Naruto © Masashi Kisimoto
.
Author : DanDogoier
.
Main Cast :
Sakura Haruno
Ino Yamanaka
Hinata Hyuuga
.
Other Cast :
NARUTO's Character
OC
.
Genre : Friendship/Romance
.
Relation : Straight
.
DanDogoier PRESENT …
.
[C][I][N][T][A]
D A N
P | E | R | S | A | H | A | B | A | T | A |N
.
.
[warnings] :
AU, miss typo(s), fict pertama, fict aneh
Dan banyak ke-frik-an yang membuat pembaca muntah dan tidak niat baca
Tapi berilah sedikit review untuk fict pertama saya,
.
.
.
:
Cinta dan persahabatan masa SMA merupakan hal terindah tak terlupakan bagi siapa saja bukan? Begitu pula dengan tiga bersahabat kita ini, SakuInoHina, di SMA Amanogawa ini mereka merasakan pahit, asam, manis, dan pedasnya cinta dan persahabatan masa SMA. Bagaimana ceita mereka ya?/EDITED!
.
.
DLDR
reading …
.
.
.
.
.
Note :
"Talking"
'Thinking'
.
.
.
Keduanya masih terpaku memandang satu sama lain. Tak sadar bahwa tangan keduanya masih tetap bersentuhan. Sasuke yang tersadar dari ke-terpesona-annya pada Sakura menarik tangannya, ia berdehem sedikit. Sakura juga sudah mulai sadar dari lamunannya, wajahnya memerah malu, ia menundukkan kepala merah mudanya seakan lantai adalah hal terindah (?) Untuk dipandang.
Kecanggungan mulai menghampiri keduanya, Sasuke membuang muka *emangnya sampah* ke arah lain, tak ingin rona samar di kedua pipi tirusnya terlihat oleh gadis di depannya, Sakura yang tidak ingin terlarut dalam kecanggungan ini memulai pembicaraan.
"Ng, Sa-sasuke-kun ..." jeda Sakura, entah kenapa Sasuke tak keberatn dengan suffix yang diberikan gadis itu, "Ka-kau ingin mengambil tomat terakhir ini bukan? Ambillah, mungkin lain kali saja a-aku membeli tomat" ujar Sakura bersiap untuk pergi dari sana. Belum sempat Sakura berbalik, ia merasakan lengan bajunya ditarik oleh seseorang yang tak lain adalah Sasuke sendiri, Sasuke bergumam kecil yang datar yang masih bisa didengar Sakura, "Tomat ini untukmu saja, mungkin aku bisa beli lain kali".
"Ta-tapi Sa-sasuke-kun ..." Sakura terbata menatap pemuda di hadapannya ini.
"Hn tak apa, aku bisa cari di tempat lain." Balas Sasuke sambil menyunggingkan seulas senyum yang saangaattt tipis. Tak sadar bahwa tatapannya membuat kesehatan jantung gadis merah jambu itu memburuk, debaran aneh dirasakan gadis berkepala gulali melihat Sasuke yang sekarang err tampak...-keren? Ia menggeleng keras. Apa yang kupikirkan? batinnya bingung.
"Ba-bagaimana kalau makan malam di rumahku? kebetulan kakakku sedang pergi." Sadar apa yang diucapkannya itu aneh, Sakura segera membekap mulutnya. Kini wajahnya tampak sangat merah, kontras dengan wajahnya yang seputih susu itu. Menambah kesan manis di mata Sasuke. Hei tunggu ! Manis? MANIS? Tampaknya Sasuke harus segera memeriksakan mata onyx-nya ke psikiater eh maksudnya dokter mata. Ia juga harus memeriksakan jantungnya ke Tsunade-sensei nanti.
Sasuke hanya tertawa kecil melihat tingkah laku Sakura itu. Ia nampak seperti anak SMP yang sedang mengajak pacarnya kencan. Sasuke mengangguk, menyetujui ajakan Sakura. Tumben kau menerima ajakan seorang gadis eh Everest Prince-bosan Ice Prince mulu- Sasuke tak mempedulikan ucapan author. Ia hanya melengang menarik tangan Sakura sementara tangannya satu lagi menarik kereta belanja gadis itu. Sasuke yang dasar dan memang cetakan sifatnya acuh tak acuh, tak mempedulikan pandangan orang-orang yang berbelanja di sana. Berbeda dengan Sakura yang hanya mampu menunduk dalam-dalam. Lantai Supermarket itu sepertinya lebih menarik dari pada tatapan orang-orang sekitar. Tangan kanannya yang kini digenggam Sasuke terasa hangat. Tangan mungilnya tenggelam dalam genggaman hangat tangan kekar Sasuke.
Sakura kini sudah memerah sepenuhnya. Baik itu wajah, leher, telinga dan bahkan kakinya! ya Tuhan, inikah efek samping bersama seorang Sasuke Uchiha? Setelah membayar belanjaannya -setelah digoda oleh penjaga kasir, "Kalian berpacaran ya? Serasi banget, bikin iri aja!" sadar umur mbak!- Mereka berdua berjalan kaki menuju rumah Sakura. Sasuke meninggalkan mobilnya di Supermarket tadi. Atmosfir baru bernama kecanggungan melingkupi kedua insan berbeda gender itu. Dalam diam mereka menuju rumah gadis berkepala gulali itu.
"Nah sudah sampai. Silahkan masuk Sasuke-kun. Maaf agak berantakan." Setelah mempersilahkan Sasuke masuk, Sakura segera berlari kencang ke belakang tak mempedulikan tatapan heran Sasuke yang dilayangkan padanya. Sasuke menaikkan alis kirinya, hah? agak berantakan? ini sih rapi BANGET! Innernya sedikit OOC melihat rumah Sakura yang minimalis itu. Sasuke lalu duduk di salah satu sofa berwarna krem di ruang tamu Sakura. Ia melihat-lihat sedikit figura yang terpampang di dekat tempat duduknya. Banyak sekali figura -yang sepertinya- Sakura, dan seorang yang lain berambut merah.
Sasuke mengambil salah satu figura yang menampakkan Sakura-chibi yang sangat imut nan menggemaskan. Sedang bermain pasir dengan seseorang yang ia yakini Ino Yamanaka. Saat itu Sakura menggunakan dress princess berwarna pink dihiasi pita merah besar di kepalanya. Tanpa sadar Sasuke tersenyum manis pada figura itu.
.
'PnC'
.
Mari kita tengok ke tempat Ino Yamanaka yang sedang menahan rasa kesal yang tak tertahankan. Sungguh, sejak ia berbelanja tadi ada saja kesialan menimpanya. Dimulai dari ibu-ibu kolot yang sengaja menabrak bahunya. Lalu seorang anak kecil yang -sepertinya- tak sengaja menumpahkan minuman ke baju sepatu Ino. Lalu tadi ada seorang pemuda dengan wajah sok polos dan seperti mayat yang mengatainya BABI? Sialan desisnya. Bukannya meminta maaf, pemuda itu malah melengang pergi meninggalkan Ino yang sudah memerah menahan marah dan ...
"AWASS KAUU MAYATT!" dan terjadilah pera- ah engga ding, kini Ino menghentak-hentakkan kakinya kesal. Dua tangannya dipenuhi belanjaannya. Ketika sampai di rumahnya, ia bergegas naik ke kamarnya di lantai dua. Dihempaskan tubuh ramping yang pegal-pegal itu di kasur Queen-sizenya. Peluh membasahi pelipis dan mengucur deras ke lehernya. Ia memilih untuk segera mandi dari pada keringatnya mengering dan memberi kesan iyuuuhhh pada tubuhnya. Terdengar suara shower mengalir di kamar mandi gadis bersurai pirang pucat itu.
Ino merasakan tubuhnya terasa lebih segar. Ia lalu mengoleskan body lotion ke seluruh tubuhnya. Tak membiarkan sedikitpun kulitnya kering atau lembab. Ia kini menyisiri rambutnya yang masih basah. Diambilnya hairdryer di laci meja rias dan suara dengungan mesin pengering rambut mulai membahana di kamar gadis bak barbie itu. Ino mengikat tinggi rambutnya. Ia sudah tampil cantik dalam balutan dress lengan panjang berwarna biru muda. Kaki jenjangnya dibalut sepatu boots berwarna abu-abu. Lehernya telah dilapisi sebuah syal berwarna putih. Ia mengambil tas tangannya dan melesat pergi, membeli makan malam.
Dinginnya udara musim gugur membuat para pejalan kaki mengeratkan syal dan jaket mereka, termasuk Ino. Gadis itu menerobos hembusan angin musim gugur yang akhir-akhir ini semakin kencang. Untung saja di dekat sini ada rumah makan pikirnya. Ino melangkah memasuki rumah makan yang cukup ramai itu. Ia mencari-cari tempat duduk. Ia menemukan satu di pojok. Tapi langkah Ino terhenti ketika melihat siapa yang duduk di sana. SI MAYAT! jeritnya dalam hati. Ia merutuki rumah makan ini. Kenapa yang kosong hanya di dekat si mayat hah? batinnya gusar. Ia terpaksa berjalan ke arah si mayat-nama sebutan pada pemuda tadi- karena tak ada tempat lain, selain itu perutnya sudah keroncongan.
Pemuda yang disebut mayat oleh Ino mendongak. Melihat seorang gadis duduk di hadapannya terasa familiar. Ia memiringkan kepalanya, bingung. Seketika matanya melebar, ah iya, dia gadis yang tadi bukan? Ia lalu menampilkan senyuman yang Ino tak tahu antara tulus dan tidak tulus. Ino hanya mendengus. Seorang pelayan datang menghampiri mereka, bertanya ingin memesan apa. Serempak mereka berdua mengatakan.
"Ayam Panggang Saus Inggris dan Jus Alpukat" Mereka berdua lalu bertatapan, Ino langsung membuang muka. Si pelayan hanya tersenyum lalu berkata,
"Kalian sedang bertengkar ya? Cepat rukun ya, kalian serasi sekali." Si pelayan yang merasa tak bedosa itu lalu pergi untuk mengerjakan pesanan mereka. Ino melotot, si pemu -oke kita mulai saat ini panggil dia Sai- Sai hanya tersenyum kaku memandang Ino. Kedua remaja itu diliputi keheningan yang luar biasa, walau disekitar mereka begitu ribut dipenuhi suara orang-orang kantor yang sedang tergelak, anak-anak yang sedang menangis maupun ibu-ibu yang sedang bergosip. Ino memutuskan untuk membuka pembicaraan, ia tak biasa dalam keadaan hening seperti ini.
"Hei Mayat, siapa namamu?" Tanya Ino sedikit ketus.
"Kau bertanya padaku, Babi?" Sai membalas dengan pertanyaan lain.
"Sama siapa lagi coba?" Ino dengan sarkastiknya membalas.
"Oh, namaku Sai. Sai Shimura, kau?" Sai masih saja tersenyum. Entahlah, ia suka berada di dekat gadis ini.
"Ino. Ino Yamanaka. Ingat itu mayat." Ino hanya mendengus melihat Sai yang tersenyum seperti itu, "Berhenti tersenyum seperti itu, mayat. Kau menakutiku." Ino bergidik melihat senyum Sai.
"Ah, maaf. Ini kebiasaanku, aku tak tahu harus bagaimana." Balas Sai. Pesanan mereka berdua akhirnya datang. Mereka melahap santapan mereka dengan hening. Ino agak brutal memakan pesanannya, berbanding terbalik dengan Sai yang sangat tenang.
"Huah, kenyangnya~ masakan di sini memang enak!" Ujar Ino sambil merentangkan kedua tangannya. Sai tersenyum melihat ekspresi Ino yang ceria itu. Berbeda dengan ekspresi ketusnya tadi. Ekspresinya begitu alami, dia cepat sekali berubah ekspresi pikir Sai memandang Ino. Ino jengah juga dipandangi begitu oleh Sai.
"Kenapa memandangku seperti itu? Aku cantik ya?" Penyakit Narsis Kronis Ino mulai menampakkan diri ke permukaan.
"Iya, kau cantik sekali kalau dilihat lewat sedotan dari Gunung Fujiyama." Balas Sai polos. Twitch empat buah siku-siku yang seperti di anime-anime kesukaan Ino muncul.
"Sialan kau mayat!" Desis Ino tak terima.
.
'PnC'
.
Oke, kita pindah saja dari sini. Sepertinya sebuah perang akan terjadi di rumah makan itu. Lanjut ke pemeran kita berikutnya, Hinata Hyuuga. Author lalu mengajak cameraman berpindah ke lokasi berikutnya. Dermaga Konoha.
"Ka-kau si-siapa...?" Tanya Hinata gagap.
"Ah, sorry nona manis. Aku Naruto, Naruto Namikaze. Baru datang dari Amerika. Um, bisakah kau membantuku?" Naruto, pemuda pirang seperti durian itu mengenalkan namanya sambil nyengir lebar. Hinata gelagapan melihat pemuda itu. Senyumnya yang lebar, wajah tan-nya yang ceria, mata biru langitnya yangg waaaa~ Hinata melayang ke dunianya sendiri. Naruto melambaikan tangannya ke wajah gadis yang sedang bengong itu.
"Ahoy! Bumi kepada gadis manis! Ahoy!" Naruto terus mengulangi kegiatan itu sebanyak lima kali hingga gadis itu tersadar.
"Eh..e-h e~h. Ma-maaf, na-namaku Hinata Hyuuga. Te-tentu saja Na-Naruto-san." Balas Hinata masih tergagap.
"Eh? Hyuuga? Adiknya Hyuuga Neji?" tanya Naruto kaget,
"Ka-kau tahu kakakku?" balas Hinata gugup.
"Ya, dia seniorku di Amerika. Tak menyangka adiknya semanis ini." BLUSH, wajah Hinata lebih cepat matang dari mie instan. Wajahnya memerah saking malunya.
"A-arigatou Naruto-san." Balas Hinata.
"Haha, sama-sama lagipula kau memang manis, Hinata-chan! jangan panggil aku dengan suffix seperti itu. Aku terkesan tua." Balas Naruto jenaka.
"Ha-hai, Naruto-kun." Hinata merasa ingin pingsan sekarang juga.
"Oh iya, bisakah kau membantuku ke alamat ini?" Naruto menunjukkan secarik kertas, "Aku tak begitu hafal daerah ini!" Ia nyengir lagi, tak menyadari bahwa Hinata ingin segera pingsan melihat senyumnya yang lebar itu.
"Ha-hai, aku bi-bisa mengantarmu ke-kesana." Hinata membalas dengan kegugupan luar biasa.
Akhirnya mereka berdua menaiki mobil yang dikendarai Naruto. Hinata ke dermaga berjalan kaki, so terpaksa ia harus mengantar Naruto dengan mobil Naruto. Hihi~ bagaimana keadaan Hinata saat ini ya?
.
'PnC'
.
Sakura memotong-motong sayuran dengan lihai. Belajar memasak dengan Karin selama beberapa bulan terakhir ini sedikit membantunya.
"Um, apa Sasuke-kun akan menyukai masakanku ya?" gumam Sakura agak sendu. Keahliannya yang pas-pasan ini sedikit membuatnya ragu.
"Tak apalah! Toh aku sudah memasak untuknya." Tambahnya sambil menaburkan potongan sayuran tadi ke dalam penggorengan.
Dua puluh tujuh menit, waktu yang dibutuhkan Sakura untuk menghidangkan dua porsi nasi goreng, seporsi sedang salad tomat, dua gelas jus tomat. Ia menata meja makan dengan sangat rapi. Ia memutuskan untuk memanggil Sasuke.
"Sa-Sasuke-kun, ma-makan malam sudah siap." Ujar Sakura sambil menunduk pada Sasuke.
"Hn? Oh iya." Sasuke hanya membalas dengan singkat ucapan Sakura. Mereka akhirnya berjalan dari ruang tamu ke ruang makan.
Suasana makan malam mereka diliputi hening. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu. Sakura, yang pada dasarnya tak bisa diam membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu. Tapi dikatupkan lagi karena ragu. Sasuke yang melihat tingkah Sakura mendengus.
"Kalau kau ingin bicara, bicara saja. Apa aku menakutimu?" Ujar Sasuke.
"A-ah ti-tidak Sa-Sasuke-kun. Aku ha-hanya..." Sakura menggantungkan kalimatnya.
"Hanya apa?" Tanya Sasuke datar. Hei bisakah kau tunjukkan emosi sedikiittt saja? Pelit amat.
"Ah, bukan apa-apa, lanjut saja makannya Sa-Sasuke-kun." balas Sakura yang kini sedang memainkan salad tomatnya. Sasuke hanya mendengus ( lagi ). Ia lalu melanjutkan makan malamnya yang tertunda.
.
'PnC'
.
Ino keluar dari rumah makan itu dengan langkah gontai. Dibelakangnya, Sai mengikuti dengan senyum palsunya. Ino menghela nafas, kenapa ia harus mengantar makhluk ini? Hanya Tuhan yang tahu pikirnya.
-Flashback-
Ino lalu beranjak dari duduknya setelah menjitak kepala ebony Sai. Ia mendengus marah. Tiba-tiba tangannya ditarik oleh Sai.
"Tunggu, apa aku boleh minta bantuanmu?" Tanya Sai dengan bodohnya. Urat kepala Ino berkedut. Setelah dia mengataiku tadi, sekarang ingin meminta bantuan? Ino tampak berkomat-kamit yang tak dimengerti Sai. Ino mendengus -hei kau kebanyakan mendengus-.
"Baik, kau ingin meminta bantuan apa?" Ino menahan marah menanggapai pertanyaan Sai. Sopan santun yang telah ditanamkan ayahnya membuatnya harus menahan semarah apapun dia. Menolong itu ada pahalanya terngiang selalu kata-kata ajaib dari ayahnya itu. Saat ini mereka sedang berjalan keluar rumah makan itu, setelah sebelumnya Sai membayar makanan keduanya.
"Bisakah kau mengantarku ke alamat ini? Aku baru saja pindah dari London, jadi belum hafal akan jalan-jalan disekitar sini." Ujar Sai sambil memperhatikan secarik kertas ditangannya. Ino menengok sedikit.
"Aku tahu jalan itu, tak jauh dari sini. Ayo ku antar kau, agar aku cepat pulang." Ino membalas dengan sedikit ketus. Ia tak menyadari kemana ia melangkah, Shimura Mansion.
-Flashback OFF-
"Baik, kita sudah sampai di tempat tujuanmu." Ujar Ino malas.
"Arigatou Ino-pig." Mendadak dahi Ino berkedut, ada yang memanggilnya seperti itu selain Sakura, tangan kanannya kini melayang hendak mengenai kepala ebony Sai. Tapi gerakan itu tertahan karena seseorang kini menghampiri mereka di depan gerbang rumah megah itu.
"Ah, Sai akhirnya kau datang juga. Ku pikir kau akan tersesat. Baru saja ingin ku utus Genma untuk menjemputmu." sebuah suara khas kakek-kakek mengintrupsi gerakan Ino.
"Eh? Shimura-sama?" Ino tak dapat menghentikan rasa heran yang tiba-tiba meluap dari kepala kuningnya.
"Kakek, lama tak berjumpa. Haha, tak perlu kek. Kau lihat bukan? Aku datang kemari." Sai berkata kalem, tak mempedulikan ekspresi cengo dari Ino.
"Iya cu, ayo masuk. Kau membawa seorang teman? eh bukankah kau putri dari Yamanaka itu? Mau mampir sebentar?" Ujar seorang kakek yang ternyata Danzo Shimura pada cucunya sekaligus pertanyaan pada Ino.
"Ha-hai arigatou Danzo-sama. Tapi ini sudah malam. Sebaiknya saya pulang. Saya permisi." Ino bergegas pergi dari mansion mewah itu. Sai hanya mengedikkan bahu, sedangkan Danzo? ia hanya tersenyum maklum. Sebelum Ino benar-benar pergi dari sana, Danzo berucap.
