Disclaimer: all of the chara is belong to Masashi Kishimoto, I just simply borrow them

Main Cast : Sasuke

Other : slight KibaIno

Genre: family/tragedy, maybe angst also?

Dedicated to: luvninosama, yang gara-gara request isengnya bikin saya jadi kepikiran bikin cerita ini. Happy birthday btw, heheheh, gomen telat (banget) *nyengir buaya

Buat para calon pembaca *ngarep, please fasten your seatbelt and...enjoy =D

...

Tetesan-tetesan cairan berwarna hitam itu terus bertambah seiring berjalannya waktu. Tetesan-tetesan itu kemudian menyatu menjadi sebentuk bola hitam yang makin pekat dari waktu ke waktu. Dan bola hitam itu bernama...

Kebencian.

-o-o-o-o-o-

The Hunter With Hatred

10 tahun kemudian...

Hitam. Di dalam sini hitam. Sejauh mata memandang pun segalanya tampak hitam. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena benda itu muncul lagi. Selalu muncul setelah semuanya menjadi hitam. Potongan-potongan memori yang menyambung satu sama lain hingga membentuk seperti untaian pita film hitam putih. Melayang kesana kemari seolah hendak mengolok kejadian di hari itu.

Ketika tidak mampu berbuat apapun.

Ketika tidak mampu mencegah kepergian orang itu.

Ketika tidak mampu karena lemah.

Gelap.

Makin hari makin gelap.

Rasanya benci.

Benci...

BencI...

B...E...N...C...I...

BENC...

"Sasuke-kun?" Sasuke menoleh cepat ketika Ino menepuk pelan bahu kanannya, membuyarkan Sasuke dari lamunannya.

"Ada apa Yamanaka-san?" tanya Sasuke, berusaha memasang tampang sedatar mungkin, mencoba memberi kesan bahwa ia sama sekali tidak terkejut.

Ino memejamkan mata sejenak, menggigit lidahnya sendiri untuk menahan kata-kata yang sudah nyaris lolos dari ujung lidahnya. Ia mampir ke lantai 3 bukan untuk mengoreksi panggilan Sasuke kepadanya, tapi untuk hal lain.

"Anu, Sasuke-kun, selamat ulang tahun." Ino tersenyum sambil mengulurkan sebuah benda berbentuk persegi yang dibungkus oleh kain merah kotak-kotak. "Memang bukan sesuatu yang mahal sih, tapi aku yakin rasanya enak."

Sasuke menatap Ino sekilas. Ia baru akan membuka mulut, namun sudah keburu dipotong oleh bunyi dentang jam kukuk mungil yang terpajang di dinding kantor. Meski suaranya berisik dan seringkali membuat semua petugas bagian Investigasi Kriminal di lantai 3 menjadi jengkel karena membuat kaget, ada kalanya Sasuke mensyukuri benda itu. Seperti misalnya untuk yang barusan. Ia jadi tidak perlu berlagak mengecek jam tangan atau melongok pada jam dinding biasa yang tak berbunyi untuk memberi kesan kalau ia buru-buru.

Mungkin, hanya Sasukelah satu-satunya anak buah Sarutobi Asuma yang tidak terlalu kepingin melempar benda itu dari jendela lantai 3 tempat kantornya berada.

Setelah berdentang 12 kali, barulah Sasuke merespon Ino. Suaranya sedatar wajahnya. "Maaf Yamanaka-san. Kau berikan saja pada yang lain. Aku sedang ada perlu. Permisi."

Tanpa basa-basi lagi, Sasuke bangkit dari kursinya, tapi tidak terburu-buru. Dengan langkah mantap, ia berjalan ke arah pintu kayu dengan sedikit kaca di bagian atasnya.

Ino hanya bisa memperhatikan punggung Sasuke sampai pemuda itu menghilang ke balik pintu. Baru setelahnya ia mendelik sebal pada jam kukuk milik Asuma itu. Ino mengomel dalam hati, untuk yang kesekian kalinya, bisa-bisanya atasannya Sasuke itu memiliki selera kuno yang seperti itu.

