Chapter 5

Fanfic : Jidat, Sayangku…

Author : Naumi Megumi

Pairing : SasuSaku, NaruHina

Rate : T

Genre : Romance/Friendship/Humor/Hurt

Disclaimmer : Naruto milik Mashashi Kishimoto

Jidat, Sayangku… hanya milikku, untuk selamanya

Warning :

OOc banget, Gaje, Typo, abal, Update tak tentu, bahasa yang nggak sesuai EYD dan hanya terima FLAME YANG MEMBANGUN!

Summary :

Apa? Sakura mencuri? Apa ini benar? Mau tau benar tidaknya? Baca saja Jidat, sayangku chapter 5! Sekarang!

Terinspirasi dari komik jepang yang berjudul "Electric Daisy" atau "Dengeki Daisy" karangan Motomi Kyousuke.

Ini juga salah satu novel-ku yang aku jadiin fanfic, jadi apabila ada nama yang belum ke-edit mohon maaf ya.

Disini aku pakai Sakura's POV dari awal sampai seterusnya. Makasih yang sudah RnR ya…

Aku datang kembali. Hahay.

Maaf ya temen2, #mbungkuk2

Aduh, aku kelamaan yang update. Maaf ya.

Oh ya, untuk para penggemar 'Jidat, Sayangku', saya mohon maaf sekali, karena dalam 1 bulan kedepan, saya akan HIATUS terlebih dahulu untuk cari pencerahan #cie ile. Haha..jadi, saya mohon maaf ya, tapi tenang saja, saya akan tetap melanjutkan fic ini kok. Tunggu saja 1 bulan dulu ya. Hehe.

Dan juga untuk penggemar Sasuke Vs Sakura, maaf minggu ini aku tidak update. Karena kurangnya inspirasi. Hehe.

Balasan review ada di bawah!

Yowes lah, ayo gek baca!

DON'T LIKE DON'T READ

Jangan lupa RnR-nya

Happy Reading

Jidat, Sayangku….

Chapter 5

"Permisi?" aku masuk ke ruang BP. Sementara Naruto-Senpai dan Sasuke menunggu di luar ruang BP.

"Ya. Masuklah!" perintah Anko-sensei yang duduk di kursi kerjanya.

Aku menghadap Anko-sensei.

"Silahkan duduk!" Anko-sensei mempersilahkanku duduk di depan meja kerja Anko-sensei. Berhadapan dengan Anko-sensei .

Aku pun duduk.

"Kamu tau kenapa kamu saya panggil kemari?" tanya Anko-sensei dengan nada tinggi.

"Saya minta maaf, Sensei," ucapku. Aku tau aku salah karena sudah membolos.

"Maaf? Gampang sekali minta maaf!" teriak Anko-sensei.

"Saya'kan sudah minta maaf. Lagi pula, saya baru dua kali me-"

"Apa?" potong Anko-sensei dengan suara toa-nya. "Kamu sudah dua kali mencuri HP temen kamu?" sambung Anko-sensei masih dengan suara toa-nya itu.

"Apa, Sensei? Mencuri HP? Maksud Sensei apa?" tanyaku kaget.

Apa maksudnya aku mencuri HP? Jadi, aku dipanggil ke BP bukan karena soal mbolos pelajaran? Tapi karena pencurian HP? Dan aku difitnah mencuri HP? Hey, aku tidak sekalipun mencuri walaupun aku orang miskin!

"Saya menemukan ini di dalam tas kamu. Apa kamu kurang paham?" kata Anko-Sensei sambil menunjukkan sebuah Handphone keluaran baru. Itu bukan milikku. Hp yang dikasih Hinata tadi aku bawa di saku. Aku pegang saku rokku, masih ada. Dan itu HP siapa? Aku nggak ngrasa menaruh HP itu di dalam tasku.

"Itu HP siapa, Sensei?" tanyaku.

"Seharusnya yang tanya itu Saya!" jawab Anko-sensei dengan galak.

"Saya benar-benar tidak tau," sanggahku.

"Ini HP Karin," jawab Anko-sensei.

Karin? Siapa lagi itu?

"Maaf, Sensei. Karin siapa ya?" tanyaku bingung.

"Karin temen satu kelas kamu. Kamu itu bodoh sekali!" jawab Anko-sensei dengan nada tinggi.

Busyet, ni guru BK kok nggak sopan, tutur katanya.

"Ow," jawabku singkat.

"Kenapa kamu curi HP-nya Karin?" tanya Anko-sensei.

"Saya tidak mencurinya," jawabku mencoba membela diri.

"Tapi kenapa HP ini bisa ada di dalam tas kamu? Bagaimana kamu bisa menjelaskannya, Sakura?" tanya Anko-sensei mulai memojokkanku.

