Title : PAST
Main Cast :
- Lee Sungmin
- Cho Kyuhyun
and another support cast
Main Pair : Crack!Kyumin
Genre : BL / Romance / Hurt / Comfort / Angst
Rating : T
Length : Chaptered – prekuel Waiting, Still Waiting
Author : Matsuo Kumiko
"Kyu, kenapa kau memanggil kami ke sini?"
Kubalikkan badanku. Tampak semuanya tengah berdiri menatap kami.
"Hyung, aku dan Kyu membeli sesuatu yang menarik tadi siang" ujar Sungmin hyung.
"Apa, hyung? Mainan? Bom?" tebak Eunhyuk hyung.
"Makanan? Payung? Anjing?" tebak Donghae hyung.
"Ya! Jangan sembarangan!" seru Kang-in hyung sembari memukul kepala Eunhyuk hyung dan Donghae hyung.
"EOMMA!" teriak Eunhyuk hyung Donghae hyung bersamaan.
Mereka berlari ke arah Leeteuk hyung dan berlindung di belakang Leeteuk hyung, meminta pertolongan dan perlindungan.
"Youngwoon~ah. Jangan marah-marah. Lebih baik kita mencari tau apa yang dibeli oleh Sungmin dan Kyuhyun" ujar Leeteuk hyung menenangkan Kang-In hyung.
"Ne, ne"
"Sungmin hyung. Apa yang hyung beli?" tanya Ryeowook hyung.
Aku menghela napas, meratapi keadaanku saat ini. Sepertinya tidak ada yang peduli padaku. Mereka semua bersenang-senang sendiri. Malangnya nasibku.
"Aku membeli–"
"Anjing kan, hyung?" potong Yesung hyung.
"Ya! Pabbo, hyung!" seruku.
"Wookie" ujar Yesung hyung meminta pembelaan dari namja-chingu-nya.
"Kyu" ujar Ryeowook hyung sembari mengeluarkan angel-death-glare.
"Ne, hyung?" tanyaku polos.
"Jika kau menyebut Yesung hyung pabbo lagi, bisa kupastikan kau tidak akan makan selama sebulan" ancam Ryeowook hyung.
"A–"
"Kami membeli kembang api tadi siang" ujar Sungmin hyung memotong ucapanku.
Kutatap Sungmin hyung. Sungmin hyung balas menatapku.
"Yee…! Sudah lama kita tidak main kembang api" ujar Heechul hyung gembira.
"Ne, sudah lama sekali" ujar Hankyung hyung.
"Kalau begitu, kita main sekarang saja" ujar Siwon hyung.
Dan pertengkaran antara aku dan Ryeowook hyung pun terlupakan. Kami mulai bermain kembang api dan kejar-kejaran.
Sekarang sudah jam 3 pagi. Kami para seme mulai merapikan semua kekacaukan yang telah kami buat. Para uke sudah kembali ke kamar, meninggalkan kami berlima membereskan semuanya. Shindong hyung juga sudah kembali ke kamarnya.
"Kyu"
Kubalikkan tubuhku ke arah suara.
"Wae, hyung?" tanyaku.
"Kau dan Sungmin hyung pacaran ya?" tanya Donghae hyung.
"Ne" jawabku singkat.
"Mwo? Sejak kapan?" tanya Hankyung hyung.
"Secret"
Kini semua sudah bersih kembali. Aku beranjak masuk ke hotel, namun tiba-tiba beberapa tangan menarikku dan membuatku terjatuh.
"Ya! Kenapa kalian menarikku?" seruku.
"Kyu, kini kau sudah sama dengan kami" ujar Yesung hyung.
"Ne. Menjadi seorang seme" lanjut Donghae hyung.
"Lalu?"
"Kau harus berbagi dengan kami" ujar Hankyung hyung.
"Berbagi? Enak saja! Aku tidak akan berbagi Minnie dengan kalian!" seruku.
"Ya! Dasar pabbo. Siapa yang menyuruhmu berbagi Sungmin dengan kami? Maksud kami adalah cerita" jelas Kang-In hyung.
"Kau harus menceritakan sedetail-detail tentang bagaimana kau dan Sungmin hyung bisa pacaran" lanjut Donghae hyung.
"Kalau aku tidak mau?" tanyaku.
"Kau tidak akan pernah melihat Sungmin tercinta-mu lagi" ujar Kang-In hyung sembari tersenyum manis.
