Corner of Memories

Bleach © Tite Kubo

Rate: M. Sekarang masih T sih…

Genre: Romance/Humor

Pair: GrimmIchi & others

Warning: Yaoi, OOC, maybe typos, judul nyontek judul lagu (karena nggak ada ide), abal, nggak jelas, Don't Like Don't Read, dll. Dan ada tambahan, di sini tidak ada karakter jahat. Semua baik. Ingat kalo genre-nya Humor kan?

Summary: Waktu tidak pernah menunggu. Pergilah tanpa goyah, dengan hati sebagai panduanmu. AU, GrimmIchi. Seireitei Gakuen versi 2, semoga lebih baik. RnR, Don't flame.


Terima kasih bagi para readers yang sudah me-review! ^_^

Balasan review:

Jigoku no Hime: Yosh, sudah update! Enjoy…

namikaze noah: Hontou? Akan aku usahakan supaya si Ichi tetep 'bandel'. Soal rival si Grimm, belum kepikiran munculin sih…Ehehe…^^


Chapter 3: The Espada

.

.

Sial. Sial. Sial. Siaaaaal!

Ichigo tengah berguling-guling di kasurnya sembari mengacak rambutnya. Setelah 'kiss accident' itu, Ichigo jadi tidak bisa tidur. Pikirannya dihantui oleh perasaan aneh saat kejadian ciuman tadi. Tunggu, Ichigo tidak bilang kalau ia menikmatinya, kan?

"Argh! Kuso!" teriak Ichigo, kepalanya terbenam di bantal putihnya. Sehingga suaranya pun teredam.

Sekarang sudah pagi, dan ia masih nampak kusut karena semalam tak tidur. Ini semua salahnya! Di dalam hati, Ichigo bersumpah akan menghajar seorang Grimmjow-f*cking-Jaegerjaquez jika ia bertemu dengannya. Sudah ia duga, dari tampangnya Grimmjow memang orang yang 'nakal'. Tapi ia tidak tahu akan secepat ini. Kenapa Ichigo harus masuk ke dalam permainan sang Sexta secepat ini? Mereka masih baru kemarin berkenalan, kan? Ichigo kembali mengerang sebelum memutuskan untuk bangkit dari tempat tidurnya.

.

[After School…]

Ichigo berjalan dengan menghentakkan kakinya, mukanya tampak kusut dan terlihat marah. Tanpa dikomando, semua murid yang hendak menyapanya langsung pergi, mengerti bahwa Ichigo sedang bad mood.

Kelima best friends Ichigo yang berwajah ceria tampak melambaikan tangan ke arahnya, namun dienyahkan begitu saja oleh Ichigo. Biasanya, ia akan berlari menuju mereka untuk bergabung. Tapi, tidak untuk kali ini.

"Yo, Ichigo!" sapa Renji. "Kau kenapa? Kelihatannya kau kelelahan…Apa kau…sa…ki…t?" Bulu kuduk Renji berdiri ketika melihat tatapan super mematikan dari Ichigo.

"Minggir."

Setelah menatap satu sama lain, kelima kawan Ichigo langsung membuka jalan untuk Ichigo. Dengan kesal, Ichigo kembali berjalan. Sedikit berharap supaya ia tidak bertemu pemuda bad-ass berambut biru itu.

Kejadian kemarin malam kembali terlintas di otaknya, sehingga Ichigo yang tidak tahan lagi langsung berteriak keras-keras, "I'll kill you, blue haired freak!"

.

[In the canteen…]

Shiro memutar bola matanya ketika melihat adiknya yang sedang bad mood. Sembari mengunyah makan siangnya, Shiro terus memperhatikan gerak gerik adik kembarannya tersebut—yang menurutnya lucu. Kemudian, mata gold-nya menatap pemuda berambut biru di depannya.

Pemuda itu duduk di depannya, kelihatannya makanan pemuda itu belum tersentuh sama sekali. Kedua mata safir itu mencerminkan ketertarikan, bibirnya membentuk seringaian yang bisa membuat para adik kelas bergidik ngeri. Tangannya ia gunakan untuk menopang dagu sembari memantau mangsanya.

Samar-samar, terdengar teriakan frustasi dari pemuda berambut orange yang dipantaunya. "I'll kill you, blue haired freak!"

"Hoi Grimm, aku rasa yang dimaksud olehnya itu kau," ujar Shiro.

Menyeringai senang, Grimmjow segera berdiri, mengabaikan tatapan heran dari Shiro. "Makananku kuberikan untukmu saja. Aku ada urusan dengan Kurosaki."

