Sakigane(Noir): Holla, minna-san. Ini dia chapter berikutnya update, tolong jangan marahi saya soal UPDATE NGARET karena jadwal saya sekarang memang HIATUS. Pemberitahuan juga, mulai chapter ini aku sudah tidak akan membalas review user non-login dalam kotak review, dan pengejaan nama 'Dan' mulai sekarang menjadi 'Danma'. Happy Reading ^_^

.

.

.

.

.

You're My Trouble Maker!

Ch5: Great Ability

© Sakigane (Noir)

Disclaimer: I'm not BBB.

WARNING(S): MISSTYPO, OOC, PWP, SMUT, dll

DON'T LIKE DON'T READ!

NOT REQUEST ALLOWED!

.

.

.

.

.

"Danma, untuk apa kau membawaku kemari? Tempat apa ini?" tanya Fabia begitu Danma berhenti berlari, dengan kata lain sudah sampai pada tujuan pria periang satu itu. Sebelum menjawab, Danma sempat menyunggingkan senyuman garing lalu dengan bangga menunjuk lantai paling atas gedung yang begitu tinggi menjulang dari gedung-gedung lainnya.

"Ini adalah Kazami Corp! Tempat perusahaan Kazami yang sesungguhnya, hehehe. Hebat, 'kan?" mendengar itu membuat Fabia terlonjak di tempat. Sesekali dipandanginya gedung tinggi yang berkesan mewah itu, lampu-lampu berkelas memajangi keseluruhan gedung tanpa sisa sedikit pun. Sekalipun Fabia cukup populer di kalangan pejabat karena merk bajunya, tetapi tetap saja Fabia menjadi 'ciut' melihat gedung mewah yang ini.

"He-hebat, besar sekali… Ta-tapi tunggu dulu! Mau apa kita kesini?" seru Fabia masih tidak mengerti. Jarak antara Fabia dan Danma dengan gedung itu sekitar 10 m. Bahkan keduanya tengah mengumpat dibalik semak-semak terdekat.

"Pokonya aku butuh bantuanmu Fabia, harus sekarang!" pinta Danma kelihatannya malah tidak menjawab pertanyaan Fabia, tetapi malah memohon begitu. Sungguh wajah kitty eye milik lelaki berambut coklat itu membuat Fabia menjadi tidak enak hati untuk menolak. Akan tetapi melakukan apa saja masih menjadi teka-teki.

"Tapi aku harus apa, Danma?" dengan itu Danma menunjuk ke pintu utama yang cukup besar dan dijaga ketat oleh dua orang penjaga, mengikuti telunjuk Danma, Fabia pun ikut menengok.

"Aku ingin kita bisa masuk ke gedung itu, tanpa ketahuan penjaga-penjaga itu" ucap Danma dengan entengnya tidak tahu kalau Fabia menjadi membatu mendengarnya. Seumur-umur, Fabia tidak punya pengalaman sama sekali menyelinap diam-diam seperti ini.

"Mana kubisa, Danma. K-kau 'kan teman baik Shun, seharusnya kau bisa masuk kesana tanpa harus menyelinap, dong!" bantah Fabia berusaha mencari cara untuk menolaknya, bagaimanapun kalau sampai ketahuan menyelinap seperti itu, nama baik Fabia bisa lenyap untuk selama-lamanya ke segitiga Bermuda.

"Justru karena itu" sahut Danma mengayung-ayungkan telunjuk kanannya dengan santai. Fabia memandang datar lelaki berpakaian santai itu masih tidak paham.

"Maksudnya?" tanya Fabia berusaha untuk memastikan. Tetapi sebelum itu Dan mengeluarkan sebuah botol berukuran sedang dari saku jaket merahnya.

"Karena aku teman baiknya Shun, makanya aku tidak ingin ketahuan, hehe. Kau lihat ini!" ucap Danma dengan mantap lalu mengambil ancang-ancang untuk melempar botol yang tutupnya sudah terbuka itu dan …

DHAAARRRR!

"ADA BOM! ADA BOM!" seru Danma tetap menyembunyikan dirinya beserta Fabia di semak-semak tempat mereka bersembunyi. Fabia sendiri panik dan tidak bisa berkata apa-apa begitu penjaga-penjaga itu langsung meninggalkan pintu utama menuju asal suara ledakan dari botol lemparan Danma itu.