Kubuka pintu kamarku. Aku segera masuk dan merebahkan tubuhku di ranjang. Waktu menunjukkan pukul 4 pagi. Setelah satu jam, akhirnya para hyungdeul membebaskanku. Mereka memaksaku untuk menceritakan awal kisah cintaku dengan Sungmin hyung, mengancamku agar aku mau membuka mulutku. Untunglah mereka tidak melakukan hal-hal berbau kekerasan padaku. Jika itu terjadi, entah bagaimana nasib tubuhku yang indah ini dan wajahku yang tampan ini.
"Kyu~"
Kugulingkan tubuhku menghadap Sungmin hyung.
"Kyu~"
Sungmin hyung mengigau memanggil namaku. Ah, manisnya. Apa yang ia mimpikan, ya?
"Kyu, jangan pergi"
Setitik air mata menetes dari mata Sungmin hyung. Kupeluk tubuh yang tengah tertidur itu.
"Kyu, jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri," igau Sungmin hyung.
Kuelus kepala Sungmin hyung lembut.
"Minnie, aku tidak akan meninggalkanmu" bisikku.
Sungmin hyung terus menangis dalam tidurnya. Kurasakan kini kaus yang kukenakan mulai basah. Aku terus memeluk tubuh mungil milik Sungmin hyung dan mengelus kepalanya lembut.
"Minnie" bisikku.
"Kyuuuu~ Jangan pergi, kumohon"
Sungmin hyung semakin menangis.
"Kyu… Hiks… Kumohon jangan tinggalkan aku sendiri. Aku membutuhkanmu. Hiks…" isak Sungmin hyung.
"Kyu, aku tidak bisa hidup… Hiks… Tanpamu. Namun jika kau bahagia… Hiks… Aku juga akan bahagia untukmu. Hiks…"
Kulepaskan pelukanku dan mulai membangunkan Sungmin hyung.
"Minnie, bangunlah. Aku di sini, di sampingmu. Aku tidak akan kemana-mana. Bangunlah" ujarku.
Sungmin hyung tetap tidur dan menangis. Aku terus membangunkan Sungmin hyung. Aku tidak ingin melihatnya menangis, meski pun dalam tidurnya.
"Kyu, berbahagialah"
"Minnie, bangun. Kau hanya bermimpi buruk"
"Meskipun bukan aku yang berada di sisimu, aku tetap bahagia asalkan aku bisa melihatmu bahagia"
Kukecup bibir mungil Sungmin hyung. Aku sudah tidak kuat mendengar ucapannya. Ucapnya membuatku sakit, perih. Kulepaskan bibirku dan bibir Sungmin hyung. Sungmin hyung masih menangis. Kusingkirkan air mata yang mengotori pipi putih Sungmin hyung.
"Minnie, hentikan ucapanmu itu. Kau membuatku takut. Kau berkata seolah-olah aku akan pergi meninggalkanmu" ujarku.
Akhirnya Sungmin hyung terbangun. Ia memelukku erat.
"Kyu, aku takut. Aku bermimpi bahwa kau akan meninggalkanku sendiri. Kau pergi dengannya" ujar Sungmin hyung.
Isak tangis masih terdengar dari bibir mungil Sungmin hyung. Kukecup bibirnya, berusaha menghentikan isak tangisnya. Setelah cukup lama, Sungmin hyung mendorong tubuhku. Ia menarik napas, mengisi paru-parunya dengan oksigen.
"Minnie, siapa yang kau maksud?" tanyaku.
"Aku tidak tau. Aku tidak mengenal namja itu" ujar Sungmin hyung.
Kupeluk tubuh Sungmin hyung dan kuelus kepalanya lembut.
"Tidurlah" ujarku.
"Ani" tolak Sungmin hyung.
"Waeyo?"
"Aku takut kau akan pergi saat aku tidur"
"Tenanglah. Aku di sini, Minnie. Aku tidak akan kemana-mana. Aku berjanji" ujarku menenangkan Sungmin hyung.
"Oneuldo nal gidaryeojoon ni moseup nan gieokhae gakkeumsshik himi deul ddaemyeon nan hangsang neol saenggakhae"
Aku mulai bernyanyi lagu kami yang berjudul 'You and I' untuk menenangkan Sungmin hyung. Kukecup pucuk kepala Sungmin hyung. Tak lama kemudian, aku bisa mendengar suara napas Sungmin hyung yang teratur. Aku berhenti bernyanyi. Aku segera melepaskan pelukanku dan menatap wajah Sungmin hyung yang tengah tertidur.