"Saya juga tidak tau, Sensei," sangahku lagi.

"Ini jelas-jelas ada di tas kamu. Itu berarti kamu yang mencurinya dari Karin'kan?" Anko-sensei mi terus mendesakku.

"Saya tidak pernah mencuri HP itu!" ucapku dengan nada tinggi.

"Baiklah. Saya akan panggil Karin kesini," ucap Anko-sensei.

Panggil saja! Aku nggak takut. Anko-sensei pun memanggil Karin yang sudah di dalam ruang BP sebelum aku datang.

"Karin, apa tadi kamu sempat bertemu dengan Sakura?" tanya Anko-sensei pada Karin.

Memang aku sering liat Karin, tapi kami nggak pernah tegur sapa. Bahkan tau namanya saja baru sekarang. Tapi, perasaan tadi aku belum bertemu dengannya.

"Iya, Sensei. Tadi saat saya berangkat sekolah, Sakura menabrak saya," jawab Karin berdusta.

"Kapan?" tanyaku terkejut.

Kapan sih aku nabrak dia?

"Tadi waktu kamu turun dari Bus. Kan aku lewat tu, terus kamu nabrak aku. Pasti kamu ambil HP aku waktu itu," tuduh Karin.

Kapan sih aku menabraknya? Walau aku bodoh, tapi ingatanku masih kuat. Kenapa sih Karin melakukan ini semua!

"Beneran, Sensei. Saya tidak mengambil HP Karin! Ketemu saja baru sekarang, apalagi nabrak dia. Lagi pula, kalau aku nabrak dia, bukan HP-nya yang aku ambil, tapi aku akan dorong orangnya ke comberan!" seruku jengkel. Aku benar-benar emosi.

"Sialan loe!" Karin nggak terima dengan perkataanku.

"Sudah! Bukti dan korban sudah memberikan penjelasan. Dan sekarang, saya tanya sama kamu, kenapa kamu mengambil HP Karin?" tanya Anko-sensei tanpa memperdulikan penjelasanku.

"ANKO-SENSEI, saya sudah bilang, kalau saya tidak mengambil HP Karin!" bentakku lagi.

"Ow...saya tau, Sensei. Sakura mencuri HP saya, karena dia'kan nggak punya HP. Begitu melihat HP saya yang canggih, Sakura jadi pengen. Jadi, dia mencurinya," ucap Karin dengan wajah sok. Bahkan aku yang melihatnya, ingin sekali kupukul wajahnya samapi remuk. Itu fitnah!

Ih, Karin! kalau aja nggak ada Anko-Sensei, udah aku tonjok mukannya. Biar ancur tu muka.

"Eh elo! Kalau ngomong jangan seenaknya ya! Jangan main fitnah!" seruku sambil menunjuk Karin.

"Sudah! Bukti dan korban sudah menunjukkan kalau kamu bersalah, Sakura. Jadi, kamu saya akan hukum kamu. Sakura, kamu saya skors selama 1 minggu. Renungkan kesalahan yang sudah kamu perbuat!" kata Anko-Sensei. Aku capek membela diri. Tak ada yang mau medengarkanku.

"Terserah, Sensei! Pokoknya saya tidak akan pernah mengakui kesalahan yang SAMA SEKALI tidak saya perbuat!" seruku kemudian keluar dengan emosi yang meluap-luap. Rasanya pengen meledak.

Pepatah mengatakan 'Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan' tapi menurutku, itu semua kejam. Semuannya, perbuatan yang sangat aku benci.

Aku keluar melewati Naruto-senpai dan Sasuke tanpa berkata apapun. Sebaiknya mereka diam dulu, karena emosiku sedang meluap-luap. Bisa-bisa mereka aku kunyah juga.

Aku berjalan menuju kelas. Saat ini waktu istirahat, sehingga lorong sekolah dipenuhi siswa-siswi. Nggak peduli, aku langsung berjalan lurus tanpa memperdulikan orang-orang di depanku. Semuanya aku tabrak. Nah, kalau ini aku akuin nabrak orang. Lah, kalau Karin, aku benar-benar nggak menabraknya.

"Apaan sih?"

"Punya mata nggak sih loe?"

Maki semua orang yang aku tabrak. Whatever. Begitu sampai kelas aku ambil tasku.

"Sakura?" panggil Hinata yang berada di kelas.

"Ya?" jawabku dengan senyum. Aku masih bersikap manis dengan Hinata, karena Hinata is my best friend.

"Kamu dituduh mencuri ya? Ya, saat penggeledahan, tasmu juga digeledah. Tapi, di dalam tas loe ada HP-nya Karin. Tenang ya. Semua akan baik-baik saja. Aku percaya kok sama loe," ucap Hinata. Kata-kata Hinata sangat menenangkanku. Hanya Hitana yang mengerti perasaanku. Thanks, Hinata.