Bibir Ino tertekuk ke bawah untuk beberapa saat. Lagi-lagi, reaksi Sasuke seperti itu. Memang sudah Ino duga sebelumnya sih, tapi kalau seperti ini terus...

"Waaah, Ino kelebihan bekal lagi!" Kiba berseru riang dengan suara overdosis hingga membuat Ino tersentak kaget. Dan sebelum Ino sempat bereaksi apapun, Kiba sudah merebut kotak bekal dari tangan Ino yang terbungkus rapi dengan kain kotak-kotak warna merah.

"Naah, mari kita lihat apa yang ada di dalam si...adaow! Ino! Sakit tahu!"

Ino menggebuk Kiba dengan buku bersampul hardcover terdekat. Gadis itu lalu mengambil kembali kotak bekalnya yang tutupnya sudah dibuka Kiba.

"Ini buat Sasuke-kun tahu. Kau ke kantin saja sana!"

Kiba pura-pura cemberut. "Huh! Kalau ada yang gratisan di depan mata, ngapain juga aku harus repot-repot ke kantin?"

Karena tak ada reaksi berarti dari Ino, Kiba pun melanjutkan, "Lagipula, sekali-sekali aku ingin mencicipi makanan yang enak. Kau tidak tahu sih betapa mengerikannya makanan di kantin. Coba kau lihat minyak yang dipakai untuk menggoreng. Waktu pertama lihat, kukira itu oli."

Ino mendengus. Yang benar saja. Kiba berlebihan sekali! Ino pernah makan sekali di kantin kantor. Memang ia akui kalau makanan di sana tidak seenak makanan buatannya, tapi tidak separah itu juga.

"Kalau kau pikir bisa menggunakan alasan konyol seperti itu supaya aku rela memberikan ini untukmu, kau salah besar Kiba." Ino berbalik membelakangi Kiba, lalu melangkah kembali ke meja Sasuke. Di atas sana, ia meletakkan satu dari dua kotak bekal plastik berwarna hijau dengan hati-hati, seolah benda itu adalah porselen.

"Kau tahu kalau perbuatanmu itu sia-sia kan? Mau kau buat dari emas pun, si balok es nggak tau terima kasih itu nggak bakalan makan masakanmu. Melirik pun tidak."

"Aku tahu," kata Ino pelan, nyaris berbisik, membuat Kiba terperangah. Biasanya, bila setiap kali Kiba menjelek-jelekkan Sasuke di depan Ino, gadis itu pasti ngamuk-ngamuk.

Melihat wajah Ino yang terlihat sedih seperti itu, Kiba jadi tidak tahan. "Kau hanya melihat Sasuke. Selalu Sasuke! Kau jadi seperti sedang mengenakan kacamata kuda, hanya melihat ke depan. Sekali-sekali kau lihat kiri-kanan kek!"

"Kau kenapa sih?" sergah Ino, defensif. Kenapa sih Kiba kelihatannya kesal begitu?

"Masa' kau nggak ngerti?" Tanpa sadar, nada suara Kiba naik beberapa tingkat. "Yang nggak suka melihat kau mengejar-ngejar Sasuke seperti itu di Kepolisian ini ada banyak tahu! Salah satunya aku..."

Kiba langsung menutup mulut dengan sebelah tangan. Wajahnya jadi lebih merah daripada tomat. Ia lalu memalingkan muka ke samping.

"Hah? Maksudnya?"

Kiba menatap Ino sejenak sambil mengatur napas, mencoba menenangkan emosinya yang sempat melonjak.

"Heh." Kiba lalu menyeringai selebar mungkin. Ia melangkah ke dekat Ino lalu berkata tepat di depan wajahnya. "Nggak kusangka ternyata polwan bagian lalu lintas sepertimu bisa sebolot ini. Mungkin harusnya kau pindah dari lantai 1 ke sini supaya daya tangkapmu naik dua kali lipat ya?"

