Maaf ya, kemaren aku sempat hiatus sebentar. Sebenarnya sih chapter 2-nya udah selesai. tapi pas mau diupload, modem malah rusak. ini aja pake modem teman. Gomen ya ^^a

Disclaimer : Aoyama Gosho

Unlucky Girl

.

.

.

Chapter 2

Warning : Misstypo, gaje, alur ga jelas


"Apa yang kau lakukan, Shinichi?" ucap Shiho setelah Shinichi menyingkirkan rambut-rambut Shiho. Shiho memberikan deathgrale-nya serta memancarkan aura-aura hitam di belakang Shiho. Shinichi melangkah menjauh. Tapi tiba-tiba langkah mundur Shinichi terhenti.

PLAK!

Pipi putih Shinichi yang bagaikan porselin cina seketika memerah membentuk sebuah tangan. Shinichi mengelus pelan pipinya sambil sedikit meringis kesakitan. Shiho memandangnya sinis lalu menoleh pada pintu pagar rumah profesor Agasa. Tapi tetap saja, gadis berambut coklat itu melirik Shinichi dari ujung matanya.

"Hey! Apa yang kau lakukan? Ini sakit tau!" teriak Shinichi geram. Kini giliran Shinichi yang memberikan deathgrale pada Shiho. Shiho memutar kepalanya kepada bocah detektif SMA yang ada disampingnya dengan pandangan yang tetap sinis.

"Sebaiknya aku pulang. Selamat malam, tuan detektif. Terima kasih atas tasnya. Kalau kau membutuhkanku, siapkan dompetmu agar tetap tebal." Ucap Shiho datar masuk ke rumah profesor. Shinichi mendengus kesal menatap punggung gadis itu yang telah hilang.

"Semoga dompetku bisa sembuh lagi. Hhhh, Shiho ini benar-benar." keluh Shinichi. Laki-laki itu melangkahkan kakinya menuju rumahnya. Tapi langkahnya terhenti mendengar suara gaduh dari dalam rumah profesor. "sepertinya profesor membuat penemuan baru lagi. hahah"

"APA KAU BILANG SHINICHI?" ucap Shiho geram. Otot-otot kemarahan mulai muncul dari wajah Shiho. Gadis itu juga memberikan deathgrale-nya yang paling ganas. "Seharusnya aku tadi memilih yang paling mahal, tapi karna aku kasihan padamu aku 'terpaksa' membeli yang itu. Aku ulangi sekali lagi, kalau kau mau minta bantuanku, jangan lupa sembuhkan dompetmu dan beri makan yang tebal"

BRAK!

Pintu rumah profesor dibanting dengan cukup keras. Shinichi sweatdrop seketika. Hari ini ia terlalu malas untuk meladeni Shiho, tapi ngomong-ngomong, kenapa Shiho bisa dengar? Ya, tentu saja karna Shiho bersembunyi dibalik pintu masuk rumah profesor.

"Semoga dia lebih baik padaku" gumam Shinichi sembari menutup pagar rumah ala eropa-nya.

-xOx-

Shinichi… kenapa? Huh, ternyata benar apa dugaanku. Kau dan gadis itu-ah, tidak mungkin. Tidak mungkin kan Shinichi? Atau memang benar seperti itu? sepertinya aku telah memilih pilihan yang salah Shinichi

Gadis itu, Ran mendesah kecewa di pinggir ranjangnya. Ia masih ingat adegan-adegan Shinichi mencium pipi Shiho. Gadis mana sih yang tidak sedih melihat laki-laki yang disukainya mencium gadis lain walau hanya di pipi? Dan gadis itu bukan kekasih laki-laki yang menciuminya. Mana ada kan?

"Hahaha. Aku ternyata sangat bodoh ya. Bodoh, bodoh, bodoh." Dengan mata yang masih tetap dialiri oleh air mata, Ran hanya bisa merutuki apa yang telah terjadi. Apa yang telah ia lihat dan apa yang telah dia sesali.