"Makasih, Hinata," ucapku memeluk Hinata.

"Terus, loe dihukum apa?" tanya Hinata.

"Gue diskors selama 1 minggu," jawabku.

"Loe yang sabar ya," hibur Hinata.

"Makasih, Hinata." Aku memeluk Hinata lagi.

"Aku pulang ya,"pamitku.

"Iya. Inget, jangan terlalu dipikirkan. Ntar sakit lagi," pesan Hinata.

"Iya," jawabku lalu pergi meninggalkan Hinata. Aku berbalik. Ternyata, mereka berdua masih mengikutiku. OK, aku tegur mereka. Emosiku sudah agak reda sekarang.

"Kalian nggak ada kerjaan lain ya, selain mengikutiku?" tegurku.

"Loe mau kemana?" tanya Sasuke. Tumben peduli.

"Tumben tanya," sahutku datar.

"Nggak boleh?" sahut Sasuke.

"Boleh sih…"

"Jawab pertanyaan gue!" protes Sasuke. Hey, sejak kapan Sasuke menjadi banyak tanya begini?

"Aku mau pulang!"

"Saku-chan, beneran mau pulang?" Naruto-Senpai angkat bicara.

"Ehm…gimana ya, Sebenarnya…."

"Loe nggak mau nenek Chiyo cemas'kan?" potong Sasuke.

Lho kok, Sasuke tau tentang nenek Chiyo? Apa dia tau kalau aku tinggal di panti?

"Lho kok?" jawabku terkejut.

"Sorry, Saku-chan. Aku yang cerita. Hehe…nggak marah'kan?" tampang Naruto-Senpai seperti orang yang tidak bersalah.

Padahal dia bilang nggak akan cerita privasi orang lain eh, ini malah cerita-cerita privasi orang .

"Jawab pertanyaan gue!" protes Sasuke lagi.

"Iya!" jawabku dengan nada tinggi.

"Ok. Gue akan bantu loe. Ini kunci rumah gue. Loe pulang saja ke rumah gue!" perintah Sasuke saat memberiku sebuah kunci rumah.

"Lho?" aku bingung.

"Udah deh. Nggak usah lha lho lha lho. Cepet pulang!" perintah Sasuke.

Sasuke maen perintah-perintah saja. Emang siapa dia? Tumben Sasuke mengerti perasaanku. Aku menyentuh kening Sasuke. Karena Sasuke tinggi, aku harus berjingkat untuk mencapai keningnya.

"Loe sakit?" tanyaku dengan tangan yang masih menempel di kening Sasuke.

Saat Sasuke memegang tanganku, aku merasakan ada yang aneh pada diriku. Entah apa yang aku rasakan. Jantungku dag dig dug der. Saat Sasuke memegang tanganku, reflek aku menarik tanganku.

Sesaat kami menjadi diam. Entah apa yang difikirkan Sasuke.

"Hello?" Naruto-Senpai membuyarkan fikiranku.

"Kalian ini kenapa sih?" tanya Sasuke yang merasa dirinya dikacangin.

"Ya udah, aku pergi dulu," pamitku.

"Makasih, Sasuke-Senpai," ucapku saat berlari menjauh.

"Kemana sih mereka?" aku sudah menunggu lama banget. Ini'kan sudah lewat jam sekolah. Jadi nggak sih les privat-nya? Mereka suka seenaknya sendiri.

Kenapa Sasuke tinggal sendiri ya? Kemana semua keluarganya? Apa waktu malam Naruto-Senpai juga kemari? Kalau nggak, apa Sasuke nggak merasa kesepian ya?

Aku duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu Sasuke. Aku berbaring di sofa. Kebiasaan kalau sedang nunggu pasti ngrasa ngantuk. Jaga-jaga kalau aku tertidur. Lagian, kemana saja mereka? Kalau aku disuruh menunggu di rumahku sih, aku bisa ngapa-ngapain tapi, ini suruh nunggu di rumah orang. Rumah Sasuke lagi. BOSEN!

Awas aja kalau mereka sampai datang, aku omelin mereka abis-abisan.

"Huahmm.." ngantuk.

Flasback On

Aku memanggil bantuan

"Tolong! Ada orang jahat di dalam rumahku!" teriakku sekuat tenaga, tapi tak ada yang mendengarnya. Jam 23.00 siapa yang masih terjaga? Tolong! Ibuku dalam bahaya! Aku harus bagaimana untuk menolongnya?

Aku berfikir, barangkali di Pos Ronda masih ada orang yang ronda. Aku berlari ke Pos Ronda. Aku melihat banyak orang.

"Paman, tolong! Ada maling di rumahku!" teriakku sekeras mungkin.

