Chapter 4
Fanfic : Jidat, Sayangku…
Author : Naumi Megumi
Pairing : SasuSaku, NaruHina
Rate : T
Genre : Romance/Friendship/Humor/Hurt
Disclaimmer : Naruto milik Mashashi Kishimoto
Jidat, Sayangku… hanya milikku, untuk selamanya
Warning :
OOc banget, Gaje, Typo, abal, Update tak tentu, bahasa yang nggak sesuai EYD dan hanya terima FLAME YANG MEMBANGUN!
Summary :
Sakura kena kasus! Dia dipanggil oleh guru BK. Apa yang sebenarnya terjadi ya? Ayo baca!
Terinspirasi dari komik jepang yang berjudul "Electric Daisy" atau "Dengeki Daisy" karangan Motomi Kyousuke.
Ini juga salah satu novel-ku yang aku jadiin fanfic, jadi apabila ada nama yang belum ke-edit mohon maaf ya.
Disini aku pakai Sakura's POV dari awal sampai seterusnya. Makasih yang sudah RnR ya…
Aku datang kembali. Hahay.
Maaf ya temen2, #mbungkuk2
Aduh, aku kelamaan yang update. Maaf ya.
Balasan review ada di bawah!
Yowes lah, ayo gek baca!
Don't like don't read
Jangan lupa RnR-nya
Happy Reading
Jidat, Sayangku….
Chapter 4
"Sasuke sebenarnya hanya merasa kesepian. Sasuke mempunyai masa lalu yang sangat suram. Ia ingin melupakannya. Semenjak kejadian itu, Sasuke tidak pernah tertawa lepas. Dia menjadi dingin dengan semua orang. Bahkan aku sendiri. Sulit menasehatinya. Oh ya, tadi itu dia bisa tertawa lho. Kemajuan dikitlah buat dia, itu berkat kamu, Saku~chan," ucap Naruto~Senpai panjang lebar.
Sebenarnya apa sih yang dimaksud Naruto~Senpai dengan 'masa lalu yang sangat suram'? hah, susah ya memahami orang yang baru kita kenal.
"Maaf, Senpai. Masa lalu apa?" tanyaku penasaran.
"Masa lalu….ehm…tanya aja sama Sasuke sendiri ya!" jawab Naruto~Senpai yang sebenarnya tidak menjawab sedikitpun pertanyaanku. Malah menyuruhku tanya pada Sasuke
"Huh," keluhku.
"Duh, jangan marah gitu donk. Bukannya aku nggak mau cerita tapi aku nggak mau cerita-cerita privasi orang," elak Naruto~Senpai cari alasan.
Lho, barusan dia cerita privasi orang. Ni orang bener-bener nggak waras. Memang di dunia ini banyak orang aneh ya.
"Aku cuma pengen biar Sasuke sendiri yang cerita. Aku pengen Sasuke lebih terbuka dengan orang lain. Seperti kau," ucap Naruto~Senpai lagi.
Aku? Kenapa harus aku?
Ehm…sebenarnya apa sih maksud Naruto~Senpai? Bikin nggak tenang aja.
"Sasuke~Senpai!" panggilku keras, hingga semua menoleh ke arahku. Bodohnya aku. Sasuke dan Naruto~Senpai lalu berhenti. Aku menghampiri mereka. Ya harus gimana lagi. Aku'kan sudah teriak nggak jelas.
"Apa," tanya Sasuke datar.
Huh, kalau nggak inget Sasuke gi sakit, udah aku lemparin ke ring basket tu orang.
"Ehm..lukanya dah sembuh?" tanyaku lembut.
"Apa peduli loe?" jawab Sasuke dengan kasar.
Iih…ni anak. Dibaekin, salah. Dikasarin, salah. Gue kunyah juga loe.
"Ya udah. Aku cuma nanya doang. Kelihatanya juga dah sembuh. Sembuh total!" sindirku.
"Huh." Keluhku lalu berbalik dan pergi dari TKP daripada makan ati. Bisa-bisa hati gue abis. Terus nggak bisa jaga emosi, bisa-bisa gue kunyah tu Sasuke. Mending balik ke kelas.
"Hei, Sakura-chan...?" sapa seseorang dengan suara yang amat super keras.
Wow, Hinata nyapa orang kok kayak nyapa beruang kutub. Emang kalau orang nyapa beruang kutub kayak gitu ya? nggak tau juga sih…hehe..
"He, Hin?" aku balik menyapa Hinata.
"Hin, ntar kita ke mall yuk?" ajak Hinata.
"Sorry, Hin. Gue nggak bisa. Males juga sih," tolakku secara halus.
"Ayolah, kita ke Timezone. Gimana?" bujuk Hinata.
Hah, sebenarnya aku males kalau harus jalan-jalan tapi demi temen, apa sih yang nggak. Ceile, sok banget.
"Iya dech, tapi jangan lama-lama ya?" pintaku memberi syarat.