Waktu sepertinya tidak lelah untuk berhenti, terus berputar. Dan dalam keadaan yang sama, pikiran Ran tentang Shinichi terus berputar-putar. Seperti burung yang menari-nari diatas kepalanya, tapi bedanya kepala burung itu digantikan dengan kepala si bocah detektif dari timur itu.

Ran mengambil bantal dan melemparnya dengan kasar ke dinding yang seolah mengejeknya, lalu membenamkan kepalanya diantara bantal-bantal dan boneka. Boneka? Ya, seharusnya yang dilemparkan kedinding adalah boneka penguin ini, sebab boneka itu adalah pemberian –Shinichi.

Damn.

Satu kata itu yang bisa ia ucapkan pada boneka penguin yang ada digenggaman Ran. Gadis itu mencengram bonekanya lalu menatapnya lekat-lekat –seakan ia berbicara dengan boneka yang pasti tidak akan pernah membalas perkataannya. Sungguh tragis memang. Tapi itu seharusnya tidak membuat ia jadi putus asa begini kan?

-xOx-

Ran Mouri, siswi SMA Teitan bangun dari tidurnya yang bisa dibilang tidak nyenyak. Ia segera mandi kemudian memakai baju seragam SMA Teitannya. Matanya tidak sengaja melihat dirinya sendiri yang terpantul di cermin kamarnya. Bengkak. Matanya sangat bengkat kala itu. Ia mengucek-ucek matanya lalu melihat ke cermin lagi. Tidak ada perubahan apapun, semakin bengkak malah. Gadis itu mendesah pelan kemudian keluar dari kamarnya.

Sarapan telah terletak cantik diatas meja. Walau diatas meja itu cuma ada roti bakar buatan Eri Mouri –entah kenapa ibu Ran ini mau kembali kepada ayahnya dan pandai memasak dalam waktu sekejap. Ran melahap habis roti buatan ibunya dan bersiap-siap untuk pergi kesekolah. Aneh, biasanya Sonoko –gadis kaya itu- sudah berada di depan rumah Ran, tapi kenapa ini tidak?

"Ran! Ayo kita berangkat!" teriak Sonoko dari luar. Ran tersenyum kecil melihat tingkah laku sahabatnya ini. Ran mengikuti langkah Sonoko yang semakin menjauh. "Ayah, Ibu! Aku pergi dulu"

Gadis berambut hitam ini sekarang tidak membiarkan rambut panjangnya tergerai (coba bayangin rambut Ran diikat ekor kuda XD). Sonoko memandangi Ran dengan wajah yang sangat bingung. Ran melirik Sonoko dengan senyuman tetap diwajahnya.

"Ada apa, Sonoko?" tanya Ran masih dengan senyumannya.

"Ah tidak. Aku hanya ada melihat yang aneh padamu, Ran. Biasanya kau kan jarang atau mungkin tidak pernah mengikat rambutmu, tapi kok-"

"Ah ini. Aku sedang pingin aja buat ikat rambutku. Kan bisa sedikit ngubah image. Hehe" cengir Ran.

"Oh ya, matamu kok agak sembab dan bengkak? Kau habis nangis ya? Ayo cepat beri tau siapa yang membuatmu nangis! Biar aku kasih pelajaran!" tanya Sonoko penuh amarah. Tapi amarahnya cepat mereda karna Ran tersenyum seperti mengatakan aku-baik-saja.

"Aku tadi malam aku nonton film yang sedih sekali dan tanpa sengaja aku mengeluarkan air mata dan membuat mataku bengkak seperti ini."

"Apa kita akan menjemput Shinichi, Ran? Jujur saja, aku takut gadis itu mengambil Shinichi dari kau. Ya, melihat tingkah laku mereka sangat tidak wajar. Tapi itu hanya menurutku. Lho, Ran?" Sonoko menghentikan langakahnya karena melihat langkah Ran yang cukup jauh dibelakangnya. Sonoko mundur beberapa langkah. "Kau? Kau nangis?"

