Minna-san...

Aira datang membawa chapter 6...

Dan ini adalah chapter terakhir dari fict ini...

Okelah, langsung saja ya...

Mind to RnR... ^^

Disclaimer : Sampai kapan pun Bleach akan selalu milik Tite Kubo-sensei.

Pairing : Ichigo K. & Rukia K.

Warning : OOC, Typo berterbangan (?), Gaje, Abal, Alur gak karuan, Penulisan kembali hancur, dll, dst, dkk, dsb, dan bla bla bla bla (?).

Don't Like, Don't Read.

.

.

"Apa yang aku lakukan ini benar?" Rukia semakin mempererat pelukannya pada boneka kelinci itu. Dia tidak pernah bermaksud untuk mengatakan kalau dia membenci Ichigo. Bahkan sebaliknya, ia sangat menyayangi Ichigo.

Drrrrttt... Drrrttt...

Getaran ponsel dari dalam sakunya membuat Rukia tersentak kaget.

Dilihatnya layar ponsel itu.

Incoming call...

Yuzu

"Yuzu?" Rukia mengerutkan keningnya. Kenapa tiba-tiba Yuzu menelfonnya? Tanpa banyak berpikir lagi, Rukia segera mengangkatnya.

"Ya, Halo?"

"Hiks... Hiks... Rukia-nee..."

.

.

-Silver Ring-

.

.

_Chapter 6_

.

.

"Ada apa, Yuzu?" tanya Rukia pada Yuzu. Rukia tahu kalau gadis itu saat ini sedang menangis, karena isakannya dapat didengar dengan jelas oleh Rukia.

"Hiks... Rukia-nee... Hiks... Ichi-nii..." jawab Yuzu lagi masih menggantung.

"Ada apa dengan Ichigo?" Rukia masih berusaha untuk bersikap tenang, walaupun perasaannya mulai tidak enak sekarang.

"Ichi-nii hiks, Ichi-nii sekarang berada di rumah sakit... hiks, tadi sebelum Ichi-nii pingsan hiks, dia memanggil nama Rukia-nee..."

"A-apa? Di rumah sakit? A-apa yang terjadi padanya?" Sepertinya sekarang Rukia tidak bisa lagi menyembuyikan rasa khawatirnya. Namun, bukannya langsung menjawab, tangisan Yuzu malah semakin kencang. Isakannya semakin jelas terdengar di telinga Rukia. Membuat Rukia semakin merasa kalau ada hal buruk yang terjadi pada Ichigo sekarang.

"Yuzu, kumohon katakan ada apa dengan Ichigo?" tanya Rukia lagi. Suaranya mulai terdengar bergetar.

"Hiks... Ichi-nii... sakit... hiks..."

"Sakit? Yuzu, sebenarnya ada apa?"

"Ichi-nii... hiks... hiks... mengidap kanker otak... hiks..."

Saat itu juga waktu serasa berhenti bagi Rukia. Apa yang didengarnya barusan seakan membekukan udara disekitarnya.

"A-apa... Ti-tidak mungkin..."

.

.

xXxXxXx

.

.

Rukia memacu langkahnya untuk berlari melalui koridor rumah sakit. Air matanya tidak bisa berhenti mengalir. Hampir saja dia bertabrakan dengan para perawat dan beberapa orang lainnya. Rukia bahkan tidak sempat untuk meminta maaf. Rukia terus saja berlari, namun kenapa rasanya koridor ini panjang sekali sih?

Kembali air matanya mengalir dari iris violetnya. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya Ichigo, Ichigo, dan Ichigo.

"Dasa bodoh." Rukia masih berusaha untuk menghapus air mata dengan tangannya. Namun kenapa air mata ini tidak bisa berhenti mengalir?

"Kau bodoh, Ichigo! Kenapa kau tidak pernah menceritakan ini padaku?"

"Bodoh! Bodoh! Bodoh!"

.

.

"Bagaimana keadaannya, Sensei?" tanya Isshin langsung menghampiri Unohana yang baru saja keluar dari ruang gawat darurat.

Begitu juga Masaki yang juga ikut menghampiri dokter wanita tersebut.

"Sebelumnya kami minta maaf..." Unohana tidak langsung melanjutkan kalimatnya. Ia memandang suami istri di depannya ini sesaat. Unohana menghembuskan nafas perlahan sebelum melanjutkan kalimatnya.

"Kami sudah berusaha sebisa mungkin, namun kondisi tubuhnya memburuk lebih cepat dari yang saya perkirakan. Jika terus begini, maka... kita tahu kemungkinan yang terburuk."

