Sakigane(Noir): Hello, minna-san. Genki desu? Seharusnya jadwal update fic ini tidak sekarang, tapi karena rekan saya, Rauto, sedang ujian, jadi fic solo (?) ini yang dilanjutkan duluan, ehehehe. Mungkin untuk chapter kemarin jadi banyak yang benci sama Spectra, ya? Waduh, jangan dong! (dihajar Shun). Dan ngemeng-ngemeng (ala trollface), kok fandom ini sepi sekali? *shock* Apa tidak ada author lain yang minat ke fandom ini selain saya? (pundung di pojokan ngorek-ngorek tanah). Ah, berharap ada author lainnya yang memberi penerangan (?) pada fandom ini dan menemani saya yang sebatang kara disini (dengan begitu mendramatisnya) *dihajar Fabia & Shun* Eits, chara-nya dah ngambek mau out (?). Oke, happy reading~ ^_^
.
.
.
.
.
You're My TroubleMaker!
Chapter 6: Be relationship?
© Sakigane (Noir)
Disclaimer: Imma don't own Bakugan! Kalau aku yang buat Bakugan, dunia BBB sudah penuh dengan yaoi, hahaha! *dihajar*
Rate: T (untuk amannya :3)
WARNING(s): Misstypo, OOC, and all~
Don't Like Don't Read!
.
.
.
.
.
"Fa-Fabia Sheen?"
Yang membuat Shun beribu-ribu terkejut bukan karena Danma yang ternyata masih belum hilang kebiasaan buruknya –menyusup. Tapi ternyata rekan kerja wanitanya yang ikut serta bersama Danma. Melihat pandangan Shun menyirat rasa terkejut yang begitu dalam, Spectra langsung mengambil kesimpulan bahwa Shun mengenal wanita itu …
"Shun, bisa kau jelaskan semua ini?" ucap Spectra kemudian menepuk pundak designer yang tengah berkerja di bawah kendalinya itu. Shun sendiri bingung mau menjelaskan dari mana permasalahan ini. Danma langsung bangkit berdiri dari ranjang besar itu diikuti Fabia.
"Anoo… Phantom-san hanya salah paham, Shun tidak tahu semua ini!" sahut Danma mengada-ngada kedua tangannya. Tapi bukan itu yang menarik perhatian Spectra, melainkan gadis yang bersama Danma itu.
"Sepertinya aku pernah mengenal wajah itu…" ujar Spectra menunjuk Fabia yang berdiri di belakang Danma. Gadis bermanik hijau itu membuang muka, jengkel menatap wajah orang yang bisa-bisanya menatap rendah perkerjaan seorang designer.
"Sudahlah, Phantom, aku akan menangani mereka…" putus Shun berusaha mengumpat masalah Fabia dari orang itu. Entah kenapa Shun tidak ingin sampai Spectra tahu siapa gadis itu.
"Tidak, Shun. Aku rasa bisa menebaknya, seminggu yang lalu dia yang muncul di acara talkshow dekat Tokyo, bukan?" tebak Spectra dengan senyum datarnya. Fabia terkejut, ternyata sosok menyebalkan di matanya itu menonton dirinya pada acara itu.
"Aku Fabia Sheen, tuan" sambung Fabia dengan tegas. Spectra langsung membulatkan matanya tidak percaya karena yang sekarang ada di hadapannya ialah …
"Oh! Sheen, designer wanita termuda yang sedang naik daun, ya! Hebat, aku tidak menyangka bisa bertemu dengan aslinya" ujar Spectra menengada kedua tangannya dengan tampang yang semakin menyebalkan di mata Fabia. Terkesan meremehkan.
"Danma, cepat bawah Fabia keluar" Shun tidak ingin Spectra berbicara lebih lanjut dengan Fabia, ia memutuskan untuk menyuruh Danma untuk menuntun gadis itu keluar.
"Ba-baik, Shun-kun! Ayo, Fabia –" ajak Danma mengulurkan tangannya, tapi tiba-tiba ditahan oleh Spectra.
