Selamat malam, minna-san... ^0^
Akhirnya setelah sekian lama, saya bisa update juga chapter 4 dari fict ini.
Hadaahhh, saya memang orang yang paling parah lamanya buat update nih fict.
Maaf atas keterlambatannya, ya...
Soalnya nggak sempat sih, banyak tugas-tugas yang menunggu untuk diselesaikan, jadi nggak sempat buat nulis lanjutannya deh.
Okelah, nggak usah banyak cing cong, langsung saja, ya... ^_^
Mind to RnR... ^^
Disclaimer : Sampai kapanpun Bleach akan selalu milik Tite Kubo-sensei.
Pairing : Ichigo K. & Rukia K.
Warning : OOC, Typo berterbangan (?), Gaje, Abal, Alur gak karuan, Penulisan kembali hancur, dll, dst, dkk, dsb, dan bla bla bla bla (?).
Don't Like, Don't Read.
-Silver Ring-
.
.
_Chapter 4_
.
.
"Kurosaki-kun?"
Ichigo mencoba mengangkat kepalanya saat mendengar seseorang memanggil namanya.
"I-Inoue!" Ichigo tampak terkejut ketika mendapati Orihime yang berada di depannya.
"Kurosaki-kun? Apa kau tidak apa-apa?" tanya Orihime mendekati Ichigo yang masih terlihat terkejut dengan kehadirannya.
Perlahan, Orihime berjalan mendekati pemuda di depannya.
"A-aku baik-baik saja, Inoue," jawab Ichigo masih berusaha bersikap sewajar mungkin. Namun saat dia berusaha berdiri, keseimbangannya kembali hilang dan membuatnya terhuyung kedepan.
Refleks, Orihime langsung menangkap tubuh Ichigo. Orihime dapat merasakan tubuh Ichigo yang bergetar dengan nafas yang tak beraturan, membuatnya membiarkan pemuda itu menyandarkan kepala di bahunya walaupun beberapa tetes bercak darah telah menodai seragamnya.
Untuk beberapa saat mereka masih tetap dalam posisi seperti itu. Orihime masih tetap memeluk dan menyandarkan kepala Ichigo di bahunya.
Setelah beberapa menit, Ichigo mengangkat kepalanya untuk melihat gadis dihadapannya.
"Ah, maaf, Inoue. Seragammu jadi terkena darahku," ucap Ichigo pelan.
"Ti-tidak apa-apa..." Orihime memandang pemuda di depannya dengan khawatir. "Kurosaki-kun, apa benar kau tidak apa-apa?" tanya Orihime sekali lagi.
"Hhh... Ya, aku baik-baik saja," jawab Ichigo masih berusaha menyembunyikan sakit yang dia rasakan. Namun Orihime masih bisa membaca raut kesakitan di wajah Ichigo.
"Inoue," panggil Ichigo lagi. "Bisakah jangan beritahu hal ini pada Rukia?" tanya Ichigo yeng membuat Orihime terkejut.
"T-tapi, kenapa?" gadis itu benar-benar tidak menngerti dengan apa yang diinginkan Ichigo. Kenapa dia tidak boleh memberitahukan hal ini pada Rukia, kekasih Ichigo sendiri.
"Kumohon, Inoue..."
Orihime tidak bisa berkata apa-apa ketika sepasang hazel Ichigo menatapnya dengan begitu memohon.
"Ada apa, Kurosaki-kun? Kenapa Rukia tidak boleh tahu?"
Ichigo hanya menghela nafas berat. Tidak ada gunanya lagi menyembunyikan semuanya dari Orihime, gadis itu telah menangkap basah dirinya. Bagaimanapun Orihime pasti akan mencari tahu. Tidak ada jalan lain selain memberitahukannya pada gadis itu.
.
.
.
xXxXxXx
.
.
.
"Ja-jadi... Kurosaki-kun...mengidap kan-ker..," kata Orihime memandang Ichigo dengan meta yang berkaca-kaca.
Saat ini mereka duduk di sebuah bengku yang ada di belakang sekolah. Ichigo telah menceritakan semuanya pada gadis berambut orange itu.
