Chapter 6
Fanfic : Jidat, Sayangku
Author : Naumi Megumi
Pairing : SasuSaku, NaruHina
Rate : T
Genre : Romance/Friendship/Humor/Hurt
Disclaimmer : Naruto milik Mashashi Kishimoto
Jidat, Sayangku… hanya milikku, untuk selamanya
Warning :
OOc banget, Gaje, Typo, abal, Update tak tentu, bahasa yang nggak sesuai EYD dan hanya terima FLAME YANG MEMBANGUN!
Summary :
Sakura di telfon oleh Hinata yang terdengar sangat ketakutan. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Hinata?
Terinspirasi dari komik jepang yang berjudul "Electric Daisy" atau "Dengeki Daisy" karangan Motomi Kyousuke.
Ini juga salah satu novel-ku yang aku jadiin fanfic, jadi apabila ada nama yang belum ke-edit mohon maaf ya.
Di sini aku pakai Sakura's POV dari awal sampai seterusnya. Makasih yang sudah RnR ya…
Upadate Jidat, Sayangku tiap 3 minggu sekali. Hehe...maaf
Aku datang kembali. Hahay.
Balasan review ada di bawah!
Yowes lah, ayo gek baca!
DON'T LIKE DON'T READ
Jangan lupa RnR-nya
Happy Reading
Jidat, Sayangku….
Chapter 6
"Hinata!" panggilku begitu memasuki halaman sekolah. Tidak ada jawaban sama sekali. Aku cemas dengan keadaan Hinata.
HP-ku berbunyi lagi. Telpon dari Hinata, langsung aku jawab.
"Hinata, loe ada dimana?" tanyaku cemas.
"Gue di kelas. Cepat kesini!" pinta Hinata. Aku menutup telfonku dan segera ke kelas X-A. Kelas terlihat sepi. Aku masuk perlahan. Sepertinya tidak ada tanda-tanda ada orang.
"Brak!" terdengar suara pintu yang ditutup secara kasar. Ketika aku akan menoleh ke belakang, ada pisau yang sudah mengincar leherku.
"Hay, my friend…?" bisik orang itu tepat didepan telingaku. Itu…suara Hinata. Hinata?
"Hinata? Loe…"
"Eits! Jangan bergerak! Kalau loe bergerak bisa-bisa leher loe tergores pisau atau lebih parah lagi? Jadi jangan coba-coba buat melawan!" ancam Hinata.
Tapi kenapa Hinata ngelakuin ini ke aku? Ada apa dengan Hinata?
"Hinata, kenapa loe? Jangan bercanda. Ini nggak lucu!" ucapku berharap ini semua adalah lelucon.
"Gue nggak bercanda," jawab Hinata. Dan itu menghancurkan harapanku.
"Kenapa loe lakuin ini sama gue?" tanyaku masih bingung.
"Kenapa Sasuke-Senpai deket sama loe? Kenapa nggak gue aja yang deket sama dia? Loe rebut Sasuke-Senpai dari gue!" teriak Hinata tepat di depan telingaku.
"Loe suka sama Sasuke-Senpai?" tanyaku.
"Iya. Dan gue nggak suka kalau loe deket sama Sasuke-Senpai!" jawab Hinata.
"Kenapa loe nggak bilang? Coba kalau loe bilang pasti sudah gue comblangin loe sama Sasuke-Senpai," ucapku.
"Jangan sok baek deh loe! Gue nggak percaya sama loe."
"Gue nggak sok baek. Aku akan melakukan apapun untuk elo, Hinata. Elo adalah sahabat gue," ucapku.
"Tapi kenapa saat loe dirampok dan saat loe nolongin Ibu-Ibu waktu di Mall itu Sasuke-Senpai selalu ada di samping loe?"
"Kalau soal itu gue nggak tau, tapi tunggu! Kenapa loe tau semua itu? Gue belum cerita waktu gue dijambret, 'kan?" tanyaku bingung.
"Ya jelaslah. Semua orang itu suruhan gue untuk nyelakain loe! Tapi semua gagal. Selalu saja Sasuke-Senpai ada untuk nolongin loe! Loe tau? Soal HP Karin itu juga rencana gue dan Karin!" ucap Hinata.
