Merdeka! Selamat ulang tahun, negaraku sayang~ fic ini masih berlanjut dalam rangka merayakan bertambahnya usiamu semenjak kemerdekaanmu, lho :)

Haha, apdetnya ngebut. Mumpung ilham saya masih bertengger di sini. Maaf ya~ Oh, dan akan ada banyak Italic. Saya mengabus opsi Italic. Maaf kalau matanya jadi jereng.

Title: Saint Seiya: 17 Agustus Arc

Warnings: OOC, hint of slash, italic abuse

Disclaimer: karakternya punya Masami Kurumada dan Shiori Teshirogi, ide-idenya punya saya dan kumpulan fans Saint Seiya di Twitter.

.

.

.

Saint Seiya: 17 Agustus Arc

Chapter 2: Lomba Dimulai!

.

.

.

Pagi yang indah tiba di Sanctuary. Sesosok lelaki dengan surai sewarna batu pirus menggeliat di ranjangnya, hendak bangun dan bersiap menyambut pagi ketika ia merasakan tubuhnya tidak bisa bergerak. Perlahan ia membuka matanya, menatap langit-langit kamar yang masih terasa buram, sambil otaknya yang masih setengah bangun berpikir mengapa tubuhnya serasa ditimpa oleh sesuatu.

"Selamat pagi, mawarku sayang~"

Mendengar suara yang lumayan familiar menyapanya dari sebelah, lelaki itu menoleh, dan…

… melihat wajah seorang Spectre yang begitu ia benci.

Hening, lalu…

"… BLOODY ROSE!"

.

.

.

"Selamat pagi, Albafica dan Aphrodite. Kenapa wajah kalian kusut begitu?"

Semua Saint yang berkumpul di Papacy saat itu otomatis menengok kea rah dua Saint Pisces yang disapa oleh Saori. Memang, penampilan dua orang yang nyaris seperti kembar identik itu lumayan berantakan hari ini. Ada bekas memar-memar dan rambut mencuat di sana-sini. Mereka seperti habis kena angin puting beliung.

"Jangan bilang kalian bertengkar lagi?" tanya Sasha, khawatir. Ia pernah dengar kalau hubungan Albafica dengan reinkarnasinya kurang akur, tapi tidak menyangka mereka akan berantem semenjak pagi seperti ini.

"Tidak, Athena-sama. Saya tidak bertengkar dengan Aphrodite," sahut Albafica kalem, mengambil tempat di sebelah Dégel.

"Lalu apa yang terjadi?"

"Pacar dia menyelinap masuk ke kamarnya dan tidur di sampingnya. Begitu bangun mereka langsung berantem lagi dan saya terpaksa melerai," jawab Aphrodite, yang kini telah mengeluarkan sisir dan merapikan rambutnya. Ia tidak sempat sisiran karena Albafica memintanya untuk cepat-cepat berkumpul di Papacy bersama Saint lainnya tadi.

Sisyphus menaikkan sebelah alisnya. "Albafica punya pacar?"

"Iya, itu lho… Judge ganteng berambut keperakan yang matanya ketutupan itu…"

"Dia bukan pacar saya," Albafica mendelik ke arah reinkarnasinya. Benar-benar, deh. Ini gara-gara Minos yang—entah karena alasan apa—begitu tergila-gila padanya.

"Kalau bukan pacarmu lalu kenapa dia manggil kamu pakai embel-embel 'sayang', 'cinta', dan sebagainya?" Aphrodite nyengir, asyik menggodai inkarnasinya itu.

"Mana saya tahu!"

"Ngaku aja, deh! Kamu memang pacaran sama dia, 'kan?"

"Ti—"

"Albafica!"

Semuanya spontan menoleh ke arah pintu masuk ruang makan itu. Kebetulan sekali. Minos tiba—tidak mengenakan Surplice-nya yang amit-amit besar itu, melainkan dengan pakaian manusia biasa—dan langsung berlari memeluk Albafica, yang terlambat menyelamatkan diri. Aphrodite tersenyum penuh kemenangan, merasa bahwa ia benar.

"Tega, ya… masa' aku dibuat pingsan dan ditinggal di kuil Pisces seorang diri…" ucap sang Judge, merajuk.

