Disclaimer: all of the chara is belong to Masashi Kishimoto, I just simply borrow them

Main Cast : Sasuke

Buat para calon pembaca*ngareppp, please fasten your seatbelt and...enjoy =D Epilognya lebih ringan btw, kalo mungkin ada yang capek nangis, hehe (sotoy lagi)

...

Jam dindingnya memang sudah tidak utuh lagi, namun kini detak mesinnya sudah mulai berbunyi dengan teratur...

-o-o-o-o-o-

2 bulan kemudian...

Sasuke menerobos masuk ruangan yang kini menjadi miliknya dengan gusar. Saking kesalnya ia hingga tak menyadari keberadaan Sakura yang sedang berada di meja depan ruangannya. Ia juga tak peduli dengan suara berderak mengerikan dari pintu kaca ruangannya setelah dibanting.

Biarlah, yang penting tidak pecah. Yah, mungkin retak. Sedikit.

Sasuke lalu membanting diri ke kursi besar di dekat jendela. Selama beberapa saat itu ia memejamkan mata, berusaha menenangkan diri. Rasanya ia benar-benar ingin meninju sesuatu. Ia lalu mengusap wajah, frustasi.

Pemuda berambut hitam itu sama sekali tak menyangka sebelumnya kalau menjalankan suatu perusahaan berskala kecil ternyata bisa sesulit ini. Terlebih lagi dengan pendidikannya selama ini yang sama sekali jauh dari urusan manajemen dan bisnis. Ia jadi harus mempelajari semuanya seusai jam kerja untuk mengejar ketinggalan.

Sasuke jadi tergoda untuk melepaskan jabatannya dan kembali ke lapangan. Lebih mudah menangkapi kriminal kelas berat daripada mengelola bangunan seperti ini. Ia juga lebih memilih hidup berminggu-minggu secara sederhana sambil melacak seorang buronan yang licin dan berpindah-pindah tempat daripada mendapatkan akomodasi lumayan tapi dengan tingkat stress yang tinggi.

'Tak heran Itachi jadi penyakitan seperti itu,' batin Sasuke.

Dan yang lebih membuat frustasi adalah orang-orang dari perusahaan multimedia yang bernama Akatsuki itu. Sasuke tidak mengerti alasan apa yang membuat perusahaan kecil yang sekarang menjadi miliknya ini diminati oleh perusahaan sebesar itu, bahkan hingga segencar itu mereka mengajak kerja sama. Mereka sudah pernah ditolak Sasori sebelumnya, tapi mereka masih saja tetap datang.

Karena kegigihan utusan dari Akatsuki yang mengajak kerja sama itu, akhirnya Sasuke mengalah, dengan dipelototi Sasori tentunya. Tapi Sasuke tidak berkata akan langsung menerima tawaran mereka. Ia meminta diadakan meeting dengan mereka supaya semuanya lebih jelas.

Dua orang utusan Akatsuki yang bernama Orochimaru dan Hidan memang memberikan presentasi yang mengagumkan dua hari yang lalu, namun entah kenapa insting Sasuke berkata ada sesuatu yang mereka sembunyikan. Entah apa. Karena itu, Sasuke mencoba mengulur waktu supaya bisa menyelidiki mereka diam-diam. Ia sudah meminta Sasori yang ahli dalam peretasan soal itu, namun sampai sekarang Sasori belum mendapatkan hasil. Membobol sistem komputer sebuah perusahaan besar bukan hal yang mudah.

Yang membuat Sasuke kesal adalah, ketika utusan dari Akatsuki itu meminta bertemu lagi tadi pagi untuk membahas prospek kerjasama di masa mendatang. Kali ini mereka datang bertiga. Masalahnya mereka bersikap seolah sudah mengantongi kontrak kerja sama. Sasuke mati-matian menahan diri untuk tidak maju menjotos mereka, apalagi ketika rekan ketiga mereka yang bernama Deidara itu kelepasan bicara mengenai nama perusahaan warisan Itachi yang dianggap menggelikan.

Sasuke menghela nafas berat dan bertopang dagu dengan menyandarkan kedua sikunya di atas meja kerja. Setelah hatinya tenang dan kepalanya sedikit jernih, Sasuke berpikir, merenungi perkataan Deidara di akhir rapat beberapa menit yang lalu.