Shiro mengernyitkan dahi. Karena sudah satu tahun berteman dengan Grimmjow, ia tahu betul sifatnya. Ia adalah pribadi yang kejam dan mudah tersinggung. Ia adalah orang yang kejam, sarkastik, sadis, dan selalu menyeringai jika ia tertarik pada suatu hal—seperti dirinya sendiri. Grimmjow selalu mengatakan apa yang ada di pikirannya, entah perkataan yang sopan atau tidak sopan. Ia juga terlihat tidak senang jika disuruh menghormati seseorang, kecuali jika ia berhutang budi pada orang tersebut. Dan yang paling utama, entah kenapa Grimmjow senang sekali mencari mangsa—seperti panther. Maka dari itu, terkadang ia dijuluki Pantera. Biasanya, Grimmjow hanya menggunakan mangsa-mangsanya untuk kepuasan hasratnya saja. Entahlah, Shiro tak tahu berapa orang yang tubuhnya sudah dipergunakan Grimmjow, lalu dengan malang dibuang begitu saja.

Melihat tatapan dan seringai psikotik Grimmjow, Shiro sudah tahu. Adiknya, Kurosaki Ichigo adalah mangsa Grimmjow berikutnya. Tentu saja ia tak akan membiarkan Grimmjow menggunakan adiknya begitu saja. Ia tak memperbolehkan Grimmjow melakukan 'itu' pada adiknya, kecuali jika ia mau menjadi kekasih Ichigo. Bukan sekedar friend with benefits atau f*ck buddy. Sial, ia harus segera mengatakan hal ini pada Grimmjow.

.

Ichigo terengah-engah setelah ia berteriak barusan. Ia mengenyahkan tatapan-tatapan heran dari murid-murid di sekitarnya. Yang ia pikirkan hanyalah satu. Grimmjow. Ciuman. Tunggu, apa? Kenapa ia memikirkan ciuman juga?

"Damn it," gumam Ichigo.

"…Berry…"

Ichigo tersentak ketika ia merasakan deru nafas di telinganya. Ia buru-buru mendorong orang di depannya yang tak lain adalah Grimmjow. Ichigo merengut.

Unlucky.

Kenapa ia diam saja? Padahal di dalam hatinya, ia ingin cepat-cepat melayangkan tinjunya ke arah wajah tampan itu. Tunggu, apa? Tidak, maksudnya bukan tampan, tapi menyebalkan. Kenapa ia bisa berpikir begitu, sih?

"Kau mencariku?" Grimmjow mendekati Ichigo sambil mencium leher berkulit peach tersebut.

Super unlucky. Kenapa ia harus menghadapi godaan-godaan dari blue devil di depannya? Kenapa harus sekarang? Tidak bisakah ia menunggu mentalnya siap?

"Minggir!" Ichigo mencoba mendorong tubuh Grimmjow, namun tenaganya kurang kuat untuk mendorong tubuh sexy Grimmjow. Tunggu, apa? Aarrgh! Daritadi ia kenapa sih? Pertama ia memikirkan ciumannya kemarin. Kedua ia berpikir Grimmjow itu tampan, dan sekarang…sexy? What the hell is wrong with him!

"Kenapa? Kau bilang mau membunuhku, kan?" tanya Grimmjow sekali lagi. "Tapi…ternyata kau malah…keenakan karena lehermu kucium begini."

Wajah Ichigo lagsung memanas. Gigantic unlucky. Kenapa ia harus bertemu dengan orang ini? Di pagi hari pula. Menyebalkan, masih mending jika ia menantang Ichigo atau apalah, tapi yang sekarang Grimmjow lakukan padanya benar-benar memalukan.

"Ti-Tidak! Siapa bilang aku keenakan!" Lagi-lagi Ichigo mencoba medorong tubuh Grimmjow.

Grimmjow kemudian menarik paksa lengan Ichigo, menandakan bahwa ia ingin membawa Ichigo ke suatu tempat. Merasa terancam, Ichigo meronta-ronta dan berusaha melepaskan genggaman super dari Grimmjow. Sekali lagi, tenaganya kurang kuat. Ichigo merutuki dirinya yang terlihat lemah saat ini. Padahal ia sudah sering memenangkan pertarungan melawan bocah-bocah punk itu, tapi hanya dengan Grimmjow ia kalah. Damn it, ia tidak akan menyerah begitu saja, kan?

