Selamat malam... ^_^
Aira datang membawa chapter 5...
Okelah, langsung saja ya...
Mind to RnR... ^^
Disclaimer : Sampai kapan pun Bleach akan selalu milik Tite Kubo-sensei.
Pairing : Ichigo K. & Rukia K.
Warning : OOC, Typo berterbangan (?), Gaje, Abal, Alur gak karuan, Penulisan kembali hancur, dll, dst, dkk, dsb, dan bla bla bla bla (?).
Don't Like, Don't Read.
-Silver Ring-
.
.
_Chapter 5_
.
.
-Rukia's P.O.V-
Aku melangkah perlahan melewati setiap toko yang ada di mall Karakura ini dengan membawa beberapa tas belanjaan di tanganku. Hhh... malam ini mau tidak mau aku harus pergi untuk membelikan barang-barang titipan Nee-san karena dia masih harus menyelesaikan urusannya dengan Nii-sama yang sebentar lagi akan pindah ke Kyoto.
Aku terus berjalan dengan santai sampai tiba-tiba mataku menangkap sosok yang sangat aku kenali, apalagi dengan rambut orange-nya yang mencolok itu. Siapa lagi kalau bukan Ichigo.
Tapi tunggu dulu, bukankah tadi Ichigo bilang kalau dia tidak bisa menemaniku karena sedang ada urusan di rumah?
"Maaf, Rukia. Tapi malam ini aku masih ada urusan dengan ayahku,"
Aku kembali teringat kata-kata Ichigo saat aku memintanya menemaniku malam ini.
Tapi kenapa sekarang dia malah disini? Dan satu lagi, dia tidak sendirian. Ada seorang gadis lain yang bersamanya, dan gadis itu adalah... Inoue Orihime. Kenapa jadi begini? Sebenarnya ada apa diantara mereka?
Aarrgghh, lagi pula kenapa Ichigo tidak memberitahuku dan malah berbohong padaku?
Aku tidak bisa berbohong kalau hatiku sakit sekarang. Aku hanya memandang mereka yang memasuki sebuah toko perhiasan dan aku dapat melihat Ichigo yang memilih sebuah cincin.
Tunggu, apa!
"Apa kau yakin pasti suka?" aku bisa mendengar kata-kata Ichigo pada Orihime.
Orihime mengangguk sambil tersenyum senang. "Ya, tentu saja. Lagi pula cincin ini sangat indah."
Sudah cukup, ini terlalu banyak membunuhku. Aku segera pergi dari tempat itu sebelum air mataku tak bisa kutahan lagi.
-Rukia's POV -End-
.
.
"Terima kasih atas bantuanmu, Inoue. Maaf aku sudah merepotkanmu," kata Ichigo pada Orihime yang berjalan disebelahnya.
"Ah, tidak apa-apa, Kurosaki-kun. Aku jadi tidak sabar ingin tahu bagaimana reaksi Rukia saat kau memberikan cincin itu di hari ulang tahunnya nanti," jawab Orihime sambil tersenyum senang.
"Yah, aku juga begitu."
Saat ini mereka telah berjalan keluar dari mall. Suasananya masih cukup ramai walaupun waktu sudah cukup malam.
Ichigo melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul sembilan malam. Pria berambut terang itu menghela nafas sejenak dan kembali memandang gadis yang bersamanya.
"Baiklah, Inoue. Kau mau kuantar? Ini sudah cukup larut untuk seorang gadis sepertimu pulang sendiri. Lagi pula, tadi aku yang mengajakmu kan," tawar Ichigo pada Orihime.
Orihime hanya tersenyum sambil menggeleng pelan, "Tidak perlu, Kurosaki-kun. Tadi aku sudah menghubungi Ulquiorra-kun untuk menjemputku. Lagi pula, Kurosaki-kun harus istirahat, kan?" kata Orihime menyunggingkan senyum manisnya.
