Corner of Memories

Bleach © Tite Kubo

Rate: M. Sekarang masih T sih…

Genre: Romance/Humor

Pair: GrimmIchi, AizenUlqui & others

Warning: Yaoi, OOC, maybe typos, judul nyontek judul lagu (karena nggak ada ide), abal, nggak jelas, Don't Like Don't Read, dll. Dan ada tambahan, di sini tidak ada karakter jahat. Semua baik. Ingat kalo genre-nya Humor kan?

Summary: Waktu tidak pernah menunggu. Pergilah tanpa goyah, dengan hati sebagai panduanmu. AU, GrimmIchi. Seireitei Gakuen versi 2, semoga lebih baik. RnR, Don't flame.


Terima kasih untuk para readers yang telah nge-fave, nge-alert, dan nge-review cerita ini. Hontou ni arigatou…^_^

Balasan review:

Guest: Ehehe, nanti bakalan koplak banget deh…XD


Chapter 4: Thank you, Grimmjow

.

.

Suasana di ruangan itu nampak hening. Suara jarum jam terdengar dengan jelas, seolah mengingatkan kepada kedua orang di dalam ruangan itu bahwa waktu terus berjalan. Namun, belum ada salah satu dari mereka yang memecahkan keheningan tersebut.

Mengacak rambutnya dengan frustasi, Grimmjow Jaegerjaquez—nama pemuda yang berambut biru pun menghela nafas panjang. Tanpa disadarinya, keringat mengucur pelan di wajah tampannya. Menandakan bahwa pertanyaan yang diberikan oleh Ulquiorra Cifer bukanlah pertanyaan yang mudah baginya.

"Kenapa? Apakah pertanyaanku sesulit itu?" tanya Ulquiorra yang merasa aneh. Murid pintar seperti Grimmjow harusnya bisa menjawab pertanyaan seperti ini—itulah pendapat Ulquiorra. Ia memejamkan matanya pasrah ketika Grimmjow tak kunjung menjawab pertanyaannya, baik pertanyaan pertama maupun pertanyaan yang baru saja ia lontarkan.

Si Sexta kembali menghela nafas. "Well…Tentu saja sulit. Aku tidak pernah berkencan. Aku menganggap 'mereka' tidak lebih dari alat. Setelah rusak dan tidak memuaskan, mereka aku buang. Jadi, kau tahu…maaf—sepertinya aku tidak bisa menjawab pertanyaan 'Kencan itu seperti apa?' darimu."

Dengan santai, Ulquiorra menyeruput secangkir teh di mejanya. Kedua matanya terpejam, meresapi rasa teh yang merelaksasi tersebut, sebelum ia meletakkan cangkirnya kembali. "Jadi…kau belum pernah berkencan sama sekali?" tanya Ulquiorra memastikan.

"Belum. Kau bisa menonton film romantis yang ada kencannya, atau mencari tips-tipsnya di internet. Kenapa harus bertanya padaku?" tanya Grimmjow bingung, sedikit kesal juga karena Ulquiorra telah mengambil waktunya untuk mengejar Ichigo.

"…Karena kau adalah teman yang kupercayai," balas Ulquiorra masih dengan wajah stoic dan intonasi datar. Namun Grimmjow yakin, Si Emo pasti serius dengan pernyataannya. Heran juga, Ulquiorra jarang berbicara tentang teman. Apalagi menyatakan bahwa ia mempercayai seorang teman. Padahal, Grimmjow adalah musuh bebuyutannya. Kenapa Ulquiorra ini? Kesambet? Atau ada seseorang yang mengubahnya? Siapa? Perempuan bernama Inoue itu kah?

Merasa tidak enak pada sifat Ulquiorra yang tiba-tiba baik seperti ini, Grimmjow memutuskan untuk membantunya, walau sedikit. "Iya, iya…Kau kubantu. Yah, meski aku belum pernah kencan sih. Tapi aku sering diajak—lebih tepatnya dipaksa menonton film-film romantis oleh Szayel. Kau tahu sendiri, dia orangnya memang…seperti itu."

Ketika deretan kalimat tersebut terucap dari mulut Grimmjow, Ulquiorra menyunggingkan senyum tipis yang lagi-lagi membuat tanda tanya besar berkeliaran di kepala Grimmjow.

Grimmjow kembali tertegun. Tadi, ia bertanya tentang kencan. Lalu, bicara sebijaksana itu tentang pertemanan. Sekarang, ia malah tersenyum—meski tipis. Apa yang sebenarnya terjadi pada Si Emo? Atau haruskah ia bertanya, apa yang sebenarnya terjadi pada dunia ini? Apa Yumichika dan Szayel berubah menjadi cowok macho? Tidak mungkin. Ha. Yang benar saja.

