Minna-san~ ^0^
Aira kembali lagi...
Akhirnya update juga chapter 3, maaf banget kalau lama.
Aira baru saja selesai menghadapi UTS, jadi baru bisa update sekarang.
Dan sekali lagi Aira ucapkan terima kasih kepada semua yang bersedia membaca dan memberikan review untuk fic ini. ^_^
Baiklah, tak perlu banyak cingcong, langsung saja ya. ^^
Disclaimer : Sampai kapanpun Bleach akan selalu milik Tite Kubo-sensei.
Pairing : Ichigo K. & Rukia K.
Warning : OOC, Typo berterbangan (?), Gaje, Abal, Alur gak karuan, Penulisan kembali hancur, dll, dst, dkk, dsb, dan bla bla bla bla (?).
Don't Like, Don't Read.
.
.
-Silver Ring-
.
.
_Chapter 3_
.
.
"Tadaima." Ichigo terus menggandeng tangan Rukia saat memasuki rumahnya. Yah, hari ini Rukia memang ingin berkunjung ke rumah kekasihnya itu.
"Okaeri, ICHIGO~" seru Isshin bersemangat seperti biasanya. "Ah, Rukia-chan!"
"Ohayou, paman Isshin," sapa Rukia sesopan mungkin.
"Ah, Rukia-chan. Kau tak perlu memanggilku paman, penggil saja ayah, ya~" kata Isshin yang akan memeluk Rukia, namun terlebih dahulu tersungkur karena mendapat pukulan dari Ichigo.
Rukia yang melihat kejadian itu hanya bisa ber-sweatdrop ria.
"Ichi-nii sudah pulang?" Yuzu muncul dari arah dapur ketika mendengar suara ribut dari ruang depan. Gadis itu lalu segera menghampiri kakaknya. "Ah, ada Rukia-nee," kata Yuzu saat melihat Rukia ada disana.
"Ohayou, Yuzu-chan," sapa Rukia sambil tersenyum.
"Ohayou, Rukia-nee. Kebetulan sekali, ibu dan aku sedang menyiapkan sarapan. Rukia-nee ikut sarapan bersama kami juga, ya."
"Benarkah? Kalau begitu boleh aku membantu menyiapkannya?" tanya Rukia sambil tersenyum.
"Ah, tentu saja." Yuzu tersenyum senang dan menggandeng tangan Rukia, "Ayo."
Rukia lalu mengikuti Yuzu masuk ke dapur meninggalkan Ichigo dan Isshin di ruang depan.
"Ichigo, apakah semalam kau menginap di rumah Rukia-chan?" tanya Isshin begitu Rukia sudah memasuki dapur.
"Ya," jawab Ichigo singkat.
"Huwaa~, My Sonn~," teriak Isshin dengan lebaynya, "lalu, apakah kau melakukannya?" pertanyaan Isshin diakhiri dengan kedipan mata sebelah ke arah Ichigo.
"A-apa maksudmu?" Ichigo mencoba memalingkan wajahnya dari ayahnya. Yah, sebenarnya Ichigo sangat tahu apa yang dimaksud ayahnya tersebut.
"Ayolah, Ichigo. Kau pasti mengerti apa maksudku."
"Hhh... Lalu kenapa?" tanya Ichigo yang malas beradu argumen dengan ayahnya. Jujur saja, kepalanya masih terasa pusing sejak tadi.
"Ichigo," panggil Isshin memandang Ichigo, entah kenapa tiba-tiba wajahnya berubah serius.
"A-ada apa, Ayah?" tanya Ichigo sedikit bingung, namun perlahan dia merasakan sesuatu yang mengalir dari hidungnya. Ichigo mengusapnya pelan dan mendapati cairan berwarna merah membasahi tangannya. Dia mimisan lagi rupanya.
"Kau baik-baik saja?"
"Ah, i-ini-. A-aku tidak apa-apa. Ayah tidak perlu khawatir," jawab Ichigo sambil menyeka darahnya
"Apa kita ke rumah sakit sekarang?" tanya Isshin lagi yang langsung mendapat penolakan dari Ichigo.
"Tidak, Ayah. Aku baik-baik saja. Lagi pula saat ini ada Rukia, aku tidak mau dia tahu."
"Tapi, Ichigo-"
"Kumohon, Ayah. Aku tidak apa-apa. Hhh... Aku ke kamar dulu." Tanpa menghiraukan reaksi ayahnya, Ichigo segera berjalan menuju ke kamarnya.
.
.
.
xXxXxXx
.
.
.