Gadis itu memang telah memiliki kekasih yang merupakan mahasiswa dari Universitas Karakura, Ulquiorra Schiffer. Seorang pemuda yang begitu dingin dan bisa dibilang tidak pernah peduli dengan para gadis yang begitu mengaguminya. Namun, entah kenapa pemuda itu bisa sangat lembut ketika bersama dengan Orihime.
Dan benar saja, tidak berapa lama setelah itu, sebuah mobil sport berwarna hitam berhenti di hadapan mereka. Tampak seorang pemuda berambut hitam dan mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku turu dari mobil tersebut. Sekilas telihat senyum tipis dari wajah yang dingin itu ketika mendapati sosok gadis berambut orange kecoklatan yang sedang berdiri disamping Ichigo. Tanpa menunggu lebih lama lagi, pemuda tersebut segera menghampiri tempat Orihime berdiri kemudian membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu.
"Ah, aku pulang dulu ya, Kurosaki-kun," kata Orihime.
"Ya, terima kasih, Inoue. Maaf merepotkanmu," kata Ichigo yang merasa tidak enak karena telah mengajak Orihime malam-malam begini.
"Tidak apa-apa kok. Selamat malam Kurosaki-kun," jawab Orihime sebelum dia masuk kedalam mobil.
Ulquiorra memberi salam kepada Ichigo sejenak sebelum dia juga masuk kembali ke dalam mobilnya. Kemudian mobil itu kembali melesat pergi meninggalkan Ichigo yang masih berdiri ditempatnya.
.
.
xXxXxXx
.
.
"Tadaimasu." Ichigo melangkah perlahan memasuki rumahnya. Ia bisa melihat ibunya sedang tengah duduk di sofa ruang tamu.
"Okaeri, Ichigo," jawab Masaki dengan senyum lembutnya seperti biasa.
"Kau dari mana saja, Ichigo? Kau seharusnya ke rumah sakit hari ini."
"Ah, hehehe... maaf, aku hanya mencari sesuatu tadi," jawab Ichigo.
"Baiklah, sebaiknya sekarang kau istirahat."
Ichigo hanya tersenyum sambil mengangguk, dan secara tiba-tiba Ichigo memeluk ibunya yang membuat Masaki cukup terkejut.
"Ada apa, Ichigo?" tanya Masaki heran. Cukup lama Ichigo tidak menjawab dan hanya memeluk ibunya erat-erat. "Ichigo?"
"Aku hanya ingin memeluk ibu seperti ini sebelum aku tidak bisa melakukan ini lagi," jawab Ichigo yang lalu melapaskan pelukannya dan cengir seperti biasa. Namun itu malah membuat mata Masaki berkaca-kaca. Sayangnya Ichigo tidak melihatnya karena dia segera berjalan pergi menuju kamarnya.
"Selamat malam, Ibu," kata Ichigo lagi sebelum memasuki kamarnya.
Masaki masih berdiri memandangi bayangan putranya yang telah memasuki kamar. Perlahan air matanya mengalir.
.
.
.
xXxXxXx
.
.
.
Rukia berjalan malas melewai koridor sekolah. Dia malas memasuki kelasnya, dia belum melihat Ichigo sama sekali hari ini. Ah, tidak, lebih tepatnya dia menghindarinya. Rukia belum mau menemui Ichigo ataupun Orihime untuk saat ini. Entah kenapa hatinya masih sakit jika mengingat kejadian yang dilihatnya kemarin malam. Dia tidak tahu dan tidak mau tahu tentang ada hubungan apa diantara mereka, namun tetap saja Rukia tidak bisa melupakannya begitu saja.
"Rukia-chan!" panggil Orihime yang berlari tergesa-gesa kearahnya.
"Hhh..." Rukia menghela nafas berat. Kenapa di saat seperti ini dia malah bertemu dengan Orihime? Salah satu orang yang paling tidak ingin dia temui sekarang.
Rukia sudah hampir mengabaikan panggilan itu dan berniat untuk melanjutkan langkahnya kembali, namun tangannya ditahan oleh Orihime yang terlihat masih mengatur nafasnya yang terengah-engah karena berlari mengejar Rukia.
"Hhh... Hhh... Ru-Rukia-chan, a-ada yang ingin kukatakan... hhh... tentang Ku-Kurosaki-kun," kata Orihime yang masih berusaha mengatur nafasnya.
"Oh, tapi maaf, Orihime. Aku sekarang sedang sibuk. Nanti saja ya," jawab Rukia dingin dan hendak pergi meninggalkan Orihime. Tapi lagi-lagi Orihime menahan pergelangan tangannya.
"Ta-tapi, Rukia-chan. Saat ini Kurosaki-kun sedang-"
"Apa kau tidak dengar, Orihime! Aku sekarang sedang banyak urusan!" Rukia memotong perkataan Orihime dengan sengit dan dengan kasar melepaskan tangan Orihime yang menahan pergelangannya.
"Ta-tapi..."
Belum sempat Orihime menyelesaikan kalimatnya, Rukia sudah berlalu meninggalkannya.
"Ta-tapi, Kurosaki-kun saat ini tengah berada di rumah sakit..." gumam Orihime lirih pada sosok Rukia yang telah menghilang dari hadapannya.
.
.
Masaki terus memandangi Ichigo yang saat ini belum sadarkan diri. Matanya masih terlihat sembab dan basah karena terjejaki air mata. Hatinya sakit melihat putranya tidak berdaya seperti ini. Dengan selang infus yang tertancap di tangannya disertai alat bantu pernafasan. Jika saja bisa, Masaki sangat ingin menggantikan posisi Ichigo sekarang. Lebih baik dia yang merasakan semua rasa sakit yang diderita oleh putranya. Ibu mana yang tega membiarkan anaknya menderita begini?
Masaki masih ingat dengan jalas saat tadi pagi ia mendapati Ichigo yang mengerang kesakitan dalam kamarnya. Pemuda itu terus memuntahkan darah tanpa henti, tubuhnya mengejang hebat, berusaha untuk bertahan. Namun tulangnya tidak sanggup lagi menahan tubuhnya yang akhirnya membuat Ichigo tersungkur jatuh tidak sadarkan diri.
Tanpa terasa cairan bening kembali membasahi pelupuk mata wanita berambut coklat karamel ini.
"Hiks... Ichigo..."
.
.
Ichigo membuka matanya perlahan dan mendapati ibunya sedang menangis disampingnya. Pemuda ini sudah tidak merasa asing lagi dengan ruangan yang ditempatinya sekarang. Perlahan Ichigo mencoba menggerakkan tangannya untuk menggapai ibunya yang masih terisak.
Masaki tersentak ketika merasakan ada yang menyentuh lengannya dengan lembut. Dia lalu melihat Ichigo yang tengah memandangnya sambil tersenyum tipis.
"I-Ibu..." Panggilan Ichigo begitu lirih dan nyaris tidak terdengar.
"Ichigo? Kau sudah sadar?" Air mata semakin deras mengalir dari mata Masaki saat ini.
"Ibu... Aku baik-baik saja," kata Ichigo sambil berusaha menyeka air mata yang menggenangi mata ibunya.
Masaki hanya mengangguk dan menggenggam tangan Ichigo erat-erat.
"Ichigo, bagaimana perasaanmu?" tanya Masaki menatap Ichigo lekat-lekat.
Ichigo tersenyum menatap ibunya. "Sudah tidak apa-apa, Ibu. Ibu jangan menangis lagi, ya."
Hening. Tak ada satupun diantara ibu dan anak ini yang memulai pembicaraan lagi. Sampai ketika suara pintu terbuka dan menampakkan sosok Isshin dan kedua adiknya yang masih mengenakan seragam sekolah.
"Ichi-nii!" seru Yuzu dan Karin bersamaan dan berlari menghampiri kakaknya.
"Kapan Ichi-nii sadar?"
"Bagaimana perasaan Ichi-nii?"
"Apa masih ada yang sakit?"
Ichigo tertawa mendengar pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh adiknya.
"Aku baik-baik saja, Karin, Yuzu," jawab Ichigo mengelus lembut kepala adik kembarnya ini.
Namun tiba-tiba Ichigo teringat akan sesuatu. Pandangan mata hazelnya dengan cepat melihat ke arah kalender yang tergantung di dinding ruangan, 14 Januari.
"Rukia," gumam Ichigo pelan.
"Ada apa, Ichigo?" tanya Isshin yang menyadari perubahan raut wajah putranya.
"Ayah, boleh aku pergi sebentar?" tanya Ichigo yang sukses membuat semua yang berada disana terkejut.
"Tapi, Ichigo. Kau baru saja sadar, kau masih harus banyak istirahat."
"Ibumu benar, Ichigo. Lagi pula, kau ingin pergi kemana?" tanya Isshin lagi.
"Kumohon, ayah, ibu. Aku hanya ingin menemui Rukia sebentar saja," mohon Ichigo menatap kedua orang tuanya. "Dan lagi, mungkin saja ini kesempatan terakhirku untuk bertemu dengannya," lanjutnya.
Kata-kata Ichigo barusan membuat semuanya bungkam. Isshin menghela nafas sejenak sebalum menjawab pertanyaan Ichigo tadi.
"Hhh... Baiklah, jika itu keinginannu," kata Isshin pada akhirnya.
Senyum mengembang dari sudut bibir Ichigo saat mendengar jawaban dari ayahnya.
"Terima kasih, Ayah."
.
.
.
xXxXxXx
.
.
.
Seorang gadis berambut raven berjalan malas keluar dari gerbang sekolah SMA Karakura. Dia tidak peduli dengan suara sahabatnya yang berteriak memanggilnya dibelakang. Rukia merasa tubuhnya begitu lemas hari ini. Akhir-akhir ini Rukia memang merasa sedikit kurang enak badan. Bahkan tadi pagi kakaknya mendapati dirinya sedang muntah-muntah di kamar mandi. Hisana menyuruh Rukia untuk tidak masuk sekolah saja hari ini, namun gadis itu menolaknya. Dan sekarang, yang dia inginkan hanyalah berada di rumah secepatnya dan tidur. Tidak ada pertemuan dengan Orihime, ataupun dengan kekasihnya, Ichigo.
Bicara tentang Ichigo, Rukia tidak bertemu dengan Ichigo sama sekali hari ini. Pemuda itu tidak masuk ke sekolah. Namun Rukia malah bersyukur karena hal itu, sebab Rukia sedang tidak ingin bertemu dengan pemuda berambut orange tersebut.
"Rukia!" Suara panggilan dari seseorang membuat Rukia menghentikan langkahnya yang hendak memasuki rumah. Rukia sangat mengenali suara itu. Suara orang yang begitu disayanginya, namun, sepertinya api cemburu telah menutup hati Rukia sehingga dia tidak memperdulikan Ichigo sama sekali.
"Hei, Rukia." Kali ini Ichigo menahan pergelangan tangan Rukia. Membuat Rukia menoleh ke arahnya. Namun, bukan senyuman hangat seperti biasanya yang Ichigo dapatkan, melainkan tatapan dingin dan menusuk yang Rukia berikan pada pemuda di hadapannya ini.
"Ru-Rukia? Kau kenapa?" tanya Ichigo yang tidak mengerti dengan perubahan sikap Rukia padanya.
"Tidak ada apa-apa. Maaf, Ichigo, tapi aku masih banyak urusan," jawab Rukia dingin dan mencoba melepaskan tangannya dari Ichigo.
"Kau kenapa, Rukia? Kau aneh sekali?" tanya Ichigo semakin heran. Namun pertanyaan itu malah membuatnya mendapat tatapan tajam dari Rukia.
"Kenapa? Kau yang kenapa, Ichigo!" kata Rukia sengit. "Apa kau pikir kau bisa mempermainkan aku begitu saja!"
"A-apa maksudmu, Rukia?" kali ini Ichigo benar-benar dibuat tidak mengerti dengan tingkah kekasihnya ini.
"Jangan pura-pura bodoh, Ichigo! Aku sudah melihat semuanya!"
"Apa maksudmu, Rukia? Melihat semuanya? Melihat apa?" Sungguh Ichigo bingung kenapa Rukia bersikap seperti ini padanya.
"Cukup, Ichigo. Sekarang tinggalkan aku sendiri!" pinta Rukia dingin pada Ichigo dan berniat melangkahkan kakinya kedalam rumah. Tapi, lagi-lagi Ichigo berhasil meraih tangannya dan menariknya hingga Rukia kembali berada dihadapan Ichigo.
"Ada apa denganmu, Rukia? Kenapa tiba-tiba kau bertingkah seperti ini?" tanya Ichigo yang berusaha mendapat penjelasan dari gadis bermata amethyst itu. Tangannya masih menggenggam erat pergelangan tangan Rukia, Ichigo tidak mau melepaskannya walaupun Rukia terus berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman Ichigo.
"Lepaskan aku, Ichigo!" Rukia masih berusaha agar Ichigo mau melepaskan tangannya.
"Rukia, katakan ada apa? Aku hanya ingin-"
"Cukup, Ichigo! Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun darimu! Sekarang aku minta padamu, tinggalkan aku sendiri!"
Dengan kasar Rukia menarik tangannya dan membuat cengkraman Ichigo terlepas. Pemuda berambut orange itu kembali berusaha meraih tangan Rukia.
"Rukia, aku hanya-"
"Sudahlah, Ichigo. Mulai sekarang, jangan ganggu aku lagi. Aku benci padamu!" kata Rukia terakhir kali sebelum dia berlari memasuki rumahnya. Meninggalkan Ichigo yang masih terpaku dengan kata-kata Rukia barusan.
'A-apa yang terjadi sebenarnya?' batin Ichigo yang masih tidak mengerti kenapa sikap Rukia berubah seperti ini.
'Apa salahku hingga membuatmu membenciku, Rukia?'
.
.
.
Rukia mengunci pintu kamarnya rapat-rapat. Mengabaikan Hisana yang mengkhawatirkannya karena tiba-tiba Rukia sudah menangis saat dia memasuki rumah. Rukia tidak memperdulikan kakaknya yang terus memintanya untuk membuka pintu kamarnya. Tubuh mungilnya langsung merosot begitu saja dibalik pintu. Air mata mengalir deras membasahi pipi putihnya.
"Aku benci padamu, Ichigo..." gumam Rukia ditengah tangisnya.
.
.
Sudah hampir dua jam berlalu sejak pertengkarannya dengan Ichigo tadi. Rukia masih terus terisak sambil memeluk boneka kelinci pemberian dari Ichigo.
"Apa yang aku lakukan ini benar?" Rukia semakin mempererat palukannya pada boneka kelinci itu. Dia tidak pernah bermaksud untuk mengatakan kalau dia membenci Ichigo. Bahkan sebaliknya, ia sangat menyayangi Ichigo.
Drrrrttt... Drrrttt...
Getaran ponsel dari dalam sakunya membuat Rukia tersentak kaget.
Dilihatnya layar ponsel itu.
Incoming call...
Yuzu
"Yuzu?" Rukia mengerutkan keningnya. Kenapa tiba-tiba Yuzu menelfonnya? Tanpa banyak berpikir lagi, Rukia segera mengangkatnya.
"Ya, Halo?"
"Hiks... Hiks... Rukia-nee..."
.
.
.
-To Be Continue-
.
.
.
Yeeyyy...
Aira kembali lagi...
#nebar bunga
Bhaahhh... Kenapa fict ini jadi makin gaje ya?
#plaakkk
Nggak bisa komen deh untuk chapter ini...
Reader-sama saja yang komen...
Oh iya, dan dengan adanya chapter ini, saya beritahukan bahwa mungkin chapter depan adalah chapter terakhir dari fict ini. ^_^
Ya baiklah, walaupun begitu, tapi sekali lagi Aira mohon REVIEW dari para reader, ya. ^_^
Yap. Review? Kritik? Saran? Flame?
Saya terima... ^_^
Karena Aira sadar kalau fic ini masih banyak kekurangannya.
~Aira Yuzuriha~