"Baiklah, aku akan berpikir dulu sebelum menjawabmu," jawab Grimmjow kemudian. Ia gunakan tangannya untuk mengelus dagu. Kencan ya? Ia tidak pernah sekalipun berkencan, Kalau bisa…ia ingin berkencan dengan Ichigo. Tunggu. Kencan dengan Ichigo? Sesaat kemudian, sebuah lampu bohlam muncul di atas kepala Grimmjow. Lampu bohlam yang cerah tentunya, bukan yang tinggal 1 watt. Sudahlah, lupakan saja soal lampu ini.

"Ulquiorra, aku punya ide bagus."

.

[Karakura Dormitory]

Pemuda berambut oranye itu kembali mendengus. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. Matanya menatap pemuda di depannya dengan kesal. Bagaimana tidak? Tadinya, ia bersyukur karena dari sekolah sampai asrama tidak ada 'setan biru' yang menghantuinya. Ia sudah berpikir, malam ini sepertinya tentram sekali. Ketentraman itu pecah berkeping-keping karena 'setan biru' yang berusaha dihindarinya malam itu mengajaknya berbicara. Dan isi pembicaraan itu adalah ajakan—lebih tepatnya paksaan Grimmjow untuk berkencan dengannya. Sudah berkali-kali ia jawab tidak, namun pemuda itu tetap saja bersikukuh ingin berkencan dengannya.

Sementara Grimmjow sendiri belum kehabisan akal untuk mengajak—err…memaksa Ichigo untuk berkencan dengannya. Kali ini, ia akan gunakan nama Kaichou* Student Council alias Ulquiorra. Mungkin saja ia mau. "Hey Ichi. Kau tahu? Aku mengajakmu kencan…atas permintaan kaichou-san."

Wajah Ichigo terlihat shock. "A-Apa? Ulquiorra memintamu berkencan denganku? Ini bukan salah satu trikmu, kan?"

Grimmjow ingin menyeringai. Tapi tidak mungkin, kan? Nanti Ichigo tambah curiga kepadanya. Ia akhirnya menanggapi pertanyaan Ichigo dengan gelengan. "Tidak, memang kaichou yang menyuruhku. Kalau tidak percaya, tanyakan saja padanya."

Ichigo jadi ingin menjambak rambutnya, berjongkok, kemudian berguling-guling di lantai sekarang juga. Tapi ia hanya menjambak rambutnya saja. Bisa bahaya kalau Grimmjow merekam adegan guling-gulingnya, kemudian ia sebarkan ke murid-murid. Mau ditaruh di mana mukanya?

Grimmjow melirik Ichigo sekilas sebelum melanjutkan, "Kau tahu, ia ternyata diajak kencan oleh Aizen-sensei."

Kedua iris coklat Ichigo membulat. Aizen-sensei yang kemarin membuatnya merinding sentengah mati itu mengajak Ulquiorra kencan? Apa ia tidak salah dengar?

Grimmjow terkekeh melihat Ichigo yang kelihatannya benar-benar kaget, sebelum kembali melanjutkan, "Ia bertanya kepadaku, apa itu kencan. Aku tak tahu jawabannya karena aku tidak pernah punya pacar. Kalau 'alat' sih, banyak." Grimmjow terkekeh pelan sebelum menambahkan, "Jadi, dengan ide cemerlangnya, Ulquiorra menyuruhku berkencan denganmu agar ia bisa mengamatinya dari kejauhan. Mengerti?"

Dengan wajah horror dan mata yang masih membelalak, Ichigo mengangguk pasrah. Kemudian menyuruh Grimmjow keluar, dengan alasan ia ingin istirahat. Padahal ia ingin melakukan aksi yang tadi sudah disebutkan: menjabak rambut dengan frustasi, berjongkok, lalu berguling-guling di lantai sambil berteriak 'Kenapaaaa!'.

"Ya sudahlah. Istirahat yang cukup, jangan sampai kencan kita batal karena kau sakit. Dan awas saja kalau kau mencari alasan untuk kabur. Souka, ada satu lagi." Kedua mata safir Grimmjow menatap dalam-dalam mata coklat di hadapannya. "Kalau kau membuat Ulquiorra senang, otomatis ia akan semakin menghormatimu. Dan kau tahu kan? Kalau berteman dengan orang-orang berjabatan tinggi seperti dirinya, kau bisa untung banyak. Bisa dibilang, mendapat perlakuan khusus. Heh. Makanya aku pesan padamu, Ichi, buat dia senang. Meski terkadang dia menyebalkan, tapi dia memiliki sisi baik juga."