"Diamlah. Aku hanya ingin membawamu ke ruangan Student Council. Ulquiorra yang menyuruhku," jelas Grimmjow, nada suaranya terdengar kesal. Setelah Ichigo berhenti meronta-ronta, ia menghela nafas sebelum melanjutkan perjalanannya.

.

[Student Council Room]

Grimmjow membuka pintu ruang rapat Student Council dengan kasar. Perlahan, pegangannya pada tangan Ichigo dilepas oleh Grimmjow. "Ini dia anaknya, Ulquiorra!" bentak Grimmjow kepada seorang pemuda berkulit pucat yang sedang menekuni gunung kertas di depannya.

Pemuda yang dipanggil Grimmjow tersebut melirik keadaan sekitarnya, sebelum ia menyatakan, "Baiklah. Rapat dimulai."

Ichigo yang awalnya hanya menggaruk kepalanya dengan bingung, sekarang membuka dan menutup mulutnya seolah ia hendak mengatakan sesuatu. Saat seorang perempuan berambut hijau mempersilahkan dirinya untuk duduk, Ichigo tidak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk pelan dan duduk di sebelah perempuan itu.

Perempuan itu tersenyum lebar. "Kau Itsygo kan?"

"E-Eto, bukan Itsygo, tapi Ichigo…" balas Ichigo. Perempuan itu lalu mencibirkan bibirnya, membuat Ichigo semakin melebarkan senyumnya, geli melihat sikap kekanak-kanakan perempuan ini. "Namamu…siapa?"

"Hehe…Nanti juga kau akan tahu!" balasnya sambil tertawa riang. Ichigo sekali lagi tersenyum, namun kali ini ia juga menghela nafas. Perhatiannya kembali tertuju pada Ulquiorra ketika ia berdehem keras.

"Rapat kali ini merupakan rapat yang penting. Jadi, dimohon semuanya tenang," ucap Ulquiorra. Kemudian, pandangannya tertuju pada Ichigo. "Pertama-tama, mari kita ucapkan selamat datang kepada rekan baru kita, Kurosaki Ichigo yang akan menduduki posisi Segunda Espada. Kurosaki-san, silahkan perkenalkan dirimu."

Ichigo menelan ludah sebelum ia berdiri perlahan. Ia menunduk, menghindari tatapan dari anggota Espada lain yang membuat keringat dingin mengucur dari dahinya. "Kurosaki Ichigo, X-A. Yoroshiku." Kata Ichigo sembari membungkuk, kemudian ia kembali duduk.

"Well then, supaya kita bisa bekerja sama dengan baik, ada baiknya jika kita memperkenalkan diri satu per satu," usul pemuda berambut…err…pink. Kalau Ichigo tidak salah dengar, namanya adalah Szayel Aporro-sesuatu. Entahlah, ia agak lupa. Katanya, Szayel adalah master pelajaran biologi. Yah, kalau dilihat dari penampilannya Szayel memang kelihatan jenius. Entah kenapa, kebayakan orang yang berkacamata itu jenius—meski tidak semuanya. Buktinya, si Ishida dan pinky ini.

Ulquiorra segera mengiyakan. Tidak masalah bagi Ichigo sih, ia juga ingin mengetahui Espada lebih jauh. Siapa tahu ada rahasia besar. Meskipun Ichigo berharap supaya ia tidak ikut campur urusan mereka—entah secara sengaja atau tidak sengaja.

Pemuda berbadan besar pada bangku kesepuluh berdiri. Dengan cengiran lebarnya, ia memperkenalkan dirinya. "Diez Espada, Yammy Llargo. Orang-orang bilang aku ini kasar dan tidak sopan, tapi terkadang aku humoris dan friendly. Aku sering diberi tugas untuk menghukum murid pelanggar peraturan berat. Itu saja ya, aku bingung harus bicara apa lagi."

Di depan Yammy, duduklah seorang pemuda yang mukanya...sangat mirip dengan Ichigo. "Noveno Espada, Aaroniero Arruruerie." Jika ia tidak salah dengar, wajah Aaroniero sebenarnya adalah wajah Shiba Kaien, sepupunya. Entah kenapa, sifatnya juga mirip Kaien. "Kata murid-murid, aku ini ramah, friendly, humoris. Hehehe…" Rasa curiga dan ingin tahu terbesit di benak Ichigo. Mungkin, ia bisa bertanya kepada Grimmjow nanti. Jika ia tidak diminta melakukan hal yang aneh-aneh sih…

Kemudian…"Octava Espada. Szayel Aporro Granz. Aku jago dalam pelajaran biologi, fisika, dan kimia. Pokoknya, segala hal yang meliputi sains. Aku pernah memenangkan olimpiade sains tingkat nasional. Tapi sepertinya jika di bidang lain, aku tak terlalu menguasainya. Oh ya, aku menjabat sebagai bendahara di Student Council."