"Ta-tapi kenapa Rukia tidak boleh tahu tentang ini? Apa tidak sebaiknya kalau dia tahu yanng sebenarnya?" tanya Orihime lagi.
"Hhh... Aku hanya tidak ingin dia mengkhawatirkanku," jawab Ichigo lirih, mata hazelnya hanya memandang langit dengan tatapan yang begitu sendu.
Diam. Baik Ichigo ataupun Orihime tidak ada yang mengeluarkan sepatah kata pun.
"Nah, Inoue. Kau sudah mengerti, kan. Jadi tolong rahasiakan tentang ini dari Rukia, ya," kata Ichigo memecahkan keheningan diantara mereka.
Orihime hanya mengangguk menerima permintaan Ichigo.
"Baiklah, aku janji."
"Terima kasih, Inoue."
Tanpa mereka sadari, sepasang mata amethyst memperhatikan mereka dari kejauhan.
.
.
.
"Ichigo,tadi kau darimana saja? Aku mencarimu tahu," omel Rukia saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Maaf, aku ada urusan tadi," jawab Ichigo sambil melirik Rukia yang sedang cemberut.
"Kau mencariku? Hm, apa kau merindukanku, Rukia?" goda Ichigo membuat semburat merah bermunculan di pipi Rukia.
"A-apa, tentu saja tidak, baka!" sangkal Rukia memalingkan wajahnya dari Ichigo.
Ichigo hanya terkekeh melihat tingkah Rukia itu.
"Ichi...," panggil Rukia lagi.
"Hn?"
"Tadi itu... apa kau..." Rukia berkata dengan nada yang sedikit menggantung. Membuat Ichigo menngalihkan pendangan ke arahnya.
"Apa?" tanya Ichigo saat Rukia tidak kunjung melanjutkan kalimatnya.
"Ah, tidak ada apa-apa, lupakan saja," kata Rukia akhirnya.
Ingatannya kembali pada kejadian saat dia melihat Ichigo bersama Orihime di belakang sekolah tadi. Sebenarnya ada apa diantara mereka? Kenapa Ichigo tidak mengatakan padanya kalau dia baru saja menemui Orihime?
Rukia kembali melirik Ichigo yang berjalan disampingnya.
'Sebenarnya ada apa, Ichigo?' batin Rukia dalam hati. Gadis itu benar-benar tidak mengerti dengan kekasihnya sekarang.
.
.
.
xXxXxXx
.
.
.
Satu minggu berlalu begitu saja, Rukia semakin merasa kalau sikap Ichigo benar-benar aneh sekarang. Akhir-akhir ini Ichigo sering tidak masuk ke sekolah. Bahkan pemuda itu semakin sering pergi meninggalkan Rukia saat mereka sedang bersama, seperti ingin menyembunyikan sesuatu dari kekasihnya. Pesan Rukia juga jarang mendapat balasan dari Ichigo. Rukia benar-benar merasa kalau kekasihnya itu menyembunyikan sesuatu darinya.
"Hhh..." Rukia menghela nafas berat.
Gadis itu melangkahkan kakinya memasuki kelas, perlahan dia berjalan menuju bangkunya.
Diamatinya seisi kelas tersebut, belum ada kehadiran dari Ichigo. 'Apakah hari ini dia tidak masuk lagi?' pikir Rukia.
"Ohayou, Rukia-chan," sapa seorang gadis berambut orange yang tidak lain adalah Orihime.
"Ohayou, Orihime," jawab Rukia singkat.
"Kau kenapa, Rukia? Sepertinya hari ini kau terlihat tidak bersemangat?" tanya Orihime yang melihat temannya tidak seperti biasanya.
"Aku tidak apa-apa kok, Orihime. Kepalaku hanya sedikit pusing, mungkin karena semalam aku kurang tidur. Tapi aku baik-baik saja," kata Rukia sambil tersenyum.
"Benarkah?"
Rukia mengangguk, lalu kembali menatap Orihime.
"Mm... Orihime, boleh aku bertanya sesuatu padamu?" tanya Rukia dengan sedikit ragu.
"Tentu saja, kau ingin bertanya apa, Rukia-chan?"