Sebenarnya, kalimat yang baru saja ia ucapkan itu hanya untuk mengurangi kecurigaan Ichigo. Tapi sebagian besar juga bukan bohongan. Melihat Ichigo yang mengangguk pasrah sekali lagi, ia membalikkan tubuhnya sembari melambaikan tangannya pelan.

Sesaat setelah Grimmjow pergi, Ichigo beraksi. Supermaaan!

…Eh?

Tunggu, bukan Superman! Tapi beraksi seperti yang sudah disebut tadi.

Pertama, Ichigo menjambak rambutnya frustasi, kemudian berjongkok dengan punggung yang bersender pada pintu. Tak lama kemudian, ia berguling-guling sambil berteriak 'Kenapaaaaa!' berulang-ulang.

.

[Sunday, In front of Karakura Dormitory]

Sebuah tangan berkulit peach dengan ragu memegang handle pintu. Perlahan, pintu besar yang merupakan pintu masuk Karakura Dormitory itu terbuka, menampakkan tubuh pemilik tangan tersebut.

Kedua mata safir itu memutar ketika mendengar suara pintu terbuka. Tanpa menghadap belakang, ia sudah tahu kalau orang di belakangnya adalah Ichigo. Mata safir itu melirik pemuda yang sebentar lagi akan berkencan dengannya. Penampilan Ichigo simpel, namun tidak buruk. Ia mengenakan kaos hitam berkerah abu-abu dengan bawahan celana jeans, ditambah sebuah rantai yang tergantung pada sabuknya.

"Hei Grimmjow…Aku sudah lama tidak menonton film…Jadi…Eto…Bi-Bisakah kita ke cinema dulu?" tanya Ichigo dengan canggung, semburat merah terlihat jelas di wajahnya. "Yah, terserah kau sih, aku tidak—"

"Baiklah," potong Grimmjow. Sebenarnya, ia jarang pergi ke cinema untuk menonton film, tapi kali ini saja tidak masalah. Mungkin jika Ichigo yang menemaninya, ia selalu mau. Sesaat kemudian, Grimmjow menaikkan sebelah alisnya ketika melihat pemuda di sebelahnya mendengus.

"Sudahlah, kalau kau keberatan, ya tidak usah. Aku tidak perlu belas kasihanmu!" ujar Ichigo dengan gaya favoritnya: kedua tangan yang terlipat di dada.

"Ha. Siapa yang mengasihanimu? Aku menyetujuimu karena memang sudah lama aku tidak pergi ke cinema, baka. Aku dengar, kalau jam segini ada film-film action. Makanya, jangan banyak komplain dan berangkatlah, atau kita akan kehabisan tiket dan terpaksa harus menonton film romantis kesukaan gadis-gadis. Oh…Atau jangan-jangan kau ingin nonton film romantis itu, hm?" Perkataan Grimmjow barusan berhasil membuat Ichigo terdiam, meski kekesalan masih tersirat di wajahnya.

"Aku tahu," gumam Ichigo kemudian. Bibirnya ia kerucutkan, menandakan bahwa ia masih kesal. Ia tak menyadari seringai Grimmjow setelah melihat cibiran imutnya. Pandangannya yang sebelumnya teralih ke arah jalanan, kini teralih pada tangan Grimmjow yang perlahan menggandeng tangannya yang lebih kecil. Sontak, wajah Ichigo menyerupai arti namanya sendiri. "O-Oi! A-Apa yang kau lakukan, Grimmjow?"

Grimmjow merasakan kemenangan ketika ia menemukan soft spot Ichigo, yang membuatnya melembut dan blushing seperti seorang cewek. "Kau ingat kan, kita sedang memberikan lecture untuk Ulquiorra. Deal with it. Dan sejak kapan kau memanggilku tanpa sebutan senpai? Ternyata sifat Shiro ada yang terbawa dalam dirimu."

"U-Urusai!" Ichigo menonjok pelan lengan Grimmjow, membuat yang ditonjok mengusap-usap lengannya sembari tertawa. Ichigo terdiam, menunggu tawa Grimmjow reda. Tapi kelihatannya, Grimmjow masih belum akan menghentikan acara tertawanya. Merasa kesal, Ichigo kali ini memukul kepala Grimmjow. "Berhenti tertawa, bodoh! Nanti kita kesiangan!"

"Ah, oke, oke…" Grimmjow akhirnya meredakan tawanya sedikit demi sedikit.