"Hei!" gerutu Ino, "Ngomong sembarangan saja. Aku ini anak buah Kurenai-taichou yang paling unggul tahu!"

"Unggul? Itu kan menurutmu sendiri," goda Kiba dengan nada mengejek. Ia lalu melanjutkan, sebelum Ino sempat melemparkan buku yang sebelumnya digunakan untuk menggebuk kepalanya. "Nah, kalau masakanmu ini, baru deh bisa disebut unggul."

Mata Ino melebar melihat kotak bekal untuk Sasuke yang sudah berada di tangan Kiba dalam keadaan terbuka. Sejak kapan Kiba mengambilnya? Apa waktu tadi ketika Kiba mendekat ya?

Dan sebelum Ino sempat mencegahnya, Kiba sudah keburu mengambil sesuap besar dengan sumpit.

"Woaahh!" seru Kiba bersemangat. "Sudah kuduga masakanmu lebih enak dari yang di kantin. Ah, tidak, tidak. Sepuluh, eh dua puluh kali lebih enak deh."

Ino tercengang melihat reaksi Kiba. Gadis itu yakin, Kiba hanya berlaku berlebihan. Tapi entah kenapa, melihat wajah Kiba yang memakan masakannya seperti anak kecil ketemu kue ulang tahun itu membuat sudut mulut Ino terangkat ke atas.

Kiba menghabiskan bekal Ino untuk Sasuke dalam sekejap. Senyum puas tersungging di wajah Kiba. "Aah, kenyang! Tau seenak ini, dari dulu deh kurebut bekalmu untuk Sasuke. Lihat kan? Kalau aku, tak akan mungkin menyia-nyiakan berkah seenak ini."

'Huh, bicara sembarangan lagi. Berkah katanya?' gerutu Ino dalam hati. Ino mengangkat bahu, lalu mengambil kotak kosong yang tadi diletakkan Kiba di atas meja. Tanpa berkata-kata, Ino lalu berjalan keluar dari ruangan.

"L-lho? Ino? Kok diem aja? Kau marah ya? M-maaf deh. Besok-besok aku nggak gini lagi deh." Kiba menyusul Ino sambil kalang kabut. Dari semua orang yang ada di kantor ini, Kiba paling tidak ingin dibenci oleh orang yang disukainya.

"I..."

"Kalau besok kau mau bekal lagi," kata Ino tiba-tiba sebelum ia menghilang ke balik pintu, memotong perkataan Kiba. Gadis itu menoleh ke belakang bahunya, lalu berkata, "Kau harus datang ke lantai 1."

Kiba melongo hingga Ino menghilang dari pandangan. Pemuda itu menyeringai senang lalu berseru-seru norak sambil meninju udara.

-o-o-o-o-o-

Sasuke berhenti sejenak sebelum meletakkan setangkai anyelir putih di depan batu nisan kedua orangtuanya. Ia menatap sebuket bunga bakung putih. Lagi-lagi seperti ini. Setiap hari peringatan kematian orangtuanya, yaitu di hari ulang tahunnya, seseorang pasti sudah lebih dulu meletakkan sebuket bunga di sini. Tahun lalu bunga mawar, dua tahun yang lalu anggrek. Sasuke sudah pernah bertanya pada petugas penjaga makam, tapi ia tak mengenali orang dengan ciri-ciri yang disebutkan si penjaga. Dua tahun lalu, penjaganya berkata yang datang adalah seorang pemuda berambut pendek kemerahan, sedangkan tahun lalu yang datang adalah seorang gadis dengan rambut berwarna merah muda.

Tapi Sasuke tak terlalu ambil pusing. Mungkin mereka kerabat dari teman orangtuanya.

"Datang lagi, Sasuke-kun?" sapa seseorang di belakang Sasuke. Tanpa berbalik, Sasuke tahu yang menyapanya adalah si penjaga.

"Hn."

"Kalau ingin tahu, yang datang tadi pagi ke sini adalah seorang pemuda."

Sasuke menoleh dengan cepat. "Pemuda? Seperti apa ciri-cirinya?"

