Corner of Memories

Bleach © Tite Kubo

Rate: M

Genre: Romance/Humor

Pair: GrimmIchi & others

Warning: Yaoi, OOC, maybe typos, judul nyontek judul lagu (karena nggak ada ide), abal, nggak jelas, Don't Like Don't Read, dll. Dan ada tambahan, di sini tidak ada karakter jahat. Semua baik. Ingat kalo genre-nya Humor kan?

Summary: Waktu tidak pernah menunggu. Pergilah tanpa goyah, dengan hati sebagai panduanmu. AU, GrimmIchi. Seireitei Gakuen versi 2, semoga lebih baik. RnR, Don't flame.


Terima kasih bagi para readers yang sudah me-review! ^_^

Balasan review:

anon: Gomen, aku sibuk banget…Jadinya update dengan pelan…Mungkin kalo holiday bisa update kilat. ^_^


Chapter 2: Mysterious Brown Eyes

.

.

Dua remaja berambut mencolok itu berjalan menuju papan pengumuman. Kemudian sepasang iris safir dengan cepat mencari nama 'Grimmjow Jaegerjaquez' di antara ratusan nama murid-murid kelas XII. Tidak lama kemudian, pemilik mata safir tersebut menemukan namanya. Tak heran, karena sudah pasti ia masuk kelas A. Kelas elit. Kelas yang dihuni oleh murid-murid yang otaknya di atas rata-rata. Merasa iseng, ia membaca nama-nama murid kelas X yang masuk di kelas A. Sudut bibirnya terangkat ketika ia melihat sekilas nama 'Kurosaki Ichigo' di antara nama-nama di situ.

"Kelihatannya tahun ini, kelas X-A kedatangan seorang Strawberry," ujar Grimmjow. Ichigo yang merasa sensitif dengan sebutan 'Strawberry' langsung menggeram.

"Apa?" Ichigo menaikkan sebelah alisnya melihat Grimmjow yang menunjuk ke arah pojok kiri atas papan pengumuman.

"Lihat sendiri sana," kata Grimmjow. "Setelah ini, jangan lupa pergi Aula."

Ichigo merengut mendengar perkataan Grimmjow. "Aku tahu. Kau pikir aku ini anak kecil?"

"Tidak. Aku hanya takut kau akan lupa karena terlalu senang. Lihat," Grimmjow sekali lagi menunjuk bagian pojok kiri atas papan pengumuman. "Lihat kau masuk ke kelas mana, Kurosaki."

Penasaran, Ichigo perlahan mencari namanya pada papan pengumuman yang ditunjuk Grimmjow tadi. Sontak, matanya membelalak melihat namanya tertera pada kelompok kelas X-A.

"I-Ini bukan bohongan, kan?"

"Tentu saja tidak. Kau pikir tulisan-tulisan di papan pengumuman dibuat untuk mengerjai adik kelas?" balas Grimmjow.

Benarkah? Benarkah Ichigo masuk ke kelas X-A? Benarkah dirinya masuk ke kelas elit itu? Benarkah ia—

"Jangan hanya bengong di situ, atau kau akan terlambat," Ucapan Grimmjow langsung membuyarkan lamunan Ichigo.

Dengan gelagapan, Ichigo langsung menyahut, "Go-Gomen. Aku tidak menyangka saja kalau aku masuk ke kelas A."

"He? Lalu kenapa kau tidak berteriak 'Horeee!' atau apalah yang biasa semua murid teriakkan kalau berhasil?" tanya Grimmjow.

Ichigo menggaruk pipinya pelan. "Kalau pun ingin, aku tidak bisa…Karena…you know, mengingatkanku pada baka oyajii…"

"Oyajii?"

Ichigo menelan ludah. Great. Kenapa ia harus menceritakan ayahnya di saat-saat damai ini? Benar-benar merusak mood saja.

Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala Ichigo. "Ah! Kita kan harus segera ke Aula! Aku harus cepat," kata Ichigo mengalihkan perhatian.

"Terserah. Aku harus menghadiri rapat Student Council. Kau pergi duluan," Grimmjow berlalu sembari melambaikan tangannya. Ichigo melihat bayangan Grimmjow semakin lama semakin menghilang.

"Huaaaa, yokatta!" Ichigo menghela nafas pelan. "Untung dia tidak jadi menanyakan tentang my very, very stupid old man."