"Danma I-ini 'kan –"

"Ssst! Saatnya kita bergerak!" dengan gerakan cepat dan mengendap-endap, Danma langsung menarik lengan Fabia dan berlari sekencang mungkin masuk ke dalam pintu utama. Begitu masuk,beruntuk sekali karyawan yang bekerja di meja informasi tidak menyadari akan kehadiran mereka, Danma langsung menarik kepala Fabia untuk menunduk dan mereka langsung mengumpat di balik pepohonan hias yang cukup besar.

"Hah… hah… Danma! Se-sebenarnya kita mau ngapain, sih? Kok seperti pencuri begini!" bisik Fabia yang betul-betul jantungan pertama kalinya melakukan 'pengendapan' seperti ini. Tetapi berbeda dengan Fabia, Danma malah terlihat tenang seakan sering melakukan kegiatan seperti ini.

"Sudahlah, kau ikuti aku saja. Nanti kau pasti akan melihat sesuatu yang menarik" bujuk Danma kelihatannya ingin melakukan 'kelanjutan' dari rencananya itu. Rupanya suasana di luar menjadi sedikit ribut karena 'bom bohongan' buatan Danma tadi menjadi topik permasalahan.

Lanjut, Danma pun menarik Fabia perlahan untuk berjalan jongkok karena takut ketahuan bila mereka berjalan seperti biasa. Merasa yang berlalu lalang sudah aman, Danma kembali mengacak-acak saku jaketnya mencari sesuatu.

'Sepertinya ada yang tidak beres pada anak ini, sekarang dia mau apa lagi?' oceh Fabia dalam hatinya merasa buruk kalau kejadian ini diteruskan. Rupanya Danma sudah menemukan sesuatu yang dicarinya, yaitu sebuah bungkusan tanah liat. Fabia memiringkan kepalanya bingung tidak mengerti apa yang mau dilakukannya, tetapi sesaat kemudian …

PLOKK!

Fabia terkagum begitu Danma dengan tepat melempat tanah liat lengket itu pada layar sebuah kamera CCTV. Rupanya fungsi tanah liat itu untuk menutupi pandangan layar kamera CCTV agar diri Danma maupun Fabia tidak akan terekam untuk sementara, sedangkan Danma langsung menarik Fabia untuk melanjutkan 'rencana' Danma.

"Danma, kumohon katakan apa tujuan kita!" bisik Fabia masih tidak mengerti apa mau Danma di gedung perusahaan milik orang tua Shun, tetapi Danma menghiraukannya dan terus berlari. Namun yang membuat Fabia heran adalah Danma yang kelihatannya begitu menghafal liku-liku ruangan yang begitu memusingkan gadis itu, bahkan kalau disuruh sekalipun, Fabia sudah tidak tahu jalan untuk kembali ke pintu utama.

"Nah, sedikit lagi sampai!" dengan itu Danma berhenti di sebuah pintu yang terbuat dari besi yang kelihatannya tidak akan bisa dirobohkan dengan hantaman keras sekalipun. Danma mengulurkan tangannya pada Fabia.

"Kau punya kosmetik bedak, tidak?" tanya Danma membuat Fabia langsung sweatdrop, kenapa disaat seperti ini harus mengeluarkan kosmetik bedak, itulah yang dipertanyakan Fabia. Tetapi kalau banyak tanya akan semakin membuang waktu, dan kalau sampai hal itu terjadi, keberadaan Danma dan Fabia bisa terbongkar. Kalau hal itu terjadi, maka Fabia bisa dipecat oleh ayah Shun pada saat itu juga.

"A-ada, ada!" dengan itu Fabia langsung mengeluarkan alat yang diinginkan Danma dari saku celananya. Dengan gerakan cepat, Danma pun membuka alat itu dan melumuri telapak tangan kanannya dengan bedak itu.

"H-Hei, apa yang mau kau lakukan?" tanya Fabia terkejut dengan apa yang dilakukan pria misterius satu ini. Merasa cukup, Danma langsung mengembalikan alat itu sembari tersenyum simpul.

"Cara praktis agar sidik jariku tidak ketahuan!" seru Danma dengan suara kecil, lalu ia meraba-raba sisi kanan pintu yang ber-wallpaper seperti batu-batuan nyata itu, tapi ternyata Danma menemukan salah satu batu yang janggal dan bisa terbuka membuat Fabia berkesan pada anak satu ini.

