A/N(Cerbeast): Holaa, minna-san XD Genki desu ka? Pertama-tama, selamat(?) karena saya resmi ganti nickname dari Noir jadi Cerbeast, karena Noir memang pasaran, sih (plak), jadi sekarang panggil saja Cerbeast (sama aja kali). Kedua, tadinya ingin menerapkan system update baru, tapi nggak jadi karena jadinya nggak adil, berhubung saya 'pegang' banyak fandom, jadi kembali ke jadwal update lama :) Ketiga, aku mau sedikit Tanya(?) ke pembaca-pembaca kesayanganku sekalian, enaknya fic ini ditambah humor tidak? Atau cukup seperti ini saja? Monggo jawabannya (dor). Oke, kebanyakan cincong saya, mending langsung masuk ke ceritanya biar pembaca nggak menunggu lama, tralalala XD
.
.
.
You're My Trouble Maker!
Ch7: Choose Fake or Real Relationship
Made by © IllushaCERBEAST
Bakugan Battle Brawler © NOT MINE
Rate: T
WARNING(s): OOC, Misstypo, Baka Romance, Suck Plot, and all.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
.
"Perkenalkan, namaku Mira. Mantan designer di Glamour Shine."
"Eh?" Fabia membulatkan mata tak percaya, sedangkan gadis manis bernama Mira itu hanya tersenyum kecil menanggapinya.
"Tapi, mantan…" Fabia menghentikan ucapannya sesaat tidak bermaksud untuk ikut campur dalam urusan ini entah mengapa. Padahal pribadi Fabia sendiri juga designer di sana.
"Ya, mantan." Jawab Mira singkat, lalu suasana mendadak hening. Shun sedikit menggertakan rahang giginya begitu mendengar Mira dan Fabia berkomunikasi untuk sesaat tadi. Tapi kemudian ia berusaha untuk tenang.
"Eh, jemputannya datang. Ayo semuanya, bersiap." Ajak Spectra bangkit berdiri disusul lainnya –meliputi Mira, Shun, dan Fabia. Gadis berambut indigo itu menghela nafas, ia tidak menyangka akan berakhir tragis seperti ini. Maksudnya bukan tragis kecelakaan, tapi tragis… dalam waktu singkat ia harus pindah toko lalu dicap berpacaran dengan Shun. Sungguh tidak elit sebagai designer hebat sepertinya…
"Fabia, duduk disampingku, yuk. Mungkin saja kita bisa akrab." Ajak Mira dengan ramah sembari menepuk-nepuk kursi mobil sebelahnya yang kosong. Ya, mereka dijemput dengan mobil –yang bisa dibilang bukan mobil biasa. Mobil Alphard, cukup mewah untuk seukuran selebritis seperti Spectra Phantom.
"Ya –ya, tentu saja!" terima Fabia dengan senang hati. Akhirnya ia mendapati kenalan wanita, yaitu Mira. Apalagi katanya mereka sesama designer. Posisi duduk mereka, Spectra berada di kursi depan –disamping sopir, lalu Mira ditengah, disamping kiri-kanan Mira diduduki Shun dan Fabia.
"Jalan ke Tokyo." ujar Spectra dengan nada memerintah dan langsung disambut anggukan dari si sopir. Mobil mewah itu pun mulai berjalan, dan Shun hanya bisa menghela nafas karena itu.
"Hei, sejak kapan kau jadi designer di Glamour Shine, hm?" tanya Mira dengan pandangan antusias. Fabia langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal itu lalu langsung menjawab…
"Engh… baru satu hari." Jawab Fabia sedikitnya malu. Masa baru bekerja satu hari sudah meluncur ke Tokyo –yang bisa dibilang karena sedikit kecelakaan kemarin malam. Mira mengangguk kemudian…
"Hee, baru satu hari tapi sudah diminta Shun untuk ikut bersamanya ke Tokyo? Itu hebat!" seru Mira dengan pandangan berbinar. Fabia speechless mendengarnya, sedangkan Shun hampir tersedak disamping Mira. Spectra tersenyum geli dari jok depan.
