Noir: Holaa, minna-san? Genki desu ka? Baik-baik, ya disana. Ini dia chapter 3, semoga mengobati rasa rindu kalian semua pada fiction paling jelek di fandom Bakugan Indonesia ini XD (ngek). Betewe, mau tanya, nih, ke minna-san… Enaknya fiction ini ditamatin sampai chapter berapa, ya? Ayo, ayo~ XD Butuh jawaban dari minna san dayo~ Dan daripada berlama, ini dia chapter 3

.

.

.

.

You're My Trouble Maker!

Chapter 3: Why must you? Damn!

Disclaimer: (I'm not own Bakugan, but this story is mine!)

WARNING: MISSTYPO, OOC, GAJEness, dll

By Sakigane (Noir)

.

.

.

.

"Dia teman baikku yang kuceritakan waktu itu, lho. Semua rancangan buatanku, semuanya kuberikan padanya" jelas Dan tersenyum ceria, tapi Fabia menanggapinya sebagai sebuah kenyataan yang tidak terduga.

"A-apa?"

Fabia tercekat di tempat mendengar pernyataan Dan yang baru terlontarkan beberapa detik yang lalu. Percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Dan, pria lugu yang ditemuinya tidak sampai 24 jam itu mengenal Shun, anak daripada bigbossnya nanti. Belum lagi katanya rancangan Dan yang begitu gemerlap itu diberikan pada orang macam Shun.

"Eh, bukan apa-apa. Anggap saja angin lewat, hehehe. Semangat berkerja, ya!" seru Dan mengacungkan jempolnya kemudian berlalu dari Fabia yang masih diam. Bukan semangat yang diberikan Dan yang membuatnya kaku seperti ini, tapi karena Dan bilang Shun menggunakan rancangannya. Bagaimana bisa?

"Sial… Ternyata seperti ini, ya? Baiklah, sesampai di tempat kerja nanti akan kulabrak dia!" umpat Fabia menggertakan kedua kepalan tangannya. Dengan langkah teratur, Fabia segera memberhentikan sebuah taxi untuk menyingkat waktu pergi ke tempat kerjanya.

"Pergi ke toko ini" perintah Fabia menyerahkan sebuah kartu alamat kepada supir taxi itu. Sang supir pun tersenyum dan mengangguk tanda mengerti. Tak perlu menunggu lama, taxi itu pun mengantarkan jalan Fabia. Di tengah perjalanan itu, Fabia tetap saja tidak bisa tenang. Tampangnya persis seperti orang yang depresi atau semacamnya.

"Kenapa bisa Shun melakukan hal seperti ini pada Dan? Pantas saja aneh, tidak mungkin ratusan rancangan hebat itu buatan aslinya semua…" guman Fabia sembari mengetuk-ngetuk telunjuk jarinya pada kaca jendela mobil. Sesekali kepalanya bergerak mengikuti alunan lagu dari headset miliknya yang tersambung pada ponsel pink milik Fabia.

.

.

.

.

"Disini Kazami" ucap lelaki berambut hitam panjang yang dikuncir ponytail itu pada sebuah gagang telepon. Di pagi hari itu, sepertinya Shun sudah mendapatkan 'tamu' di telepon kantornya. Tapi ternyata …

"Ohayou, Shun! Apa aku mengganggumu?" sapa seseorang dari seberang telepon, tak lain adalah lawan bicara Shun. Pria bertatapan dingin ini hanya mendengus pelan lalu mengangkat kepalanya.

"Tidak juga, ada keperluan apa menelpon pagi-pagi begini, Dan?" balas Shun dengan nada datar ciri khasnya. Dan yang merupakan lawan bicaranya saat ini pun tersenyum ceria layaknya anak kecil walaupun respon Shun seperti itu padanya.

"Hehehe, aku sudah menemui Sheen yang kau katakan itu, Shun. Luar biasa, sepertinya dia berbakat!" puji Dan dengan nada yang disengaja. Shun sedikit terkejut dengan perkataan Dan itu, tapi raut wajahnya tetap tidak berubah.