"Jadi kapan pihak kalian memberikan jawabannya, un? Kusarankan secepatnya kalau bisa. Dengan begitu kita tidak perlu mulur-mulur seperti ini lagi 'kan, un?"

Sasuke mencoba untuk tidak menggeram. "Pihak kami masih merundingkannya. Mohon maaf bila kami memang terlalu lama. Kami hanya ingin semuanya berjalan lancar."

"Terserah," kata Deidara cepat, "Tapi jangan lama-lama, un. Nanti bisa-bisa kontrak ini kami batalkan sepihak, un."

Sasuke makin mendongkol. Kenapa malah jadi pihaknya yang terkesan butuh? Yang mengajak kerjasama duluan kan mereka? Ia jadi menyesal kenapa tidak ikut dengan keputusan Sasori.

"Baiklah. Akan kami usahakan secepatnya," kata Sasuke. Dalam hati ia berharap semoga Sasori segera mendapatkan apa yang ia minta. Ia tahu kalau sebenarnya caranya termasuk ilegal. Belum lagi bila ketahuan. Tapi Sasuke tidak akan tenang kalau belum jelas.

"Oh iya, satu lagi saranku," kata Deidara tiba-tiba ketika mereka hendak keluar dari ruangan, "Sebaiknya kau ganti nama perusahaan ini supaya layak bersanding dengan Akatsuki kami. Jangan tersinggung ya un, tapi bagi perusahaan besar seperti kami, nama yang bagus akan lebih mencitrakan kesan baik, un."

"Terima kasih sarannya, akan kami pertimbangkan," kata Sasuke singkat.

Saat itu, Sasuke ingin sekali menghajar si pirang un-un itu tepat di muka. Menjelek-jelekkan nama perusahaan yang dibangun kakaknya dengan susah payah. Mereka sebenarnya ingin mengajak kerjasama atau berkelahi sih?

Tapi sebenarnya separuh diri Sasuke juga setuju dengan perkataan seenak hatinya Deidara itu. Orang jenis apa sih yang menamai sebuah perusahaan percetakan dengan nama Fann Bleu? Di telinga Sasuke, itu kedengarannya seperti nama sebuah cafe atau malah toko pernak-pernik khusus cewek. Sasuke baru tahu kalau ternyata kakaknya punya naming sense yang aneh.

Sekali lagi, Sasuke menghela napas sambil memijat pangkal hidungnya,pusing. Matanya kemudian melirik malas jam digital datar yang ada di mejanya. Waktu telah menunjukkan pukul 12.09. Sudah jam makan siang rupanya.

Sasuke berdiri, tapi sejurus kemudian ia duduk lagi. Ia putuskan untuk memesan makanan saja. Ia sedang ingin sendirian.

Tangannya bergeser malas menuju telepon. Karena tidak memperhatikan, ia kemudian tak sengaja menyenggol tumpukan kertas di pinggir meja hingga jatuh. Sambil mengumpat, Sasuke beranjak dari kursinya dan membungkuk memunguti kertas-kertas yang jatuh. Matanya kemudian menangkap sebuah sosok kecil yang tidak tampak asing di antara kertas yang berserakan.

"Di sini rupanya," gumam Sasuke lega. Selama ini ia mencari kunci dengan pegangan biru itu di sela-sela kesibukannya sebagai direktur baru. Kemudian, samar-samar ia ingat pernah membawa kunci itu ke ruangan ini, namun karena panggilan mendadak dari Sakura, ia lupa meletakkan di mana. Karena kesibukannya, ia hampir tidak sempat mencari dengan teliti.

Ditimangnya kunci itu dengan tangan kiri. Ia melempar kunci itu sekali ke udara lalu menangkapnya tangkas dengan tangan yang sama. Rasa lapar yang sempat muncul tadi menjadi sirna, digantikan oleh rasa penasaran yang menggelitik.

'Apa ya pesan Itachi waktu itu?' tanya Sasuke dalam hati, "ah iya, cari kotak yang warnanya sama dengan pegangan kuncinya."

Sasuke menemukannya tersembunyi di balik jam tua pipih di rak kayu jati kokoh dekat mejanya. Jam itu berada di barisan rak yang setinggi dadanya.