"Ehm, itu…" Fabia bingung harus menjawab apa. Masa ia harus bilang 'Terima Kasih' dengan pedenya? Mungkin saja Shun mendadak berubah menjadi beruang kutub dan menyambar Fabia langsung pada saat itu juga.
"Aku hanya ingin mengetes kemampuannya. Lagipula banyak orang membanggakan merk 'Sheen' itu, jadi tidak ada salahnya ditest, tidak lebih." sahut Shun dengan cepat. Mira dan Fabia diam lalu memandang pria dingin yang mengalihkan pandangannya keluar jendela itu.
"A –apa? Dasar tidak sopan kau, buntut kuda!" omel Fabia sembari menggembungkan pipinya tidak terima. Shun menggerakan bahunya singkat lalu menatap Fabia, dengan pandangan ketus.
"Kau yang tidak sopan, kucing liar!" balas Shun dengan nada tenang, namun tetap tajam. Tanda kerutan mulai terlihat di kening Fabia, bagaimana bisa lelaki dingin itu bisa tahu…
"Hei! Ba –bagaimana kau tahu nama julukanku di kotaku, hah? Kau pasti meneliti tentangku diam-diam! Dasar tidak sopan! Buntut kuda!" lanjut Fabia tidak mau mengalah. Tapi pada kenyataannya memang benar, 'kucing liar' adalah sebutan untuk Fabia di kotanya, karena dari rambutnya juga sifatnya yang…
"Mana kutahu, kucing liar! Dibayar sejuta pun aku tidak mau tahu apa-apa tentang kau, kucing liar! Kau sendiri tahu panggilan 'buntut kuda'ku saat aku masih SD." sambung Shun melipat kedua tangannya dengan angkuh. Spectra langsung terkekeh mendengarnya, tidak bermaksud untuk menghentikan mereka.
"Anu, Fabia… Apa aku perlu pindah saja?" tanya Mira tiba-tiba merasa tidak enak menganggu keduanya. Otomatis Shun dan Fabia langsung menengok ke arah gadis yang duduk di tengah itu.
"Ti –tidak perlu! Aku dan buntut kuda itu yang salah, maaf!" seru Fabia yang wajahnya langsung memerah karena malu, dengan cepat ia kembali duduk di posisi semulanya. Shun menghela nafas sejenak.
"Merepotkan," guman Shun dalam hati, kembali memalingkan pandangannya ke luar kaca mobil.
:YrMyTrbleMkr:
"Permisi~" seru kedua gadis yang pada akhirnya berkesempatan untuk datang ke toko tempat dimana sahabatnya berkerja. Kedua gadis itu –tak lain adalah Runo dan Alice melangkah perlahan dan terkagum-kagum dengan isi toko itu.
"Oh, selamat datang!" sambut seorang lelaki yang kelihatannya sudah tidak asing lagi bagi kedua perempuan itu. Mereka menautkan alis bersamaan karena bingung.
"Eh, kamu –pacarnya Fabia yang kemarin?" tanya Alice membuka pembicaraan duluan. Pria beriris merah itu tersenyum geli lalu menggeleng pelan.
"Tidak, tidak. Yang kemarin aku hanya bercanda, kok. Ngomong-ngomong ada baju yang ingin dicari atau dipesan?" tanya pria itu –Danma dengan ramah. Sifatnya satu ini memang sangat pantas sebagai pelayan toko, berbeda dengan Shun yang bertolak belakang dengannya.
"Apa Fabia ada?" sahut Alice memiringkan kepala bingung. Danma hanya menghela nafas dan kembali menggeleng.
"Tidak, ia dan Shun mendapat pekerjaan di Tokyo. Jadi sebagai gantinya, aku yang berkerja disini, untuk sementara." jelas Danma dengan padat dan jelas. Sedikitnya raut wajah kedua gadis itu menjadi kecewa, tapi selaku designer pintar tidak sewajarnya membiarkan pelanggannya bersedih.
"Jangan kecewa begitu, lady." bujuk Danma sembari tersenyum ramah, membuat Alice dan Runo tertegun sesaat. "Semoga aku bisa menggantikan Fabia untuk kalian berdua, mau melihat design buatanku?"