"Seharusnya kau tidak ikut campur urusanku sampai sejauh ini, Dan. Ingat saja, gadis itu penting untuk perusahaan ayahku, jadi jangan sampai kau macam-macam padanya." sahut Shun menatap lembar-lembar design yang ada di depannya.

"Ah, tenang saja, Shun~ Aku hanya ingin melihat seberapa hebatnya Sheen yang dikagumi ayahmu itu. Aku tidak akan melakukan hal lainnya, hehehe" seru Dan menyengir sendiri di seberang sana, tapi Shun sudah bisa menebaknya.

"Ya, ya. Lalu jangan sampai kau bongkar hubungan kita –"

"Wah, pulsaku habis! Sudah dulu, Shun!" dengan itu Dan memutus teleponnya. Shun memandang datar gagang telepon yang baru saja dikembalikannya ke posisi semula. Dengan pelan Shun kembali membuang nafas panjang.

"Dasar Dan. Kalau begini aku bisa 'kena masalah hari ini…" bisik Shun dengan nada ketus. Sepertinya ia sudah tahu bahwa Dan sengaja memutus teleponnya agar pertanyaan terakhirnya tadi jadi terlewatkan begitu saja. Atau dengan kata lain Shun sudah tahu kalau Dan membongkar hubungan mereka pada Fabia …

.

.

.

KRIEET

"Permisi" seru Fabia sedikit menggeser pintu toko yang memang tidak terkunci. Fabia sungguh terkagum-kagum melihat toko yang baru dibuka itu. Suasananya benar-benar berkelas, angin kesuksesan pun entah kenapa bertiup-tiup di dalam ruangan toko itu. Fabia membuang nafas panjang lalu meletakan kedua pergelangan tangannya di pinggang.

"Yosh! Hari pertamaku berkerja! Semangat!" seru Fabia dalam hatinya. Sesuai permintaan bigbossnya, Fabia segera memasuki staff room. Lalu seperti dugaannya, anak tunggal Kazami sudah berada disana, berdiam diri. Entah apa yang dilakukan Shun pada saat itu, yang jelas Shun terlihat sangat tenang.

"Kazami-san…" panggil Fabia walau sebenarnya tidak terima memakai embel-embel '-san' pada orang macam Shun.

"Panggil saja Shun, tidak perlu formalitas" balas Shun dengan nada dingin seperti pada awal mereka bertemu, Fabia memiringkan kepalanya sebentar lalu akhirnya mengangguk.

"Baiklah, Shun. Mohon bantuannya, ini design pertamaku" lanjut Fabia mengeluarkan buku sketsanya pada Shun. Seperti perkataan bossnya, yang berkerja di toko ini hanya mereka berdua, Fabia dan Shun. Lalu Shun berdiri untuk menggantikan posisi sang ayah di toko itu. Shun memandang datar design yang diberikan Fabia itu padanya.

"Non sense" komentar Shun membuat Fabia langsung 'jleb' seketika. Ya, kritikan yang terdengar begitu menusuk bagi Fabia, karena seumur-umur, Shun adalah orang pertama yang berkomentar seperti itu. Walau kesal, tapi Fabia berusaha untuk sabar karena Shun adalah bossnya juga.

"Maaf, tapi kalau boleh tahu, bagian mana dari design itu yang fail?" tanya Fabia memberanikan diri juga tidak lupa mengutamakan formalitas dalam ucapannya. Shun kini menatap Fabia.

"Tidakah kau belajar untuk membuat sesuatu yang tidak bisa dinilai lewat diri sendiri?" Shun malah bertanya balik pada Fabia. Hasrat ganjil pun merasuki ruangan itu pada saat itu juga. Wajah Fabia sedikit mengeluarkan keringat dingin, ia sendiri bingung dengan pertanyaan yang baru saja di lontarkan Shun.

"Kalau kau hanya bisa menilai suatu karya dengan diri sendiri, kamu tidak akan memiliki sensasi tersendiri dalam berkarya. Dan dengan itu, suatu saat nanti kau pasti akan 'tenggelam', nona Fabia Sheen" lanjut Shun lalu dengan entengnya merobek lembaran sketsa itu dan meremasnya kuat.

