Minna-san~

Aira kembali membawa chapter 2... ^^

Oh iya, trima kasih banyak untuk semua yang bersedia membaca and mereview di chapter sebelumnya ya. ^_^

Yapz, kalau begitu nggak banyak omong deh.

Selamat menikmati (?)

Disclaimer : Sampai kapanpun Bleach akan selalu milik Tite Kubo-sensei.

Pairing : Ichigo K. & Rukia K.

Warning : OOC, Typo (kayaknya), Gaje, Abal, Alur gak karuan, Penulisan kembali hancur, dll, dst, dkk, dsb, lan liya-liyane (?).

Don't Like, Don't Read.

-Silver Ring-

.

.

_Chapter 2_

.

.

"Indah sekali ya, Ichigo," gumam Rukia yang masih menatap takjub pada warna-warni cahaya dari kembang api. Ya, saat ini tepat pergantian tahun, dan perayaan kembang api untuk menyambut tahun yang baru telah dimulai.

"Hn, ya. Sangat indah," jawab Ichigo yang juga menatap kembang api – kembang api tersebut.

Mereka berdua sekarang sedang duduk disebuah kursi di taman kota.

"Hei, Ichigo," kata Rukia sambil menyandarkan kepalanya pada bahu Ichigo. "Terima kasih, ya."

"Hn? Untuk apa?" tanya Ichigo yang mengalihkan pandangannya pada Rukia.

Rukia mengangkat kepalanya dan menatap wajah kekasihnya sambil tersenyum lembut. "Terima kasih, karena kau telah menemaniku dan membuat malam ini terasa begitu indah."

"Kau tidak perlu berterima kasih untuk itu, Rukia." Ichigo membelai pelan wajah Rukia dan mencium bibir gadis itu dengan lembut. Perlahan lengan Ichigo menarik tubuh mungil Rukia dan membawanya ke dalam pelukannya.

"Aku mencintaimu, Ichigo," kata Rukia yang lalu membenamkan wajahnya pada dada Ichigo.

"Ya, aku pun mencintaimu, Rukia," jawab Ichigo sambil mengecup rambut hitam Rukia.

"Ichigo."

"Hn?"

"Aku harap kita bisa melewati malam tahun baru selanjutnya seperti ini. Ah, bukan selanjutnya saja, tapi semoga untuk seterusnya aku bisa melewati malam-malam seperti ini bersamamu."

Ichigo terdiam mendengar perkataan Rukia barusan. Terbesit sedikit rasa sakit dihatinya. Masih bisakah dia terus menemani Rukia seperti apa yang diinginkan gadis itu?

Dalam hatinya Ichigo berharap agar bisa terus berada disisi Rukia dan menemani gadis yang sangat dicintainya itu selamanya. Tapi apakah dia sanggup? Jangankan tahun baru selanjutnya, bulan selanjutnya saja Ichigo tidak tahu apakah dia masih bisa berada disisi Rukia atau tidak.

"Ichigo? Ada apa?" tanya Rukia yang mendongakkan kepalanya melihat Ichigo karena tiba-tiba Ichigo terdiam.

Pertanyaan Rukia barusan berhasil menyadarkan Ichigo dari lamunannya.

"Ah, tidak ada apa-apa, Rukia," kata Ichigo lalu mengecup kening Rukia. "Selamat tahun baru, Rukia."

"Ya. Selamat tahun baru juga, Ichigo."

Ichigo kembali memeluk Rukia, kali ini lebih erat. Kalau bisa dia ingin terus seperti ini. Terus bersama dengan gadis yang begitu dicintainya, agar dia bisa terus memeluknya seperti ini. Ichigo takut apabila telah datang saat-saat dimana dia tidak bisa lagi melihat wajah gadis ini, saat dimana ia tidak bisa lagi membelai wajah cantik ini, saat dimana ia tidak bisa lagi memeluk tubuh mungil ini.

Dia tidak ingin semua ini berlalu dan meninggalkan gadis ini dengan harapan-harapan yang semu.

.

.

xXxXxXx

.

.

"Haahh, sudah hampir jam dua pagi, ya," kata Rukia yang langsung duduk di sofa ruang tamunya. "Terima kasih ya, Ichigo. Kau sudah mengantarku pulang."

"Ya, sama-sama. Kalau begitu aku pulang dulu ya," keta Ichigo yang hendak berdiri namun Rukia menahan lengannya.

"Kenapa harus terburu-buru? Temani aku sebentar lagi, ya. Aku sendirian nih," rengek Rukia dengan puppy eyes-nya.

"Hhh..." Ichigo hanya mendesah berat dengan sikap Rukia ini. "Memangnya yang lain kemana?"

