Disclaimer: all of the chara is belong to Masashi Kishimoto, I just simply borrow them
Main Cast : Sasuke
Other : err, monggo diliat sendiri, hehehee...mungkin untuk beberapa tokoh di chapter sebelumnya uda pada nebak siapa (author -_-;)
Genre: family/tragedy, maybe angst also?
Dedicated to: luvninosama, yang gara-gara request isengnya bikin saya jadi kepikiran bikin cerita ini. Happy birthday btw, heheheh, gomen telat (banget) *nyengir dinosaurus
Buat para calon pembaca*ngareppp, please fasten your seatbelt and...enjoy =D
...
Kedua kubu mulai saling bergerak, tapi hanya satu yang tak menyadari ke arah mana semua ini menuju...
-o-o-o-o-o-
Silent Movement
Ini sudah hari ke-5 di mana Sasuke mengawasi gedung tempat orang berjenggot hitam itu menghilang. Dihabiskannya sisa double espresso di gelas kertas di tangannya, lalu ia arahkan lagi teropong binokularnya ke kedua gedung berlantai 5 yang mengapit gang tempat orang berjenggot itu menghilang.
Apa yang lihat masih sama dengan hari pertama ia memata-matai kedua gedung itu. Gedung di sebelah kiri dari gang merupakan apartemen sederhana dengan dinding bata bergaya tua, sedangkan gedung sebelah kanan adalah kantor percetakan yang baru berumur 6 tahun. Tak ada aktivitas yang terlihat aneh dari kedua gedung tersebut. Penghuni apartemen yang membuka-tutup jendela atau sekedar muncul di beranda dan kesibukan kantor yang terlihat dari jendela. Semuanya tak ada yang terasa ganjil.
Kecuali mungkin satu.
Dengan mata masih menempel pada teropongnya, alis Sasuke berkerut.
Lagi-lagi orang itu, Si pemuda berambut pendek merah. Rasa-rasanya Sasuke paling sering melihat orang itu dari seantero penghuni kantor. Seperti kali ini, pemuda berambut merah itu terlihat sedang mengurus rumpun bunga yang ada di bak tanaman pinggir jendela. Kemarin ini pemuda itu terlihat sedang mengisi tabung plastik tempat makan burung yang diletakkan di pinggir jendela. Lalu menjelang kantor tutup, selalu pemuda itu yang menutup jendela di lantai tempat ia berada.
Meski orang itu tidak mengenakan pakaian rapi seperti karyawan lainnya, Sasuke yakin kalau orang itu bukan pesuruh kantor karena ia tidak mengenakan seragam. Tapi kenapa selalu orang itu yang melakukan kegiatan di jendela?
Kemudian, mata Sasuke melebar ketika terpikir sesuatu.
Mungkinkah orang itu sedang mengawasinya? Tapi rasanya tidak mungkin! Tempat Sasuke berada saat ini adalah flat kumuh yang berjarak sekitar 100 meter dari kantor itu. Ia selalu berusaha agar tidak menampakkan tanda-tanda aktivitas dari flatnya. Dan Sasuke selalu berhati-hati menghindari sinar matahari agar lensa binokularnya tidak memantulkan cahaya pada siang hari.
Persis ketika ia kembali meneropong, posisi pemuda itu terlihat menghadap ke arah Sasuke. Pada saat itulah, mata pemuda itu bersirobok dengan mata Sasuke. Memang hanya sebentar, tapi hati kecil Sasuke langsung bereaksi setelahnya.
Ia menyeringai.
Memang belum tentu benar terbukti, tapi pemuda itu mungkin ada hubungannya dengan si orang berjenggot. Dan setelah diingat-ingat lagi, si penjaga makam berkata kalau salah satu dari pengunjung yang meletakkan bunga adalah seorang pemuda berambut merah pendek.