Fabia membulatkan matanya dengan apa yang dilakukan Shun ,belum lagi dengan santainya rancangan itu… dibuang Shun ke tempat sampah yang tak jauh dari meja kantor Shun. Atau jangan-jangan tempat sampah itu sengaja diletakan disana agar Shun lebih muda untuk membuang 'sesuatu' yang dianggapnya 'non sense'.

"A-apa yang kau –"

"Camkan perkataanku baik-baik, nona Fabia Sheen. Kau harus menciptakan sebuah karya yang melebihi pikiran manusia, melebihi pikiran dewa! Sebuah mahakarya yang tidak bisa kau nilai dengan dirimu sendiri" sambung Shun tidak ragu-ragu untuk memotong pembicaraan Fabia. Syok, marah, kesal, bingung, panik, semuanya bersatu dalam hati Fabia sekarang.

"Baik" mau tidak mau Fabia pun menuruti maksud Shun padanya. Memang syok saat pertama kalinya rancangan buatannya diperlakukan seperti itu, tapi selaku professional Fabia harus bisa menelan perlakuan pahit ini. "Pantas saja designer lain pada keluar, ternyata seperti ini kelakuannya, huh!" umpat Fabia dalam hatinya.

Setelah itu, Shun melanjutkan perkerjaannya. Ia melihat-lihat lembar demi lembar rancangan baju buatan Fabia yang lainnya. Sedangkan Fabia sendiri? Melupakan syoknya yang tadi, jantung Fabia berdegup kencang melihat kelakuan Shun yang melihat hasil design Fabia yang lain.

"Rancangan pertama saja sudah di nilai salah, apalagi lainnya? Bagaimana ini?" omel Fabia dalam pikirannya yang berantakan. Sampai Shun berhenti di suatu lembar. Shun seperti menaruh banyak perhatian pada lembar itu, Fabia yang heran pun mendongkakan kepalanya sedikit karena penasaran rancangan mana yang membuat Shun berhenti.

"Ah, itu rancangan yang kubuat bersama Dan-kun…" ujar Fabia tanpa sadar, tapi sepertinya terdengar oleh Shun sendiri.

"Apa? Dan-kun?" tanya Shun tetap dengan nada datar sampai fabia refleks menutup mulutnya sendiri. Lalu Fabia menggeleng keras.

"Bu-bukan apa-apa!" sahut Fabia sembari mengada-ngada kedua tangannya. Pura-pura mengerti, Shun pun menutup buku design Fabia dan meletakannya di samping meja kerjanya.

"Aku akan mengambil satu dari designmu untuk dibuat baju. Mungkin nanti design itu akan kufotokopi dan dikirim ke pabrik. Untuk hari ini, perkerjaanmu hanya menjaga toko" perintah Shun melipat kakinya perlahan. Fabia menautkan alisnya heran.

"Ke-kenapa hanya menjaga toko?" tanya Fabia bingung. Shun menghelai nafas panjang mendengar pertanyaan dari gadis berambut indigo manis itu.

"Jangan pikir menjaga toko itu muda. Kau harus bisa memperpadukan warna dan design yang sesuai dengan costumer agar mereka tidak kecewa. Salah sedikit saja, kau akan diusir. Jangan banyak tanya dan sana berkerja"

"Ba-baik! Aku akan berusaha sebisaku!"

.

.

.

.

Setelah itu, Fabia pun keluar dari staff room dan duduk di depan meja kasir. Tak lupa dengan system otomatis, Ia menggantikan huruf "close" menjadi "open" yang ada di depan toko. Tadinya Fabia pikir menjaga toko itu hanya sekedar duduk santai karena Fabia sudah punya banyak pengalaman di berbagai toko. Tapi lain hal di toko ini karena …

"Kyaa! Akhirnya buka juga! Lho, karyawan baru, ya?" dua orang gadis masuk ke dalam toko selaku costumer. Fabia pun berdiri dari duduknya dan menghampiri mereka.

"Iya, saya karyawan baru disini. Ada yang bisa dibantu, hm?" sapa Fabia dengan senyum manisnya. Kedua pelanggan itu hanya saling bertukar tatap sesaat lalu mulai mengajukan apa yang diinginkan mereka.