Semua penjelasan itu sudah cukup menjelaskan semua kejadian yang ada dalam hidupku yang semuanya mencelakakanku. Hinata? Aku nggak percaya Hinata bisa melakukan ini semua.
"Kenapa?" tanyaku. Aku ingin tau kenapa Hinata melakukan ini semua.
"Gue iri sama loe! Gue benci saat loe deket sama Sasuke-Senpai! Aku benci loe!" amarah Hinata mulai memuncak hingga pisaunya sedikit menggores leherku dan keluarlah darah segar dari leherku.
Dok! Dok! Dok!
Terdengar suara berisik. Suara itu bersumber dari jendela. Aku dan Hinata mengalihkan pandangan kami ke arah jendela yang berada di depan kami.
Sasuke? Naruto-Senpai?
Mereka datang lewat jendela. Hinata gugup, ia melepaskanku dan keluar kelas, ia berlari ke halaman dan keluar gerbang sekolah menuju jalanan.
"Hinata tunggu!" panggilku sambil mengejarnya.
Begitu sampai di jalanan, aku melihat ada mobil yang melaju kencang menuju arah Hinata tapi Hinata tidak mengetahuinya.
"Hinata, Awass!" teriakku. Aku berlari ke arah Hinata, aku dorong Hinata beserta tubuhku.
"Ciitttt! Bruk!" setengah sadar aku melihat bayang-bayang Hinata. Lalu pandaganku kabur. Hinata…
"Hay?" sapa Naruto-Senpai yang masuk dengan Sasuke.
"Hay juga," jawabku dengan senyum.
"Gimana keadaanmu?" tanya Naruto-Senpai.
"Lumayan baik," jawabku masih dengan senyum.
Ya, setelah kecelakaan kemarin, aku masuk rumah sakit. Baru hari ini aku siuman. Lukaku tidak begitu parah. Tapi bagaiman keadaaan Hinata? Sampai hari ini aku belum mengetahui kabarnya.
"Ini untukmu," Naruto-Senpai membawakan buket bunga. Hem...harum.
"Kalau dari gue doa biar cepet sembuh," ucap Sasuke dengan nada datar. Senyum dikit kek. Njenguk orang sakit kok mukanya biasa aja. Yang sakit malah tambah sakit.
"Iya. Makasih, Sasuke-Senpai," ucapku sambil tetap tersenyum.
"Ada seseorang yang mau ketemu sama loe," ucap Sasuke.
"Siapa?" tanyaku penasaran.
Lalu masuklah Hinata dengan ragu-ragu. Hinata? Aku senang dia baik-baik saja. Ia mendekat ke arahku.
"Kami keluar dulu ya?" pamit Naruto-Senpai dan Sasuke. Mereka berdua lalu keluar membiarkan aku dan Hinata bicara empat mata.
"Sakura-chan!" seru Hinata keras sambil nangis lagi. Ia memelukku. Hinata masih sama seperti dulu. Suka memanggil namaku dengan keras.
"Udah, Hinata. Nggak usah gitu." Hinata melepaskan pelukannya.
"Sakura-chan, gue minta maaf ya. Gara-gara gue loe jadi…" ucap Hinata pelan sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah. Kita'kan sahabat," ucapku menenangkan Hinata.
"Jadi, kita masih jadi sahabat?" tanya Hinata ragu-ragu.
"Tentulah, Hinata. Sorry ya, HP pemberian loe rusak gara-gara gue," ucapku meyesal.
"Nggak pa-pa. ntar gue beliin lagi," ucapnya dengan senyum.
"Nggak usah, Hinata. Gue ngak mau ngrepotin loe terus," tolakku dengan halus.
"Nggak pa-pa. Apa loe nggak mau nrima barang pemberian gue?" tanya Hinata sedih.
"Bukan begitu. Gue nggak nerima barang dari sahabat gue. Gue nggak mau persahabatan kita dinilai dengan barang. Loe janji'kan nggak akan ngasih gue apa-apa lagi?" pintaku.
"Ehm...iya dech," jawab Hinata. Akhirnya.
"Hem…Hem..." Naruto-Senpai berdehem begitu masuk.
"Ya udah ya, Sakura-chan. Gue pulang dulu. Oh ya, setelah loe sembuh, loe udah bisa masuk sekolah lagi. Pihak sekolah sudah mencabut hukuman loe. Karna loe emang nggak salah," kata Hinata kemudian keluar.