'Hebat sekali, bagaimana dia bisa tahu?' umpat Fabia dalam hatinya terkagum pada anak satu ini. Begitu terbuka, Danma langsung menemukan sebuah layar dengan cahaya ultraviolet yang sepertinya digunakan untuk meng-scan sesuatu agar pintu itu bisa terbuka. Dengan berani, Danma langsung menempelkan telapak tangan yang tadi sudah dilumuri bedak kosmetik pada layar itu. Terlihat sebuah garis putih yang lewat dari atas ke bawah layar itu terlihat seperti meng-scan telapak tangan milik Danma. Fabia sempat cemas kalau Danma tidak berhasil lalu hasil scannya salah, tetapi…

TRING!

Pintu automatic itu terbuka, ternyata rencana Danma berhasil melewati rintangan ketiganya. "Berhasil! Dasar tenaga robot tidak berguna" ledek Danma pada sistem keamanan gedung itu yang ternyata tidak mempan terhadap dirinya, akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama karena di depan mereka terlihat sebuah lorong dengan penerangan minimum yang banyak sekali benang pengaman bewarna merah.

"Danma, ba-bagaimana ini, kita tidak bisa lewat –" protes Fabia semberut sepertinya termakan keseruan mengendam-endap ala Danma, akan tetapi tidak mungkin lelaki ini berhenti begitu saja. Danma langsung mengacak kembali saku bajunya dan mengambil sebuah botol yang di tutupnya terdapat banyak sekali lubang kecil.

"Tenang saja, dengan ini pasti akan lebih mudah" jawab Danma lalu menutup hidungnya dengan sebelah tangan dan mulai meremas botol itu ke arah benang pengaman yang ada. Dilihat baik-baik, rupanya isi dari botol yang cukup besar itu adalah sagu putih, Fabia ikut menutup hidungnya takut bersin terkena serbuk sagu yang berterbangan dari botol itu.

"Ayo, jalan, sebelum efeknya kembali seperti semula" dengan itu Danma memberanikan diri untuk berjalan melewati benang pengaman itu, alhasil tidak terjadi apapun atau tidak ada bunyi dari efek tubuh Danma yang menyentuh benang pengaman itu.

"K-kok bisa?" tanya Fabia takjub ikut mencoba untuk melangkah agar tidak tertinggal dari lelaki berani satu ini. Masih menyemprot ke depannya, Danma hanya tersenyum kecil.

"Shun yang mengajarkan ini padaku" jawab Danma dengan perasaan yang miris. Fabia membulatkan matanya mendengar jawaban itu, bagaimana bisa, ternyata keahlian seperti ini didapati Danma dari ocang macam Shun.

"Heh? Ternyata Shun bisa yang seperti ini? Aku tidak percaya, ah" celetuk Fabia tanpa sadar mengeluarkan pendapatnya, Danma hanya merespon dengan tawa kecil. Akan tetapi suatu kesalahan kecil berakibat fatal terjadi…

DRIIIING DRIIINGG!

Danma dan Fabia langsung terkejut dan panik begitu alarm berbunyi. Rupanya Danma melupakan sesuatu, yaitu lupa menyemprotkan sagu pada benang pengaman bagian atas yang tidak sengaja terlewati oleh kepala Fabia. Otomatis masalah besar akan melanda mereka sekarang. "Dan-Danma bagaimana ini…!" seru Fabia panik takut ketahuan dan tertangkap.

"Tenang, Fabia! Aku akan mencari cara lain!" dengan itu Danma melihat ke sekitarnya mencari cara, dan Danma langsung menemukannya. Sebuah celah udara yang terdapat di atas ruangan sepertinya akan menyelamatkan mereka.

DRAP DRAP DRAP!

"Pantas saja mencurigakan tiba-tiba ada bom tipuan di depan juga gangguan layar CCTV, ternyata ada penyusup!"

"Cepat tangkap penyusupnya, jangan sampai lolos! Kalau tidak bisa –"

SINNGGGG …

Suasana sangat hening begitu beberapa penjaga datang pada ruangan yang tadi sempat dilalui Danma maupun Fabia, yang ada hanyalah sebuah lorong penuh sagu dengan banyak benang pengaman disana. Tidak ditemukan tanda-tanda manusia atau lainnya. "Cepat matikan fungsi benang pengamannya dan cari dia! Pasti keberadaannya belum jauh dari sini!" perintah salah satu dari mereka yang kelihatannya komandan dari semuanya.