Sonoko menatap bingung kepada sahabatnya yang bisa dikatakan cukup tegar. Sonoko mencoba mengingat kembali apa saja yang sudah ia ucapkan pada gadis dihadapannya ini. Mungkin ada yang salah dengan ucapannya tadi. Tapi setelah dipikir-pikir, tidak ada. Sonoko sudah biasa blak-blakan seperti ini dengan Ran dan seharusnya Ran menganggap itu wajar. Jangan-jangan?

"Sudahlah Sonoko, nanti kita terlambat ke sekolah. Oh ya, aku rasa kita tidak perlu menjemput Shinichi, dia pasti sudah pergi dengan Shiho Miyano." Ucapan Ran benar-benar lirih.

Ran mulai melangkahkan kakinya kembali, begitu pula Sonoko. Sonoko memandang punggung Ran dengan lirih. Sonoko tentu saja apa yang Ran rasakan. Secara ya, Sonoko adalah senpai dalam bidang percintaan.

"Eh Ran? Aku baru saja mau menjemputmu."

Suara itu. Laki-laki itu. Dengan bibir yang membentuk senyuman, laki-laki itu menyapa gadis berambut hitam yang ada dihadapannya. Tetap dengan wajah polosnya dan wanita sialan yang merebut laki-laki itu dari Ran –Shiho.

Ran hanya diam dan melirik sekilas laki-laki itu. Jujur saja, untuk sementara ini Ran sangat muak melihat Shinichi dan tentu saja Shiho. "Ran?" tegur laki-laki itu lagi, Shinichi.

"Eh? Apa?" ucapan Ran seperti orang yang baru saja turun dari surga secara paksa.

"Ah, sudahlah! Ayo kita berangkat!" ujar Shiho dengan semangatnya. Ia sengaja bersikmap seperti itu agar Shinichi dan Shiho mengetahui Ran yang dalam keadaan terombang-ambing. Tentu saja Shiho tau hal itu, ia hanya memasang wajah datar. Sedangan detektif itu, hanya itu melangkahkan kakinya mengikuti langkah Ran. Miris.

-xOx-

~Ran POV~

Entah kenapa kali ini aku sangat tidak semangat mengikuti pelajaran. Entah sudah berapa kali aku mendesah kecewa karena sikapku seperti ini. Jangankan orang lain, aku saja sudah merasa ada yang salah dengan diriku. Apa sebaiknya aku pergi ke psikiater ya? Biasanya, aku pasti akan menoleh kalau ada yang memanggilku, tapi ini? Guru yang menegurku saja aku tidak tau. Huh, aku sungguh aneh.

Untunglah bel tanda sekolah usai mengeluarkan suaranya. Aku bergegas menuju lokerku –yang pasti semua isinya punyaku. Tapi, tunggu dulu! Aku melihat sepucuk surat berada dibawah sepatuku. Surat siapa ini?

TO: Ran

Hi, Ran. Rasanya aku telah lancang sekali membuka lokermu! Maafkan aku ya! Oh ya, kita bisa ga temuin aku di halaman belakang sekolah setelah pelajaran usai? Ada sesuatu yang mau aku omongin (sekaligus memberi tau siapa aku sebenarnya)

PS: your lovely fan

Hah? Fan aku?

Aku melipat kertas itu dan segera pergi ke halaman belakang sekolah ini. Dan… tidak ada siapa-siapa. Aku hanya bisa mendengus kesal dan mulai beranjak dari tempat yang penuh dengan tanaman itu.

"Apakah begitu sikapmu kalau menunggu seseorang?" suara laki-laki yang gentleman menyapaku. Aku mengedarkan pandanganku dan lihat apa yang aku dapat! Laki-laki tinggi dengan rambut coklat sebahu dan… ah aku tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi. Dia perfect! Dan mirip Shinichi.

"Jadi, kau yang meletakkan surat ini di lokerku?"

"Iya. Kenalkan, aku Saguru Hakuba. Aku dari SMA Seika dan aku sudah lama memperhatikanmu." ujarnya dingin, tapi tatapan yang diberikannya padaku sangat hangat. Jujur, wajahnya sanggup membuatku speechless.

"Kenapa kau beraninya membuka lokerku?" aku benar-benar marah setelah mengingat kalau dia membuka lokerku. Bagai kabut hilang ditelan hujan.