Sudah sekian menit berlalu, namun Ichigo masih termenung di kamarnya. Entah apa yang sedang dipikirkannya.
"Ichigo." Suara seseorang dari depan pintu kamarnya membuat Ichigo tersadar dari lamunannya.
Ichigo sangat tahu suara siapa itu, suara seseorang yang begitu disayanginya. Rukia.
Ichigo membuka pintu kamarnya, dan benar saja, Rukia sudah berdiri disana.
"Ichigo, sarapannya sudah siap. Bibi Masaki menyuruhku memanggilmu," kata Rukia tersenyum pada kekasihnya itu.
Ichigo hanya membalas senyuman Rukia dan mengangguk.
"Kalau begitu ayo kita turun," ajak Rukia menggandeng tangan Ichigo. Namun Ichigo segera menahan pergelangan tangan Rukia, dan dengan sekali hentakan gadis itu telah berada dalam pelukannya.
"I-Ichigo?"
"Rukia, terima kasih," kata Ichigo masih mendekap erat Rukia.
"Eh? Untuk apa?" tanya Rukia tidak mengerti.
"Untuk semuanya."
Rukia mendongakkan kepalanya untuk menatap Ichigo, dia benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi pada kekasihnya ini.
"Sebenarnya ada apa, Ichigo? Pagi ini kau aneh sekali?"
Ichigo hanya tersenyum dan mengecup kening Rukia sekilas.
"Tidak ada apa-apa, ayo turun," ajak Ichigo lalu menggandeng tangan Rukia.
Rukia hanya mengikuti langkah Ichigo dengan bingung.
.
.
.
"ITADAKIMASU~"
Seluruh anggota keluarga Kurosaki dan tentu saja Rukia saat ini sedang menikmati sarapan bersama. Rukia yang duduk disamping Ichigo terus saja memperhatikan pemuda itu diam-diam.
"Ada apa, Rukia?" tanya Ichigo begitu megetahui dirinya tengah diperhatikan oleh gadis disampingnya.
"Ah, ti-tidak ada apa-apa kok," jawab Rukia memalingkan wajahnya yang memerah lalu kembali memakan supnya.
"Rukia-nee, sering-sering datang kemari ya," kata Yuzu tersenyum pada Rukia.
"Eh? Tapi apa tidak apa-apa kalau aku sering kemari?"
"Tentu saja tidak apa-apa. Benar kan, Ibu," kata Yuzu mengalihkan pendangannya pada Masaki.
"Tentu saja, Rukia-chan. Kau boleh kemari kapan saja," kata Masaki sambil tersenyum seperti biasanya.
"Terima kasih," jawab Rukia senang.
Sementara itu Ichigo hanya tersenyum melihat Rukia tanpa memberi komentar apa-apa, karena saat ini bukan hanya kepalanya saja yang terasa sakit, bahkan seluruh tubuhnya juga. Bahkan tangannya telah berhenti dari aktivitasnya semula, sumpit yang tadi dipegangnya sekarang tergeletak begitu saja di atas meja.
Rukia kembali melirik Ichigo yang berada di sebelahnya, entah kenapa Rukia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh pemuda itu darinya.
.
.
.
xXxXxXx
.
.
.
"Ichigo, apa yang terjadi? Apa kau tidak apa-apa?" tanya Isshin menghampiri Ichigo yang berada di ruang tamu. Dibelakangnya juga ada Masaki dan kedua adiknya. Ichigo baru saja kembali setelah mengantarkan Rukia pulang ke rumahnya.
"Ichi-nii kenapa?" tanya Yuzu mendekati kakaknya. "Dari tadi Ichi-nii tidak seperti biasanya?"
"A-aku tidak apa-apa kok. Kalian tidak perlu khawatir."
Ya, sebenarnya sejak sarapan tadi anggota keluarganya terus memperhatikan Ichigo.
"Jangan menyembunyikannya, Ichigo. Apa benar kau tidak apa-apa?" Kali ini Masaki yang bertanya pada putranya itu. Ichigo hanya diam, jujur saja sebenarnya dia ingin mengatakan tentang semua rasa sakit yang saat ini menjalari tubuhnya. Namun setiap kali Ichigo melihat wajah ibunya, dia tidak sanggup mengatakannya. Dia tidak ingin membuat semua orang yang disayanginya semakin bersedih kalau mengetahui keadaannya.
"A-aku" Ichigo tidak melanjutkan kalimatnya, entah kenapa dia tidak bisa mengatakannya. Tubuhnya tiba-tiba merosot begitu saja membuatnya terduduk di lantai.