"Nee-san dan Nii-sama sedang ada urusan ke luar kota. Karena sebentar lagi mereka akan pindah ke luar kota karena Nii-sama dipindah tugaskan disana," jelas Rukia yang masih belum melepaskan lengan Ichigo.

"Ha? Lalu bagaimana denganmu? Apa kau juga akan ikut mereka pindah?" tanya Ichigo yang kembali duduk di sofa.

"Sebenarnya mereka menyuruhku untuk ikut, tapi aku menolaknya. Aku masih tidak mau meninggalkan Karakura."

"Hhmmm, begitu ya." Ichigo mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

"Dan lagi, aku tidak mau berpisah denganmu, Ichigo," lanjut Rukia yang membuat Ichigo sedikit terkejut.

"Rukia?"

Rukia hanya tersenyum menatap Ichigo. Senyuman itu membuat jantung Ichigo semakin berdebar. Pemuda itu tidak tahu lagi harus mengatakan apa. Ia semakin tidak ingin Rukia tahu tentang penyakitnya. Ia tidak ingin senyuman itu hilang hanya karena Rukia mengetahui yang sebenarnya.

Perlahan Ichigo membelai pipi Rukia, begitu lembut, hingga mampu membuat Rukia terbuai. Mata hazelnya menatap lekat-lekat amethyst Rukia.

"Rukia, apa kau mencintaiku?" tanya Ichigo yang membuat Rukia sedikit heran.

"Tentu saja, Ichigo. Ada apa memang?"

Ichigo tidak menjawab, dia lalu mencium bibir Rukia, begitu lembut dan dalam.

"Ada apa, Ichigo?" tanya Rukia lembut begitu Ichigo melepaskan ciumannya.

Namun Ichigo tetap tidak menjawab. Dia terus saja membelai wajah Rukia dengan begitu lembut. Tatapannya tak pernah lepas sedikitpun dari Rukia.

"I-Ichigo?" Sulit menggambarkan ekspresi Ichigo saat ini, membuat Rukia semakin heran. Tatapannya membuat Rukia seakan terhipnotis.

"I-Ichi... Kau kenapa?"

"Sshhh..."

Ichigo terus membelai wajah gadis itu, dan kembali melumat bibirnya dengan lembut. Perlahan Ichigo mendorong tubuh Rukia hingga terbaring di atas sofa.

"I-Ichigo? Apa yang kau lakukan? Ngghh..," tanya Rukia sedikit panik saat Ichigo mulai bergerak mencium lehernya.

"Bukankah kau mencintaiku, Rukia?" bisik Ichigo tepat di telinga Rukia.

"I-Ichi..." Sekarang Rukia mengerti apa yang diinginkan oleh kekasihnya itu. Ichigo menginginkan dirinya.

"Aku mencintaimu, Ichigo. Ta-tapi tidak begini, Ichigo. Tu-tunggu," kata Rukia yang mulai panik. Dia memang mencintai Ichigo, sangat mencintainya. Tapi mereka tidak boleh melakukannya sekarang. Ya, tidak boleh.

Rukia terus berusaha terlepas dari ciuman-ciuman Ichigo. Namun entah kenapa rasanya sangat sulit.

"I-Ichi, ti-tidak."

"Sshh... Katakan kau mencintaiku, Rukia," bisik Ichigo pelan sambil menatap mata Rukia dengan lembut.

"Aku memang mencintaimu. Ta-tapi kumohon, Ichigo... Ngghh..." Rukia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya saat Ichigo mulai menyerang lehernya lagi.

"I-chi... Mmmpphhh." Kali ini Ichigo kembali melumat bibir Rukia.

"Aku mencintaimu, Rukia," bisik Ichigo lembut pada Rukia. "Aku mecintaimu."

Ichigo terus membisikkan kata-kata cinta di telinga Rukia. Belaian dan sentuhan Ichigo yang begitu lembut membuat Rukia semakin terbuai akan Ichigo.

Hatinya kini telah luluh. Rukia membiarkan pemuda itu menghapus jarak di antara mereka. Gadis itu membiarkan Ichigo memilikinya seutuhnya. Jiwanya, cintanya, dan juga tubuhnya.

.

.

xXxXxXx

.

.

Sinar matahari pagi mulai merambat masuk kedalam kamar melalui jendela. Membuat seorang wanita bertubuh mungil terbangun dari tidurnya. Rukia, dia mengerjapkan matanya untuk membiasakan diri dengan cahaya yang memasuki matanya.

Rukia sedikit termenung, dia merasa ada yang aneh dengan dirinya. Rukia sedikit terkejut ketika mendapati tubuhnya tidak mengenakan sehelai benang pun kecuali selimut yang menutupinya.

Rukia memejamkan matanya sejenak lalu tersenyum tipis.

"Jadi itu memang bukan mimpi ya," gumam Rukia pelan.

