Chapter 3

Fanfic : Jidat, Sayangku…

Author : Naumi Megumi

Pairing : SasuSaku, NaruHina

Rate : T

Genre : Romance/Friendship/Humor/Hurt

Disclaimmer : Naruto milik Mashashi Kishimoto

Jidat Sayang… hanya milikku, untuk selamanya

Warning : OOc banget, Gaje, Typo, abal, Update tak tentu, bahasa yang nggak sesuai EYD dan hanya terima FLAME YANG MEMBANGUN!

Summary : Sasuke adala cowok dingin dan tertutup, sedangkan Sakura adalah cewek yang periang. Dan bagaimana caranya kedua insang ini bersatu? Ayo buruan baca kisah cinta antara Sasuke dan Sakura dalam fanfic Jidat, sayangku…!

Terinspirasi dari komik jepang yang berjudul "Electric Daisy" atau "Dengeki Daisy" karangan Motomi Kyousuke. Aku Cuma ambil dikit kok.

Ini juga salah satu novel-ku yang aku jadiin fanfic, jadi apabila ada nama yang belum ke-edit mohon maaf ya.

Disini aku pakai Sakura's POV dari awal sampai seterusnya. Makasih yang sudah RnR ya…

Yowes lah, ayo gek baca!

Don't like don't read

Jangan lupa RnR-nya

Happy Reading

Jidat, Sayangku….

Chapter 3

Sendiri kutelusuri jalan yang beraspal menuju terminal Bus. Begitu sepi…..hehe…dramatis banget ya.

Akhirnya dari perjalanan yang sangat melelahkan ini, aku melihat terminal Bus yang sedari tadi menunggu kedatanganku (emang dari dulu thu terminal disitu kale').

Aku segera duduk…capek sekali rasanya. Perasaan kemarin-kemarin nggak secapek ini deh. Ya iyalah orang kemarin naek Taksi. Tinggal panggil, datanglah taksi. Tapi sekarang ini aku harus hemat.

Ada sesorang laki-laki yang duduk disampingku. Aku melihatnya..hiii…sereemmm…! aku menggeser dudukku menjauhinya. Dengan perasaan dag dig dug duer, aku terus menunggu Bus dengan laki-laki itu. Hanya aku dan laki-laki itu. Ingat ini bukan kencan!

Setelah sekian lama aku menunggu, akhirnya Bus-nya datang juga. Aku berdiri dari kursi dan bersiap masuk Bus. Dan tiba-tiba….tasku direbut, lebih tepatnya dijambret,sial! ternyata laki-laki itu penjembret..!

"sial sial sial!" rutukku.

"Jambret!" teriakku keras-keras sambil mengejarnya. Semakin cepat langkah laki-laki itu hingga semakin jauh pula jarak kami.

Tiba-tiba…laki-laki itu terjatuh. Ada seseorang yang memukulnya. Siapa? sepertinya seorang cowok juga. Aku melihat jambret itu balas memukul cowok. Sayang sekali cowok itu tidak bisa menghindar. Aku sebut 'cowok' karena kayaknya orang itu masih muda. Hehe.

Wow, cowok itu dikeroyok teman-teman jambret itu, sial! jambret itu memanggil teman-temannya. Aduh Dasar pengecut! kasihan sekali cowok itu dikeroyok banyak jambret. Haduh gue harus nolong dia. ehm…banyak sih, kira-kira aku bisa nggak ya? Ah coba dulu dech.

Aku pun menghampiri cowok yang dikeroyok itu. Jeng jeng jeng

"He, jangan maen keroyok donk! Dasar kalian pengecut!" tantangku pada kumpulan jambret itu. Bodo amat. Mau banyak kek, mau 1 RT kek, mau kakek kek, Bodo'!

"He, loe itu Cuma seorang cewek. Mau apa loe?" tanya jambret itu dengan ganasnya.

"Enak aja loe. Loe njambret tas gue dan sekarang loe tanya mau gue apa? ya jelas gue mau tas gue balik lah! Masak mau nglamar kerja!" makiku. Habis aku jengkel sama tu jambret. Nggak tau diri banget.

"Ow..mau ambil tas loe? mana gue tahu. Tu tas loe ada di dia." Kata jambret itu sambil menunjuk ke arah cowok yang tadi memukul jambret itu.