"Yang bener, Nak?" tanya Paman itu tidak percaya.

Kenapa Bapak tidak percaya denganku? Apa karena aku masih kecil? Tanpa ba bi bu, aku langsung menarik tangan Paman itu untuk mengikutiku.

"Ayo lah, Paman. Ibu saya sedang dalam bahaya!" ucapku pada Paman itu.

"Baiklah! Semuanya ayo ikut!" perintah Paman itu pada Paman-paman lainnya.

Kami pun menuju rumahku.

"Permisi!" teriak Paman yang tadi aku tarik tangannya.

"…" tidak ada jawaban.

"Ayo kita dobrak pintunya!" perintah Paman itu pada temannya.

Bersamaan dengan itu, aku kembali ke jendela kamarku.

"Aarrgghhh…!" teriakku saat melihat pria dewasa itu melompati jendela kamarku. Begitu jelas ku lihat wajah pria yang telah membunuh Ayah dan Kak Sasori. Matanya, seperti orang bingung.

Akibat teriakanku tadi, semua orang berdatangan ke sumber suaraku. Pria dewasa itu gugup lalu lari. Paman-paman peronda sebagian mengejar pria dewasa itu. Dan sebagian masuk ke dalam rumahku.

Hah, Ibu! Aku teringat Ibu. Bagaimana keadaan Ibu? Aku memanjat jendela kamarku. Aku keluar kamar. Ingin ku peluk Ibu segera, tapi keinginan itu sirna sudah saat melihat Ibu terbujur kaku di atas lantai yang terbanjiri darah. Air mataku mengalir deras tanpa bisa kuhentikan.

Ibu, Ayah, Kak Sasori tergeletak tak bernafas, penuh darah di depan mataku.

"Ibu! Ayah! Kak Sasori!" teriakku keras, keras sekali dengan air mata yang mengalir deras. Aku berlari mendekati mereka, ingin ku peluk mereka untuk yang terakhir kalinya, tapi seseorang dari belakang menarikku. Seorang Ibu setengah baya. Ia memelukku erat. Aku menangis di dalam pelukannya. Kurasakan kehangatan tangan yang mengusap air mata di pipiku. Kenapa pria itu membunuh keluargaku? Kenapa aku tidak bisa menolong keluargaku?

Pertanyaan itu selalu ada di pikiranku. Yang belum juga aku temukan jawabannya.

Aku terus menangis di pelukan Ibu itu. Aku keluarkan semua air mata yang aku punya.

Flashback Off

"Klontang! Klontang! Pyar!"

Suara berisik itu membangunkanku dari tidur nyenyakku. Aku mengerjab-ngerjabkan mataku. Begitu aku bangun, ada selimut yang sudah menutupi tubuhku. Siapa yang memberiku selimut? Apa Naruto-Senpai? Maybe, aku sok benget ya, pake Bahasa Inggris segala. Padahal kalau ulangan Bahasa Inggris dapat nilai do re mi. Hehe..

Oh ya, suara berisik apa itu ya? Kayaknya dari arah dapur Sasuke. Aku berdiri dan berjalan ke sumber suara gaduh itu.

Sasuke sedang apa tu? Hahaha…jadi suara berisik itu karena dia. Apa tu orang nggak pernah mnyentuh alat dapur? Sehingga terdengar bantingan alat dapur. Nggak tau cara memperlakukan bekakas dapur dengan baik?

"Hahaha…." Ups! Tertawaku mulai mengeras sehingga Sasuke menoleh ke arahku.

"Loe sudah bangun?" tanyanya.

"Siapa yang nggak bangun kalau mendengar musik dari alat-alat masak yang merdu itu? Hahahaha…." ejekku dengan halus.

"Hehe…nggak lucu!" ucap Sasuke sambil memandangku dengan pandangan yang mematikan. Galak amat sih.

"Loe mau ngapain sih? Mau masak?" tanyaku ehm..keceplosan pake gue-loe.

"Ehm..maaf, -Senpai. Hehe.." ucapku minta maaf.

"La lo la lo. Emangnya loe siapa gue?" semprot Sasuke.

"Aku'kan adik kelas Sasuke-Senpai," jawabku dengan wajah polos.

"Gue mau masak," Sasuke mengganti topik seenak jidatnya.

"Masak apa?" tanyaku.

"Ya masak nasi lah," sewot Sasuke.

"Memangnya Sasuke-Senpai bisa?" tanyaku lagi.

"Ehm...nggak sih," jawabnya dengan wajah Innocent.

What? Sasuke nggak bisa masak? Walah-walah.

"Lha terus kalau makan yang masak siapa?"

"Catering."

What? lagi. Jadi, dia cuma makan catering. Terus kalau tengah malam mendadak lapar gimana?