"Minnie, tidurlah yang nyenyak. Jangan takut, karena aku akan terus berada di sampingmu"
Kupeluk lagi tubuh yang tengah terlelap itu. Aku mulai memejamkan mataku. Tak lama kemudian, aku menyusul Sungmin hyung ke alam mimpi.
"Kyu, selesai sarapan kita mau pergi ke mana?" tanya Sungmin hyung.
"Hm… Aku tidak tau. Kau ada ide?"
"Bagaimana kalau ke taman yang kemarin? Kita bisa bermain di sana" usul Sungmin hyung.
"Arasseo. Kalau begitu, setelah sarapan kita ke taman"
Kuteguk minumanku hingga habis. Setelah habis, kuletakkan kembali di meja dan melanjutkan aktifitasku, menatap Sungmin hyung yang sedang makan.
"Kyu, kenapa menatapku seperti itu?"
"Ani, aku hanya ingin menatapmu saja. Tidak boleh?"
"Bukan begitu. Aku hanya sedikit risih," jelas Sungmin hyung.
Sungmin hyung kembali melanjutkan makannya dan membiarkanku mentapanya. Sepertinya ia takut membuatku ngambek lagi. Selesai makan, kami segera pergi meninggalkan hotel dan berjalan ke arah taman yang kemarin kami lewati. Tak lupa aku menggenggam tangan Sungmin hyung. Sesampai di taman, kami duduk di salah satu rindang, namun tak banyak orang yang datang ke taman itu.
"Minnie, kau tunggu di sini sebentar ya?" ujarku sembari bangkit berdiri dari ayunan.
"Kyu, kau mau ke mana? Aku ikut"
"Aku hanya pergi sebentar. Aku akan membelikan sesuatu yang kau pasti suka. Tunggulah sebentar" ujarku.
"Arasseo, tapi jangan lama-lama" pesan Sungmin hyung.
Kukecup pipi Sungmin hyung sebelum pergi meninggalkan taman. Aku berjalan di pertokoan dan masuk ke salah satu toko.
"Permisi. Saya ingin memesan sekotak ice cream strawberry dan sekotak ice cream chocholate" ujarku pada seorang yeojya.
"Sekotak ice cream strawberry dan sekotak ice cream chocolate. Totalnya 300 won"
Kukeluarkan dompetku dan menyerahkan 3 lembar uang 100 won.
"Silahkan tunggu sebentar"
Yeojya itu berjalan menjauhi meja kasir ke sebuah pintu. Tak beberapa lama yeojya itu kembali. Di tangannya terdapat sebuah kantong plastik.
"Silahkan. Maaf telah membuat anda menunggu" ujar yeojya itu sopan.
Aku segera keluar dari toko itu dan berjalan kembali ke arah taman. Namun langkahku terhenti saat aku melihat sesuatu yang menarik perhatianku. Aku berjalan masuk ke toko yang menarik perhatianku itu.
Kulirik jam tanganku. Alangkah kagetnya aku saat menyadari sudah satu setengah jam aku meninggalkan Sungmin hyung sendirian di taman. Aku segera keluar dari toko itu dan berlari ke arah taman. Sesampai di taman, aku segera mencari sosok Sungmin hyung di tempat aku meninggalkannya. Saat melihat Sungmin hyung, aku segera berhenti berlari. Tubuhku menengang saat melihat apa yang ada di hadapanku. Sungmin hyung sedang menundukkan kepalanya. Tangannya menutup wajahnya. Isak tangis terdengar dari bibirnya. Aku berjalan dengan pelan ke arah Sungmin hyung. Kuletakkan kantung plastik berisi dua kotak ice cream di tanah dan bertumpu pada lututku. Kuelus kepala Sungmin hyung yang sedang menunduk.
"Minnie" bisikku.
Sungmin hyung mengangkat kepalanya. Matanya berlinang air mata. Aku segera memeluk tubuhnya yang bergetar.
"Minnie, jeongmal mianhae" bisikku tepat di telinga Sungmin hyung.
"Hiks… Kyu, aku takut" ujar Sungmin hyung.
Kuelus rambutnya lembut, berusaha menenangkan Sungmin hyung.
"Mian, karena aku sudah meninggalkanmu sendirian di sini. Mian, karena aku sudah membuatmu menunggu begitu lama"
"Kyu… Hiks… Aku takut…"
"Aku takut mimpiku menjadi kenyataan. Hiks… Jangan pergi, Kyu. Jangan meninggalkanku sendiri. Hiks…"
Kulepas pelukanku. Kuhapus air mata yang ada di pipi Sungmin hyung dengan bibirku.