"Ah, maaf. aku benar-benar bingung apa yang akan aku lakukan saat itu." kini ia menundukkan wajahnya. "Aku tau ini sangat tidak masuk akal, tapi aku menyukaimu. Aku rasa, aku mulai menyukaimu sebulan yang lalu saat aku diundang kesekolah ini untuk rapat OSIS antar sekolah."

"APA?" teriakku keras. Aku kaget setengah hidup! Yang benar saja! Dia pasti bohongkan?

"Aku serius." oh tuhan! Entah apa yang harus aku lakukan.

Aku menarik nafas lalu membuang dengan perlahan. "Lebih baik kita berteman saja ya?"

"Baiklah."

~Ran POV off~

Ran berlari menuju gerbang sekolahnya, lalu mencari keberadaan laki-laki brengsek itu. Beruntung! Ran bisa dengan cepat menemukan Shinichi yang sedang pulang bareng dengan Shiho. Ran tiba-tiba saja teringat dengan tugas yang diberikan gurunya yang mengharuskan kerja kelompok dan kebetulan Ran satu kelompok dengan Shinichi serta Shiho. Yah, setidaknya malam ini ia bisa mengawasi pasangan itu setelah dia dibuat pusing oleh pernyataan cinta Saguru Hakuba itu.

"Shinichi, kita kerjakan tugas kelompok itu dirumahmu kan?" ucap Ran dengan senyum terpaksanya.

"Iya, nanti malam kan? Jangan lupa kerumah ku ya" ucap Shinichi sedikit kaget dengan keberadaan Ran. Shiho yang berada disebelah Shinichi hanya memandang lurus pada gadis berambut hitam itu,

"Ah baiklah. Aku datang kerumahmu jam 7 nanti. Ah, aku lupa kalau aku belum beli bahan makanan. Sudah ya, sampai jumpa." Ucap Ran sedikit berlari lalu berbelok kesebuah gang yang cukup jauh dari posisi Shinichi dan Shiho.

"Heh? Ternyata tuan detektif yang terhormat ini bisa kalah dengan perempuan." sindir Shiho.

"Oi, oi! Apa katamu?" lirik Shinichi dengan pandangan bosan dan tajam. Shiho terkekeh kecil.

"Apakah sekarang pendengaran tuan detektif kita berkurang hanya karena seorang gadis yang selalu menemaninya? Memalukan. Sungguh memalukan. Jangan-jangan yang selanjutnya berkurang adalah kemampuanmu. Sepertinya sebentar lagi kau harus segera melepas gelar 'detektif SMA dari timur'-mu itu." Shiho meliriknya dengan tampang meremehkan. Sepertinya mereka akan kembali membuat konflik baru –atau lebih tepat disebut adu mulut.

Shinichi hampir saja memuntahkan tawanya di depan gadis berambut coklat yang berjalan berbarengan dengannya, tapi untunglah dia bisa menahan tawa. "Mana mungkin kemampuanku berkurang karena itu saja, heh? Kau lucu sekali, Shiho. Candaan yang sangat tidak lucu."

Shinichi memandang bosan ke arah Shiho. Bukan karena bosan dengan gadis yang berjalan dengannya, tapi ia sedikit tersinggung dengan ucapan Shiho. Oh ayolah, Shinichi sudah biasa diperlakukan secara 'tidak manusiawi' oleh Shiho dan setiap hari mereka saling menyindir satu sama lain. Tapi entah kenapa kali ini Shinichi tidak mau dibilang kemampuannya menurun oleh gadis disebelahnya. Aneh.

-xOx-

Ran sedang bersiap-siap untuk pergi kerumah Shinichi. Mengecek pakaian yang baru saja dikenakannya. Baju blus polos warna marun, hotpants jeans warna biru muda, serta jaket warna pink tua telah melekat manis dibadannya. Ia merapikan rambut panjang hitamnya dan menyemprotkan sedikit parfum ketubuhnya. Kemudian, gadis cantik itu mempersiapkan buku yang akan dibawanya, sebuah buku tebal dan buku tulis serta pena. Sekilas gadis itu melirik ke arah jam dinding.