"Terus kalau malam-malam Sasuke-Senpai lapar gimana?" tanyaku bingung.

"Tinggal pesan Pizza aja. Beres'kan!" jawabnya enteng.

"Hah, Sasuke-Senpai nggak mandiri ya?" keluhku.

"Emang kenapa?"

"Ya harus bisa masak donk. Walau cowok, harus bisa masak sedikit," ucapku.

"Oh ya? Kata siapa?" tanya Sasuke.

"Kataku barusan. Kalau aku sih pengen punya cowok yang bisa masak. Ya…paling nggak, ya masak buburlah. Soalnya kalau ntar aku sakit, aku pengen makan bubur yang dimasak cowokku sendiri. Pasti aku langsung sembuh deh," jawabku panjang lebar.

"Emang cewek suka yang kayak gitu?" tanya Sasuke penasaran.

"Ehm...ya nggak juga sih. Kalau aku sih iya," jawabku.

Lagian siapa yang tanya tentangku? Nggak pa-palah. Cuma sedikit, boleh'kan. Nggak punya cowok ja sekolahnya nggak pinter-pinter, apalagi kalau punya cowok. Berantakan dah.

"Ow…emang loe bisa masak?" tanya Sasuke balik.

"Ehm..bisa kok," jawabku.

Padahal nggak bisa. Ya cuma dikit-dikit lah. Kan yang masak nenek Chiyo terus.

"Masak apa aja?" tanya Sasuke.

Waduh, aku harus jawab apa nih? Apa aku harus jujur aja ya?

"Ya..misalnya masak air," jawabku dengan senyum polosku. Hehe…aku udah jujur lho.

"Yah, itu sih sama aja kalau nggak bisa masak kale'."

"Aku juga bisa masak mie kok. Ya cukup banyak. Lumayanlah kalau masak buat diri sendiri. Kecuali satu.." aku menggantungkan kata-kataku.

"Apa?" tanya Sasuke penasaran.

"Masak nasi. Aku paling nggak bisa," jawabku.

"Kita bisa belajar bareng'kan?" tawar Sasuke.

"Boleh juga," jawabku.

Akhirnya, aku dan Sasuke belajar masak nasi. Nah, kalau bubur aku sendiri juga nggak bisa, hehe..

Kalau masak sayur sih bisa, tapi bumbunya cuma aku asal saja. Hehe..yang penting ada rasanya. Ya nggak?

"Senpai, nasinya tu gosong!" seruku saat Sasuke memotong sayur dan aku menggoreng telur dan tempe. Entah darimana bahan-bahan ini, ada sendiri. Apa Sasuke sudah merencanakannya? I don't know. Atau Naruto-Senpai yang belanja?

Aku jadi inget Naruto-Senpai. Dari tadi aku belum melihat Naruto-Senpai. Kemana dia?

"Senpai, Naruto-Senpai kemana?"

"Dobe nggak kesini? Katanya ada urusan keluarga."

"Yah, jadi les-nya nggak jadi?"

"Les-nya mulai kalau masalah loe udah kelar."

"Masalah?" tanyaku binggung.

"Itu, tentang HP-nya Karin," jawab Sasuke.

"Owh. Lama donk. Tunggu! Kelar? Maksudnya?" tanyaku bingung.

"Kita baru menyelidiki siapa yang telah fitnah loe," jawab Sasuke.

Oh, ternyata Irvan dan kak Toni baik dan perhatian ma aku.

"Eh? Telur loe tu gosong!" seru Sasuke saat aku melamun sehingga aku nggak memperhatikan telur yang aku goreng. Aku gugup, aduh, aku harus ngapain? Tanpa sadar aku memegang penggorengan yang panas.

"Aw..!" teriakku.

Bodoh! Bodoh! Bodoh! Apa sih yang aku lakukan? Jelas-jelas panas, kenapa aku pegang? Bego!

Sasuke langsung menarik tangnku dan menaruh tanganku di bawah keran dan menyiram dengan air dari keran.

"Bodoh! Sudah tau panas, kenapa dipegang? Makanya kalau masak itu jangan bengong!" maki Sasuke.

Kenapa sih Sasuke marah-marah gitu ma aku?

"Kenapa sih? Malah marah-marah sama aku?" tanyaku.

"Ya elo sih." Sasuke menyalahkanku.

"Udah! Sini! Biar aku obatin sendiri. Minggir!" bentakku. Aku paling nggak suka kalau di maki-maki, dibentak-bentak. Emang enak apa?

"Sorry deh. Aku cuma…" Sasuke menggantungkan kata-katanya.

"Cuma apa?" tanyaku.

"Aku khawatir sama loe," jawabnya pelan tapi masih bisa aku dengar. Ia menundukkan kepalanya.

