menyaksikan Istana milik keluarga Kuchiki, hangus dilalap api. Lewat tebing yang jauh dari kota, mereka melihat kobaran api yang menyala-nyala. Persis seperti di malam aku melihat kediaman Ichigo menjadi abu. Apa ini yang dinamakan hukum karma?
Tapi Rukia sama sekali tidak bergeming, ia yang kini tengah berdiri di samping Ichigo menggenggam tangan orang yang berada di sebelahnya itu.
"Semuanya sudah berakhir. Mereka semua akan mati," bisiknya. Dia selalu saja berbicara pada diri sendiri.
Ichigo mengajak sang Ratu untuk duduk. Bermaksud untuk menghibur, ia berusaha untuk membelai rambut gadis itu. Tapi Rukia sama sekali tidak tampak sedih.
Lalu dia pun terbatuk. Batuk-batuk yang hebat, lalu muntah dan mengeluarkan cairan lengket dan berbau anyir.
Darah.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Ichigo panik.
"Tidak apa-apa. Ini hanya efek samping."
"Efek samping?" tanya Ichigo lagi.
"Kematian. Aku terlalu banyak menggunakan kekuatanku."
"Kekuatan?"
"Kau terlalu banyak bertanya." Rukia terkekeh. "Kau pikir kenapa keluargaku bisa menjadi pemimpin negeri selama ini?"
"Karena keluargamu kaya?" jawab Ichigo ragu sambil mengerenyitkan dahinya.
Rukia tertawa. "Itu tidak salah juga sih. Tapi lebih tepatnya karena keluargaku memiliki kekuatan. Kami seperti penyihir."
"Penyihir?" Ichigo semakin tidak mengerti.
"Sihir untuk mengutuk orang lain. Ayahku mengutuk keluargamu sehingga klan Kurosaki tidak akan pernah bisa melukai klan Kuchiki kecuali orang yang bersangkutan yang memintanya."
Mata Ichigo membelalak. "Apa maksudmu?"
"Itulah sebabnya saat kau berusaha melukaiku di hutan, kau tidak berhasil melakukannya. Tapi mengutuk seluruh keluargamu membuat fisik ayahku semakin lemah, dia sudah hampir mati saat kudeta terjadi. Klan Kurosaki yang sudah banyak membunuh bangsawan lain pun, mau tidak mau harus di habiskan oleh ayahku."
"Tapi aku membunuh ayahmu…" pekik Kurosaki. "Maafkan aku."
Rukia tersenyum. "Itu pasti karena ayahku yang memintamu. Bukankah sudah kukatakan tadi, bahwa kalian tidak akan berhasil melukai kami kecuali keinginan yang bersangkutan? Tapi kutukannya tidak hanya sampai di situ. Apabila kau membunuh salah seorang klan kuchiki, maka kau akan jadi pelindung keluarga Kuchiki. Dan itulah yang terjadi malam ini, kau yang entah bagaimana caranya mengetahui aku dalam bahaya, datang untuk menyelamatkanku."
Sunyi. Rukia kembali melanjutkan. "Kakakku pun berumur pendek karena memberi sihir pada saat kami bersembunyi di malam terbunuhnya ayah dan ibu. Sihir agar aku dan dia tidak terlihat, tapi aku mengenyahkan sihir itu dari dalam, sehingga hal tersebut mengacaukan pertahanan diri yang ada di dalam tubuhnya. Jadi dia pun berumur pendek. Seharusnya aku tidak melakukan itu. Tapi dia berkata padaku, bahwa ia tidak merasa marah sedikitpun. Di akhir hidupnya ia bercerita mengenai kebenaran keluargamu. Seharusnya ia tidak cepat mati seperti itu, tapi sihirnya lemah. Di keluargaku, hanya ayah dan aku yang memiliki sihir kuat."
"Dan saat ini kamu mengutuk sesuatu? Maka dari itu keadaanmu jadi seperti ini?" tanya Ichigo sedih.
"Benar, aku mengutuk siapapun yang punya andil di balik runtuhnya kerajaan Kuchiki, maka ia selamanya tidak akan bisa memimpin negeri ini. Itu sihir yang cukup besar, sehingga sepertinya akan menghabiskan nyawaku." Rukia tersenyum menyeringai.