"Ehm, tentu saja, ta –tapi kalau tidak keberatan…" guman Runo mengetuk-ngetuk kedua telunjuk jarinya, kelihatan salah tingkah entah apa penyebabnya. Kedua pipinya pun terlihat merona merah.
"Tidak akan pernah, lady. Silahkan melihat-lihat dulu, walau milikku mungkin tidak sebagus milih Fabia maupun Shun," lanjut Danma merendahkan diri. Karena sedikit masalah, Danma menjadi gagal dalam dunia designer, tapi ia berusaha untuk tidak berkecil hati karena itu.
"Ya, dengan senang hati!" seru Alice bersemangat. Dan Danma hanya menanggapi keduanya dengan senyum misterius miliknya.
:YrMyTrbleMkr:
"Fabia, ayo sekamar denganku saja. Boleh, 'kan, kak?" tanya Mira dengan nada memohon pada kakak laki-lakinya. Yang ditanya hanya mengangguk dan tersenyum tipis.
"Asyik! Aku tidak sendirian lagi!" seru Mira kegirangan. Fabia hanya menurut karena baginya, Mira juga bossnya. Tapi kelihatannya Mira tidak meninggi hati atas jabatannya sebagai adik dari selebritis terkenal macam Spectra Phantom.
"Ngomong-ngomong, Mira-san masih menjadi designer, 'kan?" tanya Fabia tidak bermaksud menyinggung atau ingin tahu. Mira mengangguk kecil lalu mengambil sebuah buku dari tas selempangnya.
"Tentu saja, lihat! Aku juga membawa buku yang berisi rancanganku, nanti kita tukar-tukaran ide, yuk!" ajak Mira dengan antusias. Fabia mengangguk senang lalu keduanya pun berjalan menuju kamar hotel mereka.
Begitu 5 jam berlalu, akhirnya mereka sampai di kota Tokyo. Kota pusat segalanya bagi jepang, dan salah satunya adalah fashion. Acara tempat dimana nanti Shun akan 'beraksi' akan diadakan malam hari, dan sampai saat itu mereka memutuskan untuk beristirahat di sebuah hotel mewah salah satu sponsor dari Phantom. Tentu saja, karena itu penginapan mereka tidak dikenalan biaya sama sekali.
"Shun, ikut aku." bisik Spectra terdengar memerintah. Shun mengangguk tanpa ekspresi lalu mengikuti Spectra di belakang, berjalan menuju suau tempat. Tapi setengah jalan, tiba-tiba saja Shun tak sengaja bersenggol bahu dengan seseorang.
"Ugh –" Shun menghentikan langkahnya lalu menengok ke arah orang yang tadi bersenggol bahu dengannya. Sosok itu menoleh bermaksud untuk minta maaf, tapi begitu melihat wajah Shun…
"Cih! Lihat-lihat kalau jalan!" bentaknya lalu berlalu dengan cepat ke arah yang berlawanan dengan jalan Shun. Lantas pria dingin itu terkejut, padahal mereka bertabrakan dengan tidak sengaja. Bahkan Shun tidak mengenalnya. Spectra yang merasa Shun sudah jauh di belakangnya langsung menoleh.
"Shun, ada apa?" tanya Spectra heran. Shun langsung terperanjat dari lamunannya lalu kembali berjalan menghampiri tuannya –Spectra.
"Bukan apa-apa," jawab Shun singkat, memejam kedua matanya berusaha untuk melupakan kejadian aneh tadi.
"Kau ingat, Shun. Kau harus menghasilkan 100 design rancangan dalam seminggu ini. Dan jangan buat sampah dalam rancanganmu," bisik Spectra tersenyum sinis sekaligus bermaksud memperingatkan. Shun menghela nafas dan mengangguk.
"Ya," jawabnya tidak mau beradu mulut. Bisa saja sekarang ia menentang apapun yang diucapkan Spectra, tapi tidak bisa. Ia sudah terjebak dalam surat kontrak itu dan tidak bisa mundur lagi. Spectra kembali tersenyum lalu mereka berdua berlalu dari lobby hotel.