"Tunggu dulu, aku ingin tahu bagaimana caranya designer terkemuka sepertimu bisa menyusup sampai kemari, nona Sheen" bujuk Spectra sepertinya penasaran dengan Fabia. Gadis itu tertunduk, bingung harus menjawab seperti apa. Karena otak permasalahan ini adalah Danma, dan ia pun… Ketika tertunduk, Fabia kembali emosi karena melihat bekas sobekan lembar design yang Shun buat tadi …
"Itu tidak penting! Justru aku yang harusnya bertanya padamu! Kenapa kau merusak hasil design dia, hah?" seketika itu juga Fabia langsung menunjuk Shun dengan tatapan berang, Shun sendiri terkejut kenapa gadis itu …
"Kau juga! Kenapa diam saja ketika karyamu dirusak orang macam dia, hah! Dimana harga dirimu sebagai seorang designer?" omelan sang gadis sedetik itu juga menusuk hati Shun yang paling dalam. Benar, seharusnya ia lawan, tapi kenapa …
"Dan kau lagi!" kali ini Fabia kembali menatap Spectra dengan tatapan menakutkan "–merusak karya orang lain 'kan ada hukumnya! Kau tidak bisa seenaknya saja merusak design orang lain seenaknya!" serasa seperti bintang meteor yang jatuh, Fabia terus mengeluarkan isi hatinya yang kesal karena perbuatan pria yang tidak dikenalinya itu.
Mendengar itu, Spectra hanya memejamkan matanya sembari tersenyum tipis.
"Hebat, hebat, perkataanmu kuacungi jempol, nona Sheen. Tapi Shun berkerja dalam perusahaanku sekarang, jadi aku berhak melakukan apa saja padanya" ucapan itu membuat Fabia terdesak untuk melawan. Shun hanya membuang muka, menyesali persejutuannya akan surat kontrak itu. Kalau saja bukan karena ayahnya yang meminta, ia pasti akan menolaknya.
"S-Shun, apa itu benar?" tanya Danma dengan rasa tidak percaya, menatap teman baiknya yang hanya bisa diam. Shun mengangguk pelan, tidak mengeluarkan sepatah katapun.
"Shun bodoh! Mana sifat jelekmu saat masih berada di toko, hah!" bentakan Fabia membuat Shun cengo seketika. Kenapa gadis yang tadinya kalem itu mendadak menjadi frontal seperti itu, Danma dan Spectra yang melihat itu saja tidak percaya.
"Sifat jelek? Shun? –" perkataan Spectra terputus begitu Fabia langsung memotong ucapannya lagi …
"Padahal di toko kau begitu dewasa, kenapa sekarang kau seperti anjing yang menurut pada orang seperti dia!" sekarang Fabia menunjuk Spectra tanpa rasa bersalah. Shun dan Danma jawdrop di tempat mendengar ocehan gadis yang kelihatannya …
"Hihihi, sepertinya Sheen itu gadis yang polos, menarik…" sekarang Spectra melipat kedua tangannya di punggung dan berjalan pelan ke sembarangan arah. Shun langsung menghampiri Fabia yang menggertakan kedua tangannya.
"Oi, Fabia, apa yang kau lakukan, sih?" bisik Shun khawatir takut kalau Fabia kenapa-kenapa. Fabia hanya menatap Shun dengan jengkel, masih kesal kenapa Shun diam saja tadinya.
"Pada dasarnya perusahaan Phantom memang selalu melakukan bisnis dalam skala besar, dan untuk proyek kali ini aku memanfaatkan putra tunggal kebanggaan Kazami, apa itu salah, hm?" tanya Spectra dengan suara halus namun menusuk. Danma langsung mengerinyitkan dahinya mendengar itu.
"Apa maksudmu memanfaatkan, hah? Walaupun kau punya ikatan khusus dengannya, tapi kau tidak pantas mengucapkan hal rendahan seperti itu!" seru Danma berusaha untuk memperingatkan. Fabia membulatkan mata mendengar perkataan Danma. Ternyata selain Danma, ada orang lain yang 'dekat' dengan Shun …
"Rendahan katamu? Designer gagal sepertimu sebaiknya diam saja" sindir Spectra tepat pada Danma.