Dengan bersemangat, Sasuke menggeser jamnya hingga kotak besi berwarna biru itu terlihat jelas. Ukurannya agak besar, sekitar 60 x 60 cm dengan kedalaman sekitar 40 cm. Ia mencoba mengangkatnya dari rak, namun karena berat, akhirnya ia biarkan benda itu berdiam di tempatnya. Kemudian, ia membuka pintu kotaknya dengan kunci secara perlahan. Bau khas langsung menguar ketika pintu kotaknya mengayun terbuka.

Seketika Sasuke terperangah ketika melihat isinya. Ia hampir tak dapat mempercayai matanya. Dengan hati-hati, ia keluarkan barang-barang yang ada di sana satu-persatu, dimulai dari kotak beludru biru seukuran telapak tangannya. Tangannya sedikit bergetar ketika membuka kotaknya.

Sebuah liontin dengan berlian biru yang agak besar balas mengerling pada Sasuke. Dari situ, matanya lalu beredar pada tiap benda, mengenali bentuk-bentuk yang familier. Ada foto keluarga ketika Sasuke berumur 4 tahun, jam tangan perak favorit mendiang ayahnya yang sudah tergores-gores, jam pasir berwarna biru hadiahnya untuk ulang tahun Itachi yang ke-12 sebagai olok-olok karena dulu kakaknya itu sering bangun kesiangan, dan yang terakhir, bola baseball yang sudah ditandatangani oleh pemain terkenal yang dihadiahkan Itachi padanya saat Sasuke berhasil menghabiskan wortel di piringnya selama seminggu di umurnya yang menjelang 6 tahun.

Sasuke langsung terngiang dengan sebaris dari surat Itachi.

...isi kotaknya lebih mahal daripada emas.

"Yeah, kau benar," gumam Sasuke sambil tersenyum kecil, "isinya memang lebih mahal daripada emas. Jauh lebih mahal."

"Sedang bernostalgia eh?" seru suara mendadak dari arah pintu, membuat Sasuke gelagapan hingga bolanya jatuh dari tangannya.

"Sa-Sasori?" kata Sasuke tergagap, "Ketuk pintu dulu kenapa sih?"

"Sudah dari tadi," jawab Sasori datar. "sekali, tapi kau tidak menyahut, jadi aku masuk saja."

Sasuke menghela nafas. Baru mengetuk satu kali katanya?

"Sasori," kata Sasuke serius, "sekali-sekali tidak bisakah kau sedikit sabar...apa itu?"

Sasori berkedip sekali, kemudian ia mengangkat tangan kanannya yang sedang menenteng sesuatu.

"Ini? Kutemukan di gudang belakang. Aku lupa kalau ini ada di sana. Tadinya mau kubuang, tapi kupikir sebaiknya kutanyakan dulu padamu. Siapa tahu kau mau."

Namun, Sasuke tidak terlalu menyimak perkataan Sasori. Sebelum Sasori menyadari, benda di tangan kanannya sudah direbut Sasuke. Sekali lagi, ia terperangah ketika membentangkan benda itu di hadapannya.

Sebuah jas abu-abu lusuh panjang. Bukan hanya itu, Sasori juga membawa topi lebar dan syal besar berwarna hitam.

"Ini kan...? Jangan-jangan..."

"Punya si orang jenggot hitam? Ya."

"Itachi?"

"Ya."

Jadi memang benar, orang yang waktu itu adalah Itachi. Tapi kenapa ia sempat merasa asing ya?

Tiba-tiba benaknya seperti mendapati sebuah keping puzzle yang hilang. Tentu saja. Bagaimana tidak, di balik jenggot hitam palsunya itu, Sasuke melihat kulit yang sepucat kertas. Tentu saja ia merasa asing, karena ia tak pernah melihat Itachi sepucat itu. Ia lalu ingat perkataan Sasori dulu kalau kondisi Itachi memburuk setelah mengunjungi makam orangtuanya.

Sasuke kembali menerawang.

"Jadi, apa yang mau kau lakukan pada benda-benda ini? Disimpan?" tanya Sasori, membuat pikiran Sasuke kembali ke dunia.

"Terserah kau saja."

Dengan itu, Sasori langsung meletakkan barang bawaannya di kursi terdekat.

"Hei!" seru Sasuke kaget. "Kubilang memang terserah tapi bukan langsung kau letakkan di situ!"

Sasori hanya mengangkat bahu, tampak tak ambil pusing dengan perbuatannya sedetik yang lalu. Kemudian, teringat sesuatu, ia mengeluarkan sebuah benda kecil dari saku jaketnya. Sebuah flash disk. Dilemparkannya benda itu pada Sasuke.