Pukul 08.23

Ran segera melangkahkan kakinya keluar dari kamar dan pergi ke kediaman keluarga Kudo. Ia tau kalau dirinya sungguh terlambat. Terlambat selama 1 jam lebih. Ran sepertinya sengaja pergi terlambat –dia masih kesal. Padahal tadi sore dia terlihat begitu ramah kan? Tentu saja itu hanya topeng. Dan gadis itu harus menyiapkan topeng yang lebih tebal untuk menutupi dirinya yang lebih rapuh dari siapapun –menjadi seorang wanita yang kuat.

Langkah kakinya terasa begitu berat. Ia memang sungguh malas untuk pergi kerumah Shinichi, apa lagi bertemu tuannya –dan pacar tercinta. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling. Masih banyak toko-toko yang menjual barang dagangannya serta dengan hiasan toko yang berkelap-kelip. Ada juga banyak pasangan yang bergandeng mesra pasangannya.

"Hn.."

Kapan aku dan Shinichi bisa seperti mereka?

Ran segera menggelengkan kepalanya membuyarkan imajinasi tentang dia dan Shinichi. Segera menghapus harapan yang sudah pasti tidak akan pernah terwujud. Sudah pasti? Tentu saja tidak. Bisa saja esoknya Shinichi sudah berpaling dari Shiho dan menyembah kaki Ran.

Jalanan yang tadinya ramai semakin lama semakin sepi karena dia tidak lagi berada di jalan besar. Gadis itu melangkah sendirian di jalan yang sepi itu dan akhirnya ia berhenti di depan pagar bergaya eropa yang ada tulisan 'Kudo'.

Gadis itu masuk ke rumah Shinichi tanpa memencet bel terlebih dahulu. Entah Ran lupa atau bagaimana, biasanya dia selalu menjunjung tinggi kesopanan atau tata krama. Tapi kali ini ia sepertinya lupa akan hal itu dan ingin masuk kedalam.

Lagi-lagi ia tidak mengetok pintu rumah Shinichi untuk memberitahukan kalau dia sudah datang. Ia masuk dan melepas sepatunya dengan sendal rumah yang tersedia dan segera mencari Shinichi. Ran rasanya malas sekali untuk berteriak –setidaknya untuk mencari keberadaan Shinichi.

Gadis berambut hitam itu mengarahkan kakinya menuju ruang keluarga kediaman Kudo. Pintu ruangan itu sedikit terbuka, sehingga ia bisa melihat sedikit kedalam. Waktu Ran mendongakan kepalanya, ia melihat rambut hitam dan rambut coklat semakin mendekat. Tidak, yang mendekat adalah si pemilik rambut hitam, sedangkan pemilik rambut coklat itu tidak bergeming sedikitpun. Ran mengucek matanya untuk memastikan apa yang dilihatnya.

Shinichi dengan lembut mencium bibir tipis Shiho.

Ran hanya termenung melihat kedua orang yang mengusik hatinya ini. Gadis itu benar-benar tidak tau harus berbuat apa. Ia membalikkan badannya melangkah pergi dari mereka –Shinici dan Shiho. Pikirannya menerawang entah kemana, langkahnya terdengar lemah dan gontai. Kalau ada yang liat, pasti yang dipikirkan pertama kali adalah gadis-yang-bermasalah.

Hahaha. Lagi-lagi. Kenapa aku harus melihatnya?

Sekarang, Ran sudah berada didepan pagar kediaman Kudo. Gadis itu menjatuhkan badannya dengan kasar lalu menyandarkan punggungnya. Bulir-bulir air mata masih setia menemaninya. Ia menyembunyikan wajahnya diantara kedua lutut yang sangat lemas. Menangis kuat disana.

"Huh, kau itu terlalu egois ya," suara laki-laki yang lembut mendekat ke arah Ran. "Kau sama sekali tidak mengerti perasaannya, apa yang dia rasakan, apa yang dia inginkan, atau apa yang dia tidak suka."