-Beberapa jam kemudian…-

Ruang kelas X-A diwarnai dengan suasana riuh para murid baru. Bukan karena mereka terkejut dengan lantai, dinding, jendela, meja serta kursi kelas yang nampak mengkilat. Tapi karena mereka ingin mati karena perasaan senang yang teramat sangat. Kalian tahu? Artis terkenal di Jepang—Aizen Sousuke, yang juga bekerja sebagai guru di sini, ternyata menjadi wali kelas X-A. Para murid laki-laki, apalagi perempuan berebut untuk berjabat tangan dan meminta tanda tangan darinya. Sontak, keadaan di dalam kelas menjadi sangat ramai.

Ichigo mendengus sembari menopang dagunya. Ia memang tidak begitu tertarik dengan yang namanya artis atau idol. Selama ini, ia memang selalu memusatkan perhatian pada sekolah. Dan mungkin juga keluarganya.

Ichigo mengerlingkan matanya ketika mendengar Aizen menyuruh para murid untuk duduk. Kemudian ia berdehem sebentar sebelum memulai berbicara.

"Selamat pagi, anak-anak," sapa Aizen dengan senyuman misteriusnya. Seluruh murid langsung membalas sapaannya dengan antusias. Sementara Ichigo hanya menghela nafas sambil menutup matanya.

"Kalian berisik."

Tanpa aba-aba, semua murid menolehkan pandangannya ke arah Ichigo. Pemuda berambut orange tersebut nampaknya masih belum menyadari bahwa ia kini menjadi pusat perhatian di kelas. Ichigo segera menyadari bahwa suasana kelas menjadi hening. Mengerutkan alisnya, ia membuka mata dan melihat berpasang-pasang mata memandanginya. Suasana kelas tetap hening sebelum seorang murid perempuan berteriak histeris.

"Kyaaa~! Ichigo-kun keren! Karakter cool and spicy* milik Ichigo-kun memang kereeen!"

Ichigo hanya bisa ber-hah-ria sebelum jeritan fansgirl lain menyusul. Ichigo yang merasa dirinya alien karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi lantas menggebrak meja dengan keras.

"Kalian," kata Ichigo, menundukkan kepalanya. "SEBENARNYA ADA APA, HAH!"

Suasana kelas kembali hening. Aizen kemudian kembali berdehem, mengalihkan perhatian seluruh murid. Merasa dibiarkan saja, Ichigo kembali duduk di kursinya sambil mendengus kelas. Kedua tangannya ia lipat di depan dadanya.

"Anak-anak, mohon tenang," ucap Aizen dengan tenang. Semua murid dengan enggan mengunci mulutnya. Ichigo yang tanpa sengaja menatap iris coklat Aizen pun terpaku. Dingin. Misterius. Tersembunyi. Itulah yang dirasakannya di dalam kedua mata coklat di balik kacamata coklat Aizen. Dan juga, senyum itu. Senyum misterius yang pernah dilihatnya. Membuat Ichigo tidak nyaman menatap lama-lama guru populer itu.

"Bagus. Mari kita mulai dari perkenalan," kata Aizen setelah semua murid benar-benar tenang.


-After School…-

Ichigo memasukkan satu per satu barang-barang miliknya ke dalam tas sekolahnya. Menghela nafas, ia menoleh ke luar jendela kelas. Tampak murid-murid berjalan kaki menuju ke luar sekolah. Kemungkinan besar menuju asrama mereka. Kalau tidak, mereka bisa saja hang out bersama teman-teman mereka di kota ini.

Ichigo mengerutkan alisnya. Ia belum menelepon keluarganya sejak kemarin. Senyum kecil mengembang di bibirnya. Begitu memori-memori tentang keluarganya terlintas di kepalanya, Ichigo jadi ingin segera menelepon mereka. Ia sangat rindu dengan keluarganya, meski masih belum sehari ia ada di kota ini. Tapi kedekatannya dengan mereka dan rasa over-protektif Ichigo membuatnya merasa rindu seperti ini. Terserah jika orang-orang ingin mengejeknya anak mama atau apalah. Kenyataannya ia memang benar-benar rindu. Entah sudah berapa kali kata itu terngiang di kepalanya.

Rindu. Rindu. Rindu.

Ia sangat merindukan…ibunya. Sejak kejadian yang merenggut nyawa Masaki, Ichigo bersumpah untuk melindungi keluarganya. Ichigo ingin benar-benar menjadi 'orang yang melindungi' sesuai dengan namanya. Bukan strawberry. Tapi…

"Orang yang melindungi," gumam Ichigo sembari tersenyum tipis. Ia tak merasakan jika semua murid sudah pulang. Kini, yang ada di ruang kelas tersebut hanyalah ia dan Aizen. Tapi ia terlalu larut dalam lamunannya hingga ia tak menyadari telapak tangan besar yang menyentuh pundaknya.