Si penjaga mengusap dagunya, mengingat-ingat. "Emm, entahlah. Wajahnya tertutup kacamata hitam besar dan syal. Dia juga mengenakan topi lebar. Dia berjenggot hitam pendek, tapi aku yakin itu palsu. Tampaknya dia masih cukup muda. Dia memakai setelan jas abu-abu, kalau tidak salah."

Mata Sasuke melebar. Mungkinkah orang yang dimaksud adalah Itachi yang menyamar? Tapi kalau itu memang dia, untuk apa dia datang ke pemakaman ini? Karena merasa bersalah?

"Kenapa? Kau kenal orang itu?"

Sasuke menggeleng. "Tidak." Ya, pasti bukan. Itachi tidak mungkin datang ke makam orangtuanya setelah malam di mana ia mengosongkan seisi rumah. Namun, mau tak mau, Sasuke jadi kepikiran dengan orang itu.

Setelah pamit pada si penjaga, Sasuke keluar dari kompleks pemakaman barat Konoha. Ia berjalan menuju parkiran motor sambil separuh melamun. Pikirannya masih dipenuhi dengan orang yang dijelaskan oleh si penjaga.

Di tengah jalan, Sasuke berhenti sebentar di sebuah kedai takoyaki pinggir jalan. Ia memarkirkan motornya di sebelah kedai. Sasuke memakan takoyakinya sambil bersandar di badan motor. Karena kebiasaan selama ia menjadi petugas bagian Investigasi Kriminal, matanya secara otomatis mengawasi keadaan sekitar. Tak ada yang aneh. Semua terlihat pada tempatnya. Seorang ibu muda yang sedang bingung menenangkan anak perempuannya yang merajuk, seorang remaja laki-laki yang tertawa-tawa melihat temannya kewalahan memainkan gamebox di tangannya, seorang kakek berbadan tegap yang sedang berjalan-jalan dengan anjingnya, seorang pria berjenggot hitam yang memakai syal dan kacamata hitam besar hingga menutupi separuh wajah serta bertopi lebar...

Serta merta Sasuke tersedak bulatan terakhir takoyakinya.

"Astaga! Kau tidak apa-apa? Ayo cepat minum ini!" Paman penjual takoyaki segera memberikan Sasuke sebotol air mineral.

"Maaf, boleh titip sebentar motorku?" tanya Sasuke langsung setelah ia menghabiskan setengah botol air, "Aku ada perlu sebentar. Makasih."

Sebelum paman penjual takoyaki sempat berkata apapun, Sasuke sudah keburu melesat mengejar pria berjenggot hitam yang memakai setelan jas abu-abu lusuh panjang. Jarak antara mereka berdua cukup jauh, tapi Sasuke masih bisa melihat punggungnya dengan jelas. Saat ini di mata Sasuke hanya ada orang itu. Karenanya ia tidak berhenti untuk minta maaf ketika menabrak atau menyenggol beberapa orang. Ia terus berlari. Pokoknya jangan sampai ia kehilangan orang itu. Memang belum tentu sama dengan orang yang datang ke makam kemarin, tapi siapa tahu. Lagipula, Sasuke rasa memang patut diselidiki. Orang yang memakai syal besar di hari sepanas ini layak dicurigai.

Orang itu kemudian mempercepat langkahnya, seolah menyadari kalau ia sedang diikuti. Tentu saja Sasuke semakin curiga. Ketika orang itu berbelok ke balik sebuah minimarket di perempatan jalan, Sasuke melihat wajahnya sekilas. Meski tidak terlihat jelas karena tertutup jenggot dan terhalang topi, mata tajam Sasuke mengenali sesuatu yang familier dari wajah orang itu. Tapi di saat bersamaan ia juga merasa asing. Entah apa.