"Ehm...aku nganterin Hinata dulu ya?" pamit Naruto-Senpai. Lalu menyusul Hinata.
Sikap Hinata dan Naruto-Senpai aneh. Mendadak mereka menjadi deket. Ada apa dengan mereka ya?
"Loe itu suka banget ya nyari mati," ucap Sasuke yang membuyarkan lamunanku.
"..." Aku hanya senyum.
"Kenapa loe malah senyum? Loe itu hampir mati," ucap Sasuke bingung.
"Aku seneng aja. Melihat orang yang kita sayangi baik-baik saja. Rasanya seneng dan lega. Aku senang Hinata selamat, karena Hinata adalah orang yang aku sayangi. Aku nggak mau kehilangan orang yang aku sayangi lagi karena aku tidak bisa berbuat apa-apa," jawabku.
"Loe bilang apaan sih?" tanya Sasuke bingung.
"Hah, nggak. Nggak usah dipikirin omonganku yang tadi." Sasuke pasti tambah bingung. "Oh ya, Senpai. Makasih buat semuanya," ucapku berterima kasih.
"Ya." Dengan datar Sasuke menjawab.
"O ya, Senpai. Kapan Sasuke-Senpai njenguk Ayah Sasuke-Senpai?" tanyaku.
"Makanya cepet sembuh. Ntar kalau loe sudah sembuh, kita jenguk Ayahku bareng," ucap Sasuke.
"Ok," jawabku bersemangat.
"Duluan ya, Sakura-chan?" pamit Hinata yang sudah ditunggu Naruto-Senpai.
"Daagh…Sakura-chan?" Naruto-Senpai melambaikan tangannya ke arahku.
Hinata lalu masuk ke mobil Naruto-Senpai. Dan mereka pun berlalu.
Sudah seminggu sejak kejadian itu. Aku sudah sembuh dan masuk sekolah lagi. Dan pulang sekolah ini, aku dan Sasuke akan menjenguk Ayah Sasuke di penjara.
"Hey, ayo naik!" perintah Sasuke. Ia memakai motor. Apa dia bisa bawa motor?
"Senpai, kamu bisa mengendarai motor dengan baik, 'kan?" tanyaku ragu.
"Loe nggak percaya sama gue? Cepetan naek!" perintahnya lagi.
"Iya iya," jawabku lalu naik motor Sasuke. Baru pertama aku sedekat ini dengan Sasuke.
"Pegangan!" seru Sasuke saat aku memakai helm dan jaket.
"Pegangan mana?" tanyaku.
"Ya pegangan gue lah. Apa loe sudah bosen idup?"
" Iya iya."
Jadi orang kok sensi amat. Aku melingkarkan tanganku ke pinggang Sasuke. Mendadak jantungku jadi deg-degan. Ya karena tanganku pendek, saat aku melingkarkan tanganku sama saja aku memeluk Sasuke. Aku bisa merasakan punggungnya yang begitu lebar dan hangat. Aduh Sakura, loe mikir apa sih? Kenapa aku jadi aneh gini sih?
"Aarrgh!" teriakku kaget saat Sasuke tancap gas. Sasuke mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi. Ni orang udah bosen idup apa?
"Kak Sasuke udah bosen idup?" tegurku berseru karena di jalanan berisik.
"Udah deh. Nggak usah banyak protes. Loe percaya deh ama gue!" perintah Sasuke dengan berseru pula.
"Ayolah! Cepat masuk?" perintahku sambil mendorong Sasuke untuk masuk ke kantor polisi.
"Tapi…"
"Kesempatan tidak datang 2 kali. Inilah saatnya. Aku udah antar dan nemenin Sasuke-Senpai. Ayo cepat sana!" desakku.
"Iya." Sasuke lalu masuk dan tanya kepada Pak Polisi, Bapak Polisi pun mengantarkan kami ke tempat Ayah Sasuke. Aku hanya menunggu di dekat pintu masuk ruangan sel. Tempat para narapidana dipenjarakan.
Betapa senangnya bertemu keluarga yang sudah lama tidak bertemu.
"Tuan Fugaku, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda," kata Pak Polisi pada seorang pria yang ada di dalam sel. Ya, sepertinya itu Ayah Sasuke.
"Ayah!" seru Sasuke sambil berlari mendekati Ayahnya.