:YrMyTrbleMkr:
"Wah, kau… benar-benar hebat, Mira-san! Selerahmu berbeda dari designer-designer kebanyakan. Sugoi…" puji Fabia dengan raut wajah kagum melihat gambar-gambar baju asli karya Mira. Gadis berambut sependek bahu itu tersenyum malu mendengarnya.
"Ah, Mira saja sudah cukup. Tapi buatanmu juga luar biasa, bisa-bisanya membuat gaya casual jadi trend kebanyakan, kau pasti berlatih keras," ujar Mira memuji balik. Dalam waktu singkat, Fabia dengan mudahnya akrab dengan Mira. Sama-sama gadis, seumuran, dan sesama designer pula.
"Habisnya, kalau hanya memanfaatkan model baju untuk bisa bergaya keren rasanya tidak adil, bahan casual adalah yang paling nyaman untuk jalan-jalan, bahan membuatnya pun juga tidak mahal," jelas Fabia membuka lembar berikutnya dari buku Mira sembari menjelaskan. Pintu balkon hotel mereka dibiarkan terbuka, membiarkan hembusan angin Tokyo menyeruak di sekitar mereka.
"Hm, ada juga designer muda yang berpikiran sepertimu. Hihihi, justru kalau rancanganku… lebih mencondong ke arah norak, ya…" canda Mira terkekeh kecil. Fabia menggeleng keras lalu kembali membuka halaman berikutnya.
"Tidak, justru model boho chic dikombinasikan dengan action-dress itu keren sekali, jadi ingin memesan satu baju darimu…" sahut Fabia lagi. Keduanya terus asyik berbicara mengenai kelemahan dan kelebihan masing-masing dalam dunia designer, sampai-sampai Mira bertanya…
"Kau dan Shun… akrab, ya. Kalian cocok sekali, lho…" Fabia langsung jawdrop di tempat dengan tidak elitnya mendengar itu.
"A –apa? Akrab apanya, Mira? Kau tidak lihat tadi aku memakinya habis-habisan?" ucap Fabia berusaha untuk menyangkal berita yang benar tidaknya masih belum pasti. Mira menutup buku rancangan Fabia lalu berbaring di ranjang miliknya.
"Mungkin kau satu-satunya wanita yang membuat Shun seperti itu, bahkan… aku tidak bisa…" tutur Mira kedengarannya parau. Fabia menautkan alisnya bingung.
"Eh? Maksudmu apa?" tanya Fabia balik. Wajah Mira tak terlihat bagaimana parasnya sekarang, tertutup helaian poninya yang cukup panjang.
"Hei… saat kita pertama kali bertemu, aku pernah bilang kalau aku mantan designer di tokonya Shun. Ya… mungkin itu alasan kuat kenapa aku dan Shun tidak bisa seakrab seperti kau dan Shun sekarang," cerita Mira memiringkan badannya, menatap Fabia dengan senyum terpaksa.
"Maaf, bukan bermaksud ikut campur, tapi… apa yang terjadi diantara kalian berdua–" RRRR!
"Ups, itu ponselku." Seru Mira bangun dari tidurnya lalu meraih ponselnya yang tergeletak di salah satu meja rias. Ia langsung menatap layar ponsel guna mengetahui siapa yang menghubunginya saat itu.
"Siapa, Mira?" tanya Fabia memiringkan kepala.
"Kakakku. Sebentar, ya." Lalu Mira pergi keluar balkon kamar dan mengangkat telepon dari kakaknya –Spectra. Melupakan itu, Fabia menjadi penasaran. Padahal belum sempat ia bicara, tapi sudah ada halangan. Sepertinya ada hubungan mendalam diantara Mira dan Shun, walau tadinya saat bertemu, mereka bergelagak tidak terjadi apa-apa.
"–bia, Fabia."
"Eh? Maaf, aku melamun!" seru Fabia menengada kedua tangannya. Singkat juga Mira berbicara dengan kakaknya, tapi ternyata itu bukan bearti Fabia bisa tahu masalah Mira dengan Shun, karena…
"Kakakku memanggil, aku permisi dulu. Kau santai saja disini, aku akan kembali dengan cepat." Pamit Mira kelihatannya buru-buru. Fabia tersenyum singkat lalu mengangguk, membiarkan adik perempuan Phantom itu melangkah pergi dari kamar mereka.