"Kurosaki-kun? Kau belum pulang?" tanya Aizen penuh perhatian. Ichigo menoleh ke arah Aizen, kemudian dengan canggung menggeleng. Ia menatap mata cokat itu sekali lagi.

Ichigo kembali terpaku. Mata itu membuatnya merinding, sekan ia telah terhipnotis. Mata itu penuh kemisteriusan. Keringat dingin menetes di dahi Ichigo. Suaranya terasa seperti tercekat. Ingin berdehem pun tidak bisa. Sial. Apakah ia sebegitu merindingnya?

"Sebaiknya kau segera pulang," ujar Aizen kemudian. Ia menyunggingkan senyum lebar. Ichigo membalasnya dengan anggukan dan senyum tipis. Ia harap, dirinya tidak nampak gemetar ketika ia mengangguk tadi.

"Jangan lupa," lanjut Aizen. "Besok sepulang sekolah, datanglah ke ruang Student Council. Kepala sekolah Yamamoto ingin merekrutmu menjadi anggota Student Council."

"B-Be-Benarkah?" Sial. Suaranya bergetar. Ichigo merutuki pita suaranya yang bergetar. Mencoba bersikap sewajar mungkin, Ichigo melihat Aizen mengangguk, masih dengan senyuman di wajahnya. Kalau saja ia sendirian saat ini, Ichigo bisa saja meninjukan tangannya ke atas dan berteriak sekeras-kerasnya.

"Kurosaki-kun adalah anak yang jenius," ucap Aizen sembari menepuk pundak Ichigo. Sekali lagi, Ichigo merasa gugup, namun ia mati-matian berusaha untuk bersikap wajar. "Dan aku yakin, kejeniusanmu akan terus berkembang. Kau bahkan dapat melampaui kejeniusan para Espada. Jadi, sebelum kita berpisah, aku ingin berpesan kepadamu. Teruslah berkembang," lanjut Aizen. Ia melepaskan pegangannya di pundak Ichigo sebelum pamit.

Ichigo menghelas nafas panjang merasakan kehadiran Aizen menghilang. Entah mengapa, ia luar biasa tegang jika berada di dekat Aizen. Ia yakin Aizen adalah guru yang baik. Tapi tetap saja ada aura misterius yang serasa menghipnotisnya. Ichigo mengacak-acak rambutnya dengan frustasi.

"Sudahlah! Yang penting, hari ini aku ingin cepat-cepat pulang!"


-Seireitei Gakuen, Pintu Gerbang-

Ichigo dengan malas berjalan menuju pintu gerbang. Otaknya masih dipenuhi rasa penasarannya kepada Aizen. Ia kembali mengacak-acak rambutnya. 'Sudahlah, Ichigo! Tidak perlu khawatir. Kau kan akan direkrut menjadi anggota Espada!' rutuk Ichigo di dalam hatinya. Langkahnya terhenti ketika ia melihat Renji, Rukia, Ishida, Sado, dan Orihime berdiri di depan pintu gerbang, tersenyum ke arah Ichigo. Dengan segera, ia berlari menghampiri best friends-nya sejak kecil tersebut.

"Kalian! Kenapa masih di sini?" tanya Ichigo ketus.

"Kami menunggumu, bodoh!" jawab Renji tak kalah ketus. Abarai Renji. Teman Ichigo berambut merah seperti nanas ini adalah teman Ichigo yang paling jahil. Terbukti dari wajahnya yang selalu menampakkan cengiran. Bukan cengiran biasa, tapi cengiran karena berhasil menjahili seseorang. Namun terkadang Renji bisa juga menjadi teman untuk curhat. Renji jika sedang serius akan memberikan saran yang baik untuk Ichigo.

"Kami temanmu, Ichigo. Kau pikir kami mau meninggalkanmu sendirian?" tambah Rukia. Inilah teman Ichigo yang paling pendek. Kuchiki Rukia. Ia adalah adik dari guru Matematika di sekolah ini—Kuchiki Byakuya. Rukia tegas dan terkadang galak. Namun terkadang ia menunjukkan sisi manisnya. Rukia juga teman Ichigo yang bijaksana. Ia sering memberikan nasihat kepada Ichigo. Satu lagi. Rukia sangat menyukai kelinci putih bernama chappy. Sifat galaknya bisa diredam hanya dengan kelinci imut ini. Ichigo selalu tertawa geli ketika memikirkan hal ini.

"Hmph. Kalau Renji tidak memaksaku, aku akan pulang duluan," ujar Ishida sambil menaikkan kacamatanya. Ishida Uryuu. Orang yang selalu menjaga image-nya. Dan hal tersebut membuat Ichigo kesal. Ishida memang pintar. Dari dulu, ia adalah saingan Ichigo di sekolah. Meski menyebalkan bagi Ichigo, terkadang ia nyaman berbicara dengan Ishida.