"Sip dah," Hinata mengacungkan jempolnya.
Pulang sekolah, aku dan Hinata ke mall langsung bahkan kami masih pake seragam sekolah.
"Oh..ya, Hin. Gue belum punya no Hp loe nih. Gue minta dong," pinta Hinata.
Hah, Hinata Kalau aku punya Hp, nggak mintapun dah aku kasih. Tapi, sayangnya aku nggak punya.
"Gue nggak punya Hp kok," jawabku jujur dan santai. Kenapa harus sedih?
"Ow ya udah, nggak pa-pa. ayo kita main itu!" ajak Hinata mengganti topik. Aku suka sifat Hinata. Tidak pernah mengejek orang yang kurang mampu.
Aku dan Hinata main Game sampai puas. Hingga tidak terasa waktu sudah sore.
"Hin, gue ke toilet dulu ya? Inget, jangan kemana-mana!" pesan Hinata.
"Iya," jawabku menurut.
Hinata lalu pergi, sedangkan aku menunggunya di dekat Eskalator.
Beberapa menit kemudian.
Duh, lama banget sih Hinata perginya. Aku segera menyusulnya ke toilet, tapi tidak ada.
"Bruk!" seseorang menabrakku sambil berlari.
"Copet! Copet!" teriak seorang Ibu mengejar orang yang telah menabrakku tadi.
Ow..ternyata laki-laki itu copet. Emang ya, banyak kejahatan yang meraja lela di muka bumi ini. Kalau di kaki bumi ada nggak ya?
Sebenarnya yang mengejar copet itu cuma satu orang aja sih. Ya Ibu yang kecopetan itu sendiri. Rasa solidaritas para pengunjung kurang. Aku pun segera ikut mengejar copet itu.
Copet itu menuruni Eskalator. Ku percepat gerak kakiku. Akhirnya di lantai bawah, aku bisa menyamai langkah kakinya. Aku menghadangnya. Copet itu mulai mati kutu. Tapi tiba-tiba ia menarik seorang Ibu-Ibu pengunjung Mall dan menodongkan sebilah pisau ke leher Ibu itu.
"Tolong, jangan bunuh saya!" pinta Ibu itu ketakutan.
Syuing…
'Mama...!' tiba-tiba bayangan masa lalu terlibtas begitu saja. Saat aku kehilangan semua orang yang ku sayang. Aku merasa lemah, nggak! aku nggak boleh menjadi lemah! Bukan saatnya untuk sedih-sedihan. Aku harus menolong Ibu itu!
Perlahan aku mendekat.
"Jangan mendekat!" teriak copet itu sambil menodongkan pisaunya ke arahku. Reflek aku mundur. Lalu aku mencoba mendekat lagi.
Set.
Pisau itu lagi-lagi diarahkan ke wajahku, reflek aku melindungi wajahku dengan tanganku. Dan otomatis juga, pisau itu mengenai pergelangan tanganku. Keluarlah darah segar dari luka di pergelangan tanganku, perih tapi aku tidak akan menyerah.
Aku langsung memegangi tangan copet itu yang memegang pisau. Secara bersamaan, aku menarik tangan Ibu-Ibu itu supaya lepas dari cengkraman copet itu.
Saat aku lengah, copet itu malah menarikku dan mencengkramku. Huh..sial! Malah aku yang jadi sandra nggak pake Dewi lho. Tapi nggak pa-pa daripada orang lain yang jadi sandra.
"Semua jangan mendekat!" seruku.
"Aku bisa mengatasinya," ucapku tenang.
"Diem loe!" perintah copet merapatkan pisaunya ke leherku.
"Hey, Saku-chan?" sapa Naruto~Senpai yang tiba-tiba muncul di depanku dengan jarak kira-kira 2 meter.
Bruk!
Tiba-tiba suara seperti orang jatuh dan cengkraman pisau copet sudah menyingkir dari leherku. Ku lihat ke belakang ternyata copet itu jatuh dan Sasuke? Kenapa mereka bisa disini?
"Udah bosen idup ya?" seru Sasuke. Dan ucapannya itu sangat tidak enak didengar. Bukannya bilang 'hey Sakura, apa kabar?' gitu ke'. Eh malah bilang 'Udah bosen idup ya?' Emang siapa dia? Iya aku udah bosen idup karena liat wajah loe yang sok! Dasar Pantat Ayam!
Aku pun segera mengambil tas yang berada di tangan pencopet itu lalu mengembalikan kepada pemiliknya tanpa menanggapi ocehan Sasuke.
"Makasih, dek?" ucap Ibu pemilik tas.
"Iya. Sama-sama, Bu," jawabku ramah pada Ibu pemilik tas.
"Adek nggak pa-pa?"tanya Ibu-Ibu yang aku tolong tadi. Aku tolong? Jangan sombong, Sakura! Ya Ibu yang saat dijadikan sandra oleh si pencopet tadi gitu aja dech.