"Memangnya saya peduli? Lepaskan saya!" sang Pisces meronta lebih hebat. Ia menoleh ke arah kamerad-kameradnya, mengharapkan pertolongan.

Tapi Dégel, yang duduk di sebelahnya, malah menyingkir sambil membawa piring makannya, menjauh dari 'sejoli mesra' tersebut. El Cid melakukan hal yang sama, sementara Sisyphus hanya bisa nyengir bersalah karena tidak tahu harus berbuat apa untuk menyingkirkan Specter yang kini tengah bergelayut manja, memeluk Albafica. Kardia dan Manigoldo tidak peduli sama sekali dan terus makan. Defteros, Dohko, dan Regulus hanya diam di bangku mereka, menatap Albafica dan Minos sambil tersenyum sumringah—sepertinya menganggap hal ini sebagai tontonan menarik. Shion dan Hasgard saling pandang, untuk kemudian menoleh ke arah Sasha, seperti meminta petunjuk dari sang Dewi.

Sasha tersenyum lembut dan bertanya, "Apa kau ingin sarapan bersama kami, Griffon Minos?"

Albafica mempertemukan telapak tangannya dengan wajah rupawannya. Facepalm.

"Ho? Memangnya saya, yang seorang Specter ini, diperbolehkan makan bersama Athena dan abdi-abdi setia sang Dewi?" Minos menaikkan sebelah alisnya, meski tidak begitu kelihatan karena poninya yang panjang dan lebat hingga menutupi mata.

"Kenapa tidak? Kau juga tidak akan keberatan, 'kan, Saori?"

Saori mengangguk setuju. "Tentu tidak masalah. Saya tidak merasa Griffon Minos memiliki niat untuk mencelakai kita."

"Tapi, Athe—"

"Wah, wah... kalian memang Dewi Keadilan," Minos tersenyum lebar dan mengambil tempat duduk Dégel yang telah ditinggalkan tuannya. Ia tidak mengambil makanan yang ada, melainkan mencomot dari piring Albafica. Pria itu pasrah saja dan lanjut menghabiskan makanannya.

Belum sempat mereka menyelesaikan santapan mereka, pintu kembali terbuka dan muncul sosok Lune dan Rhadamantys. "Minos! Ternyata kau di sini, heh?" Rhadamantys berseru jengkel ketika melihat Spectre dengan surai keperakan itu duduk di antara Saint-Saint Athena.

"Hai, Rhada. Kau mau ikut makan bersama kami?" Minos menunjukkan cengiran tidak bersalah.

"Tidak sudi," sang Wyvern melipat tangannya. Dahinya berkerut, mengernyit tak senang. "Lune bilang kau hilang dari tempat peristirahatanmu. Padahal sebentar lagi Hades-sama akan melakukan briefing! Cepat kembali!"

Minos mendesah pelan, tapi ia toh beranjak dari kursinya. "Ya sudah. Aku akan bicara denganmu lagi sebelum pertandingan, mawarku yang cantik," ujarnya pada Albafica.

"Pergi sana," balas Albafica dingin, tersenyum sedikit karena senang ia akhirnya terlepas dari sang Griffon, meski hanya untuk sementara waktu.

Minos tertawa dan pergi meninggalkan ruang makan. Tapi ia tak pergi begitu saja. Ia menyempatkan diri untuk mengecup pipi Albafica, membuat sang Pisces mematung seketika, sebelum kemudian berjalan santai meninggalkan Papacy bersama Lune dan Rhadamantys.

Suasana kembali hening setelah tiga Spectra itu pergi. Tidak ada yang berbicara, karena mereka begitu dikejutkan dengan rentetan peristiwa yang terjadi tadi. Hingga akhirnya kesunyian itu pecah oleh komentar polos dari Sasha.

"Wah, rupanya kau sungguh-sungguh berpacaran dengan Griffon itu, ya, Albafica?"

.

.

.

Usai acara makan pagi yang—yah, tidak bisa dikatakan damai, tapi setidaknya dapat mengenyangkan perut para Saint sebelum pergi bertempur (baca: berlomba), rombongan Gold Saint abad 18 dan Gold Saint abad 20 itu meninggalkan Papacy untuk melakukan briefing di tempat terpisah.

Kecuali Dohko, Hakurei, dan Sage.