Kayaknya Ayah Sasuke sedikit lupa dengan Sasuke.
"Sasuke?" ucap Ayah Sasuke kurang yakin. Mungkin selama ini Ayahnya tidak ada yang melihatnya, jadi ia hanya tidak percaya ternyata anaknya menjenguk di penjara, tapi ia sangat senang bisa bertemu dengan anaknya, yaitu Sasuke.
"Sasuke? ini benar kamu?" tanya Ayah Sasuke meyakinkan.
"Iya, Yah. Maafkan Sasuke yang nggak pernah njenguk Ayah. Ayah pasti kesepian disini sendiri," ucap Sasuke menyesal.
"Syukurlah ini benar-benar kamu. Ayah rindu denganmu, Sasuke," ucap Ayah Sasuke.
Oh, jadi terharu.
"Sasuke juga, Yah," balas Sasuke.
"Maafkan Ayah yang tidak bisa menjadi Ayah yang baik buat kamu, Sasuke," ucap Ayah Sasuke dengan penuh penyesalan.
"Ayah kenapa sampai masuk penjara?" tanya Sasuke.
"Ayah telah membunuh orang, Sasuke. Saat Ayah pergi, tiba-tiba saja Ayah masuk ke sebuah rumah dan Ayah membunuh keluarga itu. Ayah tidak sadar. Tapi ada satu anak kecil yang tidak Ayah bunuh. Ia mengetahui kalau keluarganya mati dibunuh Ayah. Ayah benar-benar khilaf, Sasuke" jawab Ayah Sasuke.
Deg!
Apa? Apa mungkin dia. Aku segera mendekatkan diri ke Ayah Sasuke untuk memastikan kalau Ayah Sasuke bukan pria dewasa yang telah membunuh semua orang yang aku sayangi.
Setelah aku mendekat, memang benar. Dialah yang telah membunuh semua keluargaku.
"Kenapa?" tanyaku dengan suara keras, mataku berkaca-kaca. "Kenapa Anda membunuh keluarga itu?" lanjutku masih dengan suara keras.
"Sa…saya…" ucap Ayah Sasuke terbata-bata.
"Anda tau?" potongku.
"Sakura, apa yang…" Sasuke mencoba menghentikanku.
"Diam! Loe nggak tau perasaan gue!" bentakku.
Sasuke terdiam begitu pula Ayahnya. Mungkin mereka bingung kenapa aku tiba-tiba marah pada Ayah Sasuke.
"Apakah Anda tahu kesalahan apa yang telah Anda perbuat? Betapa bahagianya keluarga itu sebelum Anda datang dan membunuh mereka. Betapa sakitnya perasaan anak itu melihat keluarganya dibunuh oleh orang yang tidak dikenalnya di hadapannya…" kataku terhenti karena air mata yang terlalu banyak keluar dari mataku.
Begitu dalam kesedihan ini sehingga aku tidak sanggup untuk mengeluarkan kata-kata. "Apa Anda tahu perasaan anak itu? Anak kecil itu menjadi sebatang kara yang tidak bisa merasakan kasih sayang keluarganya lagi!" makiku.
"Sakura, apa yang loe katakan? Kenapa loe bisa tau semua itu?" tanya Sasuke bingung.
"Loe tau? Ayah Sasuke-Senpai sudah membunuh semu keluargaku!" seruku.
"Apa?" Sasuke begitu terkejut mendengar perkataanku begitu pula dengan Ayahnya.
"Maafkan sa…"
"Nggak!" teriakku. "Kenapa Anda begitu tega membunuh orang yang aku sayangi?" teriakku dengan air mata yang mengalir deras.
"Anda jahat!" teriakku lalu berlari keluar meninggalkan Sasuke dan Ayahnya. Aku nggak peduli walau kudengar suara Sasuke yang berteriak memanggilku. Aku terus berlari entah kemana aku akan pergi.
"Ibu, Ayah, Kak Sasori, kalian dimana? Kenapa kalian nggak ajak Sakura pergi bersama kalian? Sakura ingin berkumpul dengan kalian," ucapku sambil menangis di atas makam Ibu, Ayah dan Kak Sasori yang berjajar.
Kakiku berjalan ke makam mereka. Aku terus menangis sambil memeluk makam mereka…hingga tertidur.