"Phantom! Cukup!" tegur Shun tidak mau melibatkan temannya dalam masalah ini. Mendengar kata 'gagal' membuat Danma bungkam, Fabia sendiri sakit mendengar sindiran Spectra.
"Shun, besok kau sudah harus ikut denganku menuju pusat toko induk yang berada di Harajuku. Banyak kenalan hebat disana, jadi berhentilah bergaul dengan orang-orang gagal seperti ini" dengan itu Spectra membalikan badannya, menatap ketiga sosok insan itu dengan pandangan puas.
"Apa? Ha-Harajuku? Di Tokyo? Shun, kau tidak mungkin ke sana –"
"Ya, aku akan bersiap. Danma, tolong bantu Fabia untuk menjaga toko selama aku tidak ada" keputusan itu membuat Danma dan Fabia terpaku di tempat, tidak percaya dan rasa kecewa yang berkecamuk kini bersatu. Spectra hanya mengangguk lalu…
"A-apa…" guman Fabia terbata-bata. Ia betul-betul kecewa melihat Shun yang sekarang. Sekalipun kesal, bagi Fabia, Shun yang dulu lebih baik. Walau tidak jauh mengenalnya, tapi ia bisa melihat sisi baik Shun dalam dunia designer, memuaskan konsumennya dengan begitu gemerlapnya. Tapi sekarang, ia hanya mengangguk saja apa yang dikatakan Spectra Phantom, orang yang membuat Fabia paling menyesal hidup sebagai seorang designer muda.
"Tunggu! Mau apa ke Harajuku? Biarkan aku ikut!" seru Fabia menarik kerah baju Shun. Pria itu berusaha untuk tetap stay cool, memandatng datar gadis itu dan …
"Tidak bisa Fabia, kau harus menjaga toko. Ini bukan urusanmu, jadi pergilah" usir Shun dengan suara halus. Tapi entah kenapa Fabia tidak terima kalau Shun harus pergi bersama orang itu, dalam hatinya yang terdalam ada rasa tidak rela membiarkan Shun pergi …
"Tidak! Aku tidak bisa membiarkan orang bodoh macam kau pergi sendirian!"
"O-orang bodoh katamu? Kau pikir kau sedang berhadapan dengan siapa, hah?"
"Berhadapan dengan tuan Kazami, designer paling bodoh yang mau saja rancangannya dirusak orang!"
"Apa? Bodoh? Aku membiarkannya melakukan itu karena dia itu –"
"Apa? Karena dia bossmu begitu? Walaupun begitu tetap ada undang-undangnya, 'kan? Kenapa tidak kau tuntut dia dan masukan dia ke penjara!"
"Sudahlah, pokonya bukan urusanmu. Cepat pulang bersama Danma sebelum kalian diusir dengan cara kekerasan"
"Uph… Hahahahaha" tiba-tiba saja Spectra yang kembali duduk di sisi ranjang tertawa lebar. Shun dan Fabia langsung menghentikan perang mulut mereka lalu bersamaan menatap ke arah Spectra begitu juga dengan Danma.
"Aku tidak keberatan kalau kau ikut serta, nona Sheen. Tapi dengan satu syarat" timpal Spectra kemudian membuat semuanya bergidik. Shun dan Danma bertukar pandang lalu menatap satu-satunya perempuan dalam ruangan itu.
"Sudahlah, Fabia tidak akan ikut, kok. Ya, 'kan?" tanya Danma berusaha untuk membujuk Fabia. Shun ikut menimpali.
"Ya, tidak perlu ikut campur. Sebaiknya kau jaga toko saja –"
"Kurasa masalah toko bisa diserahkan pada designer gagal itu" guman Spectra santai sembari memandang tajam ke arah Danma. Walau kesal, tapi Danma hanya bisa menggerutu kesal dan mengumpat dalam-dalam niatnya untuk membalas.