Sasuke tahu ada banyak pemuda berambut merah pendek di kota ini. Tapi instingnya mengatakan kalau pemuda yang sekarang ia awasi gerak-geriknya itu adalah orang yang sama dengan si pengunjung makam.
"Menarik," gumam Sasuke. Ia lalu menurunkan teropongnya dan meletakkannya di atas meja bundar kecil di dekatnya. Ia termenung sejenak, memikirkan rencana apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Sasuke kemudian menyambar mantelnya yang berwarna cokelat kusam dari kursi di sebelah meja bundar kecil. Ia hendak menyelidiki langsung pemuda berambut pendek merah itu, apapun caranya. Sasuke sudah mencoba meretas ke sistem perusahaan itu, namun ia hanya mendapati sejarah berdirinya perusahaan dan brosur-brosur produk perusahaan itu. Tampaknya perusahaan itu mempekerjakan orang hebat yang mampu mencegah para peretas memasuki sistem.
Setelah mengenakan mantelnya, Sasuke lalu menarik kerai lusuh berwarna biru hingga menutupi jendela. Ia mengambil kunci yang tergeletak di sebelah laptopnya kemudian keluar dari flat kecilnya.
-o-o-o-o-o-
Pemuda berambut pendek merah itu tersenyum tipis ketika melihat kerai biru dari jendela kedua di lantai tiga flat kumuh di depan sana ditutup. Sepertinya penghuni flat itu tidak berniat mengawasi kantor selama seharian seperti beberapa hari terakhir ini.
Sesungguhnya si pemuda tidak tahu siapa penghuni flat itu, tapi ia punya dugaan kalau Sasuke yang berada di sana. Kecurigaannya bertambah sejak ia mendapati usaha peretasan sistem perusahaan dari luar. Perusahaan tempatnya bekerja bukan perusahaan besar dan belum terlalu terkenal, jadi si pemuda tak bisa memikirkan pihak lain selain Sasuke.
Pemuda itu lalu kembali bertopang dagu di ambang jendela. Ia harus memikirkan cara lain untuk mencegah Sasuke mendapatkan data atau apapun dari perusahaan ini. Ia tahu Sasuke yang orang nomor satu di divisi investigasi kriminal itu akan melakukan berbagai cara untuk penyelidikan, persis seperti memburu seorang kriminal yang licin.
"Sasori!" tegur seseorang dari belakang si pemuda berambut merah. "Daripada kau merenung melihat bunga di pot itu, mending kau merenung melihat berkas laporan di mejamu. Sudah menumpuk tuh!"
Si pemuda yang dipanggil Sasori itu menoleh lalu menatap datar pada gadis berambut merah muda yang menegurnya tadi.
"Sakura, daripada kau memelototiku seperti itu, mending kau memelototi orang-orang bebal dari Akatsuki itu."
Tentu saja mata Sakura makin melebar mendengar jawaban asal Sasori. "Wakil direktur bodoh! Orang-orang bebal itu pihak yang mau bekerja sama dengan kita tahu! Apa-apaan kau ini? Langsung menolak tawaran mereka di menit pertama. Bahkan kau juga menolak tawaran ulang mereka! Tunggu keputusan yang lainnya kenapa sih? Mentang-mentang kau diizinkan mengambil alih perusahaan."
Sebagai balasan, Sasori hanya mengangkat bahu tak peduli.
"Ngomong-ngomong, gimana dengan dia? Ada kemajuan?" tanya Sasori tiba-tiba.
Pengalihan topik yang salah. Sakura menatap wakil direkturnya selama beberapa saat lalu menunduk. Sekarang, gadis itu kesal karena atasan sekaligus teman masa kecilnya itu mengingatkan Sakura pada kesedihannya selama dua minggu ini.
Diamnya Sakura membuat Sasori berpikir cepat. Ia memahami situasinya hanya dengan melihat ekspresi Sakura. Sama sekali tidak baik. Karena itu, ia harus mengambil tindakan.