"Ah, terserah. Kau hanya menjaga image-mu kan, Ishida?" cibir Ichigo. Yang disindir hanya bisa bungkam mulut sambil menggumamkan 'percuma berdebat dengannya'.

"Ichigo, aku dengar kau masuk ke kelas X-A," kata Sado berusaha mengalihkan topik. Yatsutora Sado. Pemuda Meksiko ini juga merupakan teman baik Ichigo. Ichigo selalu memanggilnya Chad. Sado selalu berjuang di sisi Ichigo. Dulu Ichigo pernah menolong Sado dari para preman. Sejak saat itu mereka mulai berteman baik.

"Wali kelas-mu Aizen-sensei, ya? Enaknya…Aku jadi ingin masuk ke kelasmu…" timpal Inoue dengan raut wajah sedih. Inoue Orihime. Gadis manis ini sudah menjadi idola semenjak ia pertama kali melangkahkan kakinya di sekolah ini. Yah, meski ia sendiri tak menyadarinya. Tampangnya yang lugu dan imut membuat semua pemuda blushing. Yang paling Ichigo benci, terkadang ada tatapan mesum yang ditujukan pada teman manisnya itu. Inoue juga sering mendukung Ichigo di belakangnya. Tanpa Ichigo ketahui, dulu Inoue memendam perasaan khusus terhadap Ichigo. Namun Inoue memutuskan untuk merelakan cintanya karena ia tidak ingin mengganggu proses belajar Ichigo. Meski begitu, pertemanan di antara mereka tetap terjalin dan mereka masih saling mendukung.

Inoue cukup payah dalam memasak. Ia selalu mencampurkan berbagai bahan makanan sehingga terkadang makanan yang dibuatnya terlihat aneh dan menghilangkan selera makan.

Ichigo mengibaskan tangan di depan wajahnya. "Ah, kalau kau tidak sakit pada hari terakhir tes, kau pasti bisa masuk ke kelas X-A juga, Inoue."

Renji kelihatan tidak sabar berusaha mengingatkan teman-temannya. "Hei, hei…Kita jadi pulang tidak?" Perkataan Renji ditanggapi dengan anggukan tanda persetujuan dari mereka.

Enam orang tersebut berjalan bersama sembari mengobrol dan bercada. Ichigo jadi teringat masa lalu di mana mereka pertama kali seperti ini. Mau bagaimana lagi, ia malah bernostalgia ditengah humor garing yang Renji beberkan, tampak tidak memperdulikan rambut nanas di sebelahnya yang masih terus bercerita panjang lebar.


-In the Evening, Karakura Dormitory…-

Ichigo melangkah masuk menuju tempat tinggal yang kini ia tempati. Ia kembali mendapati tempat ini sepi. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling, kedua mata amber-nya menemukan sang Sexta Espada yang tengah mengerjakan berlembar-lembar paperwork. Merasa pintu asramanya terbuka, Grimmjow mengalihkan pandangannya menuju pemuda berambut orange yang berdiri tak jauh darinya.

"Sudah pulang?"

Ichigo hanya mengangguk sembari melangkah menuju sofa di samping Grimmjow. Ia kemudian merebahkan tubuhnya di atas sofa empuk dan lebar tersebut. Grimmjow mengernyitkan dahinya. Tumben sekali ia lemas begini. Biasanya Ichigo selalu berdebat dengannya.

"Ada masalah?" tanya Grimmjow sekali lagi.

Ichigo mendudukkan dirinya dengan benar sebelum mengangguk pelan. Sorot matanya tertuju pada lembaran kertas paperwork yang tengah dikerjakan Grimmjow. Ia memungut salah satu paperwork dan membacanya.

"Sepertinya ini lembaran paperwork untuk Student Council. Pelajaran full saja belum dimulai, tapi kau tetap harus bekerja?" tanya Ichigo sambil meneliti pekerjaan Grimmjow.

Grimmjow menghela nafas pelan. Ia meletakkan pena yang dipegangnya. Tangan kanannya ia gunakan untuk menyisir rambut birunya. "Yah, begitulah…Kau harus siap dengan kesibukan super setelah kau menjadi salah satu dari kami, Kurosaki."

"Aku sudah menduga kalau kau tahu bahwa aku akan menjadi salah satu dari Espada," balas Ichigo. Suaranya bergetar menahan amarah ketika ia melihat seringai pada wajah sang Sexta. Seringai itu…Ia ternyata jelas meremehkan Ichigo. Ichigo bisa merasakannya. Ia bisa merasakan bagaimana mata safir itu memandangnya sebagai 'puppy yang tersesat'.