"Itu data yang kau minta," kata Sasori langsung. "tentang Akatsuki itu. Kujamin pasti kau akan tertarik kalau kubilang salah satu pendiri senior kantor Akatsuki itu adalah Danzo."

Sebuah bunyi bel seolah berdentang di kepala Sasuke. Danzo. Orang yang pernah mencoba menguasai lahan di blok ini dan pembunuh Sarutobi, pemilik gedung ini sebelum Itachi. Insting kepolisian Sasuke langsung menyala.

"Menarik," kata Sasuke. Hanya satu kata, tapi makna di baliknya lebih banyak dari yang bisa ia ungkapkan. Tiba-tiba Sasuke tidak merasa stress lagi dengan pekerjaan barunya, karena ternyata pekerjaan barunya itu sedikitnya masih berhubungan dengan dunia yang dikuasainya. Dunia kriminal.

"Kalau sudah, aku keluar dulu. Aku belum makan. Nanti kau panggil saja aku kalau perlu sesuatu yang berkaitan dengan itu," tunjuk Sasori pada benda kecil di tangan Sasuke. Ia lalu bergerak menuju pintu, namun tangannya berhenti tepat di pegangan pintunya ketika Sasuke memanggilnya.

"Apa?" tanya Sasori sedikit kesal. Ia lapar dan jam makan siang sebentar lagi usai. Ia tak suka bila pekerjaannya diselingi dengan makanan. Maksudnya, pekerjaannya di sekitar jendela favoritnya yang menghadap ke perempatan. Ia bisa mengawasi dan melihat banyak orang dari tempat itu. Satu-satunya tempat di mana Sasori bisa duduk diam dan menunggu. Ada banyak kejadian tak terduga yang terjadi di jalan bila ia mau bersabar, dan Sasori tak pernah bosan melihat itu. Dan karena hobinya itu, ia jadi bisa membantu Itachi kabur saat Sasuke membuntutinya dan membuatnya menduga kalau orang yang memata-matai dari flat kumuh jauh di seberang sana tempo hari adalah Sasuke.

"Di hari saat aku membuntuti Itachi, tiba-tiba dia menghilang saat kau mengalihkan perhatianku."

Sasori mengangkat alis. Ternyata Sasuke menyadari kalau kejadian Sakura yang tersiram itu memang disengaja.

"Bagaimana cara Itachi menghilang? Aku sudah berkali-kali memeriksa gang itu tapi aku tak menemukan apapun yang bisa membuat seseorang menghilang dalam waktu beberapa detik."

Kini Sasori tersenyum tipis.

"Ikuti aku," katanya singkat, "tapi jangan bilang-bilang Sakura ya. Kalau tahu, bisa-bisa jurus andalanku itu dibongkar paksa olehnya."

Sasuke kemudian berjalan terburu-buru mengikuti Sasori ke arah gudang kecil di belakang toilet kantor lantai 3. Sakura selalu mencari makan di luar ketika makan siang, namun karena jam makan sebentar lagi habis, Sasori takut terpergok oleh gadis itu.

"Untuk apa kita ke gudang?"

"Lihat saja," kata Sasori misterius. Ia kemudian membuka pintu gudang yang memperlihatkan sebuah ruangan kecil penuh debu. Di satu sisi gudang berukuran 2x1.5 m itu berdiri tumpukan sapu dan ember serta alat pel, namun sisi lainnya yang tak disandari oleh alat apapun menunjukkan sebuah bagian dinding yang sudah bocel-bocel. Sasori berdiri di depan dinding bocel itu lalu menekan lubang tak beraturan setinggi kepalnya tepat di sebelah kiri dirinya. Setelahnya, Sasori langsung mundur.

Terdengar bunyi desisan pelan. Kemudian, dinding itu bergerak mengayun terbuka ke arah Sasori. Di baliknya terdapat sebuah langkan dan anak tangga sempit yang hanya bisa dilalui oleh satu orang. Sasori lalu menuruni tangganya, diikuti oleh Sasuke. Di lantai satu, dibantu oleh penerangan seadanya, Sasori melakukan hal serupa hingga pintu sempit di depannya terbuka.