"Nggak pa-pa kok," jawabku sambil tersenyum.
"Tapi tangan adek berdarah begitu." Sekarang giliran Ibu pemilik tas yang biacara.
Oh iya, aku lupa kalau tanganku terluka. Yah, jadi inget dech, terasa dech sakitnya.
"Iya, dek," tambah Ibu yang disandra.
"Nggak pa-pa kok, Bu. Ini cuma luka kecil. Jadi….." aku tidak sanggup meneruskan ucapanku. Semua badanku lemas. Pandanganku kabur.
Bruk!
Terdengar suara seperti sesuatu terjatuh. Dan sepertinya aku yang terjatuh. Aku sudah tidak bisa merasakan sakit di tubuhku. Aku pun mulai kehilangan kedasaranku.
Kukerjab-kerjabkan mataku. Kulihat sekelilingku. Lho? Dimana ini? Aku bangun dan turun dari tempatku berbaring tadi. Aku tau kalau aku sekarang sedang ada di Rumah Sakit, karena aku'kan nggak bego-bego amat. Tanganku yang terluka juga sudah diperban, tapi pertanyaanku adalah siapa yang bawa aku kesini?
Aku berjalan menuju resepsionis.
"Maaf, ehm...saya mau tanya. Siapa yang tadi bawa saya kemari ya?" tanyaku pada kakak resepsionis.
"Tadi kayaknya yang bawa nona kemari adalah 2 orang cowok," jawab kakak resepsionis dengan ramah.
"Terus, sekarang mereka kemana ya?" tanyaku lagi.
"Ehm...kayaknya sih ke toilet."
"Owh. Terima kasih ya , kak. Oh ya, kalau mereka udah kembali, bilang saja kalau saya udah pulang ya. Makasih..." pesanku pada kakak resepsionis.
"Iya," jawab rsepsionis itu dengan senyum.
Aku segera keluar dan berjalan menuju panti. Oh ya, tasku mana? Duh, pasti dibawa mereka. Lagian orang sakit kok ditinggal-tinggal. Perginya berdua lagi. Nggak bisa apa sendiri-sendiri? Gimana gue nggak curiga kalau mereka itu nggak gay.
Naruto~Senpai! Sasuke! Dasar kalian cowok gila! Nggak waras! Bikin jengkel aja tu dua orang cowok.
Tu'kan aku jadi ngomel-ngomel sendiri. Itu kan nggak boleh. Nggak baek ditiru. So, jangan niru gue.
Klontang!
Kutendang kaleng yang ada di pinggir jalan.
Pyar!
Waduh! Gawat! Kaleng yang tadi aku tendang mengenai kaca mobil. Pecah nggak ya? Aku pun mendekati mobil itu. Pemilik mobil itu pun keluar.
Sasuke? Naruto~Senpai?
Hah, lagi-lagi mereka. Dunia ini terasa sempit.
"Saku-chan?" Naruto~Senpai pun mendekatiku.
"Eh, loe itu ya. Dimana-mana bisanya cuma bikin ulah aja!" maki Sasuke. Aku puas mecahin kaca mobil Sasuke. Sebenarnya nggak pecah sich, cuma retak sedikit. Mobil mahal sih, jadi nggak langsung pecah. Sial! Kenapa nggak sekalian pecah aja sih.
"Udah dong, teme!" Asik! Naruto~Senpai mbelain aku.
"Kamu kenapa pergi dari Rumah Sakit, Saku?" tanya Naruto~Senpai dengan nada lembut.
"Ya kalian sih. Orang sakit malah ditinggal. Berdua lagi perginya," jawabku.
"Sorry dech. Ayo masuk mobil," ajak Naruto~Senpai.
"Hah, kayak anak kecil aja harus diawasi terus," sindir Sasuke.
"Apa?" sahutku.
"Emang kita pengawal loe apa? Lagian pake sok nolongin orang segala!" ucap Sasuke dengan nada merendahkanku. Ih..ni anak..gue pites loe.!
"Biarin!" seruku.
Slep!
Aku membanting pintu mobil Sasuke saat masuk, biar lepas tu pintu. Tapi, lagi-lagi dasar mobil mahal sialan! cuma 'slep' bunyinya walau dibanting keras.
Kami semua masuk ke mobil Sasuke juelek. Aku duduk di belakang dengan Sasuke. Nggak tau kenapa, Naruto~Senpai ngotot banget mau nyetir.
"Kok diem sih? Tadi waktu Sakura kabur dari Rumah Sakit, loe marah-marah sendiri. Sekarang orangnya ada malah diem," kata Naruto~Senpai dengan melihat kami melalui kaca spion yang ada di depan.
"Apa bener? Coba tadi marah-marah gimana?" tanyaku dengan menatap Sasuke.
Apa hak dia marah-marah coba? Seharusnya yang marah itu kan aku. Apa sih maunya ni anak?