Tiga orang itu pergi ke Colloseum, tempat di mana lomba hari pertama akan dilaksanakan. Mereka bisa melihat persiapan telah dilakukan di sana-sini—tentunya tidak hanya para Saint Athena yang mengerjakan persiapannya, tetapi juga dibantu oleh prajurit-prajurit Poseidon dan Spectra Hades—hingga tempat yang awalnya ditujukan sebagai tempat diselenggarakannya turnamen untuk mendapatkan Cloth kini berubah menjadi mirip stadion olahraga. Ala Sanctuary.

"Roshi!"

Dohko spontan menoleh mendengar suara yang familiar itu dan tersenyum. Tangannya diangkat untuk melambai menyapa orang yang memanggilnya. "Hai, Shiryu dan kalian semua!"

Benar. Shiryu beserta teman-temannya sesama Bronze Saint berlari ke arah tiga tetua itu. Mereka membungkuk hormat setelah tiba di hadapan Dohko, Hakurei, dan Sage, dan segera menegakkan punggung mereka lagi untuk menunjukan senyum sopan sekaligus senang.

"Senang bertemu dengan kalian lagi. Kudengar kalian juga akan menjadi pengawas dalam acara lomba ini?"

Ya. Kemarin malam, saat Dohko tengah bercengkerama bersama kawan-kawannya sesama Gold Saint dari abad 18, sebuah pesan disampaikan oleh Hermes si Pembawa Pesan para Dewa. Pesan itu datangnya dari panitia penyelenggara acara lomba—para Olympian—dan menyampaikan perihal diangkatnya Dohko menjadi salah satu pengawas untuk perlombaan besok. Tidak hanya sang Libra. Nama Hakurei dan Sage, serta beberapa Bronze dan Silver Saints dari abad 20 juga berada dalam daftar nama pengawas.

"Sama-sama. Kami juga merasa senang dan tersanjung bisa bekerja sama dengan Roshi serta Cancer Sage dan Altar Hakurei," ucap Shiryu kalem, mewakili kawan-kawannya.

"Sepertinya orang-orang dari tim Poseidon dan Hades sudah tiba di arena lomba, ya?" ucap Hakurei yang melihat ke arah Colloseum, di mana ia bisa mengenali orang-orang yang mengenakan Surplice dan Scales mulai memenuhi tempat itu.

"Begitulah. Kelihatannya mereka cukup antusias untuk menyaksikan perlombaan ini," jawab Ikki, ikut memandangi Colloseum.

"Karena perayaan seperti ini baru pertama kali terjadi di sini," timpal Sage sembari tersenyum bijak.

Dohko terkekeh pelan. "Nah, daripada mengobrol di sini, sebaiknya kita melaksanakan tugas kita. Apa semua perlengkapan sudah dicek, Shiryu?"

"Sudah, Roshi. Perlengkapan untuk lomba pertama sudah disiapkan. Kita tinggal menunggu tim Gold Saint dari abad 18 dan abad 20 untuk tiba di arena."

"Baguslah. Kalau begitu, mari kita menunggu di sana saja."

.

.

.

Akhirnya semua tim terkumpul di Colloseum. Tribun penonton terbagi menjadi tiga kubu—pendukung Athena, pendukung Poseidon, dan pendukung Hades—yang masing-masing bersorak sorai riuh. Para Olympians selaku panitia penyelenggara menempati tempat duduk yang khusus disediakan untuk mereka, sementara para pengawas lomba berdiri di pinggir arena, berseberangan dengan empat tim yang berbaris dengan rapih.

Zeus, selaku Ketua Panitia, beranjak dari tahtanya dan dengan suaranya yang menggelegar bak petir di siang bolong, ia mengumumkam, "Dengan ini saya nyatakan perlombaan dalam rangka merayakan ulang tahun negara Indonesia,"—judul yang panjang, memang, karena mereka belum menentukan judul yang pas untuk acara besar itu—"DIMULAI!"

Gong dibunyikan, dan gemuruh tepuk tangan bercampur dengan teriakan menyemangati dari pendukung-pendukung keempat tim yang tampil. Tim-tim yang akan bertanding itu segera menyebar ke pos (telah disediakan oleh panitia) mereka masing-masing. Hakurei dan Sage, selaku Ketua dan Wakil Ketua dari tim pengawas, maju ke tengah lapangan sambil membawa megaphone.