"Sakura," panggil Sasori. Ada ketegasan dan kebulatan tekad dalam nada suaranya. Sesuatu yang jarang didengar Sakura. "Siapkan kertas-kertas itu. Jangan ditunda-tunda lagi. Aku yakin sebentar lagi pasti akan diperlukan."
Sakura mengangkat kepalanya dengan cepat seolah tersengat listrik. Matanya langsung merah karena air mata.
"Jangan bicara sembarangan!" sembur Sakura. "Dia masih punya waktu..."
"Yang sebentar lagi akan habis," sambar Sasori langsung. "Terserah kau anggap aku kejam atau apa. Asal kau tahu, dia sendiri yang bilang waktunya tinggal sedikit. Kalau kita tidak cepat, semuanya bisa terlambat."
Sakura membuka mulut untuk membantah, tapi ia menutupnya lagi. Dalam hati ia tahu Sasori benar.
"Aku tahu," bisik Sakura akhirnya, "Tapi kau tak bisa seenaknya mematikan harapan orang lain seperti itu, Sasori bodoh."
Tak ada kata-kata balasan dari Sasori. Ia hanya memalingkan muka kembali ke ambang jendela.
"Sudah waktunya dia tahu semuanya."
-o-o-o-o-o-
Sasuke kembali ke flatnya menjelang tengah malam dengan kekesalan yang berlipat ganda. Sejak siang tadi, ia mencari berbagai cara untuk menyusup ke perusahaan itu tapi belum berhasil. Mungkin besok lebih beruntung.
Ia melepas mantelnya dan menyampirkannya di pinggiran sofa yang selama ini menjadi tempat tidurnya. Sasuke lalu merebahkan diri. Tak butuh waktu lama untuk membuatnya terlelap.
-o-o-o-o-o-
Sasuke kembali ke gang itu lagi. Sepertinya ia terlalu terfokus dengan usaha penyusupannya hingga ia bisa tidak sadar kalau hari mulai gelap. Ia pasti berjalan sambil melamun karena sebenarnya ia sama sekali tidak berniat kembali ke gang itu.
Sebuah helaan napas panjang keluar dari mulut Sasuke. Ia menatap dinding beton tinggi yang jaraknya hanya beberapa meter darinya. Kemudian, ia berbalik. Seketika itu juga, matanya langsung melebar. Jantungnya berdegup kencang dan tanpa ia sadari, kedua tangannya tergenggam begitu erat hingga kuku-kukunya menancap di kulit.
Di hadapannya saat ini, tepat di mulut gang, berdiri si orang berjenggot. Kehadirannya di sana benar-benar seperti mengejek Sasuke dan usaha pencariannya.
"Kau," geram Sasuke dari sela-sela giginya, "Siapa kau sebenarnya?"
Orang itu diam saja, membuat Sasuke makin geram. Tanpa pikir panjang lagi, Sasuke memacu langkahnya mendekati orang itu. Yang membuat Sasuke terkejut adalah, bukannya lari, orang itu malah diam di tempatnya. Orang itu lalu mengangkat sebelah tangan ke arah Sasuke seperti hendak menyuruhnya berhenti. Yang terjadi kemudian benar-benar membuat Sasuke terpana.
Mendadak saja tubuhnya berhenti bergerak seperti membeku. Pemahaman mengerikan muncul di benak Sasuke kemudian. Bukan hanya dia saja, tetapi semua yang ada di sekitar mereka berhenti bergerak. Sampah kertas yang melayang teritup angin berhenti begitu saja di tengah udara di depan Sasuke. Pesawat terbang di kejauhan juga mengalami hal yang sama.
Kecuali satu. Orang berjenggot itu. Orang itu berjalan santai mendekat ke arah Sasuke. Ia baru berhenti tepat selangkah dari Sasuke. Kedua tangan orang itu lalu bergerak perlahan ke arah wajah. Dalam satu gerakan cepat, orang itu menarik jenggot dan membuka kacamata hitamnya.