"D… Danm –"

"Ssst!" Danma dengan cepat meletakan telunjuknya pada mulut Fabia agar diam. Sekarang keberadaan mereka bisa dibilang aman untuk sementara, yaitu di celah udara bagian atas ruangan tadi. Rupanya Danma dengan cepat mencabut jendela berbentuk seperti sangkar itu dan menggendong Fabia naik ke atas beserta dirinya lalu kembali menutup jendela itu seperti sedia kala. Dan tentu saja mereka langsung merangkak lebih jauh agar tidak terlihat dari bawah nantinya.

Danma member isyarat Fabia untuk merangkak lebih jauh, dengan luas celah itu sekitar 100x80 cm, mereka tidak bisa berdiri dan akhirnya bergerak dengan cara merangkak. Dan dengan alurnya sekarang, Danma yang bergerak di depan Fabia.

Pasrah saja, akhirnya Fabia mengikuti Danma kemanapun pria itu bergerak, akan tetapi tetap saja dirinya merasa designer macam apa dirinya dan kenapa harus melakukan hal seperti ini? Sepertinya salah karena telah mengikuti mau Danma, benar-benar pembuat masalah dalam hidup Fabia…

"Danma?" tanya Fabia begitu lelaki di depannya berhenti bergerak. Danma melihat ke kiri dan ke kanan, rupanya celah yang dilaluinya kali ini mulai bercabang. Akan tetapi bukan bingung karena jalannya bercabang, tetapi …

"Aneh, seharusnya jalan yang ini tidak seperti ini, bearti diganti lagi, ya? Ah, baka!" umpat Danma sepertinya merasa jalan yang mau dilaluinya bermasalah.

"J-Jadi kau pernah melewati jalan seperti ini?" tanya Fabia kaget, Danma menengok dan mengangguk kecil tanpa rasa dosa sama sekali dalam pikirannya.

"Bahkan biasanya aku lewat sini biar aman" sambungnya membuat garis-garis kemurungan tertampang jelas pada kepala Fabia. Setelah Shun, rupanya Danma orang kedua yang membuat hidup Fabia berubah derastis. Padahal dulu Fabia hanya gadis biasa-biasa saja yang menyukai dunia design, tapi tidak begitu dirinya mengenal Shun dan Danma …

"Uh, kapan kita akan keluar, sih. Aku tidak suka seperti ini terus…" keluh Fabia rasanya ingin menangis karena dirinya sudah mulai berprofesi sebagai penyusup karena Danma, akan tetapi pria yang ada di depannya kembali melemparkan sebuah senyuman manis padanya.

"Jangan khawatir, kau tidak akan kenapa-kenapa, kok. Aku mengajakmu bukan karena ingin melukaimu" hibur Danma langsung membuat Fabia tenang pada saat itu juga. Tidak disangka, pria yang sempat mengantarkannya pada 'maut' bisa mengatakan hal selembut itu padanya. Sampai akhirnya Danma berhenti di lorong yang semakin besar dari yang tadi dilalui mereka. Danma langsung menarik pelan lengan Fabia dan menunjukkan sesuatu pada Fabia ke salah satu celah yang tidak terlalu besar.

"Seperti biasa, hasil rancangan bajumu memang mengagumkan"

Kata 'hasil rancangan baju' membuat Fabia berdelik, segera gadis itu menajamkan indera pendengarannya dan melihat baik-baik siapa yang berada di bawah. Karena celahnya kecil dan takut ketahuan, Fabia hanya bisa mengintip sedikit. Bahkan hanya satu orang yang bisa dilihat atau bahkan tidak dikenal oleh Fabia.

"Tutup mulutmu, Phantom. Biarkan aku berkerja" ucap lawan bicara pria yang dilihat Fabia, suara yang begitu familiar di telinga gadis ini sampai Fabia langsung melirik Danma untuk memastikan. Tanpa bicara, Danma mengangguk dengan tampang serius.

'Itu suara Shun, 'kan?' bisik Fabia dalam hatinya semakin penasaran untuk mengikuti pembicaraan pria dingin yang dikenalnya itu dengan sesosok pria berambut jabrik pirang dan sama sekali tidak dikenal Fabia.