"Kami akan menjelaskan sistem perolehan nilainya. Juara pertama dari satu perlombaan akan mendapatkan 3 poin, juara kedua mendapat 2 poin, juara ketiga mendapat 1 poin, dan juara terakhir tentunya tidak mendapatkan poin sama sekali. Tim yang berhasil mendapatkan poin terbanyak akan dinyatakan sebagai pemenang dari acara lomba ini," tutur Hakurei panjang lebar.

"Dan yang mendapatkan poin paling sedikit dinyatakan kalah serta menerima hukuman yang akan ditentukan secara mufakat oleh majelis panitia," Sage menyambung ucapan kakaknya. "Apa masih ada yang kurang jelas?"

Tidak ada yang bereaksi, maka kembar Cancer itu menganggap bahwa semuanya sudah mengerti.

Setelah mereka berdua menyingkir dari lapangan, keduanya menyerahkan megaphone yang mereka bawa kepada Seiya dan Shun selaku pengawas untuk lomba pertama. Mereka maju ke tengah lapangan, dan Seiya mengangkat toa tersebut untuk mengumumkan:

"Lomba pertama: Balap karung! Seorang perwakilan dari masing-masing tim harap segera berkumpul di garis start!"

Seperti yang telah ditetapkan, Shura menjadi perwakilan tim Gold Saint abad 20 dalam lomba balap karung. Kamerad-kameradnya menyemangatinya. Sang Capricorn bisa melihat Albafica, Tethys, dan Lune ikut mendekati garis start, di mana empat buah karung telah menunggu untuk dikenakan.

"Kalian mengerti cara berlombanya, 'kan? Masukkan bagian bawah tubuh kalian ke dalam karung itu, dan kalian harus mencapai garis finish dengan cara melompat," Shun menjelaskan. "Kalau jatuh, kalian harus mulai dari awal lagi. Dan kalau sampai jatuh tiga kali, kalian didiskualifikasi!"

Keempat peserta mengangguk mantap dan melaksanakan sesuai perintah. Usai memakai karung dengan cara yang benar dan mengatur posisi (Albafica memilih untuk berada di bagian paling pinggir, agar ia tidak meracuni Tethys yang start di sampingnya), Seiya memulai aba-aba bersiap, baru kemudian meniupkan peluit dengan nyaring, menandakan dimulainya lomba balap karung itu.

"Ayo, Tethys! Jangan kalah!" Julian dan anak buahnya, minus Kanon, bersorak untuk perwakilan mereka.

Tethys tersenyum penuh percaya diri. "Beres!" Ia langsung melancarkan jurusnya: Jurus Ikan Duyung Menggelepar Kehabisan Air(?).

"Lune! Kalau kau sampai berada di tempat terakhir, jangan pikir kau bisa kabur dari hukuman. Shishishi!" Minos mengancam, sambil menyuarakan tawanya yang meniru kembarannya dari fandom lain.

Lune langsung mempercepat lompatannya, menyusul Tethys yang melesat ke posisi pertama dikarenakan jurus anehnya itu.

Sementara itu, Shura berusaha mati-matian mengejar tanpa teknik khusus. Karena memang dia tidak mempersiapkan apa-apa, kecuali tekad untuk memenangkan pertandingan. Ia mengabaikan kameradnya sesame Gold Saint, Albafica, yang sudah terjatuh dua kali padahal sang Pisces belum juga mencapai setengah panjang lintasan.

"Hei, Minos. Kekasihmu jatuh terus, tuh," Aiacos terkekeh mengejek. "Tidak kau tolong, hm?"

Minos memandang getir sosok dengan surai sewarna batu pirus itu. Ia tidak bisa melakukan apa-apa. Loyalitasnya pada tim lebih besar daripada rasa cintanya pada sang mawar.

Hasilnya sudah ketahuan. Tethys di tempat pertama, Lune di tempat kedua, dan Shura di tempat ketiga. Albafica didiskualifikasi karena ia jatuh tiga kali.

"Payah, deh. Masa' lompat-lompat begitu saja tidak bisa," ledek Aphrodite ketika Albafica kembali ke posnya.