Aku pun mengalihkan pandanganku mengikuti arah jari jambret. Ow ow ow….jadi Irvan yang sudah merebut tasku dari jambret itu. Hah? apa? Irvan? ini bener-bener Irvan. Cowok yang nolong aku ternyata Irvan. Bahkan sampai babak belur segala.

"Ow..berarti urusan kita sudah selesai kan. Hehehe…" ucapku tersenyum canggung. Sangat jelek sekali.

"Cengar cengir! gue udah susah payah njambret..eh..malah gagal."

DL…Derita loe…hahah…siapa suruh jadi jambret.

"Kita damai aja ya? peace..hehe" ucapku sampil menunjukkan jari tengah dan lelunjukku membuat huruf 'V'. Cari aman.

"Enak aja loe bilang!" bentak jambret itu.

"Eh elu juga kalau ngomong yang enak didengar aja. Itu tas-tas gue. Itu hak gue. Lagian ngapain loe pake njembret tas gue? menurut hukum Fiqih, gue berhak mengambil milik gue lagi. Bla bla bla…" aku teus berceramah.

"Gue nggak peduli!" potong jambret itu.

"Gue juga nggak peduli!" tantangku.

"Ow…jadi loe nantang gue, ha?" jambret itu pun semakin marah…bodo' amat lah. Gue berhak mempertahanin hak gue. Sialan tu jambret marah-marah nggak jelas ma gue.

Hah…aku capek ngomong ma orang yang nggak punya pendidikan. Nggak pernah makan bangku sekolahan. Gue aja udah habis 5 bangku di sekolah.

"Ayo sini, kalu berani!" tantangku. Gue nggak takut.

"Semuanya! Serang cewek itu!" seru jambret itu memerintahkan anak buahnya. Para jambret itu menyerbuku, aku sudah siap-siap, pasang ayam-ayam..eh, maksudku pasang kuda-kuda.

Hyaaaa…..

Eh…ada apa ni?

Tiba-tiba tanganku ditarik seseorang. Dan mengajakku a….bukan lebih tepatnya menyeretku lari menghindar dari jambret-jembret sialan itu. Aku hanya diam saja. Coba tanganku tidak ditarik, aku pasti sudah menghajar jambret-jambret itu. Mampus-mapus deh tu jambret, masuk rumah sakit. Hah, si ayam pake ngajak gue lari segala.

"Senpai, kenapa lari sih?" tanyaku sambil terus berlari.

"Loe cari mati, ha?" serunya keras.

"Aku nggak cari mati. Aku yakin pasti mereka kalah dech." Ucapku dengan Pe-Denya.

"Malah sebaliknya, bodoh!" maki Sasuke ayam lagi. Huh….cowok ini menyebalkan sekali.

Sasuke, loe nggak tau aja gue. ,kalau gue jengkel, gue masukin Rumah Sakit juga loe.

"Taksi!" teriak Sasuke memanggil Taksi.

Kami lalu masuk Taksi.

"Rumah loe mana?" tanya Sasuke.

"Ehm…mau apa?"

"Ya anterin loe lah!"

Nggak perlu teriak begitu kale'. Biasa aja.

"Nggak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Aku mau turun!" pintaku. Aku mendorong Sasuke saking jengkelnya.

"Aduh!" pekik Sasuke.

Wih…pasti sakit. Beneran dech. Aku nggak sengaja. Aku lupa kalau Sasuke terluka.

"Sorry…Aku nggak sengaja." Ucapku dengan menyesal.

"Sakit tau!" serunya.

"Iya. Aku kan udah minta maaf. Aku nggak sengaja Senpai." Ucapku lagi.

Sensi amat ni orang. Gue bejek-bejek juga ni orang, tapi kasian juga sih. Sasuke kan udah nolongin aku.

"Loe pulang aja sendiri! gue nggak jadi anterin loe pulang !" rajuk Sasuke.

"Nggak pa-pa. Aku aja yang nganterin Sasuke~Senpai pulang." Pintaku.

"Hello…? Loe udah nggak waras ya? mana ada cewek nganterin cowok pulang?"

"Sasuke~Senpai, aku kan Cuma mau balas kebaikan Sasuke~Senpai karena udah nolongin aku tadi." Ucapku sok imut.

"Ow iya juga ya. Kalau loe nggak gue tolong, loe bisa mati karena udah 'sok' di depan para jambret itu, ya kan?" ucap Irvan sombong. Iih.. sombong amat dia. Tau kayak gini tadi aku tinggalin aja dia pas dikeroyok jambret-jambret itu.