"Kenapa dingin seperti itu, sih, Shun? Padahal kita sama-sama untung, lho" sambung lagi sang lawan bicara Shun terlihat begitu tenang dan santai. Berbeda dengan Shun yang kelihatannya jengkel dan tidak senang dengan keberadaan pria satu itu. Samar-samar, tapi Fabia melihat sosok pria bermanik merah muda itu memegang beberapa helai lembar design

"Aku sama sekali tidak tertarik pada yang namanya honor, Phantom" balas Shun lagi dengan nada yang semakin berat. Berbalik keadaan, rupanya Shun dan Spectra sudah berada di ruangan yang berbeda dari semula mereka berbincang dengan Ayah Shun. Di ruangan yang sangat luas itu hanya terdapat meja kerja, ranjang tidur berukuran king size, dan sepasang tempat duduk beserta mejanya.

"Lalu kau mau apa, hm? Aku akan memberikan apa saja demi hasil karya rupawan ini" ucap Spectra bergaya seakan-akan kehilangan rasio dalam dirinya. Entah kenapa dirinya begitu takjub dan mengagumi hasil ukiran design milik putra tunggal Kazami itu, hanya saja dia tidak ingin mengakuinya secara langsung sampai-sampai mengucapkan kata yang mungkin menyindir pria berambut panjang hitam itu.

"Aku ingin kau tidak menampakan wajahmu lagi di hadapanku setelah kontrak ini selesai, Phantom" tekan Shun pada kata-katanya sembari mendesign seorang diri di depan meja kerjanya yang menghadap jendela kamar yang begitu besar, sedangkan Spectra sedang duduk di pinggir ranjang bermodel classic mewah beserta lembaran-lembaran rancangan design yang sudah jadi di sekelilingnya.

"Hem, tidak semudah ini, Shun. Ternyata julukan 'Quick Designer'mu tidak hanya sekedar julukan, ya. Padahal baru 30 menit tapi kau sudah berhasil mengeluarkan 5 design yang begitu fantastik, ya" pandangan Spectra tidak pernah lepas atau bahkan tidak mau lepas dari semua rancangan yang sudah jadi dan diterimanya.

Kembali pada Fabia, gadis yang tengah serius mendengarkan ini sampai tidak bisa mengeluarkan suara dari mulutnya. Dirinya tidak pernah menyangka, designer muda yang dianggapnya 'mesum' ternyata mendapat julukan selangkah itu –Quick Designer. Dengan kata lain, Shun memiliki kemahiran mendesign dengan kecepatan melebihi designer biasa.

Dan yang paling membuat Fabia penasaran adalah, sosok yang kelihatannya begitu dibenci oleh Shun –terlihat dari cara Shun berbicara sendiri. Sebenarnya siapa sosok itu dan mengapa hasil designer Shun yang bahkan belum pernah dilihat Fabia secara langsung bisa jatuh ke tangan orang seperti itu, sampai-sampai Danma yang sedari santai saja, sekarang memandang sosok 'Phantom' itu dengan raut wajah tidak senang.

"Kau tahu, 'kan, Shun, kalau kau sampai tidak bisa mewujudkan keinginan proyekku maka… perusahan ayahmu ini mungkin akan…" belum selesai Spectra menyelesaikan bicaranya, ia menyusun baik beberapa lembar design yang ada di tangannya, lalu dengan gerakan perlahan ia pun merobek semuanya sekaligus …

"… hancur" BREEEKK! Sosok pria itu merobek semua lembar design yang sudah mati-matian dipikirkan oleh Shun itu dengan santainya tanpa pikir panjang sama sekali, membuat Danma dan Fabia sekaligus membulatkan mata.

'Ke-kejam, kenapa semua rancangan itu dirobek seperti itu… padahal… padahal semua itu 'kan…' belum selesai Fabia berkomentar pada dirinya sendiri, dilihatnya Shun melangkah dengan tenang dari meja kerjanya menuju ke tempat Spectra duduk santai sembari membawa beberapa lembar design yang baru saja selesai yang sepertinya akan menjadi 'korban' Spectra berikutnya.