Memori otaknya kembali memutar kejadian yang ia lalui bersama Ichigo tadi malam. Saat pemuda itu menggendongnya ke kamar sambil tak henti-hentinya membisikkan kata cinta untuknya, membelainya dengan lembut dan penuh cinta, dan ketika tubuhnya telah bersatu dengan orang yang sangat dicintainya.

"Ichigo..." Rukia kembali tersenyum ketika mengingat pemuda itu.

'Eh, tapi dimana dia sekarang?' batin Rukia saat dia tidak menemukan sosok Ichigo.

.

.

.

"Uugghhh..." Ichigo terus berusaha membersihkan darah yang sejak tadi keluar dari hidungnya di kamar mandi. Rasa sakit itu kembali menyerang kepalanya. Membuat darah yang keluar semakin banyak.

Aliran air yang berwarna merah terus membasahi lantai keramik kamar mandi.

Ichigo hampir tidak bisa menahannya lagi, pandangannya mulai terlihat samar, namun kenyataan bahwa dia masih berada di rumah Rukia kembali memaksanya untuk terus bertahan.

"Ugh, kumohon jangan sekarang."

Beberapa menit berlalu, sekali lagi Ichigo menyeka darah yang tadi keluar dari hidungnya. Setelah memastikan kalau tak ada lagi darah yang terlihat, Ichigo segera kembali menemui Rukia di kamarnya.

.

.

"Ichigo?" Rukia menoleh ke arah Ichigo yang menghampirinya, dia mulai duduk dari posisinya semula sambil terus memegang erat selimut didepan dadanya.

"Hai, Rukia," sapa Ichigo yang telah duduk di tepi ranjang Rukia. "Maaf, Rukia. Semalam aku-" Ichigo tidak melanjutkan kalimatnya. Dia hanya menghela nafas sejenak lalu menatap langsung violet Rukia. "Maafkan aku."

"Hei, Ichigo," panggil Rukia yang kemudian mengecup bibir Ichigo sekilas dan tersenyum lembut. "Aku tidak menyesal," lanjutnya yang membuat Ichigo sedikit terkejut.

"Rukia? Ta-tapi aku-"

"Apa kau menyesal melakukannya, Ichigo?" tanya Rukia ragu. Wajahnya nampak sedikit murung memandang kekasihnya itu.

"Apa? Bukannya begitu, aku hanya. Ah, maafkan aku, Rukia. Seharusnya aku bisa menahan diriku."

"Ichigo, kenapa kau berkata begitu? Kenapa tidak lihat betapa bahagianya aku sekarang?" Rukia masih menatap mata Ichigo sambil tersenyum.

"Rukia..."

"Kau telah memberiku malam yang begitu indah, Ichigo," kata Rukia yang langsung memeluk Ichigo. "Karena itu kau tak perlu meminta maaf. Aku mencintaimu, aku akan memberikan seluruh milikku untukmu, Ichigo."

Ichigo hanya memejamkan matanya sembari terus mendekap erat tubuh mungil Rukia.

"Maafkan aku, Rukia."

.

.

xXxXxXx

.

.

To Be Continue

.

.

Segini dulu ya, maaf benget kalau pendek and makin nggak jelas. Soalnya Aira masih harus berkutat dengan tugas-tugas yang menumpuk.

Jadi di chapter selanjutnya Aira akan usahain agar lebih baik dari ini.

Hehehe... ^^

Yupz, terima kasih buat yang sudah mau ngasih review sebelumnya.

Nenk rukiakate : hehehe... Iya, nenk. Aira lagi mencoba ber-angst ria. Wkwkwkw...

Hhmmm, Ichigo bakal mati nggak ya? Hehehe... Rencananya sih gitu. ^_^

Okey, makasih banyak reviewnya. ^^

Shizuku Kamae : Halo, salam kenal juga, ya, Shizuku-san. ^_^

Hhmmm... Iya, ini cerita angst. Tapi kok kayaknya Angst-nya nggak berasa, ya. Hehehe...

Baiklah, Aira akan berusaha.

Makasih, ya.

Akizuki : Iya, Aira akan berusaha agar tidak terlalu banyak typo. Makasih, ya. ^^

Mamoru okta-chan lemonberry : Haaiii juga, Okta-san... ^^

Ah, senangnya dikau mereview... hehehe... ^_^

Hhmmm, maaf kalau masih ada typo sehingga nggak enak dibaca. Selanjutnya saya akan berusaha agar bisa lebih baik lagi. ^^v

Makasih, ya, udah menyempatkan diri untuk mereview.

Ya baiklah, sekali lagi Aira mohon REVIEW dari para reader, ya. ^^

Yap. Review? Kritik? Saran? Flame?

Saya terima... ^_^

Karena Aira sadar kalau fic ini masih banyak kekurangannya.

~Aira Yuzuriha~