Sebelum Ichigo sempat meledakkan amarahnya, Grimmjow mengunci kedua lengan Ichigo dengan lengannya yang lebih besar. Ia menyeringai ketika Ichigo menggeliat, berusaha melepaskan diri. Grimmjow menghirup wangi badan Ichigo. Seringainya bertambah lebar ketika ia merasakan rasa yang familiar dengan strawberry.

Grimmjow menjulurkan lidahnya untuk merasakan kulit peach dengan scent strawberry itu. Ia tertawa pelan ketika merasakan badan Ichigo bergetar. Sesaat kemudian Ichigo kembali menggeliat di bawah lengan kekar Grimmjow yang mengunci kedua lengannya.

"Le-Lepaskan, sialan!" teriak Ichigo. Menyadari bahwa posisinya saat ini tidak aman, Ichigo semakin menggunakan tenaganya. Ichigo mengumpat pelan ketika tenaganya kalah besar dengan tenaga Grimmjow.

Masih dengan seringainya, Grimmjow kemudian menempelkan dahinya pada dahi Ichigo. Ia bisa merasakan wajah Ichigo yang memanas, bibirnya sedikit bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu. Tanpa pikir panjang, Grimmjow menempelkan bibirnya pada bibir Ichigo.

Ichigo mengerang pelan ketika Grimmjow tiba-tiba memajukan wajahnya dan mencium bibirnya. Ia semakin kesal sekarang. Apalagi ketika suatu benda basah menjilat pelan bibir bagian bawahnya. Ichigo mengerti maksud Grimmjow. Karena itu ia tetap menutup rapat bibirnya.

Tidak kehabisan akal, tangan Grimmjow membuka kemeja sekolah Ichigo dan dengan cepat meraba dada Ichigo. Ichigo melenguh pelan, tanpa sadar membuka mulutnya sehingga kini lidah Grimmjow bisa memasuki mulutnya.

Kekesalan Ichigo sudah pada batasnya. Dengan sangat kesal, ia menggigit lidah Grimmjow. Sang Sexta mengerang kesakitan dan segera melepaskan ciuman mereka.

"What the hell, Kurosaki!" umpat Grimmjow.

Ichigo segera mendorong tubuh Grimmjow darinya. Dengan nafas terengah-engah ia memungut tas sekolahnya dan berlari menaiki tangga. "Rasakan itu, mesum!" teriak Ichigo dari atas.

Grimmjow merengut ketika ia merasakan darah di dalam mulutnya. Namun sesaat kemudian ia kembali menyeringai. "Damn, Shiro…Kau memiliki adik yang perfect untuk kujadikan mangsa."


TBC

Yosh! Selesai! Chapter ini lebih panjang dari yang sebelumnya, karena aku lagi mood nulis. ^_^

Dan…GrimmIchi udah ciuman. Tapi bukan berarti aku nge-rush alurnya. Lagian Grimmjow kan masih main-main dan Ichigo masih menganggap Grimmjow nyebelin.

NOTE:

*cool and spicy: terinspirasi dari Shugo Chara! Kepribadian yang keren dan dingin. Mungkin…terkesan galak juga. ^^a

CURHATAN AUTHOR

Yah, akhir-akhir ini aku emang jarang update karena UKK. Selama 3 minggu. 3 kali. Tingkat nasional, provinsi, dan kabupaten. Sekolahku itu RSBI, jadi pelajaran tertentu, seperti Matematika, IPA, dan TIK harus memakai Bahasa Inggris. *bukan pamer, hanya menjelaskan saja ._.*

Mana Bahasa Inggrisnya susah…Tapi lumayan bisa sih, sekarang nilai dipasrahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mohon doa dari para readers yang baik hati…C:

Habis mengerjakan soal mesti laper. Tadi habis pulang sekolah aja langsung melahap 4 cireng. -_-

Grimmjow: WTH! Empat! Seharusnya makan 2 udah kenyang lho! Buset!

Minami: Tenagaku terkuras buat mikir. So shut the hell up!

Grimmjow: Lebay, masak sampe segitunya?

Minami: Nggak percaya! Aku aja sampe mo meledak!

Grimmjow: Ya udah sana meledak! Biar badanmu yang gendut bisa kempes!

Minami: Iuh, aku nggak suka badan yang terlalu cungkring!

Grimmjow: Daripada gendut banget!

Minami: Nggak banget! Rata-rata tahu!

Grimmjow: *%$# !

Ichigo: A-Ano…Review, please? ._. *sweatdropped*