Laki-laki itu semakin mendekatkan dirinya pada Ran "Kau hanya memikirkan perasaanmu sendiri, apa yang kau suka, apa yang harusnya kau dapat, atau apa yang membuatmu senang. Kau tidak pantas untuknya."

Siapa? Siapa yang bilang begitu padaku?

"Kau juga tidak memikirkan perasaan Miyano. Dia lebih menderita daripadamu." Laki-laki yang ngomong blak-blakan itu kini tepat berdiri didepan Ran. "Dia tidak punya siapa-siapa. Dia hidup sebatang kara sekarang, tapi beruntunglah, ada yang mau mengurusnya, walau saat itu dia diurus seperti binatang."

Ran semakin menundukkan kepalanya, mencoba untuk tidak mendengar semua perkataan laki-laki yang berdiri didepannya. Dia tidak mau dengar semua itu!

"Ku..kumohon.. tolong diam.." Suara Ran seakan tertelan oleh tangisannya.

"Shinichi sama sekali tidak menyukaimu, kau tidak boleh memaksakannya. Dia juga manusia."

Aku juga manusia

"Kau… egois"

DIAM!

"Kau tidak tau apa-apa! DAN SEBAIKNYA KAU DIAM!" Ran sudah berusaha mengeluarkan teriakannya, tapi yang keluar adalah sebuah suara yang lirih. Ran berdiri dari duduknya dan pergi dari daerah itu.

"Sial!" umpatnya kecil. Ia terus berlari tanpa memperdulikan orang-orang disekelilingnya yang dari tadi tersenggol. Ran membutuhkan seseorang saat ini. Setidaknya itu bisa mengurangi stresnya karena tadi. Sonoko? Tidak itu buruk, bisa-bisa Shinichi mati malam itu juga. Lalu siapa?

Ah, Dia!

Tangan kiri Ran mulai menekan nomor telepon dan menelepon nomor itu, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah kartu. Ran masih tetap terisak walau tidak separah tadi. Dadanya naik turun untuk menormalkan deru nafasnya sambil menunggu orang diseberang sana menjawab telponnya.

~FLASHBACK~

Dengan tetap tersenyum, laki-laki itu menyodorkan sebuah kartu kepada gadis berambut hitam itu. Gadis itu mengambil kartu itu dengan hati-hati kemudian ia melihat apa isi surat itu.

"Kalau kau membutuhkanku telpon saja. Aku siap kapan saja kalau kau membutuhkanku. Jadi tempat sampah pun jadi. Hehe."

Gadis itu menatap laki-laki yang ada didepannya kemudian tersenyum, begitu pula Saguru walau tidak selebar Ran. Ran melangkahkan kakinya beranjak dari posisi itu. Saguru hanya bisa memandang lirih Ran yang semakin jauh darinya.

~FLASHBACK OFF~

"Hallo, ini aku Ran. Bisa kita bertemu di café disebelah stasiun?– baiklah sampai nanti."

-xOx-

Ran duduk disudut ruangan café itu sambil meneguk green tea yang baru saja dipesannya. Ia masih setia menunggu laki-laki yang baru saja berkenalan dengannya tadi sore. Tidak perlu menunggu waktu lama, laki-laki itu telah masuk ke café sambil mengedarkan pandangannya. Berusaha mencari keberadaan gadis yang menunggunya. Ran melambaikan tangannya pada laki-laki itu. Setelah mengetahui dimana gadis-nya menunggu, barulah laki-laki itu datang.

"Kau sudah lama menunggu? Maaf ya aku datang terlambat." Ucapan maaf keluar dari mulut Saguru.

Ran menggeleng lemah. "Tidak apa-apa. Ada yang ingin aku bilang padamu. Mengenai yang kau bilang padaku waktu sore tadi."

Mata Saguru terbuka lebar. Jujur, ia gugup dengan pernyataan Ran nantinya, tapi bukannya ia sudah ditolak Ran? Jadi kenapa mesti gugup?

"Aku mau jadi pacarmu."


Wa, ga nyangka ada yang mau review cerita abal kayak gini. makasi yaa. reviewnya di balas di PM ya.

Jaa Nee!