Owh..itu kata yang indah. Sasuke nggak pernah berkata itu padaku.

"Oh ya? Masa'?" tanyaku tidak percaya.

"Ya udahlah. Loe duduk dan obatin tu tangan loe. Biar gue yang masak," perintah Sasuke dengan datar.

"Emang Sasuke-Senpai bisa?" tanyaku ragu.

"Ya..loe tinggal men-dikte gue aja," jawab Sasuke yakin.

"Ok," jawabku.

Ya…seperti bos, aku menyuruh-nyuruh Sasuke. Jarang-jarang ni. Yes! Aku kerjain dia. Hahaha.. (Devil Laugh).

"Ngupas wortelnya harus tipis!" perintahku.

"Iya," jawab Sasuke.

"Inget, motong wortelnya jangan besar-besar! Bulat-bulat aja yang motong!" perintahku.

"Eh..bukan begitu! Garamnya jangan terlalu banyak!" tegurku.

Haha…dari tadi aku mrintah-mrintah terus ya? Nggak pa-pa. kan jarang-jarang aku bisa ngerjain Sasuke.

Oh ya, kalau yang di rumah hanya ada Sasuke, berarti tadi yang kasih aku selimut Sasuke donk.

"Hei!" panggil Sasuke membuyarkan semua pikiranku.

"Hah, iya?" jawabku gugup.

"Bengong aja dari tadi. Ini udah selesai ni," lapor Sasuke.

"Sorry. Tinggal nunggu mendidih terus diangkat," intruksiku.

Sementara menunggu sayur matang, Sasuke menghampiriku dan duduk di sampingku.

"Gimana tangan loe?" tanya Sasuke.

"Udah mendingan," jawabku.

"Kemarin tangan kiri. Sekarang tangan kanan," sindir Sasuke. "Loe suka nyusahin diri loe sendiri ya? Suka banget nyakitin diri sendiri," lanjutnya.

"Bukannya suka. Emang semua itu sakit, tapi itu adalah resiko. Kalau kita ingin melakukan sesuatu memang ada resikonya. Tinggal kita sendiri mau maju apa nggak. Kalau pengen maju ya kita harus berani ambil resiko itu," jawabku panjang lebar.

Wah, mulai ceramah lagi. Sok banget deh gue. Tapi emang bener'kan? Ya nggak?

Sasuke melihatku dengan aneh.

"Kenapa?" tanyaku.

"Emang bener ya?" Sasuke balik nanya.

"Tu, sayurnya dah matang!" seruku.

Sasuke lalu melakukan sesuai yang aku perintahkan. Sasuke juga menyiapkan semuanya di meja makan.

Akhirnya, tiba waktunya untuk makan. Dah laper ni.

Aku dan Sasuke menuju ke meja makan. Wah, keliatannya enak, tapi apa rasanya sesuai penampilannya? Kita coba aja.

Aku mengambil nasi. Iih, banyak gosongnya sampai jadi intip (?). Hehe..nggak pa-palah, namanya juga belajar.

Masakan yang paling enak adalah telur dan tempe. Tentu, yang masak'kan aku.

"Ayo pakai sayurnya," tawar Sasuke.

"Nggak, aku nggak suka sayur-sayuran," tolakku dengan halus.

"Pantesan.."

"Pantesan apa?" tanyaku heran.

"Pantesan loe kayak lidi," jawab Sasuke tanpa dosa.

Kurang ajar tu anak. Pake ngatain aku lidi segala, bikin emosi aja.

"Biarin! Suka-suka aku. Yang punya badan aku. Kenapa situ yang ribet?" sewotku.

"Di bilangin juga."

"Udah dech. Senpai, nggak usah banyak komentar. Sekarang makan aja. Aku laper. Belum makan dari tadi siang ni," ucapku.

"Ehm..tangan loe bisa buat makan?" tanya Sasuke tiba-tiba.

"Hah…iya. masih bisa buat pegang sendok kok."

Kami pun makan bersama tanpa Naruto-Senpai. Tumben Naruto-Senpai nggak kesini.

Begitu selesai makan, kami ngobrol-ngobrol masih tetap di meja makan. Hingga Sasuke menanyakan sesuatu yang tidak aku sangka.

"Ehm...kalau boleh tau. Bagaimana ceritanya loe bisa tinggal di Panti?" tanya Sasuke. Pengen tau aja urusan orang.

"Sayangnya nggak boleh tuh," jawabku.

Yes! Haha…akhirnya aku bisa balas dendam juga sama Sasuke yang sok. Aku puas sekarang.

"Hahaha…kita seri," ucapku sambil tersenyum.

"Loe puas'kan?" sewot Sasuke.

"Sekali," jawabku dengan senyum kemenanganku.