Di depan Szayel, terdapat seorang berkulit hitam. "Septima Espada, Zommari Rureaux." Ichigo mengerutkan dahinya. Ia terihat sangat pendiam. "Sebagian besar waktu luang aku gunakan untuk bersemedi." Mungkin karena penampilannya yang mengerikan, ia jarang diajak berbicara.

Ini dia orang paling menyebalkan yang pernah ditemui Ichigo. "Sexta Espada, Grimmjow Jaegerjaquez. Aku adalah Wakil Ketua di Student Council. Rasanya tidak asyik kalau aku memberi tahu fakta-fakta tentangku. Lebih baik kau cari tahu sendiri, Berry." Saking muaknya, Ichigo segera memalingkan wajahnya dari tatapan Grimmjow.

Lalu…"Quinto Espada, Nnoitra Gilga. Aku sedang malas bicara, jadi lewati saja ya?" Ichigo kembali mengerutkan dahinya. Murid yang satu ini kelihatannya tinggi sekali. Salah satu matanya ditutup dengan bandana. Yah, ia tidak penasaran dengan apa yang ada di balik bandana itu sih. Sepertinya, sifat Nnoitra hampir sama dengan Grimmjow. Namun kelihatannya ia lebih bad-ass. Pantas saja ia dan Grimmjow kelihatan akrab sekali.

Pemuda emo di samping Nnoitra adalah Ketua Student Council yang tak lain dan tak bukan adalah…"Quatro Espada, Ulquiorra Cifer. Daripada membeberkan hal-hal tentang diriku di sini, lebih baik kau bertanya sendiri padaku lain kali." Kali ini, Ichigo tersenyum tipis. Meski emo, kelihatannya ia punya banyak teman. Ichigo juga sering melihatnya bersama Inoue. Entah apa hubungannya dengan Inoue, Ichigo tidak begitu tertarik. Ia juga terlihat sering berdebat dengan Grimmjow. Tapi karena Grimmjow itu bad-temper, Ulquiorra sering menang dalam perdebatannya.

Beralih ke duo Tres Espada. Ya, satu-satunya kedudukan yang dijabat dua orang adalah Tres Espada. Gadis berambut hijau tadi masih terlihat ceria sembari duduk di pangkuan gadis berambut blonde. Gadis ceria tadi bernama Neliel Tu Odelschwanck. Sementara gadis yang memangku Neliel bernama Tier Harribel. Sifat Harribel berkebalikan dengan sifat Nel. Jika Nel ceria, ramah, suka berbicara, dan agak ceroboh, maka Harribel bersifat pendiam, tak begitu ramah, teliti, dan jarang melakukan kesalahan. Teman Harribel juga tak begitu banyak. Ia lebih sering bersama ketiga saudaranya yang dijuluki Tres Bestia, yaitu Emilou Apacci, Franceska Mila Rose, dan Cyan Sung-Sun.

"Ne, Itsygo…Kalau ada yang perlu ditanyakan, tanya saja! Oke?" Nel mengedipkan sebelah matanya kepada Ichigo. Sementara Ichigo sendiri kembali geli melihat tingkah Nel.

Segunda Espada diduduki Ichigo sendiri. Dengan canggung, Ichigo menatap sosok Primera Espada di depannya yang sedang tertidur pulas. Primera Espada, Coyote Starrk. Pemuda berambut coklat ini sering sekali tidur. Seakan-akan tidur adalah sebagian jiwanya.

SMACK

Seorang gadis yang kira-kira berusia 13 tahun menampar kepala Starrk yang sedang tertidur. "Kau inI! Jangan tidur di tengah rapat, baka!"

"Diam kau, Lilynette," balas Starrk sambil menguap, sebelum ia kembali tertidur. Sepupu Starrk, Lilynette Gingerbuck tak bisa berbuat apa-apa lagi selain menggeram sambil menopang dagu.

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka lebar, (sedikit) mengagetkan para anggota Student Council yang sedang rapat. Sosok albino beriris emas yang membukanya tampak terengah-engah, sebelum ia menyeringai ke arah para Espada. "Yo! Maaf, aku telat," katanya sambil berjalan ke arah tempat duduk yang masih kosong.

Ulquiorra berdehem. "Cero Espada, Shirosaki Hichigo. Meski dia menduduki posisi Cero Espada yang spesial, tapi dia hanya unggul dalam kekerasan saja."