Orang itu kembali berbelok, kali ini ia masuk ke sebuah gang yang diapit oleh dua gedung bertingkat medium. Melihat itu, Sasuke semakin mempercepat langkahnya. Ia menyeringai. Biasanya gang yang seperti itu buntu atau terhalang pagar kawat. Kalau dugaannya tepat, maka ia bisa menangkap orang itu, melihat wajahnya dengan jelas dan...

"KYAAA!"

Perhatian Sasuke langsung teralihkan, tepat ketika ia berada di mulut gang. Kepalanya otomatis menoleh pada sumber suara jeritan yang terdengar tidak jauh dari tempatnya berada. Kira-kira dua puluh meter dari tempat Sasuke berdiri, tepat di depan gedung sebelah kanan, seorang gadis berambut merah muda dengan balutan blazer dan rok sepan selutut berwarna cokelat terlihat basah kuyup.

Sadar kalau jeritan yang barusan bukan sesuatu yang penting, Sasuke kembali bergerak masuk gang. Tapi rupanya ia terlambat beberapa detik. Orang yang dikejarnya sudah tak ada. Sasuke menatap tak percaya pada dinding beton setinggi 4 lantai di ujung gang. Di beberapa bagian dinding itu tertempel poster-poster yang sudah usang secara berantakan. Persis seperti yang diduga, gangnya buntu. Namun orang itu menghilang.

'Tidak mungkin!' batin Sasuke. Itu kan dinding belakang dari sebuah gedung! Dan lagi tak ada benda pijakan untuk melompat. Bagaimana bisa orang itu tidak ada?

Sasuke memelototi dinding sepanjang gang. Tidak ada pintu apapun. Ia menengadah, melihat sebuah jendela yang terbuka di sebelah kirinya, tapi benda itu berada di lantai tiga. Kalaupun orang itu memanjat, tidak mungkin dalam waktu sesingkat itu. Ia lalu mendekat ke dinding di ujung gang. Dinding dengan permukaan kasar itu tak mungkin dipanjat. Ia juga memperhatikan jalan di gang itu. Tak ada tutup lubang gorong-gorong di sana.

Entah dengan cara apa orang itu berhasil kabur.

Sasuke berdecak kesal ketika alarm jam tangannya berbunyi. Waktu makan siang sudah habis. Ia harus segera kembali ke kantor. Dengan berat hati, Sasuke terpaksa menghentikan pencariannya. Ia akan kembali dan memeriksa daerah ini lebih seksama sepulang kantor nanti.

Setelah keluar dari gang, Sasuke melirik sebal ke arah gadis yang terguyur air itu. Gadis itu masih marah-marah sambil mendongak pada seorang pemuda berambut pendek kemerahan di ambang jendela lantai 2 dari gedung. Di tangan pemuda itu terdapat sebuah gembor penyiram kecil. Mungkin ia bermaksud menyiram bunga yang ada di pot ambang jendela, tapi malah meleset hingga airnya tumpah ke jalan.

"Cih!" gerutu Sasuke pelan. Gara-gara mereka buruannya jadi hilang. Sambil terus mendongkol, Sasuke berjalan kembali ke arah kedai takoyaki tempat motornya berada.

Seandainya saat itu ia menuruti instingnya untuk menoleh ke belakang, pasti Sasuke akan menyadari kalau pemuda berambut merah di ambang jendela itu sedang mengawasinya. Pemuda itu tersenyum tipis ketika Sasuke berbelok ke balik minimarket di perempatan jalan.

"Belum waktunya, Sasuke," gumam pemuda itu.

-o-o-o-o-o-

Di ruangannya, Asuma membaca sekali lagi proposal yang diajukan Sasuke padanya. Pria itu lalu menatap Sasuke tajam, mencari-cari keraguan atau rasa tertekan atau apapun di mata hitam Sasuke. Tapi Asuma hanya mendapatkan keteguhan di sana. Sasuke tidak sedang bercanda atau main-main, itu juga kalau ia memang mengerti arti kata 'bercanda'.

"Kau yakin mau mengambil cuti? Selama sebulan?"

"Aku yakin."

Ketegasan dalam suara Sasuke membuat Asuma menghela napas. "Ini pasti ada hubungannya dengan kakakmu 'kan?"