Yang bisa dilakukan Sasuke hanyalah membelalakkan matanya selebar mungkin. Ia kenal dengan orang ini. Sangat kenal.
"Apa kau ingin tahu kenapa hingga saat ini kau tak berhasil menemukanku?" bisik orang itu. Suaranya sedingin es. "Itu karena kebencianmu padaku kurang, adik kecil. Kau masih lemah, sama seperti dulu."
Sasuke memaksa otot-otonya bergerak, tapi tak ada yang mau mematuhi perintah otaknya.
"Waktu itu kubilang barang tak berguna sebaiknya disatukan dengan barang tak berguna kan?" lanjut Itachi lagi. "Baru kusadari kalau kata-kataku itu salah. Barang tak berguna adalah sampah dan sampah harus dibersihkan. Dilenyapkan."
Sasuke hanya bisa menatap horor ketika kedua tangan Itachi bergerak ke arah wajahnya.
"Selamat tinggal. Untuk selamanya."
"AAAHHHH!"
Sasuke tersentak bangun. Nafasnya menderu dan jantungnya masih berdegup kencang di dalam sana. Pakaiannya, yang masih sama dengan yang tadi malam, kini lengket oleh peluh. Ia benamkan wajahnya ke telapak tangan, mencoba menenangkan diri.
"Sial!" umpat Sasuke kering. "Apa-apaan mimpi itu? Kenapa rasanya nyata sekali? Apa maksudnya itu?"
Dari sela-sela jari, ia melihat bahwa jam meja hitam metaliknya sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Ia mengangkat kedua tangannya. Kemudian, ia terhenyak sedikit ketika menyadari sesuatu.
Kedua tangannya gemetar.
Untuk beberapa saat, Sasuke hanya bisa memandang tak percaya. Ia, anak buah nomor satu Sarutobi Asuma ini, gemetar hanya karena sebuah mimpi konyol? Tidak mungkin!
Sambil menggemeretakkan gigi, sasuke mengepalkan kedua tangannya erat-erat. Begitu eratnya hingga kuku-kukunya menancap dalam ke kulit. Ia tak peduli ketika kulit yang ditekan kukunya mulai terasa perih. Ia lalu memaksa bangkit dari sofa dan beranjak ke arah kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Sasuke segera membuka laptop yang berada di meja berkaki rendah di depan sofa.
Ia akan buktikan kalau ia tak akan surut hanya karena sebuah mimpi. Ia tak akan tunduk oleh bayang-bayang Itachi. Apapun caranya, ia akan menghapusnya dari memori otaknya. Segera.
Meski demikian, sesungguhnya ia tidak tahu apa yang akan dilakukannya pada laptopnya. Seluruh rencana yang sudah ia susun dalam otaknya tadi malam buyar begitu saja. Tiap kali ia mencoba untuk mengingat rencananya, yang muncul justru wajah buram Itachi dalam mimpinya.
Karena itu, agar otaknya bisa menjadi sedikit sibuk, sekarang Sasuke mulai membuka-buka folder di laptopnya yang berisi data-data buronan tersangka kriminal yang belum sempat ia buka lagi semenjak ia bertemu dengan si orang berjenggot hitam.
Anggapannya, mungkin jika ia memikirkan pekerjaan, maka pikirannya bisa terdistraksi sedikit.
Benar saja. Begitu melihat daftar-daftar pelaku kriminal yang masih buron di layar, konsentrasi Sasuke mulai kembali. Hampir secara otomatis, kepalanya mulai menyusun rencana-rencana penyelidikan dan penyergapan untuk memburu para buronan itu. Asuma pasti akan tertarik mendengarnya.
Ya, kalau semua ini selesai, ia akan kembali ke tempatnya Asuma dan semuanya akan kembali normal.
Jari Sasuke berhenti bergerak menekan tombol tanda panah ke kanan di keyboard laptopnya.