Yang diledek hanya menoleh ke arah reinkarnasinya dan membalas dengan tampang dingin nan datar. "Yah, saya memang tidak selincah kamu, Aphrodite. Karena saya bukan seorang banci seperti kamu."

Deathmask terpaksa menahan Aphrodite untuk tidak melempar inkarnasi sang ikan dengan kotak bedak yang ia bawa.

.

.

.

Lomba berikutnya: balap lari 2 orang 3 kaki.

Hyoga dan Shiryu menghela napas lega setelah mereka berhasil mengikat kaki para pasangan. Pasalnya, mereka tidak ingin berlama-lama berada di dekat para peserta yang rata-rata agak mengerikan. Terutama pasangan dari pihak Spectre.

Untuk tim Gold Saint dari abad 18, mereka diwakili oleh Dégel dan Kardia. Aiolia dan Aiolos, seperti yang sudah didiskusikan sebelumnya, menjadi wakil dari tim Gold Saint abad 20. Kakak beradik asal Bluegrad yang direkrut oleh Poseidon, Seraphina dan Unity, telah berdiri berdampingan dengan salah satu kaki mereka terikat satu sama lain. Dan untuk tim Spectre, ada si kembar Hypnos dan Thanatos.

Sejujurnya, perasaan Dégel campur aduk saat berdiri di sebelah Seraphina-Unity di garis start. Dua orang yang dia sayangi menjadi rivalnya dalam lomba ini… untungnya kali ini mereka tidak harus saling bunuh.

Sementara Kardia, yang berdiri sangat dekat dengan Dégel, merasa sedikit iri karena ia tahu sedaritadi sahabatnya itu melirik ke arah dua penguasa Blugrad. Jengkel, ia menyikut sang Aquarius pelan, membuatnya mendapatkan perhatian si rambut sewarna batu zamrud.

"Fokus pada lomba ini, penguin," desis sang penyandang zirah rasi kalajengking.

Dégel tersenyum tipis kepada kameradnya yang satu ini. Ia mengalihkan pandangannya ke depan dan mengangguk mantap. "Aku tahu."

Tanpa mereka sadari, selagi para panitia bersiap untuk memulai lomba, sepasang mata dengan iris berwarna keperakan mengamati tingkah laku mereka sambil menyunggingkan senyuman sinis. "Percuma saja mereka bersiap-siap. Mereka akan kalah. Ya, 'kan, kak?"

Hypnos tidak menjawab apa-apa. Ia hanya mengangkat bahunya seolah acuh tak acuh. Tapi Thanatos mengerti bahwa kembarannya itu memiliki pikiran yang sama dengannya. Yah, namanya juga anak kembar. Kalau salah satunya memiliki ide licik pasti yang satunya lagi akan memikirkan ide yang sama.

"Sama seperti tadi: tujuan kalian adalah berlari mencapai garis finish lebih dahulu daripada lawan-lawan kalian, dan jika kalian jatuh, kalian harus mengulang dari garis start lagi. Jika kalian terjatuh tiga kali, maka kalian akan didiskualifikasi. Cukup jelas?" Shiryu menjelaskan peraturannya, dan keempat pasangan mengangguk tanda mengerti.

Hyoga berdiri di pinggir lapangan sambil memegang peluit. "Bersedia... siap... yak!"

Peluit dibunyikan. Keempat pasangan langsung melesat meninggalkan garis start. Karena mereka pada dasarnya memang sudah kompak, tidak sulit bagi mereka untuk berlari seirama dengan pasangan mereka. Yang berada di urutan pertama adalah Aiolia dan Aiolos, pasangan atlet kebanggaan tim Gold Saint abad 20.

"Kalau masalah lari dengan menyesuaikan langkah kaki seperti ini, 'sih, hal yang mudah, ya, 'kan, Kak?" ucap Aiolia sambil terus berlari.

"Hush, Lia. Konsentrasi saja," hardik Aiolos, meski ia tersenyum mengakui ucapan adiknya itu.

Berada di belakang mereka adalah Dégel dan Kardia serta Seraphina dan Unity. Sebenarnya dua pasangan ini bisa lari lebih cepat lagi, hanya saja mereka memiliki hambatan mereka masing-masing. Dégel tidak ingin jantung Kardia kambuh karena lari terlalu cepat, dan Unity tidak ingin penyakit kakaknya kambuh karena dipaksakan lari lebih cepat lagi.