"Ichigo! Kau kenapa?" Isshin dan Masaki langsung menghampiri Ichigo dengan khawatir. Namun Ichigo tidak menjawab, dia hanya menatap bingung pada kedua orang tuanya. Kepalanya terasa begitu sakit, bahkan sekujur tubuhnya juga.
"A-a.. Ke-.." Ichigo tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi, hanya ada rasa sakit yang saat ini dia rasakan. Darah kembali mengalir dari hidung dan sudut bibirnya. Perlahan cahaya di matanya mulai meredup dan Ichigo kehilangan kesadarannya.
.
.
Ichigo membuka matanya perlahan dan melihat kedua adiknya yang menemani disampingnya. Untuk kedua kalinya dia terbangun di tempat ini.
"Ichi-nii?"
"Karin, Yuzu." Ichigo mencoba memberikan senyum kepada kedua adiknya itu dan bangun dari posisinya semula.
Karin dan Yuzu langsung memeluk Ichigo secara bersamaan.
"Ichi-nii, akhirnya Ichi-nii sadar juga," kata Yuzu yang masih menangis memeluk kakaknya. Memang sejak Ichigo dibawa ke rumah sakit tadi gadis itu tidak bisa berhenti menangis. "Hiks hiks, aku takut sekali, Ichi-nii- hiks."
"Kami benar-benar khawatir terjadi apa-apa pada Ichi-nii."
"Hei, sudah, kalian jangan menangis. Aku sudah tidak apa-apa," kata Ichigo menenangkan kedua adiknya yang masih terisak dalam pelukannya.
Karin dan Yuzu baru melepaskan pelukan mereka saat mendengar suara pintu terbuka. Tiga orang yang berada dalam ruangan itu menoleh untuk melihat siapa yang datang. Kedua orang tuanya bersama seorang dokter wanita berparas cantik tengah berdiri disana.
Melihat raut wajah orang tuanya yang murung membuat Ichigo penasaran dengan apa yang telah dikatakan Unohana pada mereka.
"Ayah, a-ada apa?" Sebenarnya Ichigo ragu menanyakannya, apalagi melihat ayahnya hanya diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun.
Ichigo kembali memandang Masaki yang sudah meneteskan air matanya, membuatnya menghela nafas berat dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Jadi begitu, ya," gumam Ichigo pelan.
Sepertinya Ichigo sudah tidak memerlukan jawaban lagi, karena air mata ibunya telah menjawab semuanya. Dan Ichigo sudah tidak ingin mendengarnya lagi, karena dia yakin apa yang akan dikatakan Unohana bukanlah hal yang menyenangkan.
'Jadi aku benar-benar akan mati,' batin Ichigo dalam hati.
.
.
.
xXxXxXx
.
.
.
Seorang gadis berambut raven dengan mata amethyst berjalan santai memasuki ruang kelasnya. Sepi, begitulah suasana yang ia dapati saat ini, sepertinya hari ini dia berangkat terlalu pagi ke sekolah.
"Ohayou, Rukia-chan."
Rukia menoleh ke belakang saat mendengar suara seorang gadis dari belakang.
"Ah, ohayou, Orihime," kata Rukia sambil tersenyum pada gadis berambut orange panjang di depannya. Orihime Inoue.
"Tumben sekali kau berangkat sepagi ini, Rukia-chan?" tanya Orihime yang lalu berjalan menuju ke bangkunya.
"Hm, itu, aku juga tidak tahu. Hehehe."
"Lalu, apa kau tidak bersama Kurosaki-kun? Bukankah biasanya kalian selalu berdua?"
Wajah Rukia langsung memerah begitu mendengar kata-kata Orihime barusan. Ya, memang benar biasanya dia selalu bersama dengan Ichigo. Namun hari ini Ichigo menyuruhnya untuk berangkat lebih dulu. Tapi malah Rukia berangkat terlalu pagi dan beginilah sekarang, dia bersama Orihime dalam kelas yang masih sepi itu.
"Eh? I-itu, Ichigo bilang hari ini dia tidak bisa menjemputku, jadi aku berangkat lebih dulu."
"O..." Orihime hanya ber-oh ria mendengar jawaban Rukia, namun melihat semburat merah yang sedikit terlihat di pipi sahabatnya itu membuat Orihime ingin menggoda Rukia lebih lama.
"Oh iya, Rukia-chan, bagaimana dengan malam tahun barumu? Pasti kau melewatkannya bersama Kurosaki-kun, kan?" tanya Orihime lagi. Gadis itu sekarang sudah duduk di kursi yang berada di depan bangku Rukia.