'Kalau semua ini selesai,' batin Sasuke, 'apa yang akan kulakukan? Bisakah aku kembali dan bertingkah seperti tak ada apa-apa?'
Sasuke tertegun sesaat sebelum kembali sadar. Ia gelengkan kepalanya untuk menghalau pikiran sebelumnya.
"Tidak penting," gumam Sasuke. Jarinya kembali bergerak menekan tanda panah pada keyboard. "Yang seperti itu bisa kupikirkan nanti. Sekarang aku hanya harus konsentrasi untuk..."
Sekali lagi, jarinya berhenti. Tapi sekarang lain. Perhatiannya saat ini benar-benar terkunci seluruhnya pada tampilan profil seorang buronan di layar. Buronan itu hilang dalam pengejaran 8 tahun yang lalu. Gaungnya tidak terdengar lagi semenjak itu. Hingga beberapa detik yang lalu.
Mulut Sasuke membentuk seringaian lebar. Tubuhnya nyaris gemetar karena gembira. Akhirnya. Akhirnya dia menemukan cara untuk menyusup ke perusahaan itu. Bahkan, ia tak perlu diam-diam.
Sasuke segera menyambungkan laptopnya dengan printer kecil yang ia bawa. Ia cetak profil buronan itu, lalu ia baca ulang datanya.
Pada kertas di tangannya terpampang sebuah foto di pojok kiri atas yang menampilkan sosok seorang pemuda dengan rambut merah berantakan yang agak panjang. Wajahnya terlihat masih sangat muda dan bertampang datar. Nama kodenya adalah 'Red Scorpion'. Ia menjadi buronan karena pernah menjebol dan mengacaukan sistem komputer kepolisian pusat Konoah dan kota-kota lain. Memang tak ada data yang hilang, tapi sungguh menjengkelkan ketika pada suatu pagi mendapati layar komputer dalam satu gedung dipenuhi dengan gambar boneka berbentuk manusia yang sedang tertawa.
Sekilas terlihat seperti kejahilan seorang remaja bosan belaka. Namun kekacauan yang ditimbulkan sesudahnya sangat merugikan. Selama berminggu-minggu, tim ahli komputer di kepolisian pusat memperbaikin sistem dengan susah payah. Selama itu pula, tugas-tugas kepolisian tersendat. Akibatnya, banyak prosedur hukum yang harus tertunda.
Singkatnya, Red Scorpion adalah seorang peretas dengan potensi bahaya tingkat tinggi. Namun, ketika akhirnya ia berhasil dilacak di kota Suna, ia menghilang. Sejak saat itu, tak pernah ada lagi orang yang melihatnya.
Sekarang Sasuke paham mengapa ia tak bisa memasuki sistem komputer di perusahaan itu. Kemampuan meretas Sasuke bisa dibilang lumayan, tapi tentu saja tak akan berkutik bila dihadapkan dengan orang yang pernah membuat banyak kantor kepolisian pusat kalang kabut.
Ia benar-benar tak menyangka bahwa selama ini ia begitu dekat dengan sang buronan. Tampilan wajahnya sekarang memang agak berbeda. Lebih rapi dengan potongan rambut yang pendek. Wajahnya juga tidak setirus dulu. Sasuke juga tak menyangka kalau buronan yang dikejar oleh berbagai kota itu ternyata bisa sebodoh ini. Tanpa pertahanan menampakkan diri begitu saja, dengan santai bekerja di sebuah perusahaan kecil.
Entah angin apa yang membuat Red Scorpion berubah seperti itu. Mungkin ia memang sudah menjadi orang baik, tapi buronan tetaplah buronan. Apa yang pernah ia lakukan dulu harus dipertanggungjawabkan. Sasuke bisa memanfaatkan itu untuk masuk ke perusahaan.