Ichigo mengamati keadaan sekitar. Suasana jalanan tidak terlalu ramai. Mungkin masih pagi, jadi sebagian orang masih bermalas-malasan di rumah. Berbeda dengannya yang harus bangun pagi karena acara ini. Kalau dipikir-pikir, sedari tadi ia tidak melihat Ulquiorra. Di mana dia?

"Ngomong-ngomong…Ulquiorra ada di mana? Bukankah dia ingin mengamati kita?" tanya Ichigo kepada Grimmjow. Dilihatnya Grimmjow membawa tangannya ke arah rambut Ichigo. Perlahan, diambilnya kelopak bunga sakura yang terjatuh di atas rambut oranye Ichigo.

"Ulquiorra? Entah, mungkin sedang bersembunyi di suatu tempat. Ayo, jadi pergi tidak?" Grimmjow merengut ketika melihat Ichigo yang tidak bergeming. Merasa bingung, ia bertanya, "Kenapa, Ichigo?"

Ichigo masih tertegun. Baru saja, seorang Grimmjow Jaegrejaquez yang bad-ass itu tersenyum ketika mengambil kelopak sakura di rambutnya. Jika menyeringai? Ia tidak heran, karena memang hampir setiap saat Grimmjow menyeringai. Namun, ia jarang melihat Grimmjow tersenyum. Yah, meski Grimmjow sendiri tak sadar jika barusan ia tersenyum.

Ichigo dengan cepat menggeleng sebelum Grimmjow kembali menanyainya."Tidak apa-apa," balasnya sembari mengeratkan genggamannya pada tangan Grimmjow. Membuang muka, Ichigo kemudian berkata, "Kau tahu kan, aku melakukan ini demi Ulquiorra-senpai. Kalau ia tidak menyuruhmu, aku langsung saja menolak. Ja-jadi…jangan berpikir macam-macam."

Grimmjow mengangguk pelan, tak lupa ia tunjukkan seringainya kepada Ichigo. "Aku tahu. Tapi jangan salahkan aku jika nantinya kau jatuh cinta padaku."

Ichigo kembali terdiam. Apa katanya?

"Hei—" gerutuan dari Ichigo tidak sempat terucap dari mulutnya karena Grimmjow lebih dahulu menarik lengannya. Menghela nafas, Ichigo akhirnya berniat menyimpan perkataannya dulu. Saat ini, Ichigo berpikir, lebih baik nikmati saja dulu acara kencan—yang dengan terpaksa ia lakukan ini.

.

Santai. Ia berjalan dengan santai sembari bersiul pelan. Sesekali, rambut putihnya ia sisir dengan tangan. Sudah setengah jam berlalu, namun ia masih belum menetapkan tujuannya. Memang itulah niatnya. Shirosaki Hichigo hanya ingin berjalan-jalan sembari menikmati pemandangan bunga sakura yang bermekaran.

Langkahnya terhenti ketika ia melihat sosok pemuda berambut hitam yang sangat dikenalinya. Mencoba memastikan, Shiro perlahan mendekati orang tersebut dan menepuk pundaknya pelan. Sontak, pemilik rambut eboni tersebut menoleh.

"Shirosaki?"

"Ternyata benar-benar kau, kaichou-san. Sedang apa di sini?" Shiro kembali melipat kedua tangannya di belakang kepalanya. Ia melirik sekilas memo dan pena yang ada di tangan Ulquiorra. "Sedang memantau sesuatu?" tebak Shiro.

Ulquiorra mengangguk. "Kalau kau tidak ada urusan, bisakah kau membantuku?"

Pemuda albino tersebut menyeringai. Akhirnya, ada sesuatu yang bisa ia kerjakan. Berjalan tanpa tujuan yang jelas dalam waktu lama ternyata membosankan juga, meskipun ia disuguhi pemandangan yang indah. Tetap saja, yang namanya Shirosaki jika tidak melakukan sesuatu yang asyik akan tetap bosan. "Baiklah. Memangnya, kau sedang memantau apa? Dan apa yang harus kulakukan?"

"Perlu kuceritakan dari awal?" tanya Ulquiorra sebelumnya. Melihat Shiro yang mengangguk, ia kemudian menjelaskan, "Kemarin aku diajak kencan oleh Aizen-sensei."

Kekagetan terpampang dengan jelas pada wajah Shiro. Tentu saja. Siapa yang tidak kaget? Aizen-sensei selalu menganggap Ulquiorra sebagai alatnya. Apapun yang diperintahkan oleh Aizen-sensei, Ulquiorra pasti mematuhinya. Kalau Ulquiorra tahu ia hanyalah alat bagi Aizen-sensei…Lantas, kenapa Aizen-sensei sendiri mengajaknya kencan? Apa Aizen-sensei bermaksud mempermainkan Ulquiorra? Ada baiknya jika Ulquiorra menolak ajakannya, sebelum ia terlanjur masuk dalam permainan Aizen-sensei. Shiro memutuskan untuk mengutarakan pendapatnya tersebut.

