Chapter 7 (perbaikan)

Fanfic : Jidat, Sayangku

Author : Naumi Megumi

Pairing : SasuSaku, NaruHina

Rate : T

Genre : Romance/Friendship/Humor/Hurt

Disclaimmer : Naruto-senpai milik Mashashi Kishimoto

Jidat, Sayangku… hanya milikku, untuk selamanya

Warning :

OOc banget, Gaje, Typo, abal, Update tak tentu, bahasa yang nggak sesuai EYD dan hanya terima FLAME YANG MEMBANGUN!

Summary :

LASH CHAPTER!

Jadi, jangan lewatkan ya cerita gaje Sakura, Sasuke, Naruto dan Hinata ini!

Terinspirasi dari komik jepang yang berjudul "Electric Daisy" atau "Dengeki Daisy" karangan Motomi Kyousuke.

Ini juga salah satu novel-ku yang aku jadiin fanfic, jadi apabila ada nama yang belum ke-edit mohon maaf ya.

Di sini aku pakai Sakura's POV dari awal sampai seterusnya. Makasih yang sudah RnR ya…

Makasih untuk semua yang dah ngikutin fic-q yang jelek ini dari awal hingga akhir. Hikz…

Ini lash chapter dan perbaikan chap 7, selamat membaca da

Balasan review ada di bawah!

Yowes lah, ayo gek baca!

DON'T LIKE DON'T READ

Jangan lupa RnR-nya

Happy Reading

Jidat, Sayangku….

Chapter 7

Kaa-san, Tou-san, Sasori-nii? Meraka muncul memakai baju serba putih.

"Kaa-san, Tou-san, Sasori-nii?"

"Sakura, ikhlaskanlah kami, kami akan selalu dihatimu. Maafkanlah Tuan Fugaku. Dia tidak bersalah. Ini semua karena takdir," kata Kaa-san.

"Sakura sayang kalian," ucapku sambil menangis. Lagi-lagi kurasakan kehangatan yang mengusap pipiku.

"Kami sayang kamu, Sakura," ucap Kaa-san, Tou-san, Sasori-nii. Kemudian mereka menghilang entah kemana.

Kukerjab-kerjabkan mataku. Kulihat bayangan seseorang yang duduk tepat di samping kakiku dan di depan mataku. Bayangan itu mulai terlihat jelas. Sasuke?

Aku segera bangun dan mengambil posisi duduk. Kenapa Sasuke bisa tahu aku di sini? Ya, ini adalah tempat favorit kami sekeluarga. Kami duduk di kursi panjang yang terbuat dari semen, tapi nyaman, yang terletak di halaman belakang rumahku. Aku hanya diam duduk di samping Sasuke.

"Gimana keadaan loe?" tanya Sasuke memulai percakapan. Aku masih diam.

"Loe pernah bilang ma gue kalau masa lalu yang berat jangan diangkat. Tinggalin aja. Gue lebih mending, tapi loe menginhar dari masa lalu loe," ucap Sasuke.

"Sasuke-senpai nggak ngerti! Ini tentang keluargaku!" seruku tak memandangnya.

"Iya, gue tau. Loe selama ini sok ceria hanya untuk menutupi kesedihan masa lalu loe. Walauppun gue sedih gue masih mau cerita ke Naruto, tapi loe nggak pernah mau cerita ke orang lain. Setidaknya kalau loe cerita, loe bisa nangis, numpahin segala kesedihan loe. Loe bisa nangis sepuas loe," ucap Sasuke

"Air mata itu tanda kelemahan. Aku nggak mau terlihat lemah," ucapku.

"Loe salah. Air mata adalah sebuah ekspresi yang muncul karena perasaan kita. Setidaknya kalau loe nangis sepuas loe, itu bisa mengurangi beban loe. Loe bisa keluarin unek-unek loe. Sekarang pun loe bisa nangis sepuas loe di hadapan gue," kata Sasuke lembut.

Hikz…aku mulai meneteskan air mataku. Sasuke menggeser duduknya lebih dekat ke arahku.

"Loe boleh nangis di bahu gue." Sasuke menyodorkan bahunya.

"Loe pernah bilang, kalau Ayah gue adalah orang baik. Gue juga berfikir begitu. Loe percayakan ma gue?" ucap Sasuke.

Ya, aku percaya dengan Sasuke.

"Ya, aku percaya," jawabku.

"Hai? Wah mesranya?" sapa Hinata dan Naruto-senpai yang baru datang.

Aku lalu mendongakkan kepalaku dan menghapus air mataku.