"Ja-jadi, apa syaratnya?" tanya Fabia berusaha untuk memantapkan diri. Ia tahu kalau belum sampai seminggu dirinya berkerja, tapi sisi hatinya yang lain berkata kalau tidak bisa membiarkan Shun begitu saja diperalat olehnya.
"Fabia, apa yang sebenarnya kau pikirkan, sih?" bisik Shun heran kenapa Fabia begitu bersimpati padanya. Memang Shun tidak suka diperlakukan seperti ini oleh Spectra, tapi ia juga tidak mau merepotkan orang sekitarnya seperti …
"Kau tidak mengerti, Shun! Menjadi seorang designer bukan bearti harus menjadi babu, biar kutunjukan bagaimana caranya untuk –"
"Syaratnya mudah, aku hanya ingin tahu bagaimana, sih, hubungan kalian berdua?" ucap Spectra sengaja tidak sengaja memotong pembicaraan diam-diam Shun dan Fabia. Kedua insan itu saling pandang dengan menyipitkan mata satu sama lain.
"Ehm, hubungan kami… Bagaimana menjelaskannya?" sahut Shun menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu kebingungan. Begitu juga dengan Fabia, mereka berkenalan belum cukup lama, jadi untuk menjelaskannya cukup sulit.
'Sial, ini pasti jebakan. Kalau menjawab hanya sekedar rekan kerja –' bahkan Danma ikut-ikutan menimbangkan jawaban itu dalam hatinya. Melihat semuanya bimbang, Spectra hanya tertawa kecil.
"Sekedar rekan kerja, eh? Padahal menurutku kalian berdua cocok juga" ucapan yang terlontarkan Spectra tiba-tiba membuat Shun merasakan firasat yang tidak enak. Shun paling tahu bagaimana sisi buruk Spectra, yaitu paling suka menciptakan 'sesuatu yang baru'. Mungkin saja sekarang juga …
"Maksudmu apa. Phantom?" tanya Shun pura-pura tidak pengerti. Spectra lalu mengambil ponselnya dari saku celana dan mulai menggerakan jari-jarinya di keyboard ponsel.
"Bagaimana kalau kalian …"
YrMyTrblMkr
Burung kecil saling sahut menyahut untuk menyambut hari baru. Matahari yang cerah pun kembali menyinari belahan dunianya yang baru saja melewati malam. Pastinya di kota ternama seperti ini, di pagi hari sekalipun sudah sangat sibuk sekali. Mobil-mobil mulai berlalu lalang, toko demi toko yang ada di setiap sudut kota pun mulai 'open', orang-orang yang berbisnis sudah mulai berlalu lalang di sudut perkotaan, sungguh suasana yang biasa di tengah kota yang modern seperti ini. Tapi tidak bagi Fabia karena …
"Oi, Fabia, ayo bangun. Sudah pagi" ucap seseorang berusaha membangunkan gadis berambut indigo itu dari tidurnya. Karena sudah terbiasa bangun pagi, jadi Fabia dengan mudah menangkap suara itu lalu membuka matanya perlahan …
"Oh, sudah pagi" gumannya dengan suara kecil. Sosok yang membangunkannya hanya menghelai nafas lega melihat gadis itu sudah bangun lalu –
"Dasar gadis yang menyusahkan orang lain" ucapan itu membuat indera pendengaran Fabia memanas seketika. Ia langsung bangun dari posisi tidurnya dan melihat siapa itu lalu…
"Hei! Kenapa kau bisa disini! I-ini kan kamar perempuan, seenaknya saja masuk! Tidak sopan!" omel Fabia melempar bantal padanya tapi dengan muda bantal itu langsung ditangkapnya. Sosok itu mendengus pelan lalu meletakan bantal itu kembali pada tempatnya.
"Kau yang tidak sopan, sejak malam itu sekarang aku harus merubah status lajang kebangaanku, tahu?" tantang balik sosok itu yang ternyata adalah Shun Kazami, putra tunggal pemilik Kazami Corp yang ternama. Fabia menggembungkan pipinya tidak terima.