Aku masih melihat Sasuke dengan tatapan yang mematikan.
"Apa?" tan..err…seru Sasuke balik menatapku seperti tak berdosa.
"Tenang, Sakura! Bukan marah-marah serius kok, tapi marah karena cemas dengan keadaanmu." Naruto~Senpai memberi penjelasan.
Apa? Yang bener? Sasuke bisa cemas juga ya?
Aku lalu menatap Sasuke meminta penjelasan.
"Apa?" seru Sasuke.
Apa sih ni orang.
"Gue nggak cemas kok. Cuma jengkel karena loe itu nggak tau terima kasih. Udah ditolongin eh, malah seenaknya kabur gitu aja!" teriak Sasuke. Tepat di depan wajahku.
Uuh! ni orang nyebelin banget sih!
"Hah," aku menarik nafas untuk mengatur emosiku. Aku masih menghormati Sasuke sebagai kakak kelasku.
"Iya deh maaf. Dan, TERIMA KASIH!" ucapku dengan penekanan di kata 'terima kasih'.
"Selalu saja saat terakhir baru bilang 'maaf', 'terima kasih'." Sasuke menirukan kata 'maaf' dan 'terima kasih' dengan nada penyesalan yang sangat mengejek dan merendahkan.
"Sebenarnya mau Sasuke~Senpai itu apa sih?" bentakku. Aku sudah nggak tahan dengan sikapnya itu. Suangaat menyebalkan!
"Eh, kok malah bentak-bentak sih!"
"Ya Sasuke~Senpai sih. Tiap liat Sasuke~Senpai tu, emosiku serasa mau meledak!" ucapku terus terang. Habis aku kesel sih.
"Naruto~Senpai, aku turun di sini saja! Aku bisa pulang sendiri," kataku pada Naruto~Senpai.
"Lho, nggak sampai rumah?" tanya Naruto~Senpai.
"Nggak usah, Senpai. Terima kasih atas tumpangannya dan semuannya, Senpai," jawabku sekalian mengucapkan terima kasih pada Naruto~Senpai yang selama ini sudah mengerti aku.
"Dan ingat ya, Sasuke!" ucapku dengan nada tinggi. Aku bosan memanggilnya sebutan 'Senpai''. Capek aku, bersikap manis-manis di depannya. "Sebenarnya aku pengen banget ngunyah loe mentah-mentah. Biar remuk sekalian tulang loe!" lanjutku memaki Sasuke. Bodo amat, dia mau marah. Aku udah mengeluarkan semua unek-unekku.
"Minggir loe!" teriakku pada Sasuke karena aku mau keluar mobil. Semua terdiam Naruto~Senpai, Sasuke juga.
Naruto~Senpai menghentikan mobilnya. Akupun turun. Oh ya, tasku.
"Tas gue mana?" tanyaku pada Sasuke dengan nada tinggi.
"Tu di depan!" jawab Sasuke dengan nada tinggi pula. Eh, ni anak belum nyadar juga, kayak nggak punya dosa aja.
"Ini," ucap Naruto~Senpai sambil menyerahkan tasku masih dengan sikap ramahnya dan dengan senyum manisnya. Aku jadi nggak enak sama Naruto~Senpai. Dia begitu baik denganku tapi, aku marah-marah di depannya yang nggak bersalah sama sekali.
"Makasih, Senpai. Maafin aku ya?" ucapku pada Naruto~Senpai dengan nada lembut.
"Nggak pa-pa. Kamu yakin nggak mau dianterin?" tanya Naruto~Senpai meyakinkan.
"Iya, Senpai. Aku bisa pulang sendiri kok," jawabku.
"Ya udah, kamu hati-hati di jalan ya? Kami jalan dulu," pamit naruto~Senpai.
"Iya, Senpai. Daagh…." Aku melirik Sasuke masih cuek-cuek saja.
Mobil Sasuke melintas begitu saja di depanku.
Lebih baik aku pulang sendiri daripada naik mobil dianterin tapi makan hati.
Hah, capeknya. Aku rebahkan badanku di atas tempat tidur.
"Sakura, loe kenapa? Dari mana aja loe? Kok baru pulang?" tanya Ino, teman satu kamarku yang duduk di tepi ranjangnya, yang berada di samping ranjangku.
"Ehm tadi ada urusan sedikit."
"Kenapa tangan loe?" tanya Ino yang melihat luka di tanganku.
"Cuma luka ringan. Oh ya, nenek Chiyo nanyain aku nggak?" aku langsung mengganti topik pembicaraan sebelum Ino membahas lukaku lebih jauh lagi.
"Iya tu. Nenek Chiyo cemas banget. Udah sore gini kenapa Sakura belum pulang, gitu katanya," jawab Ino.
"Terus, Ibu panti sekarang dimana?" tanyaku lagi.
"Tu lagi di dapur. Masak buat makan malam ntar," jawab Ino.