"Be-begini, apa kau tahu ada apa dengan Ichigo akhir-akhir ini? Dia benar-benar berbeda."
"Eh? A-aku tidak tahu," Orihime sedikit gugup ketika menjawab pertanyaan Rukia tadi. Mendengar Orihime yang sepertinya menjawab dengan idak yakin, membuat Rukia ingin bertanya lebih banyak lagi pada gadis didepannya.
Namun itu tidak jadi dilakukannya ketika melihat seorang pemuda yang sangat dikenalnya memasuki kelas dan berjalan ke arah mereka.
Siapa lagi kalau bukan Ichigo, orang yang sangat ingin Rukia temui saat ini.
"Yo, Rukia," sapa Ichigo seperti biasa.
Rukia hanya menganggapinya dengan tersenyum.
"Ah, hai, Inoue," kata Ichigo saat menyadari kalau ada Orihime bersama Rukia.
"Ohayou, Kurosaki-kun," kata Orihime pada Ichigo.
"Ah, maaf, tapi aku ada urusan sebentar di perpustakaan, aku pergi dulu ya, Rukia-chan, Kurosaki-kun," pamit Orihime pada dua orang yang bersamanya sekarang lalu pergi keluar kelas.
"Ichigo," panggil Rukia saat Orihime telah menghilang dari hadapan mereka.
"Hm?"
"Kenapa akhir-akhir ini kau aneh sekali?"
"Apa maksudmu, Rukia?" tanya Ichigo yang tidak mengerti dengan pertanyaan kekasihnya.
"Aku merasa... kau sedang mencoba menyembunyika sesuatu dariku," kata Rukia lirih.
Ichigo sedikit terkejut dengan apa yang ditanyakan oleh kekasihnya itu, tapi dia mencoba untuk bersikap biasa.
"Rukia, apa maksudmu? Tidak ada yang aku sembunyikan darimu," jawab Ichigo sambil membelai pelan rambut Rukia.
"Benarkah?" tanya Rukia yang masih ragu.
"Tentu saja," jawab Ichigo lalu memberikan kecupan singkat di bibir mungil Rukia.
.
.
Ichigo langsung menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur ketika ia sudah memasuki kamarnya.
Pertanyaan Rukia tadi pagi masih teringat di kepalanya.
"Hh... Bagaimana jadinya kalau aku memberitahu Rukia yang sebenarnya?" tanyanya pada diri sendiri.
"Aaarrgghhh..." Ichigo mengacak rambutnya frustasi.
"Sampai kapan aku harus seperti ini?"
Matanya melirik ke arah kalender yang berada di dinding kamarnya, pandangannya tertuju pada salah satu tanggal, besok, 14 Januari.
Ichigo tersentak bangun ketika teringat hari itu. Kepalanya kembali terasa sakit sekarang, tapi dia mencoba mengabaikannya.
Dengan cepat Ichigo mengambil ponselnya dan meghubungi seseorang...
"Inoue, aku butuh bantuanmu."
.
.
.
To Be Continue
.
.
.
Huweee~
#nangis guling-guling.
Maaf kalau chapter ini mengecewakan...
Soalnya otak saya lagi agak error gara-gara mikirin ulangan yang tiap hari tiada abisnya.
Chapter ini juga patas buatnya dalam 20 menit, soalnya masih dikejar sama ulangan besok soalnya... #plaaakkk.
Jadi maaf kalau pendek buanget~
Aira merasa kalau chapter ini ancur, parah, nggak ada feel-nya, nuansa IchiRuki-nya juga kurang banget...
Katakan kalian tidak puas dengan chapter ini...
Hontou ni gomenasai...
#sujud-sujud.
Chapter depannya saya perbaiki agar lebih baik lagi dari ini deh...
Sekali lagi maaf ya...
Ya baiklah, walaupun begitu, tapi sekali lagi Aira mohon REVIEW dari para reader, ya. ^_^
Yap. Review? Kritik? Saran? Flame?
Saya terima... ^_^
Karena Aira sadar kalau fic ini masih banyak kekurangannya.
~Aira Yuzuriha~