"Hei, Ulquiorra! Tidakkah kau memamerkan kemampuanku pada my little bro di sana?" cibir Shiro. Sesaat kemudian ia menyeringai melihat Ichigo yang masih diam seperti patung. "Ya kan, Ichigo?"

Menyadari namanya dipanggil, Ichigo membalas, "Shi-Shiro-nii…Kau juga anggota Student Council?"

Shiro melipat kedua tangannya di depan dada. "Duh…Ya iyalah."

Ichigo menelan ludahnya. Sejak kapan? Apa Shiro segitu seniusnya? Tapi barusan Ulquiorra bilang kalau Ia hanya unggul dalam hal kekerasan. Apa tugas Shiro itu menghukum murid-murid yang melanggar peraturan? Dilihat dari seringai dan sifatnya, kelihatannya iya…

.

[One hour later…]

Ichigo meregangkan tubuhnya yang pegal sembari menguap pelan. Rapat tadi memang membosankan, hanya membicarakan tentang peraturan-peraturan dan bla bla bla…Merasa lelah, Ichigo berniat untuk segera pulang ke asramanya. Sedikit berharap supaya ia tidak diganggu oleh blue devil itu. Yah, Grimmjow masih kelihatan sibuk di ruangan ini sih. Ia memutuskan untuk berpamitan dengan Ulquiorra sebelum melangkah menuju luar ruangan.

Mata emerald Ulquiorra mengamati sosok yang baru saja mengajaknya bicara. Kelihatannya, Kurosaki Ichigo adalah orang yang tidak biasa. Mungkin saja ia bisa meramaikan suasana Student Council yang sepi seperti di kuburan.

Secara tidak sengaja, pandangannya tertuju pada tulisan kecil dalam memonya. Ia berniat memanggil Ichigo, namun sepertinya pemuda berambut orange tersebut sudah keluar terlebih dahulu. Menghela nafas, Ulquiorra menoleh ke arah Si Sexta yang berada tak jauh dari tempatnya. Ada baiknya jika ia meminta tolong pada Grimmjow. Sepertinya Grimmjow dapat membujuk Ichigo dengan mudah daripada dirinya.

"Grimmjow. Bolehkah aku meminta tolong padamu?"

Merasa bingung karena baru kali ini Ulquiorra meminta tolong padanya, Grimmjow menaikkan sebelah alisnya. Kelihatannya ini masalah yang penting. Karena biasanya Ulquiorra bersikeras untuk menangani masalah dengan tangannya sendiri—demi menjaga harga dirinya.

"…Ini tentang Kurosaki." Grimmjow semakin bingung ketika Ulquiorra menyebut nama Ichigo. Jadi, ia disuruh mengurusi Berry atau semacamnya?

Merasa penasaran, Grimmjow mencondongkan badannya sepenuhnya ke arah Ulquiorra. "Tell me more about it."

TBC


Masih abal ya? T-T

Ah, souka…Maaf kalau kemarin Minggu aku nggak update. Dikarenakan satu hal. Ada destroyer alias my little cousin di rumahku. Daripada nulisnya nggak in peace, ya sudahlah…Aku hentikan dulu. Tapi tenang aja, dia udah pulang kok. Jadi aku bisa update lagi. Semoga bisa kilat ya…C:

Aku boleh minta saran, pair buat si Ishida? Buat menjelaskan kenapa Ishida nggak masuk kelas A, padahal dia pinter. Siapa aja boleh, yang penting karakter itu nggak pinter-pinter banget alias rada bodo…Makanya, kalo Szayel nggak bisa. Secara, dia kan anggota Student Council yang disanjung-sanjung itu. Masa' dia bodo…Nggak mungkin kan? Ehehe, tolong sarannya ya?

Hanya untuk info:

Grimm dan anggota Espada: Kelas XII-A

Shiro: Kelas XI-D (Baru kelas 2, udah berani manggil kakak kelas tanpa 'senpai' XD)

Inoue, Ishida, Rukia: Kelas X-B

Chad: X-C

Renji: X-D

Oh ya, kemungkinan anggota Vizard juga muncul kok…^_^

Ngomong-ngomong soal Bleach…Chapter barunya kok nggak asyik ya? Yah, mungkin karena belum ada tarungnya atau keadaan kritisnya…

Grimmjow: Bilang aja kalo lo ngarep kemunculan gue. :p

Me: Shut. The. Hell. Up. :/

Ichigo: Review? *bow*