"Huh! Sudah untung aku mau menolongmu! Ini semua salah kau yang menjadi designer bodoh!" setelah itu mereka terus saja beradu mulut. Kalau ditanya dimana Fabia sekarang, mungkin jawabannya di luar dugaan.
Fabia menginap di Kazami Corp. Alasan mengapa dia bisa-bisanya menginap di gedung kelas atas itu karena kelanjutan perbincangan malam kemarin, dimana Spectra menyebut syaratnya yang sesungguhnya. Dan syarat itu begitu disesali Shun maupun Fabia. Spectra meminta mereka untuk …
"Hei, sebagai sepasang kekasih baru dilarang untuk bertengkar" potong seseorang tiba-tiba masuk ke kamar tempat Fabia menginap. Shun dan Fabia langsung mendelik pelan mendengar suara itu yang ternyata adalah suara …
"Sudah membuat kami menjadi seperti sekarang sebaiknya kau diam saja, Phantom!" entah sejak kapan Shun dan Fabia bisa kompak mengucapkan kalimat itu tanpa perbedaan titik, koma, pengejaan, diucap bersamaan dengan begitu kompaknya sampai Spectra sendiri tertawa kecil.
"Kompaknya –" belum selesai Spectra kembali menggoda mereka, Shun maupun Fabia kembali beradu mulut.
"Shun, untuk apa kau mengikut-ikuti ucapanku, hah?" balas Fabia kemudian kembali menyipitkan matanya sembari menatap Shun yang berkacak pinggang di depannya.
"Kau yang mengikutiku, Fabia Sheen" balas Shun keras kepala tapi tetap bertampang datar.
Ya, seperti yang dilihat dengan mata kepala sendiri. Syarat yang diajukan Spectra adalah… membuat mereka menjadi sepasang kekasih. Entah siapa yang gila dalam permasalahan ini, yang jelas pada saat itu Fabia begitu emosi dengan pria berambut jabrik pirang itu. Dan tanpa sadar ia mengucapkan iya pada syarat itu, tanpa sadar kalau sekarang orang pertama yang menjadi pacarnya ialah orang yang paling dibencinya.
Bahkan Spectra menghubungi ayah Shun pada saat itu juga, dan dengan gembiranya Kakeru langsung menyetujui apapun yang diucapkan Spectra. Termasuk hubungan aneh Shun dan Fabia sekarang, menjadi pacar bohongan. Shun mulai kehilangan kewarasannya pada saat itu juga, sejujurnya Shun juga tidak pernah berpacaran dengan siapapun.
Dengan kata lain, dua orang yang tidak mempunyai pengalaman dalam menjalin hubungan kasih seperti ini malah dipaksa berpacaran hanya demi satu tujuan. Yaitu untuk mengikuti Shun pergi ke Tokyo, tepatnya dekat Harajuku. Fabia tidak suka melihat Shun diperalat seperti ini karena pekerjaannya –designer, dan karena itu ia ingin membuktikan Shun kalau menjadi designer bukanlah harus menjadi pesuruh seperti ini.
"Sudahlah, jangan bertengkar di pagi hari. Kita akan berangkar sebentar lagi, jadi bersiaplah" dengan itu Spectra pun berlalu. Membiarkan Shun dan Fabia yang masih bertatapan dengan berang.
"Ingat, kita hanya ber-pa-ca-ran sampai masa kontrak ini berakhir, aku tidak sudi mendapat kekasih sepertimu" ucap Shun dingin lalu melangkah pelan menuju pintu keluar, tapi tiba-tiba saja Fabia kembali melempar bantal kearahnya karena kesal. BUGGH!
"Dasar designer bodoh berhati dingin! Awas kau, ya!" omel Fabia entah di dengar Shun atau tidak karena lelaki berambut panjang itu sudah berlalu dari kamar Fabia. Gadis berambut indigo ini menghelai nafas panjang, ia tahu kalau dia maupun Shun tidak pernah mencintai satu sama lain. Jadi status pacaran mereka sekarang hanya sekedar pajangan belaka.