"Ehm…gimana kalau Senpai cerita tentang masa lalu kakak yang katanya 'berat' itu, ntar aku cerita gimana aku bisa tinggal di Panti. Ok?" aku mulai mengajukan penawaran.

"Ehm.." Sasuke berfikir sejenak. "Ok," jawabnya kemudian.

Yess! Aku berhasil! Aku akan mengetahui rahasia masa lalu Irvan.

"Jadi?"

"Apanya?" tanyanya sok nggak tau.

"Ya ceritannya donk!"

Ni orang pura-pura lupa atau gimana sih.

"Ya ya. Ehm..Ibu gue meninggal waktu gue berumur 13 tahun. Gue sangat sedih, tapi Ayah gue lebih sedih lagi. Semenjak Ibu meninggal, Ayah jadi suka mabuk-mabukan dan pulang larut malam terus. Waktu pulang dalam keadaan mabuk, Ayah mukulin gue dengan kayu, ikat pinggang, apapun yang ada ia gunakan untuk nyiksa gue. Ayah sangat benci gue karena Ibu meninggal pas nylametin gue dari mobil yang akan nabrak gue. Waktu itu gue lagi nyebrang jalan dan gue nggak liat kanan kiri sehingga tidak tau kalau ada mobil yang melaju kencang ke arah gue." Mata Sasuke terlihat berkaca-kaca.

"Ini salah gue," gumamnya.

Jadi, luka yang ada dipunggung Sasuke itu karena dipukulin Ayahnya. Kasian Sasuke. Pantesan sikapnya dingin, karena terpengaruh Ayahnya. Mungkin karena kekerasan di masa lalunya sehingga Sasuke jadi begini.

Sasuke mulai meneruskan ceritanya, "Setelah puas menyiksa gue, Ayah pergi entah kemana. Gue mendengar kabar kalau Ayah dipenjara, entah karena apa. Hanya saja gue ngrasa itu lebih baik. Sampai sekarang gue nggak mau bertemu dengan Ayah gue. Gue..takut." ceritannyapun berhenti.

"Ya..aku tau perasaan Senpai. Sasuke-Senpai inget Ayah Senpai, waktu Ibu senpai masih ada?" tanyaku.

"Ya, Ayah sangat sayang dengan keluarganya. Saat kerja, Ayah juga bekerja keras dan bersikap baik dengan karyawannya. Sejak di penjara, kantor Ayah dihandel oleh tangan kanan Ayah. Hingga kini tidak ada masalah."

"Nah, itu Sasuke-Senpai tau, kalau Ayah Sasuke-Senpai baik degan keluarganya. Pasti Sasuke-Senpai juga mendapat kasih sayang dari Ayah Sasuke-Senpai."

"Ya," jawab Sasuke singkat.

"Nah, aku yakin, sampai sekarang Ayah Senpai juga masih sayang Sasuke-Senpai. Ayah Senpai yang ada di penjara pasti menunggu anaknya untuk melihat atau sekedar menjenguknya. Ayah Senpai menunggu kedatangan Senpai."

Wihh..kata-kataku menyentuh sekali ya, kayak udah profesional aja.

"Begitu ya?" tanya Sasuke tidak yakin.

"Ya. Ayah Senpai di penjara sedang ngrenungin kesalahannya yang sudah ia perbuat. Seperti aku yang kena skors untuk ngrenungin nasibku yang malang karena difitnah orang yang tidak berperikemanusiaan dan perikeadilan. Hahaha…" ucapku panjang lebar.

"Kenapa kok ketawa?" tanya Sasuke bingung.

Ya emang aneh sih. Difitnah kok malah ketawa.

"Nggak. Aku suka aja. Kalau aku difitnah, berarti di yang fitnah aku itu memperhatikanku. Aku senang aja diperhatiin. Hehehe.." jawabku.

Kalian juga pasti binggung..ya itulah caraku.

"Bodoh," cibir Sasuke.

"Biarin," jawabku. "Jadi, kapan senpai mau jenguk Ayah senpai?" tanyaku.

"Ehm..yang pasti belum saat ini. Gue belum siap," jawab Sasuke.

"Ok. Kalau Sasuke-Senpai mau jenguk Ayah Senpai, aku ikut ya?" pintaku.

"Ngapain coba?" tanya Sasuke.

"Ya…mau kenalan, gitu," jawabku.

"Loe itu, aneh-aneh aja. Ya ya..gue akan ajak loe," jawab Sasuke akhirnya mau ngajak aku kalau dia njenguk Ayahnya.

"Ok," jawabku dengan semangat.

Yes! Aku udah nggak penasaran lagi. Naruto-Senpai, aku menang!

"Terus gimana?" tanya Sasuke.