"Eh, eh, lusa lalu karyawan satu-satunya disini telah memilihku sebuah design baju. Dan luar biasa, dengan design pilihannya aku jadi percaya diri dan…perpaduan warnanya pun membuat semangatku jadi melunjak! Aku ingin menemuinya lagi untuk meminta saran warna" seru salah seorang dari mereka berdua.

Fabia mulai mengerti, satu-satunya karyawan disini siapa lagi bukan Shun. Satu-satunya designer tersisa disini. "Baiklah, aku akan memanggilnya" ucap Fabia kembali tersenyum lalu bergegas menuju staff room.

.

.

"Shun, ada costumer yang ingin kau layani" seru Fabia yang baru memasuki ruang staff. Shun yang sedari tadi diam hanya mengangkat sebelah kelopak matanya.

"Bilang kalau aku sibuk" jawab Shun singkat. Fabia menautkan alisnya dengan jawaban Shun yang dibilang tidak konkrit itu.

"Ke-kenapa? Dia pelangganmu, seharusnya kau bisa –"

"Lalu adanya kau disini untuk apa? Apa semua pelanggan harus aku yang melayaninya, nona Fabia Sheen?" pertakaan Shun satu ini seakan menusuk Fabia langsung. Dengan berat hati, Fabia pun mengangguk pelan.

"Baiklah, tuan Shun" jawab Fabia ogah-ogahan lalu kembali berlalu. Tanpa disadarinya Shun menarik sudut bibirnya mendengar jawaban Fabia satu itu.

"Dasar gadis lugu yang berbakat …"

.

.

.

"Maaf, dia sedang sibuk. Tapi aku akan berusaha untuk menggantikannya" sahut Fabia pada kedua gadis yang tengah menunggu itu.

"Eh? Shun-kun sibuk? Sayang sekali… Padahal aku menjadi pelanggan tetap disini karena dia" keluh salah seorang dari mereka. Fabia sedikit tertegun karena pelanggannya sendiri sampai memanggil nama kecil pria berdarah dingin itu.

"Tapi tidak ada salahnya kalau kita memesan lewat karyawan baru ini, 'kan?" saran satunya lagi dengan senyum ceria. Fabia hanya bisa tersenyum menunggu respon costumer pertamanya di toko ini.

"Baiklah, aku setuju. Uhm, sebenarnya baru-baru ini aku mendapat masalah dengan baju berlengan panjang, apa kau bisa membantuku?" keluh seorang gadis berambut merah muda panjang melentangkan kedua tangannya yang dibaluti lengan panjang.

Fabia pun melihat keseluruhan fisik tubuh gadis itu, lalu dengan cepat otak Fabia bisa merangkup beberapa kejanggalan pada baju yang dikenakan gadis itu. "Aku akan membantumu" ucap Fabia tersenyum membuat kedua pelanggan itu legah.

"Pertama-tama namaku Shuiki, dan ini temanku Chiyu. Biar enak sesama designer dan costumer bukannya harus saling berkenalan, eh? Soalnya Shun-kun juga bilang seperti itu" ucap Shuiki, si gadis berambut merah muda panjang itu. Sedangkan temannya, Chiyu memiliki rambut hijau sebatas bahu hanya bisa menyunggingkan senyum pada Fabia.

"Ahm, iya! Namaku Fabia Sheen, tapi kalian boleh memanggilku Fabia" lalu dengan sopan Fabia memperkenalkan dirinya.

"Eh, Sheen? Itu 'kan merk baju wanita yang sedang top itu? Jadi kau Sheen yang itu?" seru Shuiki bersemangat. Walau sedikit tersipu, tapi Fabia tetap pada sikap tenangnya dan mengangguk, ia tidak menyangka nama merknya bisa terkenal sampai ke kota besar seperti ini.

"Wah, hebat sekali! Rupanya toko ini memperkerjakan designer terkenal! Lalu apa kau bisa membantu masalahku tadi?"

"Iya, tentu saja!"

.

.

.

.