Setelah mandi dan bersiap-siap, Fabia segera keluar dari kamarnya. Seorang pelayan wanita menuntunnya menuju ruangan tempat Spectra dan Shun menunggunya, maklum saja Fabia tidak hafal bagaimana liku-liku jalan yang terlihat sangat memusingkan itu.
"Ah, nona Sheen akhirnya kau datang juga, aku sempat khawatir kalau kau mau mengingkari janjimu sendiri" ujar Spectra begitu menyadari kehadiran Fabia yang menghampiri mereka di ruang tunggu. Fabia mengkerutkan dahinya kesal karena ucapan pria itu terus saja menusuk baginya.
"Aku bukan orang rendah seperti itu, Phantom" balas Fabia dengan suara sesopan mungkin. Lalu sembari menunggu kendaraan mereka, akhirnya Fabia mengambil tempat duduk di samping Shun yang refleks menggeser posisi duduknya. Seseorang menangkap perhatian Fabia karena sebelumnya tidak pernah bertemu. Di ruang tunggu sekarang hanya ada Shun yang tenang-tenang saja, Spectra yang tidak melepas pandangannya dari layar ponselnya, lalu Fabia yang duduk di samping Shun, dan seorang perempuan yang duduk di samping Spectra.
Fabia terus memandangi gadis itu. Mulai dari ciri-ciri penampilannya yang Fabia perhatikan, yaitu memiliki rambut pendek bewarna oranye, pakaiannya juga sangat modis dan trendi. Gadis itu hanya duduk manis di samping Spectra tanpa mengucapkan sepata kata pun.
"Kenapa nona Sheen?" tanya Spectra kemudian membuyarkan lamunan Fabia terhadap gadis itu. Fabia menggeleng pelan lalu kembali bersandar si sofa.
"Bu-bukan apa-apa, jangan dipikirkan" ujar Fabia dengan suara lembutnya seperti sedia kala. Berbeda sekali kalau ia sedang emosian dan mengamuk. Spectra memandangi gadis yang duduk di sampingnya lalu …
"Oh, ya, lupa kuperkenalkan padamu. Dia adalah adik perempuanku" ucapan Spectra membuat Fabia terkejut. Padahal tadi Fabia sempat mengira gadis itu adalah kekasihnya, tapi ternyata bukan. Gadis itu tersenyum manis ke arah Fabia.
"Perkenalkan, namaku Mira. Mantan designer di Glamour Shine"
.
.
.
.
.
To Be Continued
.
.
.
Send Back Review from you:
GummieRobot1698: TFR, aku akan berusaha membuat cerita ini semakin garing XD RB~
Banana Spice: TFR, soal gambar sama kayak saya, fail XD *gubrak* RB~
Kankura Hayamine, SuzunoKazami, Implictible: TFR, RB~
Chii EmeraldRose: TFR, soal sembunyinya mungkin memang kurang modern, hehe, gomen. RB~
BlackButterfly Yori-tan: TFR, ngakak baca reviewmu, alaynya kocak *plak* RB~
Kitokita Ariri-chan: TFR, yosh pasti akan selalu update ^_^ RB~
Black shun & David: TFR, RB~
Asera Madoka Kyunmei: TFR, waduh masa bikin speechless, sih? Chapter ini juga, nggak? XD *plak* RB~
Bjtatihowo: TFR, gomen kalau pengembaran charnya kurang dapet :v RB~
Kazekoori Nagare: TFR, iya sih kalau karya dirusak pasti sakit hati, sejelek2nya karya itu (abaikan)XD RB~
Mist.a Railgun Fubuki: TFR, jahat atau tidaknya Spectra memang misteri, fufu. RB~
Ayago Tenshi Implictible: TFR, percintaannya pelan-pelan, ya, hehe ^^ RB~
Lordest Sweetest: TFR, yaoi? Mungkin kalau shou-ai ada *plak* Tapi nggak janji, wkwk. RB~
R
E
V
I
E
W