Tanggapan pertama yang Ulquiorra berikan hanyalah helaan nafas. Sebelum ia menjawab, "Entahlah. Aku…tidak bisa menolak ajakan beliau. Aku tidak keberatan melakukan apapun untuk Aizen-sensei. Aku malah merasa senang," Ulquiorra berhenti sejenak. "Aku juga tidak tahu, sebenarnya apakah perasaan senang ini? Perasaan hormat, atau—"

"Jangan-jangan, cinta? Tapi, mana mungkin orang sepertimu bisa jatuh cinta, apalagi dengan Aizen-sensei," celetuk Shiro. Ia terdiam ketika Ulquiorra menunduk, tak menanggapi perkataannya. Meninggalkan Si Quatro larut dalam pikirannya, sebelum ia melanjutkan, "Tak salah jika kau belajar mencintai sih. Tapi aku harus berpesan padamu, pastikan dulu kalau Aizen-sensei tidak hanya mempermainkanmu. Atau kau akan kecewa. Aku tidak ingin melihatmu sedih. Mukamu yang biasa-biasa saja seperti itu, lalu mau jadi bagaimana kalau kau sedih?"

Ketua Student Council itu mendongak ke arah bunga sakura yang bermekaran. Tak lama kemudian, tangannya menangkap sekelopak bunga sakura. Seraya memainkan kelopak tersebut, Ulquiorra bertanya, "Cinta itu…sebenarnya apa?"

Shiro mengerutkan dahinya, berpikir keras untuk mencari jawaban. Nihil. Jujur saja, ia cukup payah jika disuruh menjelaskan hal-hal berbau romantis seperti ini. "Entahlah. Kelak, kau akan memahaminya sendiri."

Ulquiorra membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu. Namun ia urungkan niatnya ketika melihat kedua pemuda yang sedari tadi ia awasi mulai berjalan menjauh. Tak punya waktu lagi, Ulquiorra menarik tangan Shiro. "Ikuti aku. Akan kujelaskan sambil berjalan."

.

[In front of Karakura Cinema]

"Gara-gara kau kebanyakan tertawa, kita kesiangan dan lihatlah. Kita kehabisan tiket!"

"Kenapa menyalahkan aku? Salahmu juga! Kalau saja kau tidak banyak protes, mungkin kita masih sempat."

"Salahmu."

"Tidak, salahmu."

"Salahmu!"

"Kubilang tidak, ini salahmu!"

Kedua pemuda itu bersikukuh memenangkan perdebatan mereka. Orang-orang yang melihat mereka hanya bisa menggelengkan kepala. Kekanak-kanakan sekali, pikir mereka.

Ichigo memalingkan wajahnya dari Grimmjow. Masih sebal karena akhirnya mereka kehabisan tiket. Ichigo tidak terima jika hanya dirinya yang disalahkan. Padahal tadi Grimmjow juga buang-buang waktu dengan tertawa terbahak-bahak karena hal sepele. Sebenarnya, kalau mereka bertingkah lebih dewasa lagi, mungkin akan berjalan lancar.

"Tidak. Ini salah kita berdua," cetus Ichigo kesal. Diliriknya Si Sexta sebentar, sebelum ia menghela nafasnya. Ia lantas bertanya, "Nah, sekarang mau bagaimana?"

Pemuda beriris safir tersebut terdiam, nampak berpikir sejenak. Akhirnya, ia ikut menghela nafas—menyerah. Tidak ada pilihan lain selain tempat itu. Tempat yang banyak dikunjungi anak-anak itu. Tidak masalah juga sih, karena di tempat itu ada banyak tantangan. "…Ikut aku."

Ichigo tidak bisa berbuat apa-apa selain mengerucutkan bibirnya ketika lengannya kembali ditarik oleh Grimmjow. Di dalam hati Ichigo berharap, semoga tempat yang mereka tuju bukanlah tempat yang absurd.

.

[Karakura Amusement Park]

"Woah…" kagum Ichigo ketika mereka sampai di tempat tujuan—Karakura Amusement Park, taman bermain terbesar di kota Karakura. Dari luar saja sudah terlihat sebesar ini. Ichigo sudah tidak sabar lagi. Ia ingin cepat-cepat masuk ke dalam. Tak ia pedulikan perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa dirinya sungguh kekanak-kanakan. Sekali-sekali, seperti ini boleh, kan? Ichigo hanya ingin melepas penatnya. Sudah ia putuskan, hari ini ia akan main sepuas-puasnya.