Tidak terasa seharian berlalu, sekarang sudah sore dan toko tempat dimana Fabia berkerja sekarang sudah ditutup. Bukannya lega, Fabia malah terduduk lemas di dekat kasir toko. Ia tidak menyangka bahwa berkerja di toko hebat seperti ini butuh kerja keras dan tenaga ekstra. Belum lagi pengunjung terus mengalir bagaikan air terjun sedangkan Fabia harus melayani mereka semua sendirian, tanpa bantuan siapapun sama sekali.

Mungkin ada beberapa pelanggan yang pulang karena tidak ada Shun, tapi jumlah pelanggan yang pulang itu tidak bisa mengimbangi jumlah pelanggan yang datang pada satu hari saja. Merasa sudah harus tutup toko, Fabia pun bangkir berdiri dari duduk lemasnya lalu mengganti kembali tulisan "open" menjadi "close".

"Kerja bagus, Fabia" puji Shun yang sepertinya baru tampak setelah seharian ini mengurung diri dalam ruangan staff entah apa yang dilakukannya.

"Terima kasih pujiannya" balas Fabia dengan nada berat, nafasnya masih tersenggal seakan-akan baru saja melakukan lari jarak jauh dalam perlombahan.

"Lho, sepertinya kau tidak senang, hm?" tanya Shun seakan-akan tidak tahu dengan penderitaan Fabia seharian ini.

"Se-senang, kok! Sungguh!" jawab Fabia berusaha untuk meyakinkan. Yang benar saja, Fabia berkerja non-stop hari ini. Bahkan sms atau e-mail dari temannya tidak satu pun bisa dibalas oleh Fabia. Shun tersenyum kecil dan mengangguk.

"Baguslah kalau begitu" sahut Shun kemudian sepertinya ikut lega. Tapi suatu hal mengganjal pikiran Fabia. Setelah berpikir cukup lama dan tetap dalam keadaan diam, Fabia kembali angkat bicara.

"Tunggu! Ada yang ingin kubicarakan denganmu, Shun!" tantang Fabia menunjuk-nunjuk Shun dengan tatapan geram. Shun tetap pada sikapnya, yaitu datar. Hanya menengok sekilas lalu …

"Soal apa?"

"Ehm, kemarin tidak sengaja aku berkenalan dengan seseorang bernama Danma Kuso di tempat kos-kosan baruku. Dia bilang kalau dia teman baikmu, apa itu benar?" pertanyaan Fabia yang cukup panjang dan penuh isi itu pun mengundang perhatian Shun sesaat. Dengan santai, Shun bermain pada rambut hitamnya.

"Danma, huh? Entahlah …" jawab Shun acuh tidak acuh. Fabia menggembungkan pipinya cemberut tidak terima dengan jawaban yang diberikan oleh Shun.

"Hei, jangan jawab seperti itu saja! Sebagai professional jawabannya 'kan harus konkrit!" omel Fabia sekaligus menasehati Shun pada saat itu.

"Baiklah, aku memang mengenalnya. Sekarang kau puas, hm?" tanya Shun tanpa merasa bersalah. Sekarang Fabia merentangkan kedua tangannya untuk menghilangkan rasa pegal pada tubuhnya. Lalu mereka kembali ke topik pembicaraan.

"Kalau begitu, jadi semua jerih payah Dan kau ambil seenaknya, begitu?" tanya Fabia setengah mengancam. Sepertinya gadis manis satu ini memang tidak senang kalau ada orang yang melecehkan karya orang lain.

"Apa maksudmu?" tanya Shun dengan santainya.

"Jangan pura-pura tidak tahu! Kemarin malam aku menghabiskan waktuku dengan Dan untuk mendesign bersama. Hasil design Dan memang luar biasa, sama berkelasnya dengan baju-baju yang terpajang disini" bela Fabia dengan nada yang semakin meninggi. Shun hanya mengangkat alisnya sebentar lalu mengangguk.

"Lalu kenapa? Aku memang ada hubungan dekat dengannya, jadi itu bukan masalah. Kau tidak perlu tahu apa-apa tentang kami, nona Fabia Sheen" ujar Shun memicingkan tatapannya pada Fabia, tapi hal itu tidak membuat gadis ini kehilangan keberanian.

"Ti-tidak bisa begitu! Kau pasti menyembunyikan sesuatu, 'kan? Ayo jawab aku!" rengek Fabia sedikit menarik-narik lengan baju Shun karena penasaran.