Aku niat baek eh malah diejek kayak gini. Baru juga nolongin sekali, tapi sombongnya minta ampun. Gue baik karena pengen balas budi ama loe, Yam. Bukan karena apa-apa.

"Pak, tolong ke Jl. Teratai No. 58 ya?" pinta Sasuke pada supir taksi itu. Ternyata Sasuke bisa bilang 'tolong' juga ya..hem..

"Baik, Tuan." Jawab supir taksi itu.

"Ni tas loe." Sasuke memberikan tasku yang tadi ia rebut dari jambret tadi dengan dingin. Ingat dengan dingin.

"Makasih, Sasuke~Senpai." Ucapku.

"Jangan bilang-bilang alamat gue ke anak-anak sekolah lho!" larang Sasuke.

"Iya-iya. Lagian siapa juga yang bakal nyari Sasuke~Senpai." Jawabku.

"Enak aja. Yang nyari gue itu banyak tau. Apa lagi para cewek-cewek." Ucapnya dengan bangga.

"Iih..Ge-Er banget sih Sasuke~Senpai."sanggahku.

"Lho,emang bener kok." Sasuke membenarkan.

Iya sih, tapi nggak usah sombong kayak gitu kale'.

"Ini Pak, uangnya. Sekalian antar cewek ini pulang ya…?" pinta Sasuke sambil membungkuk setelah keluar dari taksi.

"Yang Sasuke~Senpai maksud siapa?" tanyaku yang sudah berada di luar di belakang Sasuke.

"Lho, ngapain kamu disini? loe itu harus cepat pulang!" Sasuke mendorongku.

"Sasuke~Senpai apa-apaan sih? Aku kan mau mampir sebentar." Jawabku.

"Yang ngijinin loe main ke rumah gue siapa, ha?" tolak Sasuke

"Aku mau sendiri, dengan senang hati, Senpai."

"Dengan senang hati..dengan senang hati. Loe kira rumah gue pasar malem apa? Main mampir-mampir aja." Tolak Sasuke lagi.

"Aku mau balas budi sama Sasuke~Senpai. Masak' nggak boleh sih? Aku obatin luka Sasuke~Senpai ya?" rayuku.

Ayolah, boleh..boleh…

"Ehm..baiklah, tapi sebentar aja. Jangan lama-lama. Apalagi pake nginep."

"Ye..siapa juga yang mau nginep. Aku juga punya tempat tinggal…." 'walaupun hanya numpang di panti,' lanjuku dalam hati.

Sasukelalu masuk ke rumah, aku mengikutinya dari belakang.

Begitu aku masuk rumahnya ternyata Sasuke orang kaya.

"Kamu duduk aja dulu." Katanya.

"Ok." Jawabku singkat.

Aku lalu duduk di sofa ruang tamu. Sementara Sasuke masuk ke dapur, kayaknya, kan aku nggak tau letak dapur itu dimana.

Tidak lama kemudian, Sasuke kembali dengan membawa nampan yang berisi kotak P3K dan 2 gelas air putih. Ha..? Cuma air putih doank. Ckckck..kayaknya sih orang kaya tapi kok minumnya air putih.

"Sasuke~Senpai tinggal sama siapa?" tanyaku basa-basi. Aku juga penasaran sih dengan kehidupan Sasuke. Katanya Hinata, Sasuke itu adalah orang misterius. Apa bener?

"Sendiri." Jawab Sasuke singkat.

"Di rumah sebesar ini? Apa nggak kesepian?" tanyaku sambil melihat sekeliling ruangan.

"Kadang Naruto ke sini nemenin gue."

Nemenin? Jangan-jangan bener lagi kalau mereka Gay. Hiii…

"Ni kotak obatnya." Sasuke menyodorkan kotak obat tadi padaku.

"Buat apa?" tanyaku sok binggung.

"Katanya mau ngobatin luka gue? Gimana sih?"

"O..iya ya. Aku lupa. Sorry." Emang sengaja. Hehe…

"Dasar."

Aku mengobati luka Sasuke. Banyak memarnya. Di pipi, di dahi, di lengan. O ya aku teringat sesuatu….

"O ya, Senpai. Tadi di sekolah Sasuke~Senpai bener-bener sakit?" tanyaku penasaran.

"Kenapa loe tanya-tanya?"