"Nggak pa-pa. Nggak usah takut ketahuan kalau loe nangis. Yang gue liat itu loe kuat," ucap Hinata.

"Hinata, makasih," ucapku sambil memeluk Hinata.

"Hinata, kapan kita kayak mereka? Duduk berduaan di taman yang indah?" tanya Naruto-senpai. Apa maksud kalimat itu? Jangan-jangan mereka sudah…

"Kalian sudah jadian?" tebakku. Mereka mengangguk.

"Wah, selamat ya? Semoga langgeng…" ucapku memberi selamat pada Hinata dan Naruto-senpai.

"Kalian juga ya, semoga langgeng dan dikuringi berantemnya," ucap Naruto-senpai. Maksudnya?

"Maksud Naruto-senpai siapa?" tanyaku bingung.

"Ya kamu dan Sasuke'lah. Siapa lagi?" jawab Naruto-senpai.

"Kami...nggak jadian," sanggahku bingung.

"Jadi belum?" tanya Hinata.

Maksud dari omongan ini apa sih? Kenapa mereka jadi aneh gini sih?

"Maksudnya ada apa sih?" tanyaku bingung.

"Eer…bukan. Nggak ada maksud apa-apa. Jangan dengerin! Hehe….." tiba-tiba Sasuke ikut dengan percakapan kami. Sikapnya aneh. Sepertinya ada sesuatu yang aku nggak tahu.

Aku mengajak Hinata untuk menjauh dari Naruto-senpai dan Sasuke sebentar.

"Oh ya, Hinata. Bukannya loe suka Sasuke-senpai?" tanyaku berbisik dengan Hinata.

"Itu dulu. Sasuke-senpai sudah naksir seseorang. Jadi, gue lebih milih mundur," jawab Hinata.

What? Apa bener Sasuke suka seseorang? Siapa? Kok aku jadi pengen tau urusan Sasuke sih?

"Siapa?" tanyaku penasaran.

"Ada dech…" jawab Hinata bercanda.

Ih…si Hinata kok main rahasia-rahasiaan sih. Hinata kemudian kembali ke Naruto-senpai dan Sasuke.

"Sakura, saat Sasuke cari informasi dari Karin, tahu nggak…kalau Sasuke bela-belain ngrayu Karin dengan rayuan gombalnya lho. Dan…itu baru pertama kali ia lakukan dalam hidupnya. Dan kamu tahu nggak? Semua itu dilakukannya buat kamu lho…" kata Naruto-senpai.

Masak iya sih, Sasuke nglakuin itu semua.

Aku melirik Sasuke sekilas. Tapi dianya malah sok nggak denger.

"Oh ya, Sakura. Tanya saja sendiri ma orangnya siapa yang ditaksir Sasuke-senpai. Kalau kamu masih penasaran." Duh ni orang peke buka-buka kartu segala.

Aku melirik Sasuke lagi. Kali ini ia melihatku. Dan memesang wajah penasaran.

"Kita pergi dulu ya?" pamit Naruto-senpai dan Hinata meninggalkan kami berdua.

"Iya," jawabku sambil melambaikan tanganku ke arah Naruto-senpai dan Hinata.

Aku kembali duduk, begitu pula dengan Sasuke. Ia kembali duduk di sampingku.

"Loe kalo tidur memang suka nangis ya?" tanya Sasuke tiba-tiba.

"Masa'?" tanyaku bingung.

"Iya. Loe nggak sadar?" tanya Sasuke lagi.

"Kayaknya. Oh ya, bagaimana kabar Ayah Sasuke-senpai?" tanyaku mengganti topik lain.

"Ayah baik-baik di penjara. Ayah juga titip salam buat loe. Kata Ayah, dia minta maaf sama elo," ucap Sasuke.

"Ya, aku udah maafin Ayah Sasuke-senpai kok. Itu juga bukan salah Ayah Sasuke-senpai kok. Itu semua memang sudah takdir," jawabku dengan senyum.

"Ehm...makasih ya?"

"He'em," jawabku sambil tersenyum. "Oh ya, Sasuke-senpai lagi naksir seseorang ya? Memangnya siapa cewek yang Senpai taksir itu?" tanyaku penasaran.

"Kenapa emangnya?" Sasuke malah balik tanya.

"Cuma heran saja. Sasuke-senpai bisa punya perasaan cinta juga ya sama cewek?" tanyaku heran.

"Puas ya ngejeknya? Lagian perasaan gue ini tulus," sewot Sasuke.