Sasuke tak mampu berkata-kata ketika melihat pemandangan di depannya. Sebuah gang selebar 2 meter yang diapit oleh gedung di kiri kanannya. Ia masih sulit menemukan kata-kata ketika mengikuti Sasori keluar. Ia semakin membisu ketika Sasori menutup pintunya.

"Bagaimana?" tanya Sasori bangga.

Sasuke terbengong sesaat. Pintu yang ditutup Sasori sama sekali tak terlihat dari luar. Garis pintunya tersamarkan oleh robekan-robekan poster yang sudah usang. Tempelannya yang terkesan acak sama sekali menyembunyikan suatu garis teratur di baliknya. Buatannya benar-benar rapi dan halus.

"Kau yang membuatnya?" tanya Sasuke takjub.

"Ya. Sebelum menjadi peretas, aku sering membuat peralatan mekanis yang seperti ini. Sangat menyenangkan, kau tahu?"

Kepingan puzzle terakhir. Sekarang semuanya sudah lengkap.

"Awalnya kubuat supaya bisa pulang lebih cepat. Orang-orang selalu lambat tiap kali pulang menuruni tangga di kantor. Bikin kesal saja. Makanya kubuat jalan pintasnya. Tak kusangka ternyata bisa berguna juga untuk yang lainnya, seperti kasusnya Itachi dulu."

"Dan tak ada seorang pun yang tahu selain kalian berdua?"

"Dulu ya. Sekarang kau juga tahu kan?"

Sasuke bergumam tak jelas. Sekali lagi, ia menatap takjub pada hasil kerja Sasori. Dalam hati ia menyayangkan kemampuan pemuda berambut merah itu yang tersia-sia. Kalau saja Sasori tak berpindah ke dunia cyber, mungkin ia bisa menjadi seorang yang nomor satu dalam hal peralatan mekanis. Sayang sekali.

Bunyi alarm jam tangan mengagetkan mereka berdua. Asalnya dari arah jam tangan Sasuke.

"Astaga, sudah pukul satu?" seru Sasori terkejut. "Gawat, ayo cepat kembali, kalau tidak Sakura keburu..."

"Keburu apa?" sahut sebuah suara yang membuat kedua pemuda itu terlompat.

Di mulut gang, berdiri seorang gadis berambut merah muda yang sedang berkacak pinggang. Tangan kirinya memegang sebuah bola karet berukuran sedang berwarna hijau. Selang beberapa detik kemudian, seorang anak kecil berlari menghampiri Sakura. Menyadari kehadiran anak itu, Sakura menoleh lalu tersenyum manis, namun berubah menjadi senyuman iblis setelah bola karetnya diserahkan dan anaknya pergi entah ke mana.

"Apa yang kalian lakukan di sini?" tanya Sakura dengan mata disipitkan dan curiga tingkat tinggi. Ia berjalan mendekat lalu berhenti sekitar tiga meter dari hadapan mereka berdua.

"Eh, kami sedang.."

"...melihat poster. Karena berantakan, kami pikir sebaiknya dibersihkan saja." Sasuke melanjutkan perkataan Sasori dengan lancar. Sasori boleh punya tampang stoic, tapi ia tak pandai berbohong. Sedangkan Sasuke, karena sering berinteraksi dengan pelaku kriminal yang punya banyak akal bulus, sudah terbiasa berkata yang bukan sebenarnya untuk mengorek informasi.

Sakura melihat kedua secara bergantian, namun ia tak berkomentar apa-apa. Sejurus kemudian, raut wajahnya merileks.

"Oh," kata Sakura tenang. Ia lalu berbalik dan berkata tanpa menoleh pada keduanya, "Ingin membersihkan posternya toh. Kupikir kalian habis lewat jalan pintas atau semacamnya supaya bisa kabur."

Otomatis, Sasuke dan Sasori saling melirik. Sasori menelan ludah dengan susah payah sedangkan Sasuke diam saja. Mata mereka berdua sama-sama terpancang pada punggung Sakura yang menjauh.

Sambil bersenandung kecil, Sakura diam-diam tersenyum penuh arti.

...

Selesaaiiiii!

Sumpe, seneng banget dah gue akhirnya bisa beresin satu cerita, hahahaaa...

Makasih yaa buat yang udah mampir en ngebaca fic perdana saya sampai habis. Saran dan kritik masih diterima loh yaa...

See you later on the other fic ^^