Fabia langsung menghela nafas panjang dan membaringkan dirinya di ranjang dengan malas. Perjalanan dari kotanya ke Tokyo jauh juga. Hal ini benar-benar diluar bayangan Fabia, baru sehari bekerja di toko Kazami, sekarang ia malah ikut berkerja dengan Phantom. Sungguh tidak wajar, entah ini takdir atau roda waktu yang sudah ditetapkan.
"Shun Kazami, benar-benar pembawa masalah saja…" guman Fabia setengah kesal, tapi tanpa sadar ia malah tersenyum kecil mengingat pria dengan julukan 'buntut kuda' satu itu. Seumur hidup, baru pertama kali Fabia bertemu dengan laki-laki sepertinya. Banyak sekali pribadi-pribadi yang terikat dalam diri Shun, dan Fabia sudah menemukan kepingan-kepingan pribadi itu satu persatu.
Justru karena Fabia menemukan pribadi Shun, gadis yang tidak berdosa ini malah terjerat dengan berbagai masalah. Entah yang ini, entah yang itu… Fabia pun jadi bertemu dengan macam-macam orang yang tidak terduga. Memang diberi masalah, tapi rasanya menyenangkan hidup ditengah-tengah masalah itu, menurut Fabia.
"KETEMUUU!"
"Eh–?" Fabia membelalak mata terkejut begitu mendengar suara teriakan dari arah balkon. Dan langsung saja seorang pria tiba-tiba meloncat dari luar masuk ke dalam kamar dengan tidak elit –terjatuh dan terbentuk tiang tempat tidur.
"Si –SIAPA KAMU?" teriak Fabia kaget dan langsung mengambil ancang-ancang untuk berkelahi. Walaupun seorang gadis, tapi Fabia pandai berkelahi sejak kecil. Selain untuk menjaga dirinya sendiri selaku wanita, tapi juga untuk tidak merepotkan orang di sekitarnya kalau ada masalah. Coba ia tidak bisa berkelahi, pasti sekarang ia sudah menjadi perempuan kebanyakan –menjerit-jerit histeris dan lebay… Ups, lupakan saja.
"Aduh, sakit! Tiang sialan!" omel pria itu pada tiang yang baru saja ditabrak kepalanya secara tidak sengaja. Fabia sweatdrop sesaat, tapi ia kembali memasang ancang-ancang berkelahinya untuk berjaga kalau orang itu punya niat jahat.
"Cepat katakan siapa kamu dan apa maumu kesini! Datang lewat balkon, dasar tidak sopan!" bentak Fabia tidak takut sama sekali walaupun lawan di depannya adalah laki-laki. Lelaki berambut hijau tosca muda itu bangkit lalu menautkan alisnya bingung.
"Heeh? Ini kamar Mira, 'kan? Atau aku salah kamar, ya?" ucapnya heran. Lantas mendengar nama Mira membuat Fabia terkejut.
:YrMyTrbleMkr:
"Hei, Alice. Jadi kau memesan dress polkadot merah tadi, ya? Itu cocok sekali untukmu!" seru Runo tak bisa membendung kebahagiaannya begitu ia dan Alice pulang dari toko Glamour Shine, dengan membawa baju yang dipesan mereka.
"Iya, tidak kusangka, Danma bisa jadi tempat konsultasi berpakaian. Aku –merasa berbeda begitu disarankannya memakai dress tadi, hebat!" guman Alice tak kalah semangatnya. Sekarang kedua gadis itu beristirahat di salah satu café terdekat karena belum ingin menyudahi jalan-jalan mereka.
"Kalau aku lebih cocok memakai baju dengan bawahan bluejeans ini," tunjuk Runo pada rok yang baru saja dibelinya. Tiba-tiba Alice menghentikan seruputannya pada jus jeruk yang dipesannya.
"Anu, Runo, tadi katanya… Danma belum punya pacar, 'kan?" tanya Alice tiba-tiba. Sedangkan gadis dikuncir dua yang ada dihadapannya memiringkan kepala dengan bingung.