Sementara Hypnos-Thanatos berada sedikit di belakang mereka. Mereka terlihat berlari dengan santai—sebenarnya ingin melayang saja, apa daya peraturan mengharuskan mereka untuk berlari—sambil memperhatikan tiga pasangan lain yang berada di depan mereka. Garis finish sudah terlihat, dan sepertinya Aio bersaudara akan melewatinya terlebih dahulu daripada yang lain.

"Sekarang, kak."

"Hm..."

Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja satu persatu para peserta lomba balap lari ini jatuh tersungkur di lintasan mereka masing-masing. Pasangan yang paling depan, Aiolia-Aiolos, jatuh terlebih dahulu, diikuti Dégel-Kardia dan Seraphina-Unity. Hypnos-Thanatos, yang sepertinya imun kepada peristiwa mengejutkan ini, meneruskan lari santai mereka dan mencapai finish tanpa perlu bersusah payah.

"Tempat pertama!" Thanatos bersorak girang dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk tanda 'V' untuk 'victory'.

"Curang!" seru Kanon dan Defteros secara bersamaan. Mereka tidak terima karena kamerad-kamerad mereka dibuat tidur oleh Hypnos sehingga mereka tidak dapat melanjutkan lomba.

"Nggak curang! 'kan nggak ada peraturan yang melarang untuk menggunakan kekuatan kita untuk memenangkan lomba!" balas Cheshire dengan seringai licik. "Tadi ikan duyung dari tim Poseidon juga memakai tekniknya, 'kan!"

"Iya, 'sih…" Tethys menggaruk pipinya, agak merasa bersalah karena ia menganggap dirinyalah yang member kesan bahwa menggunakan teknik pribadi itu diperbolehkan.

"Tapi yang dipakai Tethys itu, 'kan, bukan teknik yang menggunakan cosmo!" Julian masih mencoba untuk berargumen.

"Saya tidak memakai cosmo untuk membuat seseorang tertidur, tuh," jawab Hypnos kalem.

"Terang aja, orang dia Dewa Tidur!" Shion marah-marah. Pasalnya dia agak punya dendam pribadi dengan Hypnos.

Akhirnya ketiga tim mati-matian mempertahankan pendapat mereka bahwa apa yang dilakukan Hypnos sebagai wakil dari tim Hades adalah tindakan curang. Unit keamanan lomba yang terdiri dari para Silver Saint berusaha menenangkan keadaan. Para pengawas dikumpulkan untuk mendiskusikan masalah ini dengan panitia penyelenggara. Setelah cukup lama, musyawarah kecil-kecilan itu mencapai kata mufakat, dan Hakurei selaku Ketua Pengawas mengumumkan:

"Penggunaan teknik-teknik yang dimiliki individual dalam perlombaan diperbolehkan, asalkan teknik tersebut tidak digunakan untuk mencederai peserta lomba yang lain. Jika peraturan ini dilanggar, maka peserta akan didiskualifikasi dan tidak diperbolehkan mengikuti perlombaan yang tersisa."

Para Specters bersorak riuh dan bertepuk tangan heboh, senang karena itu artinya poin untuk tim mereka tidak jadi dibatalkan. Hades tersenyum puas, mengacuhkan tatapan tidak senang yang ditujukan oleh adik dan dua keponakannya.

Hasil lomba balap lari 2 orang 3 kaki: tim Hades di urutan pertama, sementara tiga tim lainnya dinyatakan seri karena sama-sama tidak mencapai garis akhir.

Kelihatannya perlombaan ini tidak akan berjalan seadil yang mereka kira, meskipun ada dua Dewi Keadilan di sana. Yah, kita lihat saja perkembangannya.

.

.

.

Skor sementara:

Tim Hades berada di posisi pertama dengan 5 point, disusul tim Poseidon yang mengantongi 3 poin. Tim Gold Saint abad 20 mensyukuri 1 poin yang mereka dapatkan, sementara tim Gold Saint abad 18 bertekad akan menyusul ketinggalan mereka di pertandingan-pertandingan selanjutnya.

.

.

.

Bersambung...