"Minnie, aku ada di sini. Itu hanya mimpi, aku tidak akan meninggalkanmu"
"Kyu, kenapa kau pergi begitu lama?" tanya Sungmin hyung.
"M-mian. Aku melihat game center, jadi aku berniat untuk bermain sebentar. Aku tidak menyangka aku sudah bermain selama satu setengah jam" jelasku.
"Jadi kau meninggalkanku sendiri di sini hanya untuk bermain game, Kyu?" tanya Sungmin hyung tidak percaya.
Tangis Sungmin hyung sudah berhenti.
"Ani. Aku membelikanmu ice cream strawberry kesukaanmu" ujarku.
"Jeongmal mianhamnida, Minnie. Kau boleh memakan ice cream-ku jika kau mau" bujukku.
Kuserahkan kantong plastik berisi ice cream pada Sungmin hyung. Kududukan tubuhku di ayunan yang ada di sebelah Sungmin hyung. Sungmin hyung mengeluarkan salah satu kotak dan dibukanya. Namun Sungmin hyung menggembungkan kedua pipinya, bukan tersenyum saat melihat bahwa ice cream yang kubeli sudah mencair sepenuhnya.
"Kyu, apakah kau benar-benar mau membelikanku ice cream?" tanya Sungmin hyung.
"Tentu saja, Minnie"
"Tapi ini sudah mencair. Bagaimana cara memakan ice cream yang sudah mencair?"
"Kau bisa meminumnya" usulku.
"Itu namanya minum ice cream, Kyu. Bukan makan ice cream" rengek Sungmin hyung.
Kugembungkan kedua pipiku seperti yang dilakukan Sungmin hyung tadi.
"Jika kau tidak mau, berikan saja semuanya padaku" ucapku.
"Kok kau yang ngambek, Kyu? Harusnya kan aku"
"Minnie tidak menghargai ice cream yang kubeli, sih"
"Ya sudah, aku akan meminumnya. Kau juga minum milikmu, Kyu" ujar Sungmin hyung sembari memberiku salah satu kotak yang ada.
Kuambil kotak itu dan kubuka tutupnya. Ya, ice cream-nya memang sudah mencair sepenuhnya. Wajar saja Sungmin hyung ngambek. Kuminum ice cream yang telah mencair itu. Setelah habis, kubersihkan sisa-sisa ice cream yang ada di bibirku dengan lengan bajuku. Kulirik Sungmin hyung yang duduk di sebelahku. Ia masih meminum ice cream-nya. Setelah ice creamnya habis, Sungmin hyung menjauhkan kotak itu dari -sisa ice cream di sekitar bibirnya. Saat Sungmin hyung hendak membersihkan sisa ice cream itu dengan lengan bajunya, kutahan tangannya dan kukecup bibirnya. Kujilat ice cream yang ada di sekitar bibir Sungmin hyung. Cukup lama aku melakukannya, hingga Sungmin hyung mendorong tubuhku menjauh dari tubuhnya.
"Ice cream strawberry. Tidak terlalu buruk" ujarku sembari mengerling ke arah Sungmin hyung.
TBC
Sesuai permintaan, aku mengupdate dgn cepat
Yah, sebenernya aku kecewa krn dr byk org yg baca, hanya sedikit yg mau memberikan review
Sejelek itukah FF yg aku buat hingga tak pantas ntk diberi review?
Atau aku harus membuat FF yg menyiksa salah satu tokoh agar bisa mendapatkan review?
Yah, tp gpp'lah
Selagi masih ada yg menginginkan FF ini, aku akan terus mengupdate meskipun hanya sedikit yg memberikan review
Balesan review :
- Han-RJ : ne, ini masa lalu mereka. Emank Ming duluan yg nembak, soalnya Kyu kan pemalu xD Nanti diceritain kok, tenang aja :D Tp masih bbrp chapter ke depan. Yah, semoga cukup romantis ntk mengobati rasa bad mood chingu. Gomawo reviewnya :)
- Ladyming : Ne, emank aku ulang. Kemaren aku coman update chap 8... Kalo bisa, tiap hari aku update supaya cepet selesai... Tp tergantung situasi yah, aku ga janji :D Ne, emank krn 'sesuatu' itu... Ga bisa chingu, akhirnya emank kayak gt. Masa mau diubah jd happy end? Kan itu udah happy end, walaupun akhirnya sama" mati. Gomawo reviewnya :)
- Dina LuvKyumin : Udah dilanjutin chingu. Gomawo :)
Masih adakah yg bersedia memberikan review?