"Ow..ya udah, aku ke dapur dulu ya?" pamitku lalu beranjak dari tempat tidurku dan menuju dapur.
"Yo'i," jawab Ino.
Aku segera ke dapur untuk minta maaf ke nenek Chiyo. Aku merasa bersalah. Sejak aku jadi sebatang kara, nenek Chiyolah yang mengurusku dan memberiku kasih sayang yang nggak pernah aku dapatkan semenjak kejadian itu. Yang membuatku sebatang kara. Tapi aku bersyukur mempunyai nenek Chiyo.
"Hai cewek?" sapaku menggoda nenek Chiyo sambil merangkulnya dari belakang.
Nenek Chiyo memegang tanganku. Aduh, aku lupa! tanganku kan masih diperban.
"Lho? Tangan kamu kenapa, Sakura?" tanya nenek Chiyo sambil memegang tanganku dengan khawatir.
"Nggak pa-pa kok, Nek. Cuma luka kecil tadi tergores meja di sekolah saat menulis," ucapku berdusta. Maaf, Nek.
"Darimana saja kamu seharian ini?" tanya nenek Chiyo.
"Ehm…tadi ada pelajaran tambahan. Maaf, Nek. Lain kali Sakura akan kasih kabar lebih dahulu," ucapku berdusta lagi. Aku cuma nggak mau nenek Chiyo sedih.
"Kok belum ganti baju? Sana ganti baju dulu! Lalu makan malam," nenek Chiyo.
"Iya, Nek," jawabku lalu mencium pipi nenek Chiyo yang sudah mulai kendur. Hehe…tapi aku sayang banget sama nenek Chiyo.
Aku lalu kembali ke kamar dan segera ganti pakaian.
"Gimana harimu si sekolah? Ada cowok yang kamu sukai?" tanya Ino.
"Ehm...lumayan menyenangkan. Soal cowok yang aku suka, ehm…nggak ada. Loe sendiri gimana pekerjaan loe?" tanyaku pada Ino.
Ino, dia seusiaku tapi ia memilih bekerja daripada sekolah. Ya, itu pilihannya. Aku jadi malu sendiri aku aja yang sekolah nggak smart-smart, susah nyantolnya.
FLASHBACK ON
Suara ribut-ribut itu membuatku bangun dari tidur nyenyakku. Aku menuju sumber suara tapi langkahku terhenti. Aku melihat seorang pria dewasa yang kumel merangkul Ibu dengan membawa pisau. Bahkan pisau itu didekatkan ke leher Ibu.
"Tolong, jangan sakiti saya dan keluarga saya!" pinta Ibu. Aku masih bersembunyi di depan pintu kamarku. Sepertinya pria itu tidak menggubris permintaan Ibu. Pria itu tertawa sendiri lalu berubah menjadi sedih.
Ayah mencoba menolong Ibu tapi pria itu menusuk Ayah dengan pisaunya. Begitu pula dengan Kak Sasori. Pria itu menusuk Kak Sasori dengan kejam. Semua berlumuran dengan darah. Ibu hanya bisa menangis.
Sebelum pria itu melukai Ibu, aku segera keluar melewati jendela kamarku untuk memanggil bantuan.
FLASHBACK OFF
"Sakura!" teriak Hinata.
Nggak ada bosannya tu anak panggil-panggil namaku. Aku baru datang, Hinata sudah menungguku di depan gerbang sekolah.
"Hai, Hin?" sapaku dengan senyuman.
"Sorry ya gue kemarin ninggalin loe agak lama. Tapi, waktu gue balik loe nggak ada. Kemana loe?" tanya Hinata.
"Owh..sorry, gue ngejar copet. Terus ketemu dech sama Naruto~Senpai ma Sasuke~Senpai," jawabku.
"Tapi, loe nggak pa-pa'kan?" tanya Hinata cemas.
"Nggak kok. Gue baek-baek aja," jawabku.
"Akhir-akhir ini gue liat loe makin deket ma Sasuke~Senpai ma Naruto~Senpai," ucap Hinata tiba-tiba. Kami ngobrol sambil berjalan menuju kelas kami.
"Nggak juga. Emang keliatan gitu ya?" tanyaku.
"He'em," ucap Hinata sambil mengangguk.
"Emang kalian ada hubungan apa sih?" tanya Hinata penasaran.
"Nggak ada kok. Udahlah nggak usah ngomongin itu." Aku malas banget denger nama Sasuke. Mual-mual perut gue.
"O ya Sakura, gue ada sesuatu buat loe." Hinata mengeluarkan sebuah kotak yang terbungkus rapi berwarna hijau.
"Ehm...apa ini?" tanyaku saat Hinata memberikan kotak itu padaku.
"Liat aja sendiri," perintah Hinata.
Aku pun membuka kotak itu. Wow! Isinya apa coba? Kalian pasti nggak akan nyangka kalau ini adalah mobil. Emang ini bukan mobil. Mana muat. Ini Handphone. Kayaknya mahal. Dan kayaknya aku juga kenal ma Handphone ini. Ya, ini adalah HP yang dibeli Hinata kemarin.