"Ya ya. Terus siapa cewek itu?" tanyaku penasaran.

"Ehm…rahasia," jawab Sasuke tanpa dosa.

"Huh, dasar pelit informasi!" sewotku.

"Hahaha…" Sasuke tertawa, baru pertama aku melihat Sasuke tertawa lepas kayak gini. "Gue suka ama Sakura si jidat," lanjutnya tiba-tiba.

"Apa? Sakura si jidat?" itu berarti aku'kan. Itu ada Sakura-nya. Tapi kenapa harus ditambahin kata-kata 'jidat' sih.

"Maksuda Sasuke-senpai, jidatku ini lebar gitu? tanyaku yang mulai marah. Masak jidatku dibilang lebar.

"Gue'kan nggak bilang jidat loe lebar, itu malak loe sendiri yang ngakuin kalau jidat loe lebar," ucap Sasuke tanpa dosa.

Ni anak mau gue buat bubur kali ya. Emang iya sih kalau Sasuke nggak bilang jidatku lebar, tapi kan dengan menyebutku 'jidat' itu dah mewakili kata 'jidat lebar'. Huh, nyebelin banget sih ni orang.

"Tapi intinya sama saja dengan senpai memanggilku jidat atau jidat lebar, itu berarti senpai memang mengakui kalau jidatku memang lebar."

"Ya emang gitu'kan?" jawab Sasuke tanpa dosa lagi. Dan ketika aku akan memarahinya. "Tapi…aku justru suka Sakura yang punya jidat lebar. Jadi, apa kamu mau jadi pacarku, jidat sayangku?" tanya Sasuke dengan kata aku-kamu. Aku suka kata itu. Lebih enak didengar.

Hey? Apa baru saja Sasuke nembak aku? Apa ini mimpi? Ya ampun…

"Apa? Sasuke-senpai nggak salah bilang'kan kalau senpai baru aja nembak aku?" tanyaku meyakinkan.

"Nggak, kamu nggak salah denger kok. Jadi, gimana?" tanya Sasuke.

"Ehm…ada satu syarat untuk kak Sasuke." Ajuku.

"Syarat apa?" tanya Sasuke.

"Aku nggak mau panggil Sasuke-senpai dengan sebutan 'senpai' lagi," jawabku.

"Lho kenapa?" tanya Sasuke bingung.

"Aku capek panggil 'senpai' terus. Nggak cocok juga buat kamu. Hehe…" ucapku jujur sambil nyengir.

"Terus yang cocok dipanggil apa?" tanya Sasuke.

"Ehm...cocoknya dipanggil Sasuke ayam…hehe…" ucapku sambil nyengir.

"Kalau gitu aku panggil kamu Sakura jidat. Kalau kamu setuju, aku juga setuju." Sasuke mulai mengajukan sebuah penawaran.

Aku berfikir sejenak. Ehm…

"Ok…aku setuju," jawabku setuju.

"Jadi, kita resmi jadian ni, Sasuke?" tanyaku sambil melihat Sasuke yang masih duduk disampingku.

"Hn," jawab Sasuke singkat. Aku pun tersenyum.

"Kenapa tersenyum?" tanya Sasuke sambil menaikkjan sebelah alisnya.

"Nggak pa-pa," jawabku.

"Hn." Sasuke hanya merespon dengan gumaman 'Hn'.

"Kamu tau nggak?" tanya Sasuke sambil melihat ke arahku.

"Apa?" tanyaku juga melihatnya.

"Waktu kamu tidur di rumahku, kamu juga nangis," jawab Sasuke.

"Ha? Oh itu. Terus apa yang kamu lakuin?" tanyaku.

"Maksudmu apa?"

"Maksudku apa kamu terus diam aja liat aku nangis gitu?" jawabku memperjelas.

"Emn..a..aku hanya menghapus air matamu yang jatuh," jawab Sasuke dengan nada yang agak gugup. Mungkin malu.

Aku menoleh ke arah Sasuke. Wajahnya agak memerah.

Ow…aku baru tahu. Berarti waktu itu hangat itu hangat tangannya Sasuke. Ehm.

"Oh ya, Sasuke. Kalau yang makein selimut itu juga kamu?" tanyaku pada Sasuke lagi.

"Ma…mana ku tahu," jawabnya gugup

"Halah, kamu'kan? Ngaku aja." Aku menyikut lengannya.

"Iya iya! Jangan sengol-senggol seperti itu!" aku Sasuke dengan nada tinggi.

Huh, ni orang kenapa pake bentak-bentak segala sih.

"Gitu aja sensi! Oh ya, katanya kamu ngrayu Karin. Gimana cara kamu ngrayu dia? Coba praktekin ke aku donk." Pintaku.

"Nggak!" tolak Sasuke dengan nada tinggi.

"Ayolah, sekali ini saja," rengekku.

"Nggak! Pokoknya aku nggak mau!" tolak Sasuke lagi.

"Uhh." Aku hanya bisa merengut padanya.

Sasuke masih saja pelit dengaku.

"Itu baju siapa? Kok seperti baju cowok," tanya Sasuke sambil menunjuk baju yang aku pakai.

"Ehm…ini bajunya Lee," jawabku dengan niat mengerjai Sasuke.

"Lee? Siapa kamu?" tanya Sasuke penasaran.

"Temen masa kecil aku. Dia baik dech. Buktinya, dia ngijinin aku buat nginep di rumahnya," jawabku dengan senyum tersembunyi.

"Apa? Jadi kamu semalam nginep di rumahnya?" Wow, sepertinya Sasuke mulai terpancing ni. Makin seru.

"Iya. Aku juga di pinjemin baju ini," jawabku sambil menunjukkan baju yang aku pakai.

"Kalau baju, aku juga punya! Kamu bisa pake sesukamu!" ucap Sasuke dengan nada tinggi.

"Kenapa sih kau marah-marah begitu? Lagian aku butuh bajunya kemaren malem! Apa kau ada kemaren malam?" tanyaku dengan nada tinggi pula dengan wajah yang marah. Tapi aku cuma pura-pura

"Ya..maaf," ucap Sasuke menyesal.

"Iya. Nggak pa-pa kok," ucapku sambil tersenyum ke arah Sasuke.

"Sakuraa! Makan siangnya sudah siap tu!" panggil Lee dari jendela kamarnya yang tak begitu jauh dari tempatku berada sekarang.

"Iya, aku segera ke sana!" jawabku dengan teriak pula.

"Siapa?" tanya Sasuke.

"Itu yang namanya Lee. Ayo kita ke sana!" ajakku sambil menarik tangan Sasuke.

"Seberapa kalian dekat?" tanya Sasuke penasaran.

"Ya...gitu dech," jawabku membuat rasa penasaran Sasuke semakin besar.

"Ayolah, cerita donk." Pinta Sasuke.

"Nggak. Kamu juga nggak mau cerita bagaimana kamu ngrayu Karin." Tolakku.

"Kita seri'kan?" tanyaku sambil tersenyum simpul ke arah Sasuke saat berjalan ke rumah Lee.

"Dasar!" desis Sasuke jengkel.

Haha..

"Nenek Chiyo!" panggilku begitu ku lihat sesosok wanita duduk di kursi yang ada di depan panti. Aku berlari ke arahnya.

"Sakura?" Nenek Chiyo memelukku. Ino juga keluar, ia memelukku juga.

"Gimana kabar kalian?" tanyaku.

"Baik," jawab mereka bebarengan.

"Oh ya, ada seseorang yang mau aku perkenalkan." Sasuke lalu mendekat. "Ini Sasuke, kakak kelas Sakura," ucapku memperkenalkan Sasuke pada Nenek Chiyo dan Ino.

"Ya, kami sudah tau kok," jawab Ino sedangkan Nenek Chiyo hanya tersenyum melihatku.

Aku menaikkan sebelah alisku bingung.

"Kapan?" tanyaku bingung sambil memandang Nenek Chiyo dan Ino bergantian.

"Waktu kamu kabur, Sasuke cari informasi tentangmu ke sini," jawab Chacha lagi.

Aku pun beralih melihat ke arah Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya meengalihkan pandangannya seolah tak tau apa-apa saat aku melihatnya.

"Cks. Kau seperti orang bodoh, Sasuke!" ucapku yang masih melihatnya.

Sasuke lalu melihatku.

"Apa?" tanya Sasuke sok bego.

"Aah…kau ini...pura-pura bodoh," ucapku kesal yang masih melihat tampang bodoh Sasuke.

"Sudahlah, Sasuke itu perhatian denganmu, Sakura. Kasian dia. Jangan marahi dia," ucap Nenek Chiyo sambil memegang tanganku.

Aku pun beralih melihat ke arah Nenek Chiyo. Hatiku meluluh karena perkataan Nenek Chiyo.

"Iya, Nek," jawabku sambil tersenyum pada Nenek Chiyo.

"Sakura, ada yang harus aku katakan padamu," ucap Nenek Chiyo yang mebuatku penasaran.

"Sebentar ya," pamit Nenek Chiyo lalu masuk ke dalam.

Tidak lama kemudian Nenek Chiyo keluar dengan membawa sebuah surat dan kunci di tanganya.

"Ini kunci rumahmu dan ini sertifikatnya. Sekarang kamu sudah besar, rumah itu milikmu. Aku hanya menyimpannya saja," ucap Nenek Chiyo sambil menyerahkan sebuah kunci dan Stopmap merah padaku.

"Tapi, Sakura masih pengen tinggal di sini bersama Nenek dan Ino," ucapku sambil memegang tangan Nenek Chiyo.

"Tidak bisa. Ino sudah akan menikah dan Nenek..huk..huk..umur Nenek tidak panjang lagi. "Ucap Nenek Chiyo dengan terbatuk batuk. "Nenek sayang kalian…" kata-kata Nenek Chiyo terhenti. Nenek Chiyo menutup matanya…apa yang terjadi dengan Nenek Chiyo?

"Nenek Chiyo…?" panggilku sambil menggoyang-nggoyangkan bahunya. Tetapi tidak ada respon. Aku pun meletakkan jariku di depan hidung Nenek Chiyo untuk merasakan hembusan nafas Nenek Chiyo, tapi…tidak ada udara hangat yang menerpa jariku..itu berarti…Nenek Chiyo….

"Hiks.." aku pun mulai menitihkan air mataku.

"Hiks…Nenek Chiyo!" teriakku sekencang-kencangnya sambil memeluk tubuh Nenek Chiyo yang sudah tidak bernyawa.

"Sudahlah, jangan berlama-lama di sini. Nenek Chiyo akan tetap ada di hati kita," ucap Ino mencoba menghNenekrku.

Ya, Ino benar. Walau pun mereka sudah tidak ada, tapi mereka akan tetap di hatiku.

"Ayo." Ajak Sasuke. Sejenak aku melihat langit lalu berdiri dan mengikuti langkah Sasuke yang mulai menjauh.

"Tunggu aku, Sasuke jelek!"seruku sambil berlari kecil ke arah Sasuke.

"Makanya jangan lelet begitu. Mau aku tinggal?" seru Sasuke dengan nada kasar.

Cks..dia itu masih saja kasar kayak dulu.

Aku segera menyejajarkan langkahku dengan langkah Sasuke dan Ino yang juga sudah ada di samping Sasuke.

Kenapa sih mereka tega meninggalkanku?

2 bulan sejak kematian Nenek Chiyo, Ino menikah dengan cowok yang lebih tua darinya 6 tahun. Dan aku tinggal sendiri di rumahku, kadang Hinata datang untuk menemaniku kadang juga ia menginap seperti Naruto-senpai dulu, menemani Sasuke. Sekarang, Ayah Sasuke sudah bebas. Jadi, Sasuke tidak kesepian lagi.

Tidak hanya Hinata yang sering datang ke rumahku, Sasuke dan Lee juga. Bahkan Sasuke dan Lee sering bertengkar hanya karena memperebutkan perhatianku. Haha..mereka aneh tapi aku senang melihat tingkah konyol Sasuke yang selama ini nggak pernah ia perlihatkan.

Di surat warisan Nenek Chiyo panti itu disumbangkan kepada warga supaya dibangun masjid.

Selamat jalan Nenek Chiyo, Tou-san, Kaa-san dan Kak Sasori-nii Semoga kalian bahagian di sana.

Dan terima kasih untuk Sasuke, Ino, Hinata, Naruto-senpai dan Lee yang selalu ada disisiku.

-FIN-

.

.

.

Catatan Author:

Hah, akhirnya selesai juga fic-q yang jelek ini. Maaf, ini tidak sesuai dengan harapan kalian. Hikz…#pundung

Hikz..jadi, saya mohon maaf ya #nunduk-nunduk

Ceritaku sangat jelek sekali…haduh,

BALASAN REVIEW:

Arezzo C. N (revisi):

Hehe…maaf, udah buntu, jdi Cuma kayak gitu…

Chaca-nya udah aku perbaiki,,,makasih ya udah ngingetin…^_^

Echy AppleBlue:

Makasih atas review-nya ya ;)

Cherry kuchiki:

Ni udah update ;)

Maaf, jika romancenya kurang ;)

Makasih atas review-nya ya ;)

Arezzo Calienttes 'Namikaza':

Yang kemaren dah perbaiki, gak tau mash ada typo apa gak.

Makasih atas review-nya ya ;)