"Gimana apanya?" tanyaku bingung.

"Ya cerita tentang loe sampai bisa tinggal di panti," jawab Sasuke mulai dongkol.

Aku sengaja tu, mau balas dendam ma Sasuke. Dia tadi juga gitu.

"Ow. Jadi, gini ceritanya, orang tua dan kakakku meninggal. Jadi, aku nggak punya siapa-siapa, ya…terus nenek Chiyo nolong aku. Jadi deh, aku tinggal di Panti," jawabku.

"Udah? Cuma gitu doang?" tanya Sasuke terlihat bingung.

"He'em." Aku mengangguk. Haha..sukurin!

"Keluarga loe meninggal karena apa?" tanya Sasuke masih penasaran.

"Aku nggak mau jawab," jawabku.

"Lho kenapa?" tanya Sasuke makin bingung.

"Itu masa laluku," jawabku.

"Emang kenapa?" tanyanya lagi makin bingung berlipat ganda.

"Ya..karena itu privasi," jawabku enteng.

"Tapi tadi bilang kalau mau cerita'kan?" Sasuke tambah bingung lagi tiga kali lipat.

"Kapan?" tanyaku sok dengan wajah pura-pura bingung.

"Tadi. Tadi kita'kan dah saling sepakat'kan," jawab Sasuke.

"Hello? Senpai udah hilang ingatan? Sasuke-Senpai tadi tanya 'bagaimana ceritanya aku masuk ke panti' terus, aku janji sama Sasuke-Senpai apa?" tanyaku pada Sasuke.

"Ya iya sih. Tapi…."

Hahaha….gue kerjain loe, haha..(licik ya?) nggak pa-pa lah.

"Kan yang penting aku udah nepatin janjiku'kan," ucapku.

"Jadi…loe ngerjain gue?" terlihat sekali Sasuke marah.

"Hahaha…katanya pinter, tapi kok bisa dibohingin sama orang bego kayak aku ya?" ejekku.

"Sialan loe." Aku tau Sasuke nggak marah-marah banget sama aku.

"Hehe..peace ."

"…." Nggak ada jawaban darinya.

"Senpai marah ya?" tanyaku sambil meliriknya.

"Haillo?" sapa Naruto-Senpai yang baru datang.

"Hy, Senpai," jawabku.

"Wah, enak nih. Makan ah.." celetuk Naruto-Senpai lalu mengambil nasi.

"Ini nasi apaan? Nasi item?" komentar Naruto-Senpai.

"Itu nasi putih, Senpai. Tadi gosong. Yang masak Sasuke-Senpai," aduku.

"Daripada loe. Loe juga nggak bisa masak nasi'kan?" balas Sasuke.

"Ya iya sih." Aku tidak bisa menjawab perkataan Sasuke.

Keadaan kami mulai membaik. Tiba-tiba HP-ku berbunyi.

"Sorry, aku angkat telepon dulu ya.." kataku kemudian menjauh dari mereka berdua.

Hinata? Ngapain dia telepon aku? Aku segera mengangkat telepon darinya.

"Halo, Hinata?" jawabku.

"Saku-chan, tolong aku! Aku takut!" ucap Hinata di seberang telepon dengan bergetar.

Kenapa? Ada apa dengan Hinata? Kenapa ia ketakutan.

"Ada apa, Hinata? Loe tenang aja. Loe sekarang ada dimana?" tanyaku panik juga.

"Aku ada di sekolah. Ada orang jahat. Kamu cepet kesini,Saku-chan! Tapi jangan bawa siapa-siapa," pinta Hinata dengan cemas.

"Iya iya. Loe tenang ya. Gue akan ke sana secepatnya!" aku menutup sambungan telepon Hinata. Aku pun segera mengambil tasku.

"Kamu mau kemana?" tanya Naruto-Senpai.

"A..aku ada urusan sebentar, kak. Aku pergi dulu ya?" pamitku langsung keluar rumah Sasuke. Ada apa dengan Hinata? Aku sangat khawatir denganya. Tunggu sebentar, Hinata! Aku akan kesana!

.

.

.

.

.

TO BE CONTINUE

Ada apa dengan Hinata? Mau tau? Tunggu kelanjutan dari jidat, sayangku chapter selanjutnya ya! ^_^

Catatan Author:

Hah, akhirnya selesai juga chapter 5. Hehe..

Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan. Semoga suka ya ^_^

Makasih juga untuk para Reader dan juga para review…^_^

BALSAN REVIEW:

#medusa: iay. Mksih

#Rosdin Always Sasusaku : ini udh update. mksih

#Cerry kuchiki : hehe..maaf dah hiatus lama. mksih

#Arezzo Calienttes 'Namikaze: hehe..maaf…ini dah update lg . mksh