"Hinata, loe nggak salah kasih?" tanyaku meyakinkan.
"He'em. Itu buat loe." Hinata mengangguk dengan senyum. Sebenarnya aku nggak enak dengan Hinata. Aku nggak mau dibilang memanfaatkan teman.
"Tapi, Hinata. Aku nggak bisa n'rima ini," tolakku dengan halus.
"Sakura, aku akan marah kalau loe nggak mau terima hadiahku. Itu supaya kita bisa tetep terhubung." Hinata terus membujukku supaya menerima hadiahnya.
"Ehm…baiklah. Gue terima hadiah loe demi persahabatan kita."
"Iya. Ayo kita ke kelas!" ajak Hinata.
"Yuk."
Aku dan Hinata lalu ke kelas.
"Saku-chan!" panggil seorang dari belakang kami. Aku pun menoleh. Naruto~Senpai? Aku dan Hinata berhenti. Naruto~Senpai pun mendekat.
"Ada apa?" tanyaku.
"Ehm...kita bisa bicara sebentar?" berdua saja?" pinta Naruto~Senpai.
Ada apa sih? Aku memandang Hinata. Hinata hanya tersenyum.
"Sana gih! Barang kali penting," kata Hinata. Berarti dia mengijinkan.
"Aku pergi dulu ya. Oh ya, kalau gurunya dah masuk bilang saja kalau aku lagi di UKS. Sakit. Ini tasku!" pesanku sambil menyerahkan tasku pada Hinata. Aku lalu pergi dengan Naruto~Senpai.
Kali ini kayaknya aku harus mbolos lagi. Ingat ya! Buat kalian yang di rumah, jangan tiru tindakan ini, di sekolah atau di kampus, atauuu di tempat kerja karena berbahaya, bisa dikeluarin lho ntar. Tindakan mbolos ini hanya dapat dilakukan oleh orang profesional saja. Hehe...kayak pertunjukan debus saja.
"Kita mau kemana, Senpai?" tanyaku bingung.
"Mending kita bicara di UKS," jawab Naruto~Senpai.
Sebenarnya mau bicara apa sih? Jadi penasaran. Jangan-jangan…Naruto~Senpai mau nembak aku lagi. Sakura! Jangan Ge-eR dulu! PD banget sih loe! Wah, jadi dag dug der ni jantung.
Kami pun sampai di UKS.
"Ada apa sih, Senpai?" tanyaku penasaran.
"Ehm..ini soal Sasuke," jawab Naruto~Senpai.
Sasuke? Memangnya ada apa dengan Sasuke? Aku mengeryitkan dahiku.
"Kamu nggak sakit hati'kan sama Sasuke?" tanya Naruto~Senpai.
"Sedikit," jawabku singkat.
"Kamu jangan benci Sasuke ya. Sebenarnya, Sasuke nggak punya niat jahat kok sama kamu," ucap Naruto~Senpai.
Oh ya? Masa' sih?
"…" Aku hanya diam saja.
"Beneran. Kemarin Sasuke cemas banget sama kamu," ucap Naruto~Senpai meyakinkan.
Aku juga nggak butuh perhatian Sasuke. Mau cemas ke', atau enggak ke'. Whatever!
"Ehm…Sasuke menjadi dingin dan tertutup karena Ayahnya. Masa lalunya begitu berat." Naruto~Senpai menggantungkan ceritanya. Lagi.
Kenapa sih Naruto~Senpai selalu buat aku penasaran? Hah, emang sengaja tu orang. Tadi, buat aku dag dig dug der. Sekarang…buat penasaran dengan ceritannya yang menggantung.
"Naruto~Senpai kalau cerita yang lengkap dong!" pintaku dengan rasa dongkol.
"Kan aku sudah bilang. Aku nggak mau cerita privasi orang," ucap Naruto~Senpai.
Halah! Kata itu lagi. Buktinya, dari kemarin dia cerita privasi orang. Apalagi buat orang jadi penasaran. Licik amat sih Naruto~Senpai.
"Hah," aku menghela nafas dalam-dalam. Aku binggung harus menanggapi Naruto~Senpai dengan gimana.
"Hahaha…" Naruto~Senpai tiba-tiba tertawa.
Kenapa? Ada yang lucu?
"Kenapa Naruto~Senpai tertawa?" tanyaku penasaran.
"Lucu aja liat wajahmu yang menyerah, binggung dan penasaran gitu."
Eh? Ni orang suka ngerjain orang.
"Aku tau kalau Naruto~Senpai sengaja cerita tentang Sasuke~Senpai apalagi menggantungkan ceritanya gitu. Itu supaya aku penasaran'kan?" tanyaku.
"He'em," jawab Naruto~Senpai dengan jujurnya.