Setelah mendengar kata-kata dari Unohana tadi, Masaki langsung menangis sejadi-jadinya.

"Saya mohon, Sensei. Tolong lakukan sesuatu. Apa benar sudah tidak ada cara lagi untuk menolongnya? Tidak bisakah dengan operasi atau apapun, tolong selamatkan Ichigo," kata Isshin yang kini telah memeluk Masaki yang tidak hentinya menangis.

"Walaupun dilakukan operasi, tapi saya tidak bisa menjamin kalau kemungkinan untuk berhasil bisa lebih dari dua persen."

Hening.

Tidak ada yang sanggup menjawab perkataan dari dokter wanita itu. Dua persen? Yang enar saja? Itu sama saja halnya dengan 'pasti gagal', kan?

Masaki masih terus menangis dalam pelukan suaminya. Sementara Karin berusaha menenangkan Yuzu, walaupun air matanya juga tidak bisa berhenti dari tadi.

"Tapi jika Anda menginginkan untuk melakukan operasi," Unohana kembali bersuara, "kami semua akan berusaha unt-"

"Tidak perlu, Sensei." Kali ini Masaki yang bersuara. Membuat semua mata memandangnya dengan heran.

"Bukankah tadi Sensei yang mengatakan kalau kemungkinan untuk berhasil tidak lebih dari dua persen?" kata Masaki masih dengan air matanya yang berlinang.

"Itu sama saja halnya dengan tidak ada harapan, kan?"

"Kalau memang Ichigo harus pergi... Hiks... Setidaknya jangan buat dia pergi dengan membawa rasa sakit. Hiks... Aku tidak ingin tubuhnya semakin tersiksa dengan semua itu. Kumohon... Dia sudah cukup menderita selama ini, hiks... Aku tidak ingin putraku tersiksa lagi lebih dari ini... Aku selalu ingin agar Ichigo terbebas dari semua rasa sakitnya, aku berjanji akan melakukan apapun untuk itu... Hiks... Walaupun... walaupun aku harus merelakannya... Asalkan hal itu bisa membuat putraku tidak lagi merasa tersiksa karena sakit yang dia rasakan, kenapa tidak? Hiks... Aku tidak ingin dia semakin menderita..."

Isshin semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh istrinya yang bergetar.

"Sensei... bolehkah kami melihat keadaannya?"

Unohana hanya mengangguk dan membiarkan mereka masuk.

Tangis Masaki kembali pecah saat dia melihat Ichigo. Bagaimana tidak? Ibu mana yang tega melihat putranya meregang nyawa?

"Ichigo..." panggil Masaki perlahan. Dan sepertinya Ichigo dapat mendengar panggilan dari ibunya sehingga dia mulai membuka mata.

Pandangan mata hazel itu begitu sayu. Dan skleranya juga tidak sebening dulu.

"I-bu..." kata-kata Ichigo begitu pelan sehingga Masaki harus semakin mendekatkan dirinya untuk bisa mendengar apa yang dikatakan Ichigo.

"Ma-maafkan aku... Aku sudah membuat ibu menangis..."

"Kau tidak perlu minta maaf, Ichigo." Masaki membelai lembut kepala Ichigo. "Semua pasti akan baik-baik saja."

Ichigo hanya mengangguk lemah sambil berusaha untuk tersenyum.

Bahkan ayahnya yang biasanya banyak bicara dan konyol itu tidak mampu mengatakan apapun.

Ichigo melihat kedua adiknya yang masih menangis.
"Hei... Ke-napa kalian menangis?"

"Hiks... Hiks... Ichi-nii..."
"A-aku baik-baik saja... Ja-jangan menangis lagi, ya..."

Tidak ada lagi kata-kata yang keluar dari kembar Kurosaki tersebut. Hanya isakan tangis mereka yang terdengar.

"Ru...kia..." gumam Ichigo sangat pelan, namun bisa ditangkap oleh pendengaran keluarganya.

Masaki melirik kearah Yuzu.

"Ta-tadi aku sudah menghubungi Rukia-nee..." kata Yuzu menjawab tatapan mata ibunya.

"Rukia-chan pasti kemari, Ichigo... Bersabarlah sebentar lagi, ya," kata Masaki memandang Ichigo dengan air matanya yang masih terus mengalir.

"Te-terima... k-kasih..."

"I-ibu... temani aku... disini..." Masaki mengangguk cepat mendengar permintaan putranya itu.

"Ya, Ichigo. Ibu disini, ayahmu, Karin dan Yuzu. Kami akan selalu menemanimu."

Ichigo tersenyum. Kali ini Masaki bisa melihat senyuman itu dengan jelas.

"Terima kasih..."

Masaki menggenggam tangan Ichigo begitu erat. Dia kini bisa melihat wajah putranya yang telah memejamkan mata. Terlelap begitu dalam. Hazel itu kini telah menutup sempurna.

Dengungan panjang dari elektrokadiograf yang kini hanya menampakkan garis lurus membuat anggota keluarga Kurosaki ini menyadari satu hal.

"Ichi-nii!" jerit Karin dan Yuzu bersamaan memeluk tubuh kakaknya.

"Selamat jalan, Ichigo... Kami semua menyayangimu..." Masaki mencium kening Ichigo begitu lama. Suaranya bergetar seiring dengan air mata yang mengalir deras dari matanya.

Ya, dengan begini pemuda itu tidak akan merasakan sakit yang selalu menyiksanya lagi.

.

.

xXxXxXx

.

.

Rukia terpaku begitu dirinya memasuki ruangan dan mendapati Yuzu yang langsung memeluknya dan menangis tersedu-sedu. Bukan hanya Yuzu, tapi semua yang ada dalam ruangan itu juga sama.

"Rukia-nee... Hiks... Ichin-nii sudah... Hiks..." Yuzu tidak melanjutkan kalimatnya. Tapi sepertinya Rukia sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Yuzu barusan.

"Tidak mungkin..." air mata Rukia meleleh melihat kekasihnya yang kini tengah terlelap. Begitu dalamnya hingga Rukia menyadari bahwa pemuda itu tidak akan terbangun lagi.

Rukia tidak ingin percaya dengan apa yang kini dilihatnya.

'Ini mimpi, Ini mimpi,' batin Rukia berteriak meyakinkan. Berharap bahwa ini semua hanya mimpi buruk yang akan hilang saat dia terbangun nanti. Namun, apa yang dilihat Rukia bukanlah sebuah mimpi.

Pemuda yang sangat dicintainya itu kini benar-benar telah meninggalkannya. Rukia tidak akan bisa lagi melihat sepasang hazel yang menatapnya dengan lembut dan penuh cinta. Tidak bisa lagi melihat senyumannya. Tidak bisa lagi merasakan belaian lembut dari orang yang sangat dicintainya. Semua hal yang begitu indah itu telah berlalu. Karena bagaimanapun Rukia menginginkannya, Ichigo tidak akan bisa lagi membuka matanya.

Ya Tuhan, kalau saja Rukia tahu pertemuannya dengan Ichigo beberapa jam lalu adalah pertemuan terakhir mereka. Rukia tidak akan mengatakan hal yang begitu melukai hati pemuda itu. Ingin rasanya Rukia mengembalikan waktu hanya untuk mengatakan betapa di mencintai Ichigo. Namun, itu mustahil, kan?

"Maafkan aku, Ichigo..."

.

.

Rukia termenung sendiri dalam kamarnya. Matanya tampak basah karena baru saja tergenangi air mata. Sudah dua minggu berlalu sejak kepergian Ichigo. Namun gadis itu tidak pernah terlepas dari rasa penyesalannya. Bahkan dua minngu ini tidak ada hari yang dia habiskan tanpa air mata.

Amethyst-nya melihat sebuah kotak berwarna violet dengan sebuah pita merah muda di atasnya. Sesuatu yang diberikan oleh Yuzu setelah hari pemakaman Ichigo. Yuzu mengatakan kalau sebelum Ichigo meninggal, dia bersikeras ingin menemui Rukia untuk memberikan ini. Hanya untuk ini, tapi yang Ichigo dapat adalah perlakuan kasar dari Rukia.

Rukia tidak hentinya memaki dirinya sendiri yang begitu bodoh karena dengan mudahnya terbawa emosi.

Perlahan Rukia turun dari dari ranjangnya menuju meja rias dimana kotak itu berada. Kepalanya begitu pusing tapi dia tetap melangkahkan kakinya.

"Ughh." Rukia mengeluh pelan saat merasa perutnya begitu mual.

Cukup lama violetnya memandangi kotak violet itu ditangannya. Saat membukanya, Rukia menemukan sebuah surat dan kotak kecil lagi didalamnya. Kali ini berwarna merah.

Rukia membuka surat itu dan membacanya.

'Hai, Rukia.

Selamat ulang tahun, ya...