Grimmjow menyusul di belakangnya. Kelihatannya, ia baru saja membeli tiket untuk mereka. Dengan seringai andalannya, Grimmjow lagi-lagi menarik lengan Ichigo, membawanya masuk ke dalam.

Ichigo makin tercengang ketika mereka masuk ke dalam. Taman bermain ini memang luas dan besar. Di dalamnya, terdapat banyak wahana bermain. Ia makin tidak sabar untuk segera mencoba wahana di tempat ini satu per satu—meskipun rasanya tidak mungkin.

"Kau suka, Ichigo?" tanya Grimmjow masih dengan seringainya. Perlahan, lengannya ia lingkarkan pada pinggang Ichigo, membuat pemuda dengan marga Kurosaki tersebut mengedik.

"A-Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganmu itu, baka!" protes Ichigo sembari berusaha melepas lengan kekar Grimmjow. Gagal. Tenaganya masih kalah kuat dengan Grimmjow. Membuat Ichigo sempat berpikir, kira-kira hal apa yang bisa membuat Grimmjow lelah, mengingat ia memiliki tenaga yang sangat besar.

"Kau ingat kan, kita ini memberikan lecture untuk Ulquiorra. Wajar saja kalau aku bertingkah sok romantis begini," dengus Grimmjow ketika melihat wajah cemberut Ichigo. Di dalam hati, ia merasa aneh dengan cara mengamati Ulquiorra. Seperti stalker saja. Sesaat kemudian, ia mendapat ide. Segera ia utarakan idenya tersebut pada Ichigo yang berada dalam rengkuhannya.

"Hei, jangan cemberut begitu. Sama sekali tidak imut tahu," kekeh Grimmjow ketika melihat wajah Ichigo yang memerah—entah karena malu atau marah ketika dirinya mengucapkan kata 'imut'. Grimmjow kembali terkekeh ketika merasakan tonjokan pelan pada lengannya.

"Urusai! Kau menyebalkan sekali!" teriak Ichigo, sebuah perempatan muncul pada sudut dahinya. "Menghancurkan mood baikku saja…"

Grimmjow dengan terpaksa melepaskan lengannya dari pinggang Ichigo, lalu mendecih ketika dilihatnya Ichigo mulai relaks. Mengingat idenya yang belum ia utarakan, Grimmjow segera melanjutkan perkataannya yang disela oleh Ichigo tadi, "Hei, bagaimana kalau kita mencoba semua wahana ekstrim di sini? Kita lihat, siapa yang akhirnya pingsan duluan akan mentraktir dinner di restoran nanti malam!"

Grimmjow menyeringai ketika melihat raut wajah Ichigo yang semakin cerah. Dengan seringainya—yang masih kalah dengan seringai Grimmjow, Ichigo langsung menyetujui. "Oke. Siapa takut?"

Grimmjow sendiri melebarkan seringainya. Ia akui, seringai Ichigo kalau dipikir-pikir charming juga. Kedua iris safir Grimmjow mencari-cari wahana ekstrim pertama. Agak menyesal di dalam hati, karena ia tidak menanyakan kelemahan Ichigo pada Shiro sebelum mereka kencan. Tidak masalah, pikir Grimmjow. Ia akan membuat Kurosaki Ichigo mengakui kehebatannya.

.

Kedua pemuda yang sama-sama berkulit pucat tersebut memelototi gerak gerik kedua temannya yang berada tak jauh dari tempat persembunyian mereka. Salah satu dari mereka—yang memiliki rambut putih menyeringai lebar. Sementara pemuda berambut eboni di sebelahnya masih mengangguk-angguk tanda mengerti.

"Aku tak menyangka, mereka berdua bisa seakrab itu. Maksudku, suasananya tidak tegang," celoteh Shiro, masih menyeringai. Ternyata tak salah juga ia mengikuti Ulquiorra tadi. Selain karena tidak bosan, ia juga bisa menggoda adiknya tentang kencan ini. Memikirkan wajah yang selalu memerah jika digoda itu, membuat Shiro semakin tak sabar melontarkan berbagai pertanyaan dan godaan pada sang adik. Seperti, 'Hey, kemarin kau berkencan dengan Grimmjow ya? Wow, gosip baru~!' atau, 'Kemarin kalian mesra sekali, pakai gandengan segala.'