"Sudah kubilang tidak ada hubungan apa-apa –"

"SHUN-KUN! AKU DATANG UNTUK MEMBAWA RANCANGAN MOTIF DENIMN INI~!" seru seseorang yang tiba-tiba saja mendobrak pintu toko tanpa mengetuk. Orang yang tidak terduga-duga oleh kedua insan yang baru saja ingin berdebat ini.

"DANMA?"

.

.

.

"Kazami-san, aku hadir sesuai dengan permintaanmu" ucap seseorang yang baru duduk di depan ayah Shun dalam sebuah ruang rapat mewah. Kakeru pun tersenyum ramah pada tamu rapatnya itu dan dengan sigap langsung memulai topik pembicaraan mereka.

"Ya, jadi apa kau bisa membantuku? Hanya kau yang bisa kuharapkan saat ini" sahut Kakeru dengan nada baritonnya yang sangat berat. Tapi sepertinya lawan bicara Kakeru merupakan sosok orang yang ringan dan dengan mudahnya melempar senyum pada Kakeru.

"Tenang saja Kazami-san, aku akan mengurus semuanya. Walau aku harus bertemu dengan putramu yang keras kepala itu" jawabnya sembari meneguk kopi hangat yang disuguhkan di depan mereka berdua.

"Ah, maafkan soal Shun. Jadi… tolong, ya" jawab kakeru senang sembari mengulurkan tangannya untuk berjabat tanda 'sah' pada lawan mainnya yang sepertinya sedikit lebih muda dari Kakeru.

"Spectra Phantom"

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

.

.

Noir: Halooo semuanya. Ini dia chapter 3, semoga semuanya puas, ya. Kalau ada kesalahan misstypo atau lainnya, mohon dimaklumi, ya. Aku 'kan memang langganan misstypo (plaked). Bercanda, yang jelas aku selalu ingin mengusahakan yang terbaik untuk semua pembaca. Kalau sudah baca jangan lupa tinggalkan review, ya. Kritik dan saran diterima kecuali FLAME. Mengkritiklah dengan bahasa Indonesia yang baik, sejelek-jeleknya karya ini ^_^v (peace)

Send back REVIEW from You:

From Marvel77: Halo, Marvel-chan. Terima kasih sudah datang review dan salam kenal kembali (smile). Ceritanya bagus banget, eh? Arigatou gozaimasu (nunduk2). Soal pair, sih, lihat saja di fictionnya karena aku tidak bisa memberikan spoiler untuk pembaca, hehehe. Review again~

From Chubi-chubi: Halo, Chubi-chan. Thanks ya sudah datang review (smile). Hehehe, apa, ya hubungan Shun dengan Dan? Fufufu, silahkan tebak sendiri (dihajar). Ahai, bercanda, maksudnya silahkan lihat sendiri. Bisa dibilang ini sih threesome, fufufu. Review again~

From bjtatihowo: Halo, Bj-chan. Thanks for the review, ya (smile). Eh, ceritanya keren habis? Terima kasih banget sudah menanggapi positif fiction jelek ini, ya. Hehehe, sedikitnya terharu :') Soal Dan dan Runo, sebenarnya masih dirahasiakan, fufufu. Soalnya aku tidak ingin memberikan spoiler ke pembaca, jadi rahasia, ya (ditendang). Dan pastinya tetap chayo untuk melanjutkan ceritanya, semangat ^ o ^ Review again~

From Kankura Hayamine: Halo, Haya-chan. Makasih banget sudah di-review cerita ini (smile). Soal tema memang jarang ada bertopik designer, jadi kami mencobanya, fufufu. Shun dan Fabia memang mirip, aku juga sempat kira mereka itu saudaraan, hehehe. Soal tidak collab sama Rauto-nyan bukan masalah, kok. Hehehe XD Review again~

From Laila Sakatori 24: Halo, Laila-chan. Thanks ya, sudah datang review fanficku ini (smile). Soal hubungan Fabia dan Shun itu bisa dibilang 'angin2an' sesuai mau Shunnya mungkin? Hehehe, Laila-chan bisa tebak sendiri dimana kejanggalan kalau Shun jadi akrab maupun saingan XD Terima kasih banget sudah di fav' senangnya ^ o ^ Review again~