Maaf, akhir-akhir ini ada yang aku sembunyikan darimu. Aku menemui Inoue tanpa mengatakannya padamu. Maafkan aku, ya.

Dan, oh ya. Karena aku tidak terlalu mengerti dengan apa yang diinginkan oleh permpuan. Jadi aku meminta bantuan pada Inoue untuk memilihkan hadiah ini.

Aku mencintaimu, Rukia.'

"A-apa? Jadi aku sudah salah paham padanya."

Dengan cepat Rukia mengambil kotak kecil yang berwarna merah itu dan membukanya. Seketika itu juga air mata Rukia mengalir deras.

Didalamnya terdapat sebuah cincin perak yang begitu indah.

"Ja-jadi ini untukku... Bukan Orihime..."

Rukia menjerit dan menangis sejadi-jadinya memanggil nama Ichigo.

"Ichigo... Maafkan aku..."

.

.

-Flashback –End-

.

.

Salju mulai berhenti turun, namun Rukia masih belum beranjak dari tempatnya.

"Ibu!" panggilan dari seorang anak laki-laki yang berumur sekitar sembilan tahun memecahkan lamunan Rukia.

"Hikaru." Rukia segera menghapus air matanya saat melihat anak itu berlari ke arahnya. Anak laki-laki dengan rambut berwarna orange dan bermata hazel. Sangat mirip dengan Ichigo.

Ya, satu minggu setelah kepergian Ichigo, untuk pertama kalinya Rukia mengetahui kalau dirinya tengah mengandung. Sejak saat itu, Rukia berjanji akan selalu melindungi anaknya. Buah cintanya dengan Ichigo.

"Ibu, selamat ulang tahun," kata anak itu, Hikaru, tersenyum lebar sambil memberikan setangkai bunga lily putih pada Rukia.

"Terima kasih, sayang." Jawab Rukia yang lansung memeluk anaknya. Sementara Hikaru hanya mengangguk senang dan duduk di pangkuan Rukia.

"Ibu? Ibu habis menangis?" tanya Hikaru saat melihat mata Rukia yang memerah.

"Tidak, sayang. Tadi mata ibu kemasukan debu," jawab Rukia sambil tersenyum.

"Ibu ingat ayah lagi?" tanya Hikaru lagi yang membuat tangis Rukia kembali pecah.

"Ibu jangan menagis, ya. Hikaru berjanji, Hikaru akan melindungi dan menyayangi ibu seperti yang dulu dilakukan ayah. Jadi ayah juga tidak perlu khawatir lagi. Bukankah ibu yang bilang kalau ayah sekarang sudah tenang di surga?"

"Yah, kau benar." Rukia mengangguk dan mengusap air matanya. Dia tersenyum dan mencium pipi anaknya dengan penuh kasih sayang. Hikaru bagaikan cahaya dalam hidup Rukia. Dan Rukia takkan pernah membiarkan cahaya itu padam.

"Ibu, ayo kita pulang. Hawa disini semakin dingin," ajak Hikaru yang lalu berjalan mendahului Rukia.

Rukia segera bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menyusul putranya.

Sementara itu, sesosok orang memperhatikan mereka dari tempat Rukia tadi. Sosok itu tersenyum dan mengucapkan sesuatu.

"Terima kasih, Rukia."

Bersamaan dengan angin yang berhembus perlahan, sosok itu pun menghilang.

Rukia berhenti melangkah saat merasakan angin yang berhembus melewati tubuhnya. Dia menoleh ke belakang dan sebuah senyum terukir di wajah cantiknya.

"Terima kasih, Ichigo. Terima kasih atas semua yang telah kau berikan padaku. Sampai kapanpun aku akan selalu mencintaimu," kata Rukia pelan.

"Ibu, kenapa berhenti?" Kali ini Hikaru menarik tangan Rukia dan membuat Rukia kembali melanjutkan langkahnya.

'Ya, selamanya aku akan tetap mencintaimu.'

.

.

Silver Ring –End-

.

.

Minna-san~ _

Aira kembali...

Akhirnya selesai juga fict ini.

Maaf banget kalau ceritanya jadi makin aneh. Dan endingnya kurang memuaskan.

Hontou ni gomenasai...

Ya baiklah, walaupun begitu, tapi sekali lagi Aira mohon REVIEW dan komentar dari para reader, ya. ^_^

Yap. Review? Kritik? Saran? Flame?

Saya terima... ^_^

Karena Aira sadar kalau fic ini masih banyak kekurangannya.

~Aira Yuzuriha~