Yang ini amat sangat hancur. Entah apa yang terjadi pada divisi imajinasi dan tata bahasa di otak saya. Efek liburan, mungkin?
Dan jangan salahkan saya dengan hint cinta segitiga itu. Sungguh, saya tiba-tiba ngeship itu padahal OTP saya Dohko x Shion... *garap sawah*
Title: Saint Seiya: 17 Agustus Arc
Warnings: OOC, hint of slash, italic abuse
Disclaimer: karakternya punya Masami Kurumada dan Shiori Teshirogi, ide-idenya punya saya dan kumpulan fans Saint Seiya di Twitter.
.
.
.
Saint Seiya: 17 Agustus Arc
Chapter 3: Lomba Masih Berlanjut
.
.
.
Perlombaan belum selesai. Kini setelah para peserta mengerti bahwa mereka boleh menggunakan jurus masing-masing, mereka tidak akan segan-segan untuk memanfaatkan kekuatan mereka demi memenangkan pertandingan. Dua Dewi Keadilan juga tampaknya tidak protes sama sekali.
Setelah persiapan untuk lomba ketiga selesai, Dohko dan Ikki kini maju ke tengah lapangan bersama dengan toa andalan para pengawas.
"Lomba ketiga: kepruk kantung lahar. Untuk lomba ini, peserta harus memecahkan kantung-kantung berisi lahar—"
Para penonton bergidik ngeri mendengarnya sekaligus mendoakan keselamatan para peserta yang entah rela atau tidak rela menjadi wakil tim mereka untuk lomba yang satu ini.
"—yang disediakan masing-masing tiga untuk tiap peserta secepat mungkin. Yang paling cepat memecahkan semua kantung lahar bagiannya dinyatakan sebagai pemenang. Ada yang kurang jelas?"
Tidak ada.
Kini Dohko dan Ikki bergerak mendekati para peserta untuk memasangkan penutup mata. Defteros, yang menjadi perwakilan tim Gold Saint abad 18 sedikit membungkuk agar Dohko dapat mengikatkan penutup mata padanya. Yah, tahu sendirilah bahwa lelaki berkebangsaan China itu tidak seberapa tinggi dibandingkan dengan kamerad-kameradnya.
Setelah mata keempat peserta—Camus, Defteros, Isaac, dan Kagaho—ditutup dan para pengawas yakin bahwa mereka tidak bisa melihat apapun di depan mereka, peluit dibunyikan dan mereka dipersilahkan untuk mulai mencoba memecahkan kantung-kantung lahar yang ada.
Para penonton bisa menyaksikan bagaimana Camus dan Isaac mengangkat tangan mereka, bersiap untuk melancarkan jurus es mereka, namun perhatian hadirin segera teralihkan saat tiga kantung lahar yang disediakan untuk Defteros dan Kagaho pecah dalam sekejap mata, membuat cairan magma panas itu jatuh dan melelehkan tanah di bawahnya.
Semuanya terpana.
Apa yang terjadi ketika mereka berkedip tadi?
Isaac, yang mendengar bunyi lahar jatuh ke tanah, tidak jadi melancarkan Aurora Borealis, dan malah mencoba mengetahui apa yang terjadi dengan menajamkan pendengarannya agar bisa mendengarkan apa yang dibicarakan orang-orang dengan nada gusar seperti itu.
Sayangnya itu keputusan yang salah, karena Camus sudah melancarkan Aurora Execution dan sukses membuat kantung-kantung lahar bagiannya membeku, untuk kemudian jatuh ke tanah hingga berkeping-keping. Karena sudah ada tiga orang yang berhasil memecahkan kantung lahar, Dohko meniup peluit tanda selesainya lomba ketiga tersebut.
"Lomba selesai! Sekarang kami akan mencoba menentukan siapa pemenang pertama, antara Gemini Defteros dan Bennu Kagaho!"
"E-eh? Sudah selesai?" Isaac gelagapan ketika mendengarnya. Ia buru-buru melepas penutup matanya dan mulutnya dengan segera ternganga lebar. Jawsdrop ketika menyadari bahwa ia tidak berhasil memecahkan satu kantung pun akibat kecerobohannya sendiri.
"Karena kau malah meleng memperhatikan hal lain," hardik Camus dingin, ikut melepaskan kain yang menutup matanya. Yah, meskipun hanya mendapatkan posisi ketiga, ia cukup senang karena berhasil menyumbang poin untuk timnya.
Isaac bisa merasakan tatapan sadis dari Julian. Ia tahu ia akan dihukum nanti karena kalah dalam lomba ini.
Setelah menunggu beberapa menit, melalui bantuan Artemis, si Dewi Bulan yang bermata jeli, mereka akhirnya dapat menentukan pemenang lomba kepruk kantung lahar.
"Di posisi ketiga adalah Aquarius Camus, sementara di posisi kedua diraih oleh Bennu Kagaho, dan posisi pertama direbut oleh, tentu saja, Gemini Defteros!"
Para penonton yang mendukung tim Gold Saint dari abad 18 bersorak riuh, heboh. Defteros mendengus angkuh. "Tentu saja, 'kan…"
Dohko bisa melihat tatapan tidak setuju yang terpancar pada mata Kagaho, maka ia menjelaskan dengan menggunakan toanya:
"Menurut Dewi Artemis, ia melihat kantung lahar milik Defteros pecah karena Defteros membuat lahar di dalamnya meledak. Dewi Artemis juga melihat bahwa Kagaho memecahkan kantung-kantung lahar miliknya dengan menggunakan tinju secepat kilat. Tinju Kagaho pada kantung lahar terakhirnya terjadi seperempat sekon setelah Defteros meledakkan kantung terakhirnya."
Hampir semua orang yang ada di sana berdecak kagum mendengar penjelasan Dohko. Siapa sangka Defteros dan Kagaho mampu melancarkan teknik mereka secepat itu?
Meskipun awalnya tidak terima dikalahkan oleh salah seorang Saint Athena yang pernah menolongnya dulu, Kagaho mampu menerima kenyataan dan tidak memprotes apapun. Masih ada kesempatan untuk menunjukkan usaha terbaiknya di lain kesempatan.
Tepuk tangan mengiringi para peserta yang kembali ke pos mereka masing-masing, sementara para pengawas kembali mempersiapkan Colloseum untuk lomba selanjutnya.
.
.
.
"Ini...lomba memasukkan kalajengking ke dalam botol, 'kan?"
"Betul, Milo. Hanya saja, karena botolnya tidak muat, kami menggantinya dengan 'ke dalam kurungan'."
"YA JELAS SAJA TIDAK MUAT, KALAJENGKINGNYA SEBESAR GAJAH!"
Hyoga hanya bisa tertawa gugup. Yah, dia tidak membantah ucapan Milo. Kalajengking-kalajengking yang dipersiapkan oleh panitia ternyata ukurannya tidak seperti yang dibayangkan siapapun. Tinggi binatang arthropoda yang tengah dikekang itu kira-kira 5 kali tinggi Aldebaran. Adalah suatu keajaiban bahwa kalajengking-kalajengking itu bisa di bawa ke Yunani. Namun jika tidak dipikir lagi, apa yang tidak bisa dilakukan para Olympians?
"Kardia."
Scorpio dengan surai biru langit itu menoleh dan melihat junjungannya berjalan mendekatinya bersama sahabatnya. Keduanya tampak cemas mengetahui Kardia diperintahkan untuk menghadapi makhluk yang amit-amit-jabang-bayi-gedhe-banget-sumpah-ga-boong itu.
"Kau yakin bisa melakukannya?" tanya Sasha cemas.
Yang dikhawatirkan hanya mendengus. "Aku tidak akan dikalahkan binatang yang menjadi simbol bintang peruntunganku sendiri."
Sementara di sudut Marina, sepertinya terjadi suatu perdebatan.
"Saya mengerti jika kau ingin tim kita menang, tapi apakah perlu memaksanya pergi mengikuti perlombaan yang tidak bisa dia menangkan?"
"Bukankah tugas seorang abdi untuk memenuhi perintah tuannya dengan segenap tenaga, meski harus membuang nyawa dalam proses mengemban perintah itu?"
"Kau tidak punya belas kasihan, Julian Solo."
"Dan kau terlalu lemah hati, Seraphina dari Bluegrad."
Dua orang yang pernah menjadi tubuh pinjaman Poseidon saling adu tatap. Meskipun mereka adalah dua individu yang sangat berbeda, namun sepertinya sifat keras kepala mereka sama satu dengan yang lain. Dua orang Sea Dragon yang berasal dari dua era yang berbeda hanya bisa menggeleng pasrah melihat pertengkaran antar sesama inkarnasi dewa ini.
Apa yang sedang mereka bicarakan?
"Lyumnades Caça tidak punya kekuatan untuk menghadapi kalajengking sebesar itu. Kau tentunya tahu batasan kekuatan anak buahmu sendiri!" tukas Seraphina.
"Aku percaya bahwa ia bisa melakukannya. Sebagai seorang penguasa dan tuan, kau tentu mengerti bahwa kau harus mempercayai kemampuan anak buahmu," balas Julian sengit.
Seraphina baru saja akan membuka mulutnya lagi ketika Unity menarik lengannya, otomatis membuatnya berhenti berbicara untuk mendengarkan adiknya. "Bukankah lebih baik jika kita juga mendengarkan pendapat Caça dan Marina Generals yang lain? Musyawarah sajalah, apakah kita harus membuat Caça keluar dari lomba ini atau tidak."
Dua orang titisan Poseidon itu diam. Mereka mengedarkan pandangan kepada anak buah mereka, yang sedaritadi menyaksikan adu bacot antara keduanya.
"Aku, 'sih, terserah Poseidon-sama saja…" ucap Tethys kalem. Baian dan Krishna mengangguk setuju.
"Kalau aku…terserah Caça saja. Yang akan bertanding, 'kan, dia," tutur Sorrento. Orphee dan Io tampaknya sependapat dengan sang Siren.
Maka semua memandang orang yang dimaksud. Caça salah tingkah. "Err…aku…" Menelan ludah. "Tidak tahu."
…
"Para peserta harap berkumpul di lapangan sekarang juga."
Julian menatap Caça, sebelum menghela napas panjang dan memijat pelipisnya. Entah apa yang harus ia lakukan. Membatalkan Caça untuk mengikuti lomba yang satu ini bisa membuatnya kalah sekaligus kehilangan kesempatan untuk mengejar ketinggalan poin—dari apa yang dia ingat, tim kakaknya telah mendapatkan banyak poin—tapi kalau ia memaksakan sang Lyumnades untuk ikut dan pada akhirnya malah terbunuh oleh kalajengking itu...
"Ikut saja."
Semua menoleh ke arah Kanon. Dia yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Masih ada kesempatan untuk mendapatkan poin meskipun harus bersusah payah, jadi kenapa kesempatan itu tidak diambil?" pria dengan surai biru itu menoleh ke arah Seraphina, "Aku sependapat dengan Julian-sama. Percayalah pada kemampuan Caça, Seraphina-sama."
Seraphina menatap Kanon selama beberapa saat, sebelum kemudian mengerling ke arah Caça. Pria asal Portugis itu seperti mendapatkan kepercayaan diri lebih setelah Kanon menyelesaikan ucapannya. Kawan-kawannya sesama Marina Generals juga kelihatan lega karena sepertinya mereka bisa percaya pada Caça.
"Kalau begitu, pergilah," ucap kedua Poseidon secara bersamaan. Dalam hal seperti ini barulah mereka kompak.
"Siap, Poseidon-sama!"
Kini keempat peserta telah berada di lapangan. Caça, Kardia, Milo, dan Minos. Kemunculan yang terakhir itu agak membuat Albafica, yang berada di dalam pos bersama kawan-kawannya, ingin kabur dari Colloseum, namun dicegah oleh Shion yang mengatakan bahwa mungkin Albafica akan senang melihat Minos kalah melawan Kardia. Mungkin.
Seiya membunyikan peluit. Kekang pada empat kalajengking dilepaskan, dan arthropoda beracun itu segera mengincar keempat orang yang berada di dalam arena. Keempat peserta secara refleks berpencar, menggiring kalajengking masing-masing sambil memikirkan cara agar dapat memasukkan monster raksasa itu ke dalam sangkar-sangkar yang tersedia.
"Bahkan Saint Scorpio yang dikenal merajai atas para kalajengking terpaksa kabur ketika dihadapkan dengan kalajengking sebesar itu," Hades berkomentar, kalem. "Pandora, kau yakin Minos bisa melakukannya?"
Pandora, yang memang ditugaskan untuk menentukan siapa-siapa saja akan menjadi wakil tim Hades dalam acara perlombaan ini, mengangguk untuk menjawab pertanyaan tuannya. "Saya yakin. Minos sendiri menyanggupinya ketika saya menawarkan tugas ini padanya."
Sang Dewa Dunia Bawah itu diam saja, mengamati bagaimana Minos, yang mengenakan Surplice-nya, terbang sambil kalajengking raksasa itu tepat berada di belakangnya. Entah apa yang akan dilakukan sang Griffon.
Sementara itu, Milo masih lari berkeliling arena, membuat kamerad-kameradnya sweatdrop. "Hei, kecoak! Berhentilah bermain-main dengan monster itu!" seru Deathmask, jengkel.
"Kecoak itu berbeda dengan kalajengking, Anggie!" Milo membalas sambil menyeringai karena tahu Deathmask pasti jengkel dipanggil seperti itu. "Dan aku tidak bermain-main! Mana mungkin aku main-main di saat se—"
Suatu ide dadakan melintas di pikiran Milo. Ia berhenti berlari dan berputar menghadap ke arah kalajengking yang mendengarnya. Beberapa berseru agar Milo kembali berlari karena mereka mengira bahwa kalajengking itu akan menusuk Milo dengan capit dan ekornya yang beracun, namun mereka salah.
"Kau ingin bermain?"
Tiga patah kata itu sontak membuat sang kalajengking berhenti, dan merunduk sedikit agar bisa melihat Milo lebih jelas. Orang lain mungkin tidak akan mengerti, tapi sang Scorpio dapat memahami perasaan dan pikiran arthropoda raksasa itu. Milo mengangkat tangannya dan—meski ia harus sedikit menjijinjit—mengelus kepala sang predator. Ternyata, oh, ternyata binatang itu jinak kepada Milo.
"Ternyata hanya ukurannya yang besar, tapi tetap saja jinak kepada Saint Scorpio..." Mu menggumam takjub.
Kardia, yang melihat apa yang dilakukan oleh Milo, akhirnya ikut-ikutan berhenti. Seperti yang diduga, si kalajengking raksasa tidak ada niatan melukainya. Ia malah kelihatan seperti ingin bermain. Menyeringai lebar, pria dengan surai kebiruan itu melepas headgear yang terpasang di kepalanya dan menunjukkannya ke arah monster di depannya.
"Mau main, eh?" ia melambai-lambaikannya sedikit. "Mau main lempar tangkap, manis?"
Satu gerakan kepala dari sang kalajengking, dan Kardia melemparkan headgear it uke dalam salah satu kandang yang masih kosong. Sang raksasa tentu saja mengejarnya, tanpa sadar bahwa ia dijebak. Setelah kalajengking itu berada di dalamnya, Kardia segera menutup pintu kerangkeng agar buruannya itu tidak bisa kabur lagi.
Ia menghela napas lega. "Akhirnya…"
"Baru selesai? Lambat sekali, Scorpio."
Kardia mendongak dan melihat Minos melayang di dekatnya sambil menyeringai angkuh. Jemarinya terarah pada salah satu kurungan yang telah terisi oleh kalajengking. Kardia bisa melihat bahwa Minos menggunakan Cosmic Marionette andalannya untuk menahan sang arthoproda di sana. Cerdik.
Melihat ke arah lain, Milo ternyata telah lebih dahulu memasukkan kalajengkingnya ke dalam kandang daripada Kardia. Sementara Caça masih berlari ke sana kemari, panik karena tidak berhasil menggiring kalajengking bagiannya untuk masuk kandang.
"Julian," Seraphina mendesis menyebut nama sang pebisnis. Tapi yang dipanggil bergeming.
"Kalian tidak mau menyelamatkan dia?" tanya Minos, yang kini tengah menonton bagaimana Caça dikejar-kejar makhluk berbisa itu bersama dengan Milo dan Kardia. Kedua Saint Scorpio itu mengangkat bahu secara serempak.
"Kalau pengawas tidak melakukan tindakan apa-apa, ya sudah."
Pengawas lomba—Hyoga dan Shun—memandang arena kemudian beralih ke Hakurei dan Sage, seolah menunggu perintah. Mereka memang tidak diperbolehkan menghentikan lomba ini kecuali semua peserta telah memasukan kalajengking-kalajengking raksasa yang disiapkan ke dalam kandang atau ada peserta yang berada dalam keadaan terdesak. Dan karena Caça masih sehat wal'afiat karena mampu lolos dari tusukan ekor beracun sang kalajengking, sepertinya tidak akan ada tindakan khusus yang diambil.
Kembar Cancer itu berbisik-bisik satu sama lain, berdiskusi. Dan ketika mereka telah mencapai kata mufakat, keduanya mengangguk. Hakurei memberi isyarat agar Shun meniup peluit, yang dipatuhi oleh sang Andromeda, dan suara peluit itu diikuti oleh sorak sorai riuh dari kubu pendukung Gold Saint dan Spectra.
"Juara pertama lomba memasukkan kalajengking ke dalam kandang: Griffon Minos! Di posisi kedua adalah Scorpio Milo dan di posisi ketiga adalah Scorpio Kardia," Hakurei mengumumkan dengan menggunakan toa. "Lyumnades Caça didiskualifikasi karena tidak mampu menggiring kalajengkingnya ke dalam kandang hingga waktu berakhir."
Caça menghela napas lega ketika akhirnya ia dijauhkan dari makhluk mengerikan yang sepertinya benar-benar ingin menghabisinya itu. Ketika kembali ke pos, Isaac segera menghampirinya.
"Kita menderita bersama, sobat."
"..."
.
.
.
Usai lomba keempat, para peserta diberikan waktu untuk beristirahat selama 30 menit. Beberapa dari mereka memanfaatkan kesempatan itu untuk berdiskusi satu sama lain mengenai strategi apa yang akan digunakan untuk lomba-lomba yang tersisa, sementara yang lain menggunakan waktu istirahat itu untuk mengobrol santai dengan kawan-kawan mereka.
"Ah, Kagaho!"
Kagaho menoleh dan melihat Dohko berjalan ke arahnya sambil sedikit melambaikan tangan. Gold Saint berkebangsaan China itu menunjukkan senyum ramah seperti biasanya.
"Sendirian saja di sini? Sedang menyepi sambil menunggu lomba berikutnya, ya?" tanya Dohko setelah ia berdiri di depan sang Bennu.
Kagaho tidak menjawab. Ia diam saja, mengerling ke arah lain, sementara ia berusaha menyembunyikan tangannya ke belakang dengan gerakan seminim mungkin agar tidak dicurigai. Tapi tentu gerakan itu tidak luput dari pengelihatan Dohko.
"Tanganmu kenapa?"
"Tidak kenapa-kenapa."
"Pasti kenapa-kenapa kalau kau mencoba menyembunyikannya. Perlihatkan."
"Aku tidak—"
Terlambat. Dohko sudah keburu menggenggam dan menarik paksa lengan Kagaho agar ia bisa melihat apa yang terjadi. Rupanya, bukan lengannya yang bermasalah, namun jemari sang Spectre. Jari-jari yang biasa Kagaho gunakan untuk meninju agak terbakar dan melepuh. Mungkin akibat lomba memecahkan kantung lahar tadi?
"Kenapa tidak segera kau dinginkan, heh?" Dohko menggerutu kesal dan menyalakan cosmo-nya sedikit, menyembuhkan luka bakar itu. "Kau ini benar-benar tidak sayang pada dirimu sendiri, eh…"
"Apa pedulimu?"
"Kau, 'kan, temanku."
Kagaho terdiam. Alisnya bertaut, meski tertutupi oleh poni dan headgear yang ia kenakan. "Apa…?"
"Yah, aku tahu kau tidak menganggapku teman," Dohko tertawa pasrah, masih terus mengalirkan cosmo-nya. "Tapi aku menganggapmu seperti itu. Dan karena itulah aku peduli padamu serta ingin menolongmu, Kagaho."
Selama beberapa saat, tidak ada yang bersuara di antara mereka berdua. Dohko terus menyembuhkan luka Kagaho hingga sembuh seutuhnya. Puas dengan apa yang telah ia perbuat, ia hendak melepaskan tangan sang Bennu yang sedari tadi ia genggam, namun tidak bisa—
"Kagaho?"
—karena ia menemukan punggung tangannya dikecup oleh sang penguasa api hitam.
Syok.
Selama beberapa saat, mereka terus berada di posisi itu—Kagaho mengecup punggung tangan Dohko yang mematung seketika karena merasakan bibir lawan bicaranya menyentuh kulitnya—hingga pada akhirnya Kagaho mengangkat wajahnya untuk melihat ekspresi wajah Dohko, yang sama sekali belum pulih dari keterkejutannya.
"Dohko."
Kaget ketika akhirnya sadar dari kondisi terkejutnya. "Hah? Apa?"
"Kalau tim ku menang nanti," Kagaho berhenti sejenak. Ia tampak ragu-ragu, meski pada akhirnya ia melanjutkan, "kalau kami menang nanti, bolehkah aku me—"
"Tidak boleh."
Dohko merasakan tangannya yang digenggam oleh Kagaho ditarik oleh orang lain. Sekelebatan warna hijau tertangkap oleh ekor matanya, dan ketika menoleh, ia melihat Shion berdiri di sebelahnya, mendelik tidak senang ke arah Kagaho.
"Jangan coba-coba mendekati kawan kami," ucap sang domba ketus.
"Shion, jangan bersikap seperti itu," hardik Dohko.
"Dia itu lawan kita, Dohko."
"Tidak lagi. Dia temanku. Dan dia tidak ada niat jahat untuk mencelakai kita."
"Tap—"
"Shion dari Aries."
Debat kusir antara Dohko dan Shion terhenti sesaat ketika Kagaho menyela pertengkaran mereka itu. Tatapannya sepenuhnya tertuju pada sang Aries. Dingin dan kalem, tapi menantang.
"Kau tidak setuju kalau aku mendekati Dohko, eh? Bagaimana kalau kita berduel saja?"
"Kagaho, jangan berkelahi di saat-saat seperti ini!" tukas Dohko, jadi agak jengkel karena dua orang yang ia anggap kawan ini malah ingin bertarung.
"Tidak, bukan berkelahi secara langsung," Kagaho membantah ucapan sang Libra. "Tapi bertanding dalam acara lomba ini. Kalau aku berhasil mengalahkanmu dalam suatu lomba, Shion dari Aries, maka kau, rela ataupun tidak rela, harus memperbolehkanku untuk berdekatan dengan Dohko. Bagaimana?"
Shion terdiam mendengarnya, sementara Dohko terheran-heran. Kenapa hak untuk memiliki hubungan dekat dengannya dijadikan pertaruhan begini? Kenapa, 'sih, mereka tidak bisa akur saja?
Hening lama, sementara Kagaho dan Dohko menunggu jawaban dari Shion, hingga akhirnya lelaki asal Tibet itu mengangguk. Iris magentanya berkilat percaya diri, memenuhi tatapan menantang dari sang Bennu. "Baiklah. Aku akan mengakuimu dengan suka rela jika kau berhasil mengalahkanku dalam lomba berikutnya."
"Setuju," Kagaho mengangguk puas. Ia menoleh ke arah Dohko sekali lagi. "Dohko, apa lomba berikutnya?"
"Eh? Kalau tidak salah, 'sih...lomba futsal berdaster."
…
Hening.
"Kenapa? Kalian tidak jadi berduel?"
"Oh, tidak, tentu tidak," Shion lekas menjawab. "Kau tidak keberatan, 'kan, Kagaho?"
Kagaho menggeleng. "Tidak masalah."
Dohko menghela napas pasrah. Ia tidak bisa melakukan apa-apa lagi kalau keduanya sudah bertekad seperti ini. Meski ia tetap penasaran mengapa dua orang ini begitu ingin bersaing satu sama lain. Ah, Dohko, meskipun sudah tua kadang kau begitu polos…
.
.
.
Skor sementara:
Tim Hades masih bertengger di posisi pertama dengan 10 poin. Kedua tim Gold Saint kini mencapai titik imbang dengan 4 poin, sementara tim Poseidon di posisi terakhir dengan hanya 3 poin.
.
.
.
Bersambung...
Edited: thanks to masamune11 yang udah nunjukin kesalahan Shion dari Aries XD; /sujudterimakasih