'Shun, kenapa! Kenapa kau menurut saja, padahal di depanku kau begitu tegas, jangan berikan, Shun!' teriak Fabia dalam hatinya tidak tega melihat rancangan-rancangan itu dengan mudanya di'buang' tanpa pikir perasaan pembuatnya. Belum lagi Danma tahu persis kalau Shun terlihat begitu kelelahan, sepertinya Spectra memang sengaja melakukan ini semua.

"Hemp, yang ini juga bagus sekali, kok" komentar Spectra santai memperhatikan satu-satu lembaran rancangan itu, lalu seperti yang dilakukannya tadi, ia menyusun rapi lembar-lembaran itu dan siap untuk …

… merobeknya lagi.

"HENTIKAAAAAANNN!" bersamaan dengan suara itu, Fabia langsung mendorong jatuh jendela sangkar yang sedari tadi menutupi keberadaan dirinya dengan Danma. Shun dan Spectra terkejut lalu refleks melihat asal suara itu –diatas mereka dan …

BRUKKK!

Fabia beserta Danma yang refleks menarik lengan gadis ini malah terjatuh dari tempat persembunyian mereka tepat di belakang Spectra duduk, yaitu di sebuah ranjang besar. Spectra refleks berdiri dari duduknya lalu memandang mereka dengan pandangan terkejut …

"Shun, apa-apaan ini…" komentar Spectra masih terkejut dengan apa yang dilihatnya. Walaupun lelah, tetapi Shun masih memiliki kesadaran dan menggeleng kecil tanda tidak tahu apa-apa.

"Maaf, Shun! A-aku bisa menjelaskan ini…" balas Danma yang barusan mengangkat kepalanya, tetapi begitu Fabia mengangkat kepalanya, memandang pandangan menyirat kesesalan yang bergemuruh pada Spectra maupun Shun sendiri, pria berkuncir ponytail itu langsung membelalak mata.

"Fa-Fabia Sheen?"

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUED

.

.

.

.

.

Sakigane(Noir): Hallo, minna-san. Maaf, ya, dari chapter ke chapter selalu saja garing ceritanya, ehehehe XD. Untuk episode kali ini, mungkin memang sedikit menceritakan sudut pandang seorang penyusup, yak? XD Habisnya begini-begini aku juga sering mempelajari banyak hal tentang nyusup-menyusup (kamusihnyungsepaja), jadi kulampiaskan semua ideku pada tokoh Danma, apa dia cocok menjadi penyusup disini, hm? XD Kalau tanya soal alur cerita, memang rada gaje, sih (digampar pembaca), tapi semoga semuanya suka, ya (membungkuk hormat).

SEND BACK REVIEW FROM YOU:

From Laila Sakatori 24: Hehehe, beginilah rencana Danma untuk Fabia, ngaco, ya? XD (plaked) Shun sanggup, nggak, ya. Biar tahu ikutin terus ceritanya XD (dikroyokin satu kampung). Review again x3

From Banana Spice: Makasih ya, dah mau mampir repiu, hehe. XD Shun memang malu-malu, tuh (Shun: KAMU YANG BUAT WOI), makanya sifatnya itu sesuatu banget bagi pembaca =w= Ya, review again x3

From Reshu Divero Yu: Heh? Masa' Danma sama Shun, ceritanya jadi yaoi dong ujung-ujungnya =w= Ini updateannya, gomen lama, ya. Review again x3

From Black Butterfly YoriTan: Yori ganti nama lagi, nih, bikin pusing (plakk). Makasih atas kritikan typo-nya, aku akan usahakan untuk memperbaiki lagi. Review again x3

From Mist.a Railgun Fubuki: Ceritanya tambah rumit, ya? Gomenasai, ya, memang gaya pendeskripsianku yg jadul bikin susah pembaca, tapi semoga Mist selalu setia repiu fic ini sampai tamat, ya, ehehe. Review again x3

From Kitori Ariri-chan: Gapapa soal telat review krn saya sendiri telat update, hehe. Spectra itu yg musuh Danma di BBB versi New Vertroia, cari di wikia pasti langsung ketemu, kok. Review again x3

From Asera Madoka Kyunmei: Danma jahat atau baik memang masih misteri, jadi ikutin saja gimana ceritanya, ya (gubrak). Dan ini sudah diupdate, semoga suka. Review again x3

Thanks for all ANONYMOUS LOGIN X3 Review again XD~

R

E

V

I

E

w