"Arigatou telah mengantar cucuku!"
Entah didengar Ino atau tidak, tapi terlihat ia menengok kebelakang kemudian membungkuk sedikit lalu lari. Sai dan kakeknya lalu masuk ke dalam mansion.
"Sepertinya kau menikmati perjalanmu kemari, cu." Danzo memperhatikan cucunya yang terus tersenyum sejak tadi.
"Ya, aku menikmatinya, kek. Dia gadis yang menarik." Untuk kalimat kedua, Sai sengaja mengecilkannya sehingga tak terdengar oleh siapapun kecuali ia dan -tentu saja- Tuhan. Danzo pun bertanya.
"Apa katamu tadi?"
"Aku menikmatinya." Balas Sai.
"Ohooho. Ya sudah, sebaiknya kau segera istirahat. Kau tampak lelah pulang dari London."
"Baik, kakek." Balas Sai langsung menuju kamar yang tak ia tempati sejak lama.
Ino yang kini hampir sampai di rumahnya, bersiap dengan merogoh kunci rumah terlebih dahulu. Ia kini berada di depan gerbang. Suara klakson mobil mengintrupsinya. Siapa sih jam segini berkunjung? Pikir Ino heran.
"Ko-konbanwa I-Ino-chan." Suara lembut nan halus bak harpa surga yang Ino kenali milik Hinata.
"INO-CHAN!" Suara cempreng satu lagi yang Ino kenali sebagai-
"NARUTO-BAKA! Kenapa kau ada disini? Bukankah kau ada di Amerika? Lalu di mana Minato-jisan dan Kushina-basan?" Ino lalu memborongi Naruto dengan segudang pertanyaan. Melupakan kehadiran Hinata yang kini seperti patung hidup, hanya mengedipkan mata dengan wajah yang suram. Hinata memandangi Naruto yang kini begitu akrab yang malah terlihat errr..mesra di mata Hinata. Sedikit rasa cemburu hinggap dihatinya. Aku kenapa? Tanyanya pada diri sendiri.
"Hinata-chan, jangan diam saja. Ayo mampir sebentar!" Ujar Ino yang kini menarik tangan Hinata.
"A-ah a-ariatou Ino-chan, a-atas ta-tawarannya tapi a-aku se-sebaiknya pulang." Hinata lalu pamit untuk pulang.
"Hei hei hei, wait a minute! Aku yang mengajakmu kemari, jadi aku yang harus mengantarmu pulang Hinata-chan!" Ujar Naruto dengan mix-logat antara Inggris dan Jepang.
"Ta-tapi..." Hinata ingin menolak, walau sebenarnya mau sih. Ino melihat gelagat aneh Hinata. Ia tersenyum jahil,
"Jangan menolak ajakan seseorang Hinata-chan! Dia sudah berbaik hati loh! Siapa tahu ..." Ino menggantungkan kalimatnya.
"Tahu apa Ino-chan?" Naruto nimbrug bertanya.
"Sudahlah, sebaiknya kalian bergegas!" Ino mengusir kedua insan tadi, lalu memasuki rumahnya dengan senyum mengembang.
"I-Ino-chan ke-kenapa ya?" Hinata bertanya pada entah siapa.
"Tak tahu." Naruto membalas sambil mengedikkan bahu. Naruto membukakan pintu masuk ke mobil sport-nya untuk Hinata, lalu dirinya sendiri masuk lewat pintu yang lain. Kedua insan itupun melaju ke Hyuuga Mansion.
.
.
.
TBC
.
.
Author's Note :
Oke, gomen update nya kelamaan, sudah sebulan malah. Saya merombak habis-habisan yang telah saya tulis. Kalau tidak salah sampai 8 halaman saya delete dan buat ulang. Saya merasa masih sangat tidak bisa menulis sesuatu yang romance, tapi akan saya usahakan lebih lagi. Gomen kalo lebih pendek dari chap sebelumnya.
Special thanks :
Lokkasena-senpai
Oceana Queen-chan -boleh ku panggil begitu?-
Scy Momo Cherry