"Hah, memang susah menghadapi orang seperti Naruto~Senpai."
"Hahaha…" lagi-lagi Naruto~Senpai tertawa.
"Makanya, kalau penasaran cari tau dong!" ucapnya.
Aku sebenarnya penasaran sih, tapi…
"Nggak ah. Males," jawabku datar.
"Huh, payah! Jiwa kemanusiaannya kurang."
Nah loh. Nggak nyambung banget.
"Ye…biarin!" sahutku."Kok sendiri? Biasanya berdua," tanyaku.
"Siapa? Aku?"
Ya iyalah. Please dech…masa' jin?
"Ehm…tadi Sasuke katanya mau nyusul tapi, kok belum dateng-dateng ya?" ucap Naruto~Senpai.
"Naruto~Senpai bilang mau kemana'kan?" tanyaku.
"Ya iyalah," jawab Naruto~Senpai.
"Ntar juga dateng. Kalian ini orang pinter-pinter tapi kok sering mbolos," ucapku agak bingung.
"Biarin. Daripada kamu, nggak pinter tapi mbolos terus," ejek Naruto~Senpai.
Wah, mau ngajakin ribut ni orang.
"Biarin! Suka-suka aku. Kapasitas otaknya udah penuh," jawabku sekenanya.
"Gaya." Kak Toni mengelus kepalaku. Ah, senengnya. Kak Sasori, Sakura kangen Kak Sasori.
Tak terasa air mataku keluar.
"Kenapa kamu?" tanya Naruto~Senpai yang melihat mataku agak basah.
"Nggak. Cuma terharu," jawabku sekenanya.
"Oh ya, gimana kalaau~eh hai, Van?" sapa Naruto~Senpai pada Sasuke yang memotong pembicaraan kami yang baru datang.
"Hai," jawab Sasuke datar.
"Kenapa baru datang?" tanya Naruto~Senpai.
"Susah cari alesan. Begitu mau keluar eh, Pak Killer masuk. Ya terpaksa harus ikut pelajarannya." Sasuke lalu duduk di samping Naruto~Senpai.
"O ya. Gue ke toilet dulu ya? Kebelet ni," pamit Naruto~Senpai.
Sialan! Naruto~Senpai pake pergi ninggalin aku berdua dengan Sasuke Ayam lagi. Kita'kan gi marahan. Kan nggak enak suasananya.
Ya seperti yang kalian kira. Kami hanya diam.
"Gimana luka loe?" tanya Sasuke.
Apa aku nggak salah denger? Sasuke perhatian juga.
"Ehm…loe tanya gue?" tanyaku memastikan.
"Ya...iyalah. Siapa lagi? Yang ada di sini'kan gue ma loe!" teriak Sasuke. Baru juga dipuji eh, aku cabut deh pujianku tadi.
"Nggak usah teriak juga bisa'kan?" ucapku dongkol.
"Ya elu sih."
"Aku'kan cuma mastiin."
"Udah pasti pake mastiin segala."
"Udah dech! Aku mau kembali ke kelas!" pamitku.
"Tunggu!" cegah Sasuke menahan pergelangan tangan kiriku.
"Aw!" pekikku. Sasuke memegang tanganku tepat di lukaku. Bagus, Sas! Terima kasih sudah membuatku merasa kesakitan!
"Sorry," ucapnya. Baru pertama aku mendengar Sasuke minta maaf.
"Duduklah," pinta Sasuke.
Ok, aku akan duduk karena dia sudah bilang 'sorry'. Aku pun duduk di sampingnya.
"Ehm…gue minta maaf soal kemarin dan, soal luka loe. Sorry dah nyentuh, gue nggak sengaja."
Ternyata Sasuke udah sadar. Udah kebuka ni mata hatinya.
"Ya, aku juga minta maaf. Ehm…soal masa lalumu yang katannya berat, jangan diangkat kalau nggak kuat. Tinggalin aja."
Sok banget dech. Kalian pasti mikir aku bercanda. Aku serius ngomong kayak gitu. Ada makna yang terkandung dalam kata-kataku itu lho. Ya hanya orang tertentulah yang bisa memahaminya. Hehe…
"Siapa yang bilang soal masa laluku?" tanya Sasuke terkejut.
"Pasti Naruto!" tebaknya. Ya memang bener.
"Sorry, bukannya aku mau ikut campur."
"Ya, makasih buat nasehatnya."
Sasuke bisa bilang makasih ke aku? Oh betapa terkejutnya aku. Aku senyum ke arahnya. Emangnya dia tau kata-kataku?
"Wah, udah baikan ni?" goda Naruto~Senpai saat memasuki ruang UKS.
"Naruto~Senpai, kok lama banget ke toiletnya?" tanyaku curiga.
"Bodoh! Dobe itu cuma pura-pura ke toilet. Dia'kan nguping pembicaraan kita," kata Sasuke. Sikapnya kembali normal. Ya itu lebih baik.
Aku juga tau kalau Naruto~Senpai cuma pura-pura ke toilet. Aku kan sudah tau sifat asli kak Toni Naruto~Senpai kayak gimana. Aku juga nggak bodoh-bodoh amat kale'. Aku'kan cuma pura-pura nggak tau.
"Hehe…" Naruto~Senpai cuma cengar-cengir begitu kedog-nya terbongkar. Dasar Naruto~Senpai!
"Oh ya, Teme. Gue punya rencana buat nge-Les Sakura, gimana menurut loe?" tanya Naruto~Senpai pada Sasuke meminta persetujuannya.
"Terserah, kalau Sakura-nya mau," jawab Sasuke. Tumben Sasuke mau nyebut namaku.
"Sakura, kamu mau'kan?" tanya Naruto~Senpai beralih melihatku.
"Ehm…mau sih, tapi…gratis'kan? hehe..."
Hari gini cari yang gratisan boleh'kan. Maklum, orang miskin.
"Tenang. All free," jawab Naruto~Senpai.
Wow! Mau donk!
"Ya ya. Aku mau!" jawabku dengan semangat.
"Ok. Semua udah beres. Dan Les private-nya mulai hari ini di rumah Sasuke.
"Apa?" Sasuke terkejut.
Wah, Naruto~Senpai jail amat sih. Pake rumah orang nggak tanya-tanya dulu sama pemilik rumah.
"Kenapa harus di rumah gue? Kan yang punya rencana elu. Kenapa gue jadi ikut-ikutan?" protes Sasuke.
Sebenarnya Sasuke mau nolong nggak sih?
"Loe'kan tau sendiri. Nggak mungkin di rumah gue'kan?" ucap Naruto~Senpai
"Ya..loe cari tempat laen ke'."
"Ya sekalian nemenin loe. Loe'kan di rumah sendiri, kalau gue nge-Les di luar, loe jadi nggak punya temen. Ntar loe kesepian," jelas Naruto~Senpai. Ngomong apa sih ni orang? Nggak jelas banget.
"Ya ya ya. Terserah loe dah." Akhirnya Sasuke kalah juga melawan argumen Naruto~Senpai. Siapa sih yang menang nglawan orang yang agak sinting kayak Naruto~Senpai. Sorry, Naruto~Senpai. Cuma bercanda.
"Perhatian! Untuk siswa X-A yang bernama Haruno Sakura, harap segera ke ruang BP. Saya ulangi sekali lagi. Kepada Haruno Sakura, harap segera ke ruang BP. Secepatnya!"
Suara itu suara Anko~Sensai, guru BK kami, yang bersuara lewat speaker sekolah.
Ada apa ya? Nggak biasanya aku dipanggil buat ke ruang BP. Apa gara-gara aku sering mbolos? Oleh karena itu, aku sudah peringatin kalian kan? Jangan tiru tindakan mbolos sekolah. Berbahaya!
"Kenapa kau dipanggil ke BK?" tanya Naruto~Senpai penasaran.
"Nggak tau. Mungkin gara-gara aku serring mbolos. Ketahuan dech," jawabku enteng.
"Owh, ya, selama bukan karena masalah laen aja," kata Naruto~Senpai dengan enteng juga.
Kalian pasti bingung. Masalah ketahuan mbolos kok dianggep entang. Ya, begitu lah kami. Aneh.
"Ya udah. Aku ke ruang BP dulu ya," pamitku. Aku pun keluar dari ruang UKS.
"Aku ikut! Teme, loe mau ikut nggak?" tanya Naruto~Senpai melihat ke arah Sasuke.
Aku segera ke ruang BP dengan Naruto~Senpai dan Sasuke yang mengikutiku dari belakang. Mereka suka ikut campur urusan orang ya?
.
.
.
.
.
TO BE CONTINUE
Apakah yang sebenarnya terjadi? Kenapa Sakura dipanggil ke BP? Kita tunggu di cahpater selanjutnya ya!
Catatan Author:
Ok, akhirnya aku update juga chapter 4 dari Jidat, Sayangku ini. Maaf, karena sudah hiatus lama banget. Maaf juga yang dah nunggu Jidat, Sayangku, karena menunggu kelamaan.
Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan. Semoga suka ya ^_^
Makasih juga untuk para Reader dan juga para review…^_^
BALSAN REVIEW:
# De 'Ciel: hehe,,iya, udah aku benerin kok, hehe .mksh dah review..hehe jgn lupa review lagi ya
# arara-chan: ok, mksh atas masukannya, aku akan perbaiki di chapter selanjutnya, mksh dah review..hehe jgn lupa review lagi ya
# myelf: hehe..maaf, itu nama Irvannya belum ke edit. Seharusnya Sasuke bukan Irvan, soalnya itu aku edit dari novel yang aku tls sendiri aku jadiin Fanfic. hehe ,mksh dah review..hehe jgn lupa review lagi ya
#
#
#