Ichigo memeluknya. "Kenapa kau melakukan hal itu? Padahal kau bisa saja hidup normal bersamaku, di sini."
"Aku… akan menjaga kehormatan keluarga Kuchiki. Begitulah tugasku sebagai salah satu anggota keluarga yang terhormat."
"Kenapa kau menceritakan semua ini padaku?" tanya Ichigo.
"Aku berhutang penjelasan padamu," jelas Rukia. "Banyak yang pastinya kau pertanyakan, bukan?"
Ya. Aku tahu, Ichigo memang selalu mempertanyakan kenapa kau melepasnya. Kenapa Byakuya tidak menggantung lehernya.
"Aku melindungimu, bukan karena sihir," gumam Ichigo. "Tapi karena aku mencintaimu."
Aku membelai rambut Rukia Kuchiki yang kini tengah memandang jauh ke dalam bola mata Ichigo Kurosaki. Seandainya saja aku cukup kuat untuk mendekatkan wajah mereka agar bibir mereka bisa saling bertaut.
"Itu semua karena sihir," kata Rukia sambil tersenyum. "Tapi, aku juga mencintaimu. Benar-benar memalukan, saat sang putri jatuh cinta pada tahanan yang kelihatan sangat kumal dan kumuh." Gadis itu terkekeh.
Raut wajah Ichigo tidak berubah, ia tidak mau menanggapi candaan Rukia. "Kau bodoh sekali… kenapa kau harus meninggalkanku sekarang? Harusnya kita bisa hidup bersama."
"Tentunya kita bisa," bisik Rukia sambil mendekatkan bibirnya ke telinga Ichigo.
"Bagaimana caranya?"
"Rahasia…" Rukia mendekatkan jari telunjuknya ke bibir dan tersenyum jahil. Lalu aku melihat dengan jelas peristiwa aneh. Harusnya itu jadi peristiwa romantis, namun aku sama sekali tidak merasa begitu. Rukia mencium Ichigo dengan lembut, mencium pria berambut oranye yang tatapannya tengah kosong –melayang entah kemana.
Apa dia begitu karena terkejut? Tapi terlalu lama. Tidak ada reaksi sampai Rukia melepaskan bibirnya, dan Ichigo masih saja tampak seperti boneka hidup.
Rukia memegang pipi lelaki berambut oranye tersebut lalu mengelusnya dengan penuh kasih. "Setiap manusia akan bereinkarnasi, Aku dan kau nantinya akan terlahir kembali ke dunia ini. Maafkan aku karena melenyapkan ingatanmu tentang diriku saat ini –begitu pula diriku. Padahal aku berharap saat menutup mata nanti, aku bisa mengenal siapa laki-laki yang berada di hadapanku ini. Tapi semua itu setimpal, ingatan kita nantinya akan terlahir kembali bersamaan dengan reinkarnasi tubuh. Dan kau dan aku nantinya bisa mengingat satu sama lain saat bertemu. Maafkan aku karena mengatakan ini saat kesadaranmu lenyap.
"Walaupun aku memberitahumu saat kau sadar, kau pasti juga akan melupakannya. Dan itu akan lebih menyakitkanku. Apalagi saat aku tahu nanti sihir ini tidak berhasil karena kamu menikahi gadis lain. Tidak boleh Ichigo! Kamu tidak boleh tertarik pada gadis lain atau dikehidupan selanjutnya kita tidak akan bisa bertemu. Jadi aku mohon… walaupun kau tidak bisa mendengar suaraku saat ini, aku minta kepadamu agar selalu mencintaiku sampai ke alam bawah sadarmu. Apa cintamu sebesar itu padaku?"
Aku tertegun, pertanyaan terakhir yang terlontar dari mulut Rukia membuatku sedih. Dan detik itu juga aku ingin meraung sekencang-kencangnya. Saat tubuh gadis mungil itu terjatuh dan terbujur tanpa detak jantung, kesadaran Ichigo kembali menyatu. Dia terkejut saat melihat ada seorang gadis yang tergeletak di hadapannya.
"Ada apa ini?" ujarnya takut-takut. "Kenapa aku bisa ada di sini? Apa aku berjalan sambil tidur? Luka-luka apa ini?"
Dengan segera ia merasakan denyut jantung Rukia. "Nona… apa kau tidak apa-a –"
Raut wajahnya berubah ketakutan. "Sial! Dia sudah mati. Apa yang telah aku lakukan? Apa aku membunuhnya? Luka apa ini?" Wajahnya tampak semakin bingung saat memperhatikan tubuhnya yang penuh dengan darah.
Ichigo yang ketakutan berlari meninggalkan tubuh gadis malang yang sudah tidak bernyawa itu. Aku ingin sekali berteriak memarahinya, tapi aku tidak mampu.
Kenapa kau tega sekali meninggalkannya sendirian, Kurosaki? Bukankah kau sangat mencintainya? Apa kau sudah benar-benar lupa?
Setiap harinya aku hanya bisa mengeluh. Kenapa aku hanya bisa menjadi mahluk bisu seperti ini? Seandainya aku bisa berbicara, aku akan menceritakan pada Ichigo tentang Rukia. Dan aku akan meneriaki gadis berdada besar itu saat berusaha bergenit-genit dengan Ichigo.
Lalu hari ini pun, setelah lima tahun berlalu. Gadis genit itu dengan beraninya melamar Ichigo. Aku tahu Ichigo cukup tertarik dengannya, karena memang wanita yang berada di desa itu sangat sedikit. Apalagi yang memiiki dada besar.
Tuhan… apakah cinta Ichigo dan Rukia akan berakhir?
Aku adalah sang angin. Aku sudah hidup selama berabad-abad dan menyaksikan banyak kisah manusia serta kemajuan peradaban hidup manusia. Dari perjalanan panjang hidupku ini, aku hanya mengingat satu kisah yang begitu menyentuh hati kecilku, hati kecil dari benda tak kasat mata sepertiku ini. Kisah dua manusia yang selalu kutunggu lanjutannya. Apakah mereka akan mengingat satu sama lain?
Dimana mereka akan terlahir kembali? Kalau mereka tidak mengetahui satu sama lain, apa yang akan aku lakukan? Apa aku bisa melakukan sesuatu? Bahkan untuk menjaga Ichigo dari Orihime pun aku tak mampu. Aku hanya berharap, sihir itu masih ada.
Aku berkeliling dunia untuk menemukan reinkarnasi dua jiwa tersebut selama ini. Akhirnya usahaku yang sebelumnya kukira sudah sia-sia –terwujud sudah. Aku menemukan gadis yang sama persis dengan Rukia Kuchiki. Mata violetnya, suaranya, dan rambutnya. Bahkan tinggi tubuhnya pun sama. Kalau bisa, aku ingin sekali tertawa. Rasanya begitu bahagia bisa menemukannya.
Lalu dimana Ichigo?
Sudah setahun aku mengikuti gadis berumur enam belas tahun itu, tapi aku tak kunjung menemukan Ichigo di sekitarnya. Bagaimana kalau sihirnya tidak berjalan? Bagaimana kalau mereka tinggal di dua tempat yang berbeda, dipisahkan oleh samudera?
Tapi aku tak menyerah, aku selalu saja mengikuti gadis itu. Berharap bisa melihat mereka bersatu kembali.
Hari ini adalah hari mekarnya bunga sakura. Aku menemani Rukia pergi hanami bersama teman-temannya. Ia mengenakan gaun berwarna merah muda yang cocok sekali dengan warna yang ada di sekitarnya, kepalanya dipermanis dengan topi bundar berwarna putih. Dia tampak begitu manis, sama persis seperti dulu. Saat aku melihatnya berada di bawah sakura dengan kimononya yang begitu anggun.
Saat ini pun seperti itu, bunga sakura tetap terlihat sama indahnya, begitu pula Rukia. Seandainya saja Tuhan mau berbaik hati menjadikan tempat ini sebagai latar pertemuan kembali dua insan tersebut. Seandainya saja…
Saat aku sedang asyik menggugurkan beberapa helai daun sakura ke atas rambut Rukia, aku tanpa sengaja melihat pria berambut oranye sedang tertawa menanggapi candaan salah seorang temannya agak jauh dari tempat Rukia duduk.
Ichigo Kurosaki tetap terlihat tampan seperti beratus-ratus tahun yang lalu. Ketampanannya semakin jelas terlihat karena perkembangan mode yang sepertinya sangat mendukung ke proporsianalan tubuhnya. Kalau bisa, aku ingin sekali bersorak kegirangan. Tuhan sepertinya mendengar doaku tadi. Mereka akan benar-benar bertemu di sini.
Aku kecewa. Ichigo beranjak dari tempat duduknya, begitu pula teman-temannya. Dia akan pergi sebelum bertemu Rukia. Tidak! Mereka harus bertemu!
Walaupun aku benda tak berwujud. Walaupun keberadaanku seringkali diabaikan. Aku ingin sesekali berguna bagi manusia. Aku ingin berteman dengan mereka, aku ingin mereka mengajakku berbicara walaupun aku tidak bisa membalas perkataan mereka. Aku ingin sekali berguna bagi mereka…
Ada mitos yang mengatakan. Angin bisa menghilang selamanya kalau menggunakan kekuatan mereka terlalu besar. Entah akan menghilang kemana, aku tidak tahu. Mungkin seperti badai yang akan menghilang menjadi udara yang tenang setelahnya.
Apa angin kecil sepertiku berani menghadapi 'kematian' ?
Aku sudah cukup hidup selama beradab-adab. Aku akan sangat senang seandainya nanti mereka akan selalu mengingatku dalam kehidupan mereka berdua. Bahwa sang angin yang menerbangkan topi bundar Rukia lah yang menyebabkan mereka berdua bisa saling memandang dan ingat satu sama lain. Aku hanya berharap sihirnya masih ada walaupun dulu Ichigo tertarik dengan gadis lain dan terus bersama gadis itu. Aku berharap semoga pengorbanan ini tidak sia-sia.
Topi putih itu kini berada di tangan Ichigo setelah kuterbangkan tepat di bawah kakinya, Rukia mungil yang berlari menyusul topinya langsung tertegun saat melihat Ichigo.
Untuk terakhir kalinya sebelum aku merasakan tubuhku tidak bisa bergerak lagi, aku melihat kedua bola mata mereka beradu. Rasanya seperti mereka berdua mengenal satu sama lain padahal baru pertama kali bertemu.
Tuhan… tiba-tiba saja aku tidak ingin pergi. Aku ingin sekali melihat kelanjutannya. Jika aku menghilang nanti, semoga saja aku tidak membawa pergi rasa penasaran akan kelanjutan hubungan mereka berdua.
Tapi sepertinya tidak seperti itu…
"Akhirnya aku menemukanmu." Itulah sayup-sayup suara Ichigo yang kudengar sebelum akhirnya aku menghilang dari muka bumi.
SEPATAH DUA PATAH KATA DARI AUTHOR YANG MANIS (?)
Fiuu, akhirnya tamat~~
Nantikan cerita kedua yang bersudut pandang 'api' oke?
balesan repiew :3 :
- Fany2 wa fany2 desu : makasi banyak yaah..! sebenarnya deg-degan juga nih buat POV orang ketiga, tapi syukurlah hasilnya agak bagus. Salam kenal jugaa
- Corvusraven : siip. Ini ku update! Thanks yaah!
- : ini sapa ya? Gak ada namanya~~ kasi nama dong, biar bisa kupanggil gitu.. oke2? Makasi banyak yaah.. wah konsepnya sih dari awal mau pake sudut pandang angin, maaf yah… tapi memang sih POV orang pertama itu lebih bagus penggambaran feelnya. Makasi ya udah mau baca dan review.
- Wu : makasiii banyaak.
Yang log in, reviewnya aku bales lewat PM yaah… kalau ada yang belum dibales. Silahkan bilang aku~~ makasii banyak udah review dan mau membaca ceritaku yang sederhana ini. Makasiiii.
oh iya, mungkin ada yang suka bertanya-tanya dengan ceritaku.. aku memang tidak terlalu suka menampilkan banyak detail tentang keseluruhan cerita. misalnya dicerita ini pun aku hanya bilang Ichigo dan Orihime bersama, namun sebenarnya mereka tidak menikah. sehingga sihir yang ada pun tetap bekerja. Jadi begitu . hohohoho ^^
Author manis pamit dulu yah. Sampai ketemu di cerita selanjutnya! Ganbatte!