From Ryoko Konoe: Halo, Ryoko-chan. Thanks ya, sudah datang me-review fiction jelekku ini (smile). Ngak apa-apa kok kalau kelupaan review (plak). Eh, penggambaran ceritanya mudah? Honto? Padahal kebanyakan comment 'tidak mengerti' karena tema designer itu memusingkan XDD Review again~

From Asera Madoka Kyunmei: Helo, there Asera-chan. Arigatou sudah datang me-review, nih. Hehehe. Dukung Shunfabia, ya? Semoga saja keinginan Asera-chan tercapai di fiction ngak jelas ini (plak), hihi. Update kilatnya sudah, semoga mengobati rasa rindumu, ya. Review again~

From Chii: Helo, Chii thanks for the review, ya :) Aduh anakku sayang jangan males begitu, dong (sok). Ngak ada misstypo, benarkah, eh? Syukurlah, semoga aku bisa mempertahankannya, fufufu ^ w ^ Review again~

From authorjelek: Hello, Sillo-chan. Thanks for the review (smile). Shun-nya jahat? Hehehe, dia memang selalu jahat (bohong). Soal scene shoi-ai ShunDan boleh saja, tunggu tanggal mainnya, ya *smirk* Review again~ :3

From Kazekoori Nagare: Hello Nagare-chan. Arigatou gozaimasu for the review (smile). Dunia designer memang menyenangkan, semoga cita-citamu terkabul lalu bisa barengan dengan Shun dan balas dendam (what?) dengan Fabia-nya (salah). Review again~

From David: Hello, David-chan. Makasih ya sudah datang review fic jelek ini, hehehe (smile). Hehehe, David sependapat denganku, Dan-kun memang imut mirip cewek (dikroyokin Dan sampai tewas). Tapi tetap saja dia itu cowok, kok. Ini sudah di-update untukmu, semoga mengobati rasa rindumu pada fic tidak bermutu ini, hehehe. Review again~

From Reshu Divero Yu: Hello, Reshu-chan. Thanks sudah mau review, ya (smile). Hubungan Dan & Shun sudah cukup terlihat di chapter ini, hm? Semoga saja chapter ini mengobati rasa penasaranmu, ya, hehehe. Updatenya sudah, nih. Semoga suka, yaa~ Review again~

From Fabia: Hai, thanks for the review (smile). Shun tidak jahat, kok. Hehehe, kau bisa melihatnya sendiri bagaimana itu watak Shun di fic ini dan maaf bila tidak menyukainya, ya (nunduk2). Chapter 3 sudah update, semoga mengobati rasa rindumu pada fic jelek ini. Review again~

From MisakiRika: Haai, Thanks for the review (smile). Pair kesukaanmu? Wah, sama dong kayak aku (ngak nanya juga). Mereka memang mirip banget, sih, jadi susah dibedakan, hehehe. Ini kelanjutannya sudah dan semoga suka, yaa :3 Review again~

From Yorishiko ShamaMizuchi: Yooi, Yori-chan. Arigatou gozaimasu sudah di-review, ya~ (smile). Hubungan Shun & Danma sudah cukup tergambar disini (mungkin), jadi kau bisa lihat sendiri bagaimana penggambaran hubungan keduanya, hehehe. Ini chapter selanjutnya sudah ada dan semoga suka, ya :) Review again~

From Riri-Suzuki-Rui: Hello, thanks for the review (smile). Pembaca baru, ya. Hehehe, senangnya (plak). Readers jalan2? Hahaha, kupanggil Riri-chan, ya ^_^ Kalau gak ngerti soal design, maaf ya ceritanya memang berbelit2 (nunduk2). Soal Shun, semoga saja aku bisa menggambarkannya disini tanpa OOC sesuai permintaan Riri-chan (amin). Review again~

From Sylthramoth: Hello, Sylth-chan. Thanks for the review (smile). Suka temanya? Hehehe, syukurlah, soalnya banyak pembaca yang bingung dengan tema designer. Review again~