"Nggak, cuma pengen tanya aja."

"Berarti nggak perlu gue jawab'kan."

Huh…dasar pelit informasi!

"Huh, begitu aja pelit!" aku menepuk bahu Sasuke kesal.

"Aw!" seru Sasuke.

"Eh sorry. Pasti bahu Sasuke~Senpai juga sakit. Aku buka ya?"

"Nggak usah!" tolak Sasuke mentah-mentah.

"Biar gue obatin sendiri" lanjutnya.

"Nggak pa-pa. Nggak usah malu."

Kenapa sih? Nggak biasanya Sasuke kayak gini.

"Aku buka ya? Daripada ntar membengkak." Aku perlahan membuka kancing sragam Sasuke. Dan melepasnya.

Ya ampun! di punggung Sasuke ada bekas luka dekat memar. Kayaknya cukup parah. Entah luka apa. Yang pasti bukan karna dikeroyok jambret-jambret tadi.

"Sasuke~Senpai, ini masih sakit?" tanyaku hati-hati, takut menyakiti perasaannya. Sok kemanusiawi ya?

"Nggak."

"Ow. Kalau boleh tau ini luka apa?" tanyaku pengen tahu.

"Sayangnya nggak boleh tu."

"Huh, dasar pelit."

"Udah, nggak usah banyak tanya. Cepetan obatin tu luka!" Perintah Sasuke.

"Iya iya. Bawel amat.

Aku meneruskan mengobati luka Sasuke ayam.

Ting Tong

"Ehm..ada tamu tu, Sasuke~Senpai." Ucapku.

"Biarin. Ntar juga dia masuk sendiri."

Maksud Sasuke siapa? Pasti sering kesini.

"He, Teme?" sapa seseorang. Aku pun menoleh.

Lho Naruto~Senpai?

"Wah ada Sakura~chan juga tow?" tanya Naruto~Senpai yang lebih tepatnya dibilang menggoda.

"Hy, Sakura~chan?" sapa Naruto~Senpai.

"Hy juga, Naruto~Senpai?" jawabku.

"Iya, tadi mampir karena dijambret." Jawab Sasuke.

"Ow.Wah, mesranya…" goda Naruto~Senpai.

Aku langsung menghentikan aktivitas mengobati luka Sasuke. Mesra apanya? Begitu pula Sasuke lalu menjauh dariku.

"Hahaha….bercanda. Kalian ini lucu kalau sedang malu." Kata Naruto~Senpai masih tertawa duduk diantara aku dan Sasuke.

"Aku tidak malu!"

"Gue Nggak malu!"

Serempak aku dan Sasuke mengucapkan kalimat yang sama.

"Wah kompaknya…" goda Naruto~Senpai lagi.

Apa sih maunya Naruto~Senpai ini ? bikin jengkel saja.

Aku lihat Naruto~Senpai berbisik lagi pada Sasuke. Sebenarnya ada apa sih?

"Ehem." Aku berdehem. Menyadarkan mereka tentang keberadaanku.

"Naruto~Senpai sudah lama kenal dengan Sasuke~Senpai?" tanyaku.

"Ehm…lama banget. Sejak di kandungan kami dah temenan." Canda Naruto~Senpai ni nggak bisa serius. Ditanya serius jawabnya malah becanda.

"Naruto~Senpai serius ni."

"Iya iya, Sakura sayang."

What? Naruto~Senpai panggil aku sayang? jadi Ge-Er aku. Hehe…

"Kami sudah kenal lama banget. Sejak TK kalau nggak salah. Kita sudah seperti saudara." Jawab Naruto~Senpai dengan jawaban yang masuk akal tentunya.

"Naruto~Senpai sama Sasuke~Senpai nggak ada hubungan yang 'spesial' kan?" tanyaku dengan menandai petik 'spesial'.

"Maksud kamu?" tanya Naruto~Senpai kurang paham.

"Ehm..maaf ya..maksudku kalian nggak Gay kan?"

"What?" Naruto~Senpai dan Sasuke saling memandang. Dan

"Wuhahaha…."

Eh? Mereka berdua malah tertawa. Kayak nggak punya dosa aja.

"Lho kenapa?" tanyaku binggung.

"Loe tanya aneh-aneh dech. Mana mungkin kita Gay. Kita masih normal, Saku~chan." Jelas Naruto~Senpai.