"Jadi…jika sedang berkencan tidak boleh tegang?" Ulquiorra mengalihkan pandangannya kepada pemuda albino bermarga Shirosaki yang masih terlihat membayangkan sesuatu. Merasa pertanyaannya tak kunjung dijawab, ia lantas menjewer telinga Shiro.

"Aw! Iya, iya! Aku kan barusan sudah mengangguk, kaichou-san," dengus Shiro, kesal karena Ulquiorra membuyarkan lamunannya. Padahal, sedang asyik-asyiknya. Suasana kembali hening, sebelum iris emas Shiro menangkap gerakan kedua teman mereka yang menjauh. "Kita sebaiknya pindah," usul Shiro yang ditanggapi dengan anggukan Ulquiorra.

.

[Karakura Amusement Park, 05.30 PM]

Kedua pemuda dengan rambut mencolok itu sama-sama merebahkan tubuhnya di atas rumput. Nafas keduanya saling beradu. Tidak ada salah satu dari keduanya yang ingin memulai pembicaraan. Mereka masih ingin mengembalikan energi mereka.

Grimmjow melirik Ichigo yang masih terengah-engah. Dadanya naik turun, membuat pemuda keturunan Jaegerjaquez itu dengan mudah menyimpulkan bahwa Ichigo masih memulihkan dirinya. Memejamkan matanya, Grimmjow menikmati semilir angin sembari menunggu Ichigo lebih tenang. Ketika telinganya tidak lagi menangkap suara deru nafas, ia menoleh ke arah Ichigo, membuat safir dan hazel beradu. "Aku benci mengakuinya, tapi kita seri," ucap Grimmjow kemudian.

"Yeah…Daripada itu, tadi benar-benar…menyenangkan," balas Ichigo seraya tersenyum tipis. "Kalau bisa, kita harus lebih sering hang out. Dengar, hang out. Bukan kencan."

Terkekeh pelan, Grimmjow lantas mendudukkan dirinya. Matanya terpejam. Meresapi setiap kalimat yang Ichigo lontarkan. Tak lama kemudian ia mengangguk. Mata safirnya yang tajam terbuka ketika merasakan tubuh Ichigo yang merapat pada tubuhnya.

"Terima kasih untuk hari ini Grimmjow. Hari ini benar-benar mengasyikkan. Ka-Kalau dipikir-pikir, kau tidak terlalu menyebalkan…jika kau sedang tidak mengusiliku," Suara bariton Ichigo mengalun lembut di telinga Grimmjow. Ichigo tertawa pelan sebelum melanjutkan, "Sekali lagi terima kasih. Tapi…bukan berarti aku jatuh cinta padamu! Jangan kegeeran dulu!"

Grimmjow kembali terkekeh. Kali ini, tangannya ia bawa ke arah kepala Ichigo untuk mengacaknya pelan. "Hm. Tidak masalah jika ingin hang out denganku. Dan sama-sama," balas Grimmjow lirih. Segelintir perasaan senang muncul dalam hatinya. Ia yakin, tadinya ia hanya bermaksud menjadikan Ichigo 'alat' seperti orang-orang itu. Tapi, tidak bisa. Sesuatu di dalam hatinya memberontak, berkata bahwa ia tidak akan pernah bisa melakukannya. Karena ia sudah terlanjur tertarik pada Ichigo. Ia ingin memiliki Ichigo seutuhnya. Itulah…targetnya sekarang.

Tak peduli jika ia harus jatuh cinta untuk yang pertama kalinya. Tak peduli jika ia harus mengorbankan segalanya. Tak peduli jika Ichigo terus menerus menggerutu tentang betapa menyebalkan dirinya. Ia pernah merasakan kehampaan pada suatu ruang di hatinya. Ichigo lah yang mungkin bisa mengatasinya.

Ia akui, ia bukanlah orang yang romantis—ia hanya melakukan hal-hal romantis jika terpaksa saja. Ia juga bukan orang yang penyabar. Ia bukan orang yang dapat memenuhi segala keinginannya. Meski harga dirinya menyangkal, namun jujur saja…Grimmjow ingin mencintai dan dicintai. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang sejak kecil. Orang tuanya selalu sibuk mengurusi pekerjaan mereka, sehingga Grimmjow selalu mengurung diri di kamar—terkadang bermain bersama Nnoitra di luar rumah.

Grimmjow tersentak ketika ia merasakan guncangan pelan di bahunya. Menoleh, ia mendapati Ichigo dengan wajah yang bingung dan khawatir.

"Grimmjow, kau kenapa? Aku membuatmu marah, ya?"

Grimmjow menggeleng pelan.

"Kau kesambet setan kucing ya?"

Grimmjow tidak hanya menggeleng, tapi menjitak kepala Ichigo yang langsung mengaduh ketika tangan besarnya mendarat di kepala berambut mencoloknya. Bukan salah Grimmjow jika ia sensitif dengan ejekan kucing.

"Ayo pulang. Aku lelah," ujar Grimmjow seraya berdiri dan membersihkan rerumputan dari celananya.

Tak lama kemudian, Ichigo ikut berdiri. Ia menarik-narik lengan Grimmjow yang hendak berjalan. Sontak, Grimmjow menoleh padanya dengan sebelah alis yang naik—pertanda ia tidak mengerti.

"Kenapa? Mau mampir ke love hotel?" Candaan Grimmjow tersebut langsung disambut dengan indahnya jitakan Ichigo pada kepalanya.

.

[Accessories Shop]

"Grimmjow, menurutmu…mana yang lebih cocok?" Ichigo membawakan dua buah wristband kepada Grimmjow.

Si Sexta yang sedari tadi melipat kedua tangannya di belakang kepala dengan santai lantas mengamati kedua benda di tangan Ichigo. Wristband kuning dengan bulan putih di tengahnya terlihat tidak cocok dengan Ichigo. Mendengus pelan, Grimmjow kemudian mengamati wristband kedua. Wristband tersebut berwarna hitam, berhiaskan tengkorak putih di tengahnya. Grimmjow memungut wristband hitam tersebut, kemudian memakaikannya pada pergelangan Ichigo.

Tanpa bertanya lagi, Ichigo tersenyum sembari mengamati betapa cocoknya wrisband tersebut di tangannya. Tidak salah juga ia bertanya pada Grimmjow. Pilihannya memang tepat. Merasa sedikit berterima kasih, Ichigo menyodorkan sebuah wristband biru muda kepada Grimmjow. Melihat ekspresi bingung Grimmjow, Ichigo mendengus, "Untukmu. Anggap saja sebagai kenang-kenangan."

Grimmjow tersenyum penuh arti ketika melihat gambar panther hitam pada wristband tersebut. "Hoo, kau tahu sekali mengenai diriku…"

Ichigo yang tidak sadar kalau Grimmjow sedang mengeluarkan jurus godaannya hanya tersenyum simpul. "Aku rasa tidak. Karena itu, aku ingin mengetahui dirimu lebih jauh," ucap Ichigo dengan polosnya, sebelum ia melenggang menuju meja kasir.

Grimmjow yang mendengarnya serasa seperti disambar petir kesenangan. Ia sendiri tidak pecaya bahwa petir kesenangan itu ada di dunia ini. Mungkin hanya imajinasinya saja. Ha. Lewati saja pembahasan mengenai petir spesies baru ini, karena Ichigo telah kembali dari meja kasir.

"Heh. Berterima kasihlah, aku sudah membayarkannya dengan uangku. Grimmjow? Hoi, Grimmjow! Kau melamun lagi!"

Celotehan Ichigo sama sekali tak ia indahkan. Saat ini, mood-nya benar benar bagus. Grimmjow merasakan kemenangan yang sangat telak. Tanpa berkata terlebih dahulu, ia menarik lengan Ichigo seraya menunjukkan seringai lebarnya. Melihat wajah aneh Ichigo, seringai Grimmjow bertambah lebar.

"Mau ke resoran dulu? Biar aku yang bayar."

TBC


*Kaichou= ketua

Selesai! *ngulet-ngulet*

Hm, sedikit aneh, ya? =w=

Kelihatannya Ichigo sudah mulai respect sama si Grimmjow. Meskipun masih sebagai teman. Yosh, saatnya melangkah menuju tahap berikutnya. :9

Btw, aku belum pernah nulis pair AizenUlqui sebelumnya. Jadi, maaf kalo aneh…

Dan juga…kelihatannya agak OOC ya? Gomeeeen…Lain kali akan aku usahakan supaya lebih In character. Hiks…

Oh ya, sekedar catatan saja. Karena masih di awal-awal, jadi setting-nya masih di musim semi, di mana cinta GrimmIchi bersemi…#plak

Nggak tahu deh, cinta mereka bakal bersemi di musim apa. :|

Catatan lagi, di sini Shiro bukan kakak kandung Ichigo, tapi kakak sepupu. Marga mereka beda, kan?

Shiro: Souda, souda! Bener! :3

Ichigo: Dia suka ngerusuh kalo lagi di rumah…. ewe

Grimmjow: Andaikan aku tinggal serumah sama Ichi… 3:)

Me: Review? m(_ _)m