Mendengar itu Sasuke langsung mengalihkan matanya ke samping. Melihat reaksinya, Asuma yakin jawabannya adalah benar. Tak perlu menjadi orang sekaliber Morino Ibiki dari bagian interogasi untuk menebak jawaban Sasuke.

Asuma sudah lama tahu kalau Sasuke sedang memburu kakaknya karena Asuma sendiri yang membawa Sasuke ke rumah sakit 10 tahun yang lalu. Saat itu kebetulan Asuma sedang berada di kompleks tempat Sasuke tinggal. Ia hendak mengantarkan Kurenai pulang ketika terdengar suara teriakan dari arah rumah Sasuke. Asuma yang saat itu masih berstatus sebagai sersan segera mendatangi asal suara itu bersama dengan Kurenai. Ketika tiba, mereka berdua hanya mendapati Sasuke kecil yang pingsan di dekat pintu beranda dengan kepala sedikit berdarah.

Sebagai sersan bagian divisi investigasi kriminal, tentu saja Asuma langsung bertindak. Tapi ia tak mendapatkan jejak pelakunya meski sudah diselidiki. Itachi seolah menghilang ditelan kabut, tidak terdeteksi sama sekali.

Sekali lagi, Asuma menghela napas. "Baiklah, terserah kau saja. Tapi ingat ini. Kau tidak boleh bertindak gegabah karena kau sedang dalam masa cuti. Kau tidak boleh sembarangan mendobrak masuk ke bangunan apapun meski di dalam sana kau berasumsi ada kakakmu di dalamnya."

"Aku tahu," jawab Sasuke singkat. Selama seminggu ini sejak ia mengejar orang berjenggot hitam itu, Sasuke sudah merenungkan rencana tindakannya. Ia sudah memeriksa ulang gang tempat orang berjenggot itu menghilang, namun hasilnya nihil. Karena itu ia merasa perlu melakukan pencarian dengan lebih intensif lagi.

Begitu mengambil cuti, ia tahu kalau tidak bisa berbuat banyak, tapi itu masih lebih baik ketimbang harus terikat dengan jam kantor selama bertugas. Dan itu belum termasuk jika Sasuke mendapat tugas ke luar kota.

Meski pergerakannya terbatas, dengan begini Sasuke dapat menyelidiki orang berjenggot hitam itu dengan leluasa.

Untuk beberapa saat, baik Asuma maupun Sasuke sama-sama terdiam.

"Satu lagi pesanku," kata Asuma tiba-tiba. "Begitu kau yakin sudah menemukan kakakmu, segera beritahu aku. Apapun yang terjadi. Aku tak mengizinkan kau turun tangan langsung. Mengerti?"

"Saya mengerti, Asuma-san," jawab Sasuke tanpa ragu. Ia menatap Asuma langsung ke matanya. Meski demikian, dalam hati Sasuke berkata lain. Asuma adalah salah satu dari sedikit orang yang benar-benar dihormati Sasuke, tapi untuk hal ini ia tak akan menuruti atasannya itu. Ia janji, Itachi akan habis di tangannya begitu ditemukan nanti.

...

Sip, chapter 2 beres.

Ngomong-ngomong, karakter si penjaga makam dan tukang takoyakinya murni karangan saya (kek ada yang pengen tau aja-_-;)

Sekali lagi, kalau karakter di atas ada yang berasa OOC, yakinlah itu cuma khayalan...eh, maksudnya mohon mahap, hehehee...

Okkeee, saran dan kritik silakan masuk ke kotak review terdekat. Makasih buat yang udah sudi mampir, jangan bosen-bosen yaa...

Tebak-tebak-tidak-berhadiah: siapakah karakter pemuda berambut pendek kemerahan dan pemudi berambut merah muda? Apakah ada hubungannya dengan si orang berjenggot item? Jengjengjengjenggggg...nantikan jawabannya di chapter berikutnya! (apa sihh? =_=; ngiklan iki!)