"Ya, aku kira aja. Habis kalian berdua selalu berdua. Jadi gimana gitu."

"Whahaha…." Mereka berdua tertawa lagi.

Aduh, malunya aku. Mending aku pamit pulang aja dech.

"Naruto~Senpai, aku pulang duluan ya?" pamitku.

"Lho, tuan rumahnya kan Sasuke bukan gue."

Sialan, Naruto~Senpai menolaknya mentah-mentah nggak pake digoreng dulu.

"Ehm.. Sasuke~Senpai, aku pulang ya?" pamitku.

"Terserah." Jawab Sasuke datar.

Sialan tu si ayam. Udah sopan-sopan eh malah cuek-cuek aja. Dasar cowok pemakan es. Satu kulkas aja tu sekalian dikunyah.

"Huh, ya udah. Aku pulang dulu!" aku lalu beranjak dari tempat dudukku.

"Ehm..tunggu, Saku!" cegah Naruto~Senpai.

Ada apa lagi sih?

"Ya?" jawabku.

"Biar tuan rumah yang mengantar tamunya pulang." Kata Naruto~Senpai.

"Apa?" Sasuke terkejut. "Gue harus antar dia pulang? Kenapa harus gue?" tanya Sasuke yang jelas-jelas nggak mau.

"Nggak usah. Aku bisa pulang sendiri." Tolakku.

Dia? Yang Sasuke maksud dengan 'dia' itu siapa? Aku? Hello…aku punya nama. Harumo Sakura. Ya kalau merasa kepanjangan bisa panggil Saku'kan. Susah amat sih.

Aku segera keluar dari rumah Sasuke yang besar itu.

"Sakura..!" panggil seseorang ari dalam rumah Sasuke dan tentunya itu bukan Sasuke ayam. Aku pun menoleh. Dan ternyata benar. Itu Naruto~Senpai

"Kalau tuan rumah nggak bisa, sahabat tuan rumah boleh kan?"ucap Naruto~Senpai.

Bukannya nggak bisa, Senpai. Tapi emang nggak mau. Aku senang dengan sikap Naruto~Senpai ni yang begitu baek denganku. Sudah lama aku tidak merasakan kebaikan seorang cowok yang lebih dewasa dari aku. Seperti Kakak sendiri.

"Boleh." Jawabku dengan senyum. Naruto~Senpai membalas senyumanku. Kami berdua lalu masuk ke mobil Naruto~Senpai.

Di mobil, aku hanya diam. Sebenernya apa sih maunya Sasuke? Dingin sama orang. Nggak bisa apa menghargai orang sedikit?

"Seebeellll!" seruku. Ups! keceplosan.

"Sebel sama siapa?" tanya Naruto~Senpai tersenyum ke arahku. Aku yakin Naruto~Senpai tau aku lagi sebel sama siapa.

"Naruto~Senpai pasti tau sendiri'kan?

"Ya, aku tau. Kamu sebel sama Sasuke kan?" tebak Naruto~Senpai.

"Dah tau nanya." Jawabku jutek.

"Jangan jutek gitu donk. Kan jadi jelek."

Biar aja jelek. Gue nggak peduli. Sasuek pantat ayam!

"Jangan diambil hati. Sasuke sebenarnya orang baik. Dia nggak niat nyakitin kamu kok." Ucap Naruto~Senpai.

Nggak sengaja gimana? Naruto~Senpai ini gimana sich?

"Sasuke sebenarnya hanya merasa keseppian. Sasuke mempunyai masa lalu yang sangat suram. Ia ingin melupakannya. Semenjak kejadian itu, Sasuke nggak pernah tertawa lepas. Dia menjadi dingin sama semua orang. Bahkan aku sendiri. Sulit menasehatinya. Oh ya, tadi itu dia bisa tertawa lho. Kemajuan dikitlah buat dia, itu berkat kamu, Saku~chan." Ucap Naruto~Senpai panjang lebar.

Sebenarnya apa sih yang dimaksud Naruto~Senpai dengan 'masa lalu yang sangat suram'? hah, susah ya memahami orang yang baru kita kenal.

.

.

.

.

.

TBc

Ok. Aku mohon Review-nya ya…

Makasih yang udah RnR…

Tunggu chapter selanjutnya ya. Dan sebenarnya apa maksud Naruto dengan 'masa lalu yang suram' itu? Kita liat chap selanjutnya..ok makasih banyak.

Balasan review: