Disclaimer:
That I need one is a dead giveaway.
Warning:
AU, chara death(s), possibly OOC. No chara bashing purpose. Don't like don't read.
Summary:
Bunyi 'klik' pelan yang terdengar ketika dingin lingkaran borgol membelenggu kedua pergelangan tangannya adalah satu-satunya peringatan sebelum putra tunggal Minato Namikaze itu menangkap ucapan Detektif Kakashi Hatake yang berkata, "You're under arrest."
-x-
-x-
-x-
Poison Paradise
-x-
-x-
-x-
Cyprinoa adalah nama yacht berlantai dua yang disewa Kankuro untuk merayakan ulang tahun Temari. Si manis yang proses pengerjaannya memakan waktu hingga dua tahun itu sudah bertolak dari pelabuhan Konoha Barat sejak pagi buta, meninggalkan daratan pantai yang makin lama makin terlihat menjauh dari pandang.
Sekitar tengah hari itu Ino Yamanaka terlihat bersandar di sudut buritan Cyprinoa. Meskipun berprofesi sebagai seorang model, gadis cantik bermata biru itu tak terlihat takut memamerkan kulit mulusnya di bawah panas sinar matahari dengan hanya mengenakan atasan bikini dan celana jeans super pendek warna ungu tua. Maklum, krim tabir suryanya memang berharga mahal. Tak ayal jika Ino mau saja membiarkan kering angin laut menyapu sekujur tubuhnya sambil mendengarkan suara pekik burung camar yang meraung sesekali. Helaian rambut pirang panjang meliuk bebas ketika Ino mendongak ke arah langit, seperti tak sabar menunggu hamparan awan di atas kepalanya itu berubah gelap. Si model cantik tersenyum sendiri sewaktu teringat pada rencana mereka menyalakan kembang api malam nanti. Mengingat banyaknya kembang api yang mesti digotong tiga orang kru kapal pagi tadi, semoga saja Kankuro tak sampai meledakkan kapal yang mereka tumpangi menjadi berkeping-keping.
"Kau sedang apa di sini?"
Ino menengok. Siapa yang barusan menegurnya? "Bibi Tsunade?"
Tsunade menghela napas heran dengan tangan kiri berkacak pinggang, sementara di tangan kanannya hakim senior itu terlihat memegang segelas anggur merah. "Kau sedang apa di sini?" ulangnya lagi. "Semua orang sudah makan siang sejak tadi."
Ino cuma melongo. "Benarkah?"
Si bibi hanya bisa memutar mata, tak habis pikir pada kebiasaan buruk keponakannya yang selalu lupa waktu. Sambil menghampiri Ino ia menyodorkan segelas anggur yang dibawanya dan berkata, "Ini, tinggal kau saja yang belum minum."
Ino menerima uluran anggur dari tangan Tsunade sembari menanyakan, "Siang-siang begini kenapa sudah minum anggur?"
"Sudah bagus aku mau menyisakan segelas untukmu," timpal Tsunade. Berbaliklah ia menuju geladak, diikuti langkah Ino yang membarengi di sampingnya.
Belum sampai di ruang makan si keponakan sudah berkecap keenakan. "Mm…anggurnya enak," katanya berkomentar. "Aku tidak tahu kalau Kankuro bisa memilih anggur."
"Bukan Kankuro, tapi Naruto."
Bukan salah Ino jika gadis itu langsung menaikkan alis ketika mendengar nama Naruto disebut. Setahunya Naruto tidak jadi diundang karena paspornya resmi disita semenjak ia ditetapkan sebagai tersangka.
Seperti pemilik indera keenam yang bisa membaca pikiran orang, tanpa menunggu Ino bertanya Tsunade sudah langsung menerangkan, "Naruto menitipkan dua botol anggur pada Neji untuk diberikan pada Temari sebagai hadiah ulang tahun."
"Ooh…" Ino mengangguk-angguk.
Tak sampai tiga menit kemudian keduanya sampai di bagian geladak kapal yang siang itu difungsikan sebagai ruang makan. Ada empat meja di sana, dengan masing-masing empat kursi yang mengitarinya. Ino dan Tsunade lantas bergabung di satu meja yang tengah diduduki oleh Tenten dan Sakura.
Sakura mendongak sesaat ketika Ino meletakkan gelasnya dan mencomot lipatan perkamen bertuliskan daftar menu makan siang mereka. Sambil terus mengorak-arik sepiring spaghetti dengan sebuah garpu yang sudah belepotan saus si gadis berambut merah jambu memperingatkan, "Jangan minta pastanya. Tidak enak sama sekali."
"Masa?" Ino tak percaya.
"Sakura benar," Tenten ikut-ikutan. "Masih jauh lebih enak omelet daging yang dibuat Hinata untuk sarapan kita tadi pagi."
"Kalian ini," tegur Tsunade. "Tidak bisa masak tapi selalu pilih-pilih makanan."
"Jadi enaknya aku makan apa?" tanya Ino.
"Coba sup ikan salmonnya saja," Tenten menyarankan. "Punyaku tadi enak sekali."
Ino setuju. Segera diangkatnya sebelah tangan untuk memanggil pelayan dan meminta dibawakan seporsi sup ikan salmon seperti yang baru saja direkomendasikan oleh Tenten. Persis ketika itulah Kankuro memanggilnya dari arah meja lain. "Hey, Ino! Kau kemana saja? Tidak mau makan? Diet apalagi kau sekarang?"
Putri tunggal keluarga Yamanaka terdengar mendengus. "Diet apanya, Kankuro?" tanyanya balik pada si desainer video game yang duduk bersama Mei Terumi, Kakashi dan Sasuke.
"Mana kutahu," jawab Kankuro sekenanya.
Pelayan yang dipanggil Ino pun bergegas menghampiri, berjalan melewati dua meja yang salah satunya dihuni oleh Hanabi, Hinata, Neji dan Gaara. Sementara satu meja terakhir hanya dihuni dua orang manusia yang sukses membuat tak seorangpun mau semeja dengan mereka.
Ino menggelengkan kepala, biar dibayar berapapun tetap tak mau ia berbagi meja dengan seorang Sabaku dan seorang Nara.
Kepala Shikamaru sudah menempel dengan permukaan meja makan entah sejak kapan. Yang jelas pemuda itu adalah orang pertama yang pernah Temari lihat sanggup tertidur di tengah acara makan siang. Sebelum leleran liur di sudut bibir Shikamaru sempat menetes dan mengotori si taplak malang tidak berdosa, Temari secepatnya menggerakkan sendok sup yang ia pegang untuk menghantam jidat sang pengacara muda.
'Thuk!'
"Aw!" Shikamaru mengaduh, terbangun, menguap, lalu mengelap sisa air liurnya dengan punggung tangan kanan.
Tanpa peduli pada si korban kekerasan yang mengelus-elus jidat naasnya Temari berujar, "Tertidur di meja makan itu sangat tidak sopan."
Shikamaru menggeliat malas sebelum membalas, "Kalau begitu memukul kepala orang yang sedang tidur juga tidak sopan."
Temari mendelik. "Kau tertidur di meja makan!"
Shikamaru berkelit, "Tapi aku tamu di sini." Kemudian menguaplah ia sekali lagi. "Baru kau saja tuan rumah yang tega menganiaya tamunya sendiri."
"Aku tidak akan memukulmu kalau kau tidak tidur di sembarang tempat dengan sengaja," bantah Temari tak mau kalah.
"Sebagai tuan rumah yang baik, kenapa tidak kau sediakan kasur di dekat meja ma—"
"Sebagai tuan rumah yang baik, aku berjanji akan melemparmu dari jende—"
"—kan? Jadi aku tidak perlu tidur di atas meja yang keras dan mem—"
"—la kabinku jika lain kali kau berani tertidur seenak ji—"
"—buat leherku sakit seperti i—"
"—datmu yang lebar i—"
'BUG!'
Sebelah sepatu ukuran tiga delapan tiba-tiba melayang dari arah kiri dan mendarat di atas meja Temari dan Shikamaru yang untungnya sudah lumayan bersih dari peralatan makan. Sedetik kemudian terdengar suara Tsunade yang berdiri dari duduknya dengan muka merah madam, "Demi Tuhan! Apa tidak cukup aku melihat kalian ribut-ribut di ruang sidang?"
Temari merengut. Shikamaru merutuk, bisa-bisanya dia lupa bahwa sebagai seorang lelaki ia harus mau mengalah pada perempuan, tidak peduli betapa galak dan merepotkannya perempuan itu.
Sementara itu Kankuro berbisik, "Kalian lihat sendiri 'kan? Lihat sendiri, kan?" tanyanya pada Mei, Sasuke dan Kakashi. "Bayangkan saja bagaimana rasanya menghadapi perempuan seperti itu selama dua puluh empat tahun penuh tanpa jeda!"
Kakashi memutar mata, Sasuke tak ambil pusing, sementara Mei tidak mampu mencerna ucapan Kankuro sama sekali. Perempuan bertubuh aduhai itu tampak pucat dengan pandangan mata yang tidak fokus dan napas yang tersengal-sengal.
"Kau kenapa?" tanya Sasuke. "Asma?"
Mei menggeleng. "En…tahlah…kepalaku pu…sing…" tuturnya terbata dengan napas sesak dan terputus-putus.
Kakashi mengerutkan dahi. "Alergi? Kau tadi makan apa?" tanyanya, meskipun seingat detektif kepolisian itu tidak satupun menu makan siang mereka dimasak dengan menggunakan kacang.
Tidak. Seumur hidupnya Mei tidak pernah menderita alergi bahan makanan apapun. Perempuan itu bermaksud menggeleng, namun belum sempat kepalanya tergerak barang sedikit, ia sudah kehilangan kesadaran dan terjatuh ke lantai.
'Bruk!'
Semua kepala sontak menoleh. Kakashi bergerak paling cepat, lelaki itu segera beringsut ke lantai untuk meraih bahu Mei dan berusaha mengguncang-guncangkannya.
"Dia kenapa?" tanya Hanabi. Dalam beberapa detik saja semua orang sudah bangkit dan berkerumun. "Mabuk laut?"
"Kurasa tidak," jawab Kakashi. "Tadi dia terlihat sesak napas."
"Sebaiknya kita hubungi penjaga pantai," Tsunade berpendapat. Karena setahunya Mei yang sudah lama bekerja pada jaringan restoran keluarga Hyuga sebagai food taster alias pencicip makanan itu tidak pernah menderita alergi atau penyakit apapun. Berarti kemungkinan besar Mei memang membutuhkan bantuan medis secepatnya.
Hinata yang kebetulan berada tak jauh dari Tsunade segera mengangguk dan mengiyakan perintah tersebut. Bunyi denting sendok sup yang jatuh tersenggol tangan kanan gadis itu sempat terdengar sebelum si sulung dari dua bersaudara berlari keluar dari geladak.
"Minggir sebentar, Kakashi," pinta Shikamaru. Kakashipun bergeser, sempat menolah-noleh untuk mencari permukaan datar yang cukup lebar untuk memindahkan Mei, tapi yang ada di dekat mereka saat ini hanya meja makan. Sebuah meja makan tidak mungkin cukup kuat untuk menopang bobot si perempuan berambut panjang.
Sementara itu Shikamaru sibuk meraba-raba leher Mei Terumi. Mengamati warna kulitnya yang berbintik-bintik merah dan mengaitkannya dengan gejala sesak napas yang tadi Kakashi sebutkan. "Apa dia sempat mengeluh pusing kepala?"
Sasuke yang menjawab. "Iya. Memangnya kenapa?"
Dengan mata membulat dan kaget serta kalut yang bercampur jadi satu Shikamaru memerintahkan, "Cepat ambilkan cyanokit sekarang juga!"
Kankuro malah melongo. "Cyanokit itu apa?"
Temari menggeram. Dengan langkah terburu yang menggambarkan kepanikan ia berlari menuju dapur tempat kotak peralatan medis berada. Sang jaksa wilayah Konoha Barat tak berlalu lama, beberapa saat kemudian ia sudah kembali lagi bersama Hinata yang membawa kapten kapal bersamanya. "Penjaga pantai sudah kuhubungi," kata sang kapten pada Kankuro yang cuma bisa mengangguk sebagai balasannya.
"Aku tidak bisa menemukan cyanokit-nya, Nara," tutur Temari bingung.
Shikamaru tak menjawab. Dicari-carinya denyut nadi Mei Terumi yang tak lagi ada, napasnya yang menghilang sempurna, detak jantungnya yang tak sedikitpun terasa.
"Aku bilang cyanokit-nya tidak ada, NARA!" teriak Temari. Panik tampaknya gadis itu.
"Sudah terlambat, Jaksa Sabaku," Shikamaru bersuara rendah, lemah namun juga marah di saat yang bersamaan. Dengan setengah menggeregat diujarkannya apa yang ketika itu paling tidak ingin Temari dengar, "Dia sudah tewas."
-x-
-x-
-x-
Shikamaru selalu benci jika harus datang ke kantor polisi pada hari Senin. Sebab hari Senin adalah hari paling sibuk di Kantor Kepolisian Konoha Barat. Bau rokok dan alkohol menguar di seluruh penjuru sebagai imbas dari banyaknya pekerja seks komersial, penjudi dan pemabuk yang ditangkap petugas pada akhir pekan sebelumnya. Kalau bisa, pemuda itu ingin sekali jadwal pemeriksaannya dipindah ke lain hari. Tapi sayang Kakashi sudah keburu menggeleng sebelum Shikamaru sempat beralasan macam-macam. Sudah begitu sang detektif kepolisian dengan semaunya sendiri meminta Shikamaru menunggu usai pemeriksaan, tanpa memberitahu apa yang ingin dibicarakannya dengan pengacara muda itu.
Tanpa melirik sedetikpun ke arah barisan pelaku perkelahian yang digiring petugas dengan borgol membelenggu pergelangan tangan mereka, Shikamaru melewati kelak-kelok tatanan ruang kantor kepolisian yang bukan main berantakan. Sampai berdenging telinganya mendengar suara teriakan petugas yang meminta kopi, menyerukan nomor urut perkara dan bunyi hentakan mesin ketik yang membaur jadi satu. Putra semata wayang keluarga Nara tersebut hanya berhenti satu kali untuk menanyakan yang mana ruangan Kakashi, sebelum berjalan hingga ujung lorong dan berhenti di depan sebuah pintu kaca yang memajang nama Hatake di tengahnya. Shikamaru memutar pegangan pintu, lalu menaikkan alisnya keheranan.
Sebab yang dilihatnya di dalam ruangan itu bukanlah sang detektif berambut perak, melainkan jaksa wilayah Konoha Barat.
"Tuan Nara?" Temari menyapa. Si cantik berambut pirang itu terlihat mengenakan blazer sewarna zaitun yang terpadu manis dengan rok pensil sepanjang lututnya.
"Jaksa Sabaku," Shikamaru menyahut. Ditutupnya pintu yang baru saja ia lewati lalu duduk di sebuah kursi tak jauh dari Temari.
"Detektif Hatake memintamu menunggunya juga?"
Shikamaru mengangguk. Lalu menguap. Oh Tuhan, baru duduk sedetik saja pemuda itu sudah mulai mengantuk rupanya. "Anda juga diperiksa hari ini, Jaksa Sabaku?"
Temari mengangguk, meski ia tak tahu apakah Shikamaru bisa melihat anggukannya atau tidak dari balik kedua matanya yang sudah hampir terpejam itu. "Kau boleh panggil aku Temari, kalau mau."
"Kalau begitu panggil aku Shikamaru saja." Kemudian si pengacara bertanya, "Kau tadi dapat berapa pertanyaan?"
Temari mengingat-ingat sebentar. "Sekitar tiga lusin, kurasa. Mungkin lebih sedikit."
Shikamaru menggumam. "Banyak sekali. Aku cuma dapat dua puluhan."
"Mungkin karena kau baru sekali menjadi saksi," Temari menebak. "Aku 'kan sudah dua kali ini."
Shikamaru mengangguk sependapat. Bukan salah siapa-siapa jika polisi kemudian mengaitkan kematian Mei Terumi dengan terbunuhnya Hiashi Hyuga. Otomatis mereka yang sudah pernah dimintai keterangan pada kasus pertama harus mendapat lebih banyak pertanyaan untuk kasus yang sekarang ini. "Apa Kakashi sudah bicara padamu?"
Temari menggeleng. "Dia cuma sempat menyebutkan satu kata."
Shikamaru menebak, "Sianida?"
Sang jaksa molek mengangguk satu kali. "Ya, kurasa Terumi memang diracuni dengan sianida."
Melesakkan punggung semakin jauh ke bantalan kursinya, Shikamaru hampir saja tertidur andaikata pemuda tersebut tak mendengar suara pintu yang terbuka. Disusul kemudian suara langkah Kakashi yang berderap penuh emosi sebelum akhirnya detektif kepolisian itu duduk dan memijit-mijit dahinya dengan tangan kanan. "Tumben sekali," katanya.
"Tumben apa?" tanya Shikamaru.
"Sudah berapa lama kalian menunggu di sini?" Kakashi bertanya balik.
Temari menjawab, "Baru beberapa menit."
"Wow," tangan Kakashi berhenti memijit. "Sudah beberapa menit di sini dan kalian belum menghancurkan kantorku? Benar-benar perkembangan yang luar biasa," sindirnya.
Bibir Temari mengerucut. "Aku sedang malas ribut, Detektif Hatake. Sekarang cepat katakan apa yang kau mau dari kami."
Sekarang tangan Kakashi sibuk memijit lagi. "Kasus ini," ia memulai, "benar-benar membuat kepalaku pusing." Pintanya setelah itu, "Bisakah kau bersabar sampai kami menemukan seseorang untuk dijadikan tersangka, Nona Jaksa?"
"Seburuk itukah?" Temari penasaran. "Biasanya kau tidak pernah seperti ini, Detektif Hatake."
Shikamaru lantas mengamini rasa penasaran Temari dengan pertanyaan yang lebih efektif, "Kau darimana?"
"Dari laboratorium," jawab Kakashi."
"Mereka menemukan sesuatu?" tanya Temari setengah berharap.
Bukan cuma sesuatu, sebenarnya. Apa yang beberapa saat lalu diketahui oleh Kakashi malah berpotensi menggeser posisi Naruto sebagai tersangka sama sekali. Napas berat dihembuskan Kakashi sebelum ia membagi, "Sisa sup ikan salmon yang dimakan Mei siang itu positif mengandung racun sianida."
Temari membelalak. "Tapi semua orang memakan sup itu, Detektif Hatake," protesnya. "Dimasak oleh juru masak yang sama, dengan perangkat masak yang sama pula, alat makan yang diambil secara acak dan persis sama, serta dituangkan langsung persis di depan orang yang mau memakannya! Kalau sup itu beracun, harusnya kita semua mati juga."
"Itulah maksudku, Jaksa Sabaku," kata Kakashi. "Polanya terulang lagi. Bukankah Hiashi Hyuga juga meminum kopi dari teko yang sama dengan yang kalian minum sore itu?"
"Kalau ternyata pelakunya adalah orang yang sama," Shikamaru berasumsi, "berarti posisi Naruto bisa diringankan. Sebab dia tidak ikut berpesiar."
Sekujur tubuhTemari dibuat merinding oleh perkataan Shikamaru barusan. Bagaimanapun juga Naruto menjadi tersangka karena dialah yang membuat kopi untuk Hiashi. Dalam kasus kematian Mei Terumi si juru masak tidak bisa disalahkan jika sisa sup yang masih ada dalam panci ternyata tidak beracun, beda ceritanya dengan kasus kematian Hiashi yang kopi dalam tekonya habis tak bersisa. Dengan begitu orang yang paling berkemungkinan membunuh Mei adalah orang yang berada paling dekat dengan perempuan itu pada waktu kejadian. Orang yang juga hadir sebagai saksi ketika Hiashi tewas teracuni dan berpeluang menyusupkan racun ke mangkuk Mei tanpa seorangpun sadari.
Temari tak bisa menghentikan gerak lidahnya ketika gadis itu menyalak, "Kubunuh kau kalau berani mencurigai adikku, Kakashi Hatake!"
-x-
-x-
TBC
-x-
-x-
a/n: huft, semoga saya tidak membuat Anda pusing. Kalaupun ada yang memusingkan, silakan tanya lewat kolom review.
Oh ya, cyanokit itu…apa ya. Kalau boleh goblok-goblokan sih, cyanokit itu dipake buat antidote-nya sianida. Nah, karena author fic ini emang goblok, kita goblok-goblokan saja. Hehe.
Thanks for reading and please leave your review.