"Tidak, 'kan dia hanya bercanda saat ia bilang kencan dengan Fabia waktu itu," jawab Runo terkekeh. Alice mengangguk pelan lalu…
"Anu, aku ingin curhat, nih… Tapi jangan bilang siapa-siapa selain Fabia, ya…" pintah Alice dengan pandangan memohon. Runo speechless sesaat lalu mengangguk.
"Iya, nggak cerita sama siapa-siapa, deh, suer. Kau mau curhat apa?" tanya Runo sembari memotong kue yang dipesannya, masih ada dua potong lagi di piringnya. Alice tertunduk sesaat lalu…
"Sepertinya aku, menyukai Danma…"
:YrMyTrbleMkr:
TO BE CONTINUED
REVIEW BACK :D
Kankura Hayamine: author Rauto… Eh, sekarang namanya Illusha, sudah selesai ujian, kok XDD
Laila Sakatori 24: Nih dah update, maaf kalau lama, ya TAT"
Ayago Tenshi Implictible: Wkwkwk, jangan gregetan, bu. Fic saya masih beginner begini XD (ngaku)
Bjtatihowo: Hehehe, makasih atas kritikan dan masukannya, ya. Gimana dengan chapter ini? :D
SuzunoKazami: Iya tadinya terpaksa, tapi kedepannya nggak tahu juga deh, ohohohoho /plak XD
BlackShun: Chapter ini Danma udah nggak apa-apa, kok XD (Danma: deadglare)
Fabia: Hehehe, ikutin ceritanya terus, pasti nanti pertanyaannya kejawab. Nggak bisa kasih spoiler aku, gomen /slap
Negima: Nih dah lanjutt XD
Mista Railgun Fubuki: Hohoho, makasi koreksi misstypo-nya ya say(?) XD Semoga chapter ini memuaskanmu~
Banana Spice: Hehehe, semoga hubungan mereka kedepannya tidak ada paksaan (Shun n Fabia: tanggung jawab lu author!)
Asera Madoka Kyunmei: Hehehe, makin seru, yak? XD Kalau chapter ini gimana? Mohon pendapatnya, fufufu /dhuagh
Sylthramoth: Yang pasti Shun nantinya bakal 'sesuatu' sama Fabia, tenang saja XD /plakk
Sasachipapachi: Sabar, sabar, yang namanya cinta pasti nggak langsung jleb gitu. Tapi pasti nanti mereka… Ah, nggak jadi ngomong /plak
GummieRobot1698: Hoeee, kami akan berusaha mempercepat jadwal updatenya, sabar, yak! :D
Anon: Hehehe, lihat saja nanti, semoga sesuai harapanmu /slaped
KitokiAriri-chan: Rauto alias Illusha sudah selesai ujian, kok. Makasih ya pujiannya, :D
Black Butterfly Yori-tan: Makasih pujiannya, semangat aku, dah(?)
Raihancha Pei: Iya, sabar, namanya juga cinta pasti nggak langsung hajar gitu, kan(?) Jadi pelan-pelan aja XDD
Sasayanagi: Hahaha, muka mereka memang mirip banget, makanya aku setuju kalau mereka jadi pairing.
Cekidot: Makasih, ya XDD
Rawrer: Selamat datang di fic gila BBB ini, semoga suka dengan peran Fabia disini, ya XD
CINCONG Singkat(?):
Demooo, maaf, ya, update fic saya nggak nentu. Mohon dimengerti, tugas dan jadwal saya di dunia nyata maupun dunia maya semakin padat. Meminimalisirkan saya untuk melanjutkan semua-semua fic kesayangan saya, hiks (Danma: cengeng amat). Pembaca-pembacaku tercinta, makasih setia membaca fic saya, ya, hehehe. Dan soal ficnya, banyak tuh yang cincong(?) pengen pairing DanRuno, akhirnya saya keluarin juga pairing itu(pelan-pelan). Tapi tetap ShunFabia yang paling utama XDD Mohon reviewnya, saran maupun kritik diterima dengan senang hati. Makin banyak review, makin semangat saya lanjutin ficnya (maunya aja). Oke, sekian :)
R
E
V
I
E
W