Pertanyaan Orihime membuat ingatannya kembali memunculkan kejadian-kejadian yang dilaluinya bersama Ichigo saat malam tahun baru. "I-itu, ba-bagaimana kau tahu? Eh bukan, maksudku-"
"Hihihi, kau lucu sekali, Rukia-chan. Memangnya apa saja yang kalian lakukan berdua?"
"Eh? Ka-kami tidak melakukan apa-apa," jawab Rukia yang kali ini wajahnya benar-benar memerah karena teringat malam yang dia lalui bersama Ichigo di rumahnya.
"Hmmm, benarkah? Wajahmu memerah tuh." Sepertinya Orihime senang sekali bisa menggoda sahabatnya ini. "Atau jangan-jangan kau dan Kurosaki-kun sudah..."
"Orihime!" pekik Rukia memotong perkataan Orihime, temannya ini benar-benar meyebalkan pagi ini.
"Hehehe, baiklah, Rukia-chan. Aku keluar dulu, ya," kata Orihime sambil tersenyum dan meninggalkan Rukia sendirian dalam kelas.
"Hhh, dasar," gumam Rukia sambil menyandarkan punggungnya di kursi yang ia duduki saat Orihime sudah keluar kelas. Kadang Orihime kalau bercanda bisa menjengkelkan juga ternyata.
Rukia memejamkan matanya sejenak dan mengingat kembali saat-saat indah yang dia lalui bersama Ichigo. Gadis itu tersenyum, namun tiba-tiba senyuman itu hilang ketika Rukia teringat kejadian kemarin pagi. Entah kenapa akhir-akhir ini sikap Ichigo sedikit aneh, seperti ada sesuatu yang Ichigo sembunyikan darinya.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Ichigo?" gumam Rukia pelan.
.
.
.
xXxXxXx
.
.
.
Suasana dalam kelas begitu tenang, semua murid sedang berkonsentrasi pada pelajaran yang sedang diberikan oleh guru. Semuanya, kacuali satu orang. Kurosaki Ichigo, sejak tadi pemuda berambut orange itu tidak bisa menangkap semua pelajaran yang dijelaskan. Kepalanya kembali terasa sakit, ah seharusnya dia berada di rumah sakit sekarang karena Unohana menyuruhnya untuk tetap berada di rumah sakit, yah paling tidak sampai keadaannya meembaik. Namun bukan Ichigo namanya kalau dengan mudah menuruti hal itu.
Dua tetes bercak merah menodai buku tulisnya yang terbuka di atas meja.
'Ugh! Kapan semua ini akan berakhir?' keluh Ichigo dalam hati sambil menyeka darahnya sebelum ada yang melihatnya.
Tanpa dia sadari, sepasang mata amethyst terus saja memperhatikannya sejak tadi.
.
.
Ketika bel istirahat berbunyi, Ichigo ingin segera keluar dari kelasnya.
"Ichigo," panggil seseorang yang membuat Ichigo menghentikan langkahnya.
"Rukia?"
"Kau mau kemana? Bagaimana kalau sekarang kita ke-"
"Maaf, Rukia. Aku sedang ada urusan sekarang," kata Ichigo memotong perkataan Rukia dan segera pergi dari hadapan gadis itu.
"Kau kenapa, Ichigo?" gumam Rukia memandang Ichigo yang semakin menjauh dengan bingung.
.
.
"Maaf, Rukia." Sebenarnya Ichigo tidak ingin meninggalkan Rukia, namun sekarang bukan saat yang tepat untuk menemui gadis itu.
"Ugh, kenapa sakit sekali?" kelih Ichigo yang menyadarkan tubuhnya di bawah pohon di belakang sekolah.
"Aarrgghhh... hhh..." Ichigo dapat merasakan darah yang keluar dari hidungnya. Beberapa kali Ichigo mencoba menyeka darahnya, namun bukannya berhenti, darah yang keluar malah semakin banyak.
"Arrgghh... Kapan ini akan berakhir?"
"Kurosaki-kun?"
Ichigo mencoba mengangkat kepalanya saat mendengar seseorang memanggil namanya.
"I-Inoue!"
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Nyahahahaha... #plaaakkk.
Hadaahhh~ kok critanya makin gak jelas gini ya?
Hhhh... Maafkan Aira, ya... *kluk.
Ya baiklah, sekali lagi Aira mohon REVIEW dari para reader, ya. ^_^
Yap. Review? Kritik? Saran? Flame?
Saya terima... ^_^
Karena Aira sadar kalau fic ini masih banyak kekurangannya.
~Aira Yuzuriha~