Tanpa ragu lagi, Sasuke langsung menyambar mantelnya. Kalau sudah seperti ini, ia tak bisa bergerak sendirian. Ia akan melaporkan ini pada Asuma. Jika Asuma percaya, maka Sasuke bisa membekuk satu buronan, sekalian menyelidiki perusahaan. Dari situ mungkin ia bisa mendapati sesuatu yang berhubungan dengan orang berjenggot itu. Selain itu, Sasuke juga ingin tahu untuk apa Red Scorpion mendatangi makam orangtuanya.
Dalam tiga langkah lebar-lebar, ia mencapai pintu. Namun ternyata bukan ia satu-satunya orang yang ada di ambang pintu.
"Mau apa kau?" tanya Sasuke ketus begitu membuka pintu dan mendapati Kiba di depan pintunya. Tangan kanan Kiba terangkat seperti hendak mengetuk pintu.
Kiba menurunkan tangannya dan menatap Sasuke dengan malas. "Kau dipanggil Asuma. Penting"
Sasuke mengangkat alisnya. "Buat apa dia memanggilku?"
Sebagai jawaban, Kiba hanya mengangkat bahu. Ia tidak tahu detailnya. Asuma hanya memerintahkannya untuk memanggil Sasuke. Tapi, meski tahu pun, Kiba tak akan memberitahu Sasuke. Ia masih kesal dengan sikap Sasuke pada Ino. Karena itu, Kiba hanya mengedikkan kepalanya, berbalik lalu langsung berjalan. Secara tak langsung ia menyuruh Sasuke mengikutinya.
"Tunggu!" Baru dua langkah, lengan kiri Kiba sudah disambar Sasuke. "Bagaimana kau tahu aku ada sini? Aku tidak memberi tahu siapa-siapa! Bahkan pada Asuma. Kenapa kau bisa..."
"Diam saja dan ikuti aku," potong Kiba. "Kau bisa tanya sama Asuma kalau sudah di kantor nanti."
Kiba kembali berjalan, namun ia menengok ke belakang ketika tak terdengar langkah kaki dari belakangnya.
"Dengar ya!" kata Kiba meradang. "Asuma hanya menyuruhku menjemputmu. Selain itu, dia tidak bilang apa-apa. Orang berambut merah itu juga tidak berkata apa-apa. Jadi kau ikut saja dan..."
Mata Sasuke langsung melebar begitu kata orang berambut merah disebut-sebut. "Orang berambut merah katamu? Wajah datar dengan tampang seperti anak-anak dan potongan rambut yang pendek? Bola mata cokelat kemerahan?"
"Ha? Kok kau bisa tahu? Hei! Tunggu! Kembalikan itu! Hei!"
Sasuke tidak mendengar seruan Kiba. Seluruh inderanya saat ini hanya dipenuhi oleh orang berambut merah itu, yang tak lain adalah buronan dalam profil di kertas di tangannya. Ia langsung masuk ke dalam mobil patroli milik Kiba yang diparkir persis di depan pintu masuk gedung flat. Sebelum Kiba sempat mencapai mobil, Sasuke sudah menginjak gas dalam-dalam.
Kiba hanya bisa menyumpah-nyumpah di pinggir jalan. Ia tak habis pikir, kenapa Sasuke bereaksi seperti itu setelah ia menyebut si pemuda berambut merah. Belum pernah ia melihatnya seemosional ini, bahkan hingga merebut kunci dari tangan Kiba dan melarikan mobilnya seperti itu.
Kalau begini ceritanya, mau tak mau Kiba harus naik kendaraan umum. Beruntung dompetnya tidak ia tinggalkan di mobil tadi.
Kiba mengingatkan dirinya sendiri untuk membalas Sasuke nanti begitu ia sampai di sana.
...
Sip, beres.
Kali ini saya tak banyak berkata-kata. Silakan lanjut ke chapter berikutnya.
Kritik dan saran kirim ke kotak review yaaa...