"Dek...dek, bangun!" ada seseorang yang memegang bahuku. Aku terbangun. Ternyata penjaga makam. Hari sudah gelap.
"Adek kenapa tidur di atas makam? Sudahlah dek, orang yang sudah meninggal tidak akan kembali lagi. Ikhlaskan mereka. Mereka tetap ada di hati adek kok walaupun mereka sudah tidak ada," ucap Bapak penjaga makam.
"Makasih, Pak. Permisi," pamitku dengan senyum.
"Iya," jawab Bapak itu.
Aku pun pergi ke rumah. Pulang. Kebetulan rumahku yang dulu tidak begitu jauh dari tempat pemakaman. Aku berdiri di depan gerbang, aku mencoba membuka gerbang tapi digembog. Aku berjalan ke tetangga. Kuketuk pintunya. Pemilik rumah itu membuka pintunya. Seorang cowok, beralis tebal? Aneh. Mungkin anak pemilik rumah.
"Maaf, ehm...apa rumah itu ada yang menempati?" tanyaku sopan.
"..." Cowok itu belum menjawab pertanyaanku mungkin bingung melihatku yang masih mengenakan seragam sekolah. Cowok itu menaikan alis kananya.
"Sakura-chan ya?" tanyanya antusias.
"Iya," jawabku bingung. Siapa cowok ini? Sepertinya dia sangat mengenalku.
"Wow, ini bener loe? Sorry maksud aku, ini beneran kamu? Sudah lama kita tidak bertemu. Gimana kabarmu? Sekolah dimana? Kamu sekarang tinggal dimana?" Bertubi-tubi pertanyaan ia luncurkan kepadaku. Aku sampai bingung mau jawab yang mana dulu. Bahkan aku juga tidak berniat untuk menjawab satupun pertanyaannya.
"Oh ya. Ayo masuk!" ajak cowok itu akhirnya.
Di dalam aku bertemu dengan Bibi Rin, Ibu cowok tadi. Ternyata dia adalah Lee, temen masa kecilku. Dia begitu cerewet dan rada gila.
Aku izin pada Bibi Rin untuk menginap beberapa hari. Aku tidak ingin kembali ke panti untuk sementara waktu. Aku nggak mau bertemu dengan Sasuke. Aku pengen sendiri. Aku butuh ketenangan. Aku pun menginap di rumah Bibi Rin.
.
.
.
.
.
Bagaimanakah kisah Sakura selanjutnya? Apakah dia akan menerima ayah Sasuke yang ternyata adalah pembunuh keluarganya?
Tunggu chapter selanjutnya ^_^
TO BE CONTINUE
.
.
Catatan Author:
Chap 6 dah selesai, dan kurang 1 atau 2 chapter lagi akan tamat. Hehe. Akhirnya fic ini akan segera selesai. Soalnya ini fic jelek banget. Pengen cepet namatin. Hehe.
Makasih buat para reader dan para review dan para flamer.
Makasih semuannya. Maaf jika fic—ku jelek banget dan abal banget.
BALASAN REVIEW:
cherry kuchiki :
maaf ya,kayaknya agak lama ni,hehe.
Lain kali aku banyakin deh SasuSaku-nya. Mungkin di squelnya, soalnya ini juga mau
Arezo Calienttes 'Namikaze:
hehe..maaf, luput dari edit-an, ni udah tak edit lagi. sudah lumayan belum?
Arezo Calienttes 'Namikaze unlog:
wah, makasih atas koreksinya ^_^. Makasih juga atas review-nya ^_^
Karasu Uchiha:
Hehe..maaf. iya ya, (o.O)a
Aduh, kenapa aku baru kepikiran sekarang ya? hehe,,maaf ya. udah terlanjur, lain kali akan aku pukirkan baik-baik tentang judulnya.
Makasih dah ngingetin. Dan makasih dah review ^_^
Andrearareza:
makasih atas flame ramahnya ^_^
Defbra Ino d'MixXenea:
Hehe. Dah tau jawabannya, 'kan?
Makasih dah review ^_^
Cerry kuchiki:
Hehe…makasih dah mau review ^_^
Lucy Uchino:
Wah, makasih dah ingetin, aku akan lebih berhati-hati. Kalau yang ini udah lumayan belum?
Salam kenal juga ^_^
Makasih dah mau sempetin review ^_^
